*Untuk melihat semua artikel Sejarah Sepak Bola Indonesia di blog ini Klik Disini
Artikel ini sudah lama artikel dibuat, tetapi
tidak kunjung diupload. Namun kabar duka hari ini tanggal 19 Maret 2026 pemilik
klub Como bahwa Bapak Michael Bambang Hartono dikabarkan meninggal dunia di
Singapura. Klub Como 1907 tengah berduka. Namun demikain nama Michael Bambang
Hartono akan selalu dikenal oleh supporter Coma 1907. Semoga klub fenomenal ini
terus Berjaya di bawah dukungan sang adik Robert Budi Hartono. Sejarah Sepak Bola di Indonesia

Como 1907 adalah klub sepak bola Italia yang
saat ini berkompetisi di Serie A, kasta tertinggi liga Italia. Klub ini menjadi
sangat populer di Indonesia karena dimiliki oleh pengusaha asal Indonesia,
yaitu Keluarga Hartono (Grup Djarum) melalui anak perusahaan mereka, SENT
Entertainment. Michael Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono sejak 2019 mengakuisisi
klub yang berada di kota peguinungan di pinggir danau Como. Dukungan finansial
mereka, Como dinobatkan sebagai klub sepak bola dengan pemilik terkaya di
Italia menurut Forbes. Kabar Duka Terbaru: Pada 19 Maret 2026, klub secara
resmi menyampaikan duka mendalam atas meninggalnya salah satu pemiliknya,
Michael Bambang Hartono. Saat ini klub dilatih oleh legenda sepak bola Cesc
Fabregas dari Spanyol. Markar klub berada di Stadion Giuseppe Sinigaglia yang terletak di
pinggir Danau Como. Klub ini dibeli saat berada di Serie D (divisi empat)
setelah mengalami kebangkrutan, lalu berhasil promosi beruntun hingga mencapai
Serie A pada musim 2024/2025. Identitas klub dikenal dengan julukan I Lariani
dan identik dengan warna biru kerajaan (royal blue) (AI Wikipedia).
Lantas
bagaimana sejarah Klub Como 1907 di Danau Pegunungan di Como, Italia? Nah, itu
dia: jarang ditulis. Pada masa ini hanya terinformasikan telah dimiliki oleh
Hartono Bersaudara, klub yang awalnya berada di Serie-D tetapi kini dalam waktu
singkat sudah di Serie-A dan moga-moga segera berpartisipasi dalam Liga
Champion Eropa. Lalu bagaimana sejarah Klub Como 1907 di Danau Pegunungan di
Como, Italia? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan.
Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita
telusuri sumber-sumber tempo doeloe.Sejarah Pers di Indonesia

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja.
Klub Como 1907 di Danau
Pegunungan di Como, Italia; Klub Hartono Bersaudara dari Serie-D, Kini Serie-A
Kota Como
dapat dikatakan adalah kota tua. Ketika kota Como di wilayah Lombardy di bawah
Kerajaan Spanyol menjadi bagian yang diperintah oleh gubernur Spanyol dari
Milan. Wilayah Italia sendiri berada di bawah kerajaan Spanyol sejak 1559. Saat
ini pelaut-pelaut Spanyol dan pelaut Portugis sudah mencapai seluruh muka bumi.

Sebagaimana diketahui
setelah pelaut-pelaut Portugis mencapai Maluku pada tahun 1511, lalu kemudian
pelaut-pelaut Spanyol menyusul mencapai Maluku. Pelaut-pelaut Portugis berlayar
dari Eropa ke Timur melalui Afrika Selatan, hingga ke India, lalu mencapai
Malaka dan Maluku. Sementara pelaut-pelaut Spanyol berlayar menuju barat melalui
Amerika Selatan dan kemudian melintasi Lautan Pasifik hingga mencapai pulau
Zebu di Filipina dan Maluku pada tahun 1521. Foto: Peta Portugis yang dibawa ekspedisi Belanda pertama (1595)
Berdasarkan
pengetahuan (buku dan peta orang-orang Portugis dan Spanyol), ekspedisi pertama
Belanda yang dipimpin Cornelis de Houtman dimulai pada tahun 1595 dengan
berlayar melalui Afrika Selatan dan pada akhir tahun 1596 mencapai pantai barat
pulau Sumatra di pulau Enggano. Sejak itu ekspedisi Belanda ke Maluku semakin
intens. Pada tahun 1605 pelaut-pelaut Belanda di bawah pimpinan Admiral van
Hagen berhasil menaklukkan benteng Portugis di Amboina. Pada tahun 1612 kembali
pelaut-pelaut Belanda menaklukkan Portugis di pulau Solor dan Koepang (Timor). Sementara
Spanyol tidak tergoyahkan di Filipina, lalu pada tahun 1619 pos perdagangan utama Belanda (VOC)
direlokasi dari Amboina ke Batavia (kini Jakarta).

Tijdinghe uyt verscheyde quartieren, 20-09-1620: ‘Venesia, 4 September.
Situasi Gryson (seperti yang tertulis dari Italia) belum membaik, karena
Gubernur Milan memberikan bantuan semaksimal mungkin kepada para pemberontak di
Voltolina (Valtellina), dan telah menyiapkan 1.500 orang untuk dikirim ke sana;
namun, mereka tidak mengenakan lambang Raja Spanyol, melainkan lambang Paus,
yaitu Kunci Santo Petrus. Sementara itu, segala macam persiapan militer sedang
dilakukan di Como dan wilayah yang sama, untuk terlebih dahulu menangani Gryson
dengan serius’. Catatan: Gryson atau Grisons adalah Grigioni dalam bahasa
Italia atau Graubünden dalam bahasa Jerman. Graubünden kini salah satu negara bagian
(kanton) di (negara) Swiss dengan ibukota di Chur (kota tertua di Swiss (dekat
Davos). Voltolina (Valtellina)adalah nama lembah yang menjadi bagian dari
provinsi Sondrio, di region Lombardia, Italia.
akhirnya berakhir di bawah kekuasaan Spanyol tahun 1737 seiring dengan beralihnya
kekuasaan di Milan dan Napoli ke bawah kekuasaan Austria. Kebangkitan orang
Italia dimulai tahun 1848. Pasukan Austria dapat dikalahkan Italia pada tahun 1859
dan tahun 1866 yang menyebabkan wilayah Lombardia dan (Republik) Venesia diserahkan ke
Italia yang kemudian terjadinya penyatuan dan terbentuknya Kerajaan Italia pada
1861. Pahlawan perang Italia pada masa itu adalah Giuseppe Garibaldi (nama yang
kini menjadi nama kapal induk Italia yang telah dihibahkan kepada Indonesia).

Wilayah Lombardia pada masa
ini adalah sebuah wilayah administratif di Italia Utara yang terletak di antara
pegunungan Alpen dan Lembah Po. Ibu kota berada di Milano (Milan). Dalam perkembangannya
wilayah adminstrasi Lombardia (Lombardy) berkembang yang kini terdiri dari 12
provinsi: Milan, Bergamo, Brescia, Como, Cremona, Lecco, Lodi, [Akhir] Matua,
Monza dan Brianza, Pavia, Sondrio, dan Varese. Di wilayah Lombardia ini
terdapat tiga danau besar: Danau Como, Danau Gard(i)a, dan Danau Maggiore. Foto: Peta Italia Utara dari Genoa ke Venezia (1600)
Dalam hal ini di masa lampau wilayah Como adalah
bagian dari Milan. Sementara Valtellina adalah lembah strategis di Alpen yang
menjadi perebutan kekuasaan antara Milan, Swiss (Grisons), dan Austria. Wilayah
Valtellina menjadi bagian wilayah Italia sejak 1859.
Nederlandsche staatscourant, 26-03-1874: ‘Italia. Dalam *Observatore
Cattolico* dimuat surat yang disampaikan oleh para petinggi gereja Lombardia
kepada Raja Italia sehubungan dengan rancangan undang-undang tentang perkawinan
sipil wajib. Surat tersebut ditandatangani oleh Uskup Agung Milan dan para
uskup Brescia, Bergamo, Mantua, Pavia, Cremona, Como, dan Lodi’. Apeldoornsche
courant, 29-08-1874: ‘”Dia akan meninggalkan Belgia— tulis reporter ini —
pergi ke Inggris atau Italia, dan lebih disukai ke tepi danau Como, di mana
udaranya akan bermanfaat bagi kesehatannya’. Opregte Haarlemsche Courant,
05-02-1879: ‘Tahun lalu, di distrik Como saja, 37.000 kilogram tembakau dipesan’.
Utrecht Provincial and Municipal Daily, 16-02-1879: ‘Suatu ketika, sebelum
ketenarannya mapan, ia pernah tinggal di sebuah hotel di Danau Como dan
menghabiskan waktu bersama para tamu lainnya’. De standard, 31-01-1899: ‘Di
perbatasan Italia-Swiss dekat Como, delapan petugas bea cukai Italia terkubur
di bawah salju beberapa hari ini. Tiga di antaranya ditemukan tewas di bawah
tumpukan salju. Lima lainnya mengalami luka yang cukup serius’. Provinciale
Noordbrabantsche en ‘s Hertogenbossche courant, 25-05-1899: ‘Raja Umberto
membuka pameran listrik internasional di Como pada hari Sabtu, yang diadakan
untuk memperingati seratus tahun penemuan besar (Alessandro)b Volta’. Catatan: Alessandro
Volta (lahir 18 Februari 1745 di Como) adalah fisikawan dan kimiawan Italia
sebagai penemu baterai listrik pertama sekitar tahun 1799–1800.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Klub Hartono Bersaudara dari
Serie-D, Kini Serie-A: Kota Como dan Promosi Indonesia
Wilayah Comodi
Lombardia adalah provinsi terjauh Italia di sebelah utara (berbatasan dengan
Swiss). Sebagaimana diketahui, Swiss awalnya juga masuk wilayah kekuasaan
Austria. Sebagai wilayah paling terpencil di Italia di pegunungan Alpen, provinsi
Como sejatinya baru baru mendapat perhatian pada tahun 1903. Ini sehubungan
dengan adanya konsesi pembangunan kereta api listrik dari Milan hingga ke Como.

Dagblad van Zuidholland en ‘s Gravenhage, 29-09-1903:
‘Kereta api listrik. Di Italia, uji coba penting dengan kereta api listrik akan
segera dilakukan. Perusahaan Milan Utara telah diminta untuk menerapkan traksi
listrik pada jalur-jalurnya, dengan panjang gabungan 293 Km, yang sebagian
besar membentang ke danau-danau. Untuk tujuan ini, mereka bermaksud
memanfaatkan Sungai Liro yang berarus deras, sebuah aliran sungai pegunungan
yang berasal dari Splugen dan mengalir ke Danau Como. Sebuah pembangkit listrik
akan dibangun di Chiavenua untuk tujuan ini, yang akan memasok tenaga listrik berkinerja
tinggi. Rencananya, operasi ini akan dimulai pada tahun 1905, bersamaan dengan
pembukaan Terowongan Simplon’.
kereta uap. Kereta api listrik biasanya berbobot ringan, sementara kereta api
uap dengan bobot berat utamanya untuk kereta api jarak jauh atau kereta api
barang. Kereta api listrik, sebagai kereta api berbobot ringan pada masa ini
lebih dikenal sebagai kereta komuter (kereta ulang-alik). Namun kereta api
listrik juga digunakan untuk barang dalam jarak pendek. Dalam hal ini, sebelum
jaringan kereta api Milan Utara (ibarat kereta api jaringan JABODETABEK)
diterapkan untuk total panjang jalur rel 293 Km, di wilayah seputar Danau Como
sendiri sudah terbentuk jaringan kereta api komuter.

Bataviaasch nieuwsblad, 10-10-1902:
‘Baru-baru ini, jalur kereta listrik di sepanjang pantai Danau Como, melewati
Chiavenna, Colico, dan Soudrio, dibuka untuk umum. Pada hari pertama, empat
kereta ekspres, dua puluh kereta reguler, dan empat kereta barang beroperasi.
Panjang jalur tersebut adalah 100 Km. Tenaga listrik disuplai oleh pembangkit air
terjun Adda. Arus listrik, awalnya 20.000 volt, dikurangi menjadi 3.000 volt di
stasiun dan dialirkan melalui jalur listrik atas. Segera, tenaga listrik yang
sama juga akan digunakan untuk jalur Lecco-Colico’. Catatan: Adda berada di
salah satu cabang selatan danau Como yang menjadi pintu keluar debit permukaan
danau Como melalui sungai Adda yang bermuara ke sungai Po (diantara kota
Piacenta dan kota Cremona—kota dimana klub Cremonese berada, klub yang
mengandalkan kipper Indonesia, Emir Audero).
Wilayah (provinsi Como di region Lombardia, di Italia utara) berpusat di
danau Como dengan kota utama di kota Como (di cabang selatan lainnya danau
Como). Kota Como sendiri terletak pada elevasi sekitar 201 M di atas permukaan
laut (Mdpl) di tepi danau glasial, yang dikelilingi pegunungan kapur dan granit
dengan ketinggian yang bervariasi di wilayah sekitarnya. Sementara dasar danau
Como terbilang dalam (lihat De Nederlander, 04-01-1904). Disebutkan danau
Laggiore memiliki kedalaman yang sama, danau Como hampir dua ribu kaki (609 M?),
dan danau memiliki kedalaman 1.900 kaki di beberapa tempat dan danau Constance
memiliki kedalaman lebih dari seribu kaki.
Kota Como sendiri letaknya
tidak terlalu tinggi, Hanya sekitar 201 Mdpl. Yang menjadi luar biasa adalah
kedalaman danau Como sendiri yang mencapai 609 M. Ini artinya dasar danau Como
terbilang dalam (bahkan berada di bawah permukaan laut). Sebagai pembanding, Kota Milan ini
cenderung datar memiliki elevasi rata-rata sekitar 120 Mdpl, sementara Kota
Turin, ketinggian rata-rata sekitar 239 Mdpl (berada di kaki Pegunungan Alpen, yang
menjadi wilayah awal lembah Sungai Po (Po Valley). Sedangkan Kota Piacenza memiliki
elevasi rata-rata sekitar 61 Mdpl.
Danau Como bertetangga dengan danau Maggiore. Kedua
danau ini mirip, danau glasial, yang dikelilingi pegunungan kapur dan granit
dengan ketinggian yang bervariasi. Kedalaman kedua danau ini juga kurang lebih
sama. Dua danau ini juga menjadi hulu atau sumber utama sungai Po. Seperti
halnya sungai Adda yang menjadi pintu keluar danau Como, sungai Tocino adalah
pintu keluar danau Maggiore yang keduanya bermuara ke sungai Po (yang bermuara ke
arah timur di laut Adriatik di dekat Kota Venezia/Venice). Kota terbesar di
danau Maggiore adalah kota Verbania (elevasi 197 Mdpl).

Sungai Tocini mengalir ke selatan dan kemudian bertemu dengan sungai Po di
sekitar kota Pavia, kota yang memiliki elevasi rata-rata sekitar 80 Mdpl. Perlu
ditambahkan disini kota lainnya yakni Kota Mantua di bagian hilir sungai Po berada
pada ketinggian rata-rata 19 Mdpl. Seperti
disebut di atas, sungai Po adalah sungai terpanjang di Italia (seperti halnya
sungai Batanghari di Sumatra). Di daerah aliran sungai (DAS) Po ini nama-nama
kota utama mulai dari laut: (1) Venezia, 0 Mdpl (pulau di sekitar muara sungai
Po; seperti halnya pulau Canton di depan muara sungai Canton di pantai timur
Tiongkok; dan pulau Mangore di depan muara Bengawan/Solo). (2) Mantua, 19 Mdpl yang
mana kota dibentuk/dikelilingi tiga danau buatan di bagian utara dan sungai Po
di bagian selatan); (3) Cremona, 45 Mdpl;
(4) Piacenta, 61 Mdpl, (5) Pavia, 77 Mdpl, dan (6) Turin 239 Mdpl (bandingkan
dengan kota Como 201 Mdpl). Catatan: Mengapa disebut sungai Po, hanya satu suku
kata? Di masa lalu, seperti pada peta-peta tahun 1600 di Jawa dan Sumatra
terdapat beberapa nama tempat yang dimulai dari kara Po atau Poh.
Kota Pavia dan kota Mantua adalah dua kota di DAS Po
yang memiliki lanskapnya tersendiri. Kota Pavia merupakan muara sungai Tocini di
sungai Po. Sementara kota Mantua adalah kota yang diantara sungai Po di selatan
dan sungai Mincio di utara. Sungai Mincio berhulu di danau Gardia dan bermuara
di sungai Po. Di sungai Mincio inilah dulunya di abad ke-12 dibentuk danau-danau
buatan (Lago Superiore, Lago di Mezzo, dan Lago Inferiore) sebaga bagian sistem pertahanan koat (dari arah utara).

Kota Pavia termasuk kota kuno. Berdasarkan Peta 1523 area kota berada di
sisi utara sungai Po dan di selatan sungai Tocini. Akan tetapi pada masa ini area
kota Pavia berada di sebelah utara sungai Tocini. Sementara Kota Mantua pada Peta 1600 posisinya tetap seperti
apa yang diperhatikan sekarang. Dalam hal ini dapat ditambahkan kota yang
memiliki kaitan dengan pentingnya perairan adalah Kota Venezia. Seperti disebut
di atas, adalah pada dasarnya adalah kota pulau (yang tidak jauh dari muara sungai
Po di Laut Adriatik).
meski berada di ujung utara (negara) Italia, tetapi sebenarnya kota/danau Como
tepat berada di jantung pegunungan Alpen, yang juga menjadi jantung daratan Eropa. Oleh karena itu wilayah
danau Como, wilayah (negara) Swiss dan wilayah (negara) Austria sejatinya
terisolir dari laut. Seorang insinyur Swiss mengusulkan untuk menghubungkan
Swiss dengan Laut Utara yang dapat dilayari melalui pembangunan kanal dengan
menghubungkan danau Constance (Jerman) dengan Rotterdam via sungai Rhine.
Insinyur Swiss tersebut juga mengusulkan wilayah Como dengan Laut
Mediterania (Adriatik) dengan kanal dari danau Como ke Laut Mediterania di
Venice melalui Sungai Po.

Provinciale Noordbrabantsche
en ‘s Hertogenbossche courant, 06-01-1906: ‘London, 5 Januari. Central News
melaporkan dari Jenewa kemarin: Surat kabar Swiss sedang membahas sebuah
rencana besar, yang diusulkan oleh seorang insinyur Swiss untuk menghubungkan
Swiss dengan Laut Utara dan Laut
Mediterania yang dapat dilayari melalui pembangunan dua kanal besar. Yang
pertama akan menghubungkan danau Constance dengan Rotterdam melalui sungai
Rhine, yang kedua danau Como dengan Laut Mediterania melalui sungai Po.
Biayanya diperkirakan mencapai 324.000.000 franc, yang jumlahnya akan meningkat
pesat dengan pembangunan listrik tenaga air yang akan diperoleh. Diperkirakan
6.000 tenaga kuda dapat diperoleh dari sistem kanal di utara Pegunungan Alpen
dan 220.000 tenaga kuda dari bagian selatan’. Catatan: Sungai Po adalah sungai
terpanjang di Italia, membentang sekitar 652-661 Km dari Pegunungan Alpen
(Monviso) di barat ke Laut Adriatik (dekat Venesia) di timur. Sungai ini
merupakan tulang punggung ekonomi Italia Utara, mengairi lahan pertanian luas
(termasuk penghasil beras terbesar) dan menopang kawasan industry. Seperti
disebut di atas, sungai Po di Lembah Po mengalir melintasi kota-kota penting
seperti Turin, Piacenza, Cremona dan Ferrara. Lembah Po sendiri memberi
kontribusi sekitar 40% dari total produksi makanan Italia dan mencakup zona
industri utama. Pada masa ini Lembah Po sering mengalami kekeringan menyebabkan
penyusutan air dan ancaman terhadap irigasi serta produksi pertanian. Sungai Po
ibarat sungai “Ganga-nya Italia” dan memiliki peran sejarah serta
ekologi yang krusial. Sepak bola di Milan (lihat Algemeen Handelsblad, 29-11-1906 dan Algemeen
Handelsblad, 23-03-1906).
Dalam
narasi sejarah masa kini, pada tahun 1907 di
kota Como didirikan klub sepak bola, klub yang kini masih eksis, Como 1907
(klub yang dimiliki Hartono Bersaudara). Klub Como mengadopsi warna biru
kerajaan dengan stadion yang kini disebut Stadion Giuseppe Sinigaglia. Lantas
bagaimana perjalanan klub Como ini? Sebagai klub sepak bola pertama di Como,
sejatinya di Kota Como sejak lama terkenal dengan klub-klub dayungnya, yang
bahkan ikut berpartisipasi dalam turnamen dayung internasional (lihat Algemeen
Handelsblad, 07-06-1907). Disebutkan kompetisi dayung di Paris. Klub dayung
“Lario” dari Como akan berkompetisi dalam kompetisi internasional di
Paris dalam nomor dayung berpasangan senior, beregu empat orang, dan beregu
delapan orang (tim beregu empat orang meraih posisi kedua yang bagus di
belakang tim Ghent pada Kejuaraan Eropa tahun 1906).

Klub Como didirikan setelah AC Milan dan sebelum Inter Milan. Klub AC
Milan dididirikan tahun 1899; klub Internasional Milan didirikan pada tahun
1908 (klub yang pernah dipimpin oleh Ketua PSSI, Erick Thohir). Pada era itu, di
Bandoeng, sepak bola terinformasikan pertama pada tahun 1904 (lihat De
Preanger-bode, 31-03-1904). Disebutkan Bataviasch Voetbalclub (BVC) Batavia akan
melawat ke Bandoeng untuk melawan anak-anak Bandoengsche. De Preanger-bode,
30-12-1904 melaporkan sore ini di Bandung akan dilangsungkan pertandingan
antara klub BVC Batavia dan klub UNI Tjimahi dan besok sore pukul empat sore di
Tjimahi. Lalu, pada awal tahun 1905 sejumlah pertandingan sepak bola digelar di
Bandung. Kemarin antara BVC Batavia vs UNI dari Tjimahi. Hari ini Minggu akan
ada pertandingan antara klub UNI dari Tjimahi dengan klub Sidolig dari Bandung
di lapangan Tjimahi (lihat De Preanger-bode, 16-01-1905). Suksesi klub Sidolig
kelak adalah Persib Bandoeng masa ini (biru-putih). Sementara suksesi klub Vios
di Batavia kelak adalah Persija Jakarta masa ini. Perlu ditambahkan disini,
pertandingan sepak bola di Indonesia (baca: Hindia) terinformasi pertama tahun
1893 di Medan, antara tim XI dari Penang (Inggris) melawan tim XI di Medan
(Belanda). Sebagaimana diketahui pada masa ini, klub tertua di Italia adalah
klub Genoa CFC yang didirikan pada tahun 1893. Peta: Peta geomorfologis (dataran
luas) kota Bandoeng tempo doeloe mirip dengan peta geomorfologis kota Milan
(Bandoeng, 768 Mdpl; Milan, 120 Mdpl). Kedua kota ini sama-sama diapit pegunungan di utara maupun di selatan.
Jika di pegunungan utara Milan terdapat kota Como (kota wisata), dalam hal ini
di pegunungan utara Bandoeng terdapat kota Lembang (kota wisata).
bagian dari pegunungan Alpen, selain yang sudah ada moda transportasi darat
(mobil) dan moda transportasi kereta api, tentulah sangatlah sulit untuk
menambah moda transportasi udara. Lagi pula, kota Como sebagai kota utama di
wilayah danau Como, bukanlah kota besar (yang menyebabkan pergerakan
orang/barang yang intens. Danau Como dan kota Como hanya unggul dalam destinasi
wisata dan juga sangat menantang bagi perjalanan petualangan,

Arnhemsche courant, 01-08-1910: ‘Penerbangan yang berani di
pegunungan. Sebuah telegram dari Bellinzona melaporkan bahwa di Lembah Sassina,
dekat Danau Como, sebuah pesawat terlihat terbang tinggi di udara, mengelilingi
Pic des Trois Seigneurs dua kali dan mendarat di Conca di Bianbino Pel. Banyak
orang mendaki Conca di Bianbino untuk lebih memahami penerbangan tersebut.
Setelah pesawat mendarat, kedua pilot di dalamnya dikelilingi oleh kerumunan
yang antusias. Mereka mengaku sebagai dua insinyur dari Flurns, yang sedang
membuat pesawat biplan hasil penemuan mereka di lokasi terpencil dekat Danau
Lecco. Puncak gunung yang mereka lewati berada di ketinggi 1.500 Mdpl di atas
danau. Setelah beristirahat selama satu jam, kedua orang asing itu lepas landas
lagi dan menghilang ke arah lembah’. De avondpost, 14-09-1910: ‘Berita
olahraga. Dayung. Tim dayung Paris mengalahkan tim dayung Milan di Danau Como’.
De avondpost, 29-09-1911: ‘Olahraga motor. Henri Meyes, mantan pemimpin redaksi
“Kamploe,” akan melakukan perjalanan indah dengan sepeda motornya
pada tanggal 2 Oktober. Rutenya sebagai berikut: Arnhem, Cologne, Bingen,
Mainz, Paris, Heidelberg, Strasbourg, Basel; Basel, Olten, Lucerne, Fleulen,
Göschenen; Overtoom, St. Gothard; Airolo, Bellinzona, Pallanza, Domodossola,
menyeberangi Simplon; Brig, Bellinzona, Lugano, Como, Milan, Milan, Pavia,
Genoa, Nice, Mars; Lyon, Dijon, Paris, Reims, Liège, Ark. Dia berharap dapat
menyelesaikan perjalanan ini dalam 10 atau 14 hari. “Tentu saja”,
tulisnya, “akan ada kesulitan di sepanjang jalan”. “Mungkin beberapa
kesulitan juga akan terbukti tidak dapat diatasi. Kita tahu tentang jalur pegunungan
Alpen yang hebat dalam proyek ini, yang sejauh yang diketahui, belum pernah
dilalui oleh sepeda motor? Namun, ada kemungkinan bahwa kendaraan bermotor
dengan mesinnya yang halus akan dengan cemerlang mengatasi transmisi dua
kecepatannya”. Catatan: Danau Como seperti disebut di atas, sudah lama dikenal
sebagai tempat wisata, yang bahkan sudah juga diketahui oleh orang Belanda
karena kerap dipromosikan perjalanan travel wisata, termasuk pake ke Como. Hal
itulah diduga mengapa seorang novelis Belanda pernah menulis novelnya berlatar
belakang Como (lihat Het nieuws van den dag: kleine courant, 08-01-1907).
Disebutkan novel Marie Colban terbit berjudul “Professorsliefde” (Cinta
Profesor). Novel ini, yang ditulis dengan gaya yang memikat, sebagian berlatar
di danau Como dan di Swedia yang ditambahkan foto-foto’. Klassemen Liga utama Prancis (lihat Algemeen Handelsblad, 29-11-1906).
Siapa saja pemain klub Como? Banyak pertanyaan lainnya yang belum terjawab
termasuk dimana letak stadion mereka juga tidak terinformasikan. Yang jelas
pada masa ini, klub Como (1907) bermain di stadion Giuseppe Sinigaglia (tepat
berada di pinggir danau Como).

Giuseppe Sinigaglia adalah nama olahragawan utama dari kota Como. Bukan
pemain sepak bola, tetapi pemain dayung professional (lihat De Maasbode,
13-09-1912). Disebutkan pada Rabu malam, pengundian berlangsung untuk kejuaraan
(dayung tunggal senior), dayung ganda, dan nomor junior (dayung tunggal
junior). Sebuah pesan telah diterima dari Giuseppe Sinigallia dari Societa
Canottieri, di Como, bahwa ia mengundurkan diri dari partisipasi. Rekan senegara
kita Belanda, Nereid, Nijkerfc, akan datang bersama Dr von Gaza, pemenang tahun
lalu’. Klassemen Liga utama Inggris (lihat De avondpost, 23-10-1907)
Kota Como sudah sangat dikenal luas. Namun tidak
terinformasikan tentang sepak bola. Yang kerap terinformasikan tentang kota
Como adalah kejuaraan dayung, tempat destinasi wisata dan juga tentang
pendaratan pesawat terbang ampibi. Kota Como juga adakalanya dijadikan tempat
kejuaraan olahraga lainnya seperti kejuaraan tennis internasional.

Haagsche courant, 09-10-1913: ‘Kompetisi penerbangan di sekitar
danau-danau Italia dimenangkan oleh pilot Jerman, Hirth. Dua hari yang lalu,
Hirth dikalahkan dalam pesawat amfibi oleh pilot Prancis, Morano, dengan
selisih waktu 3 menit 45 detik. Kemarin, Hirth unggul 12 menit 40 detik dalam
penerbangan jarak jauh 160 km dari Pallanza ke Como. Hirth menyelesaikan
perjalanan pulang pergi total dalam 3 jam 31 menit. 27 detik. Dengan demikian,
Hirth tetap menjadi pemenang dengan pesawat monoplane Albatros dan mesin
Mercedes-nya’. Klassemen Liga utama Belanda Wilayah Barat (lihat De courant, 25-03-1907).
Liga utama Belanda terbagi dua wilayah: Barat dan Timur. Masing-masing juara
wilayah diadu (kandang dan tandang) untuk menentukan juara nasional.
Klub sepak bola Como tidak kunjung ‘datang’ dalam
pemberitaan. Mengapa? Yang jelas tentang sepak bola, yang kerap terinformasikan
dalam surat kabar berbahasa Belanda adalah liga sepak bola Inggris, liga sepak
bola Belanda dan liga sepak bola Belgia. Dalam hal ini dapat ditambahkan,
tentang liga sepak bola di Hindia Belanda (baca: Indonesia) juga cukup sering
terinformasikan. Hingga sejauh ini pada tahun 1916 bagaimana perjalanan klub
Como tidak terinformasikan. Yang terinformasikan, dan tidak terduga adalah
‘kepergian’ Giuseppe Sinigallia.

De courant, 19-08-1916: ‘Dayung. Sinigaglia. London, 18 Agustus. (Telepon
pribadi-dari koresponden terbang kami). Dilaporkan dari Roma ke “Times”:
Menurut laporan dari Como, Letnan Sinigaglia, pemenang “Diamond
Sculls” tahun 1914, telah gugur di medan perang. Dalam perjalanannya dari
London pada Juni 1914, Sinigaglia pertama kali ikut serta dalam lomba
“Coupe des Nations”, lomba sepanjang 4.000 meter yang diadakan di
Sungai Seine di Juvisy dekat Paris. Pada kesempatan itu, orang Italia itu
menang dalam waktu 14 menit 19 detik. Orang Inggris Kinnear finis 15 panjang di
belakangnya. Sinigaglia kemudian memberikan gambaran lain tentang apa yang menanti
lawannya di Sungai Thames. Adapun lomba “Diamond Sculls”, Sinigaglia
memenangkan babak penyisihan pada hari pertama dalam waktu 8 menit 52 detik di
depan Pinks. Pelaut Italia itu memulai dengan dua kali mengenai pasak, tetapi
tetap berhasil menang dengan selisih dua panjang penuh. Keesokan harinya,
Sinigaglia menang dalam waktu 9 menit 30 detik di depan Ayer, yang finis 3
panjang di belakang. Setelah itu, Dibblfc yang harus mengakui keunggulan pelaut
Italia tersebut. Pelaut Italia itu menghadapi Stuart (Cambridge) dari Inggris
dalam perlombaan penentu. Stuart benar-benar keluar dari perlombaan setelah
hanya 1 mil dan harus diangkat keluar dari perahunya. Pada tahun yang sama,
yang sangat disayangkan bagi Inggris, Grand Chaupjejenge Clip (untuk kelas 1 di
belakang) dimenangkan oleh Harvard (Amerika)’. Klassemen Liga utama Belgia (lihat Algemeen Handelsblad, 29-11-1906).
Lantas mengapa klub sepak bola Como di kota Como di
danau Como, di provinsi Como, region(al) Lombardia di negara Italia tidak
terinformnasikan? Bisa jadi, meski disebutkan klub Como didirikan tahun 1907,
hingga betahun-tahun hanya (tetap) sebagai klub kecil di kota kecil di wilayah
terpencil (paling utara Italia) masih yang sulit atau belum mampu bersaing
dengan klub-klub lainnya yang berada di kota-kota besar seperti di Milan dan
Turin. Dalam hal ini, klub Coma bisa jadi masih berada di level rendah (Serie
paling rendah) dimana klub-klub seperti dari Milan (AC Milan dan Inter Milan)
sudah sangat kompetitif di serie paling atas.

Namun itu hanya baru sekadar asumsi saja, tentunya, karena ketiadaan data
kurang terinformasikan klub Como. Sementara itu, yang dinarasikan pada masa ini
di Italia, klub yang tertua adalah klub Genoa, disebutkan didirikan pada 7
September 1893, klub sepak bola yang masih eksis hingga ini hari. Juga
dinarasikan bahwa pembentukan federasi: sepak bola Italia (Federazione Italiana
Giuoco Calcio-FIGC) pada tahun 1898. Ini dapat dikatakan lima tahun setelah
didirikannya klub Genoa atau satu tahun setelah dibentuknya klub sepak bola
Juventus di kota Turin. Tentu saja banyak pula klub-klub pendiri federasi sepak
bola Italia yang sudah tiada, dilikuidasi, vakum, atau tetap sebagai klub kecil
yang menjadikannya tidak terinformasikan. Klassemen Liga utama Jerman Wilayah Berlin (lihat De avondpost, 21-11-1907).
Liga utama Jerman terbagi tujuh wilayah termasuk Wilayah Berlin.
Lalu bagaimana dengan di Indonesia? Seperti di
Italia, sebelum federasi sepak bola nasional didirikan, liga/kompetisi sepak
bola bersifat perserikatan (bond) di berbagai kota/residentie/region.
Perserikatan pertama dibentuk di Soperabaja pada tahun 1902. Sementara di
Batavia perserikatan sepak bola baru dibentuk tahun 1904, dimana salah satu
klub yang berpartisipasi dalam kompetisi sepak bola Batavia merupakan pemain
sepak bola pribumi seluruhnya yakni klub STOVIA. Lalu kemudian menyusul
perserikatan di Medan pada tahun 1906.

Kota-kota atau residentie/region di Jawa sudah banyak yang memiliki bond.
Lalu pada tahun 1919 federasi sepak bola pertama dibentuk dengan nama Nederlandsch
Indische Voetbal Bond (NIVB). Ini bermula ketika diadakan kejuaraan antar kota
pada tahun 1914 di Semarang. Pada kejuaran antara kota tahun 1918 muncul
gagasan pembentukan ferederasi NIVB (namun secara defacto masih terbatas di
Jawa). Klub-klub terkuat di Batavia adalah Vios, di Bandoeng adalah Sidolig dan
di Soerabaja adalah Thor. Pertandingan klub Vios dari Batavia dan Sidolig dari
Bandoeng selalu memiliki tensi tinggi (saling menjadi musuh bebuyutan). Pada
awal tahun 1927 klub Vios bertandang ke Bandoeng untuk melawan klub Sidolig.
Panitia membuat foster besar yang dipajang di sudut jalan kota. Dalam foster
dilukiskan kostum Sidolig Bandoeng dengan kaos warna biru dan celana putih,
sementara klub Vios dengan kaos warna oranye dan celana warna hitam. Gambaran
ini masih tampak pada masa ini sebagai cira khas kostum klub Persib Bandung dan
kostum klub Persija. Sebagaimana dilihat nanti, pada tahun 1930 dibentuk
federasi sepak bola pribumi yang diberi nama Persatoean Sepakraga Seloeroeh
Indonesia (PSSI). Federasi alternatif ini dibentuk pada 19 April 1930 di
Yogyakarta. Ini mengindikasikan bahwa di Indonesia (Hindia Belanda) terdapat
dua federasi, seperti kita lihat nanti bahwa FIFA hanya mengakui satu federasi
di setiap negara. Sebagaimana diketahui kejuaran dunia (FIFA) pertama diadakan
pada tahun 1930 (di Uruguay).
Sebagaimana di berbagai negara, keutaman suatu klub
pada masanya dapat diperhatikan bagaiman suatu klub memberikan kontribusi dalam
pembentukan tim nasional (timnas) pada masa tersebut. Pembentukan timnas di
berbagai negara tersebut (terutama di Eropa) biasanya dilakukan pada saat menjelang
pertandingan persahabatan antara satu dengan negara lainnya (atau sebaliknya).
Timnas Italia seperti kita lihat nanti bertanding dengan sejumlah negara-
antara lain: Swiss, Belanda, Prancis dan lainnya.
Inilah starting eleven Timnas Italia yang pernah terinformasikan yang diduga
kuat baru dimulai pada tahun 1912 (lihat De Courant, 15-03-1912). Tim Italia
ini dibentuk untuk melawan tim nasional Prancis. Para pemian timnas Italia
tersebut adalah sebagai berikut: Faroppa (Piemonte, kiper); Sala (Milan),
Vecchi (Milan), belakang; Ara (Milano I), Leone (Pro Vercelli) dan Milano II,
tengah; Berardo (Pro Vercelli), Cevenini (Milan), Rampini (Pro Vercelli),
Mariani (Genoa), depan. Setelah itu tidak terinformasikan lagi pembentukan tim
nasional Italia.
Dalam pembentukan tim nasional Italia pertama tidak
terinformasikan adanya pemain dari klub Como. Sebakliknya yang terinformasikan
hanya tiga klub yang memberikan kontribusi yakni Piemonte, Milan, Milano I, Pro
Vercelli, Milano II, dan Genoa. Dalam hal ini Turun adalah ibu kota wilayah
Piedmont (wilayah berbatasan dengan Prancis/Swiss). Klub Piedmonte beradan di
kota Turun dan Pro Vercelli berasal dari kota Vercelli di wilayah Piedmont.
Lantas apakah tiga wilayah itu (Genoa, Piedmont dan Milan) di bagian utara
(negara) Italia yang menjadi gambaran sepak bola di Italia? Yang jelas, sejak
pembentukan tim nasional sepak bola Italia pada tahun 1912 tidak pernah
terinformasikan lagi pembentukan timnas berikutnya. Mengapa?
Perang Balkan pecah antara Liga Balkan dan Kesultanan Utsmaniyah yang
sedang retak. Perjanjian London setelah itu mengurangi luas Kesultanan
Utsmaniyah dan menciptakan negara merdeka Albania, tetapi memperbesar teritori
Bulgaria, Serbia, Montenegro, dan Yunani. Ketika Bulgaria menyerbu Serbia dan
Yunani pada tanggal 16 Juni 1913, negara ini kehilangan sebagian besar
Makedonia ke Serbia dan Yunani dan Dobruja Selatan ke Rumania dalam Perang
Balkan berikutnya sehingga destabilisasi di wilayah ini semakin menjadi-jadi.
Sementara itu, Italia awalnya merupakan anggota Triple Alliance bersama Jerman
dan Austria-Hungaria, namun memilih untuk tetap netral saat perang pecah pada
tahun 1914. Pada akhirnya, Italia bergabung dengan Blok Sekutu (Inggris,
Prancis, dan Rusia) setelah menandatangani Perjanjian London pada tahun 1915,
dengan janji akan mendapatkan wilayah-wilayah tertentu milik Austria-Hungaria.
Italia resmi menyatakan perang terhadap Austria-Hungaria pada 23 Mei 1915.
Pertempuran sebagian besar terjadi di sepanjang perbatasan utara dengan
Austria-Hungaria, yang dikenal sebagai Front Italia. Medan tempurnya sangat
sulit karena berada di pegunungan Alpen yang terjal dan bersalju. Singkatnya eskalasi
perang ini terus meningkat yang kemudian dikenal sekarang sebagai Perang Dunia di Eropa. Namun disela-sela perang itu juga terinformasikan pertandingan antara
Italia dan Swiss (lihat Haagsche courant, 08-02-1915). Disebutkan hari minggu
lalu di stadion di Turin diadakan pertandingan internasional antara Italia dan
Swiss. Italia menang dengan skor 3-1. Singkatnya lagi perang ini baru berakhir
pada tahun 1918.
Pembentukan tim nasional sepak bola Italia baru
terinformasikan kembali pada tahun 1920. Singkatnya berikut adalah nama-nama pemain
sepak bola berdasarkan klub dalam pembentukan timnas Italia.

1920: Italia vs Belanda: Giaccone (Juventus Turin), kiper; Bruna
(Juventus), deVecchi (Genoa), belakang; Ara (Vercelli), Menegheti (Novara),
Lovali (Milan), tengah; Balloncewri (Alessandri), Brezzi (Genoa), Sardi
(Genoa), Rampini II (Vercelli), Jorlivos (Modeno), depan (lihat Algemeen
Handelsblad, 18-05-1920). Pada tahun 1921 Italia vs Belanda di Amnsterdam yang
berakhir imbang 2-2 dengan starting line up kedua timnas (lihat Nieuwe
Rotterdamsche Courant, 09-05-1921). 1922: Italia vs Swiss: Trivellini (Bresscia), kiper; deVecchi (Genoa),
Calligaris (Casale) belakang; Romano (Reggiana), Baldi (Bologna), Barbieri
(Genoa), tengah; Forivesi (Modena), Gevenini III (Internazinale), Moscardini
(Luchese), Balloncewri (Alessandri), Pozzi (Bologna), depan (lihat Nieuwe
Rotterdamsche Courant, 07-12-1922)
Jumlah klub yang terinformasikan di Italia dari
waktu ke waktu semakin banyak. Dalam kompetisi sepak bola Italia pada tahun
1923 terinformasikan terbagi ke dalam dua divisi (lihat Nieuwe Rotterdamsche
Courant, 15-09-1923).

Disebutkan kejuaraan Italia tahun ini akan dimainkan dalam dua divisi
yang masing-masing terdiri dari 12 klub. Di Divisi A, klub-klub berikut akan
bermain: Geneva, Alessandria, Livorno, PA d’Arena, Juventus, Novara, Casalé,
Modena, Internztionale, Virtus, Brescia, dan Novese, sedangkan di Divisi B,
klub-klub berikut akan berkompetisi: Pro Vervelle, Padova, Legnano, SPAI,
Torino, Bologne, Milan, Doria, Hellas, Pisa, Cremona, dan Spozia.
Pada tahun 1924 Italia juga berpartsipasi dalam
turnamen sepak bola di Olimpiade di Paris selama 15 hari diantara tanggal 5 dan
27 Juli 1924 dengan 22 negara (lihat De Sumatra post, 12-07-1924). Berdasarkan 24 pertandingan yang dimainkan dalam
turnamen, daftar di mana tim-tim dibagi ke dalam kelas sesuai dengan kekuatan
mereka. 1. Uruguay; 2. Swedia, Belanda, Spanyol, Cekoslowakia. 3. Swiss,
Hongaria, Italia, Mesir, Belgia. 4. Irlandia, Estonia, Amerika, Slavia Selatan,
Turki, Rumania, Luksemburg, Bulgaria. 5. Polandia, Latvia, Luksemburg. Timnas sepak bola Italia memenangkan pertandingan
putaran pertama melawan Spanyol (1-0) dan Luxemburg (2-0). Timnas Italia
terhambat di perempat final setelah dikalahkan Swiss dengan skor 1-2. Ini menandakan
tim Swiss dapat dikatakan tim kuat. Swiss akhirnya menyerah di final melawan
Uruguay (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 14-07-1924).

1925: Italia vs Hongaria (di lapangan FC Milan); De Pra (Genova), kiper;
De Vecchi (Genova) dan Calligaris (Genova), belakang; Aliberti (Torino), Baldi
dan Genovesi (keduanya Bologna), tengah; Levratto (Hellas), Magnozzi (Livorno),
Della Vaile (Bologna), Cevenini III dan Conti (Internazionale), depan (lihat De
Sumatra post, 18-02-1925). Disebutkan Italia mengalahkan Hongaria (2-1). Italia
telah membalas kekalahan telak yang diderita di Budapest pada Mei 1924.
Hongaria menang 7–1 pada kesempatan itu.
Pertandingan persahabatan antara Italia yang
terbilang sering adalah melawan tim nasional Swiss sudah sebanyak empat kali (lihat
Deli courant. 26-05-1926). Disebutkan timnas Italia sudah melakukan
pertandingan empat kali lawan timnas Swiss: di Bern 1920 (3-0 untuk Swiss), di
Malaan 1921 (2-1 untuk Italia); di Geneve 1922 (1-1), di Parijs 1924 (2-1 untuk
Zwitserland). Kini pertandingan yang kelima akan diadakan di Zurich dengan
komposisi pemain sebagai berikut: De Pra (Genoa), kipper; Calligaris (Casale),
Borgato (Bologna), belakangl Fayenz (padua), Bernardini (Roma), Janni (Torino),
tengah; Tansini (Cremona), Magnozzi (Livorno), Schiavio (Bologna), Balonciere
(Torino), Conti (Internazionale, Mlilaan), depan (lihat Deli courant. 26-05-1926).
Informasi tersebut kurang akurat. Mengapa pertandingan antara Italia vs
Swiss tahun 1915 tidak disebutkan?
1927 Italia vs Inggris (di Italia; Combi (Juventus). kiper, Rosetta (Juventus),
Caligaris (Casale), belakang; Jani (Turin), Bernardini (Internazionale),
Cevenini (Internazionale), tengah; Conti
(Internazionale), Balonciere (Turin), Libonati (Turin), Rossetti (Turin),
Levratto (Genoa), depan (lihat Voorwaarts : sociaal-democratisch dagblad, 07-02-1927).
1928: Italia vs Swiss (di Geneve): Combi (Juventus), kipper; Rosetta dan
Caligaris (keduanya Juventus), belakang; Colombari (Torina), Janni (Torino),
Pitto (Bolgna), tengah; Conti (Ambrosiana), Balonciere (Torino), Libonati
(Torino), Rossetti (Torino), Levratto (Genoa), depan (lihat Nieuwe
Rotterdamsche Courant, 19-10-1928).
1928: Italia vs Belanda (di San Siro Stadion di Milaan): Combi
(Juventus), kipper; Rosetta dan Caligaris (keduanya Juventus), belakang;
Colombari (Torina), Janni (Torino), Pitto (Bologna), tengah; Conti
(Ambrosiana), Balonciere (Torino), Libonatti (Torino), Vecchina (Padoa),
Levratto (Geno), depan. Kapten: Balonciere (Torino), Libonatti (Torino),
Vecchina (Padoa) dan Levratto (Genoa). Untuk cadangan: Compiani (Milano), Pietoboni
(Ambrosiana) dan Rosseti (Torino) (lihat Provinciale Geldersche en Nijmeegsche
courant, 29-11-1928).
Sudah barang tentu selain liga Italia sudah berjalan
dengan baik dan juga pembentukan tim nasional melawan timnas negara lain, juga
ada pertandingan antar klub yang mewakili klub-klub Italia (lihat Arnhemsche
courant, 26-06-1929). Disebutkan untuk Piala Eropa Tengah, di mana setiap
negara peserta telah menunjuk dua klub untuk saling bertanding sesuai dengan
sistem piala, namun, klub yang diundi untuk saling berhadapan masing-masing
memainkan satu pertandingan tandang dan satu pertandingan kandang. Empat
pertandingan untuk babak pertama dimainkan pada hari Minggu. Di Turin, Juventus
mengalahkan Slavia (Praha) 1-0; di Wina, Rapid mengalahkan Genoa FC (Italia) 5-1;
di Budapest, First Vienna FC mengalahkan Hungaria 4-1; dan di Praha, Ujpest
(Budapest) mengalahkan Sparta 6-1.
Catatan: Daftar juara Piala Eropa Tengah: 1927: AC Sparta Prague
(Cekoslowakia); 1928: Ferencvárosi TC (Hongaria); 1929: Újpest FC (Hongaria).

1930: Italia vs Belanda (di Amsterdam): Combi (Juventus), kiper; Rosetta
dan Caligaris (keduanya Juventus), belakang; Barbieri (Genova), Ferraris (AS
Roma), Pitto (Bolgna), tengah; Constantibo (Bari), Balonciere (Torino), Meazza
(Ambrosian), Magnozzi (Livorno), Orsi (Juventus), depam (lihat Arnhemsche
courant, 14-03-1930).
Klub Como yang disebut didirikan pada tahun 1907
dengan kostum warna biru kerajaan tampaknya belum pernah pemainnya bermain
untuk timnas Italia. Sebagaimana dinarasikan pada masa ini klub Como promosi ke
liga utama (Prima Categoria) pada musim 1913/14 dan bertahan hingga mengalami
degradasi tahun 1922. Lalu juga dinarasikan klub Como telah memilikui stadion
baru tahun 1928 dengan nama Stadion Giuseppe Sinigaglia dengan kapasitas
13.602. Juga dinarasikan klub Como kembali promosi ke divisi utama pada musim
1930/31 dan bertahan hingga beberapa tahun. Namun semua itu tidak
terinformasikan.
Sepak bola di Olimpiade (musim panas) sudah disertakan sejak 1900. Di
wilayah Eropa Tengah sudah dilaksanakan kejuaraan antar negara maupun antar
klub dimana Italia turut berpartisipasi. Pada tahun 1930 FIFA menyelenggarajkan
kejuaraan dunia pertama yang diadakan di Uruguay. Juaranya adalah Uruguay.
Italia tidak berpartisipasi. Mengapa? Yang jelas Italia akan menjadi tuan rumah
kejuaraan dunia tahun 1934. Seperti dilihat nanti, kota-kota di Italia sebagai
tuan rumah: Milan, Bologna, Roma, Firenze, Napoli, Genova, Turin dan Trieste.
Lalu bagaimana dengan kota Como?
Tunggu deskripsi lengkapnya
Kota Como dan Promosi
Indonesia: Sepak Bola Italia dan Sepak Bola Indonesia, Piala Dunia di Italia 1934 dan Piala
Dunia di Prancis 1938
Dalam
Piala Dunia di Uruguay Italia tidak berpartisipasi, tetapi Prancis mengirim tim
nasionalnya. Prancis gugur di babak grup. Lantas seberapa kuat timnas Prancis?
Yang jelas pada tahun 1932 diadakan pertandingan antara timnas Prancis melawan
timnas Italia. Hasilnya Italia menang di kandang Prancis di Paris. Bersamaan
dengan itu, timnas Italia-B melakukan pertandingan melawan Luxemburg di kota Como.

De Maasbode, 11-04-1932: ‘Pertandingan Nasional. Keberhasilan Italia. Di
Stadion Colombes-le-Parys, tim sepak bola Prancis dan Italia saling berhadapan.
Italia menang 2–1. Skor babak pertama 1–1. Di Como, tim Luxemburg bermain
melawan timnas Italia-B. Italia menang 13–0’.
Pada tahun 1933 terinformasikan jalan tol dibangun
antara Milan dan Como (lihat Nieuwe Venlosche courant, 06-10-1933). Ini dengan
sendirinya menambah akses cepat dari Milan ke Como dan sebaliknya. Seperti
disebuut di atas, jaringan kereta api komuter listrik sudah dioperasikan se
wilayah Milan (Lombardia). Sudah barang tentu, jalan tol tersebut akan
sendirinya menjadi penting ke depan, terutama tidak lama lagi Italia akan
menjadi tuan rumah Piala Dunia.
Overijsselsch dagblad, 04-05-1934: ‘Jalan-jalan di Italia umumnya sangat
bagus (di sana-sini bahkan sangat baik). Di bagian yang datar, rute agak
monoton, tetapi ini diimbangi oleh fakta bahwa kita melewati kota-kota seperti
Milan, Florence, Bologna, dan Assisi, yang begitu kaya akan keindahan perkotaan
sehingga kita rela menempuh beberapa ratus kilometer jalan yang kurang menarik
demi kota-kota tersebut. Dan akhirnya, tujuan akhir: Roma, yang hanya dengan
menyebut namanya saja sudah cukup untuk membangkitkan gambaran keindahan. Dan
siapa pun yang sama sekali tidak tertarik pada sepak bola, tentu saja, dapat
memutar kemudi sekarang ke arah Kota Abadi, dari mana tidak ada seorang pun
yang pernah kembali dengan rasa tidak puas’.
Piala Dunia 1934 di Italia semakin hari semaki
heboh. Pers di Belanda sudah memetakan rute menuju Roma. Pertandingan babak
pertama Belanda (melawan) Swiss justru diadakan di kota Milan. Mengapa harus
menuju Roma? Boleh jadi orang-orang selama Piala Dunia juga ingin ke Roma, ibu
kota negara Italia dan juga pusat Katolik (Vatikan). Boleh jadi juga karena
orang-orang Belanda teringat pepatah lama: “mille viae dūcunt hominēs per
saecula Rōmam” yang artinya “banyak jalan menuju Roma”. Berbagai rute tersebut
juga ada yang melalui Como terus ke Milan.

Overijsselsch dagblad, 04-05-1934: ‘(1). Utrecht— Namur— Lyon— Nice— Roma
(3.161 km). Utrecht ’s-Bosch (56 km) —Eindhoven (31,5 km) K.M.) Hasselt (58.5
K.M.) Liège (39 KM) Namur (64.5 KM) Givet (51 KM) Reims (142 KM) Vitry le F.
(76 KM) Chaumont (103 KM) Langres (35 KM) Dijon (65.5 KM) Chalon s.S. (68 KM)
Lyon (126.5 KM) Valence (101 KM) Avignon (128.5 KM) Aix en P. (76 KM) St.
Raphael (125 KM) Nice (72.5 KM) Genoa 206.5 KM) Livomo (215 KM) Grosseto (135
KM) Roma (185 KM). (2). Utrecht—Cologne—Munich—Bruner Pass—Roma (1.856 KM),
Utrecht—Arnhem (60,5 KM) – Nijmegen (18 KM) Krefeld (80,5 KM)—Cologne (o5 KM)
Koblenz (87,5 KM) Wfesbaden (72 5 KM) Frankfurt ad. Mam (35,5 KM) Nuremberg
(220,5 KM) Munich (180,5 KM) Kufstein (91 KM) Innsbruck (76,5 KM) Brenner Pass
(39,5 KM) Bolzano (87 KM) Verona (156,5 KM) Modena (103 KM) Bologna (38,5 KM) Roma
(454 KM). (3). Utrecht—Luksemburg—Terowongan Simplon Roma (1.922 KM).
Utrecht—Breda (68 KM) Antwerpen (50,5 KM) Brussel (47 KM) Namur (GO KM) Dinant
(28 KM) Arlon (109 KM) Luksemburg (26 KM) Mstz (59 KM) Nancy (57 KM) Belfort
(104 KM) Bern (146 KM) Lausanne (93,5 KM) Martigny (68,5 KM) Brig (82,5 KM)
Simplon Pas (22,5 KM) Milan (166,5 KM) Bologna (220 KM) Florence (105,5 KM)
Siena (69,5 KM) Grosetto (94 KM) Roma (185 KM). (4).
Utrecht—Cologne—Basel—Terowongan Gothard—Roma (1.836 KM). Utrecht—Arnhem (60,5
KM) Wesel (69 5 KM) Cologne (102 KM) Koblenz (87,5 KM) Mainz (92 KM) Heidelberg
(90 KM) Karlsruhe (57,5 KM) Freiburg (138,5 KM) Basel (67 KM) Luzern (95,5 KM)
Göschenen (84,5 KM) St. Gotthard Pass (19 KM) Airolo (16,5 KM) Lugano (90 KM)
Como (30,5 KM) Milan (43 KM) Bologna (220 KM) Florence (105,5 KM) Assisi (200,5
KM) Roma (166,5 KM). (5). Utrecht—Heidelberg—Chur—Julier pass—Roma (1.854 KM). Utrecht—Heidelberg
(501,5 KM) Stutkar» (103 KM) Sigmaringen (113 KM) Lindau (101 KM) – Feldkirch
(45.5 KM) – Chur (59 KM) Lenzerheide Pass (15 KM) Jul er Pass (49.5 KM) –
Silvaplana (8 KM) – Maloja Pass Chiavenna (31.5 KM) Milan (122.5 KM) Roma (696
KM)’.
Bagaimana persiapan tim dari
berbagai negara? Ada 16 negara yang akan berpartisipasi di babak Final Piala
Dunia di Italia 1934. Seperti disebut di atas Belanda akan menghadapi Swiss di
babak pertama; sementara Italia akan mengahadapi Amerika Serikat. Pertandingan
Belanda vs Swiss akan dimainkan di kota Milan. Kota yang sudah dikenal oleh
beberapa pemain Belanda sebab, seperti disebut di atas pada tahun 1928 timnas
Belanda dan timnas Italia melakukan pertandingan persahabatan yang dilakukan di
Milan.
Rotterdamsch nieuwsblad, 05-05-1934: ‘Olahraga. Sepak Bola. Kejuaraan
Dunia. Pengundian di Roma. Het Nieuwsblad mewawancarai Lotsy. Koresponden kami
di Roma menulis kepada kami pada tanggal 3 Mei: Malam ini pukul enam, seluruh
dunia sepak bola internasional berkumpul di Hotel Ambassadors untuk acara besar
pengundian Kejuaraan Dunia. Sekitar dua puluh jurnalis internasional diundang
untuk hadir dalam upacara tersebut. Untuk Belanda, hanya Het Nieuwsblad yang
diundang. Sebelumnya, Komite Persiapan mengalami kesulitan besar dalam
menyepakati delapan tim yang akan tergabung dalam kelompok tim kuat. Awalnya,
Belanda lolos di peringkat keenam, dan masalah utamanya menyangkut Hungaria.
Tampaknya ada diskusi yang cukup intens di dalam FIFA tentang Hungaria, tetapi
pada akhirnya baru terungkap saat pengundian bahwa “pihak” Hungaria
yang menang. Daftar tim “kuat” adalah sebagai berikut: Argentina,
Austria, Brasil, Cekoslowakia, Jerman, Italia, Belanda, dan Hungaria. Kami
percaya bahwa Spanyol tersingkir pada saat-saat terakhir di hadapan Hungaria.
Tim-tim yang disebut “lemah” adalah: Belgia, Prancis, Mesir, Rumania,
Spanyol, Swedia, Swiss, dan pemenang pertandingan pendahuluan yang akan
dimainkan di Roma melawan Amerika Serikat Meksiko. Bagi Belanda, sudah
merupakan kehormatan besar untuk ditempatkan di grup “kuat”, karena
tidak diragukan lagi negara-negara di divisi ini memiliki peluang bagus untuk
mencapai perempat final. Satu-satunya pertanyaan adalah: melawan siapa Belanda
akan diundi? Aula tempat pengundian akan berlangsung tampak mengesankan. Sebuah
meja besar, di sampingnya berdiri patung dada Mussolini yang mengagumkan, dan
di kedua sisinya barisan tentara dari milisi fasis, dengan karabin di pundak
mereka….Pertunjukan militer ini disebabkan oleh kedatangan H.E. Starace,
sekretaris Partai, yang akan mewakili pemerintah pada pengundian tersebut.
Tokoh-tokoh terpenting saat itu adalah dua pemuda Balilla, yang, dengan seragam
mereka, akan memimpin pengundian. Di belakang meja, terlihat para tokoh besar
gerakan sepak bola. Dr. Bauwens, Lotsy dari Belanda, Mauro, dan yang lainnya,
yang melirik dengan agak iri ke arah Piala Dunia, yang diletakkan di depan
meja. Sebuah pernak-pernik Avar, dari emas murni, tingginya sekitar tiga puluh
sentimeter. Kami merasakan ketegangan di aula kecil itu, yang meningkat ketika
Starace memperlihatkan dirinya. Akhirnya, para milisi menyerahkan senapan mereka,
perintah-perintah terdengar, dan sekretaris partai dipimpin masuk. Para
delegasi asing mengulurkan tangan kanan mereka, seolah-olah mereka semua
memiliki darah Romawi di dalam pembuluh darah mereka. Tangan Lotsy menonjol di
atas semua yang lain. Setelah pidato-pidato yang biasa, dilanjutkan dengan
pengundian. Dua orang Balilla terjun ke ruang dewan dan yang pertama muncul
dari pengundian adalah Italia dan pemenang pertandingan antara Amerika Serikat
dan Meksiko. Italia sudah memenangkan pertandingan pertama! Kami langsung
ditempatkan di perempat final, karena baik Meksiko maupun Amerika Serikat
bukanlah lawan bagi ‘Nerazzurni’. Kami duduk dengan tegang menunggu Belanda,
yang baru keluar dari pengundian pada percobaan keenam. Sebelumnya, kami menyaksikan
dengan menyesal saudara-saudara lemah seperti Rumania, Mesir, Spanyol, dan
Swedia melewati kami, sehingga dari partai-partai yang kurang kuat, hanya
Swiss, Prancis, dan Belgia yang tersisa. Akankah ini menjadi pertandingan
Belanda-Belgia lagi? Visi yang tak terlukiskan terbentang di depan mata kami.
Lotsy pun termenung. Akhirnya, Belanda keluar dari bus yang tepat. De Balilla
yang kedua menunggu agak terlalu lama, bahkan mengambil dua huruf sekaligus….
salah satunya harus ia abaikan. Yang tersisa adalah…. Swiss. Belanda—Swiss,
kalau begitu! Bisa jadi lebih baik. Kami sudah mengamankan Belgia dan Prancis,
seperti kata pepatah, tetapi Swiss selalu menjadi lawan yang berbahaya bagi
kami. Selain itu, Swiss sangat dekat dengan Italia sehingga jumlah pendukungnya
selalu melebihi jumlah pendukung Belanda. Sebuah handicap ganda. Hasil undian
lengkapnya adalah: A. Italia—Pemenang Amerika Serikat—Meksiko di Roma. B.
Cekoslowakia—Rumania di Trieste. C. Hongaria—Mesir di Napoli. D. Argentina—Sweden
di Bologna. E. Brasil—Spanyol di Genoa. F. Belanda—Swiss di Milan. G.
Austria—Prancis di Turin. H. Jerman—Belgia di Florence. Segera setelah itu,
putaran kedua pada tanggal 3 Juni ditetapkan: Pemenang H—Pemenang D di Milan.
Pemenang F—Pemenang B di Turin. (Oleh karena itu, kemungkinan Belanda akan
menghadapi Cekoslowakia di Turin). Pemenang G—Pemenang C di Bologna. Pemenang
E—Pemenang Ate Napeds. Penentuan lapangan pertandingan tidak mudah, tetapi
terbukti berhasil bagi kami. Para delegasi berdiskusi selama lebih dari dua jam
sebelum mencapai kesepakatan. Tuan Lotsy telah berupaya untuk menyelenggarakan
pertandingan di Milan atau Turin dan ini dapat dianggap sebagai keberhasilan
pribadi. Pejabat Belanda harus mempertimbangkan bahwa lapangan-lapangan ini
memang telah ditentukan untuk Belanda. Pertama, stadion di Milan dan Turin
adalah yang terbaik di Italia, dan kemudian jarak yang lebih pendek memainkan
peran penting. Kami meminta pendapat Bapak Lotsy tentang peluang Belanda
setelah pengundian. Meskipun dalam suasana hati yang baik, beliau tidak terlalu
gembira. Swiss dan mudah-mudahan selanjutnya Chekho-Slovakia bukanlah lawan
yang mudah, dan di atas itu, tim nasional Belanda agak kelelahan saat ini.
Bayangkan saja, kita masih sepenuhnya terlibat dalam kompetisi kejuaraan, di
mana banyak pemain terlibat. Anderiessen dari Ajax, misalnya, akan memainkan
tiga pertandingan dalam satu minggu, karena Belanda bermain melawan Prancis
pada Hari Raya Surga. Tetapi bukankah lebih baik mengganti pemain Ajax melawan
Prancis? Itu akan menjadi solusi terbaik, tetapi untuk moral tim, itu mungkin
merupakan langkah yang salah. Jika anak-anak kita dikalahkan oleh Prancis
karena absennya Anderiessen, kekuatan mereka akan sangat berkurang. Sebuah tim
sangat sensitif… Bagaimanapun, para pemain kami lelah, dan itu merupakan
kendala besar melawan tim-tim profesional yang sekarang kami hadapi. Karena
pemain Swiss juga profesional, kami bermain di Milan untuk pertama kalinya, dan
saya menganggap itu sangat menguntungkan. Kami mungkin akan menampung pemain di
Como atau tempat lain di Danau Como. Ada fasilitas pelatihan yang sangat bagus
di Como. Selain itu, kami ingin membawa koki Belanda atau Jerman bersama kami,
karena makanan Italia akan mengganggu perut. Bagaimanapun, Tuan Lotsy menyimpulkan,
kami penuh semangat, meskipun bisa lebih beruntung. Kami masih memiliki satu
kesempatan lagi untuk berbicara dengan Dr. Bauwens tentang tim kami. Dia akan
memimpin pertandingan penultimate melawan Belgia dan percaya bahwa Belanda
telah menjadi sangat kuat, tetapi telah melemah secara signifikan, padahal
sebelumnya merupakan bagian terkuat dari tim, yaitu pertahanan. Sebelumnya,
kata Dr. Bauwens, pertahanan Belanda mungkin yang terkuat di Eropa, tetapi masa
itu tampaknya telah berakhir. Dia tidak banyak berkomentar tentang tim Swiss.
Swiss sering mengubah susunan tim mereka paling lambat di musim ini, sehingga
sulit untuk memprediksi apa pun. Hanya pertahanan mereka yang konstan dan
sangat kuat. Séchehaye, Mincalli, dan Weiler adalah batu sandungan bagi setiap
pertahanan, sehingga penyerang Belanda harus bertindak drastis untuk meraih
kesuksesan melawan mereka’.
Tim Italia di bawah pimpinan pelatih Vittorio Pozzo,
pemusatan latihan intensif diadakan di kota Florence. Bagaimana dengan Belanda?
Setelah selesai pemusatan latihan di kota Arnhem, Belanda kemudian merangsek ke
Italia mendekati TKP di kota Como. Untuk apa?

Ons Noorden, 07-05-1934: ‘Pemain untuk Piala Dunia. Para pemain terpilih
untuk kejuaraan dunia akan diberangkatkan pada Selasa tanggal 22. Mereka adalah
Keizer, van Male, Weber, van Run, van Diepenbeek, Lelveld, Pellikaan,
Anderlessen, van Heel, Onorinsen. Graafland, Wels, Vente, Bakhuis, Smit,
Miinders Lagenclaal, J Mol dan Schoemaker. Para pemain dan ofisial akan
check-in di hotel di Como’.
Pada tanggal 11 Mei, L
Boeijon, Kepala Konsul KNVB, berangkat dari Den Haag untuk mencari tempat
tinggal yang tenang di Como bagi tim nasional sepak bola Belanda selama
pertandingan Kejuaraan Dunia. (lihat Het nieuws van den dag voor
Nederlandsch-Indië, 26-05-1934).
Masing-masing federasi sepak bola dari negara peserta
Piala Dunia 1934 di Italia sudah barang tentu mengorganisasikan bagaimana masyarakatnya
dapat mendukung timnas masing-masing. Belanda juga telah mempersiapkannya
dengan perjalanan kereta api dari Den Haag ke Milan (pp).
Haagsche courant, 09-05-1934: ‘Kejuaraan Dunia. Belanda—Swiss. Dewan
Asosiasi Sepak Bola Kerajaan Belanda dengan ini memberitahukan kepada kami
bahwa mereka yang ingin menghadiri pertandingan Belanda—Swiss yang akan
dimainkan di Milan pada tanggal 27 Mei mendatang, dan yang tidak memanfaatkan
kesempatan yang ditawarkan oleh agen perjalanan terkenal, dapat mengajukan
permohonan tiket untuk pertandingan tersebut di Kantor Asosiasi di Van de
Spiegelstraat 21 di sini, paling lambat tanggal 12 bulan ini, dengan
menyertakan jumlah yang harus dibayar, ditambah 30 sen untuk biaya
administrasi. Harga tiket masuk adalah ƒ1,30, ƒ1,95, ƒ3,25 dan ƒ6,50.
Permohonan yang diterima setelah tanggal 12 Mei harus dibatalkan. Lokasi
pertandingan. Panitia penyelenggara pertandingan Kejuaraan Dunia telah
melakukan perubahan pada lokasi beberapa pertandingan. Dengan demikian, di
babak kedua, pemenang pertandingan Brasil—Spanyol akan menghadapi pemenang
pertandingan Italia—Amerika Serikat. Di sisi lain, Napoli telah ditetapkan
sebagai pengganti Florence untuk pertandingan perebutan hadiah ketiga. Asosiasi
Perjalanan Belanda. Partisipasi dalam kereta tambahan yang diselenggarakan oleh
Asosiasi Perjalanan Belanda dijamin akan berjalan. Namun, pendaftaran masih
dibuka. Jika jumlah penumpang untuk kereta tambahan terlalu banyak, kereta
tambahan kedua akan dijadwalkan oleh N.R.V. untuk menciptakan kemungkinan
membawa sebanyak mungkin pendukung ke Italia untuk tim nasional kita. Rotala
Neerlandica. Perjalanan ke Italia dengan kereta khusus juga diselenggarakan
oleh agen perjalanan “Rotala Neerlandica”, Rijnstraat 18a, di sini,
untuk menghadiri turnamen Kejuaraan Dunia. Kereta berangkat pada tanggal 25
bulan ini dan kembali pada tanggal 29 Mei. Tarif pulang pergi untuk kelas tiga
hanya ƒ28,50. Perjalanan yang diselenggarakan oleh agen perjalanan
Lissone—Lindeman ini dimulai pada tanggal 26 Mei. Warga Den Haag berangkat dari
Stasiun S.S. pada pukul 08.29 pagi. Tarif pulang pergi ke Milan dan kembali,
termasuk biaya tambahan perangko Italia, dan tempat duduk yang dipesan, adalah
kelas 2 sebesar 95,30 dan kelas 3 sebesar 37,75. Dengan menggunakan kereta ini,
Anda juga dijamin mendapatkan tempat duduk untuk dua pertandingan, dengan
membayar 5,5 per pertandingan untuk tribun terbuka dan 6,75 per pertandingan
untuk tribun tertutup. Kereta kembali dari Milan pada hari Jumat, 1 Juni, dan
tiba di Belanda pada Sabtu pagi, 2 Juni, sehingga semua orang dapat sampai ke
tujuan tepat waktu sebelum liburan Minggu. Untuk kenyamanan peserta, telah
disediakan juga semua makanan dan penginapan di hotel-hotel yang sangat baik.
Biaya untuk: penginapan dan semua makanan sesuai program, transportasi dari dan
ke hotel, tiket untuk dua pertandingan, transportasi dari dan ke stadion Milan
dan Turin, wisata ke Turin, dan semua tip, berjumlah total ƒ54,50. Jika
menggunakan hotel terbaik, harga ini akan dinaikkan sebesar ƒ10. Karena, tentu
saja, banyak yang ingin melihat sesuatu tentang Italia pada hari-hari ketika
tidak ada pertandingan, beberapa wisata telah diorganisir, yang partisipasinya
bersifat opsional. Jika Belanda secara tak terduga tidak bermain di Turin,
perjalanan sehari penuh ke Como dan Villa d’Este akan ditawarkan sebagai pengganti
perjalanan ke Turin dan tiket masuk untuk pertandingan; tidak ada biaya untuk
perjalanan ini. Rutenya adalah: Milan—Monsa—Lecco—Bellagio—Como—Villa d’Este
kembali ke Milan’.
Ambisi Italia untuk menjuarai Piala Dunia 1934
sangat kuat. Hal itu tentu saja karena bertindak sebagai tuan rumah yang akan
didudukung oleh para supporternya. Para pemain Italia sudah ditetapkan (lihat
daftar di bawah). Klub Juventus dari Turin sebagai juara liga (serie) Italia
menjadi penyumbang pemain terbanyak. Federasi sepak bola Italia juga mendatangkan
empat pemain dari Amerika Selatan. Bagaimana bisa? Yang jelas Italia akan
melawan Amerika Serikat di Roma pada tanggal 27 Mei ini.
Rotterdamsch nieuwsblad, 17-05-1934: ‘Olahraga. Sepak Bola. Untuk
Kejuaraan Dunia. Para pemain Italia yang terpilih. Koresponden kami di Roma
menulis kepada kami pada tanggal 14 bulan ini: Hari ini komite tim nasional
Italia memilih 22 pemain yang harus membela warna Italia di Kejuaraan Dunia
mendatang. Pilihannya jatuh pada: Penjaga Gawang: Combi (Juventus), Ceresoli (Ambrosiana),
Cavanna (Napoli); Bek: Atlemanda (Ambrosiana), Montiglio (Bologna), Rosetta
(Juventus), Caligaris (Juventus); Gelandang: Varglien (Juventus), Castellizzi
(Ambrosiana), Fizziolo (Fiorentina), Monti (Juventus), Ferraris (Roma),
Bertolini (Juventus); Lini depan: Arcari (Milan), Guarisi (Lazio), Meazza
(Ambrosiana), De Maria (Ambrosiana), Borel (Juventus), Schiavio (Bologna),
Ferrari (Juventus), Guaita (Roma), Orsi (Juventus). Menarik untuk dicatat bahwa
empat pemain ini awalnya berasal dari Amerika Selatan dan dibeli dari sana
seiring waktu, atau, seperti yang disebut secara halus di sini, dipanggil
kembali ke tanah air mereka. Mereka adalah Guarisi, De Maria, Orsi, dan Guaita,
di mana Orsi sangat menonjol di Olimpiade Amerika pada saat itu. Guarisi adalah
warga Brasil; tiga lainnya “dipinjamkan” oleh Argentina ke sepak bola
Italia. Tim juara Juventus secara tradisional memiliki perwakilan terbaik.
Tidak kurang dari sembilan pemain dari klub Turin saat ini berada di sekitar
Florence untuk mempersiapkan diri menghadapi perebutan Kejuaraan Dunia. Setelah
mereka adalah Ambrosiana dari Milan, yang secara konsisten menduduki puncak
klasemen selama musim lalu tetapi tersingkir oleh Juventus di menit-menit
terakhir. Klub ini memiliki lima perwakilan di antara 22 pemain yang terpilih.
Saat ini, Asosiasi Sepak Bola sedang bernegosiasi dengan Manchester City, yang
bermain imbang dengan Fiorentina kemarin di Florence (3–3), untuk mengatur
pertandingan tim Italia melawan juara Piala Inggris. Berita bahwa tim nasional
Belanda akan tiba di Como pada tanggal 22 bulan ini untuk pertandingan melawan
Swiss disertai dengan komentar yang sangat positif di pers Italia’.
Singkatnya: Belanda yang
bermain melawan Swiss di Milan pada tanggal 27 Mei harus mengakui keunggukan
Swiss dengan skor 2-3 (lihat De Indische courant, 28-05-1934). Dengan demikian
timnas Belanda sudah langsung gugur di babak pertama. Mengapa itu bisa terjadi? Dalam catatan lama
antara Belanda dan Swiss sudah pernah melakukan pertandingan 10 kali dimana
lima kali di Swiss dan lima kali di Belanda (saling mengalahkan). Dalam
pertandingan yang terakhir 22 Januari 1933 di Amsterdam berakhir imbang (lihat
De Gooi- en Eemlander: nieuws- en advertentieblad, 26-05-1934). Jadi dalam hal
ini timnas Swiss juga sangat kompetitif. Lalu bagaimana dengan timnas Italia?

De Indische courant,28-05-1934; ‘Hiruk pikuk di Milan. Milan, 27 Mei
(Aneta). Ribuan warga asing dan puluhan ribu warga Italia memadati delapan
lapangan sepak bola tempat babak pertama Piala Dunia dimainkan. Milan dibanjiri
oleh warga Swiss dan Belanda. Di stasiun Como, para pejabat Belanda menyambut
para pendukung Belanda yang tiba dengan kereta tambahan, yang menyanyikan
Wilhelmus saat kereta berangkat menuju Milan. Hasil pertandingan lainnya adalah:
Cekoslowakia — Rumania 2-1 (babak pertama) 0-1. Italia — Amerika Serikat 7-1
(babak pertama 3-0). Argentina — Swedia 2-3 (babak pertama 1-1). Hongaria —
Mesir 4-2 (babak pertama 2-2). Austria — Prancis (setelah perpanjangan waktu)
3-2 (babak pertama 1-1). Brasil — Spanyol 1-3 (babak pertama 0-3). Jerman —
Belgia 5-2 (babak pertama 1-2). Analisis singkat pasca pertandingan. Hasil
pertandingan secara umum dapat dianggap normal. Argentina, seperti yang
diperkirakan, tidak memiliki peluang dengan tim amatirnya dan bahkan kalah dari
Swedia, yang juga bukan termasuk tim kuat. Sementara Brasil kalah dari Spanyol
dan Amerika Serikat kalah dari Italia, peserta Amerika telah tersingkir. Tim
Prancis memberikan penampilan yang luar biasa dengan terlebih dahulu kalah dari
Austria di babak perpanjangan waktu. Di babak selanjutnya, yang akan dimainkan
pada tanggal 30 bulan ini, negara-negara berikut akan saling berhadapan: Jerman
— Swedia. Cekoslowakia — Swiss. Austria — Hongaria. Italia — Spanyol. Detail
penting lainnya. Como, 27 Mei (Aneta). Van Heel tetap menjadi kapten tim
nasional Belanda, atas desakan Van der Meulen. FIFA. Roma, 27 Mei (Aneta).
Kongres FIFA memilih Lotsy sebagai anggota dewan’.
Setelah mengalah Amerika Serikat dengan skor 7-1,
bertemu Spanyol di babak perempat final yang diadakan di kota Firenze pada
tanggal 31 Mei. Setelah perpanjangan waktu (1-1), akhirnya Italia berhasil
unggul dengan satu gold an akan bertemu Austria di semifinal pada tanggal 3
Juni di kota Milan. Hasilnya Italia menang 1-0.

Di partai puncak (grand final) yang diadakan di kota Roma pada tanggal 10
Juni, Italia berhasil mengalahkan Cekoslowaki dengan skor 2-1 (lihat Nieuwe
Apeldoornsche courant, 11-06-1934). Italia di Piala Dunia: “Veni, vidi, vici” (Aku datang, aku melihat, aku menaklukkan).
Starting line up Italia: Kiper, Combi; Belakang, Monzegito dan Allemandi;
Tengah, Ferraris IV, Monti dan Bertolini; Depan, Guaita, Meazza, Schiavio,
Ferrari dan Orsi.
Piala
Dunia 1934 dengan final di kota Roma dimana juaranya Italia adalah satu hal.
Kota Como adalah hal lain. Dalam hal ini kota Como menjadi “basecamp” timnas
Belanda di Italia. Hal itu dipilih karena pertandingan melawan Swiss diadakan
di kota Milan. Jarak antara kota Como dengan kota Milan hanya 45 Km. Satu yang
penting dipilih Belanda di Como karena juga ada stadion bagus untuk latihan dan
juga di Como tersedia masakan Jerman yang cocok buat orang Belanda.

Stadion di Como bernama
Stadio dell’ Union Calcistica “Comense” (lihat De Gooi- en Eemlander: nieuws-
en advertentieblad, 26-05-1934). Disebutkan para pemain sepak bola Belanda di
Como. Pelatih timnas Belanda Herberts memberikan teori selama latihan di
lapangan sepak bola di Como, di Stadio dell’ Union Calcistica
“Comense”. Catatan: Stadion di Como ini selesai dibangun pada tahun
1928. Pemain andalan Italia, Monti juga pernah tinggal di Como (lihat Provinciale
Geldersche en Nijmeegsche courant, 15-10-1938). Disebutkan bahwa Hans Gisdanni
Monti, salah satu gelandang bertahan terhebat yang pernah dikenal dunia sepak
bola, lahir pada tahun 1911 di Münster di tepi sungai Neckar. Ia tinggal
bersama ibunya yang berkebangsaan Jerman hingga berusia sebelas tahun, dan
kemudian pindah ke Como, Lugano, Locarno, dan pada tahun 1932, sebagai pemain
sepak bola profesional, di Turin, di mana bintangnya bersinar sebagai gelandang
bertahan tim nasional Italia di Juventus. Monti (berayah Italia), kini kembali
bersama ibunya di Münster.
Sampai
sejauh ini, meski kota Como sudah dikenal sejak ‘baheula’, tetapi bagaimana
sepak bola di Como tidak kunjung terinformasikan. Yang terinformasikan adalah
di kota Coma sudah memiliki stadion bagus bernama Stadio dell’ Union Calcistica
“Comense” dimana timnas Belanda melakukan pelatihan sebelum menuju
pertandingan Piala Dunia 1934 di kota Milan. Tampaknya hingga sejauh ini klub
sepak bola di kota Como masih terbilang klub kecil relatif terhadap klub-klub
besar di Milan, Turin dan sebagainya. Lalu bagaimana dengan Piala Dunia tahun
1938 di Prancis?
Pada tanggal 15 Maret 1937, dalam
sidang FIFA menunjuk Jepang dan Indonesia untuk melakukan pertandingan
prakualifikasi Piala Dunia 1938 yang pemenangnya akan melawan (play-off)
pemenang pertandingan (play-off) antara Amerika Serikat (juara Amerika Utara)
dengan Argentina (juara Amerika Tengah) untuk memperebutkan satu tempat dalam
melengkapi 16 negara yang akan berlaga dalam final Piala Dunia 1938 di Prancis.
Dalam hal ini penunjukan Indonesia dari Asia karena masa itu Indonesia telah
memiliki kompetisi lokal yang teratur, sedangkan Jepang sebelumnya pernah
memiliki tim Olimpiade yang kuat. Tim yang kuat dari Jepang dan tim memiliki
kompetisi teratur dari Indonesia (sekarang kompetisi Jepang yang teratur).
Dalam
Piala Dunia 1938 di Prancis timnas Indonesia (baca: Hindia Belanda) akan
melakukan pertandingan prakualifikasi. Piala Dunia 1938 di Prancis akan
diadakan pada bulan Juni di sejumlah kota termasuk kota Lyon yang cukup dekat
dijangkau dari kota Como (sekitar 350 Km) melalui terowongan Mont Blanc atau
Frejus (terowongan di pegunungan Alpen bagian barat).
Pertandingan melawan tim
Jepang yang dijadwalkan di Hong Kong, Jepang mengndurkan diri (karena Jepang
terlibat perang dengan Tiongkok). Indonesia menjadi maju untuk melawan hasil
play-off antara Amerika Serikat dengan Argentina yang akan dijadwalkan
dimainkan di Belanda. Namun Argentina berhalangan hadir. Oleh karena sepak bola
belum popular di Amerika, Amerika juga kemudian membatalkan keberangkatannya ke
Belanda untuk melawan wakil Asia yakni, Indonesia. Akhirnya Indonesia tanpa
pernah melakukan babak kualifikasi yang sebenarnya berhak ke Prancis. Jadi,
dalam hal ini prosesnya Indonesia menuju putaran Piala Dunia di Prancis
berjalan normal (tetap dengan kemenangan WO).
Pelatih Indonesia
Mastenbroek telah menetapkan 17 pemain
yang benar-benar berangkat ke Prancis berdasarkan hasil seleksi dari turnamen
tiga subwilayah di Jawa. Mr. Karel Lotsy (Presiden KNVB, PSSI-nya di negeri
Belanda) mendukung kehadiran Indonesia di Prancis. Surat kabar De Indische
courant, 12-04-1938 memberitakan bahwa secara aklamasi Mohamad Nawir ditunjuk
menjadi kapten tim dan Rohrig sebagai wakil kapten. Tim Indonesia (NIVU)
terdiri dari: Mo Heng (Malang), Samuels (Surabaya), Anwar (Batavia), Nawir
(Soer.), Taihutu (Batavia), Patiwael (Batavia), Hong Djien (Soer.), Hukom, F
Meeng, Tan See Han, Summers. Cadangan: Van Beuzekom (Batavia), Harting
(Surabaya), Van der Burj (Djocja), Faulhaber (Semarang), Sudarmadji (Surabaya)
dan Telwe (Surabaya). Tim Indonesia berangkat dengan kapal ke Eropa.
Tim Indonesia tiba di Den
Haag tanggal 18 Mei 1938 setelah melakukan perjalanan panjang dengan kereta api
dari Marseille. Di stasion kereta api Den Haag, tidak dinyana, Tim Indonesia
disambut meriah, baik oleh pejabat KNVB, pengurus klub HBS maupun para
simpatisan dan keluarga para pemain termasuk para mantan-mantan pemain sepak
bola di Indonesia. Tim Indonesia kemudian menaiki bus menuju hotel Duinoord di
Sweelinckplein, tempat para pemain dan official menginap selama di Belanda.
Setiba di hotel dilakukan pertemuan khusus antara pemain dan official Tim
Indonesia dengan pejabat KNVB, pimpinan HBS dan lainnya. Training kemudian
dilakukan. Tempat training centre selama di Belanda ditetapkan di kompleks
sepak bola klub HBS, Den Haag. Tim Indonesia di Den Haag direncanakan akan
tinggal sampai tanggal 31 Mei 1938.
Setelah
tim menyelesaikan pemusatan latihan di Den Haag, Tim Indonesia berangkat
tanggal 2 Juni 1938 menuju Rheims, Prancis. Tim Indonesia berangkat dari Den
Haag pada pukul 10.56 ke Prancis. Setelah tiba di Paris jam 16.54, tim disambut
oleh konsul. Pada hari berikutnya, pukul 10.30 meneruskan perjalanan ke Rheims.
Menurut official tim, sampai tanggal 1 Juni penjualan tiket pertandingan
Indonesia-Hongaria telah habis terjual dengan menghasilkan sebanyak 70.000
franc. Kapasitas stadion memiliki 19.000 tempat duduk.
Tim Hungaria sendiri sudah
lebih dulu tiba di Rheims. Waktu yang ada dimanfaatkan oleh Tim Indonesia untuk
berlatih fisik dan uji coba lapangan stadion Velodorme, Rheims. Malam sebelum
hari-H, Walikota Rheims mengundang dan menjamu makan malam kedua tim. Susunan
pemain kedua tim diumumkan (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 07-06-1938). Seperti
disebut di atas, tujuh belas pemain ke Prancis terdiri dari delapan orang
Belanda, tiga orang Ambon, dua orang Sumatra, satu orang Jawa dan tiga orang
Cina. Yang diturunkan sebagai line-up adalah dua Cina (Mo Heng dan Hong Djien),
satu Jawa (Sudarmadji), dua Ambon (Pattiwael dan Taihutu) dan dua Sumatra
(Anwar dan Nawir). Itu berarti ada tujuh non-Belanda. Empat Belanda adalah
Samuels, Hukom, Zommers dan F Meeng. Nama Meeng tidak ditemukan dalam marga
orang Belanda, apakah Frans Meeng adalah orang Indo? Demikian juga dengan nama
Hukom, apakah orang Indo? Yang benar-benar orang Belanda hanya ada nama Zommers
dan Samuels.
Orang
Prancis ternyata memiliki cara pandang tersendiri tentang sepakbola. Ternyata
penduduk Kota Rheims datang berbondong-bondong ke stadion untuk menonton dan
menunaikan tiket yang telah mereka beli jauh sebelum hari pertandingan. Mereka
sangat respek terhadap Tim Indonesia setelah membaca semuanya di dalam koran
pagi. Tapi, tak mereka sangka, sebelum pertandingan dimulai, dari tengah
lapangan para pemain Indonesia memberi salam hormat kepada para penonton yang
telah duduk manis baik ke arah tribun barat maupun tribun timur (hal serupa ini
tidak dilakukan Tim Hungaria). Sontak, para penonton berdiri untuk membalas
salam hormat Tim Indonesia. Rasa hormat di balas dengan rasa hormat.
Pertandingan dimulai.
Priiit. Roger Conrie, wasit asal Prancis meniup pluit, tanda pertandingan
dimulai. Mo Heng, yang sudah sembuh dari cedera pergelangan tangan, berada
sigap di depan gawang. Pertahanan Tim Indonesia yang dikawal oleh dua center
back, Hukom dan Samuel agak rapuh, sehingga Mo Heng harus beberapa kali
menyelamatkan gawang Tim Indonesia sebelum akhirnya gawang Tim Indonesia
kebobolan. Tidak ada riuh rendah, melainkan penonton terdiam saja ketika gol
pertama terjadi. Ini menujukkan tanda bahwa kelihatannya penonton yang hampir
seluruhnya orang Prancis dan sebagian besar penduduk Kota Rheims memihak Tim
Indonesia. Tidak ada sorak sorai penonton setiap gol yang tercipta kepada Tim
Hungaria. Akan tetapi, setiap ada adegan indah dan heroik dari pemain
Indonesia, para penonton bergemuruh.
Indonesia
dalam pertandingan ini kalah telah 6-0. Boleh jadi, orang Prancis melihat pertandingan
ini sebuah drama: antara tim kuat vs tim lemah. Memang akhirnya, Tim Hungaria
menang telak enam kosong, tetapi para penonton puas melihat penampilan Tim
Indonesia yang sangat heroik.
Inilah drama dalam sepak
bola dan orang Prancis yang hadir di stadion memang menikmati betul drama itu.
Sisi humanis penonton Prancis lebih mengemuka dalam pertandingan Tim Indonesia
vs Tim Hungaria. Untuk diketahui klub kota Rheim bernama Stade de Rheim adalah
juara nasional liga Prancis tahun 1935 (lihat De Telegraaf, 27-05-1935).
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Sepak Bola Italia dan Sepak Bola Indonesia, Piala Dunia di Italia 1934 dan Piala
Dunia di Prancis 1938: Como 1907 Klub Orang Indonesia dan Timnas Indonesia di
Piala Dunia
Dalam
dunia sepak bola, suatu kota dihubungkan dengan lokasi stadion dan namanya, dan
juga dhubungkan dengan nama klub yang ada tingkat pencapaiannya di berbagai
level pertandingan/kompetisi. Seperti disebut di atas, hal yang berkaitan
dengan klub sepak bola di Como, hingga sejauh ini belum terinformasikan. Hanya
dinarasikan bahwa di kota Como didirikan klub bernama Como pada tahun 1907.

De grondwet, 21-09-1940: ‘Pertemuan
antara Harbig dan Lanzi yang lebih baik. Tahun ini, Rudolf Harbig akan memiliki
kesempatan lain untuk menguji kekuatannya melawan Mario Lanzi. Pertemuan ini
akan berlangsung pada kesempatan pembukaan stadion baru di Como pada tanggal 29
September. Namun, belum dikonfirmasi apakah kedua atlet hebat ini akan
berkompetisi di nomor 400 atau 800 meter. Beberapa atlet Finlandia juga akan
berkompetisi pada kesempatan ini’.
Pada tahun
1940 terinformasikan di Como terdapat stadion baru. Pertanyaannya apakah
stadion baru ini adalah stadion lama (yang disebut Stadio dell’ Union Calcistica
“Comense” yang pernah menjadi tempat pelatihan timnas Belanda dalam
Piala Dunia 1934)? Yang jelas stadion baru di Como memiliki lintasan atletik.
Besar kemungkinan kelak lintasan atletik itu dihilangkan yakni dengan
membangunan tribun yang menjadi tribun lebih dekat ke lapangan seperti masa
ini. Perlu dicatat di sini, dengan membandingkan foto stadion Como pada tahun
1934 dan foto masa kini tampak kurang lebih sama view-nya (latar bukit di
sebelah kanan ke arah danau).

Kota Como adalah kota tua.
Keuatamaan kota Como sudah lama dikenal sebagai kota wisata (danau Como). Danau
Como sendiri diinformasikan memiliki kedalaman 400 Mdpl (lihat De Graafschapper,
15-12-1947). Disebutkan danau Lugano mencapai kedalaman 270 meter di titik
terdalamnya, danau Como mencapai kedalaman 400 meter. Seperti disebut di atas,
berdasarkan informasi tahun 1904 kedalaman danau Como mencapai 609 Mdpl. Yang
mana yang benar? Apakah danau Como menjadi semakin dangkal (200 M) selama 40
tahun terakhir ini?
Setelah
sekian lama, keberadan klub sepak bola di kota Como mulai terinformasikan. Klub
kota Como ini disebut AC Como. Mengapa baru terinformasikan sekarang di tahun
1949 ini? Apakah klub Como (Associazione Calcio Como) sudah meningkat
prestasinya sehingga mendapat liputan media?

De Maasbode, 18-10-1949: ‘Risiko
Profesi: Wartawan Sepak Bola Italia Dibunuh. Meskipun terkadang terjadi di
lapangan sepak bola kita bahwa wasit diserang dan menerima pukulan keras dari
pemain yang emosi, wartawan olahraga dibiarkan tanpa gangguan dan paling-paling
hanya menderita akibat ulah pendukung klub yang melampiaskan kemarahan mereka
di atas kertas tentang kritik tidak adil yang ditujukan kepada tim favorit
mereka yang kalah. Namun, bahwa profesi ini bukannya tanpa risiko, terbukti
dari sebuah laporan dari Como, di mana mayat Sergio Cabaglio, seorang wartawan
sepak bola untuk sebuah surat kabar lokal, ditemukan di jalan. Polisi
menetapkan bahwa kematiannya adalah akibat pukulan yang dilayangkan kepadanya.
Beberapa hari sebelumnya, penerbit Het Wad telah menerima surat yang menyatakan
bahwa kritik yang dilontarkan Cabaglio kepada tim AC Como telah menimbulkan
kesan yang sangat buruk’.
Kota Como
sendiri masih memiliki daya tarik tersendiri bagi dunia sepak bola. Pada tahun
1934 stadion di Como dijadikan timnas Belanda sebagai tempat p[elatihan
terakhir sebelum berlaga bulan Mei di kota Milan (melawan timnas Swiss). Pada
tahun 1949 ini, stadion yang terdapat di kota Como dijadikan timnas Italia
sebagai pemusatan latihan sebelum bertolak ke London melawan timnas Inggris.
De Maasbode, 28-11-1949: ‘Skuad
biru dalam nada minor. Pertandingan tahun ini. Namun kejutan di kandang Spurs
masih mungkin terjadi. Hujan turun di Como pada Sabtu pagi. Hujan gerimis
perlahan dan sunyi dari langit kelabu yang datar, dan angin terasa lesu namun
anehnya dingin, dan kota serta danau tiba-tiba tidak lagi menyerupai, dari
kejauhan, kartu pos berwarna di rak kartu di aula megah “Villa Imperiale
di Montrasio”. Di aula “Villa” duduk enam belas selebriti sepak
bola berharga yang akan membentuk skuad Italia pada Rabu sore mendatang di
London, di kandang Spurs di White Hart Lane, yang akan melakukan upaya gigih
untuk kedua kalinya dalam lima belas tahun untuk mengalahkan para grandmaster
sepak bola indoor Inggris di tanah mereka sendiri. Mereka menunggu mobil yang
akan mengantar mereka ke bandara Milan, dari mana mereka akan diterbangkan ke
Inggris dalam beberapa jam, dan para jurnalis Italia jarang melihat rombongan
sepak bola Italia yang tampak lebih murung daripada keenam belas orang terpilih
ini. Keenam belas orang terpilih ini tahu betul. Mereka hanya perlu melihat
langit Como yang kelabu dan meneteskan air untuk mengetahui bahwa rombongan
Italia di sana, di London, menghadapi nasib yang sama seperti skuad Italia yang
berangkat ke London lima belas tahun lalu’. Winschoter courant, 23-11-1949:
‘Nama-nama pemain timnas Italia yang akan ke Inggris: Kiper: Moro (Turino) atau
Sentimenti (Lazio); Belakangr: Giovanni (Internazionale) dan Becattini (Genoa);
Tengah: Fattori (Internazionale) Barola (Juventus) dan Piccini (Juventus) atau Annovazzi
(Milano); Depan: Boniperti (Juventus), Basetto (Sampdoria), Amadei atau Lorenzi
(keduanya Internazionale), Martino (Juventus) dan Carapellese (Torino)’.
Klub sepak
bola di kota Como saat ini sudah menjadi klub besar, klub yang sudah bersaing
di liga utama Italia. Saat ini klub kota Como dirumorkan sedang mendatangkan
bintang sepak bola dari Belanda. Apakah ini mengindikasikan klub AC Como baru
saja promosi pada tahun 1949 ini? Yang jelas sejak disebut klub Como didirikan
tahun 1907 belum pernah terinformasikan di dalam liga Italia.
Twentsch dagblad Tubantia en
Enschedesche courant en Vrije Twentsche courant, 08-12-1949: ‘Sepak bola. Terlouw
ke Como. Rinus Terlouw, pemain kunci tim nasional Belanda dan Sparta, akan
bermain untuk klub papan atas Italia, Como, menurut koresponden Milan dari
Algemeen Dagblad. Meskipun Terlouw sendiri membantah rumor tentang kepergiannya
beberapa hari yang lalu, koresponden tersebut mengklaim bahwa negosiasi antara
Como dan Terlouw telah berhasil diselesaikan. Pemain kelahiran Rotterdam ini
kemungkinan akan berangkat ke Italia dalam beberapa minggu lagi. Pertandingan
Belanda-Denmark karenanya akan menjadi pertandingan internasional terakhir yang
akan dimainkan Terlouw; Sparta mungkin dapat memanfaatkan kemampuan Terlouw
satu atau dua kali lagi. Como menempati peringkat kedelapan di divisi teratas
Italia dan berada di posisi yang sama dengan Internazionale, klub Wilkes’.
Rumor
kehadiran bintang sepak bola Belanda Rinus Terlouw di Como semakin diperjelas
(lihat De vrije pers: ochtendbulletin, 16-12-1949). Disebutkan mengenai pemain
kunci Sparta dan tim nasional Belanda, Terlouw, ketua (klub) Como, Carlo
Songla, membantah bahwa klubnya bermaksud untuk merekrut Terlouw. Songla
menyatakan bahwa negosiasi telah dilakukan dengan Terlouw, tetapi negosiasi
tersebut hanya terbatas pada “kontak sederhana”. Tidak ada kontrak
yang ditandatangani dan Como tidak berniat untuk membuka kembali diskusi
tersebut. Satu yang penting dari tadisi klub di Como adalah mengunjungi.

Twentsche courant, 07-02-1950:
‘Para pemain sepak bola bersama Paus. Sabtu lalu, klub sepak bola Como, yang
dijadwalkan bermain pertandingan di Como, diterima dalam audiensi oleh Bapa
Suci. Ini hampir menjadi tradisi bagi para pemain sepak bola yang datang ke
Roma untuk terlebih dahulu mengunjungi Bapa Suci’.
Pertandingan
antara klub ibu kota (Roma) dengan klub dari wilayah terpencil (AC Como). Klub
AC Como mengalahkan klub “IL Tempo” Roma dengan skor 1-0.
Dagblad voor Noord-Limburg,
28-04-1950: ‘Catatan Roma. (dari koresponden Roma kami). Menangis karena sepak
bola. Ini menangis karena sepak bola. Karena sebagian besar ketenaran kami
(baru-baru ini) berkat pertemuan kami dengan Faas Wilkes, kami juga membaca
koran Senin. Hari ini Senin dan kemarin itu terjadi. Lima belas detik sebelum
akhir pertandingan Roma vs Como ketika wasit memberikan penalti kepada Roma,
yang akan diambil oleh kapten Andreoli. Bola membentur tiang dan gol penyelamat
yang diharapkan gagal terwujud. Hasil: 1-0 untuk Como. Dan lihatlah sekarang
bagaimana “II Tempo” menggambarkan tragedi ini: “Wasit telah meniup peluit
akhir. Sebelum para Biru Cómö, sang pemenang, saling berpelukan, para
Kuning-Merah yang kalah menangis. Dengan tangan di rambut mereka, Andreoli
menangis di atas segalanya, tak terhibur karena ia gagal mencetak gol.
Terbaring lelah di tanah, Trerè yang pemberani juga menangis, dan lawan yang
tak kalah tangguh, Ghiandi muda, mencoba menghiburnya dengan penuh kasih
sayang. Penonton pun sangat tersentuh oleh akhir yang dramatis ini.” Dan untuk
membuat mereka yang berani di rumah ikut meneteskan air mata, foto-foto telah
mengabadikan air mata dan keputusasaan Andreoli untuk selamanya, dan bahkan
tiang gawang putih yang fatal dengan noda hitam kotor telah difoto, tiang yang
menghancurkannya, dengan noda lumpur tempat Andreoli dan Trerè menangis.
Setelah membaca ini, kami menyimpulkan bahwa kami telah salah. Sampai sekarang,
kami menganggap pemain sepak bola sebagai semacam suku Mohican terakhir,
sebagai semacam bajak laut yang merosot, namun tetap saja bajak laut; Sebagai
koboi, perampok jalanan, orang-orang tangguh dengan tangan besar dan kaki yang
lebih besar lagi yang melepaskan nafsu jahat ayah mereka pada bola dan bahkan
tidak mendirikan kerajaan dalam prosesnya. Jadi, bukan begitu kenyataannya.
Seseorang seharusnya menangis ketika bermain sepak bola dan kalah saat bermain.
Dengan pengetahuan ini, kami telah merevisi penilaian kami terhadap para pemain
sepak bola’.
AC Como tidak
hanya mampu mengalahkan klub Roma secara dramatis, klub AC Como juga mampu
mengalahkan klub Internazionale di kandangnya di Milan. AC Como memenangkan
pertandingan dengan skor 2-1. Sebuah kekecewaan, karena Inter mendominasi
pertandingan pertama dengan skor 0-1. Selama lima menit terakhir, bola lebih
banyak berada di tribun daripada di lapangan, karena pertahanan Como, yang
disorak-sorai oleh para pendukungnya, senang memprovokasi penonton tuan rumah.
De Telegraaf, 16-05-1950:
‘Adegan Sepak Bola Penuh Gairah. Warga Italia menunjukkan pertunjukan
berkualiatas baik. Faas Wilkes Ikut Berperan. Oleh Jan Blankers. Milan. 13 Mei.
Saling menatap tajam sambil berbicara dengan penuh semangat dan membuat gerakan
tangan yang lebar, dua pendukung sepak bola Italia duduk di sebelah kiri saya,
yang berselisih tentang pembatalan gol ketiga Como dalam pertandingan melawan
“Inter”, klub Faas Wilkes. Dalam perdebatan sengit mereka, mereka
melupakan segala sesuatu di sekitar mereka, dan saat hidung mereka semakin
dekat, apa yang telah saya duga sejak lama terjadi: mereka saling beradu fisik.
Tetapi cara mereka melakukannya sangat berharga sehingga saya masih sakit perut
karena tertawa. Pendukung Como, yang dagunya dihiasi janggut bergaya Balbo yang
artistik dan yang jelas-jelas memenangkan duel verbal, merasa dirinya semakin
berani seiring berjalannya perdebatan. Namun, tepat ketika dia berpikir dia
dapat mengamankan kemenangan, seluruh gambaran pertempuran berubah dalam
setengah detik. ‘Strijd om het baardje”. Gerakan tak masuk akal dari pendukung
Inter itu berubah menjadi positif. Dan sebelum pendukung Como itu menyadari apa
yang akan terjadi, janggut kecilnya dicengkeram erat dan kepalanya melakukan
gerakan akrobatik yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun, cengkeraman
janggut itu menandai akhir dari pertempuran. Para petugas bergegas maju dari
segala arah untuk memisahkan para praktisi jiu-jitsu. Insiden kecil ini, yang
berakhir tanpa pertumpahan darah dan mungkin hanya mengakibatkan leher kaku,
menggambarkan dalam segala hal suasana dan atmosfer di tribun selama
pertandingan sepak bola Italia. Ini adalah komedi dan drama sekaligus, di mana
semua yang hadir berpartisipasi dengan antusiasme yang besar. Di lapangan, dua
puluh dua seniman sepak bola yang telah melupakan lebih banyak tentang sepak
bola daripada yang kita ketahui di negara kita pada umumnya, dan yang cukup artistik
untuk menjual keterampilan mereka dengan cara yang artistik. Di tribun, ribuan
penonton, yang juga menuntut bagian mereka dalam permainan. Para pemain sepak
bola memainkan permainan mereka dengan sangat baik, meskipun keras dan rumit.
Tetapi dalam segala hal yang mereka lakukan, pertanyaan mendasar selalu:
bagaimana reaksi penonton saya? Bagi para seniman profesional, mereka adalah
“pemain yang memikat penonton” dan ini adalah syarat yang penting,
bahkan vital, karena popularitas mereka di kalangan penonton pada akhirnya
menentukan apakah mereka akan tetap berada di garis depan. Mereka menampilkan
pertunjukan sepak bola, dan sesuai dengan semua olahraga profesional,
pertunjukan itu dirancang, di atas segalanya, untuk menciptakan efek. Tak
terhitung banyaknya trik. Orang Italia menguasai seni ini dengan sempurna. Sore
ini kita melihat banyak sekali trik dari kedua belah pihak, dengan para pemain
yang menjatuhkan diri ke tanah bahkan sebelum bola dapat diarahkan kepada
mereka. Ketika wasit meniup peluit untuk pelanggaran tersebut, lapangan sepak
bola menjadi panggung tempat adegan-adegan penuh gairah berlangsung. Tidak
pernah dalam satu sore pun saya melihat lebih banyak pengakuan
ketidakbersalahan dan lebih banyak kemarahan palsu yang ditampilkan daripada
dalam pertandingan sepak bola ini, yang sebenarnya tidak berarti karena posisi
di klasemen praktis sudah ditentukan. Faas Wilkes juga telah menunjukkan banyak
hal dalam hal ini. Dia juga menggunakan kedua tangannya dengan kekuatan yang
penuh amarah ketika sesuatu yang menurutnya tidak dapat diterima membuatnya
kesal. Sungguh pemandangan yang lucu melihat para pemuda Belanda yang rendah
hati bermain dengan cara ini. Tetapi itu adalah bagian dari permainan, dan jika
dia tidak melakukannya, para pendukung Inter pasti akan segera bosan dengannya.
Pertandingan selalu diikuti dengan intensitas tinggi. Ketika para pemain
melakukan kesalahan, para penonton tidak ragu untuk menunjukkan ketidaksetujuan
mereka dengan jelas. Para penonton di tribun ikut berpartisipasi dalam setiap
aksi yang terjadi, dan ketika penyerang tengah Inter menendang bola tinggi
melewati gawang dari posisi bebas, saya langsung mendapat pelajaran visual di
sebelah kanan saya tentang bagaimana seharusnya bola seperti itu dimainkan.
“Bebaskan Horstelen.” Tentu saja, mereka menggunakan sistem
stopper-pivot di Italia, dan Wilkes sangat memahami perannya dalam sistem
tersebut. Dia membantu bertahan jika diperlukan, dan selama serangan ke gawang,
dia selalu berada di separuh lapangan sendiri untuk membantu mengalihkan
permainan segera setelah serangan berhasil dipatahkan. Beberapa kali saya
melihatnya mencoba melakukan salah satu larinya, yang membuatnya terkenal di
Belanda. Tetapi tim lawan bereaksi secepat dia, sehingga dia tidak bisa
langsung menerobos pertahanan. Selain itu, permainan ini sangat agresif
sehingga akan sangat tidak bijaksana untuk terlalu lama menguasai bola. Karena
jika seseorang gagal merebut bola secara sah, setidaknya ia dapat meraih
pinggang pemain lawan atau menjatuhkannya dengan cara lain. Hal itu terjadi
dengan cepat dan membuat suasana di tribun tetap meriah. Yang sangat
mengecewakan para penggemar Inter, Como memenangkan pertandingan dengan skor
2-1. Sebuah kekecewaan, karena Inter mendominasi pertandingan pertama dengan
skor 0-1. Selama lima menit terakhir, bola lebih banyak berada di tribun
daripada di lapangan, karena pertahanan Como, yang disorak-sorai oleh para
pendukungnya, senang memprovokasi penonton tuan rumah dengan terus-menerus
menendang bola keluar, bahkan ketika sama sekali tidak ada alasan untuk itu.
Pelakunya dijamin akan mendapatkan tepuk tangan meriah, dan ini dimanfaatkan
dengan sangat cerdik. Ada kemungkinan besar kedua tim akan datang ke Belanda
akhir tahun ini untuk memainkan sejumlah pertandingan. Dan! tanpa ragu, kita
akan menyaksikan sepak bola yang sempurna, meskipun dari sisi Italia itu akan
menjadi “sepak bola liburan”. Namun, jangan terlalu meremehkan
trik-trik yang digunakan para pemain ini, karena mereka adalah bagian tak
terpisahkan dari sepak bola ini seperti anak kecil bagi ibunya. Dan saya yakin,
kita akan terkejut jika menganggapnya serius.’.
Liga
Italia musim 1949/1950 telah berakhir. Klub AC Como yang diduga baru promosi
telah berhasil membuat kejutan masuk dalam papan atas di akhir musim. Seperti
biasanya klub-klub selepas musim yang melelahkan diaakan tour ke luar negeri.
Klub AC Como melawat ke Belanda. Mengapa harus ke Belanda?
Winschoter courant, 23-05-1950:
‘Tim liga spartan. Tim Liga Spartam amatir Inggris akan memainkan empat
pertandingan di Belanda di bawah naungan Dana Van Weerden Poelmans, yaitu: 27
Mei di Enschede melawan tim Twente; 29 Mei di Exloo melawan tim Drenthe; 2 Juni
di Eindhoven melawan PSV di Philips Sports Park; dan 4 Juni di Bergen op Zoom
melawan tim Brabant di taman olahraga Roozenoord. Como juga bermain di Den
Haag. Kini telah dikonfirmasi bahwa klub papan atas Italia, Como, yang datang
untuk memainkan beberapa pertandingan di Belanda, juga akan bertemu dengan tim
Den Haag. Pertandingan ini akan dimainkan pada hari Kamis, 8 Juni atau Jumat, 9
Juni di lapangan HBS’.
Di Belanda
klub AC Como melakukan sejumlah pertandingan. Klub AC Compo sepenuhnya adalah
pemain-pemain lokal yang berasal dari seputar danau Como. Meski demikian para
pemain Como membuat klubnya mendapat bintang. Lantas siapa pemaian bintang AC
Como? Pemain bintangnya adalah Faas Wilkes asal/orang Belanda. Hal itulah
diduga mengapa tour AC Como diarahkan ke Belanda. Faas Wilkes tampaknya
pengganti Rinus Terlouw asal Belanda sempat dirumorkan pada awal musim.

Nieuwsblad van het Zuiden, 10-06-1950:
‘Pertemuan di Danau Maggiore. Faas Wilkes di Como. Faas mengatakan bahwa tim
Como ini sepenuhnya “dibina sendiri” bahwa para pemain berasal dari
kota itu sendiri dan lingkungan sekitarnya, dan bahwa dia jarang melihat tim
yang berlatih begitu intensif. Selain itu, katanya, Anda akan melihat sendiri
kemampuan para pemain ini. Saya bahkan tidak memberi tim nasional Belanda
kesempatan melawan para seniman sepak bola ini. Lihat, sungguh menyenangkan
mendengar kata-kata ini dari mulut seorang warga Belanda yang sekarang telah
memahami seluk-beluk sepak bola Italia. Tentu saja, percakapan kemudian beralih
ke pengalaman Faas di Milan. Wilkes sangat puas, memiliki temperamen yang baik,
dan memainkan sepak bola yang menyenangkan, meskipun ia merasa menyesal bahwa
sebagian pers Belanda terus menyebarkan laporan tendensius tentang dirinya, berbicara
tentang kegagalan, dll. Dengan melakukan itu, para jurnalis ini menunjukkan
bahwa mereka tidak memahami apa yang ditawarkan. Jangan sampai orang-orang di
Belanda melupakan, di atas segalanya, bahwa sepak bola di Italia adalah
masalah. Saya sendiri juga harus mempertimbangkan hal ini ketika akan
menandatangani kontrak baru. Iklan dan pencapaian hasil berjalan beriringan di
sini, demikian pandangan Wilkes selama percakapan yang menyenangkan ini’. Tabel:
Klassemen Liga Inggris, divisi pertama dan divisi kedua (lihat Algemeen
Dagblad, 13-11-1950).
Dalam
musim 1949/1950 klub AC Como dari kota Como disebut sebagai klub papan atas
Italia. Namun tidak terinformasikan peringkat berapa di dalam klassemen akhir
kompetisi. Boleh jadi papan atas adalah sepertiga atas, dimana sepertiga bawah
adalah papan bawas. Oleh karena liga utama Italia sebanyak 20 tim, itu berarti
sepertiga atas sekitar 6 klub teratas. Yang jelas setelah usai kompetisi
Italia, klub Como melakukan tour ke Belanda untuk melawan tim-tim sepak bola
setempat. Bagaimana situasinya pada musim berikutnya?

Dalam awal musim kompetisi
liga utama Italia 1950/1951, klub asal kota Como dalam tiga pertandingan awal
berada pada posisi ke-7 dengan poin 4 (lihat De Telegraaf, 25-09-1950). Tidak
terinformasikan apakah poin tersebut merupakan dua kali menang satu kalah atau
satu kali menang dengan dua kali imbang (lihat klassemen sementara). Dalam
berita ini juga ditampilkan hasil klassemen liga di Prancis, Belgia, Belanda
dan Inggris. Catatan: Liga utama Belanda terbagi ke dalam lima wilayah. Nieuwe
Apeldoornsche courant, 03-10-1950: ‘Milan dan Bologna bersama-sama memimpin
liga Italia dengan 8 poin dari 4 pertandingan. Internazionale, klub Wilkes,
berada di posisi ketiga dengan 7 poin dan diikuti oleh Palermo, Juventus, dan
Como, yang masing-masing memiliki 6 poin. Pro Patria, klub yang diperkuat
Lakerberg, berada di posisi yang sama dengan Atalanta, Trieste, Napoli, dan
Florence dengan 3 poin (10–14). Di posisi terbawah adalah Sampdoria dan Lucca,
yang hanya berhasil mengumpulkan 1 poin dari 4 pertandingan’. Algemeen
Dagblad, 16-10-1950: ‘Italia. Hasil pertandingan Divisi Pertama adalah sebagai
berikut: Bologna-Padua 2-2, Florence-Juventus 1-2, Milan-Lucca 2-0, Napoli-Genoa
1-1, Palermo-Novarra 3-2, Pro Patria-Internazionale 2-0, Lazio-Roma 1-0,
Sampdoria-Trieste 3-1, Turin-Como 2-2, Udine-Atalanta 2-1. Milan memimpin
dengan 12 poin, diikuti Bologna dengan 11 poin, Juventus dengan 10 poin, dan
Internazionale serta Lazio dengan 9 poin. Lucca berada di posisi terbawah
dengan 1 poin’. De Maasbode, 31-10-1950: ‘Di Italia, hasil pertandingan yang
dimainkan di Divisi Pertama adalah sebagai berikut: Bologna-Juventus 0-5;
Florence-Atalanta 1-0; Lucca-Lazio 1-1; Mithan-Genoa 4-0; Napoli-Como 7-0; Pro
Patria-Trieste 2-2; Roma-Novarra 0-0; Padua-Sampdoria 2-1; Turin-Palermo 2-1;
Internazionale-Udine 3-1. Setelah delapan pertandingan, Milan memimpin dengan
15 poin, diikuti oleh Internazionale dan Juventus, keduanya dengan 13 poin’.
Dalam
musim 1950/1951 klub AC Como tidak terinformasikan posisinya jelang berakhir
paruh musim. Yang terinformasikan AC Como kalah melawan Roma (yang berada di
posisi bawah). Ini menjadi revans bagi Roma, yang mana pada putaran kedua musim
sebelumnya mengalami kekalahan yang menyakitkan. Juga terinformasikan Faas
Wilkes pada musim 1950/1951 ini sudah pindah ke Internazionale di Milan. Klassemen
sementara di puncak berada Internazionale dan Juventus (juara musim lalu). Pemain
bintang asal Belanda yang kini di Inter, Faas Wilkes bersama Gunnar Nordahl asal
Swedia top skor (masing-masing dengan 10 gol).

Algemeen Dagblad, 13-11-1950:
‘Italia. Hasil pertandingan yang dimainkan pada hari Minggu untuk Divisi
Pertama Italia adalah sebagai berikut: Atalanta-Lazio 1-0; Florence-Trieste
3-1; Turin-Juventus 1-4; Milan-Internazionale 2-3; Napoli-Novara 3-0; Palermo-Padua
3-0; Pro Patria-Genoa 5-2; Roma-Como 2-0; Udine-Bologna 2-1; Sampdoria-Lucea
3-1. Juventus, juara tahun lalu, dan Internazionale saat ini berada di puncak
klasemen, masing-masing dengan 17 poin. Milan, yang kalah dari Internazionale
di kandang, akibatnya naik ke posisi ketiga klasemen dengan 16 poin. Di posisi
terbawah adalah Genoa dan Roma dengan masing-masing 6 poin. Luces menutup
klasemen dengan 5 poin. Pertemuan kandang antara Milan dan Internazionale,
pertandingan ke-109 antara kedua klub, sangat penting karena Milan memimpin
liga dengan Inter di posisi kedua. Sekarang, tentu saja, peran telah berbalik.
Terlebih lagi, tiga pencetak gol terbanyak Italia bertemu, yaitu Faas Wilkes
dan Gunnar Nordahl (masing-masing dengan 10 gol) dan Lorenzi dengan 9 gol. Milan,
12 November. Derbi sepak bola besar di sini antara klub Faas Wilkes,
Internazionale, dan Milano, yang dimainkan di tengah gerimis, berakhir dengan
kemenangan (3-2) untuk Internazionale. Trio penyerang tengah Milano asal
Swedia, Gunnar Nordahl sebagai penggeraknya, membutuhkan waktu cukup lama untuk
beradaptasi. Inter memanfaatkan hal ini, terutama berkat permainan brilian Faas
Wilkes, untuk unggul. Gol pertama dicetak oleh pemain sayap kanan asal
Hongaria, Nyers, dan gol kedua oleh penyerang tengah asal Swedia, Skoglund. Dua
tembakan keras dari Faas Wilkes sangat sulit dihalau oleh kiper Milano. Di
babak kedua, penyerang tengah Milano, Nordahl, mencetak dua gol. Kemudian Inter
mencetak gol kemenangan melalui penyerang tengah Skoglund. Faas Wilkes secara
umum dianggap sebagai pemain terbaik di lapangan’.
Dalam
paruh pertama musim 1950/1951 AC Como berhasil Juventus. Sebagaimana diketahui
Juventus adalah juara musim sebelumnya. Klub AC Como dalam klassemen sementara
berada pada peringkat ke-7 dengan 13 poin. Pada posisi pertama adalah Inter
dengan poin 19 yang disusul Milan di peringkat ke-2 dan Juventus di posisi
ke-3. Setelah dua pertandingan beikutnya posisi menjadi: 1. Internazionale,
Milan, Juventus dan Como (bandingkan dengan saat kalimat ini ditulis, hasil
pecan ke-30: 1. Inter, 2. Milan, 3. Napoli, 4. Como). Lalu apakah dalam hal ini
klub AC Como tetap konsisten?

De waarheid, 20-11-1950: ‘Di
Italia: Karena kekalahan Juventus melawan Como, Internazionale, klub Faas
Wilkes, telah memimpin klasemen sendirian. Internazionale sendiri menang 3-1
melawan Palermo. Klasemen sekarang adalah: Internazionale 19 poin; Milan 18
poin; Juventus 17 poin; Lazio, Palermo, Bologna, dan Como 13 poin. Bologna
menang 5-2 melawan Pro Patria, tim tempat Wim Lakenberg bermain’.
Singkatnya,
pada akhir musim 1950/1951 klub AC Como berada pada peringkat ke-8 dengan 40
poin. Ini seakan kurang lebih sama dengan pencapaian musim, sebelumnya. Yang
menjadi juara adalah Milan dengan 60 poin dan di belakangnya dengan kurang dari
1 poin ditempati Internazionale. Peringkat terbawah adalah Roma 28 poin dan Genoa 27 poin.

De Maasbode, 18-06-1951:
‘Sepak bola di Italia. Internazionale finis 1 poin di belakang juara Milan. Di
Italia, pertandingan terakhir kejuaraan sepak bola telah dimainkan. Milan, yang
dikalahkan 2-1 oleh Roma, tetap memegang gelar juara: mereka memperoleh 60 poin
dari 38 pertandingan dan tidak dapat disusul lagi. Tempat kedua diamankan oleh
Internazionale (klub Faas Wilkes) dengan 59 poin, diikuti oleh Juventus dengan
54 poin. Peringkat selanjutnya adalah: 4 Lazio 46 poin. 5 Florence 44 poin. 6
Napoli 43 poin. 7 Bologna 41 poin. 8 Como 40 poin. 9 Udine 35 poin. 10 Palermo
dan Pro Patria masing-masing 34 poin. 12 Novara dan Sampdoria masing-masing 33
poin. 14 Atalanta 32 poin. 15 Turin, Lucca dan Trieste masing-masing 30 poin.
18 Padua 29 poin. 19 Roma 28 poin. 20 Genoa 27 poin. Hasil kemarin, hari terakhir,
adalah: Bologna-Lazio 7-2, Internazionale-Genoa 5-2, Juventus-Atalanta 6-2,
Lucca-Como 5-0, Padua-Naples 2-0, Pro Patria-Turin 4-0, Roma-Milan 2-1,
Sampdoria-Palermo 5-1, Trieste-Novara 3-0, Undine-Florence 2-2.
Pada musim
1951/1952 AC Como masih berpartisipasi dalam liga pertama Italia. Demikian juga
pada musim 1952/1953. Namun pada musim 1953/1954 AC Como tidak lagi
berpartisipasi. Mengapa? Apakah degradasi? Yang jelas pada musim 1953/1954 ini
jumlah klub yang berpartisipasi dalam liga utama Italia hanya 18 klub saja. Ada
pengurangan dua klub.
Tampaknya AC Como mengalami
degradasi bersama klub lainnya, dan kemudian ada juga yang promosi yang
kemudian jumlah keseluruhan klub yang berkompetisi menjadi jumlahnya hanya 18
klub saja.
Klub kota
Como baru terinformasikan kembali pada tahun 1963 (lihat De Gooi- en Eemlander,
18-06-1963). Disebutkan Messina, Lazio, Roma, dan Bari dipromosikan ke divisi
pertama sepak bola Italia. Klub Lucques, Como, dan Sambenedetto del Tronto
terdegradasi ke divisi ketiga.

De nieuwe Limburger, 06-09-1969:
‘Musim sepak bola di Italia kini juga telah dimulai dengan putaran pertama
piala sepak bola. AC Milan, juara Piala Eropa, hanya bermain imbang melawan
Varese. Hasil putaran pertama piala: Arezzo – Fiorentina 0-2, Bari – Livorno 2-1
Catanzaro – Cagliari 0-l, Palermo – Catanja 4-l, Milan – Varese I-l. Como –
Verona 3-4, Genoa – Sampdoria I-l, Pisa – Inter 0-l, Mantova – Juventus 0-0,
Brescia – Atalanta I-2, Pacenza – Torino I-l, Monza – Vicenza 2-l, Foggia –
Casetana I-0, Regina – Napoli I-l, Perugia – Lazio I-l, Ternana – Eoma 0-0,
Cesana – Modena 0-0, Bologna – Reggiana 2-0’.
Seberapa
lama klub Como di divisi 3 dan kembali ke divisi 2 tidak terinformasikan. Yang
jelas klub Como kembali promosi ke divisi pertama (utama) liga Italia pada tahun 1975 (lihat Het
Parool, 27-06-1975). Disebutkan Verona promosi ke Divisi Pertama Italia,
mengikuti jejak Perugia dan Como. Dalam pertandingan penentu, Verona mengalahkan
Catanzaro dengan skor 1-0.

Het Parool, 06-10-1975: ‘Italia: Ascoli-Fiorentina I-0, Bologna-AC Torino
1-0, lnternazionale-Cesena 0-0. Juventus-Verona 2-1. Napoli-Como 2-0. Perouse-AC
Milan 0-0, AS Roma-Cagliari 1-1, Lazio-Sampdoria 1-0. Het Parool, 13-10-1975:
‘Italia. US Cagliari-AC Ascoli 0-0. AC Cesena-AS Roma 2-0. Como-Juventus 2-2.
Fiorentina-SSC Napoli 1-1. Lazio Roma- lnternationale Milan 1-1, AC Mllan-Sampdoria
1-0. AC Torino-Peruggia 3-0, Verona-AC Bologna 1-0. Algemeen Dagblad,
12-04-1976: ‘Italia. Bologna – Sampdoria 1-0, Cagliari – Lazio 2-1, Como Torino
0-1, Juventus – Ascoli 2-1, Milan – Fiorentina 2-1, Napoli – Inter Milan 3-1,
Roma Perugia 1-2, Verona – Cesena 2-2. Torino 25-38, Juventus 25-37, Milan
25-34, Napoli 25-31, Inter M. 25-30, Cesena 25-28, Bologna 25-28, Perugia 25-27,
Fiorentina, Roma 25-22, Verona 25-19, Lazio 25-18, Ascoli 25- 18, Sampdoria 25-18
Cagliari, Como 25-13’.
utama Italia setelah 22 tahun. Klub Como degradasi ke liga kedua pada musim 1952/1953.
Dalam rentang waktu 22 tahun tersebut klub Como juga sempat degradasi ke divisi
ketiga dan kemudian naik lagi ke divisi kedua. Pada musim 1975/1976 ini klub
Como kembali ke divisi utama liga Italia.

Algemeen Dagblad, 10-05-1976: ‘Italia. Ascoli – Bologna 0-0, Cagliari –
Fiorwitina 2-1, Cesena – Conin 2-0, Inter – Roma 2-0, Juventus – Sampdoria 2-0,
Lazio – Milan 4-0, Napoli – Perugia 4-0, Verona – Torino 0-0. Torino 29-44, Juventus
29-43, Milan 29-38, Napoli 29-36, Inter 29-35, Bologna 29-32, Cesena 29-31, Perugia
29-29, Fiorentina 29-26, Roma 29-24, Verona 29-23, Sampdoria 29-22, Ascoli
29-22, Lazio 29-22, Como 29-20, Cagliari 29-17.
Klub Como
tampaknya kesulitan bersaing di liga utama Italia. Pada pelamn ke-25 klub Como
sempat ke posisi terendah. Pada minggu ke 29 klub Como memang naik satu
peringkat, namun masih ada peluang untuk lolos degradasi dari sisa 3
pertandingan terakhir asalkan klub-klub peringkat bawah lainnya tersandung.

Limburgsch dagblad, 21-06-1976: ‘Roma. Setelah pertandingan pada pekan terakhir divisi utama Italia, telah
dipastikan bahwa Genoa, Catanzaro dan Foggia akan bermain di divisi kedua musim
depan. Klub-klub ini akan menggantikan Ascoli, Como, dan Caglieri’.
Klub Como tidak mampu bertahan di liga utama Italia.
Klub Como terpaksa terdegrasi. Hanya satu musim di liga utama. Klub Como
kembali berkompetisi di divisi kedua. Dalam perkembangannya pada tahun 1980
klub Como kembali promosi.

NRC Handelsblad, 15-09-1980: ‘Italia. Bologna – Ascoli 1-0, Brescia –
Avellino 1-2, Cagliari – Juventus 1-1. Como – Roma 0-1. Fiorentina – Perugia 1-0.
Napels – Cantranzaro 1-1. Torino – Pistoiese 1-0, Udinese – Internationale 0-4’.
De: Volkskrant, 29-09-1980: ‘Italia. Bologna-Rome 1-1, Bescia-Juventus 1-1,
Cagliari-Ascoli 2-0, Como-Internazionale -0, Fiorentina-Catanzaro 1-1,
Napels-Pistoise 1-0, Torino-Avellino 2-0, Udinese-Peregia 1-1. Fiorentina 3 5; Roma
3 5, Inter 3 4, Juventus 3 4, Torino 3 4, Catanzaro 3-4, Napoli 3-3, Cagliari 3-3,
Ascoli 3-2, Como 3-2, Udinese 3-2, Brescia 3-1, Pistoiese, 3-1, Bologna 3 min 1; Perugia 3 min 1; Avellino 3
min 3’.
Klub Como pada musim 1980/1981 masih bisa bertahan di
peringkat 13 dari 16 klub, namun pada musim 1981/1982 kembali degradasi sebagai
peringkat terbawah di dalam klasemen akhir.
Lalu dua musim berada di liga kedua, kembali promosi. Pada musim 1985/1986
menempati posisi 9; pada musim 1986/1987 pada posisi 10. Pada musim 1987/1988
klub Como berada pada posisi 14 dari 16 klub yang secara teoritis terdegradasi,
namun karena ada penambahan jumlah klub pada musim 1988/1989 menjadi 18 klub,
maka klub Como terselamatkan. Akan tetapi pada musim baru 18 klub ini, klub
Como mengalami degradasi sebagai posisi 16.
Setelah lebih dari satu dekade, klub Como kembali
promosi. Untuk memperkuat tim di musim 2002/2003 klub Como mendatangkan Jean-Paul
van Gastel asal Belanda bebas transfer. Jean-Paul van Gastel sendiri musim
sebelumnya di klub Temana di Serie-B, tetapi klubnya tersebut degradasi ke
Serie-C. Namun yang menjadi persoalan, Jean-Paul van Gastel di Temana
sebelumnya kurang menit bermain.

Algemeen Dagblad, 13-07-2002: ‘Van Gastel pindah ke Como. Rotterdam –
Jean-Paul van Gastel melanjutkan kariernya di sepak bola Italia di Como, yang
berhasil promosi ke Serie A musim lalu. Mantan gelandang Feyenoord ini telah
menandatangani kontrak dua musim dengan klub barunya. Van Gastel, yang
mengunjungi De Kuip pada hari Kamis, sebelumnya terikat kontrak dengan Temana
selama enam bulan. Setelah klub tersebut terdegradasi ke Serie C, pemain asal
Brabant ini menjadi pemain bebas transfer. Ia hampir tidak mendapatkan waktu
bermain di Temana, tempat ia memiliki kontrak 2,5 tahun’.
Pada musim 2002/2003 di liga utama Italia (Serie-A) ini,
tampaknya klub Como mengalami kesulitan dalam bersaing dengan klub-klub
lainnya. Klub Como akhirnya terdegradasi. Pengalaman serupa ini pernah dialami
klub Como yang tidak mampu bertahan di liga utama pada musim 1975/1976. Lantas
kapan kembali klub Coma promosi ke liga utama Italia (Serie-A)? Dalam hal
inilah sangat berperan Hartono Bersaudara di klub Como di pegunungan di danau
Como di wilayah Italia utara.
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang
warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di
Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis
artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli
sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi
dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan
pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah
dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers
di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah
Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia.
Forthcoming: “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah
Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

, Terimakasih telah mengunjungi Dului.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.











