Sejarah

Sejarah Aceh (12): Danau Laut Tawar Gayo, Bukan Laut Air Asin Tapi Danau Air Tawar; Danau Takengon, Danau Toba, Danau Siais




false
IN


























































































































































 

*Untuk
melihat semua artikel Sejarah Aceh dalam blog ini
Klik Disini
 

Sejarah
Danau Laut Tawar di kabupaten Aceh Tengah. Tempo doeloe nama danau disebut
Danau Takengon. Ibu kota kabupaten Aceh Tengah berada di Kota Takengon. Lantas
apa hubugan danau Laut Tawar dan kota Takengon. Kota Takengon berada tepat di
sisi Danau Laut Tawar. Ibarat Kota Parapat di tepi Danau Toba, begitulah Kota
Tankengon di tepi Danau Laut Tawar.

Danau terluas di Indonesia adalah Danau Toba
(selatan Tanah Karo) di provinsi Sumatra Utara. Sementara danau terluas di
dunia adalah Laut Kaspia. Mengapa disebut laut? Hal ini karena air danau
tersebut rasanya asin. Danau terluas kedua di provinsi Sumatera Utara (setelah
Danau Toba) adalah Danau Siais di Angkola (Tapanuli Selatan). Sedangkan danau
terluas di provinsi Aceh adalah Danau Laut Tawar. Luas Danau Siais dan Danau
Laut Tawar kurang lebih sama. Oleh karena itu tiga danau terluas di pulau
Sumatra bagian utara adalah Danau Toba, Danau Laut Tawar dan Danau Siais.
Lantas mengapa nama Danau Takengon diganti namanya menjadi Danau Laut Tawar? Apakah karena ingin meniru Danau Laut Kaspia? Jelas tidak, karena Danau Laut Kaspia airnya
asin, sedangkan Danau Laut Tawar airnya tawar.
Lalu mengapa nama Danau
Takengon diganti namanya menjadi Danau Laut Tawar
? Itu hanyalah sekadar nama.

Okelah,
Bagaimana sejarah Danau Takengon atau Danua Laut Tawar sendiri? Bagaimana
sejarah Kota Takengon? Yang jelas danau dan kota Takengon berada di pedalaman
pulau. Lantas apa pentingnya sejarah Danau Laut Tawar? Karena Danau Laut Tawar
berada di wilayah Atjeh. Lalu dari mana dimulai sejarahnya? Seperti kata ahli
sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’
seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya
digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga
merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan
artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel
saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah
pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk
lebih menekankan saja*.

Nama Takengon: Danau dan Kota

Banyak
danau di daratan tinggi di pedalaman yang terhubung dengan kota-kota di muara
sungai di pantai. Pada hulu sungai tersebut di danau pegunungan juga terdapat
kota. Gambaran serupa ditemukan di Minahasa (Tondano dan Manado melalui sungai
Tondano), di Tapanoeli (Porsea dan Tanjung Balai melalui sungai Asahan). Di
wilayah Atjeh gambaran serupa tersebut adalah hubungan kota Takengon di tepi
danau Laut Tawar dan kota Bireuen di pantai melalui sungai Peusangan.
Nama
danau Laut Tawar paling tidak sudah terinformasikan sejaka tahun 1878.

Sumatra-courant : nieuws- en advertentieblad, 12-01-1878:
‘Pasangan adalah salah satu kerajaan terbesar di pantai utara [Atjeh] dan
berpenduduk banyak. Wilayah ini menghasilkan beras dan pinang dalam jumlah
besar, dimana perdagangan ekspor yang cukup besar. Rute ekspor ke distrik-distrik
sekitar di pantai utara, sedangkan pinang diekspor ke Poeloe Pinang, Beugalen,
Madras, China, dll. Barang ekspor lainnya termasuk sapi, mnyak kelapa, hasil
hutan dan kuda dari negara Gajoelanden. Diantara danau pedalaman dan Passangan,
distrik-distrik yang berdampingan di pedalaman lalu lintas barang dan penduduk padat.
Sungai Passangan berasal dari danau besar di Gajoelanden yang disebut Laut
Tawar’.

Tunggu
deskripsi lengkapnya

Danau Laut Tawar di Kota
Takengon

Tunggu
deskripsi lengkapnya

 

*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi:
akhirmh@yahoo.com


, Terimakasih telah mengunjungi Dului.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.

Most Popular

To Top