Sejarah Indonesia

Sejarah Padang Sidempuan (15): Para Pionir Organisasi Kebangsaan Indonesia Asal Kota Padang Sidempuan; Kecerdasan-Keberanian




false
IN


























































































































































 

*Untuk
melihat semua artikel Sejarah Padang Sidempuan di blog ini Klik Disini
 

Mungkin
bayak yang tidak mengetahui, pionir dan pendiri organisasi kebangsaan
(Indonesia) hampir semuanya berasal dari kota Padang Sidempoean. Seperti kata
Dja Endar Moeda bahwa pendidikan dan jurnalistik sama pentingnya, karena
sama-sama mencerdaskan bangsa. Pada kenyataannya Dja Endar Moeda yang secara
sadar mengolah kemampuan bangsanya sendiri dengan menyatukannya dalam suatu
organisasi untuk mempercepat terbentuknya persatua bangsa dan kesatuan secara
nasional. Dja Endar Moeda mendirikan dan sekaligus direktur pertama oragnisasi
kebangsaan (Indonesia) pertama pada tahun 1900.

Dja Endar Moeda, tidak mendirikan organisasi
kebangsaan di kampongnya di Padang Sidempuan, tetapi di kota Padang. Saat itu
kota Padang adalah ibu kota Provinsi Pantai Barat Sumatra (Sumatra’s Westkust
province), yang terdiri dari tiga residentie: Padangsche Benelanden (ibu kota
di Padang), residentie Padangsche Bovenlanden (ibu kota di Fort de Kock) dan
residentie Tapanoeli (ibu kota di Sibolga). Padang Sidempoean sendiri adalah
ibu kota afdeeling (Angkola en Mandailing) residenti Tapanoeli. Jadi, Dja Endar
Moeda mendirikan organisasi kebangsaan di ibu kota provinsinya. Pada tahun
1908, Soetan Casajangan asal Padang Sidempoean tidak mendirikan organisasi
kebangsaan (Indonesia) di kota Padang (ibu kota provinsi) dan juga bukan di
Batavia (ibu kota negara Hindia Belanda) tetapi di Leiden (Belanda). Organisasi
kebangsan Indonesia di negeri orang itu diberi nama Indische Vereeniging
(Perhimpoenan Indonesia). Tentu saja masih ada tokoh muda pendiri organisasi
kebangsaan (yang masuk dalam daftar pionir) antara lain: Sorip Tagor, Abdoel
Rasjid dan Soetan Goenoeng Moelia. Orang-orang asal Padang Sidempuan itu, sejak
tempo doelo, selalu bersifat nasionalis.

Lantas
bagaimana sejarah para pionir Organisasi Kebangsaan Indonesia asal Padang
Sidempuan
? Seperti disebut di atas, dua yang pertama Dja Endar
Moeda dan Soetan Casajangan. Lalu apakah ada kaitan antara satu sama lain
? Tentu saja ada, tidak secara langsung, tetapi
kebetulan (secara random) sama-sama kelahiran Padang Sidempoean. Bagaimana bisa
? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya
ada permulaan.
Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah
nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.

Organisasi Kebangsaan Pertama:
Bukan Boedi Oetomo, Tapi Medan Perdamaian

Saat
para pemimpin pribumi di berbagai tempat di Indonesia (baca: Hindia Belanda)
berpartisipasi aktif di dalam societeit (klub atau organisasi sosial
orang-orang Eropa-Belanda), Dja Endar Moeda di kota Padang dengan sadar mulai
membentuk orgnasasi sosial dari kalangan bangsa sendiri untuk mewujudkan
terbentuknya persatua dan kesatuan diantara orang-orang pribumi. Gagasan Dja
Endar Moeda ini terwujud pada tahun 1900 dengan didirikannya organisasi
kebangsaan pribumi (baca: Indonesia) dengan nama Medan Perdamaian. Dja Endar
Moeda secara aklamasi diangkat sebagai presidennya. Organisasi kebangsaan
Indonesia pertama sah berdiri. Motto organisasi ini ‘Oentoek Sagala Banga’ atau
untuk semua suku.

Dja Endar Moeda, kelahiran Padang Sidempoean
menyelesaikan pendidikan di sekoah guru (kweekschool) Padang Sidempoean tahun
1884. Dja Endar Moeda terbilang salah satu murid terbaik dari guru Charles
Adriaan van Ophuijsen. Dja Endar Moeda memulai karir sebagai guru di Batahan,
kemudian dipindahkan ke Air Bangis dan lalu dipindahkan lagi ke Singkil. Di
kota ini Daja Endar Moeda meminta pensiun dini dan lalu berangkat menunaikan
haji ke Mekkah. Sepulang dari Mekkah, Dja Endar Moeda tidak kembali ke
kampongnya di Padang Sidempoean tetapi memilih tinggal di kota Padang (iibu
kota provinsi). Pada tahun 1895 Dja Endar Moeda mendirikan sekolah di kota
Padang (karena melihat penduduk usia sekolah banyak yang tidak tertampung di
sekolah negeri. Dja Endar Moeda menulis buku pelajarannya sendiri dan di cetak
di percetakan Cina di kota Padang. Dja Endar Moeda, selain menulis buku
pelajaran sekolah, juga menulis buku-buku umum dan roman (novel). Pada tahun
1897 salah satu novelnya ditawarkan kepada percatakan yang menerbitkan surat
kabar berbahasa Melayu di Padang, Pertja Barat, tetapi tidak hanya novelnya
yang diterima layak cetak, juga Dja Endar Moeda ditawarkan posisi sebagai
kepala redaktur di Pertja Barat. Gayung bersambut. Pada tahun 1900 diketahui
Dja Endar Moeda telah mengakuisisi surat kabar Pertja Barat sekaligus
percetakannya. Dja Endar Moeda tidak hanya editor surat kabar pribumi pertama,
juga pemilik surat kabar dan percetakan pertama. Modal inilah yang kemudian
berinisiatif mendirikan organisasi kebangsaan (pribumi) di kota Padang.

Sebagai
organisasi kebangsaan dengan motto Oentoek Sagala Bangsa, Dja Endar Moda  pada tahun 1900 menerbitkan dua media lagi,
setelah surat kabar Pertja Barat yakni surat kabar berbahasa Melayu Tapian Na
Oeli untuk tiras di Tapanoeli dan majalah dua mingguan Insulinde yang
memberitakan berita-berita pembangunan dan artikel-artikel pertanian dan
lainnya. Surat kabar Perta Barat dengan motto Oentoek Sagala Banga, motto yang
sama dengan organisasi kebangsaan Medan Perdamaian.

Dalam tempo dua tahun organisi kebangsaan
Medan Perdamaian yang berpusat di Kota Padang sudah memiliki sekitar 500
anggota di provinsi Sumatra’s Westkust. Pada tahun 1902 Dja Endar Moeda atas
nama pimpinan organisasi menyumbang sebanyak f14.000 untuk membantu
peningkatakan pendidikan di kota Semarang (Midden Java). Sumbangan tersebut
diberikan langsung Dja Endar Moeda melalui direktur pendidikan Pantai Barat
Sumatra di Padang, Charles Adriaan van Ophuijsen (mantan guru dan direktur Kweekschool
Padang Sidempoenan. Medna Perdamanaian dalam hal ini tidak hanya memiliki otto
Oentoek Sagala Bangsa juga benar-benar ingin membantu pendidikan anak bangsa
meski jauh di Jawa.

Tunggu
deskripsi lengkapnya

Daftar Para Pionir Indonesia

Tunggu
deskripsi lengkapnya

 

*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi:
akhirmh@yahoo.com


, Terimakasih telah mengunjungi Dului.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.

Most Popular

To Top