Sejarah

Sejarah Aceh (15): Perang Atjeh, Jan van Swieten hingga Joannes Benedictus van Heutsz; Pantai Barat Pantai Timur Sumatra




false
IN


























































































































































 

*Untuk
melihat semua artikel Sejarah Aceh dalam blog ini
Klik Disini

Perang
Aceh yang dimulai pada tahun 1873 bukanlah perang terakhir Pemerintah Hindia
Belanda untuk menyatukan seluruh Hindia Belanda. Masih ada Perang Tamiang,
Perang Soenggal dan Perak Batak. Namun perang ini dapat dikatakan perang besar
karena kraton dan masjid Atjeh hancur total. Tokoh penting dalam perang ini
adalah Jenderal Jan van Swieten.

Perang Aceh ini mendapat reaksi internasional.
Di dalam negeri (Hindia Belanda) semua terdiam ketika kraton dan masjid Atjeh
hancur total. Di antara Belanda sendiri juga ada yang pro kontra strategi yang
dipakai oleh Jenderal Jan van Swieten. Saat orang-orang pribumi terdiam di
seluruh Hindia Belanda dan saat orang Belanda banyak yang bersukacita
keberhasilan Jenderal Jan van Swieten itu seorang guru (kepala sekolah guru
Kweekschool) di Mandailing (Tapanoeli) Willem Iskander menyampauikan pernyataan
ke publik yang menyesali dan prihatin karena tidak adanya yang peduli dengan
kehancuran kraton dan masjid Atjeh (lihat Provinciale Noordbrabantsche en s’Hertogenbossche
courant, 28-04-1874). Disebutkan oleh Willem Iskander bahwa tidak ada yang simpati
sedikit pun untuk Atchin dan bahwa ‘Atchinees’ bahkan digunakan sebagai istilah
pelecehan’.

Lantas
bagaimana Perang Atjeh berakhir pada tahun 1903
? Tokoh penting dalam perang ini adalah Jenderal
Joannes Benedictus van Heutsz yang pada saat Perang Atjeh 1873 masih berpangkat
kaptein. Prestasi van Heutsz menjadi passwoed baginya diangkat sebagai Gubernur
Jenderal Hindia Belanda (1904-1909). Bagaimana itu semua berlangsung dari Jan
van Swieten hingga Joannes Benedictus van Heutsz
? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya
ada permulaan.
Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah
nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’
seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya
digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga
merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan
artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel
saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah
pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk
lebih menekankan saja*.

Perang Atjeh Bermula 1873

Tunggu
deskripsi lengkapnya

Perang Atjeh Berakhir 1903

Tunggu
deskripsi lengkapnya

 

*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi:
akhirmh@yahoo.com


, Terimakasih telah mengunjungi Dului.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.

Most Popular

To Top