Sejarah

Sejarah Banten (35): Penduduk dan Wilayah Administrasi di Banten; Jumlah Penduduk Lebak Pandeglang Sensus Penduduk 1930




false
IN


























































































































































 

*Untuk melihat seluruh artikel Sejarah Banten, klik Disini

Sejarah
penduduk sesungguhnya seumur dengan sejarah manusia. Setiap ruang dan waktu
yang berbeda dicatat untuk banyak kepentingan seperti besarnya populasi untuk
menghitung jumlah laki-laki yang dibutuhkan dalam perang dan menghitung potensi
besarnya pajak. Dalam penghitungan penduduk akan tergambarkan sebaran penduduk
dan tingkat kepadatannya. Tentu saja teknik perhitungannya dari waktu ke waktu
semakin akurat. Pada era Hindia Belanda Sensus Penduduk 1930 dapat dianggap
yang terbaik.

Pada zaman kuno, sensus atau penghitungan
jumlah penduduk sudah dilakukan. Namun bagaimana cara perhitungannya dan berapa
jumlahnya tampaknya tidak terdokumentasi dan tersimpan dengan baik. Kesultanan
Banten yang memiliki wilayah yurisdiksi tentu saja di masa lampau memiliki
kepentingan untuk mengetahui berapa banyak penduduk. Namun dalam dalam dokumen
Belanda (sejak era VOC) tidak ditemukan. Oleh karena itu perbandingan pada
zaman kuno dengan zaman modern tidak bisa dilakukan. Hanya gambaran samar-samar
tentang perkiraan jumlah penduduk yang muncul yang didasarkan pada perkiraan
para penjelajah atau pelancong. Gambaran samar-samar ini bersifat kualitatif
yang didasarkan pada ramai tidaknya suatu kota-kota (terutama kota-kota
pelabuhan). Tentang penduduk di pedalaman yang terpencar-pencar di kampong-kampong
kecil gelap gulita.

Sejarah
penduduk Banten seharusnya mendapat perhatian. Karena sejarah tetaplah sejarah.
Namun seperti disebut di atas, sulit menemukan statistik penduduk. Jika hanya berpatokan
pada hasil Sensus Penduduk 1930 kita telah melewatkan sejarah penting tentang
awal kependdukan di Banten. Dalam hal ini sejarah penduduk tidak memiliki arti
sejarah yang penting. Namun demikian, upaya untuk menyusun narasi yang lebih
panjang yang lebih tua ke belakang tetap diperlukan. Seperti kata ahli
sejarah
tempo doeloe,
semuanya
ada permulaan
. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah
nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.

Penduduk Banten: Sensus
Penduduk 1930

Pada
era Gubernur Jenderal Hindia Belanda Daendels, wilayah (residentie) Batavia
diperluas, ke arah timur hingga batas sungai Tjitaroem dan ke arah barat hingga
batas sungai Tjidoerian. Land Balaradja dan land Boemiajoe serta land Tigaraksa
di sisi timur sungai Tjidoerian termasuk wilayah Batavia yang baru. Sungai
Tjidoerian sendiri berhulu di gunung Halimun, melewati (kota) Djasinga dan
menjadi batas Afdeeling Lebak (dengan Afdeeling Buitenzorg). Wilayah sisi barat
sungai Tjidoerian inilah yang didefinisikan sebagai wilayah administratif
Residentie Bantam (kini Banten).

Pada awal pembentukan cabang-cabang
pemerintahan di Residentie Banten, wilayah dibagi ke dalam empat afdeeling:
Serang, Anjer, Tjaringin dan Lebak. Kemudian afdeeling Labak dimekarkan dengan
membentuk afdeeling Pandeglang. Residen berkedudukan di Serang (ibu kota
Residentie Banten). Asisten Residen berkedudukan di Tjaringin, Pandeglang dan
Rangkasbitoeng (ibu kota baru Afdeeling Lebak). Di Afdeeling Anjer hanya
ditempatkan pejabat setingkat Controleur. Catatan: wilayah timur sungai
Tjidoerian di sebelah hulu masuk Afdeeling Buitenzorg dan di wilayah hilir
masuk Afdeeling Tangerang. Di Buitenzorg berkedudukan Asisten Residen sedangkan
di Tangerang berkedudukan pejabat setingkat Controleur yang disebut Schout
(seperti halnya di afdeeling Bekasi).

Dalam
perkembangannya, wilayah adnministrasi Residentie Banten pada tingkat afdeeling
dibagi ke dalam district-district. Afdeeling Tjaringin disatukan dengan
Afdeeling Pandeglang dengan nama Afdeeling Pandeglang yang terdiri dari
district Tjibalioeng, Tjaringin, Menes dan Pandeglang. Afdeeling Lebak terdiri
dari district-district: Rangkasbitoeng, Paroengkoedjang, Lebak dan
Tjilangkahan.

Afdeeling Anjer disatukan dengan afdeeling
Serang dengan nama Afdeeling Serang yang terdiri dari district-district: Anjer,
Tjilegon, Serang, Tjiomas, Pamarajan, Tjiroeas dan Pontang. Ini berarti wilayah
administasi residentie Banten yang awalnya terdiri dari lima afdeeling
diringkas menjadi tiga afdeeling. Catatan: Residentie Batavia terdiri dari
afdeeling Batavia, Buitenzorg dan Meester Cornelis. Afdeeling Batavia terdiri
dari district-district: Balaradja, Maoek, Tangerang, Batavia dan Weltevreden.
Afdeeling Meester Cornelis terdiri dari district-district: Kebajoran, Meester
Cornelis, Bekasi dan Tjikarang. District Kebajoran terdiri dari subdistict:
Kebajoran, Tjiledoek, Kebondjeroek dan Tjipoetat. Sebagaimana diketahui pada
masa ini Tjipoetat masuk wilayah Tangeran (Provinsi Banten).

Pada
Sensus Penduduk 1930 pembagian district-district di atas menjadi dasar
penyelenggaraan pencacahan pada tingkat district.

Tunggu
deskripsi lengkapnya

Menaksir Penduduk Banten Zaman
Kuno

Tunggu
deskripsi lengkapnya

 

*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi:
akhirmh@yahoo.com


, Terimakasih telah mengunjungi Dului.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.

Most Popular

To Top