Sejarah

Sejarah Bahasa (157): Bahasa Batanic Pulau Babuyan Utara Luzon, Kepulauan Batanes dan Pulau Pongso Na Tao di Selatan Taiwan


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bahasa dalam blog ini Klik Disini

Rumpun
bahasa Batanic berada di sejumlah pulau (kepulauan) antara pulau Formasa (Taiwan)
dan pulau Luzon (Filipina). Ibarat kepulauan Sulu yang menghubungkan pulau
Mindanao dan kepulauan Palawan yang menghubungkan pulau Luzon dengan pulau
Kalimantan di Sabah. Apakah juga terdapat hubungan bahasa Batanic dengan bahasa-bahasa
asli di Taiwan?

Bahasa
Batanic (terkadang juga disebut Bashiic atau Ivatanic) adalah kelompok dialek
dari rumpun bahasa Austronesia. Bahasa ini digunakan di Pulau
Babuyan di utara Luzon; tiga Kepulauan Batanes, antara Filipina dan Taiwan; dan
di Pulau Anggrek di Taiwan selatan. Varietas di Filipina disebut Ivatan
(juga dieja Ibatan), atau diberi nama Babuyan, Batan, atau Itbayat menurut nama
pulaunya, sedangkan varietas di Taiwan disebut Yami atau Tao. Proto-Batanic
telah direkonstruksi oleh Yang (2002). Malcolm Ross (2005) dan Roger Blench
(2015) mencantumkan empat bahasa: Yami (atau Tao) di Pulau Anggrek (dialek
Imurud, dialek Iraralay, dialek Iranumilek); Itbayat di Pulau Itbayat. Moriguchi
(1983) sebagai berikut: Proto-Vasaik Itbayaten Vasay (cabang) Babuyan,
Isamorong Yami: Iraralay, Imorod. Bahasa Batanic sering kali dimasukkan ke
dalam bahasa Filipina. Blench menyimpulkan bahwa bahasa Batanik telah lama
terpecah dari bahasa Proto-Melayu-Polinesia dan mengandung banyak akar yang
bukan bahasa Austronesia standar. Hubungan antara bahasa Batanic dan bahasa
Luzon Utara masih belum pasti.
(Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah rumpun bahasa Batanic?
Seperti disebut di atas rumpun bahasa ini antara Filipina dan Taiwan. Pulau
Babuyan di utara Luzon, Kepulauan Batanes dan Pulau Anggrek di selatan Taiwan. Lalu
bagaimana sejarah rumpun bahasa Batanic? Seperti kata ahli sejarah tempo
doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan
wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.
Link   https://www.youtube.com/@akhirmatuaharahap4982

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja.

Bahasa Batanic; Pulau Babuyan Utara Luzon, Kepulauan
Batanes dan Pulau Anggrek di Selatan Taiwan 

Penduduk asli pulau Orchid menyebut identitas mereka
sebagai Pongso Na Tao (orang Tao). Dalam peta navigasi awal (Eropa)
diidentifikasi sebagai pulau Tobago/Tobaco. Lantas mengapa orang asing
menterjemahkan Pongso Na Tao sebagai Pulau Manusia. Apakah karena merujuk pada arti
To (orang) di wilayah Sulawesi? Bagaimana jika Pongso Na Tao diterjemahkan
dengan bahasa Batak? Akan mirip sebagai Bangso Na Dao (penduduk yang jauh).
Jauh darimana? Dari Toba-go?


Wikipedia: Penduduk asli pulau Anggrek (Orchid) orang Tao sebagai
Pongso no Tao (“pulau manusia”), juga sebagai Ma’ataw
(“mengambang di laut”) atau Irala (“menghadap gunung”);
yang terakhir dikontraskan dengan nama Tao untuk daratan Taiwan –
“Ilaod” (“menuju laut”). Pada abad ke-17, muncul di peta
Jepang sebagai “Tabako”, sebuah nama yang dipinjam dari bahasa
Prancis dan Inggris sebagai “Tabaco”. Hal ini masih dikenal oleh
orang Filipina sebagai Botel Tobago, sebuah nama yang sebelumnya juga digunakan
dalam bahasa Inggris. Pulau Anggrek Kecil juga dikenal sebagai
“Botel-Tobago Kecil”
.

Penduduk Tiongkok adalah penduduk daratan, penduduk
Nusantara adalah penduduk kepulauan. Di daratan Tiongkok di masa lampau
dihubungkan oleh transportasi sungai dan jalan darat, sementara di nusantara perhubungan
antan pulau menggunakan kapal. Oleh karena itu penduduk Tiongkok pada awalnya
bukan pelaut. Yang menjadi pelaut adalah orang nusantara. Dalam hal ini orang
nusantara mengembangkan teknologi navigasinya sendiri. Hal itulah diduga
menjadi sebab orang nusantara bergerak ke utara (hingga Taiwan), bukan
sebaliknya. Dalam konteks inilah penting untuk memperhatikan kelompok-kelompok populasi
(bahasa) di Taiwan.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Pulau Babuyan Utara Luzon hingga Kepulauan Batanes dan
Pulau Anggrek di Selatan Taiwan: Navigasi Pelayaran Zaman Kuno

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur.
Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi:
akhirmh@yahoo.com


, Terimakasih telah mengunjungi Dului.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.

Most Popular

To Top