Graaf Johannes van den Bosch adalah ‘penemu’ wilayah Priangan (Inggris),
Preanger (Belanda). Graaf Johannes van den Bosch menjadi Gubernur Jenderal
antara 1830 dan 1833. Selama kepemimpinan van den Bosch kebijakan sistem
budidaya kopi (koffiestelsel) diterapkan tahun 1830 di Preanger. Controleur
Belanda sendiri kali pertama ditempatkan di Bandoeng pada tahun 1829. Dengan
kata lain, pejabat pertama pemerintahan Hindia Belanda ditempatkan di Bandoeng
pada tahun 1829 yang berkedudukan di sebuah tempat di sisi utara jalan pos
trans-Java yang kelak dikenal sebvagai Bandoeng (baru) yang mengantikan
Bandoeng (lama) yang berubah nama menjadi Dajeuh Kolot. Pada era Inggris,
pejabat yang ditempatkan di Priangan baru setingkat opziener (pengawas) kopi
yang besar kemungkinan ‘bermarkas’ di Baybang (kini Radjamandala).
![]() |
| Peta 1818 |
(1810-1811), jalan pos dirintis di area yang lebih tinggi region Bandoeng.
Kampong-kampong yang dilalui jalan pos dari Baybang (Radjamandala) hingga
Sumedang adalah Tjitjendo, Tjilankap, Tjitepoes, Tjirangrang, Tjipagantie,
Bondjongsoang (lihat Peta West Java 1818). Sementara kampong Bandoeng terletak
di selatan di pertemuan sungai Tjikapoendoeng dengan sungai Tjitaroem.
ini telah bergeser ke arah bawah dengan membuat jalan baru yang sangat lurus
(kini sebagian menjadi ruas jalan Asia Afrika). Di sisi utara jalan pos baru
inilah kantor/rumah controleur. Koordinatnya: sisi utara jalan pos dan sisi
timur sungai Tjikapoendoeng. Nama tempat ini disebut Bandoeng yang mengadopsi
nama kampong Bandoeng di selatan di pertemuan sungai Tjitaroem tempat dimana
Bupati Bandoeng memerintah penduduk Bandoeng. Seorang (pejabat atau
wisatawan?) beberapa tahun kemudian
menulis di surat kabar, ibukota baru Bandoeng (tempat controelur berkedudukan)
sangat sepi dan lingkungan hutan sangat lebat. Jarak terdekat dari hoofdplaat ini
adalah tiga mil dari kampong Bandong (lama), juga tiga mil ke kampong
Bojonegoro, dan tiga mil ke kampong lainnya di arah timur, Odjoengbrung. Ini
berarti, ibukota Bandoeng (baru) berada di area kosong, yang menjadi pusat
lingkaran dari kampong-klampong Tjimahi (barat), Odjoengbrong (timur),
Tjipaganti (utara) dan Bandoeng (lama) di selatan. Nama Tjimahi sendiri tahun
1828 terlah teridentifikasi sebagai nama tangsi militer. Di dekat Odjong brung
juga terdapat tangsi militer. Orang-orang Eropa terdekat dari hoofdplaat
ibukota ini ada di Odjongbrung yang telah membuka perkebunan. Odjongbrung
sendiri sudah lama berkembang sebagai area plantation yang merupakan perluasan
dari Sumedang/Tjirebon. Sedangkan area perkebunan utama di barat baru sampai di
Baybang (Radjamandala) yang merupakan perluasan dari Tjiandjoer/Buitenzorg.
yang dulu di sana-sini banyak rawa-rawa dan kerap terjadi banjir. Karena itu,
boleh jadi, sejak ‘baheula’ area ini tidak pernah ditempati oleh penduduk Priangan,
kecuali sebagai tempat berburu, tempat mengambil ikan dan meramu (mengambil
hasil-hasil hutan). Meski demikian, sudah ada jalan perlintasan antara selatan
(Bandong) dengan Tjipaganti berupa jalan setapak (transportasi kuda) atau
gerobak (gerobak tanpa roda yang ditarik kerbau). Antara Tjimahi dengan
Odjoengbrung kemudian dilalui jalan pos di area yang lebih tinggi (lebih
kering).
sebagai pengganti jalan pos yang lama dikerjakan oleh militer ketika menyiapkan
ibukota Bandoeng dimana controleur berkedudukan. Jalan pos baru ini sangat
lurus yang menembus rawa-rawa dan membangun jembatan beratap di atas sungai
Tjikapoendoeng.
ibukota Bandoeng yang baru, yang merupakan perpotongan jalan setapak antara
Bandoeng lama (kemudian menjadi Dajeuh Kolot) dengan Tjipaganti dengan jalan
pos yang baru antara Tjimahi dengan Odjoengbrung. Karenanya tidak satupun
nama-nama kampong (lama) yang muncul dan teridentifikasi ketika Belanda memulai
membangun kota Bandoeng.
melainkan membangun pusat pemerintahannya jauh dari kampong-kampong lama, Hal
ini juga terjadi di Batavia dan Semarang (casteel), di Medan, di Buitenzorg dan
di Padang Sidempuan. Pemerintah Hindia Belanda menganggap penduduk adalah
partner, karena penduduklah yang akan membantu tujuan kolonialisasi mereka.
Namun demikian, Belanda tetap menjaga jarak dan karena itu ibukota selalu
terdapat jarak dengan kampong-kampong terdekat. Untuk soal nama ibukota
hoofdplaat ada dua cara yang digunakan: pertama, mengadopsi nama kampong
terdekat seperti Bandong, Semarang, Soerabaja, Medan dan Padang Sidempuan.
Kedua, dengan cara memberi nama baru (berdasarkan situs yang sudah ada) seperti
Batavia, Fort Elout (Panjaboengan), For de Kock (Bukittinggi), Fort van der
Capellen (Padang Panjang) dan Buitenzorg (Bogor).
kampong-kampong yang muncul kemudian (setelah Pemerintah Hindia Belanda mulai
membangun kota). Nama-nama lama yang dikenal sekarang di Bandoeng, tidak hanya
nama-nama kampong tetapi juga nama-nama area (wilayah yang lebih luas dari sebuah
kampung). Kampong sendiri di jaman doeloe umumnya hanya terdiri dari beberapa
keluarga dan sejumlah rumah yang saling berdekatan yang mengusahakan lingkungan
sekitar (sawah, ladang dan mengumpulkan hasil-hasil hutan, sungai, rawa (situ),
padang steppa).
Kota Bandung adalah sebagai berikut:
![]() |
| Istana Bupati Bandoeng (foto 1880) |
Astana Anyar: Suatu area dimana istana baru Bupati Bandung didirikan.
Istana ini ditempati oleh Bupati Bandung pada tahun 1846. Istana ini dibangun
untuk menggatikan kediaman Bupati di Bandung (lama) yang kemudia disebut Dajeuh
Kolot. Pembangunan istana ini merupakan semacam hadiah karena Bupati telah
berhasil memimpin penduduk dalam budidaya kopi koffiestelsel di region
Bandoeng. Area di sekitar istana ini kemudian dikenal area Astana Anjar.
pos trans-Java. Area ini awalnya milik Bupati untuk mengembangkan berbagai
aktivitas untuk menghasilkan produksi. Lambat laut area ini dijual kepada
orang-orang penawar harga tertinggi untuk dijadikan kantor atau fasilitas
pemerintah, pusat aktivitas swasta dan disewa oleh orang-orang Tionghoa.
orang-orang Tionghoa yang awalnya mangkal lalu menetap dan kemudian migrasi
dari Buitenzorg untuk berdagang (membeli dari panduduk hasil bumi atau
barang-barang berharga yang dimiliki dan menjual barang-barang dari luar
seperti garam, besi, kain dan barang industri lainnya). Orang-orang Tionghoa
ini makin banyak dan tokoh-tokoh tetentu menjadi partner dari controleur dan
asisten residen mengangkatnya sebagai letnan. Contorleur/Aisten Residen, Bupati
dan tetnan/kapten menjadi pimpinan stakeholder di Bandieng (Eropa/Belanda,
pribumi dan Bupati).
![]() |
| Mahkamah (foto 1880) |
Kaoem: Suatu area dimana pedagang-pedagang pribumi berkembang baik
dalam konteks persaingan atau kerjasama dengan pedagang-pedagang Tionghoa. Jika
Tionghoa di sisi utara, maka pribumi di sisi selatan jalan pos. Perdagangan
Eropa/Belanda bekermbang di dua sisi jalan utama ke rumah Asisten Residen
(kelak bernama jalan Braga). Dalam perkembangannya, di sekitar area Kaoem ini
dibangun pemerintah masjid tahun 1876 (kini masjid Bandoeng). Dalam
perkembangan lebih lanjut erea Kaoem yang berdampingan dengan Bupati (Astana
Anjar) menjadi pusat perkembangan politik kaoem pribumi (yang dimulai oleh para
pedagang yang sudah menunaikan haji ke Mekkah).
lokasi tersebut tahun 1846 dibangun kantor mahkamah (kerapatan) yang bangunan
utamanya kemudian disebut Landraad (Kantor Pengadilan). Mahkamah ini terdiri
dari petinggi-petinggi pribumi di Bandoeng yang dipimpin Asisten Residen dan
wakilnya Bupati. Sejak 1846 diangkat seorang djaksa dan kemudian wakilnya
(adjunct djaksa). Posisi jaksa ini sangat ditajuti oleh penduduk yang tidak mau
bekerjasama dalam tanam paksa. Di mahkamah atau Landaard inilah djksa melakukan
penuntutan yang didengar dan diputuskan oleh anggota mahkamah.
perluasan perkebunan yang dulunya telah berkembang di Buitenzorg. Landhuis
perkebunan ini berada di arah utara pasar.
cabang dari pabrik kopi di Soekasari di Buitenzorg. Pabrik kopi Soekasari
dibangun pada tahun 1867.
![]() |
| Sebuah kampong di Bandoeng, 1870 (para migran) |
Tegallega: Suatu area di selatan kantor Bupati yang awalnya lahan
kosong di bawah kepemilikan Bupati yang difungsikan sebagai ladang dan
usaha-usaha lainnya seperti kebun kelapa dan sebagainya. Area tegal lega yang
luas ini kerap dijadikan sebagai area balap pacuan kuda. Para Bupati yang telah
kaya raya (di atas kiffiestelsel) yang mendapat gaji tetap yang sangat tinggi
mulai memiliki kebiasaan memelihara kuda berharga mahal (yang juga didatangkan
kuda dari Arab, Persia dan Batak di Tapanoeli untuk dijadikan sebagai kuda
pacuan. Pada pertengahan 1860an area pacuan kuda ini menjadi pusat perlombaan
pacuan kuda di Preanger. Para bupati seperti dari Sumaedang, Garoet dan Tjiandjoer
dan para pengusaha perkebunan Eropa turut dalam perlombaan-perlombaan yang
dilangsungkan setiap tahunnya. Seorang pembaca di surat kabar pernah mengkritik
para pejabat ini karena memiliki kuda mahal dengan biaya pemeliharaan yang
sangat mahal sementara penduduk dalam kesusahan dan menderita karena
koffiestelsel.
(seperti Bloeboer) yang sebelumnya pengusaha perkebunan ini beroperasi
di wilayah (region) Tjikaow. Karena itu perkebunan di Bandoeng juga disebut
dengan nama Tjokaow. Area ini lambat laun semakin terdesakn oleh pengembangan
kota.
jalan, kembatan dan konstruksi lainnya seperti bangunan-bangunan pemerintah dan
swasta.
![]() |
| Sawah ladang di kota Bandoeng (foto 1900) |
Area Lainnya: Bodjongloa, Kebon Kelapa, Poengkoer, Lengkong, Andir dan
lainnya adalah area kebun-kebun yang diusahakan oleh pengusaha-pengusaha
pribumi. Area-area perkebunan ini lambat laut juga tergerus oleh urbanisasi
(meningkatnya penduduk pribumi yang datang dari luar kota Bandung.
Kampong-kampong baru bermunculan di luar area-area yang disebut di atas,
dimana penduduk dari sekitar Bandong datang (migrasi) dengan membuka ladang dan
sawah. Kampong-kampong mereka tempat dimana mereka tinggal lambat laun disebut
sesuai nama mereka berasal atau nama baru yang disesuaikan dengan nama sistus
atau jenis produksi utama tertentu. Area-area dimana kampung bermunculan juga
secara historis menjadi hak ulayat mereka seperti kampong Tjitepoes, Tjitjendo
dan sebagainya.
diusahakan oleh pengsuha pribumi bernama Mas Aksan. Dalam perkembangannya eks
area lio ini dimanfaatkan oleh pemerintah sebagai area resepan air yang
kemudian munculnya situ (danau). Area ini berkembang, tidak hanya situnya
disebut situ Aksan tetapi lingkungan sekitarnya juga disebut Situ Aksan.
*Dikompilasi
oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan
sumber-sumber tempo doeloe.

, Terimakasih telah mengunjungi Dului.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.















