Sejarah Indonesia

Sejarah Dr Tjipto (7): Kembali ke Tanah Air, Soewardi Soerjaningrat Lulus Akta Guru LO di Den Haag; Kongres Pendidikan I (1916)

image001 32


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Dr Tjipto di blog ini Klik Disini

EFE Douwes
Dekker, Dr Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat berangkat
dari Tandjoeng Priok pada tanggal 6 September 1913 ke Belanda. Seperti
disebut sebelumnya,  Dr Tjipto
Mangoenkoesoemo karena sakit dan setelah mendapat izin dari pemerintah kembali
ke tanah air pada bulan Agustus 1914. Bagaimana dengan EFE Douwes Dekker dan Soewardi
Soerjaningrat? Yang jelas pada tahun 1916 di Den Haag diadakan Kongres
Pendidikan Hindia.
 Sejarah Bahasa Indonesia


image001 32

Kongres Pendidikan Hindia 1916 (Eerste
Koloniaal Onderwijs-Congres atau Kongres Pengajaran Kolonial Pertama) diselenggarakan
pada tanggal 28–30 Agustus 1916 di Den Haag (Ruang pertemuan Koninklijken
Zoölogischen Botanischen Tuin/Dierentuin). Kongres ini mempertemukan para
pendidik, pejabat pemerintah kolonial, praktisi misi keagamaan, serta mahasiswa
asal Hindia untuk membahas arah kebijakan dan masa depan sistem pendidikan bagi
masyarakat pribumi di Hindia. Tokoh pendidik Belanda, politisi kolonial,
organisasi zending, serta para pelajar pribumi yang sedang menempuh studi di
Belanda (seperti anggota Indische Vereeniging). Tujuan Kongres ini lahir dari
perdebatan mengenai Politik Etis yang dijalankan oleh pemerintah. Terdapat
kesadaran bahwa pendidikan bagi masyarakat pribumi di Hindia Belanda sangat
tertinggal dan diatur secara diskriminatif. Pemerintah kolonial membutuhkan
tenaga kerja pribumi berpendidikan rendah untuk mengisi posisi administratif
sekunder, namun para tokoh pergerakan menuntut sistem pendidikan yang lebih
adil, luas, dan berpihak pada kemajuan bangsa pribumi. Rekomendasi kongres memicu
diskusi lanjutan pada kongres-kongres berikutnya (1917) dan mendorong
berdirinya sekolah-sekolah guru yang lebih tinggi (Hogere Kweekschool-HKS)
(AI Wikipedia) 

Lantas bagaimana sejarah kembali ke
tanah air, Soewardi Soerjaningrat lulus akta guru LO di Den Haag? Seperti
disebut di atas,
Dr Tjipto Mangoenkoesoemo akan melanjutkan studi kedokteran,
tetapi harus kembali ke tanah air.
Soewardi Soerjaningrat berhasil lulus akta guru LO dan kemudian pada
tahun 1916 diadakan Kongres Pendidikan Pertama di Den Haag. Lalu bagaimana sejarah
kembali ke tanah air, Soewardi Soerjaningrat lulus akta guru LO di Den Haag?
Seperti kata ahli
sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe. Sejarah Willem Iskander Pionir Pendidikan Indonesia

image001 33

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya
yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah
pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk
lebih menekankan saja. Dalam hal ini saya bukanlah penulis sejarah,
melainkan
hanya sekadar untuk menyampaikan apa yang menjadi
fakta (kejadian yang benar pernah terjadi) dan data tertulis yang telah
tercatat dalam dokumen sejarah.
 

Kembali
ke Tanah Air, Soewardi Soerjaningrat Lulus Akta Guru LO di Den Haag; Kongres Pendidikan
Pertama 1916

Seperti disebut sebelumnya, Dr Tjipto Mangoenkoesoemo karena sakit dan setelah mendapat
izin dari pemerintah kembali ke tanah air pada bulan Agustus 1914. Sementara EFE
Douwes Dekker telah menetap di Geneve (kini di Swiss). Bagaimana dengan Soewardi
Soerjaningrat? Satu yang jelas, sudah terinformasikan
Soewardi
Soerjaningrat terinformasikan melanjutkan studi di Belanda (lihat Bataviaasch
nieuwsblad, 05-01-1914). Disebutkan Soewardi Soerjaningrat sedang belajar.
Soewardi telah memulai studinya untuk menjadi seorang guru. Pada bulan Juni
disebutkan Soewardi Soerjaningrat juga akan pergi ke Jenewa dalam beberapa
bulan (lihat Delftsche courant, 29-06-1914).
 


Soewardi
Soerjaningrat memiliki latar belakang sekolah dasar Eropa (ELS) di Jogjakarta
dan sekolah kedokteran di Batavia. Soewardi Soerjaningrat diterima di tingkat persiapan Docter
Djawa School/Stovia tahun 1903 (lihat De locomotief, 07-11-1903). RM
Soewardi pada tahun 1904 lulus ujian transisi naik dari kelas satu ke kelas dua
di tingkat persiapan (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 07-11-1904). Pada tahun 1907 ini di Stovia, RM
Soewardi naik dari kelas tiga tingkat persiapan ke kelas satu tingkat medik
(lihat De locomotief, 10-10-1907). Yang juga satu kelas dengan RM Soewardi
adalah Abdoel Rasjid Siregar, Mohamad Joesoef, Mohamad Sjaaf dan Raden Soesilo.
Pada tahun 1909 RM Soewardi dan Abdoel Rasjid Siregar naik dari kelas satu ke
kelas dua tingkat medik (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 15-09-1909).
Sejak ini nama RM Soewardi tidak pernah terinformasikan lagi. Sementara Abdoel
Rasjid Siregar masih terinformasikan pada tahun 1911 naik dari kelas tiga ke
kelas empat tingkat medik (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie,
19-08-1911). Singkatnya: Abdoel Rasjid Siregar lulus sekolah kedokteran Stovia
tahun 1914. Lalu Dr Abdoel Rasjid dingkat sebagai dokter pemerintah yang
ditempatkan di BGD Batavia (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 10-07-1914).
 

Ada apa Soewardi Soerjaningrat ke Jenewa (Jerman) dalam beberapa bulan sementara
sekolahnya berada di Belanda? Boleh jadi saat ini tengah libur studi di
Belanda lalu ke Geneve untuk bertemu dengan koleganya EFE Douwes Dekker. Lalu apakah keduanya
masih membicarakan politik?
 


image001 34

De nieuwe courant, 30-11-1914: ‘Tjipto.
Soer. Nbl. melaporkan: Sabtu siang sekitar pukul setengah dua, telah tiba di
Soerabaja dari Djokja. Ya, ditemani oleh seorang Kristen setempat, Darma Kasoema,
dan disambut di stasiun Kotta oleh presiden perkumpulan De Indische Club, Bapak
W., dan berbagai anggota Eropa dan pribumi dari Insulinde, Tjipto Mangoenkoesoemo,
yang telah kembali dari Belanda, bukan Koesoema. Tjipto, mengenakan jas putih,
sarung, dan penutup kepala, tidak banyak bicara. Setelah memberi salam, ia
segera berangkat ke rumah yang disewanya di Peneleh. Menurut N. Soer. Ct.,
sebuah petisi kepada Ratu beredar di kalangan masyarakat pribumi, meminta izin
kepada Douwes Dekker dan Soewardi, seperti Tjipto, untuk kembali ke Hindia.
Perguruan Tinggi Pelatihan Guru untuk Guru Pribumi . Dr. Hazeu, Direktur
Pendidikan, meresmikan perguruan tinggi pelatihan guru domestik (Hoogere
kweekschool vau inlandsche onderwijzers) di Poerworedjo pada tangga; 19
Oktober. Leeuwarder courant, 30-11-1914: ‘Menurut “N. Soer.
Ct.”, sebuah petisi kepada Ratu beredar di kalangan penduduk pribumi,
meminta izin kepada Douwes Dekker dan Soewardi, serta Tjipto, untuk kembali ke Hindia’.

Lantas mengapa Soewardi Soerjaningrat memilih sekolah keguruan di
Belanda. Bukankah Soewardi Soerjaningrat telah terjun ke dunia politik. Di
Belanda juga ada mahasiswa Indonesia yang mengambil bidang hokum, yang boleh
jadi dapat sesuai dengan aktivitas Soewardi Soerjaningrat selama ini. Yang
studi di bidang hukum di Belanda antara lain RM Noto Soeroto. Satu yang jelas,
lawan-lawan politik mereka di Hindia tidak senang kembalnya Dr Tjipto apalagi
ketiganya.
 


Het
nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 19-12-1914: ‘Kepergian yang
menyedihkan. Ketika trio terkenal Tjipto, Soewardi, dan Douwes Dekker memilih
untuk melarikan diri ke Eropa setelah perintah interniran, yang dimungkinkan
oleh sumbangan dari “rekan partai” dikatakan bahwa ketiganya akan
“belajar”. Tjipto untuk menjadi dokter, Soewardi menjadi guru, dan
duo terkenal Multatuli untuk mempelajari “masalah kolonial”. Semua
itu dibayar “oleh sumbangan”. Para “kawan” menyediakan
biaya hidup mereka. Namun, Tjipto melakukan hal lain selain belajar untuk
menjadi dokter; ia merasa lebih tertarik pada “hubungan antara kulit putih
dan cokelat”, menjadi lumpuh, dan diizinkan kembali ke Jawa karena
sakitnya. Soewardi gagal dalam ujian guru, dan Douwes Dekker tidak lebih dari
beberapa artikel ancaman konyol di Die neue Zeit yang ditujukan kepada
Pemerintah Belanda. Tak perlu diragukan lagi bahwa hasil dari begitu banyak
pengorbanan finansial pasti berdampak melumpuhkan bahkan bagi badan Tadofonds. Memberikan
uang kepada para pemalas dan pengangguran yang menjalani hidup malas di Eropa,
sementara para kontributor Tadofonds bekerja keras untuk mencari nafkah di
tengah panas yang menyengat, sangat tidak produktif; dalam jangka panjang, hal
itu bahkan membunuh antusiasme IP yang paling bersemangat sekalipun.
Sampai-sampai wesel pos mulai berkurang. Tjipto mungkin tidak lagi
“diberikan kepada badan amal”, tetapi bahkan untuk dua orang yang
tersisa dari longsoran IP, tidak ada lagi tunjangan pensiun. Krisis ekonomi,
yang membuat banyak orang disini menganggur, tentu saja langsung terasa dan
dalam semua keparahannya pertama kali oleh para parasit. Karena alasan ini, Douwes
Dekker menganggap bijaksana untuk mendekat sedikit. Dari Swiss yang indah,
menurut laporan terbaru, ia akan turun ke Singapura. “Jauh di mata, jauh
di hati”: ia merasakan kebenaran pepatah ini di dompetnya, dan karena itu
ia akan menetap sedikit lebih dekat dengan sumber dari mana sedekah diberikan
kepadanya. Sang pahlawan tidak lagi memiliki uang untuk bepergian; kas Insulinde
dan para pekerja Tadofonds yang miskin, yang di masa-masa sulit ini hanya bisa
bertahan hidup dengan susah payah, mungkin akan berlumuran darah untuk biaya
perjalanan. Dua ribu gulden harus dikumpulkan “begitu saja”! Betapa
lebih bermanfaatnya uang ini dapat digunakan untuk mendukung para pekerja setia
dan pekerja keras di Belanda, yang bersedia tetapi tidak mampu bekerja dan yang
menderita kekurangan bersama keluarga mereka! Kami menawarkan ide kami untuk
dipertimbangkan oleh semua orang yang bijaksana. Namun, begitu berada di
Singapura, DD akan dapat melakukan studi yang cermat tentang perbedaan
perlakuan terhadap orang Indo di masyarakat di sana (Inggris) dan di koloni
Belanda. Lebih lanjut, dilaporkan bahwa Ibu Douwes Dekker ingin membuka sekolah
swasta di Semarang. Baiklah, kami mendoakan yang terbaik untuk warung
pendidikan wanita ini, tetapi kami masih sedikit ragu untuk mengucapkan selamat
kepada warga Semarang atas guru dadakan ini. Lagipula, dalam surat kabar kami
tanggal 30 April 1911, kami membahas rencana gila yang menghantui pikiran para
kaki tangan DD yang rela dan disalahgunakan pada hari-hari setelah 26 Desember
1912, ketika IP didirikan. Kami menulis: “Dengan menggunakan nama samaran,
hasutan untuk melakukan pembunuhan dilakukan secara terselubung, begitu
terselubung sehingga hakim pidana tidak dapat menangkapnya”. Dan kami ingat
bagaimana Ibu Douwes Dekker, dalam sebuah artikel di Expres yang ditandatangani
dengan nama lengkapnya, mengecam seorang penentang IP dan menyatakan
keterkejutannya bahwa dia tidak diracuni! Apakah mengherankan jika kita tidak
dapat mengucapkan selamat kepada Semarang atas pendidik yang lembut dan
bijaksana ini, dan bertanya-tanya apakah wanita ini memang orang yang tepat
untuk mempercayakan anak-anak kita kepadanya? Waspadalah!’. Catatan: Surat
kabar Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie yang terbit di Batavia
dipimpin oleh Karel Wijbrand, seorang yang di dalam pers berbahasa Belanda di
Hindia termasuk anti nasionalis dan cenderung rasis. Seperti dilihat nanti
Karel Wijbrand akan mendapat lawan yang sepadan dengan jurnalis Parada Harahap.
 


Pers berbahasa Belanda terus
menyoroti kehadiran Dr Tjipto di Hindia. Tampaknya ada kekhawatiran dari mereka
dan merasa tidak adik mencabut penahanan Dr Tjipto, sementara yang berhak untuk
itu adalah Soewardi Soerjaningrat, yang dianggap menjadi korban dari EFE Douwes
Dekker dan Dr Tjipto Mangoenkoesoemo. Dr Tjipto dianggap tetap berbahaya bahkan
jika dibandingkan dengan EFE Douwes Dekker. Hal ini karena pijakan Douwes
Dekker yang didukung oleh orangp-orang Indo-Eropa telah dibersihkan. Saat ini
tampak sudah mulai bergeser yang sebelumnya antara orang Belanda versus Indo/pribumi,
kini di Solo sudah muncul gerakan baru yang berifat reformis (organnya Doenia
Bergerak) yang mengusung oleh pribumi untuk pribumi untuk melawan unsur Eropa
dan melawan unsur Cina.
 


De
Preanger-bode, 17-02-1915: ‘Oleh karena itu, dapat dimengerti bahwa dunia
domestik merasa tidak puas ketika menjadi jelas bahwa Tjipto, yang segera pulih
kekuatannya, terjun bebas ke kehidupan politik. Hal ini dirasakan sebagai
ketidakadilan, terutama terhadap Soewardi, yang secara umum dianggap sebagai
korban dari dua orang lainnya. Oleh karena itu, Soewardi bahkan lebih berhak
atas pengampunan, menurut pemahaman umum manusia bahwa instrumen kurang
bersalah daripada “pencipta intelektual”.
Kami tidak ingin menyembunyikan bahwa, sebagai konsekuensi tidak
langsung, perasaan dan konsep yang sempit (misalnya, terhadap kelompok penting
Indo-Eropa, yang mewakili sekitar 80 persen populasi Eropa) juga telah
dibersihkan. Namun, mari kita tetap pada tindakan saat itu dan sekarang. Dalam
hal ini terdapat kesamaan karakter yang khusus, dan perbedaan esensi yang
khusus. Saat itu, tindakan tersebut berasal dari masyarakat Indo-Eropa untuk
masyarakat Indo-Eropa. Upaya dilakukan untuk melibatkan dunia Tiongkok dan
pribumi di dalamnya. Yang pertama gagal; yang kedua tidak sepenuhnya gagal.
Unsur pribumi, yang ikut terseret, terus menempati posisi sekunder. Saat ini,
tindakan tersebut berasal dari pihak pribumi untuk masyarakat pribumi, melawan
unsur Eropa dan melawan unsur Cina’.
De
Sumatra post, 26-02-1915: ‘Tijpto Mangoenkoesoemo. Baru-baru ini dilaporkan
bahwa Dokter Tjipto Manaroenkoesoemo, yang saat itu berangkat ke Belanda
bersama Douwes Dekker dan Soewardi karena perintah interniran tetapi kemudian
mendapat izin untuk kembali ke Hindia Barat karena sakit, diinterogasi oleh
Asisten Residen di Solo mengenai sebuah artikel yang ditujukan untuk organ
lokal majalah “Doenia Bergerak” (Marco dkk?), yang belum dicetak, tetapi
Asisten Residen telah diberikan akses kepadanya. Terungkap bahwa Tjipto
mengirimkan artikel ini, berjudul: “Justitie mengamoek”, yang menarik
perhatian pada berbagai penganiayaan yang dialami editor lokal baru-baru ini,
pada tanggal 16 Januari. Artikel yang dimaksud telah jatuh ke tangan pemerintah’.
 

Sudah terinformasikan Soewardi Soerjaningrat melanjutkan studi keguruan
di Belanda. Namun tidak/belum terinformasikan sekolahnya dimana? Yang jelas,
orang Indonesia yang sudah menyelesaikan pendidikan keguruan (akta LO dan akta
MO) adalah Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan (pendiri Indische
Vereeniging) di Rijkskweekschool di Haarlem (1906-1910). Sementara saat ini di
kampus tersebut yang studi (keguruan) adalah Tan Malaka (1913-….). Sedangkan,
Sjamsi Widagda sudah menyelesaikan studi keguruannya di sekolah keguruan
sawasta di Den Haag.
 


Sjamsi
Widagda adalah guru muda (lulusan sekolah guru kweekschhol) dari Jogjakarta
yang dikirim oleh Boedi Oetomo pada tahun 1911. Boedi Oetomo menitipkan Sjamsi
Widagda kepada Soetan Casajangan, yang saat itu sebagai guru bahasa Melayu di
sekolah perdagangan (Handelschool) di Haarlem dan Rotterdam. Sjamsi Widagda
lulus ujian guru akta LO pada tahun 1913. Sebagaimana diketahui pada tahun 1913
ini pada bulan Juli Soetan Casajangan kembali ke tanah air; lalu sebaliknya pada
bulan Oktober Soewardi Soerjaningrat tiba di Belanda (bersama Dr Tjipto dan EFE
Douwes Dekker) dan sebulan kemudian menyusulan pada bulan November 1913, Tan
Malaka (bersama Sorip Tagor dan Dahlan Abdoellah) tiba di Belanda. Saat ini
pada tahun 1915 Sjamsi Widagda tengah mengikuti pendidikan bahasa Melayu dan
etnografi di (Universiteit) Leiden. Lantas, apakah Soewardi Soerjaningrat
memilih memilih sekolah keguruan karena sebelumnya Sjamsi Widagda studi
keguruan di Belanda. Sebagaimana diketahui, selagi masih di Bandoeng, Soewardi
Soerjaningrat adalah pengurus Boedi Oetomo cabang Bandoeng.
 

Soewardi Soerjaningrat akhirnya terinformasikan telah menyelesaikan studi
keguruannya dengan mendapat akata guru LO. Sekolah keguruan yang diikuti
Soewardi Soerjaningrat tersebut berada di Den Haag. Namun apakah sekolah keguruan
tersebut sekolah swasta atau sekolah pemerintah tidak terinformasikan. Seperti
disebut di atas Sjamsi Widagda studi keguruan di sekolah keguruan swasta di Den
Haag.
 


De Preanger-bode, 16-06-1915: ‘Personalia, Den
Haag (Pribadi.), 15 Juni. Soewardi telah lulus ujian sertifikat pendidikan
dasar. Ia tidak akan kembali ke Hindia untuk sementara waktu’. De nieuwe
courant, 17-06-1915: ‘Kami menerima pesan bahwa RM Soerjadi adalah mantan
penduduk Den Haag yang berhasil mengikuti ujian pendidikan dasar, sertifikat guru,
di sana Sabtu lalu, seorang pengasingan Hindia Belanda, lebih dikenal dengan
nama Soewardi. Mengingat situasi istrinya, Soewardi telah memutuskan untuk
sementara waktu membatalkan niatnya untuk pergi ke Bangka, tempat penahanannya’.
Catatan: siswa yang diterima di sekolah keguruan di Belanda untuk akta LO adalah
lulusan sekolah menengah tiga tahun (kira-kira lulus SMP). Soetan Casajangan, Sjamsi
Widagda dan Tan Malaka adalah lulusan sekolah guru (kweekschool) tiga tahun di
Indonesia. Besar dugaan syarat yang digunakan oleh Soewardi dalam hal ini
adalah pendidikannya di sekolah kedokteran (Stovia di Batavia), yang mana jika
telah melewati tingkat persiapan (3 tahun) dianggap setara dengan lulus sekolah
menengah 3 tahun. Seperti disebut di atas Soewardi sudah berada di tingkat medik
sebelum keluar dari Stovia.
 

Soewardi Soerjaningrat tampaknya tidak segera kembali ke tanah air.
Disebutkan karena istrinya di Belanda diduga sakit.
 


De
Maasbode, 08-07-1915: ‘Multatuli de Tweede. Dari laporan tahunan asosiasi
“Insulinde” tahun 1914, kita menemukan di Soer. Hbl., antara lain,
bahwa Douwes Dekker saat ini sedang menulis karya standar tentang Hindia, yang
akan diterbitkan sesegera mungkin; jika memungkinkan, juga dalam bahasa Melayu.
Buku tersebut akan muncul dalam 5 jilid dan terdiri dari sekitar 2.000 hingga
3.000 halaman cetak. Awalnya, rencananya — demikian laporan tersebut berlanjut
— adalah bahwa DD, Soewardi, dan pasangan serta anak-anak mereka masing-masing
akan pergi ke Singapura. Keadaan telah menyebabkan perubahan dalam hal ini. DD
hanya akan mengirim istri dan anak-anaknya kembali ke Hindia dan kemudian akan
mengabdikan dirinya pada ilmu politik di Zurich. Sungguh luar biasa betapa
banyaknya pria ini mengadopsi paman buyutnya dan sesama martir, pahlawan Lebak’.
De Sumatra post, 17-09-1915: ‘Para mantan pemimpin IP. Douwes Dekker, yang
tidak berniat untuk ditahan di Timor, akan pergi ke Amerika Serikat. Soewardi,
yang sedang bepergian melalui Jerman bersama Douwes Dekker, ditangkap karena
dikira orang Jepang. Keduanya diberikan izin perjalanan yang sah. Butuh banyak
usaha untuk membebaskan Soewardi; ia ditahan selama 10 jam’.
 

Pada saat ini tahun 1915 yang
menjadi ketua Indische Vereeniging adalah Sam Ratulangi sebagaimana sebelumnya
diberitakan Bataviaasch nieuwsblad, 01-02-1915. Disebutkan Sam Ratulangi
terpilih menjadi ketua Indische Vereeniging menggantikan Noto Soeroto. Sam
Ratulangi juga adalah seorang guru.
 


Pada tahun 1912 Sam Ratulangi diketahui berangkat
ke Belanda dengan kapal ss Rembrandt berangkat dari Batavia tanggal 21 Maret
1912 (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 20-03-1912),
Disebutkan di dalam manifest kapal Sam Ratulangi dengan status guru kelas 1.
Pada bulan September 1915 Sam Ratulangi diberitakan telah lulus ujian dan mendapat
akta guru MO Matematika (lihat Het vaderland, 13-09-1915). Sam Ratulangi dalan
kawan-kawan dari Indische Vereeniging menghadiri pemakaman C Th van Deventer
(lihat Arnhemsche courant, 01-10-1915). Catatan: Sam Ratulangi setelah lulus
ujian sekolah dasar Eropa (ELS) di Tondano berangkat studi ke Batavia di sekolah
Wilhelmina School jurusan tekni dua tahun. Lalu kemudian setelah lulus ujian
guru (kweekschool) di Bandoeng menjadi seorang guru sekolah.
 

Lantas bagaimana dengan mahasiswa Indonesia lainnya di Belanda? Seperti
disebut di atas, Soewardi Soerjaningrat lulus ujian akta guru LO (lihat De
nieuwe courant, 17-06-1915). Yang kuliah di bidang keguruan, sebelumnya
terinformasikan Dahlan Abdoellah lulus ujian guru akta LO di Den Haag (lihat
Het vaderland, 03-06-1915). Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia tinggal
di Leiden lulus ujian akta guru LO di Haarlem (lihat De Maasbode, 12-05-1915).
 


Lalu
bagaimana dengan Tan Malaka? Sejak kehadirannya di Belanda, Tan Malaka tidak
pernah terinformasikan namun tercatat di Rijkskweekschool di Haarlem sejak
tahun ajaran 1913/1914. Mengapa? Yang terinformasikan adalah pada tahun 1915 Sorip
Tagor Harahap lulus ujian Propedeuse di bidang kedokteran hewan di Utrecht.
 

Hingga tahun 1915 ini sudah menunjukkan sudah ada sejumlah orang pribumi
yang telah menyelesaikan studi keguruan di Belanda dengan akta guru LO. Yang
pertama adalah Soetan Casajangan (lulus akta LO pada tahun 1907) dan Sjamsji
Widagda lulus akta LO tahun 1913 dan Sam Ratulangi yang selanjutnya yang lulus
tahun 1915 ini adalah Soetan Goenoeng Moelia, Dahlan Abdoellah dan Soewardi
Soerjaningrat. Namun yang tetap menjadi pertanyaan di bidang keguruan ini adalah
Tan Malaka.
 


Het
nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 06-12-1915: ‘Dalam malajah
Modjopait, Tjipto Mangoenkoesoemo dalam sebuah artikel berjudul “Een good
Teeken” (Pertanda Baik) yang menceritakan bahwa mahasiswa Indonesia di Belanda
telah memutuskan bahwa interaksi satu sama lain harus secara eksklusif
menggunakan bahasa Jawa atau Melayu, dalam interaksi mereka satu sama lain, sementara
para pelanggar kesepakatan ini adalah mereka satu sama lain, sementara
pelanggar kesepakatan ini dihukum. “Bukankah ini hal yang baik bagi kaum
intelektual di Jawa, yang telah mengadopsi kebiasaan selalu berbicara bahasa
Belanda dalam interaksi sehari-hari mereka (satu sama lain)?” tanya
penulis’.
 

Dalam perkembangannya, masih pada tahun 1915 terinformasikan Dahlan
Abdoellah dan Sjamsi Widagda mengikuti program bahasa Melayu dan Etnografi (lihat
Deli courant, 27-12-1915). Disebutkan lulus ujian di Den Haag Mas Sjamsi dan
Dahlan Abdoellah dalam Bahasa Melayu dan Etnografi. Sjamsi Sastra Widagda saat
ini juga sebagai guru bahasa Melayu di sekolah perdagangan Handelschool di
Amsterdam. Sebagai tambahan pada tahun 1915 Mangaradja Soeangkoepon kembali ke
tanah air setelah menyelesaikan sekolah perdagangan Handelschool di Amsterdam.
 


Sjamsi
Widagda dan Dahlan Abdoellah serta Tan Malaka adalah lulusan sekolah guru
(kweekschool) di tanah air. Seperti disebut di atas, Soewardi Soerjaningrat
masuk ke sekolah keguruan di Belanda dengan persyaratan pendidikan yang
ditempuhnya di Stovia (lulus tingkat persiapan, setara lulusan sekolah menengah
tiga tahun). Bagaimana dengan Soetan Goenoeng Moelia? Pada usia belia, setelah
lulus sekolah dasar Eropa (ELS) di Sibolga, Soetan Goenoeng Moelia berangkat
studi ke Belanda pada tahun 1911. Di Leiden, Soetan Goenoeng Moelia mengikuti
pendidikan di sekolah menengah yang kemudian lanjut ke sekolah keguruan.
 

Tunggu deskripsi
lengkapnya

Kongres
Pendidikan Pertama 1916; Indische Vereeniging di Belanda dan Soewardi
Soerjaningrat

Soetan Casajangan telah meninggalkan legasi yang baik di Belanda dalam banyak
hal, seperti persatuan dan pentingnya organisasi, keuatamaan sekolah keguruan
bagi bangsa dan perjuangan yang tanpa henti untuk meningkatkan pendidikan pribumi.
Saat inilah Sam Ratulangi dkk di Belanda mengambil peran lanjutan dari para
senior mereka.
 


Para
perintis di Belanda dalam hal persatuan dan organisasi dimulai oleh guru Soetan
Casajangan sebagai ketua Indische Vereeniging (1908-1910), kemudian dilanjutkan
oleh Dr Ph Laoh (1910/1911), Hoesein Djadiningrat (1911/1912), Dr HJD Apituley
(1912/1913) dan kemudian RM Notot Soeroto (1913/1914) sebagai generasi pertama dan
kini memasuki generasi kedua dimulai guru Sam Ratulangi (1914/1915). Catatan: Soetan
Casajangan adalah anak seorang lulusan sekolah guru di Padang Sidempoean; juga Sam
Ratulangi adalah anak seorang lulusan sekolah guru di Tondano.
 


Tunggu
deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping
pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis,
Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di
waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan:
Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia:
Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di
Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. “Sejarah Catur di
Indonesia”; “Sejarah Klub Como 1907”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah
Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia di Jepang”. Korespondensi:
akhirmh@yahoo.com


, Terimakasih telah mengunjungi Dului.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

To Top