Sejarah Indonesia

Sejarah Dr Tjipto (11): Persatuan Bangsa Menguat, Diasingkan ke P Banda; Kongres PPPKI dan Kongres Pemuda 1928, Batavia

image001


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Dr Tjipto di blog ini Klik Disini

Saat persatuan
bangsa Indonesia menguat, Dr Tjipto Mangoenkoesoemo diasingkan ke Banda.
Persatuan itu dimulai sejak para pemuda melakukan Kongres Pemuda pertama tahun
1926 di Batavia namun tidak lama kemudian meletus pemberontakan komunis. Dr
Tjipto Mangoenkoesoemo kemudian diasingkan pada tahun 1927 sebelum diadakannya Kongres
PPPKI (senior) pada bulan September dan Kongres Pemuda pemuda kedua pada bulan
Oktober 1928 di Batavia.
 Sejarah Mahasiswa di Indonesia


image001

Pemerintah Hindia Belanda
menganggap Cipto sebagai orang yang sangat berbahaya. Dewan Hindia (Raad van
Nederlandsch Indie) pada 15 Oktober 1920 memberi masukan kepada Gubernur
Jenderal untuk mengusir Cipto ke daerah yang tidak berbahasa Jawa. tetapi masih
di pulau Jawa, yaitu ke Bandung dan dilarang keluar kota Bandung. Di Bandung,
Cipto dapat bertemu dengan kaum nasionalis yang lebih muda, seperti Sukarno
yang pada tahun 1923 membentuk Algemeene Studieclub. Pada akhir tahun 1926 dan
tahun 1927 di beberapa tempat di Indonesia terjadi pemberontakan komunis. Dalam
hal ini Cipto juga ditangkap dan didakwa turut serta dalam perlawanan terhadap
pemerintah. Hal itu disebabkan suatu peristiwa, bulan Juli 1927 Cipto
kedatangan tamu seorang militer pribumi. Kepada Cipto tamu tersebut mengatakan untuk
sabotase meledakkan persediaan mesiu, tetapi dia bermaksud mengunjungi
keluarganya di Jatinegara terlebih dahulu. Untuk itu dia memerlukan uang untuk
biaya perjalanan. Cipto menasihati agar orang itu tidak melakukan tindakan
sabotase, dengan alasan kemanusiaan Cipto kemudian memberikan uangnya sebesar
10 gulden kepada tamunya. Setelah pemberontakan komunis gagal dan dibongkarnya
kasus peledakan gudang mesiu di Bandung, Cipto dipanggil menghadap pengadilan dianggap
telah memberikan andil dalam membantu anggota komunis dengan memberi uang 10
gulden. Sebagai hukumannya Cipto kemudian dibuang ke Banda, tanggal 19 Desember
1927
(Wikipedia) 

Lantas bagaimana sejarah persatuan bangsa
Indonesia menguat, Dr Tjipto Mangoenkoesoemo diasingkan ke Banda? Seperti
disebut di atas, diasingkan sebelum Kongres PPPKI (senior) dan Kongres Pemuda
1928 di Batavia. Lalu bagaimana sejarah saat persatuan bangsa Indonesia menguat,
Dr Tjipto Mangoenkoesoemo diasingkan ke Banda?
Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah
nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe. Metode Riset Bisnis

image001 1

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya
yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah
pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk
lebih menekankan saja. Dalam hal ini saya bukanlah penulis sejarah,
melainkan
hanya sekadar untuk menyampaikan apa yang menjadi
fakta (kejadian yang benar pernah terjadi) dan data tertulis yang telah
tercatat dalam dokumen sejarah.
 

Persatuan
Bangsa Menguat, Diasingkan ke Banda; Kongres PPPKI dan Kongres Pemuda 1928 di
Batavia

Persatuan pribumi dibangun susah payah sejak awal di Belanda, saat dimana
jumlah mahasiswa baru 15 pribumi dari berbagai suku bangsa (Batak, Jawa,
Minangkabau, Ambon, Manado dan Soenda) mendirikan persatuan dalam wadah
organisasi Indische Vereeniging tahu 1908. Namun, kini pasca Perang Eropa
(1914-1918), persatuan orang Indonesia di Belanda mulai retak. Apa pasal?
 


Di
Indonesia, gerakan multi etnik yang revolusioner itu kemudian dibingkai dalam
warna yang berbeda. Pertama, terbentuk Indische Partij tahun 1912 yang berwarna
tri-color (merah putih biru). Selanjutnya menyusul terbentuk Sarikat Islam yang
berwarna hijau yang dipimpinj Tjokroaminoto dkk. Lalu kemudian tahun 1914 yang
awalnya tri-color sebagai Indische Sociaal Democratische Vereeniging (ISDV) oleh
Henk Sneevliet, Bergsma dkk yang menganut paham Marxis. Sneevliet ditahan dan
diasingkan tahun 1918. Dalam perkembangannya ISDV bertransformasi menjadi
Partai Komunis Indonesia (PKI) yang berwarna merah tahun 1920 oleh Semaoen,
Darsono, Alimin serta menyusul Bergsma dan Tan Malaka tahun 1921. Indische
Partij yang sempat dilarang tahun 1913 (EFE Douwes Dekker, Dr Tjipto
Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat ditahan dan mengasingkan diri ke
Belanda), kembali muncul tahun 1919 sebagai Nationaal Indische Partij (NIP).
Tahun 1921 Semaoen ditahan dan mengasingkan diri ke Shanghai (dimana Sneevliet
berada, lahu Vladivostok menuju Moscow dan kembali ke Indonesia tahun 1922;
demikian juga Bergsma dan Tan Malaka menyusul tahun 1922 (yang mana nama
Semaoen sudah dikenal di Moscow). Tan Malaka dari Belanda ke Moscow (tahun 1922
terbentuk Uni Soviet; tahun 1917 Kaisar Rusia turun tahta seiring dengan
kemenangan Kaum Bolshevik). NIP tidak lama kemudian pada tahun 1923 membubarkan
diri. Awalnya, SI dan PKI menjadi dekat satu sama lain, bahkan terkesan di
dalam tubuh SI kemudian mencul SI-Putih (warna hijau) dan SI-Merah (warna
merah), tetapi hubungan keduanya retak dan berakhir tahun 1923 (SI Merah di
tubuh SI dibersihkan). Semaoen ditahan dan mengasingkan diri ke Belanda. Persaingan
ketat antar SI dan PKI dimulai bahkan hingga di Belanda di tubuh organisasi
mahasiswa Indische Vereeniging (yang sedikit diubah namanya menjadi
Indonesische Vereeniging). Semaoen yang ditangkap di Indonesia berangkat ke
Belanda tiba bulan September 1923 dan mulai mempengaruhi mahasiswa. Saat ini
yang menjadi ketua Indische Vereeniging adalah Iwa Koesoema Soemantri.
 

Raden Soetomo sebagai ketua dengan
sekretaris Mohamad Sjaaf mengakhiri kepengurusan Indische Vereeniging akhir
tahun 1921. Setelah menyelesaikan studinya, Raden Soetomo belum segera kembali
ke tanah air. Pengurus baru Indische Vereeniging (1921/1922) adalah Herman
Kartawisastra sebagai ketua Indische Vereeniging dan sekretaris: PL Augustin
dan bendahara Mohamad Hatta. Lantas siapa yang menjadi ketua Indische
Vereeniging untuk periode 1922/1923?
 


Het Vaderland : staat- en letterkundig nieuwsblad,
09-02-1923: ‘Mahasiswa Indonesia di Belanda. Kepada Yth. Editor, Dalam Surat
Kabar Sore Anda tanggal 5 Januari yang lalu, terdapat kutipan dari artikel
karya aden S Nimpoeno (di Rotterdam), di mana penulis mendesak agar mahasiswa
Jawa yang belajar disini di negara ini sebisa mungkin diberikan akomodasi oleh
komunitas Kristen ortodoks. Sehubungan dengan hal ini, saya ingin menyampaikan
beberapa hal berikut kepada Anda. Bahwa Nimpoeno, seorang Kristen yang taat,
berupaya untuk menarik mahasiswa Jawa ke gerakannya bukanlah hal yang perlu
dicela, bahkan patut diapresiasi. Cara yang ia gunakan untuk melakukannya.
Namun, menurut saya lebih tepat jika mahasiswa Jawa yang dimaksud memaksa
mereka untuk meninggalkan karyanya, antara lain karena nada sugestif yang ia
gunakan. Karena Nimpoeno menulis bahwa orang Jawa di Belanda datang “di
bawah prinsip yang teguh”. Ia menyatakan bahwa orang Jawa di sini mudah
“bergabung dengan konvensi” dan seterusnya. Pernyataan Nimpoeno tidak
dapat didasarkan pada pengamatannya sendiri. Karena dari orang Jawa dan orang
Indonesia lainnya yang mengirim mereka ke Belanda, Nimpoeno hanya mengenal sebagian
kecil, paling banyak 6 orang, dan dengan mereka ia bahkan tidak menjalin kontak
secara teratur. Ia belum pernah menghadiri pertemuan Asosiasi Indonesia
(asosiasi orang Indonesia yang belajar di Belanda), meskipun ia telah diundang
lebih dari sekali. Ketua asosiasi sebelumnya pernah berani menyarankan agar ia
menjadi anggota asosiasi, tetapi N belum bergabung dengan orang Indonesia. Pada
kongres yang diselenggarakan oleh NC SV di Hardenbroll, Lunteren dan Nurnpeet,
peserta kongres dari Jawa dan Indonesia lainnya tidak pernah mendapat
kesempatan untuk berkenalan dengan N. Menurut pendapat saya, sulit bagi N untuk
menerima bahwa, meskipun N bahkan tidak mengenal kita secara sepintas, ia
berhak untuk menghakimi kita. Ia bahkan tidak akan mampu menentukan apakah para
mahasiswa Jawa memiliki prinsip atau tidak. Jika N memang mengenal mahasiswa
Jawa dan Indo-Eropa lainnya dengan baik, ia tidak akan takut bergabung dengan
komunisme. Bagaimanapun, ia pasti tahu bahwa masa depan rekan senegara kita sangat
dekat di hati kita dan marilah kita—seperti N sendiri—mempersiapkan diri sebaik
mungkin untuk tugas kita di masa depan’. De Indische courant, 16-04-1923: ‘Asosiasi
Indonesia. Kami telah menerima informasi dari Belanda: Menanggapi manifesto
konsentrasi radikal, Asosiasi Indonesia di negara ini dengan suara bulat
mengadopsi mosi berikut pada pertemuan yang diadakan beberapa hari yang lalu,
yang telah dikirimkan kepada dewan konsentrasi radikal: Asosiasi Indonesia,
setelah membaca manifesto konsentrasi radikal, dengan mempertimbangkan keadaan
politik di Indonesia, setelah mendengar debat dalam pertemuan tersebut, dan
berpendapat bahwa kepentingan nasional Indonesia menuntut, bahwa semua kekuatan
nasional Indonesia harus bekerja sama dalam perjuangan bersama mereka untuk
tatanan baru di Indonesia, memutuskan untuk menyatakan dukungannya terhadap
aspirasi konsentrasi radikal’. Het volk : dagblad voor de arbeiderspartij, 17-10-1923:
‘Telegraaf memuat artikel yang dikirimkan oleh Indonesische Vereeniging yang
didirikan di negara ini untuk menentang UU Angkatan Laut, yang menurut
pengirimnya, tekanan finansialnya menyebabkan gejolak dan kebencian yang
ekstrem di Hindia Belanda. Asosiasi tersebut sebagian besar terdiri dari warga
negara Indonesia yang tinggal di Belanda’. De tribune: soc. dem. Weekblad, 29-10-1923:
‘Koreksi. Indonesische Vereeniging meminta kami untuk menyertakan koreksi
berikut: Dalam surat kabar Anda tanggal 25 Oktober lalu, dalam laporan pidato
Bapak Wijnkoop di DPR, muncul sebuah bagian yang menimbulkan kekhawatiran akan
protes terhadap bagian yang muncul dalam surat kabar Anda tanggal 16 Oktober
lalu. Bagian yang dimaksud berbicara tentang keberatan berdasarkan hati nurani
pada tahun pertama keberangkatan ke Indonesia. – Penduduk pribumi tidak
keberatan. Pasal 45 didominasi oleh kepahitan mayoritas; sekarang bukan rakyat
Indonesia yang tidak keberatan, atau rakyat Jepang. Justru mayoritas yang
menang atas pertimbangan, yang sampai akhir tidak dapat diprediksi’.
 


Soetomo kembali ke tanah air
bulan April 1923 (lihat De Tijd: godsdienstig-staatkundig dagblad, 27-04-1923).
Disebutkan dalam manifest kapal ss Prinses Jualiana tercatat nama Raden Soetomo
bersama istri berangkat tanggal 28 April dengan tujuan akhir Batavia. Juga
tercatat nama Raden Soeratmo. Pada tahun 1923 Dr Soetomo, Mr Singgih dkk di
Soerabaja mendirikan studi klub Indonesia. Pada tahun 1923 ini Herman
Kartawisastra lulus sarjana di Indologische studie bidang ekonomi politik (Staathuishoudkundig)
bulan Oktober (lihat De avondpost, 15-10-1923). Herman Kartowisastro
bersiap-siap kembali ke tanah air sehubungan dengan penempatannya sebagai
pejabat di Indonesia.


De
Indische courant, 16-04-1923: ‘Asosiasi Indonesia. Kami telah menerima
informasi dari Belanda: Menanggapi manifesto konsentrasi radikal, Asosiasi
Indonesia di negara ini dengan suara bulat mengadopsi mosi berikut pada
pertemuan yang diadakan beberapa hari yang lalu, yang telah dikirimkan kepada
dewan konsentrasi radikal: Asosiasi Indonesia, setelah membaca manifesto
konsentrasi radikal, dengan mempertimbangkan keadaan politik di Indonesia,
setelah mendengar debat dalam pertemuan tersebut, dan berpendapat bahwa
kepentingan nasional Indonesia menuntut, bahwa semua kekuatan nasional
Indonesia harus bekerja sama dalam perjuangan bersama mereka untuk tatanan baru
di Indonesia, memutuskan untuk menyatakan dukungannya terhadap aspirasi
konsentrasi radikal’.
 

Soetomo kembali ke tanah air bulan April 1923 (lihat De Tijd:
godsdienstig-staatkundig dagblad, 27-04-1923). Disebutkan dalam manifest kapal
ss Prinses Jualiana tercatat nama Raden Soetomo bersama istri berangkat tanggal
28 April dengan tujuan akhir Batavia. Juga tercatat nama Raden Soeratmo. Pada
tahun 1923 Dr Soetomo, Mr Singgih dkk di Soerabaja mendirikan studi klub
Indonesia. Pada tahun 1923 ini Herman Kartawisastra lulus sarjana di Indologische
studie bidang ekonomi politik (Staathuishoudkundig) bulan Oktober (lihat De
avondpost, 15-10-1923). Herman Kartowisastro bersiap-siap kembali ke tanah air
sehubungan dengan penempatannya sebagai pejabat di Indonesia.
 


Indische
Vereeniging didirikan oleh Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan pada tahun
1908 di Leiden. Tahun terakhir dari fase pertama ini dipimpin oleh RM
Notodininggrat (1916/1917). Sehubungan dengan Kongres Hindia tahun 1917 telah
mengadopsi nama Indonesia, maka fase kedua dimulai. Majalah Hindia Poetra organ
Indische Vereeniging yang sebelumnya dipimpin Soewardi Soerjaningrat menjadi
organ bersama seluruh mahasiswa asal Hindia (Belanda, Cina dan pribumi) yang
diberi nama Het Indonesisch Verbond van Studeerenden. Dalam fase ini organisasi
pribumi tetap dengan Indische Vereeniging, mahasiswa Cina tetap dengan Chung
Hwa Hui. Mahasiswa Belanda sendiri tergabung di berbagai organisasi mahasiswa
seperti organisasi mahasiswa Indologi dimana terdapat HJ van Mook. Redaktur
Hindia Poetra pada tahun 1922 adalah Darmawan Mangoenkoesoemo (pribumi), Kho Khih
Hoen (Cina) dan Nona Mr EM Klaassen (Belanda). Seperti disebut di atas, pada
tahun 1922 ini pengurus Indische Vereeniging adalah Herman Kartawisastra
sebagai ketua dan sekretaris: PL Augustin dan bendahara Mohamad Hatta. Fase
ketiga Indische Vereeniging dimulai pada tahun 1923. Seperti disebut di atas,
pengurus baru Indische Vereeniging ini memutuskan untuk menyatakan dukungannya
terhadap aspirasi konsentrasi radikal.
 

Dengan fase baru Indische Vereeniging di Belanda, lantas apakah para anggotanya
akan tetap solid atau sebaliknya akan terjadi perpecahan? Lalu, siapa saja yang
menjadi pengurus Indische Vereeniging 1922/1923 ini? Tidak pernah
terinformasikan. Mengapa? Tampaknya kepengurusan Indische Vereeniging bersifat
kolegial. Mengapa begitu?
 


Het
volk: dagblad voor de arbeiderspartij, 21-08-1924: ‘Gerakan serikat pekerja. Propaganda komunis di
kalangan pelaut. Kantor pelabuhan dan sebuah asosiasi Jawa. Pada kongres RVI
(Roode Vak-Internationale) yang terbaru, diumumkan bahwa RVI telah mendirikan
kantor pelabuhan di sejumlah tempat, termasuk Rotterdam. Menanggapi hal ini,
kami menanyakan tentang propaganda ini, dan kami mengetahui hal-hal berikut:
Kantor pelabuhan di Rotterdam dipimpin oleh Lanjjkemper, yang sekarang menjadi
ketua Federasi Pekerja Transportasi di Amsterdam. Tujuan utama kantor pelabuhan
adalah propaganda dan organisasi internasional. Program kerjanya adalah sebagai
berikut: Pembentukan kelompok revolusioner di dalam serikat pekerja sosial
demokrat dan kerja sama dengan organisasi yang berafiliasi dengan RVI.
Pembentukan komite aksi di kota-kota pelabuhan di seluruh dunia untuk mencegah
pengiriman senjata dan persiapan pemogokan umum pelaut jika terjadi perang.
Organisasi dan propaganda melawan fasisme dan perjuangan melawannya melalui
boikot terhadap pelaut, kapal, dan serikat pekerja fasis, serta pembentukan
detasemen pekerja bersenjata untuk membela diri. Dukungan bagi pelaut yang
menganggur, memperjuangkan jam kerja delapan jam sehari untuk pelaut dan enam
jam sehari untuk juru bakar di kapal berbahan bakar batubara; dan akhirnya,
memerangi para pekerja pengganti (scab). Sebagian melalui kerja kantor
pelabuhan Rotterdam, sebuah asosiasi pelaut Jawa “Sarikat Pegawei Laoet
Hindia” telah didirikan, yang kantor pusatnya terletak di Amsterdam.
Menurut pernyataan mereka sendiri, asosiasi ini memiliki 1.200 anggota, yang
semuanya bekerja di kapal-kapal Rotterdamsche Lloyd dan perusahaan
“Nederland”. Dewan eksekutif terdiri dari Semaoen, ketua, Soemantri,
sekretaris, dan Kordenoord, bendahara. Selain itu, ketua kelompok kapal juga
merupakan anggota dewan eksekutif ketika mereka berlabuh di Rotterdam atau
Amsterdam. Asosiasi ini, yang secara alami berafiliasi dengan RVI, akan
menerbitkan sebuah jurnal, “Sinar Laoet Hindia”, yang kantor
redaksinya terletak di Amsterdam di rumah Bergsma’. Catatan: RVI (Roode
Vak-Internationale) adalah Red International of Labour Unions di Belanda.
Bergsma adalah penerus Henk Sneevliet di Jawa yang juga kemudian diusir dari
Hindia.
 

Pada masa ini Semaoen sudah
terinformasikan berada di Belanda. Semaoen bersama Soemantri telah mendirikan asosiasi
pelaut Jawa di Amsterdam “Sarikat Pegawei Laoet Hindia” telah
didirikan, yang kantor pusatnya terletak di Amsterdam. Dalam kepengurusan Semaoen
sebagai ketua, Soemantri sebagai sekretaris, dan Kordenoord sebagai bendahara. Soemantri
(dalam hal ini Iwa Koesoema Soemantri) adalah mahasiswa bidang hokum di Leiden.
Pada saat ini terinformasikan dua hal yang bersamaan: Indonesische Vereeniging
menentang pendirian studi klub Indonesia di Soerabaja; dan diterbitkannya
majalah baru sebagai organ dari Indonesische Vereeniging yang diberi nama “Indonesia
Merdeka”.
 


De Indische courant, 09-05-1924: ‘De Javaansche
Intellectueelen (Para Intelektual Jawa). Sebuah surat dikirim ke kantor Aneta
di Den Haag: Indonesische Vereeniging mengadopsi mosi berikut: Indonesische
Vereeniging, yang bertemu pada tanggal 5 April, setelah mencatat pembentukan
“Persatuan Intelektual Jawa” di Soerabaja; setelah membaca
prinsip-prinsip yang dianggap perlu diadopsi oleh JIB sebagai prinsip
panduannya, setelah mendengar debat, dengan mempertimbangkan bahwa: 1.
propaganda JIB akan mengarah pada chauvinisme Jawa, yang bertindak sebagai
penghalang bagi gagasan Persatuan Indonesia; 2. karakter eksklusif dari
Persatuan tersebut merugikan Gerakan Rakyat Indonesia; 3. dengan demikian
kebijakan “pecah belah dan kuasai” dikedepankan; 4. gerakan tersebut
selanjutnya bertentangan dengan prinsip-prinsip yang dijunjung tinggi oleh Javaansche
Intellectueelen.; menyatakan ketidaksetujuannya yang kuat terhadap pembentukan
Persatuan Intelektual Jawa; menginstruksikan Dewan untuk menyampaikan mosi ini
kepada Dewan JIB di Indonesia dan mempublikasikannya dan melanjutkan agenda
rapat’. Het Vaderland: staat- en letterkundig nieuwsblad, 16-08-1924: ‘INDONESIA
MERDEKA. Kami menerima terbitan nomor 4 dari volume berkala ini. Ini adalah
organ Indonesische Vereeniging di Leiden dan dibaca oleh para anggotanya serta
beberapa orang di luar asosiasi tersebut dengan penuh minat’.
 

Klub Studi Indonesia yang
didirikan di Soerabaja adalah klub studi bagi para intelektual Indonesia di
Soerabaja yang diinisiasi oleh Dr Soetomo dan Mr Singgih. Sebagaimana diketahui
Soetomo adalah ketua Indonesische Vereeniging periode 1920/1921 (yang pulang ke
tanah air pada bulan April 1923).
 


Surat kabar yang terbit di Batavia Het nieuws van
den dag voor Nederlandsch-Indie, 21-12-1924 meringkas isi pandangan Indonesische
Vereeniging di bawah judul Indonesia merdeka dari Belanda dengan memberi
komentar di bawahnya: 1. Pemisahan Indonesia dari Belanda secara penuh, segera,
dan tanpa syarat; 2. Kebebasan pers, berkumpul, dan berorganisasi sepenuhnya,
serta kebebasan politik bergerak dan mogok kerja yang tidak terhalang bagi
pekerja, petani, dan tentara Indonesia; 3. Pencabutan semua undang-undang dan
tindakan luar biasa terhadap gerakan revolusioner dan nasional populer (hak-hak
yang berlebihan). Pencabutan sanksi pidana secara segera; 4. Penghentian semua
penuntutan dan larangan yang direncanakan terhadap PKI (Partai Komunis
Indonesia) dan Sarekat Rajat. Pembebasan segera semua tahanan politik dan
interniran dari gerakan Merah dan nasional populer. Penghapusan eksternalisasi.
Jika sekarang diketahui bahwa “partai” terdiri dari sedikit lebih
dari seribu orang yang tidak berpendidikan dan berteriak-teriak, yang telah
tumbuh dewasa. Jika ada unsur-unsur pengangguran “profesional” yang
belum dewasa dan sejenisnya, yang dipimpin oleh individu-individu seperti
Bergsma, van Burink, dan Sneevliet, setidaknya sejauh menyangkut Hindia
Belanda, maka kita hanya bisa mengangkat bahu menanggapi omong kosong bodoh
ini. “Hindia bebas dari Belanda!” Ya…!—’ Dan berapa lama ia akan
tetap “bebas”? Frasa terakhir: “Penghapusan
eksternalisasi,” sementara itu, jelas menunjukkan dari mana ini berasal. Yang
lebih lucu lagi adalah yang berikut: “Untuk memerangi Militerisme.”
(Para Tuan sama sekali tidak tahu tentang “Militarisme” seperti
halnya mereka tidak familiar dengan arti kata “Kapitalisme”.
Seseorang yang memiliki uang di sakunya disebut kapitalis; negara dengan
tentara disebut militeristik. Itulah cara tercepat untuk menyelesaikannya!)
Langsung ke intinya! Saya membaca di bagian itu, satu demi satu: 1.
Pembongkaran militerisme Belanda. Pembubaran segera angkatan darat dan angkatan
laut yang ada serta polisi militer. Pelarangan Garda Dalam Negeri sukarelawan
dan penjaga sipil, serta organisasi militer fasis lainnya. 2. Perlawanan paling
keras terhadap rancangan undang-undang angkatan laut yang baru. 3. Perlawanan
sengit terhadap upaya untuk menciptakan angkatan darat polisi. Bagus sekali!
Maka, prajurit yang baik, dan bukan pelaut, tanpa alasan apa pun. Tetapi
bagaimana hal itu sesuai dengan Pasal 5 hingga 8: 5. Pencabutan semua tindakan
yang menghalangi kebebasan politik dan organisasi prajurit dan pelaut. 6.
Dukungan untuk semua tindakan prajurit dan pelaut untuk meningkatkan posisi
mereka; dukungan untuk perjuangan melawan korps perwira, melawan polisi
militer, dll. 7. Pembentukan dewan prajurit dan pelaut untuk melakukan
perjuangan tersebut. Hubungan khusus prajurit dan pelaut dengan organisasi
proletariat yang sadar kelas. 8. Persatuan organisasi dan politik cadangan
proletar dan anggota Garda Dalam Negeri. Kebebasan prajurit dan pelaut;
tindakan mereka? Pembentukan dewan oleh warga negara ini? Dan tidak ada lagi
tentara dan pelaut! Hanya pekerja dengan batu paving dan revolver, menurut
Pasal 4:4. Persenjataan kelas pekerja di bawah kepemimpinan organisasi yang
berdiri di atas dasar perjuangan kelas. Haruskah mereka “berperang”
melawan perwira mereka, dan membentuk dewan? Mengorganisir diri dan bersatu? Melawan
siapa?? Program ini berakar kuat pada prinsip-prinsip komunis, itu sudah
dipahami! Tapi itu tidak terlalu logis!’
 


Namun satu yang penting
dalam hal ini kepengurusan Indonesische Vereeniging pada dua periode ini (1922/1923
dan 1923/1924) dapat dikatakan nama-namanya tidak terinformasikan. Bahkan di
dalam buku “Buku Peringatan Asosiasi Indonesia” tidak disebut siapa
saja editornya. Namun yang jelas di dalam manifesto Indonesische Vereeniging
nomor “4. Penghentian semua penuntutan dan larangan yang direncanakan terhadap
PKI (Partai Komunis Indonesia) dan Sarekat Rajat. Pembebasan segera semua
tahanan politik dan interniran dari gerakan Merah dan nasional populer.
Penghapusan eksternalisasi” tampaknya berkaitan dengan kehadirian Semaoen yang
bekerjasama dengan Soematri di Belanda dalam pembentukan asosiasi pelaut “Sarikat
Pegawei Laoet Hindia”. Lalu apakah dalam hal ini pengurus (ketua) Indonesische
Vereeniging saat ini adalah Iwa Koesoema Soematri?


Algemeen Handelsblad, 28-12-1924: ‘Baru-baru ini
kami memperoleh sebuah buku kecil yang sangat menarik, meskipun sebagian besar
isinya tidak terlalu menyenangkan untuk dibaca. Kami merujuk pada “Buku
Peringatan Asosiasi Indonesia”, yang bertanggal 1908 dan 1923, namun baru
terbit tahun ini. Kami tidak menemukan penerbit atau bahkan percetakan yang
disebutkan, tetapi buku kecil ini tampaknya ditulis hanya untuk anggota
asosiasi. Karya kecil ini, yang muncul di bawah tanggung jawab “Komite
Editorial” (yang tidak disebutkan) dan yang hampir semua esainya tidak
bertanda tangan’.
 Catatan: Besar dugaan pandangan Indonesische Vereeniging yang dikutip
surat kabar di atas diduga berasal dari buku yang disusun oleh suatu komite
dalam penerbilan buku “Buku Peringatan Asosiasi Indonesia 1908-1923”.

Sepak terjang kepengurusan Indonesisch Vereeniging tampaknya sudah
diketahui publik. Salah satu yang menjadi ‘korban” dari kepengurusan Indische
Vereeniging dan “Buku Peringatan Asosiasi Indonesia 1908-1923” ‘no name’ saat
ini adalah RM Noto Soeroto. Sebagaimana diketahui Noto Soeroto pernah menjadi
ketua Indische Vereeniging pada periode 1912/1913. Noto Soeroto setelah lulus
sarjana hukum (Mr) menetap di Belanda dan tetap menjadi anggota Indische
Vereeniging/Indonesisch Vereeniging.


Algemeen Handelsblad,  30-12-1924: ‘Indonesisch Vereeniging”. Contoh
lain dari sikap tercela Indonesisch Vereeniging: Anggota dewan terkenal Mas
Noto Sooroto, menurut kabar yang kami dengar, baru-baru ini dikeluarkan sebagai
anggota asosiasi tersebut karena terlalu pro-Belanda. Bapak NS sekarang akan
mencoba mendirikan asosiasi yang moderat. Mungkin upayanya akan lebih berhasil
daripada upaya beberapa mahasiswa Eropa di Leiden yang tertarik pada Hindia
Belanda, yang mencoba melakukan hal yang sama di sana sekitar seminggu yang
lalu’.

Pada periode 1924/1925 ini kepengurusan Indonesisch Vereeniging dipimpin oleh Soekiman sebagai
ketua dan Soerono sebagai sekretaris. Soekiman adalah lulusan sekolah
kedokteran di Batavia (Stovia) pada tahun 1922 (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 20-12-1922).
Disebutkan Soekiman lahir di Solo. Yang lulus bersama adalah Abdoel Moenir
Nasoetion. Di bawah mereka yang lulus semi-dokter adalah Mohamad Amir dan
Basoeki.
 


Dr
Soekiman kemudian terinformasikan berangkat ke Belanda (lihat Deli courant, 26-07-1923).
Di dalam manifest kapal ss Johan de Witt berangkat tanggal 21 Juli dari
Tandjoeng Priok dengan tujuan akhir Belanda yang mana tercatat nama Soekiman
Wirjosandjojo. Dalam daftar juga tercatat nama RM Ichsan. Pada tahun 1924
Soekiman lulus ujian dokter pertama (le gedeelte van het artsexamen) di
Amsterdam (lihat De Amstelbode, 29-10-1924).

 

Pencoretan nama Noto Sooroto
dari daftar keanggotaan Indonesisch Vereeniging (oleh pengurus lama) mengundang
minat dokter JB Sitanala untuk membela rekannya dengan menulis yang dimuat pada
Algemeen Handelsblad, 03-01-1925. Lalu kemudian pengurus baru
(Soekiman/Soerono) menyikapi tulisan yang diterbitkan JB Sitanala di surat
kabar.
 


JB Sitanala, pertama mengomentari “Buku
Peringatan Asosiasi Indonesia, edisi 1923/4” yang tidak disebut para penulisnya
(dalam komite penulisan). JB Sitanala menegaskan bahwa pendapat dalam buku itu adalah
pendapat komite [tanpa nama]. JB Sitanala selanjutnya menegaskan bahwa pendapat
tersebut di dalam buku bukanlah pendapat massa, karena massa (para anggota) belum
menyatakan pendapat apa pun. JB Sitanala menambahkan bahwa Noto Soeroto
menentang keras anonimitas di dalam buku, yang awalnya juga merupakan bagian
dari Komite Redaksi, sehingga mengakibatkan Noto Soeroto dipaksa keluar dari
komite redaksi.
JB Sitanala mengakhiri tulisannya:
“Sekarang, saatnya bagi warga Indonesia yang berbeda pendapat untuk juga
menyatakan pendapat mereka di depan umum, karena mereka tidak diberi kesempatan
untuk melakukannya di dalam Asosiasi’.
 

Pengurus baru
(Soekiman/Soerono) melayangkan surat kepada JB Sitanala atas tulisannya di
surat kabar yang dibuat di Amsterdam, tanggal 5 Januari 1925. Lalu JB Sitanala
menjawab surat kabar itu di surat kabar, berikut melampirkan isi surat pengurus
Indonesisch Vereeniging yang dilayangkan kepadanya.
 


Algemeen Handelsblad, 09-01-1925: ‘Surat Terbuka
kepada “Asosiasi Indonesia”. Tulisan saya yang berjudul “Een
booze geest” (Suatu Roh Jahat) di “Handelsblad” tanggal 3 Januari
1925, tidak memberi alasan kepada dewan atau anggota asosiasi Anda untuk
membalas saya. Namun, saya menerima surat berikut dari dewan Anda, yang saya
reproduksi di sini secara lengkap: Amsterdam,
5 Januari 1925. Yang Terhormat, Tuan, Menanggapi tulisan Anda di “Algemeen
Handelsblad” tanggal 3 Januari 1925 (Edisi Sore), yang kami anggap tidak
hanya tidak disiplin tetapi di atas segalanya adalah fitnah (yang harus mereka
kualifikasi tulisan Anda karena tidak diberi kesempatan untuk melakukannya di
dalam Asosiasi itu sendiri), kami merasa perlu untuk mengajukan usulan
pengusiran Anda pada rapat umum berikutnya, yang akan diadakan pada hari
Minggu, 11 Januari 1925, di tempat yang akan ditentukan kemudian. Kami
mengharapkan Anda menunjukkan keberanian untuk hadir dalam pertemuan tersebut
bersama rekan-rekan Anda yang sepaham, agar perdebatan mengenai pandangan Anda
dan pandangan kami dapat dilakukan. Hormat kami, Soekiman, Ketua. Soerono,
Sekretaris.
Dengan senang hati saya mengizinkan dewan ” Indonesisch
Vereeniging” untuk berpendapat bahwa saya tidak cukup “berani”
untuk membela diri pada rapat umum mendatang dan, terlebih lagi, tidak cukup
pengecut untuk mengungkap rencana jahat dan kesombongan kalian. Lebih jauh
lagi, saya tidak ingin dan tidak punya waktu untuk menghabiskan sepanjang sore
marah-marah saat menghadiri rapat seperti rapat umum terakhir, dimana anggota
tertua dan salah satu pendiri asosiasi Anda diusir dengan cara yang
bertentangan dengan semua rasa kesopanan dan ketertiban. Bapak Raden Mas Noto
Soeroto benar-benar “dibantai” oleh Anda semua, tetapi itu demi
kehormatan saya. Saya meminta Anda untuk segera mengusir saya sebagai anggota
asosiasi Anda. Cukup. JB Sitanala, Indisch arts’.
 

Tulisan pertama JB Sitanala
tampaknya telah membuat pengurus Indonesisch Vereeniging langsung mengusirnya
(sebagaimana isi surat yang dilayangkan kepada JB Sitanala). Alih-alih untuk
menerima undangan hadir dalam pertemuan yang akan diadakan tanggal 11 Januari
1925, JB Sitanala langsung menjawab “Saya meminta Anda untuk segera mengusir
saya sebagai anggota asosiasi Anda. Cukup”. Ini dengan sendirinya, sudah ada
dua anggota Indonesisch Vereeniging yang tidak sejalan dengan cara pandang pengurus
Indonesisch Vereeniging. Siapa lagi nama-nama berikutnya?
 


JB Sitanala pada dasarnya adalah senior Soekiman
di sekolah kedokteran Batavia (Stovia). JB Sitanala satu kelas dengan Soewardi
Soerjaningrat (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 07-11-1904). Disebutkan lulus
ujian transisi di sekolah kedokteran Batavia dari kelas satu ke kelas dua tingkat
persiapan, antara lain JB Sitanala, Soewardi Soerjaningrat, Raden Angka dan
Abdoel Rasjid Siregar. Di atas mereka satu tahun antara lain Raden Soetomo, R
Andoe, RM Goembrek, R Slamet dan R Soeleiman serta R Satiman. Sebagaimana
diketahui Raden Soetomo dkk adalah pendiri Boedi Oetomo 1908. JB Sitanala lulus
dokter tahun 1912 (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 30-04-1912).
Yang lulus bersama antara lain R Angka dan Soeradji. Dr JB Sitanala akan
berangkat ke Amerika dan Eropa (lihat Het nieuws van den dag voor
Nederlandsch-Indie, 20-07-1920). Boleh jadi setelah dari Amerika kembali ke
Belanda untuk studi. Pada tahun 1922 di Belanda didirikan Bond Indisch Arts
yang mana sebagai ketua adalah JB Sitanala dan Soetomo sebagai sekretaris
(lihat De expres, 08-08-1922). Seperti disebut di atas Dr Soekiman berangkat ke
Belanda tahun 1923. JB Sitanala lulus ujian dokter pertama  (artsexamen eerste gedeelte) di Leiden (lihat Algemeen
Handelsblad, 11-01-1924). Dalam Kongres Pendidikan ketiga di tanggal 23 dan 24
April 1924 juga turut dihadiri JB Sitanala (lihat De avondpost, 16-04-1924). Selain
JB Sitanala juga dihadiri R Hadi (hokum), R Poerbatjaraka (sastra). Catatan: Soewardi
Soerjaningrat adalah salah satu dari tiga anggota Indische Partij yang ditahan
dan mengasingkan diri ke Belanda tahuan 1913.
 

Dalam perkembangannya
terinformasikan, selain yang dua telah dipecat oleh pengurus Indonesisch
Vereeniging, juga menyusul sejumlah anggota, termasuk beberapa meester in de
rechten (Mr), mengundurkan diri dari keanggotaan asosiasi. Satu yang jelas
bahwa selama ini tidak pernah anggota Iindische 
Vereeniging mengundurkan diri apalagi dipecat.
 


Het Vaderland: staat- en letterkundig nieuwsblad,
07-04-1925: ‘Indonesisch Vereeniging. Kantor Aneta di Den Haag telah mengetahui
bahwa Bapak JB Sitanala, seorang dokter asal Hindia yang memperoleh gelar
kedokterannya di negara ini, baru-baru ini dikeluarkan sebagai anggota Indonesisch
Vereeniging karena membela posisi Bapak Noto Soeroto, yang juga dikeluarkan. Sejumlah
anggota, termasuk beberapa meester in de rechten (Mr), kemudian mengundurkan
diri dari keanggotaan asosiasi tersebut’.
 

Soekiman lulus ujian dokter
Juli 1925 (lihat De Tijd: godsdienstig-staatkundig dagblad, 10-07-1925). Seperti
disebut sebelumnya, pada bulan Oktober 1925 dokter Prijohoetomo di Belanda dan
guru Soetan Casajangan di Batavia dipecat. Soetan Casajangan, pendiri Indische
Vereeniging tahun 1908 menulis di surat kabar Indissch Courant yang terbit di
Soerabaja pada bulan Juli isinya ingin membela Noto Soeroto (sebagai teman
seperjuangannya dulu di Belanda) dan juga Soetan Casajangan menyindir para
mahasiswa sekarang yang jauh lebih muda di Belanda sangat bersemangat dan
gampang marah.
 


Bataviaasch nieuwsblad, 20-08-1925: ‘Yayasan
Oedaya. “Yayasan Oedaya” di Den Haag dalam sebuah surat mengenai
minat Belanda di Hindia Belanda. Yayasan ini didirikan oleh, dan dengan dana
terpisah dari, Bapak RM Noto Soeroto dan JL Ch van Beetem, keduanya di Den
Haag. Tujuan yayasan ini adalah untuk memberikan dukungan moral dan finansial
kepada warga Indonesia—kami menggunakan kata yang kurang elegan dari surat
pendirian—yang lahir di Hindia, yang berada di Belanda dan untuk sementara
mengalami kesulitan. Dewan pengurus dipimpin oleh tujuh wali amanat, yang
setidaknya satu haruslah warga negara Indonesia, sedangkan yang lainnya adalah
warga negara Belanda. Untuk pertama kalinya, dewan pengurus terdiri dari: Ketua
Wali Amanat: RM Noto Soeroto, Den Haag. Wakil Ketua Wali Amanat: JB Sitanala, dokter,
Amsterdam. Sekretaris-Bendahara Wali Amanat: JL Ch van Beetem, pensiunan
perwira Angkatan Darat Belanda, Den Haag. Siapa pun yang mendengar tentang
kesulitan yang terkadang dialami oleh masyarakat Hindia di negara ini tanpa
kesalahan mereka sendiri, memahami bahwa yayasan “Oedaya” akan mampu
melakukan pekerjaan yang baik. Bahwa hal ini diharapkan darinya terbukti dari
fakta bahwa Jenderal Swart, mantan Wakil Presiden Dewan Hindia, sebelumnya
Gubernur Aceh, telah bergabung sebagai donatur. Bendera menutupi muatan. Di
sini, muatannya sangat baik’.
 

Pada akhir tahun 1925 ini kepengurusan
Indonesisch Vereeniging yang dipimpin Soekiman berakhir. Sebagai pengurus baru
adalah Mohamad Hatta (ekonomi) sebagai ketua. A Madjid sebagai sekretaris dan
Aboetari (ekonomi) sebagai sekretaris. Lantas apakah nama baik anggota Indonesisch
Vereeniging yang telah dipecat akan dipulihkan kembali? Tampaknya iya. Mohamad
Hatta adalah seorang nasionalis yang demokratis (tidak terikat dengan SI dan
PKI). Soekiman adalah kader SI.
 


De avondpost, 04-03-1926: ‘Yth Pemimpin Redaksi,
kebenaran akhirnya terungkap! Wawancara yang dilakukan Editor Anda dengan Dewan
“Perhimpoenan Indonesia” (Asosiasi Indonesia di Leiden) berbicara
banyak.
Untuk pertanyaan yang
relevan: “Jadi, kekerasan bersenjata jika perlu?”, jawaban hati-hati
adalah: “Jika perlu.” Dan untuk pertanyaan: “Apa pendapat Anda
tentang masa depan?”, jawabannya: “Kami takut akan revolusi”. Membaca
majalah “Indonesia Merdika” akan meyakinkan semua orang tentang
kebenaran kata-kata saya. Merupakan berkah bahwa publik Belanda akhirnya
sepenuhnya diberi informasi tentang “Perhimpoenan Indonesia” dan
sifat sebenarnya dari organisasi kecil itu. Melalui ini, orang Indonesia dan
Belanda akan belajar memahami betapa pentingnya sosok seperti rekan senegara
saya, RM Noto Soeroto teguh melawan ide-ide berbahaya dari mereka yang, dalam
kebencian buta dan chauvinisme tak terkendali, mengancam negara dan rakyat saya
dengan kekacauan penderitaan yang tak terbayangkan. Terima kasih atas ruang
yang diberikan.; Seorang Indonesia’. Keng Po 29 Juni 1926: Dr Soekiman yang
baru saja dari Belanda turut hadir dalam pertemuan Sarikat Islam di Buitenzorg.
Dr Soekiman membawakan makalah berjudul “De intellectueelen in de Islambeweging”
(Para Intelektual dalam Gerakan Islam). Dr Soekiman sedang dalam perjalanan ke
Jogja untuk mengambil alih praktik Mohammadijah dari Dr Somowidigo, yang
terakhir menyatakan dalam pertemuan dengan Hadji Salim (pemimpin SI) bahwa
gerakan Indonesia di Belanda sangat menghargai gerakan Islam di sini sebagai
sarana untuk mencapai persatuan ras dan mencegah kecemburuan timbal balik, yang
menyebabkan perselisihan dan melemahkan kekuatan (lihat Overzicht van de
Inlandsche en Maleisisch-Chineesche pers, 1926, no. 31, 31-07-1926).
 

Tunggu deskripsi lengkapnya 

Kongres
PPPKI dan Kongres Pemuda 1928 di Batavia; Satu Tanah Air, Satu Bangsa dan Satu
Bahasa
 

Perselisihan diantara
anggota mahasiswa di Belanda telah mereda. Pengurus Perhimpoenan Indonesia yang
dipimpin oleh Mohamad Hatta dkk tengah melakukan pergerakan bawah tanah.
Sementara itu di Indonesia, seperti disebut sebelumnya, para pemuda telah
berhasil mengadakan kongres pada bulan April 1926.
 


Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping
pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis,
Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di
waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan:
Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia:
Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di
Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. “Sejarah Catur di
Indonesia”; “Sejarah Klub Como 1907”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah
Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia di Jepang”. Korespondensi:
akhirmh@yahoo.com


, Terimakasih telah mengunjungi Dului.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

To Top