Apakah ada sejarah Ciawi Bogor? Ada dong. Namun sangat disayangkan tidak
terinformasikan. Jika kita search ‘sejarah Ciawi’ di google tak satu pun situs
yang muncul yang mendeskripsikan sejarah Ciawi. Itulah nasib Sejarah Ciawi yang
tidak dicatat oleh jaman baru. Sejarah Ciawi masa lampau tenggelam di sungai
Tjiawi.
![]() |
| Ciawi (Peta 1901) dan Gadok (1865) |
Ciawi Bogor hanya ‘tersinggung sedikit’ yang dihubungkan
dengan pembangunan jalan tol Jakarta-Bogor dan Ciawi (JaGorAwi) yang dimulai
tahun 1973. Ciawi Bogor sedikit tersungging dengan pendirikan universita UNIDA
(Universitas Djuanda) di ujung jalan tol di Ciawi. Lalu, apa lagi? Tidak ada
lagi. Ciawi hanya muncul teriakan sesaat ketika bis dari Bogor ke Cianjur atau
Sukabumi melewati Ciawi atau bis dari Jakarta lewat tol ke Bandung atau
Sukabumi. Ciawi hanya dianggap perlintasan. Lalu apakah karena itu Sejarah
Ciawi hanya ditulis selintas saja? Entahlah!
kita menggali data Sejarah Ciawi yang berada di dasar sungai Tjiawi. Jika
perhatikan data-data tersebut, Sejarah Ciawi ternyata sangat luar biasa.
Sebagai penanda navigasi Sejarah Ciawi tempo doeloe berangkat dari Buitenzorg
(Bogor) ke Tjiandjoer. Dalam perkembangannya terbuka jalur dari Tjiandjoer ke
Soekaboemi. Pihak Soekabomilah yang kemudian meminta dihubungkan dengan Tjiawi
agar menjadi lebih dekat dengan Buitenzorg (menjauh dari Tjiandjoer). Sejak itu
Tjiawi sebagai interchange menjadi sangat penting. Sejarah baru Tjiawi dimulai.
Nah, untuk menengok bagaimana Sejarah Ciawi berlangsung, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.
![]() |
| Kecamatan Ciawi, Bogor (Now) |
Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’
seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan
sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil
kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini
tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang
lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah
disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih
menekankan saja*.
empat yang sekarang. Kampong Tjiawi juga bukan di jalan utama ke arah Gadok tempat
kantor Kecamatan Ciawi yang sekarang. Kampong Tjiawi bermula di jalan menuju
Sukabumi yang sekarang di sebelah kanan jalan yang menjadi lokasi dimana kantor
Kepala Desa Ciawi berada. Akses jalan ini dibuka pada era VOC (dari jalan
utama, persimpangan empat yang sekarang) ke land Tjikoppo yang (kebetulan)
melalui kampong Tjiawi. Kampong Tjiawi yang awalnya memiliki jalan setapak ke
jalan raya menjadi lebar (karena menjadi jalan tanah partikelir).
![]() |
| Kampong Tjiawi di land Tjikoppo (Peta 1870) |
partikelir yang sangat luas.Suatu land yang berada di sisi timur land Bloeboer
(Buitenzorg) ke arah Tjisaroea. Landhuis (ibu kota) land Tjikoppo sendiri
berada di Gadok. Siapa pemilik land Tjikoppo tidak diketahui secara jelas. Namun
yang jelas pada awal era Pemerintah Hindia Belanda (VOC dibubarkan pada tahun
1799), Johannes van den Bosch, pemilik land Pondok Gede (district Bekasi)
membeli sebagian land Tjikoppo di daerah aliran sungai Tjisoesoepan. Land van
den Bosch yang secuil ini kemudian disebut land Pondok Gede. Meski demikian,
kampong Tjiawi masih termasuk land Tjikoppo. Land Pondok Gede ini berpangkal di
jalan pos (Buitenzorg-Tjisaroea). Johannes van den Bosch adalah orang yang
memimpin ekspedisi ke Priangan pada era Gubernur Jenderal Daendels (1808-1811)
sebelum terjadi pendudukan Inggris (1811-1816). Kelak, setelah Pemerintah
Hindia Belanda berkuasa kembali, pasca perang Jawa Johannes van den Bosch menjadi
Gubernur Jenderal Hindia Belanda (1830-1833), gubernur yang terkenal dengan
kebijakan koffiestelsel.
![]() |
| Tijdschrift voor Neerland’s Indie, 1842 dan Peta 1901 |
Land Pondok Gede tidak
terlalu luas untuk ukuran land. Land Pondok Gede milik Johannes van den Bosch
diduga hanya ditujukan untuk tempat peristirahatan. Sebab di land Pondok Gede
(district Bekasi) yang berhawa panas dan kurang sehat. Meski lahannya kecil
sudah barang tentu ada budidaya yang diusahakan seperti kopi. Dimana posisi
landhuis land Pondok Gede milik Johannes van den Bosch diketahui berada di
kampong Bandoengan (di sisi sungai Tjimenteng). Jaraknya dari kota Buitenzorg
6.5 pal dengan ketinggian 1.720 kaki dpl (lihat Tijdschrift voor Neerland’s
Indie, 1842).
sisi barat land Pondok Gede dijual pemiliknya yang kemudian terbentuk land baru
yang disebut land Tjiawi. Disebut land Tjiawi karena di land yang terjepit
antara land Bloeboer dan land Pondok Gede terdapat nama sungai dan nama kampong
Tjiawi. Siapa pemilik land Tjiawi tidak begitu jelas, tetapi diduga kuat
keluarga Johannes van den Bosch.
![]() |
| Regentschap Buitenzorg Pert. Landen |
Setelah
nama kampong Tjiawi ditabalkan menjadi nama land, nama Tjiawi di Buitenzorg
(Bogor) secara perlahan mulai terkenal. Sebelumnya nama Tjiawi hanya terkenal
di District Soemedan-Limbangan. Tjiawi Buitenzorg dan Tjiawi Limbangan mulai
bersaing di tingkat nasional. Limbangan kelak lebih dikenal dengan nama
Tasikmalaja.
seluruh Hindia Belanda, pada tahun 1826 pemerintahan pusat melakukan penataan
ulang pemerintahan dan membentuk cabang-cabang pemerintahan yang baru termasuk di
Afdeeling Buitenzorg (lihat Bataviasche courant, 04-10-1826). Residentie
Buitenzorg dilebur ke Residentie Batavia. Di Afdeeling Buitenzorg ditempatkan
seorang Asisten Residen yang berkedudukan di Buitenzorg. Sejak pendudukan
Inggris status Buitenzorg adalah sebuah Residentie yang dipimpin oleh seorang
Residen.
![]() |
| Staatsblad van Nederlandsch-Indie voor 1864 |
Sehubungan
dengan pengangkatan Asisten Resident Buitenzorg (beserta perangkatnya), juga
diangkat Bupati (beserta perangkatnya, seperti kepala penghoeloe dan djaksa).
Selain itu dibentuk empat district yang masing-masing dikepalai oleh seorang
Demang, Keempat district tersebut adalah Tjibinong, Paroeng, Djasinga dan
Tjibaroesa. Secara keseluruhan Asisten Residen Buitenzorg membawahi dua Bupati
dan empat demang. Dua bupati tersebut berada di (district) Buitenzorg. Bupati
pertama memimpin penduduk di tanah-tanah pemerintah (gouvernementslanden) yang
meliputi ibu kota Buitenzorg atau Bogor (di Empang), Pasar, Bloeboer dan
Kampong Baroe; sedangkan bupati yang kedua mencakup wilayah-wilayah tanah
partikelir di Buitenzorg yakni Tjisaroea, Pondok Gede, Tjikopo, Tjiawi,
Tjitjoeroek,Tjiomas dan Dramaga.
land Pondok Gede diizinkan pemerintah untuk membangun pasar berdasarkan
Staatsblad No 84 tahun 1864 (lihat Staatsblad van Nederlandsch-Indie voor 1864).
Dalam staatsblad ini disebutkan lokasi pasar land Tjikoppo ini berada di dekat
kamping Pasir Moentjang (buka setiap hari Rabu dan hari Sabtu yang tutu sebelum
petang). Untuk pasar land Pondok Gede berada di land Tjiawi jalan ke arah Srogol
yang buka setiap hari Kamis dan tutup sebelum petang dan di land Tjiedjeroek
dekat kampong Srogol yang buka setiap hari Sabtu dan tutup sebelum petang.
![]() |
| Land Tjoetak Tjidjeroek dan land Tjikoppo (Peta 1870) |
Dari keterangan ini diduga kuat bahwa land Tjiawi
dan land Tjidjeroek telah dikuasai oleh pemilik land Pondok Gede (keluarga Johannes
van den Bosch). Sebagaimana diketahui Johannes van den Bosch meninggal dunia di
Den Haag ketika berobat. Namun demikian, lahan land Pondok Gede (district
Bekasi) dan land Pondok Gede (district Buitenzorg) masih dikuasai oleh keluarga
almarhum. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa pemilik land terkenal di
Buitenzorg timur adalah keluarga van den Bosch, sementara di Buitenzorg barat
adalah keluarga van Motman.
Terhubung ke Tjiawi
jalan pos (post-weg), tetapi jalan yang dirintis oleh Andries de Wilde. Jalan
yang dirintis oleh pemilik land Goenong Parang (Soekaboemi) kemudian dijadikan
jalan pos (post-weg) dari arah timur di kota Tjiandjoer menuju Soekaboemi dan
dari kota Soekaboemi terus ke Palaboehan (Palaboehan Ratoe). Dalam
perkembangannya dibangun jalan post dari arah barat di Buitenzorg menuju
Soekaboemi.
![]() |
| Lokasi pasar di Pasir Montjang dan di Srogol (Peta 1901) |
Resolutie
di dalam Staatsblad 1836 No 6 ditambahkan (lihat Staatsblad van Nederlandsch
Indie voor 1872). Disebutkan bahwa untuk melengkapi Pasal 3 yang diinginkan
dari Resolusi 28 Januari tahun 1836 No. 24 untuk menentukan bahwa kelas jalan pertama
di Afdeeling Buitenzorg (Residentie Batavia) termasuk dari Buitenzorg di
land-land Pondok Gede, Tjiawi, Srogol ke Preaitger Regtntxcliappen.
namun tidak pernah terealisasi. Sejak 1870 status Controleur di Soekaboemi telah
ditingkatkan menjadi Asisten Residen. Sehubungan dengan pembangunan jalan pos
baru dengan pemindahan jalan militer Buitenzorg-Tjiandjoer via Tjisaroea
(Megamendoeng) menjadi via Soekaboemi, realisasi pembukaan jalan antara
Soekabomi dan Buitenzorg ini menjadi (lebih cepat) terwujud. Jalan pos yang
tersambung dari Buitenzorg dan Tjiandjoer ini menjadi jalan utama di
Soekaboemi. Namun peruntukkan jalan ini bukan untuk umum (hanya diutamakan
untuk pergerakan militer). Para pengusaha di Soekaboemi cukup kecewa.
yang tidak mendukung para pengusaha planter di Soekaboemi sempat menimbulkan
protes. Jalan pintas yang diidam-idamkan oleh para planter Soekaboemi yang
dimotori oleh pengusaha kuat Eekhout ternyata telah diambilalih untuk keperluan
militer. Pemerintah pusat tetap menganjurkan pengusaha Soekaboemi mendorong
jalur produksi ke Pelaboehan Ratoe. Pemerintah akan mendukung dengan mengatur
kapal paket post secara reguler dari Batavia ke Soekaboemi (Pelaboehan Ratoe).
agak telat, mulai terobati dengan adanya kebijakan pemerintah pusat untuk
meneruskan pembangunan jalur kereta api dari Buitenzorg ke Bandoeng via
Soekaboemi en Tjiandjoer. Jalur kereta api Batavia-Buintenzorg mulai beroperasi
pada tahun 1873. Sedangkan jalur kereta api Buitenzorg-Bandoeng ruas pertama
yang dioperasikan antara Buitenzorg dan Soekaboemi pada tahun 1882.
Tjiawi dalam Perkembangan Lebih Lanjut
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

, Terimakasih telah mengunjungi Dului.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.


















