Berdasarkan
laporan-laporan awal Portugis, pada tahun 1511, tiga dari kapal-kapal Portugis
di Malaka telah melakukan eksplorasi ke wilayah selatan (pesisir timur Sumatra
bagian selatan), terus ke Jawa dan pantai utara kepulauan Nusa Tenggara hingga
ke Makassar dan kepulauan Maluku. Satu dari kapal tersebut tenggelam (diserang
badai) dan dua kapal berhasil kembali ke Malaka. Inilah awal rintisan
pelaut-pelaut Eropa di nusantara yang dimulai Portugis. Pada tahun 1521
pelaut-pelaut Spanyol dari arah rute navigasi pelayaran Portugis, dari wilayah
timur setelah melewati celah selatan Amerika dan mengarungi Lautan Pasifik,
pelaut-pelaut Spanyol mencapai Filipina dan berlabuh di Zebu. Pada saat
kepulangan pelaut-pelaut Spanyol ini dari Filipina melewati kepulauan Maluku
sudah mengetahui kehadiran pelaut-pelaut Portugis di kepulauan Maluku. Pada
tahun 1524 pelaut-pelaut Portugus mengunjungi Broenai dan kemudian mencapai
(teluk) Manila. Sejak inilah nama pulau Kalimantan diidentifikasi pada
peta-peta Portugis sebagai pulau Borneo (merujuk pada nama Broenai). Sebelum,
pelaut-pelaut Portugis setelah menduduki Malaka telah melakukan kontak dengan
pemerintah Tiongkok. Gubernur baru Malaka. Jorge de Albuquerque pada tahun 1514 melakukan kontak pertama ke Tiongkok yang
sebelum ke pelabuhan Canton (kini Guangzhou) Jorge Alvares singgah di pulau
Tummen. Kunjungan kedua dilakukan pada tahun berikutnya (1515-1516). Ini
mengindikasikan bahwa Portugis lebih dulu mengenal Tiongkok daripada Boerneo.
Dalam sumber dinasti Ming disebut Tiongkok mengusir Portugis dari pulau Tunmen
melalui pertepuran 1521. Boleh jadi ini setelah terusir dari Tiongkok
orang-orang Portugis ke Borneo dan Manila
Besar dugaan bahwa pelaut-pelaut Portugis di Malaka mulai
membangun benteng yang kuat di Malaka, sebelum kehadiran Spanyol di Filipina. Informasi ini
berasal dari catatan dinasti Tiongkok. Disebutkan bahwa setelah terbuka
kerjasama antara Portugis di Malaka dan Tiongkok pada tahun 1516, pada tahun
1519 Simao Peres d’Andrade diangkat jadi perwakilan di
Tiongkok dan segera membangun benteng terbuat dari batu dan kayu di pulau
Tunmen (dekat muara sungai ke Canton). Pendirian benteng ini mengindikasikan
Portugis di Malaka sudah memiliki benteng.
Pembangunan benteng bermasalah, karena tanpa
sepengetahuan dan izin Kerajaan Tiongkok. Alasan Simao karena para perompak banyak
dan armada Tiongkok tidak memberikan perlindungan yang memadai kepada para
pelaut laut Portugis. Permasalahan memuncak ketika orang-orang Portugis membeli
budak dari orang-orang yang justru banyak dicuri dan dirampok dari penduduk
Tiongkok. Permasalahan semakin meuncak ketika orang-orang Portugis mengganti
orang asing yang bersalah kepada mereka yang dipandang Tiongkok bahwa
orang-orang Portugis bertindak sebagai penadil yang menjatuhkan wibawa
peerintahan Tiongkok. Menuut orang-orang Tiongkok sudah berlebihan. Untuk
mengatasi kebencian orang-orang Tiongkok kepada Portugis diutus Thomé Pires yang
berangkat dari Canton pada tanggal 23 Januari 1520 untuk menemui Kaisar yang
tinggal di Nangkin tetapi diinta ke Beijing untuk diterima Kaisar. Usah Pires
membuka kedutaan di Beijin gagal. Sementara itu diadakan persidangan yang mana
pengadilan menuntut semua kesalahan Portugis dan mengusir Portugis dari
Tiongkok..Lalu terjadi bentrok antara orang-orang Tiongkok dan Portugis. Orang
Portugis banyak yang terbunuh dan sisanya melarikan diri dan kembali dengan
selamat ke Malaka, Putus perdagagan antara kedua pihak.
Sejak kehadiran Sapanyol, diduga kuat perhatian Portugis
dan Spanyol hanya terbatas di bagian utara khatulistiwa yang membentang dari
selat Malaka, melalui pantai utara Borneo, laut Sulawesi, Semenanjung Sulawesi
(Manado) hingga kepulauan Maluku yang berpusat di Ternate. Hal itu karena
kepulauan Maluku adalah sentra produksi rempah-rempah yang penting (lada,
cengkeh dan pala) yang nilai pasarnya di Eropa sangat tinggi.

Portugis mulai membangun benteng di jalur navigasi pelayaran antara Broenai dan
Ternate di Semenanjung Sulawesi Benteng yang dibangun tahun 1527 tersebut
berada di Ota (pantai utara Gorontalo) dekat muara sungai. Setelah lama
ditinggalkan Portugis di atas pondasi benteng ini dibangun benteng baru oleh
VOC pada tahun 1764 dengan dua bastion bentuk lingkaran. Benteng Portugis
lainnya di kawasan pantai utara semenanjung Sulawesi ini adalah benteng di
Amurang.
Diantara Portugis dan Spanyol tidak hanya
berbagi laut (navigasi pelayaran) juga terkesan mulai terjadi persaingan
diantara keduanya. Dalam konteks ini, pantai utara Jawa belum mereka anggap penting
Pelaut-pelaut
Spanyol sejatinya tidak pernah ke pantai utara Jawa. Namun pelaut-pelaut
Portugis yang sejak awal (1511) sudah mengetahui kota-kota pelabuhan di panati
utara Jawa, semakin dikenal setelah kunjungan Tome Pires ke palabuhan Zunda
Kalapa sekitar tahun 1516. Berdasarkan laporan Mendes Pinto yang berkunjung ke
pantai utara Jawa pada tahun 1539, kota pelabuhan Banten sudah cukup ramai.
Mendes Pinto juga mengunjungi kota pelabuhan Zunda Kalapa dan kota pelabuhan
Demak. Mungkin singgah di Cirebon, tetapi tidak diidentifikasinya di dalam
laporannya.
Pelaut-pelaut
Portugis diketahui sudah membangun benteng di kota pelabuhan Amboina, tetapi
kapan benteng tersebut dibangun tidak diketahui secara pasti. Benteng Portugis
di Amboina ini diduga dipiliha karena posisinya yang strategi tidak hanya di
kepulauan Maluku tetapi juga pada posisi garis navigasi ideal dengan Jawa.
Pedagang-pedagang
Portugis yang berpusat di Malaka dan Maluku telah mengetahui bahwa produk khas
wilayah Timor yakni kayu gaharu sangat laris di Tiongkok, Pada tahun 1557,
seorang misionaris Portugis mulai menetap di Lahayong di Solor untuk melakukan
pekerjaan misionaris di sana. Pulau Solor dan pulau Timor adalah penghasil
utama kayu gaharu di kawasan Timor. Pada tahun 1561 misionaris ini membangun
paggar (benteng kayu) di atas bukit untuk melindungi diri dari para budak dari
Makassar yang bekerja di pulau. Benteng Lahayong ini kemudian digantikan pada
tahun 1565 dengan dibangunnya sebuah benteng yang terbuat dari batu alam. Boleh
jadi benteng Solor inilah benteng ketiga Portugis di Nusantara.
Tunggu deskripsi
lengkanya
Benteng Belanda di Batavia: Peta
Benteng-Benteng di Indonesia
Tunggu deskripsi
lengkanya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di
blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

, Terimakasih telah mengunjungi Dului.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.










