![]() |
| Peta 1950 |
Dengan demikian, nama Kampong Merdika Lio
atau desa Lio Merdika sama sekali tidak terkait dengan politik kebangkitan bangsa. Nama
merdika untuk kawasan ini hanya semata-mata sesuai terminologi yang berlaku
saat itu. Oleh karenanya pemerintah atau orang-orang Belanda tidak terlalu
peduli dengan nama kawasan ini disebut Kawasan Merdika ketika gerakan
menyuarakan kemerdekaan Indonesia muncul sekitar tahun 1920. Namun untuk surat kabar Sinar Merdeka di
Padang Sidempuan yang menggunakan kata ‘merdeka’ sudah pasti, sebab kanyataannnya surat kabar ini selalu diawasi
polisi/militer Belanda. Editornya, Parada Harahap belasan kali dikenai pasal
delik pers dan beberapa kali masuk bui selama surat kabar yang mengusung
kemerdekaan ini eksis (1919-1923).
Parada Harahap adalah pengagas Permoefakatan Perhimpoenan-Perhimpoenan Kebangsaan Indonesia tahun 1927 yang disingkat PPPKI. Ketuanya M. Husni Thamrin dan sekretaris Parada Harahap sendiri. Supra organisasi (organisasi senior) ini berkantor di gang Kenari (situsnya masih ada hingga sekarang). Ke kantor inilah pada tahun-tahun sekitar itu Soekarno kerap berkunjung untuk menemui Parada Harahap. Di kantor ini hanya ada tiga foto yang dipajang Parada Harahap yakni: Sultan Agoeng, Soekarno dan Hatta. Untuk sekadar diketahui Parada Harahap pemilik surat kabar Bintang Timoer di Batavia (bertiras paling tinggi) dan sekaligus ketua ‘KADIN’ pribumi di Batavia adalah mentor politik praktis dari Soekarno, M. Hatta dan Amir Sjarifoeddin. PPPKI adalah pelindung organisasi junior (panitia) Kongres Pemuda 1928 yang mana bendahara panitia adalah Amir Sjarifoeddin. Dalam Kongres PPPKI yang dilangsungkan lebih awal dari Kongres Pemuda ini Soekarno dihadirkan sebagai pembicara. M. Hatta tidak bisa hadir dan mengutus Ali Sastroamidjojo. Soekarno sering mengirim tulisan ke surat kabar Bintang Timoer. Pada saat Soekarno diadili dan diasingkan, Parada Harahap (yang tidak punya ‘utang’ terhadap Belanda) pada akhir tahun 1933 memimpin tujuh orang Indonesia pertama ke Jepang. Dalam tim yang diduga dibiayai oleh Parada Harahap ini termasuk M. Hatta yang baru lulus studi di Belanda dan pulang ke tanah air. Satu lagi yang termasuk dalam rombongan ini adalah seorang guru revolusioner dari Bandoeng. Rombongan ini mewakili pengusaha pertanian, pengusaha manufaktur (batik dari Pekalangongan), wartawan (Parada sendiri. The King of Java Press), akademisi (M. Hatta), politisi (Abdullah Lubis mantan anggota dewan kota Medan), dan guru (dari Bandoeng).
Groote weg (jalan pos trans-Java) memiliki hubungan emosional langsung dengan penduduk Priangan (Preanger). Jalan yang digagas oleh Daendels (1810) ini telah memakan banyak korban penduduk Priangan dalam pembangunannya. Adanya jalan pos ini merupakan simbol pendudukan awal wilayah Priangan. Lalu di era van den Bosch, jalan ini juga telah memakan banyak korban dalam transportasi kopi setelah adanya kebijakan van den Bosh tahun 1830 yakni sistem tanam paksa Koffiestelsel. Keuntungan kolonial yang besar, produksi kopi melimpah dengan memaksa penduduk (upah tenaga kerja murah) dengan harga jual yang rendah dan upah angkut yang murah. Akibatnya banyak penduduk Priangan menderita dan meninggal. Untuk memaklumkan ini, pemerintah pada tahun 1846 membangun istana Bupati di sisi Groote weg agar pindah dari Bandoeng (lama) yang dikenal kemudian Dajeuh Kolot. Permasalahan di regenschap (kabupaten) Preanger ini dengan Groote weg juga terjadi di afdeeling (kabupaten) Mandailing en Ankola pada tahun 1840 (penerapan koffistelsel) dan membuka jalan dari Kotanopan (kampong halaman Abdul Haris Nasution) ke pelabuhan Natal. Penduduk Mandailing dan Angkola banyak korban seperti di Preanger. Sebagian penduduk memberontak (dan eksodus ke Semenanjung Malaya). Penderitaan ini direkam oleh controleur Natal, Edward Doewes Dekker yang lalu memprotes kebijakan stelsel dan kemudian berbalik untuk mengadvokasi penduduk. Akibatnya Dekker dipecat sebagai controleur di Natal dan diasingkan selama setahun di Padang. Setelah kasus ini Edward Douwes Dekker menulis buku yang terkenal Mah Havelaar alias Multatuli. Singkat kata: penduduk Priangan dengan penduduk Mandailing en Angkola (yang kini beribukota di Padang Sidempuan) adalah wilayah-wilayah di Indonesia dimana tanam paksa penduduknya paling menderita dari kebijakan Koffiestelsel.
Itulah sejarah Kampong Lio Merdika atau Kampong Medika Lio. Jika ingin menulis sejarah baru, jangan lupa ada sejarah lama. Merdeka!
*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan
sumber-sumber tempo doeloe.

, Terimakasih telah mengunjungi Dului.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.











