Sejarah Indonesia

Sejarah Madura (32): Surat Kabar dan Pers di Madura; Pendidikan dan Jurnalistik Sama Penting, Sama-Sama Mencerdaskan Bangsa


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Madura dalam blog ini Klik Disini 

Apakah ada sejarah surat kabar dan (pers)uratkabaran
di Madura? Nah itu dia. Mari kita sama-sama pelajari. Seperti pernah dikatakan
Dja Endar Moeda, editor surat kabar berbahasa Melayu, Pertja Barat yang terbit
di Padang 1898, bahwa pendidikan dan jurnalitisk sama pentingnya, sama-sama mencerdaskan
bangsa. Dja Endar Moeda, pensiunan guru, alumni sekolah guru (kweekschool)
Padang Sidempoean. Apa pentingnya sejarah pers di Madura? Karena bahasa Madura
berbeda dengan bahasa Jawa dan bahasa Melayu. Dalam hal inilah sejarah pers
menjadi penting di Madura sebagai bagian dari narasi sejarah masa kini.


Sejarah
Pers di Madura: Dari Gema Madoera Hingga Madoeratna: Penanews.id. Sampang. Masuknya
gerakan nasionalis ke pulau Madura ditandai lewat pembentukan Sarekat Islam 1913
di Sampang, punya pengaruh bagi kemunculan pers di Madura. Dua orang guru,
Wiryoasmoro dan Kartosudirjo asal Madura di Jawa, memprakarsai organisasi memajukan
kesusastraan dan bahasa Madura dan terbentuk 1917 dengan nama Madurasa dimana
Sosrodanukusomo dari Sampang ditunjuk kepala yang bermarkas di Bondowoso. Ketika
organisasi ini bergabung Perserikatan Guru Hindia Belanda, nama organisasi Madurasa
berubah Madoeratna, Pada 1919, organisasi memprakarsai diterbitkannya majalah
dengan nama sama, namun gagal. Tahun 1921, sebuah komite orang Madura di
Surabaya bernama Masteka Madoera memprakarsai penerbitan majalah berbahasa
Madura, namun tak terdengar kelanjutannya. Setahun kemudian muncul pengumuman
lain bahwa akan terbit majalah bernama Rosorowan Madoera (Gema Madura). Majalah
berbahasa Madura ini akan terbit di Surabaya, namun tak ada jejaknya. Lalu muncul
majalah berbahasa Madura bernama Pangodhi, sayangnya hanya dua kali terbit. Dalam
Buku Madura karya Kuntowijoyo, baru 1924 terbit majalah berbahasa Madura
bernama Posaka Madoera. Majalah ini terbit berkat bantuan Java Instituut diterbitkan
di Batavia dengan pengasuh aktivis terkenal R Sosrodanukusomo, M Kartosudirjo
dan M Wiryoasmoro dan RA Sastro Subroto. Tahun 1926, organisasi Sarekat Madura
menerbitkan majalah bulanan Madhoeratna, hanya berumur pendek. Upaya lainnya
orang Madura menerbitkan majalah bernama Soeara Oemoem di Surabaya, terbit dua
kali seminggu dan berbahasa Jawa dengan editor Sosrodanukusomo dari Sampang dan
Sukaris dari Pamekasan
(https://penanews.id/2022/08/15/)

Lantas bagaimana sejarah surat kabar dan pers
di Madura? Seperti disebut di atas, sudah ada yang coba menggali sejarah surat
kabar dan pers di Madura, namun tampaknya masih diperlukan upaya tambahan bagi
semua pihak. Apa keutamaan sejarah pers(uratkabaran)? Pendidikan dan jurnalistik
sama pentingnya, sama-sama mencerdaskan bangsa. Lalu bagaimana sejarah surat kabar
dan pers di Madura? Seperti kata ahli
sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah
nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.

Surat Kabar dan Pers di Madura; Pendidikan dan
Jurnalistik Sama Pentingnya, Sama-Sama Mencerdaskan Bangsa

Pada awal tahun 1925 muncul perselisihan, tepatnya
perbedaan pendapat diantara anggota organisasi kebangsaan asal Madoera (Madoereezen
Bond).
  Lalu kemudian terbentuk
organisasi tandingan dengan nama Sarekat Madoera pada bulan Februari 1925.
Organisasi kebangsaan yang baru ini menerbitkan majalah Madoeratna sebagai
organ organisasi. Tokoh penting dalam sarekat baru ini adalah R Rooslan
Wongsokoesoemo yang juga sebelumnya salah satu pendiri Madoereezen Bond.
Sarekat Madoera langsung berafiliasi dengan federasi perhimpunan politik
nasional dalam negeri di Soerabaja yang dimotori Studie Club Soerabaja yang
dipimpin oleh Dr Soetomo dan Sangadji. Dalam konteks inilah majalah Madoeratna
terbit. Dua wanita juga bertugas di dewan direksi.


Nama Madoeratna menjadi begitu penting di Madura. Nama majalah berbahasa Madura
dengan nama Madoeratna sudah pernah terbit tahun 1919 (lihat Overzicht van de
Inlandsche en Maleisisch-Chineesche pers, 1919, No 16, 12-02-1919). Disebutkan
majalah Madoeratna ini diterbitkan oleh Madoeressche Volksleektuur (sebuah komisi
di Volksleektuur (kini dikenal sebagai Balai Poestaka). Disebutkan muncul perselisihan,
lebih tepatnya perbedaan pendapat antara para penulis di Madoera dengan komisi
dalam hal penerbitakan naskah buku-buku sastra Madoera, Lantas apakah hal itu
akan berdampak pada kelanjutan Madoeretna? Nama Madoeratna adalah gelar di lingkungan
kerajaan Bangkalan, Francois Valentijn tahun 1724 mengidentifikasi, sebelum
terbentuk ibu kota Bangkalan, di wilayah barat terdapat kerajaan dengan ibu
kota berada di Madoeratna. Setelah ibu kota direkolaso ke Bangkalan pada era
Pemerintah Hindia Belanda nama eks ibu kota Madoeratna diidentifikasi dengan
nama Madoera (nama awal Madoeratna). Troenodjojo adakalanya disebut Madoeratna
Panembahan van Mataram. Pada tahun 1857 Kesultanan Bangkalan dilikuidasi,
sultan terakhir Panembahan Bangkalan yang telah meninggal sebelumnya, istrinya
bergelar Ratoe Madoeratna yang meninggal tahun 1910 dalam usia 63 tahun
dimakamkan di Soerabaja (lihat De locomotief, 08-07-1910).
 

Majalah bulanan Sarekat Madoera, Madoeratna yang
diterbitkan pada tahun 1925 (seiring dengan pendirian Sarekat Madoeran), dalam
perkembangannya ditingkatkan menjadi harian. Lambat laun, dalam edisi-edisi
terakhir (edisi 23 November dan edisi 24 November 1926) isinya semakin tajam
terhadap pemerintah (lihat Overzicht van de Inlandsche en Maleisisch-Chineesche
pers, 1926, No 48, 27-11-1926).


Overzicht van de Inlandsche en Maleisisch-Chineesche pers, 1925, No 49,
04-06-1925: ‘Terbitan baru. Diumumkan bahwa di Soerabaja, menurut laporan salah
satu koresponden majalah Kemadjoean Hindia akan terbit majalah baru pada
tanggal 1 Desember 1925, Bernama Madhoeratna diterbitkan oleh pengurus utama
Sarekat Madoera, yang mana mayoritas suara orang Madura akan terwakili’.

Dalam edisi Nomor 2 bulan Februari 1927, Madoeratna
menurunkan tulisan Soekari dkk dari Sarekat Madoera yang menimbulkan gangguan
antara Sarekat Madoera dengan Studie Club di Soerabaja (lihat Overzicht van de
Inlandsche en Maleisisch-Chineesche pers, 1927, No 11, 12-03-1927). Disebutkan
Soekari dkk menyesalkan wawancara Dr Soetomo dengan surat kabar berbahasa
Belanda yang terbit di Soerabaja De Indische courant yang mana Dr Soetomo menyatakan
sesuatu yang dianggap pihak Sarekat Madoera belum pernah dimusyawarahkan yang
merugikan PSI sehingga melancarkan mosi. Soekari dkk menganggap Dr Soetomo
tidak cukup hati-hati dalam pernyataannya kepada pihak sana
(Belanda/pemerintah) dan mengusulkan agar PSI akan lebih baik untuk memberitahu
ketua Studieclub terlebih dahulu untuk menunjukkan kesalahannya daripada
langsung meloloskan mosi tersebut. Soekari dkk berharap agar kedua organisasi tersebut
(Studieclub dan PSI) dapat berjabat tangan kembali demi persatuan Indonesia.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Pendidikan dan Jurnalistik Sama Pentingnya, Sama-Sama
Mencerdaskan Bangsa: Lain di Pulau Jawa, Lain Pula di Pulau Madura

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi:
akhirmh@yahoo.com


, Terimakasih telah mengunjungi Dului.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.

Most Popular

To Top