*Untuk
melihat semua artikel Sejarah Manado dalam blog ini Klik Disini
Wilayah Sulawesi Utara pada dasarnya meliputi
Gorontalo, Minahasa dan kepulauan. Wilayah ini pada masa lampau terhubung
dengan Ternate (belakangan dengan Macassar). Dalam konteks inilah ditemukan penduduk
memiliki kepercayaan tradisional yang disebut Alifuru sehubungan dengan
munculnya pedagang-pedagang Islam (Melajoe) di Ternate dan di Sombaopoe (Gowa
Macassar).

sejarah lebih tua di nusantara, penyebaran Hindoe-Boedha masih menyisakan
penduduk yang memiliki kepecayaan sendiri-sendiri (pagan). Ketika Islam
mengkoversi Hindoe-Boedha juga masih menyisakan Hindoe (Bali) dan pagan. Di
Bali sendiri masih menyisakan pagan (Bali-Aga) dan di Lombok dan Soembawa
(Bodha). Di berbagai tempat di wilayah Timor pagan dikoversi menjadi Islam oleh
Macassar dan Katolik oleh Portugis serta di utara Minahasa pagan dikonversi
Katalik oleh Spanyol (Filipina). Sisa penduduk pagan yang belum beragama ini
disebut dengan nama umum kepercayaan Alifuru (termasuk Bali Aga dan Bodha).
Lantas mengapa masih tersisa Alifuru di Minahasa sementara pengaruh Islam sudah
menguat di Gorontalo?
Lantas bagaimana sejarah awal penyebaran
agama-agama di Sulawesi bagian utara? Sejumlah penulis Belanda penduduk
Minahasa masih pagan (Alifuru) ketika pedagang-pedagang Islam (dari Ternate dan
Macassar) dan pelaut-pelaut Eropa (Portugis, Spanyol dan Belanda) sudah berada
di pantai-pantai. Dalam situasi dan kondisi inilah pengaruh Kristen dan Islam
memasuki pedalaman Minahasa. Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah
nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah
seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan
tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan
imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang
digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber
disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.
Alifuru dan Sombaopoe di Gowa
Alifuru adalah terminologi yang digunakan
penulis-penulis Belanda (Alfuren) berdasarkan pengertian orang-orang Melajoe
(yang beragama Islam) untuk membedakan dengan penduduk yang belum beragama
(Islam). Penggunaan terminologi Alifuru dalam hal ini bersifat generik di
berbagai tempat di kepulauan Hindia sebelah timur. Penulis-penulis Belanda juga
adakalanya menyebut Alifuru untuk penduduk Bali yang belum beragama Hindu (Bali
Aga) dan penduduk Lombok yang belum beragama Islam (Bodha). Meski tidak head to
head, hal serupa juga dialamatkan (oleh orang Melajoe) kepada penduduk di
pedalaman Sumatra yang belum sepenuhnya beragama (Batak). Terminologi Alifuru
juga dialamatkan kepada penduduk di pedalaman Sulawesi bagian utara (Minahasa).
Sejumlah
penulis menganggap kepercayaan Alifuru merujuk pada pemujaan dan penghormatan kepada
para leluhur dan dewa (opo). Pemujaan rerhadap dewa ini juga ditemukan pada
penduduk asli Bali (Bali Aga) dan penduduk asli Lombok dan Soembawa (Bodha).
Praktek kepercayaan serupa ini juga masih ditemukan sisa peradaban (kepercayaan)
lama di Simaloengoen (lihat Steenplastiek in Simaloengoen inventaris van steenen beelden, reliefs,
steenen kisten en dergelijke, 1938).
Tempo doeloe di Sulawesi bagian selatan, di era
kejayaan kerajaan Gowa ibu kota berada di Sombaopoe. Lantas apakah kota
Sombaopoe ini merujuk pada kota kuno jauh sebelum masuknya (penyiaran) Islam?
Sepintas, nama kota ini dapat diartikan sebagai menyebah (somba) dewa (opoe).
Yang jelas, kota Sombaopoe sebagai pusat perdagangan penting di wilayah
kerajaan Gowa (yang telah beragama Islam). Menurut Francois Valentjn (1726) pengaruh
(agama) Islam di kerajaan Gowa baru dimulai pada tahun 1605.
Pada tahun
1605 ada satu kejadian penting yang mana Belanda menaklukkan benteng Portugis
di Ambon (Fort Victoria). Tahun inilah awal kekuatan Belanda di kawasan Hindia.
Ekspedisi Belanda pertama sendiri baru dimulai pada 1595 yang dipimpin oleh Cornelis
de Houtman dan melakukan kontrak dengan Radja Bali pada tahun 1597. Orang Belanda
baru mencapai Ambon pada ekspedisi kedua yang mana Cornelis de Houtman tewas di
Atjeh pada tahun 1601. Pada ekspedisi-ekspedisi berikutnya, ketika ekspedisi dipimpin
oleh Steven van der Hagen (1603-1605) berhasil menduduki Ambon (mengusir
Portugis yang bergeser ke Dilli). Setelah Belanda mengusir Portugis di Coepang
tahun 1613 dan menguasai Banda, Belanda merelokasi pos utama perdagangan dari
Ambon ke Batavia (1619). Di Coepang penduduk sudah beragama Katolik sementara
di pulau-pulau lain di sekitar sudah ada yang beragama Islam (pengaruh
Malajoe).
Islam sendiri sudah sejak lama berkembang di
Sumatra, Semenjung (seperti Malaka dan Djohor) dan di Jawa. Pedagang-pedagang
Melajoe dan Djawa yang menyiarkan agama Islam di Ternate, Lombok, Soembawa dan
Gowa. Para pedagang-pedagang ini hilir mudik antara pantai utara Jawa dan
Malaka dengan Ambonia dan Ternate. Pedagang-pedagang Arab dan Moor yang
beragama Islam juga sudah mencapai Ambon dan Ternate. Pedagang-pedagang Islam
inilah bersama dengan pedagang-pedagang Portugis, Spanyol dan Belanda mencapai
wilayah Sulawesi bagian utara (khususnya di Manado dan Gorontalo). Pada fase
awal inilah diduga pengaruh Islam di Sombaopoe dan Ternate-Ambon meluas ke
pantai-pantai di Sulawesi bagian utara (pusat perdagangan di Ternate dan
Sombaopoe).
Perseteruan
antara Belanda dengan Portugis dan Spanyol akhirnya Pemerintah VOC juga berhasil
mengusir Spanyol dari Ternate dan Manado. Spanyol bergeser ke arah utara
(Filipina) dan Portugis masih bertahan di Sombaopoe. Pada tahun 1661
pedagang-pedagang VOC mulai menguasai Manado dan melakukan relokasi dari pulau
(Manado) ke muara sungai Tondano dengan membangun benteng pada tahun 1665 (Fort
Amsterdam). Semakin menguatnya Pemerintah VOC di Manado menjadikan ruang
terbuka penyiaran agama Kristen (yang berpusat di Ambon) ke Manado. Penyiaran
agama Kristen di Manado (dan Minahasa) baru intens pasca berakhirnya VOC.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Penyebaran Islam dan Kristen di Manado dan Minahasa
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

, Terimakasih telah mengunjungi Dului.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.










