Sejarah Indonesia

Sejarah Bangka Belitung (1): Pulau Bangka dan Belitung Zaman Kuno; Selat Karimata Antara Pulau Sumatra dan Pulau Kalimantan




false
IN


























































































































































 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bangka Belitung dalam blog ini Klik Disini

Dalam
navigasi pelayaran (perdagangan) zaman kuno, selain gunung, pulau yang lebih kecil
juga penanda navigasi yang penting untuk memasuki wilayah pedalaman melalui
muara-muara sungai. Pada fase inilah sejarah zaman kuno pulau Bangka dan pulau
Belitung dimulai. Namun masalahnya adalah sulit membedakan mana yang lebih
dahulu ditemukan apakah muara sungai Musi dan muara sungai Batanghari atau
pulau Bangka dan pulau Belitung. Meski tidak terlalu penting, tetapi dua
penanda geografis itu dalam pelayaran (muara dan pulau) saling berhubungan.

Sejarah pulau Bangka dan sejarah pulau
Belitung sulit dipahami jika hanya semata-ata melihat kedua pulau itu berdiri
sendiri di tengah lautan. Pada blog ini sudah lebih dahulu dipelajari sejarah
Sumatra Selatan (serial artikel sejarah Kota Palembang), sejarah Banten (serial
artikel sejarah Banten), sejarah Kalimantan Barat dan sejarah Kalimantan
Selatan (serial artikel sejarah Kalimantan) dan sejarah Riau (serial artikel
sejarah Riau). Pada saat yang bersamaan dengan sejarah Bangka Belitung ini
sedang dipeljari sejarah Jambi dan sejarah Lampung. Dengan demikian diharapkan
sejarah Bangka dan sejarah Belitung menjadi lebih kaya dan lebih luas.

Lantas
bagaimana sejarah zaman kuno pulau Bangka dan pulau Belitung
? Dalam berbagai tulisan disebut pulau Bangka dan
pulau Belitung sudah dikenal pada zaman kuno. Namun sejak kapan, perlu diteliti
lebih lanjut tidak hanya berdasarkan keterangan tertulis (prasasti atau dokumen
lain) tetapi juga dengan analis spasial dalam posisi GPS pulau Bangka dan pulau
Belitung di lintasan navigasi pelayaran perdagangan pada zaman kuno. Kedua
pulau ini harus dihubungkan dengan tiga daratan luas (Sumatra, Jawa dan
Kalimantan).
Seperti
kata ahli
sejarah
tempo doeloe,
semuanya
ada permulaan.
Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah
nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.

Pulau Karimata: Pulau Bangka
dan Pulau Belitung

Pada
peta-peta Portugis sudah diidentifikasi nama pulau Karimata dengan nama Crimata.
Ada juga peta yang menulis dengan nama Crimatan. Pulau yang berada diantara
daratan pulau Kalimantan dan pulau Belitung. Dari penulisan ini, diduga
pelaut-pelaut Portugis mengeja nama Kalimatan atau Kalimantan (yang merujuk
pada nama India). Nama tersebut diduga nama awal pulau Kalimantan pada era
Hindoe Boedha sebelum orang-orang Portugis menyebutnya pulau Borneo. Pada era
Portugis inilah nama pulau Bangka dan pulau Belitung diidentifikasi dalam
peta-peta Eropa.

Sulit menemukan peta-peta kuno, pelaut-pelaut
Eropa (yang terawal Porugis dan Spanyol) yang tidak hanya intens membuat peta
navigasi pelayaran, juga peta-peta Eropa masih tersimpan dengan baik hingga
dapat dibaca pada masa kini, Sejak era Hindoe Boedha nama pulau Crimata sudah
dikenal, dan nama pulau ini diantara daratan Kalimantan dan pulau Belitung
dipetakan sebagai selat Karimata (hingga ini hari). Orang-orang Portugis yang
sejak 1511 di Malaka pada tahun 1521 yang dipimpin oleh George Menesez mengunjungi
pelabuhan ramai di utara pulau Kalimantan yakni Boernai.  Sejak inilah nama Boernai (menjadi Borneo)
diidentifikasi dalam peta Portugis sebagai nama pulau Kalimantan. Nama pulau
Borneo pada era masa kini (RI) dikembalikan ke nama lama (Kalimantan) yang
dalam identifikasi Portugis sebagai pulau Crimata atau Crimatan.

Tentu
saja nama Bangka dan Belitung sudah eksis jauh sebelum kehadiran pelaut-pelaut
Portugis. Hal ini karena dua pulau ini terbilang pulau besar diantara daratan
Sumatra dan daratan Kalimantan. Prasasti Kota Kapur (686 M) yang ditemukan di
pulau Bangka mengindikasikan pulau ini sudah dikenal pada era Sriwijaya. Dalam
prasasti ini Sriwijaya sebagai suatu kerajaan. Pada prasasti Kedukan Bukit (682
M). nama Sriwijaya adalah nama raja. Dalam hal ini nama raja menjadi nama
kerajaan.

Dalam prasasti Kedukan Bukit menceritakan kehadiran
raja Dapunta Hiyang dengan bala tentaranya dari Minana dan tiba di hulu Upang. Yang
membuat prasasri (menandatangani) raja Sriwijaya. Satu hal yang menarik dalam
prasasti dua nama tempat Minana dan Hulu Upang. Pada masa ini Upang adalah nama
sungai yang bermuara ke pantai barat pulau Bangka dan nama Minana sangat sesuai
dengan nama Binanga di muara sungai Barumun (Padang Lawas). Jika membandingkan
teks prasasti Kedukan Bukit dengan prasasti Kota Kapur ada perbedaan aksara
Pallawa dan bahasa Sanskerta yang digunakan. Aksara prasasti Kedukan Bukit
tampak lebih tua dari aksara prasasti Kota Kapur. Meski disebut tahun yang
berdekatan antara dua prasasti, besar dugaan prasasti Kota Kapur adalah sebuah
replika (ditulis ulang kembali kemudian dengan bahasa yang lebih baik). Hal
yang menguatkan bahwa prasasti Kota Kapur sebagai replika dari baris kespuluh ‘pemahatannya
berlangsung ketika bala tentara Śrīwijaya baru berangkat untuk menyerang bhūmi
jāwa’. Namun yang jelas pengaruh kerajaan Sriwijaya di Bangka (prasasti Kota
Kapur) sudah eksis sejak 686 M. Dengan demikian pulau Bangka sudah dikenal
sejak lama yang boleh jadi berdasarkan dua informasi pada dua prasasti tersebut
(682 M dan 686 M) raja Sriwijaya ber ibu kota di pulau Bangka (bukan di
Palembang tempat ditemukan prasasti Kedukan Bukit). Besar dugaan pada masa itu
kota Palembang dan kota Jambi yang sekarang masih muara sungai Musi dan muara
sungai Batanghari di pantai (sebagai kota-kota pelabuhan muara sungai) yang
saling berhadapan dengan ibu kota Sriwijaya di pantai barat pulau Bangka. Dalam
konteks (ruang dan waktu) inilah nama pulau Crimata atau Kalimantan sudah memiliki
nama.

Pada
era Sriwijaya, nama pulau Bangka, pulau Belitung dan pulau Karimata sudah
begitu penting. Posisi GPS Kerajaan Sriwijaya pada saat itu masih di Pulau
Bangka. Sementara kerajaan yang sudah eksis di pulau (pedalaman) Sumatra adalah
Kerajaan Aru dengan pelabuhan utamanya di pantai timur Sumatra adalah Binanga
(prasasti Kedukan Bukit mencatatnya sebagai Minana) dan pelabuhannya di pantai
barat Sumatra adalah Baroes.

Dalam literatur Eropa terdapat keterangan bahwa sejak
abad ke-2 M, lewat tulisan Ptolemaeus yang menyebutkan (pulau) Sumatra bagian
utara dianggap sebagai daerah berbahaya karena diduga dihuni oleh sejumlah
masyarakat kanibal, tetapi wilayah itu kaya dengan kamper, khususnya yang diekspor
sejak abad ke-5 atau ke-6 M melalui sebuah tempat yang bernama Barus.
Keterangan ini sedikit membantu bahwa paling tidak nama Barus sudah diketahui
(di Eropa) sejak abad ke-5. Artinya apa
? Prasasti Kedukan Bukit bertarhk 682 (awal
Sriwijaya) mengindikasikan Barus sudah dikenal jauh sebelum dikenal Sriwijaya
(Palembang). Seperti disebut di atas, jika memperhatikan isi teks prasasti itu
ditemukan nama Minana yang besar dugaan Binanga yang sekarang sebagai pelabuhan
di pantai timur (pelabuhan Kerajaan Aru). Dalam teks itu mengindikasikan Minana
atau Binanga sebegai kerajaan yang jauh lebih kuat dari Sriwijaya. Dalam hal
ini, Kerajaan Aru (berpusat di Angkola Mandailing) terhubung dengan pelabuhan
di pantai timur (Binanga) dan pelabuhan di pantai barat (Baroes). Sebagai
catatan tambahan: Jika Sumatra bagian utara pada abad ke-2 sebagai kaya kamper,
maka masuk akal jika pelabuhan Barus jauh lebih awal jika dibandingkan dengan
pelabuhan Soenda di Jawa (prasasti Tugu, Cilincing abad ke-5) dan pelabuhan
Koetai di Borneo (prasasti Mulawarman di Muara Kaman, awal abad ke-6).

Dalam
konteks navigasi pelayaran perdagangan (dari pedagang-pedagang India), haruslah
dipandang pantai barat Sumatra lebih awal berkembang sebelum pantai timur
Sumatra berkembang. Perdagangan menjadi faktor kunci terbentuknya kerajaan dan
faktor pendukung ekspanasi kerajaan. Perdagangan menimbulkan kekayaan, dan
kekayaan adalah sumber pembiayaan yang penting dalam menjalankan pemerintahan
dan membiaya pasukan. Seperti disebut di atas (lihat juga prasasti Kedudkan
Bukit), Raja Dapunta Hyang dari Minana membawa 20.000 tentara ke hulu Upang
(yang diduga di pulau Bangka yang sekarang).

Tunggu
deskripsi lengkapnya

Pulau Bangka dan Pulau
Belitung: Dari Sriwijaya hingga Banten

Tunggu
deskripsi lengkapnya

 

*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi:
akhirmh@yahoo.com


, Terimakasih telah mengunjungi Dului.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.

Most Popular

To Top