Sejarah

Sejarah Banyumas (11): Serayu dan Tsiraija, Tjirajoe, Seraijoe dan Sungai Cartanagara di Banjoemas; Air Mangalir, DiengSampaiJauh


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Banyumas dalam blog ini Klik Disini

Kini
sungai Serayu. Sungai yang sama mungkin telah silih berganti nama: Tsiraija,
Tjirajoe, sungai Banjoemas dan sungai Cartanagara. Nama sungai tergantung sudut
pandang: dari pedalaman di pegunungan dapat berbeda dari pesisir dan lautan. Seperti
sungai-sungai lainnya, sungai Serayu sendiri kini menjadi jauh lebih panjang dibanding
pada masa lampau. Mengapa? Yang jelas air sungai Serayu mengalir dari gunung
Dieng menjadi jauh hingga mendekati pulau Nusa Kambangan.

 

Sungai
Serayu atau Bengawan Serayu di Jawa Tengah, membentang dari timur laut ke barat
daya 181 Km, melintasi lima kabupaten: Wonosobo, Banjarnegara, Purbalingga,
Banyumas dan Cilacap. berada di lereng gunung Prahu di wilayah (pegunungan) Dieng
kabupaten Wonosobo. Kemungkinan, nama Serayu dari nama sungai Sarayu dalam
wiracarita Ramayana (sungai dekat Ayodya, kota tempat kelahiran Raden Rama
Regawa tokoh utama kisah Ramayana). Kali Serayu debit air yang besar, di hulu Banjarnegara
656 M³/detik. Dengan banyak sungai bermuara k eke Serayu, di hilir debit menjadi
2.866 M³/det dan 2.797 m³/det di Banyumas dan di Rawalo. Sungai Serayu dibendung
10 Km di barat kota Banjarnegara yang dikenal Waduk Mrica/Mrican luas genangan 12
Km² dimanfaatkan irigasi dan PLTA Mrica berkapasitas 184,5 MW. Kelestarian
perairan Kali Serayu terutama terancam sedimentasi, diakibatkan erosi tanah,
terutama yang terjadi di wilayah dataran tinggi Dieng. Nama Serayu pernah
menjadi nama maskapai kereta api lembah Serayu (Serajoedal Stoomtram
Maatschappij) masa Pemerintah Hindia Belanda sejak 1891 menyusuri lembah sungai
Serayu menghubungkan kota-kota Maos, Purwokerto, Sokaraja, Purbalingga, Banjarnegara
dan Wonosobo. Pada masa ini PT KAI mengoperasikan KA Serayu kelas ekonomi AC dari
Purwokerto ke Pasar Senen di Jakarta via Kroya, Maos, Tasikmalaya, Bandung dan Purwakarta
(Wikipedia).

Lantas bagaimana sejarah sungai Serayu, Tsiraija,
Tjirajoe, sungai Banjoemas dan sungai Cartanagara? Seperti disebut di atas,
sungai Serayu telah silih berganti nama sejak zaman kuno. Sungainya terus
memanjang. Mengapa? Yang jelas air sungai Serayu mengalir dari gunung Dieng hingga
jauh mendekati pulau Nusa Kambangan. Lalu bagaimana sejarah sungai Serayu,
Tsirajoe, Si Raja, sungai Banjoemas dan sungai Cartanagara? Seperti kata ahli
sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.

Sungai Serayu, Tsiraija, Tjirajoe, Sungai Banjoemas dan
Sungai Cartanagara; Air Mangalir dari Gunung Dieng Manjadi Jauh

Pada Peta 1706 sungai Serajoe diidentifikasi sebagai
sungai Cartanagara. Boleh jadi itu karena kota terdekat dimana Pemerintah VOC
membangun benteng di Banjoemas. Benteng ini adalah benteng pertama Pemerintah VOC
yang diakses dari pantai utara melalui daratan dan yang diakses dari pantai
selatan melalui sungai Serayu. Mengapa disebut sungai Cartanegara? Sulit
diketahui, apakah sungai Serajoe belum punya nama atau disebut Cartanegara
karena sebutan penduduk di wilayah utara seperti di wilayah Purbalinga.


Dalam Peta 1706 ini Banjoemas diidentifikasi sebagai wilayah negeri
(suatu wilayah di bawah kerajaan kecil di pedalaman). Nama Banjoemas sebagai
wilayah dan Cartanegara sebagai nama sungai tentulah menarik diperhatikan. Hal
ini karena mengundang pertanyaan mengapa nama sungai kemudian disebut sungai
Serayu? Fakta bahwa sungai diidentifikasi sebagai sungai Cartanagara.
Sebagaimana penamaan sungai di masa lampau ketika orang-orang Eropa mulai
memetakan wilayah selalu mengidentifikasi nama sungai dari wilayah pantai dari
arah mana mereka datang, sementara penduduk pedalaman di hulu sungai memiliki
nama sendiri. Sebagai contoh sungai Jakarta di hilir, sungai Tjiliwong di hulu,
demikian juga sungai Tangerang di hilir dan sungai Tjisadane di hulu. Hal itu
juga dengan sungai Kediri di hulu, sungai Brantas di hilir; serta sungai Semanggi
dan kemudian menjadi sungai Solo di hilir sementara di hulu disebut sungai
Bengawan. Bagaimana dengan sungai Tjitandoei? Serupa itu jugalah yang terjadi
dengan penamaan sungai Serayu.

Idem dito dengan penamaan sungai Cartanegara untuk
sungai Serajoe. Pada Peta 1706 tersebut juga gunung Slamet diidentifikasi
sebagai gunung Tegal. Disebutkan benteng yang dibangun di wilayah (district)
Banjoemas di sisi selatan sungai Cartanagara di selatan (belakang) gunung Tegal.
Boleh jadi pada masa ini wilayah (district) Banjoemas hanya diakses dari pantai
utara. Tidak diketahui bagaimana situasi dan kondisnya pada masa sebelumnya.
Francois Valentijn (1724) menyebut wilayah yang luas Banjoemas tersebut
dipimpin oleh Raden Parwata Sari yang kemudian diusir pasukan VOC.


Pada Peta 1724 sungai Serayu diidentifikasi sebagai Soute Rivier (sungai
garam, pen) dimana kampong terdekat di sisi barat muara sungai diidentifikasi Negorij
Lombong. Sementara di ujung barat daratan diidentifikasi nama kampong Donan
(kelak dimana kota Cilacap berada). Sungai Sorite ini hanya diidentifikasi
pendek (tidak sepanjang sungai Tjitandoei). Boleh jadi itu dari sudut pandang
dari pantai selatan di sekitar pulau Nusa Kambangan, sungai Sorite tidak bisa
dinavigasi jauh ke pedalaman di wilayah (district) Banjoemas karena arusnya yang
lebih deras (jika dibandingkan sungai Tjitandoei dan sungai Tjibereum). Sebab lain
sulit dinavigasi sungai Serayu karea di dekat denga muara sungai terdapat area
gosong (gundukan pasir) yang membuat dua arah aliran sungai ke hilir yang lebih
lebar dan lebih dangkal (berbeda dengan sungai Tjitandoei yang dalam).

Dengan menggabungkan keterangan yang terdapat dalam
peta 1724 dan Peta 1747 wilayah (district) Banjoemas seakan wilayah terpencil
dari jalur navigasi pelayaran perdagangan di pantai selatan Jawa. Wilayah
Banjoemas berdasarkan Peta 1747 masuk wilayah di bawah kerajaan Mataram.
Sebagaimana diketahui berdasarkan perjanjian antara Soesoehoenan Kartasoera dan
Pemerintah VOC (sebelum tahun 1687) wilayah Jawa bagian barat telah dipisahkan/diserahkan
dari (kerajaan) Mataram kepada Pemerintah VOC hingga batas sungai Tjibeureum di
pantai selatan dan batas sungai Losari di pantai utara (namun seperti kita
lihat nanti batas ini digeser kea rah batas dengan menarik garis batas baru
sepanjang sungai Tjitandoei hingga ke hulu di sekitar Bandjar.


Nama Banjoemas diduga nama lama, yang diduga sebagai nama sungai tempo
doeloe yang kemudian menjadi nama wilayah (nama district). Di wilayah dimana
Pemerintah VOC mendirikan benteng di sisi selatan sungai Cartanegara pada tahun
1706 kelak menjadi kota Banjoemas (benteng/fort Banjoemas). Nama Bandjar Negara
tidak dikenal sebagai nama kampong lagi, tetapi sudah nama wilayah dimana
ditempat dimana kemudian Pemerintah Hindia Belanda mendirikan benteng (lalu
menjadi kota). Sementara itu nama Poerwokerto pada awal Pemerintah Hindia
Belanda masih diidentifikasi sebagai sebuah nama desa. Sedangkan nama Poerbalingga,
desa yang lebih besar yang dibagi menjadi desa Poerbalingga Wetan dan desa
Poerbalingga Koelon di sisi selatan sungai Seraijoe Kiri. Sungai Seraijoe Kanan
melalui kota Bandjarnagara. Sungai Seraijoe Kiri dan sungai Seraijoe Kanan
bertemu di desa Bantar Doea yang ke hilir membentuk sungai Groote Seraijoe
(dimana melalui sisi utara kota Banjoemas). Bagaimana dengan nama kota
Tjilatjap? Tampaknya dari Namanya Tjilatjap adalah nama sungai yang bermuara di
kampong Donan (nama kampong tertua, sejak era VOC). Besar dugaan ketika Pemerintah
Hindia Belanda membangun benteng dan kota mengambil nama sungai (Tjilatjap) dan
sebagai pengganti nama sungai adalaha sungai Tjidonan (mengambil nama kampong
tua).

Tunggu deskripsi lengkapnya

Air Mangalir dari Gunung Dieng Manjadi Jauh: Letusan
Gunung di Hulu dan Sedementasi di Hilir

Kota-kota tua di wilayah
Banjoemas diantaranya adalah Banjoemas, Poerbalingga dan Bandjarnegara. Tiga
kota ini berada di daerah aliran sungai Serajoe. Besar dugaan tiga kota ini
sudah eksis sejak zaman kuno, dimana ketiga kota ini berada di suatu garis
pantai dari suatu danau besar di masa lampau. Danau besar di pedalaman ini
telah mengering. Hal ini karena tebing yang membentuk danau jebol mengikuti arah
sungai limpahan danau ke hilir menuju laut. Setelah mengering di dasar danau membentuk
alur sungai Serayu yang sekarang (sungai/kota Bandjanegara dan sungai/kota Poerbalingga
yang ke hilir melalui kampong/kota Banjoemas).


Pada saat danau kuno Banjoemas jebol, secara geomorfologis sungai Serajoe
saat itu belum sepanjang yang sekarang. Besar dugaan garis pantai teluk besar saat
itu sedikit di arah hilir sungai Serayu di wilayah kecamatan Rawalo dan
kecamtan Kebasem yang sekarang.   Lumpur di dasar danau ketika bentang alam yang
jebol itu membentuk arus air tersedot ke hilir yang mempercepart proses
sedimentasi di hilir (yang mebentuk daratan baru wilayah Cilacap bagian timur).
Apa yang menyebabkan danau besar Banjoemas jebol diduga kuat karena pengaruh gempa
tektonik atau gempa vulkanik (gunung Slamet meletus) yang menyebabkan retakan
bentang alam danuu yang berakibat danau jebol.

Tipologi danau Tipologi danau Banjoemas zaman kuno ini ditemukan di
sejumlah tempat di Indonesia, terutama di pulau Jawa dan di pulau Sumatra. Di
sekitar danau purba Banjoemas diduga menjadi awal terbentuknya peradaban kuno
di wilayah Banjoemas. Lantas apakah air danau pegunungan ini yang menjadi asal
usul nama Banyumas? Sungai-sungai yang menuju danau dari gunung Slamet
mengandung emas? Yang dalam navigasi pelayaran perdagangan zaman kuno (era
Hindoe Boedha) menjadi sangat penting?


Dalam navigasi pelayaran zaman kuno hingga awal era Hindoe Boedha, arah
perdagangan dari daratan Asia ke pulau-pulau Nusantara melalui pantai barat
Andaman, pantai barat Sumatra hingga ke pantai selatan Jawa. Hal itulah diduga
mengapa awal perkembangan peradaban di Sumatra bermula di pantai barat dan awal
perkembangan peradaban di Jawa bermulai di pantai selatan (muara sungai
Cimandiri, muara sungai Tjitandoei, muara sungai Banjoemas/Seraju (pulau
Kambangan, Solok dan Granaja), muara sungai Progo/Mataram, Wonogiri/Madioen (teluk
Pacitan) serta pantai selatan Malang dan teluk Lumadjang (pulau Sempu dan pulau
Nusa Barung). Lalu kemudian arah navigasi pelayaran dari barat ke Nusantara
juga menemukan jalan dari selat Malaka hingga pantai timur Sumatra terus ke
pantai utara Jawa. Salah satu pusat perdagangan di pantai utara Jawa berada di
wilayah Tagal yang terintegrasi dengan wilayah Banjoemas di selatan. Tentu saja
di daratan Asia dari barat (India) ke timur (Tiongkok/Indochina) masih melalui
darat; orang Tiongkok sendiri yang bukan pelaut masih belum melakukan navigasi
pelayaran perdagangan. Justru sebaliknya orang Nusantara memulai melakukan navigasi
pelayaran perdagangan ke pantai timur Tiongkok (Canton). Dalam konteks inilah
kita membicarakan awal navigasi pelayaran perdagangan di wilayah pantai selatan
Jawa, dalam hal ini secara khusus di wilayah Banjoemas. Harus dicatat bahwa
pada saat itu wilayah haris pantai Tegal jauh di pedalaman di dekat gunung
Gajah.

Para pedagang dari berbagai tempat melakukan
transaksi perdagangan di wilayah Banjoemas dengan membentuk koloni (pusat
perdagangan) di pulau-pulau sekitar Banjoemas seperti pulau Kambangan, pulau
Solok dan pulau Ganajah yang kemudian berinteraksi dengan populasi penduduk
Banjoemas di pantai diantaranya di sekitar pesisir, wilayah Kroya yang sekarang
(tepat berada di selatan kota Banjoemas), suatu jalur darat antara kota
pedalaman dengan kota pantai yang dipisahkan oleh rantai pegunungan Kendeng.


Sebagai salah satu peradaban tua di Jawa, wilayah Banjoemas yang saat itu
begitu dekat dengan pantai selatan, terintegrasi dengan wilayah Tegal di pantai
utara (yang begitu dekat ke pedalaman di gunung Gajah). Pada saat itu, wilayah
Banjioemas/Tegal adalah pusat perdagangan di Jawa dua sisi yang antara pantai
selatan dan pantai utara begitu sempit (semacam tanah genting). Hal itulah
mengapa dalam peta-peta kuno sejak era Ptolomeus mempersepsikan pulau Jawa
seakan terbagi dua bagian (dua pulau; Jawa bagian barat dan Jawa bagian timur).
Pada masa ini tanah genting lainnya di pulau Jawa terdapat di wilayah
Trenggaleg/Tulungagoeng yang seakan memisahkan wilayah Jawa bagian tengah
dengan Jawa bagian timur. Sementara itu di pulau Sumatra tanah genting ini
terdapat di wilayah Angkola (kini Tapanuli Selatan) yang seakan pulau Sumatra
terbagi dua (Sumatra bagian utara dan Sumatra bagian selatan) plus wilayah
kepulauan Andaman-Nikobar sebagai satu kesatuan wilayah yang terpisah. Besar
dugaan pulau Sumatra awalnya menyatu dengan pulau Jawa dan pulau Jawa menyatu
dengan pulau Bali (kemudian terbentuk selat Sunda dan selat Bali). Bukti-bukti ke
arah ini cukup banyak antara lain sebaran populasi orang negroid, sebaran
populasi gajah dan harimau serta jenis vegetasi yang sama dan pembentukan
bumi/jenis batuan dan tanah yang kurang lebih sama.

Penanda navigasi terpenting pada era pelayaran
perdagangan zaman kuno di wilayah Banjoemas di pulau Jawa (bagian tengah)
merujuk pada dua petunjuk navigasi yakni sungai Serayu dan gunung
Slamet/pegunungan Dieng. Dalam hal ini tiga wujud alam tersebut membentuk
wilayah Banjoemas sejak awal: sungai Serayu/sungai Banjoemas di Banjoemas
menjadi jalur perdagangan di sekitar danau dimana sungai-sungai berhulu di
gunung Dieng dan gunung Slamet. Secara khusus gunung Slemet diduga telah
memberi banyak pengaruh pada gemorfologis wilayah karena gunungnya yang sangat
aktif.


Pertanyaan tentang danau mengering memang sudah ada dari pemerhati
sejarah di berbagai tempat di Indonesia. Hanya saja bagaimana terjadinya proses
pengeringan dijelaskan kurang memuaskan. Namun dalam blog ini ada sejumlah artikel
yang mendeskripsikan tentang gejala tentang terjadinya proses pengeringan. Ada
yang bersifat alam dan ada juga yang bersifat buatan.  Yang bersifat alam, seperti disebutkan di atas
karena danau jebol karena adanya pengaruh gempa yang bersifat tektonik atau
vulkanik yang menyebabkan terjadinya retakan. Hal serupa itu diduga yang terjadi
pada cekungan Bandoeng, rawa besar di Tapanuli Selatan, lembah Tangse di Atjeh
dan sebagainya termasuk di Kawasan tertentu di dataran tinggi Malang. Nah,
bagaimana dengan di wilayah Banjoemas? Seperti disinggung di atas, juga secara
geomorfologis karena pengaruh alam. Sedangkan danau yang mengering akibat
pengaruh buatan, dilakukan oleh manusia sejauh ini ditemukan di Banten, yakni
danau pegunungan Rawa Danau di arah barat kabupaten Serang. Disebutkan pada
tahun 1836 suatu bagian yang sempit dari tanggul danau yang terbentuk dari batu
dijebol sehingga membuat saluran air keluar danau. Danau kemudian menyusut
sehingga bagian permukaan danau yang mengering yang seluas 524 bau dapat
dijadikan sawah padi dan 3.200 bau sesuai untuk perkebunan (lihat Javasche
courant, 16-03-1836). Ini seakan menjadi cara jenius untuk mendapatkan lahan
sumber tanpa menghilangkan sepenuhnya danau. Apakah hal serupa ini yang pernah
dilakukan di zaman dulu di rawa besar Tapanuli Selatan? Bukti ke arah itu ada.

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 



















*Akhir Matua
Harahap
, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak
1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta
Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di
Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun
di seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis
artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang,
utamanya jelang tidur.
Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi:
akhirmh@yahoo.com


, Terimakasih telah mengunjungi Dului.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.

Most Popular

To Top