*Untuk melihat semua artikel Sejarah Dr Tjipto di blog ini Klik Disini
Dr Tjipto
Mangoenkoesoemo diasingkan ke Banda tahun 1927. Bagaimana dengan Soewardi
Soerjaningrat? Ada sejumlah guru lulusan Belanda, antara lain Radjioen Harahap
gelar Soetan Casajangan (tiba di Belanda 1904), Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng
Moelia dan Sjamsi Sastrawidagda (keduanya 1911), Sam Ratulangi (1912); Soewardi
Soerjaningrat, Dahlan Abdoellah, Tan Malaka (ketiganya 1913). Dalam perjalanan
karir guru hanya satu yang mendirikan sekolah sendiri (Soewardi Soerjaningrat)
dan hanya satu yang meraih gelar doktor. Soewardi Soerjaningrat kemudian
dikenal sebagai Ki Hadjar Dewantara. Deepublish

Soewardi kembali ke Indonesia pada
September 1919. Soewardi diingatkan oleh istrinya, Raden Ajeng Soetartinah,
bahwa perjuangan juga dapat melalui pendidikan. Berbekal ilmu tentang
pendidikan dan pengajaran di Belanda, Soewardi kemudian bergabung dengan sekolah
binaan saudaranya, Perguruan Adhidarma Yogyakarta pada 1921. Pengalaman
mengajar ini kemudian digunakannya untuk mengembangkan konsep mengajar bagi
sekolah yang berencana untuk didirikannya.[butuh rujukan]Pada 3 Juli 1922, ia
akhirnya mendirikan Perguruan Nasional Taman Siswa di Yogyakarta. Saat ia genap
berusia 40 tahun menurut hitungan penanggalan Jawa, ia mengganti namanya
menjadi Ki Hadjar Dewantara. Ia tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di
depan namanya. Hal ini dimaksudkan supaya ia dapat bebas dekat dengan rakyat,
baik secara fisik maupun jiwa. Semboyan dalam sistem pendidikan yang dipakainya
kini sangat dikenal di kalangan pendidikan Indonesia. Secara utuh, semboyan itu
dalam bahasa Jawa berbunyi ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut
wuri handayani. (“di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di
belakang memberi dorongan”). Semboyan ini masih tetap dipakai dalam dunia
pendidikan rakyat Indonesia, terlebih di sekolah-sekolah Perguruan Tamansiswa (Wikipedia)
Lantas bagaimana sejarah guru
Soewardi Soerjaningrat dan sekolah Taman Siswa? Seperti disebut di atas, sejumlah
guru lulusan Belanda hanya satu yang mendirikan sekolah
sendiri (Soewardi Soerjaningrat) dan hanya satu yang meraih gelar doktor (Soetan Goenoeng Moelia). Lalu
bagaimana sejarah guru Soewardi Soerjaningrat dan sekolah Taman Siswa? Seperti kata ahli
sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe. Model Bisnis Era Teknologi Informasi

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya
yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah
pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk
lebih menekankan saja. Dalam hal ini saya bukanlah penulis sejarah,
melainkan hanya sekadar untuk menyampaikan apa yang menjadi
fakta (kejadian yang benar pernah terjadi) dan data tertulis yang telah
tercatat dalam dokumen sejarah.
Guru
Soewardi Soerjaningrat dan Sekolah Taman Siswa; Guru Soetan Goenoeng Moelia
Raih Gelar Doktor
Tunggu deskripsi
lengkapnya
Guru
Soetan Goenoeng Moelia Raih Gelar Doktor; Ki Hadjar Dewantara Menteri
Pendidikan Pertama, Soetan Goenoeng Moelia Menteri Pendidikan Kedua
Tunggu deskripsi
lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping
pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis,
Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di
waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan:
Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia:
Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di
Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. “Sejarah Catur di
Indonesia”; “Sejarah Klub Como 1907”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah
Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia di Jepang”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

, Terimakasih telah mengunjungi Dului.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.










