Sejarah Indonesia

Sejarah Jepang (11): Beras di Jepang dan Beras di Indonesia; Makanan Pokok Nasi di Jepang dan Indonesia Sejak Zaman Kuno


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jepang dalam blog ini Klik Disini 

Hingga
masa ini makanan pokok orang Jepang seperti halnya orang Indonesia adalah nasi
dari baha beras. Sama seperti di Indonesia, nasi dikonsumsi hampir setiap hari
dan menjadi dasar dari berbagai hidangan khas Jepang. Saat ini, varietas
seperti Koshihikari dan Hitomebore sangat populer karena teksturnya yang pulen.
Istilah “Itadakimasu” yang diucapkan sebelum makan merupakan wujud
rasa syukur atas beras. Beras juga digunakan dalam berbagai festival (matsuri)
dan perayaan (seperti sekihan atau nasi merah untuk momen spesial). 
Pengantar Studi Kelayakan Bisnis


Sejarah beras di Jepang merupakan fondasi dari
perkembangan budaya, struktur sosial, dan ekonomi negara tersebut selama ribuan
tahun. Padi pertama kali diperkenalkan ke Jepang dari Tiongkok atau Semenanjung
Korea pada Periode Jomon (sekitar 1000–400 SM). Meskipun jejak butiran padi
ditemukan pada tembikar dari akhir periode Jomon, pada masa ini masyarakat
masih lebih banyak bergantung pada kegiatan berburu dan meramu. Periode Yayoi
(300 SM – 300 M) adalah titik balik besar di mana budidaya padi sawah secara
intensif mulai menyebar, dimulai dari pulau Kyushu. Teknologi irigasi dan
penggunaan alat besi dari daratan Asia memicu revolusi pertanian, mengubah gaya
hidup masyarakat menjadi menetap dan membentuk komunitas desa yang
terorganisir. Pada masa Feodal dan Periode Edo (1603–1868) beras bukan sekadar
makanan, melainkan mata uang. Kekayaan para penguasa wilayah (daimyo) diukur dalam
unit koku (jumlah beras yang cukup untuk memberi makan satu orang dewasa selama
setahun). Pajak kepada keshogunan dibayar menggunakan hasil panen beras. Setelah
Restorasi Meiji, sistem pajak beralih ke uang tunai, namun beras tetap menjadi
simbol ketahanan nasional. Meskipun konsumsi beras per kapita menurun karena
perubahan gaya hidup, pemerintah Jepang terus menjaga stok pangan nasional dan
mendorong ekspor beras berkualitas tinggi ke pasar global. Baru-baru ini,
Jepang juga menghadapi tantangan harga akibat faktor cuaca dan distribusi
(AI Wikipedia).. 

Lantas
bagaimana sejarah beras di Jepang dan beras di Indonesia? Seperti disebut di atas,
makanan pokok orang Jepang adalah nasi berbahan beras. Makanan pokok nasi ini di
Jepang dan Indonesia sejak zaman kuno. Lalu bagaimana sejarah beras di Jepang
dan beras di Indonesia? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada
permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah
nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah
seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan
tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan
imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang
digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*. 

Beras di Jepang
dan Beras di Indonesia; Makanan Pokok Nasi di Jepang dan Indonesia Sejak Zaman
Kuno

Kehadiran
Belanda di Jepang dimulai pada tahun 1609. Pada saat ini, pos perdagangan utama
Belanda berada di Amboina. Namun belum terinformasikan produk apa yang
diperdagangkan di Jepang. Pada tahun 1619 pos perdagangan VOC/Belanda di Amboina
direlokasi ke Batavia (di muara sungai Tjiliwong).

 

Tijdinghe uyt verscheyde quartieren, 23-02-1621: ‘Kapal Goede Dzede dari Oost Indien (Hindia
Timur) tiba di Zeelant yang membawa kargo, antara lain: lada (peper), cengkeh
(naghelen), pala (noten), fuli (bunga pala), jahe (gember), kamper (camphora),
intan (diamanten) dan gaharu’. 

Dalam
daftar kargo yang tiba di Belanda pada tahun 1621 tampaknya belum ada produk
dari Jepang. Mengapa? Boleh jadi karena Portugis masih memainkan peran perdagangan
yang sangat besar di Jepang. Produk-produk dari Hindia Timur yang terus
mengalir ke Belanda, juga gula (suiker), kemenyan (benjuin), indigo (lihat Tijdinghe
uyt verscheyde quartieren, 16-09-1623). Dalam daftar tahun 1623 ini juga sudah
termasuk dari wilayah di luar Hindia Timur seperti katun dan porselin dari Cina
dan kerajinan perak dari Jepang (Japons cooper).
 


Satu-satunya
produk yang diperdagangkan pada saat itu adalah produk tahan lama yang tonasenya
tidak berat. Kapal-kapal masih terbilang ukurannya masih kecil dan lama
pelayaran dari Batavia hingga Belanda sekitar enam bulan. Di Jepang, sejak 1641
hanya satu-satunya Belanda yang diizinkan berdagang. Portugis sudah diusir
Jepang pada tahun 1639 sebagai kebijakan baru di Jepang (isolasi Sakoku).
 

Belanda
masih merupakan satu-satunya orang asing yang berdagang di Jepang. Selama hampir
dua abad, tidak terinformasikan beras yang diperdagangan di Jepang
(ekspor/impor). Pada tahun 1810 terinformasikan beras Jepang diperdagangkan di
Batavia.

 

Bataviasche
koloniale courant, 30-11-1810: ‘Pada hari Senin, bulan ketiga musim dingin
(Wintermaand), seorang juru lelang akan mengadakan penjualan di EC Brandes, di
Roeai–Malaka kecil, yang meliputi perhiasan, barang-barang emas dan perak,
beras Jepang, mentega dan wajan, serta linen Jawa dan linen lainnya, dll’. 

Beras
pada dasarnya sudah sejak lama menjadi komoditi perdagangan di Hindia Timur
bahkan hingga Pemerintah Hindia Belanda. Di Era VOC, beras dibeli di Jawa lalu
kemudian dipertukarkan dengan komoditi lain di berbagai wilayah, seperti di
Bangka dan Belitung beras dari Jawa dan timah dibawah ke Batavia.

 

De vriend des
vaderlands; een tijdschrift toegewijd aan den roem en de welvaart van Nederland
en in het byzonder aan de hulpbehoeftigen in hetzelve, 1833, No 4: ‘Serealia. Di
dalam Lingkaran Arktik, pertanian hanya ada di beberapa tempat. Di Siberia,
pertanian mencapai garis lintang hingga 60°, di Kamtschatka bahkan tidak sampai
51°. Di Amerika barat laut (di wilayah jajahan Rusia), hanya jelai dan gandum
hitam yang tumbuh hingga 58°. Di pantai timur Amerika, pertanian hampir tidak
melebihi garis lintang 52°. Di Laplandia, batasnya mencapai 70°; jelai dan
gandum, biji-bijian paling utara di Eropa, adalah tanaman pangan utama di
Norwegia utara, Swedia, Skotlandia, dan sebagian Siberia. Gandum hitam mengikuti
jelai dan gandum ke selatan. Ini adalah tanaman pangan utama di Swedia selatan,
Swedia dan Norwegia, di Denmark, Skotlandia, negara-negara Laut Baltik, dan
sebagian Siberia. Jelai ditanam di negara-negara ini terutama untuk bir, dan
gandum untuk kuda. Lebih jauh ke selatan, roti dibuat terutama dari gandum,
seperti di Inggris, Prancis, sebagian Jerman, dan Hongaria, di Kaukasus dan
negara-negara Asia Tengah. Tanaman merambat sebagian menggantikan budidaya
jelai di daerah-daerah ini. Di selatan negara-negara di mana gandum adalah
makanan utama, beras dan jagung ditanam bersama gandum, seperti di Portugal,
Spanyol, wilayah Prancis, Mediterania, Italia, Yunani, Asia Kecil, Persia,
India, Arab Saudi, Mesir, Nubia, Negara-negara Barbary, dan Kepulauan Canary.
Gandum hitam masih diproduksi dalam jumlah yang cukup besar, gandum akhirnya
menghilang, dan jelai hanya digunakan untuk memberi makan kuda dan keledai. Di
Cina, Jepang, dan India, beras adalah biji-bijian utama. Amerika Utara memiliki
gandum dan gandum hitam. Di iklim yang panas dan kering, jagung ditanam di
Amerika*, beras di Asia, dan keduanya sama di Afrika, mungkin karena jagung
berasal dari Amerika dan beras dari Asia. Di negara-negara di antara daerah
tropis, tanaman pangan penting lainnya, seperti pohon palem, yang berbagai
spesiesnya, kurma, kelapa, dan sagu (inti tepung dari batang) menghasilkan (**)
Di kepulauan Laut Selatan, pohon sukun menyediakan makanan utama. Di zona
beriklim sedang di Belahan Bumi Selatan, pertanian sangat mirip dengan di
Belahan Bumi Utara. Di selatan Era, Buenos Aires, Chili, di Tanjung Harapan,
dan di zona beriklim sedang New Holland, gandum adalah biji-bijian utama. Jelai
dan gandum hitam ditemukan di bagian paling selatan negara-negara yang
disebutkan di atas dan di Diemensland. Pada ketinggian ini, jagung merupakan
biji-bijian utama dari ketinggian 3.000 hingga 6.000 kaki, sedangkan di
ketinggian yang lebih rendah, pisang juga sama pentingnya. Dari ketinggian
6.000 hingga 9.240 kaki, biji-bijian Eropa adalah yang paling umum, dengan
gandum di daerah terendah dan jelai serta oat di daerah yang lebih tinggi; dari
ketinggian 9.240 hingga 12.300 kaki, hanya kentang yang ditanam. *Di Amerika,
sebelumnya tidak ada tanaman biji-bijian yang dibudidayakan, begitu pula hewan
ternak penghasil susu. Seorang budak kulit hitam dari Cortes adalah orang
pertama yang menabur tiga butir gandum di Meksiko. Biarawan Fransiskan dari
Ghent adalah orang pertama yang menaburnya di Quito. **Dari 112 spesies pohon
palem, hanya 12 yang tumbuh di luar daerah tropis. Namun, batas-batasnya di
Holland Selatan dan Afrika hanya meluas hingga 35° lintang selatan, di Selandia
Baru hingga 38° lintang selatan; di Belahan Bumi Utara, di Amerika Utara,
hingga 36° lintang selatan, dan di dekat Aix-la-Chapelle hingga 44° lintang
utara. Menurut Linseus, palem adalah raja dunia tumbuhan’.

 

Tunggu deskripsi
lengkapnya

Makanan Pokok
Nasi di Jepang dan Indonesia Sejak Zaman Kuno; Apakah Ada hubungan Perdagangan
Beras antara Indonesia dan Jepang?

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang
warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di
Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis
artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli
sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi
dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan
pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah
dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers
di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah
Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia.
Forthcoming: “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah
Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia”. Korespondensi:
akhirmh@yahoo.com


, Terimakasih telah mengunjungi Dului.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

To Top