Sejarah

Sejarah Jakarta (125): Naturalisasi Restorasi, Normalisasi Revitalisasi Sungai; Mengapa Itu Masih Banjir di Jakarta? Ada Salah Berpikir?


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Hingga Januari 2026, banjir masih
menjadi tantangan besar bagi Jakarta karena kombinasi faktor cuaca ekstrem,
penurunan permukaan tanah yang kritis, dan masalah struktural drainase kota. Alih-alih
menuduh cuaca ekstrem, curah hujan tinggi dan durasi hujan dan bahkan juga
disebut ada kontribusi penurunan permukaan tanah,  pengambilan air tanah yang berlebihan dan beban
bangunan yang masif, mengapa naturalisasi, normalisasi, revitalisasi, restorasi
sungai dan sebagainya tidak menghilangkan banjir?.

 

Sejarah banjir di
Jakarta telah tercatat sejak masa kuno karena posisinya yang berada di dataran
rendah delta sungai. Prasasti Tugu mencatat upaya penggalian sungai untuk
mengalirkan air ke laut. Banjir besar pertama di era Batavia (VOC) 1621 akibat
luapan sungai Ciliwung. VOC mulai membangun sistem kanal. Banjir besar terjadi
lagi tahun 1654. Pada tahun 1872 banjir besar merendam Batavia setinggi lebih
dari satu meter. Tercatat curah hujan ekstrem 1892 setinggi 286 mm dalam
delapan jam yang menyebabkan banjir luas. Salah satu banjir terparah era
kolonial yang merendam wilayah luas hingga Kemayoran tahun 1918. Setelah ini,
sistem pengendali banjir seperti Banjir Kanal Barat Manggarai mulai dibangun. Pada
tahun 1977 kawasan Monas terendam dan sedikitnya 50.000 jiwa mengungsi; tahun 1996
banjir setinggi hingga 7 Meter merendam puluhan ribu rumah dan menelan 20
korban jiwa. Banjir nasional tahun 2002 melumpuhkan ekonomi Jakarta dengan
cakupan genangan mencapai 24% wilayah kota. Banjir tahun 2007 dianggap sebagai
salah satu yang terburuk dalam tiga abad terakhir, sebesar 60% wilayah Jakarta
terendam, 80 orang meninggal dunia. Lagi-lagi, tahun 2013 pusat kota (kawasan
Sudirman-Thamrin) dan Istana Negara terendam. Terakhir tahun 2020 curah hujan
ekstrem di awal tahun menyebabkan banjir luas yang menewaskan puluhan orang dan
memaksa ribuan warga mengungsi
(AI Wikipedia). 

Lantas bagaimana sejarah naturalisasi,
normalisasi, revitalisasi, restorasi sungai? Seperti disebut di atas, hingga
tahun 2026 ini banjir masih terjadi. Pertanyaannya mengapa masih banjir di Jakarta
dan berbagai kota? Lalu bagaimana sejarah naturalisasi, normalisasi, revitalisasi,
restorasi sungai? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada
permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah
nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*. 

Naturalisasi,
Normalisasi, Revitalisasi, Restorasi Sungai; Mengapa Masih Banjir di Jakarta
dan Berbagai Kota?
 

Pembangunan kota dan pengembangan
pertanian adalah satu hal. Situasi dan kondisi alam adalah hal lagi. Terjadinya
banjir adalah hal lain lagi. Masalahnya adalah mengapa hingga kini masih
banjir. Apakah jargon-jargon masa kini seperti naturalisasi, normalisasi, revitalisasi
dan restorasi tidak dilaksanakan atau tidak efektif? Jika kenyataannya tidak
efektif, apakah masih perlu mencari jargon baru lagi, atau mencoba sebaliknya
mencari apa yang salah untuk mengindarinya?
 


Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta
tempo doeloe. Sumber buku hanya digunakan
sebagai pendukung (pembanding
). Catatan: dalam blog ini sudah ada puluhan artikel terkait banjir di
Jakarta dan berbagai kota di Indonesia. 
Mari kita mulai dari awal. 


Tunggu deskripsi lengkapnya

Mengapa Masih Banjir
di Jakarta dan Berbagai Kota? Alam Tidak Pernah Salah, Cara Berpikir Lama yang Tidak
Pernah Disadari

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang
warga Kota Depok
Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi
dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi 
menulis artikel sejarah
di blog 
di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish).
 Buku-buku
sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di IndonesiaGenerasi
Pertama; Sejarah Pers di Indonesia
Awal Kebangkitan BangsaSejarah
Sepak Bola di Indonesia
Sejarah Pendidikan di IndonesiaPionir
Willem Iskander
Sejarah Bahasa Indonesia. Forthcoming:
“Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”;
“Sejarah Diaspora Indonesia”. 
Korespondensi: akhirmh@yahoo.com


, Terimakasih telah mengunjungi Dului.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.

Most Popular

To Top