Sejarah

Sejarah Banyumas (9): Populasi Penduduk Banyumas: Asal Usul Penduduk Asli dan Peradaban di Banyumas dari Masa ke Masa


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Banyumas dalam blog ini Klik Disini

Setiap
wilayah memiliki populasi penduduk. Setiap populasi penduduk memiliki asal-usul
sendiri. Setiap penduduk asli memiliki perkembangan peradaban sendiri. Namun
yang sulit dijawab seberapa tua penduduk asli, bagaimana perkembangan peradabannya
dari masa ke masa. Tentu saja ada warga pendatang yang melebur dengan penduduk
asli yang kemudian membentuk populasi penduduk baru dengan peradaban yang lebih
baru. Demekian selanjutnya hingga kehadiran orang Eropa/Belanda.

 

Jawa Banyumasan (Ngoko: Wong
Jawa Banyumasan; Krama: Tiyang Jawi Toyajenean, Indonesia: Orang Jawa
Banyumasan) adalah etnis Jawa di Jawa Tengah bagian barat. Sedikit berbeda
budaya, bahasa dan karakter dari etnis Jawa umumnya, lebih dikenal dengan
sebutan wong ngapak (logatnya yang ngapak). Wilayah yang mengitari gunung
Slamet dan sungai Serayu, dipimpin oleh keluarga Wiryodiharjo. Wilayah
Banyumasan terdiri dari eks karesidenan Banyumas yang meliputi; Cilacap,
Banjarnegara, Purbalingga dan Banyumas. Walaupun terdapat sedikit perbedaan
(nuansa) adat-istiadat dan logat bahasa, tetapi secara umum daerah-daerah
tersebut dapat dikatakan “sewarna”, yaitu sama-sama menggunakan
Bahasa Jawa Dialek Banyumasan. Pada awal masa kerajaan Hindu-Buddha, wilayah
Banyumasan pengaruh Kerajaan Tarumanagara di barat dan Kerajaan Kalingga di
timur dengan Sungai Cipamali sebagai batas alamnya. Singkatnya jelang berakhir
kejayaan kerajaan Pajang dan berdirinya Kesultanan Mataram (1587), Adipati
Wargo Utomo II menyerahkan kadipaten Wirasaba ke saudara, lalu membentuk kadipaten
baru Banyumas menjadi Adipati pertama dengan gelar Adipati Marapat.Setelah
pusat kadipaten dipindahkan ke Sudagaran kadipaten-kadipaten di wilayah
Banyumasan tunduk pada Mataram.tetapi masih memiliki otonomi dan penduduk
Mataram menyebut wilayah Mancanegara Kulon (antara Bagelen (Purworejo) sampai
Majenang (Cilacap)
(Wikipedia).

Lantas bagaimana sejarah populasi penduduk Banyumas?
Seperti disebut di atas, wilayah Banyumas adalah wilayah peradaban tua. Namun
seberapa tua sulit diketahui secara pasti. Yang jelas asal usul penduduk asli
Banyumas adalah perkembangan peradaban Banyumas itu sendiri dari masa ke masa. Lalu
bagaimana sejarah populasi penduduk Banyumas? Seperti kata ahli sejarah tempo
doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan
wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang
digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.

Populasi Penduduk Banyumas: Asal Usul Penduduk Asli
Banyumas dan Peradaban Banyumas Masa ke Masa

Populasi penduduk suatu wilayah berawal dari suatu populasi
penduduk asli, yakni penduduk terawal yang membangun peradaban di wilayah
insitu. Ini berlaku umum di seluruh wilayah Indonesia, dalam hal ini secara
khusus di Jawa. Populasi penduduk yang sekarang, yang membentuk peradaban masa
kini, sejatinya belum selesai dan akan terus berlanjut hingga jauh ke masa
depan. Dalam konteks inilah kita berbicara tentang populasi penduduk yang
membentuk tingkat peradabannya sendiri pada suatu wilayah tertentu dari masa ke
masa (secara continuum) termasuk di wilayah Banyumas. Tingkat peradaban yang
dipengaruhi banyak factor.


Banyak factor yang mempengaruhi populasi penduduk di suatu wilayah
tertentu, antara lain ras (termasuk genetic), lingkungan alam (geografi) dan
lingkungan social (hubungan antar manusianya). Faktor ras/genetic mempengaruhi wujud
fisik seperti raut wajah dan rambut; factor lingkungan alam seperti geomorfologi
dan sumberdayata alam yang mempengaruhi kalori dan gizi tubuh dan adaptasi
terhadap pola bertempat tinggal; factor hubungan antara manusia yang secara
besama-sama atau tidak dengan factor lainnya dalam pembentuk wujud peradaban
seperti bahasa, adat istiadat (termasuk pola perkawinan), arsitektur, music,
budidaya, religi dan sebagainya. Elemen-elemen peradaban ini cenderung
diturunkan, diwariskan antara generasi.

Peradaban yang lebih luas membentuk kebudayaan yang
lebih rigid (seperti kebudayaan Asia dan kebudayaan nusantara). Sedangkan kebudayaan
yang lebih sempit (terbatas) membentuk budaya-budaya local yang sangat banyak
variasinya, termasuk di pulau Jawa sendiri, seperti budaya Jawa, budaya Sunda,
budaya Madura, budaya Tengger, budaya Betawi dan juga budaya Banyumasan.
Kebudayaan yang sama pada wilayah geografis yang sama membentuk konfigurasi
budaya yang bersifat sambung menyambung (interception) dan pada level budaya
juga bersifat sambung menyambung dengan wilayah budaya yang berdekatan
dengannya tetapi satu sama lain menunjukkan budaya yang khas (core culture).
Seperti disebut dalam artikel sebelum ini, budaya Banyumasan yang khas adalah
soal (dialek) bahasa (yang dapat dibedakan dengan dialek/bahasa Jawa dan bahasa
Sunda).


Salah satu hal yang perlu disadari dalam memetakan budaya local di dalam
region yang lebih luas adalah tentang asal-usul budaya, dalam arti dimana
budaya itu berawal, berkembang dan kemudian meluas ke berbagai tempat di kawasan.
Titik awal adalah titik dimana core culture dipertahankan lebih kuat dan wilayah/area
yang meluas membentuk perkembangan budaya yang lebih terhubung dengan budaya di
tempat lainnya. Dalam perjalanan perkembangan budaya asli ke budaya yang lebih
meluas secara wilayah juga dipengaruhi oleh adanya perubahaan geomorfologis
wilayah dari waktu ke waktu. Wilayah pesisir/pantai cenderung berubah dari
waktu ke waktu relative terhadap daratan. Budaya inti yang bermula di
pedalaman/daratan dapat bergeser ke wilayah pantai karena factor ancaman
(bencana alam atau perang); dan sebaliknya budaya baru di wilayah pantai dapat
bergeser ke pedalaman karena adanya ancaman, serangan dari laut atau karena mendapat
kemenangan (dalam perang) di wilayah baru di daratan.

Secara khusus (dialek) bahasa umumnya dipengaruhi factor
hubungan sosiobudaya, antara penduduk asli dengan core cultur dengan warga
pendatang dengan elemen budaya baru. Warga pendatang ini hadir dari wilayah
yang lebih dekat, dan pendatang dari jauh hadir melalui navigasi pelayaran
perdagangan (yang dapat membawa elemen-elemen budaya yang berbeda, termasuk bahasa
dan religi. Bentuk akumulasi perubahan-perubahan budaya di wilayah tertentu ini
yang membentuk peradaban yang terus berubah dari waktu ke waktu hingga masa
kini. Oleh karenanya siapa populasi penduduk Banyumasan haruslah dilihat dari
perjalanan budaya itu sendiri, perjalanan peradaban di wilayah itu sendiri.


Peradaban/budaya yang berkembang di suatu wilayah bisa jadi tidak
bersifat continuum, tetapi ada peradaban/budaya pada suatu masa tertentu di
masa lampau, peradaban/budaya mengalami degradasi karena bencana (gunung Meletus,
banjir besar dan epidemic) dan juga serangan (genosida) yang kemudian terjadi promosi
peradaban/budaya baru yang menyebabkan terjadinya suksesi atau dominasi budaya/peradaban
dari pendatang di wilayah populasi penduduk asli.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Asal Usul Penduduk Asli Banyumas dan Peradaban
Banyumas Masa ke Masa: Geomorfologis Wilayah, Bahasa dan Budaya

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 



















*Akhir
Matua Harahap
, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok
sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan
Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti
di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi
berkebun di seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau.
Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu
senggang, utamanya jelang tidur.
Saya
sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah
dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog
ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish).
Korespondensi:
akhirmh@yahoo.com


, Terimakasih telah mengunjungi Dului.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.

Most Popular

To Top