Sejarah

Sejarah Aceh (13): Sejarah Tapak Tuan Tapa Toean di Pantai Barat Sumatra; Asal Usul Nama Tapa Noeli Tapanoeli Tempo Doeloe




false
IN


























































































































































 

*Untuk
melihat semua artikel Sejarah Aceh dalam blog ini
Klik Disini

Nama
tempat adalah bagian dari sejarah (masa lampau). Pada nama tempat itu bermula
suatu kampong, lalu menjadi kota, hingga menjadi kota yang dikenal sekarang.
Dua nama kota pada masa lampau di pantai barat Sumatra adalah Tapa Toean dan
Tapa Noelie. Kini, nama kampong Tapa Toean menjadi ibu kota dari kabupaten Aceh
Selatan dan nama kampong Tapa Noeli menjadi nama wilayah (Tapanuli)—seperti halnya
nama Atjeh juga menjadi nama wilayah.

Tapak Tuan adalah nama kota, bukan nama
wilayah. Bagaimana asal usul nama Tapak Tuan ada yang mengakatan sebagai tapak
kaki Tuan Tapa, seorang tokoh dalam cerita legenda Aceh Selatan yang lokasinya
di kawasan gunung Lampu, desa Pasar, Tapak Tuan. Disebutkan lebih lanjut bahwa tempo
doeloe di kawasan itu hidup seorang pertapa sakti bertubuh raksasa yang bernama
Tuan Tapa. Singkat kata, asal usul nama Tapak Tuan berasal dari Tapak Tuan
Tapa. Okelah itu satu hal. Sementara yang juga nama tempat menggunakan nama
Tapa di pantai barat Sumatra adalah Tapa Noeli. Sedangkan nama tempat Tapan
(masih di pantai barat Sumatra) sedikit berbeda dengan nama Tapa.

Lantas
bagaimana Sejarah Tapak Tuan
? Apakah ada hubungannya antara Tapak dan Tapa dengan
Tapan
? Yang jelas pada masa ini di Tapak Tuan, disebutkan
bahwa penduduk kota banyak yang berasal-usul dari Sumatra Barat yang oleh warga
setempat disebut Suku Aneuk Jamee. Lalu apakah Tapak Tuan sudah sejak dari
doeloe dihuni oleh penduduk yang berasal dari Sumatra Barat
? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya
ada permulaan.
Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah
nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’
seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya
digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga
merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan
artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel
saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah
pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk
lebih menekankan saja*.

Nama Tapa Toean

Pada
peta-peta Portugis di pantai barat Sumatra bagian utara hanya dua nama tempat
yang terus bertahan hingga masa ini, yakni: Singkil (Singkel), Meulaboh (Labou)
dan Barus (Baroes). Pada peta itu tidak diketahui apakah dua nama sebagai nama
tempat atau nama sungai atau keduanya. Pada Peta 1757 (era VOC) diantara
Singkel dan Meulaboh diidentifikasi nama Fourouman yang diduga Trumon. Masih
dalam peta ini di selatan identifikasi nama Tapanouli (Tapanuli).Nama Tapak
Tuan baru diidentifikasi pada peta pada era Pemerintah Hindia Belanda.

Nama Tapak Tuan sudah barang tentu sudah lama
ada, namun belum terinformasikan. Nama Tapak Tuan kali pertama di beritakan
pada tahun 1871 (lihat Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 18-10-1871).
Itu berarti sebelum Perang Atjeh. Disebutkan ada usulan penyambungan kabel laut
(untuk telegraf) dari Lampoeng ke pantai barat Sumatra untuk memperlancar
perdagangan ke Padang, Priaman, Ajer-Bangis, Natal, Sibogba, Baros dan Singkel
serta kemungkinan Tarumun, Tapa Tuan, Anahlabou dan Atchin. Keterangan ini
mengindikasikan Tapak Tuan (Tapa Tuan) sebagai kota perdagangan yang penting.
Catatan: nama Tapanuli telah digantikan Sibolga dan nama Tapanuli dijadikan
nama wilayah (residentie) sejak 1845.

Setelah
Perang Atjeh (1873) Pemerintah Hindia Belanda mulai mengadministrasikan wilayah
Gtoote Atjeh dan wilayah pantai timur dan pantai barat Atjeh. Dalam proses
administrasi ini, seorang ahli geografi KFH van Langen dikirim untuk memetakan
tiga wilayah tersebut (wilayah pedalaman masih aktif perlawanan pemimpin
pribumi). Hasil pemetaan ini dibukukan dan diterbitkan pada tahun 1888 yang
salah satunya berjudul Atjeh’s Westkust met daarbij Behoorende Kaart. Dalam
buku ini KFH van Langen menulis nama Tapak Tuan dengan Tampat Toean (dalam hal
ini tampat=tempat). Tapa sendiri tidak diketahui apa artinya. Ini berarti nama
Tapak Tuan tidak hanya Tapa Toean juga Tampat Toean.

Tunggu
deskripsi lengkapnya

Tapak Toean Melting Pot

Tunggu
deskripsi lengkapnya

 

*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi:
akhirmh@yahoo.com


, Terimakasih telah mengunjungi Dului.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.

Most Popular

To Top