Sejarah Indonesia

Sejarah Indonesia Jilid 6-5: Nama Indonesia dan Kongres Hindia di Belanda 1917; Nama-Nama Mahasiswa Usulkan Nama Indonesia


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Indonesia Jilid 1-10 di blog ini Klik Disini

Dja Endar Moeda pernah menyatakan di Padang pada tahun 1897
bahwa pendidikan dan jurnalis sama pentingnya: “sama-sama mencerdaskan bangsa”.
Pada tahun 1900 Dja Endar Moeda mendirikan organisasi kebangsaan Indonesia
pertama di Padang dengan nama “Medan Perdamaian”. Organisasi kebangsaan
Indonesia pertama di Belanda didirikan oleh Soetan Casajangan pada tahun 1908
dengan nama Indische Vereeniging. Setelah Indische Vereeniging mengusulkan nama
Indonesia dalam Kongres Hindia 1917 di Den Haag, Sorip Tagor pada tahun 1919 menyatakan
bahwa pendidikan dan politik sama pentingnya: “sama-sama mencerdaskan bangsa”.
 Sejarah Bahasa Indonesia


Meskipun pencetusan nama Indonesia
secara ilmiah dimulai sejak 1850 oleh George Samuel Windsor Earl dan James
Richardson Logan, penggunaan nama tersebut dalam konteks politik formal oleh
mahasiswa Indonesia di Belanda tercatat pada Kongres Hindia 1917 (Indische
Congres) yang diselenggarakan di Den Haag. Pada kongres ini, gagasan untuk
menggunakan nama “Indonesia” sebagai pengganti “Hindia
Belanda” mulai menguat di kalangan mahasiswa yang tergabung dalam Indische
Vereeniging (Perhimpunan Hindia). Evolusi Penggunaan Nama: 1850: Nama Indonesia
awalnya dicetuskan oleh George Samuel Windsor Earl dan James Richardson Logan
sebagai istilah geografis untuk kepulauan Hindia Timur; 1917: Nama
“Indonesia” diusulkan secara lebih luas dalam forum Kongres Hindia
sebagai identitas bangsa; 1922: Indische Vereeniging mulai menggunakan kata
“Indonesia” dalam tujuan politiknya; 1925: Organisasi tersebut resmi
berganti nama menjadi Perhimpunan Indonesia; 1928: Nama Indonesia dikukuhkan
secara nasional melalui Sumpah Pemuda; 1945: Nama Indonesia diadopsi dalam
konstitusi negara Republik Indonesia
(AI Wikipedia) 

Lantas bagaimana sejarah nama
Indonesia dan dan Kongres Hindia 1917? Seperti disebut di atas, nama Indonesia
diusulkan oleh mahasiswa yang tergabung dalam Indische Vereeniging dalam pada
Kongres Hindia 1917 di Den Haag. Dalam hal ini siapa saja nama-nama mahasiswa yang
hadir dalam pengusulan nama Indonesia tersebut? Lalu bagaimana sejarah nama
Indonesia dan dan Kongres Hindia 1917?
Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah
nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.Sejarah Mahasiswa di Indonesia

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya
yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah
pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk
lebih menekankan saja. Dalam hal ini saya bukanlah penulis sejarah,
melainkan
hanya sekadar untuk menyampaikan apa yang menjadi
fakta (kejadian yang benar pernah terjadi) dan data tertulis yang telah
tercatat dalam dokumen sejarah.
 

Nama
Indonesia dan dan Kongres Hindia 1917; Nama-Nama Mahasiswa yang Hadir dalam Pengusulan
Nama Indonesia

Pada tahun 1911 Radjioen
Harahap gelar Soetan Casajangan pendiri dan ketua Indische Vereeniging di
Belanda diundang oleh Vereeniging Moederland en Kolonien (Organisasi para
ahli/pakar bangsa Belanda di negeri Belanda dan di Hindia Belanda) untuk
berpidato dihadapan para anggotanya. Dalam forum yang diadakan pada tahun 1911
ini, Soetan Casajangan, berdiri dengan sangat percaya diri dengan makalah 18
halaman yang berjudul: ‘Verbeterd Inlandsch Onderwijs’ (peningkatan pendidikan
pribumi): Berikut beberapa petikan penting isi pidatonya. Beberapa kutipannya
sebagai berikut:
 


Geachte Dames en Heeren! (Dear Ladies and
Gentlemen): “…saya selalu berpikir
tentang pendidikan bangsa saya…cinta saya kepada ibu pertiwa tidak pernah
luntur…dalam memenuhi permintaan ini saya sangat senang untuk langsung
mengemukakan yang seharusnya..saya ingin bertanya kepada tuan-tuan (yang hadir
dalam forum ini). Mengapa produk pendidikan yang indah ini tidak juga berlaku
untuk saya dan juga untuk rekan-rekan saya yang berada di negeri kami yang
indah. Bukan hanya ribuan, tetapi jutaan dari mereka yang merindukan pendidikan
yang lebih tinggi…hak yang sama bagi semua…sesungguhnya dalam berpidato ini
ada konflik antara ‘coklat’ dan ‘putih’ dalam perasaan saya” (melihat
ketidakadilan dalam pendidikan pribumi).
 

Soetan Casajangan
menyelesaikan pendidikan dengan akta MO (sarjana pendidikan setingkat IKIP pada
masa kini) tahun 1909. Pada tahun 1909 ini juga Raden Kartono (abang RA
Kartini) menyelesaikan studi dalam bidang sastra. Soetan Casajangan
 dan Raden Kartono tinggal di alamat yang sama
di Leiden. Meski demikian keduanya belum segera kembali ke tanah air. Soetan
Casajangan dengan sertifikat sarjananya mengajar bahasa Melayu di sekolah
Handelschool di Amsterdam.
 


Het koloniaal weekblad; orgaan der Vereeniging
Oost en West, jrg 8, 1908, No. 52, 24-12-1908: ‘”Indische
Vereeniging” (Perhimpunan Hindia). Kami sudah lama mengetahui bahwa sebuah
asosiasi mahasiswa India di negara ini sedang dalam proses pembentukan. Ketika
kami baru-baru ini membaca laporan tentang hal ini di surat kabar utama, kami
bertanya kepada Bapak R. Soetan Casajangan tentang hal itu dan menerima balasan
berikut: Leiden, 22 Desember 1908. “Menanggapi surat Anda kemarin, dengan
sopan saya memberitahukan hal berikut: Tiga tahun yang lalu, saya sudah
berencana untuk mendirikan sebuah asosiasi untuk orang India di negara ini.
Karena saya terlalu sibuk saat itu, saya tidak dapat melaksanakan rencana saya.
Pada bulan Juni tahun ini, Bapak JH Abepdanon datang menemui saya dan bertanya
apakah saya pernah mempertimbangkan untuk mendirikan sebuah asosiasi untuk
orang-orang India. Saya menjawab ya, dan beliau kemudian mendorong saya untuk melanjutkan
rencana yang bermanfaat ini. Saya kemudian memilih salah satu orang India
sebagai kolaborator saya, RM Soemitro. Kami lalu mengirim surat kepada semua
orang Hindia yang belajar di Belanda. Janji temu untuk menghadiri pertemuan
pendirian. Pada tanggal 25 Oktober 1911, pukul 14.00, kami, 15 orang Hindia,
berkumpul di kediaman saya, Hoogewoerd 49, Leiden, dan pertemuan pertama
diadakan. Saya menginstruksikan Soemitro untuk memimpin pertemuan; R Hoesein
Djajadiningrat adalah sekretaris sementara. Setelah pidato pembukaan oleh ketua
sementara, draf anggaran dasar dan peraturan internal dibacakan. Anggaran dasar
sementara disetujui secara prinsip dengan suara bulat dan diputuskan untuk
mendirikan “Indische Vereeniging”. Kemudian kami melanjutkan
pemilihan pengurus. a. R Soetan Casajangan Soripada terpilih sebagai ketua
asosiasi. b. RM Soemitro diangkat sebagai sekretaris dan bendahara. Atas nama
asosiasi, ketua sementara mengucapkan terima kasih kepada Soetan Casajangan Soripada
atas inisiatifnya dan mengucapkan selamat kepada kedua pria tersebut atas
pengangkatan mereka. Sebuah komite, yang terdiri dari R Soetan Casajangan Soripada,
RM Soemitro, RM P Sosro Kartono, dan R Hoesain Djajadiningrat ditunjuk untuk
menyusun lebih lanjut anggaran dasar dan peraturan. Pertemuan kedua diadakan di
Den Haag pada tanggal 15 November 1911. Ketua membuka pertemuan, dan komite
membahas anggaran dasar dan peraturan; anggaran dasar ditinjau dan disetujui
satu per satu dan kemudian diadopsi secara bulat. Ketua mengucapkan terima
kasih kepada komite, anggota asosiasi, dll., dan menutup pertemuan. Inilah
sejarah “Indische Vereeniging”. Jika Anda bermaksud untuk membagikan
ini di majalah mingguan kami, juga sebagai insentif untuk bergabung sebagai
donatur, dll., maka ini mendapat simpati penuh saya. Pada saat yang sama, saya
juga mengirimkan salinan anggaran dasar dan peraturan kepada Anda”. Dari
anggaran dasar ini (yang juga tersedia untuk dibaca di meja baca di Heuïstraat
17), kami mengutip beberapa pasal: Pasal 1. Perhimpunan ini bernama “Indische
Vereeniging” (Perhimpunan Hindia) dan didirikan di Den Haag. Pasal 2. Tujuan Perhimpunan
adalah untuk mempromosikan kepentingan bersama warga Hindia di Belanda dan
untuk menjaga kontak dengan Hindia Belanda. Yang dimaksud dengan warga Hindia
adalah penduduk pribumi Hindia Belanda. Pasal 3. Perhimpunan berupaya mencapai
tujuan ini dengan: a. Mempromosikan interaksi antar warga Hindia di Belanda. b.
Mendorong warga Hindia untuk datang dan belajar di Belanda. Pasal 2 Anggaran
Dasar memberikan penjelasan¹ untuk hal ini: Perhimpunan berupaya mendorong
warga Hindia untuk datang dan belajar di Belanda dengan: a. memberikan
informasi tentang belajar dan tinggal di Belanda; b. membantu warga Hindia yang
baru tiba; c. memberikan semua informasi yang mungkin tentang Belanda atas
permintaan. Lebih lanjut, Pasal 5 Anggaran Dasar menyatakan: Perhimpunan
terdiri dari: a. Anggota biasa; b. Anggota kehormatan; c. Donatur. Pasal 6.
Hanya warga Hindia yang tinggal di Belanda yang berhak menjadi anggota. Pasal
7. Anggota kehormatan adalah mereka yang telah memberikan jasa khusus kepada Perhimpunan.
Mereka diangkat atas rekomendasi dewan atau tiga anggota, dengan setidaknya 3/4
suara sah yang diberikan. Pasal 8. Donatur adalah mereka yang membayar biaya
keanggotaan tahunan minimal ƒ3 atau sejumlah uang minimal ƒ15. Tidak perlu kami
tambahkan bahwa kami sangat menyarankan pembaca kami untuk mendukung Perhimpunan
yang berharga ini sebagai tanda minat dengan menjadi sponsor”. 


Seperti dikutip di atas, Indische
Vereeniging sendiri didirikan di Leiden tahun 1908 yang diinisiasi oleh Soetan
Casajangan. Pada tahun 1911 masa jabatan ketua Indische Vereeniging Soetan
Casajangan setelah melalui pemilihan terpilih Noto Soeroto yang akan menjadi
ketua Indische Vereeniging.


Pada tahun 1911 Soetan Casajangan menginisiasi
pendirian Studiefond (dana pendidikan) bersama Abdoel Firman Siregar gelar Mangaradja Soangkoepon.
Pendirian Studiefond dimaksudkan untuk mengumpulkan dana dari berbagai sumber
untuk membiayai mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang kesulitan dana di Belanda. Studiefond
juga memberi bantuan finansial awal bagi pelajar Indonesia yang sedang mempersiapkan
keberangkatan studi ke Belanda. Sementara itu, dalam Kongres Boedi Oetomo tahun 1911 yang
diadakan di Jogjakarta disebutkan program utama Boedi Oetomo adalah memperluas
jangkauan pendidikan dan peningkatan kualitas guru Jawa. Pada tahun 1911 ini juga Pengurus
Boedi Otomo mengirim satu guru muda bernama Sjamsi Sastra Widagda ke Belanda untuk
studi keguruan yang dititipkan kepada Soetan Casajangan. 

Untuk menanggapi atas
didirikannya Indische Partij di Bandoeng Noto Soeroto merasa perlu untuk
memberi reaksi. Intinya, Noto Soeroto menyatakan Indische Vereeniging didirikan
sebagai fondasi untuk jangka panjang dan hanya ditujukan untuk membangun bangsa
sendiri (baca: bangsa pribumi). Indische Vereeniging dan Indische Partij
memiliki tujuan yang sama tetapi dengan cara yang berbeda.
 


De Sumatra post, 17-02-1913: ‘Suara pribumi di Belanda tentang Indische
Partij. Noto Soeroto, salah satu pemimpin mahasiswa pribumi di Belanda, menulis
di “Nieuwe Courant” Den Haag sebuah opini tentang Indische Partij dari
sudut pandang Indische Vereeniging, yang menyatukan penduduk pribumi yang
tinggal di Belanda. Mengingat komitmen terhadap perjuangan untuk hak dan
kemajuan Hindia, dan karena itu juga kita, penduduk pribumi, kita tidak boleh
bersimpati kepadanya (Douwes Dekker)”, kata Noto Soeroto. “Dan bahkan
kemudian, kita dapat sepenuhnya setuju dengan Partai Hindia pada prinsipnya.
Menurut pandangan Doouwes Dekker, apa yang menjadi ciri khas Indiers sejati
ini? Dia melihat mereka, bukan dalam ras, atau dalam keseimbangan, tetapi
semata-mata dalam perasaan tanah air kita, Hindia. Tidak ada kontradiksi
berdasarkan perbedaan kelahiran geografis, misalnya. Terdapat antitesis antara
penduduk pribumi yang lahir di Hindia Belanda dan penduduk Belanda “totok”.
Jika seseorang mencari keseriusan penduduk pribumi yang belajar atau pernah
belajar di Belanda, ia akan menemukan bahwa penghargaan dan kasih sayang
merupakan inti utamanya. Terhadap segala sesuatu yang bahkan sedikit pun
mendekati “kebencian,” sebuah sentimen yang dulu kita anggap, di
antara kita penduduk pribumi, bukanlah ide yang baik. Mungkinkah sebaliknya?
Kita tidak belajar untuk memahami karakter suatu bangsa dengan lebih baik
selain di negara itu sendiri, dengan mempelajari tentang rakyatnya; hubungan
dan kontak antara kita dan individu-individu dari bangsa itu yang pada akhirnya
menunjukkan arah di mana kita menyimpulkan penilaian kita terhadap bangsa itu.
Tidak ada yang lebih mencolok daripada sentimen lembut dari bangsa Belanda ini,
yaitu bahwa, sebagai tanggapan terhadap tuntutan populer, “kerja sama yang
ramah dengan Belanda” termasuk konversi tujuan perhimpunan penduduk pribumi
yang tinggal di Belanda, telah dimasukkan. Kita melihat bahwa arah Indische
Partij dan Indische Vereeniging cenderung menuju tujuan yang sama, atau
setidaknya tampak demikian, lanjut Noto Sieroto. Sudah menjadi sifat penduduk
Belanda bahwa, pada akhirnya, semua orang memiliki cita-cita yang sama,
masing-masing dalam kapasitas dan lingkupnya sendiri, oleh karena itu para
pendukung gerakan baru ini harus menunjukkan dukungan mereka, setidaknya.
Namun, jika kita melanjutkan perbandingan, kita akan melihat bahwa arahnya
secara bertahap semakin menjauh daripada mendekat. Pertama, jarak yang tepat
dari tujuan yang ingin dicapai oleh organisasi ini, tujuan besar: pembebasan
tanah dan rakyat Hindia. Indische Partij menginginkan pemisahan diri dari
Belanda sebagai negara merdeka, di mana setiap anggota harus menangani detail
mekanisme yang rumit. Namun, kita tidak tahu bagaimana Indische Partij membayangkan
negara merdeka tersebut. Misalnya, turis India dengan bahasa gaul yang ada di
sana pada abad pertama belum begitu matang. Oleh karena itu, Indische
Vereeniging tidak menetapkan tujuan yang terlalu tinggi dan hanya bertanya pada
diri sendiri tujuan apa yang, menurut perhitungan manusia, dapat dicapai.
Kemudian, hal itu sampai pada kesimpulan mengenai upaya mereka dalam
pengembangan masyarakat, ekonomi, dan politik, dll. Kami juga bersimpati dengan
upaya boikot dan propaganda Indische Partij, ancaman kekerasan, dan bahasa
provokatif yang membangkitkan emosi. Indische Vereeniging berupaya menjalin
kerja sama yang ramah di antara orang pribumi dan orang Belanda. Tidak perlu
membandingkan para pendahulu terlalu jauh. Perbedaannya dapat dijelaskan dalam
beberapa kata: Indische Partij yang anti-Nsderlandsch-nationaal, sedangkan Indische
Vereeniging mencegah yang mengandung benih perselisihan dan keresahan, yang
justru merupakan kerja sama yang intens di masa kini; yang kedua berupaya
mendekati gagasan persatuan dari begitu banyak orang hebat. Sentimen ini lazim
dalam berbagai cara di antara kita: misalnya, malas; tanpa ketamakan, lesu,
baik di kalangan pribadi maupun di antara orang asing. Semoga kebaikan Tjipto
menyertai Indische Partij, jika keselamatan sejati negara dan rakyat kita
adalah apa yang diinginkannya’. Catatan: Indische Vereeniging dibangun di atas
kemampuan pribumi di Belanda (melalui pendidikan) sementara Indische Partij dalam
konteks kemampuan orang Indo/Belanda di Hindia (dalam konteks ekonomi).


Soetan Casajangan telah
membangun fondasi yang kuat bagi bangsa Indonesia (baca: pribumi) di Belanda,
yakni mendirikan organisasi pelajar/mahasiswa Indische Vereeniging tahun 1908
dan Studiefond tahun 1911 yang bertujuan untuk meringankan pelajar/mahasiswa
pribumi di Belanda. Dalam hal ini Soetan Casajangan guru tetaplah guru, guru
dengan status sarjana pendidikan (akta MO). Sementara itu di tanah air, telah didirikan
Indische Partij di Bandoeng pada tahun 1912. Namun Indische Partij harus
dibubarkan pada bulan Maret 1913.
 


Indische Partij adalah partai politik pertama di
Hindia Belanda yang secara terang-terangan menuntut pemisahaan Hindia Belanda
dari Belanda. Didirikan pada 25 Desember 1912 di Bandung oleh EFE Douwes Dekker,
Dr Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat. Semboyan Indische Partij
adalah “Indie voor Indiers” (Hindia untuk orang Hindia). Indische
Partij bertujuan menyatukan seluruh golongan masyarakat di Hindia Belanda (baik
pribumi maupun keturunan Indo, Cina, dan Arab). Karena dianggap subversif dan
berbahaya bagi stabilitas kolonial, pemerintah Belanda menolak status badan
hukum IP pada 4 Maret 1913. Pimpinan partai akhirnya membubarkan organisasi ini
pada 31 Maret 1913. Ketiga pendiri diasingkan ke Belanda pada tanggal 6 September
1913. Suksesi Indische Partij adalah organisasi bernama “Insulinde”.
 


Pada bulan Juli 1913 Soetan
Casajangan kembali ke tanah air. Soetan Casajangan akan diangkat sebagai direktur
sekolah guru di Fort de Kock (kini Bukittinggi). Sebelum berangkat ke tanah
air, Soetan Casajangan mendelegasikan Studiefond ke Indische Vereeniging yang
masih dijabat oleh Noto Soeroto. Soetan Casajangan juga pada tahun 1913 kembali
menerbitkan buku di Belanda yang diberi judul “Indische toestanden gezien door
een Inlander” (Kondisi di Hindia dilihat dari sudut pandang penduduk asli) yang
diterbitkan Uitgever Hollandia-Drukkerij di Baarn.


Sebelum ditempatkan sebagai direktur sekolah guru
pribumi di Fort de Kock, untuk sementara waktu ditempatkan di sekolah ELS di
Buitenzorg (kini Bogor). Pada saat ini yang menjadi assisten dosen di sekolah
kedokteran hewan (Veeartsenschool) di Buitenzorg adalah Sorip Tagor Harahap. Saat
Soetan Casajangan sudah berada di Fort de Kock mengetahui ada dua guru muda alumni
sekolah guru tersebut yang terbilang cakap di Soeliki bernama Dahlan Abdoellah
dan Saidi Ibrahim gelar Maharadja Soetan di Padang yang sebelumnya mengajar di
Soeliki (guru yang digantikan oleh Dahlan Abdoellah). Pada akhir tahun 1913 Sorip
Tagor, Dahlan Abdoellah dan Saidi Ibrahim gelar Maharadja Soetan alias Tan Malaka
sudah terinformasikan di Belanda. Tentu saja pada tahun 1913 ini di Belanda
yang terhubung dengan Soetan Casajangan masih ada sepertti Toedoeng Harahap gelar
Soetan Goenoeng Moelia, Mangaradja Soangkoepon dan Sjamsi Sastra Widagda.
Sementara itu, saat Soetan Casajangan tiba di Padang dan Fort d Kock senior ya Dja
Endar Moeda pemimpin surat kabar Pertja Barat telah diusir dari Padang setelah
terkena delik dengan hukuman cambuk pada tahun 1907. Dja Endar Moeda pendiri
organisasi kebangsaan pertama di Pada tahun 1900 sudah berada di Medan sebagai
pemimpin surat kabar Pewarta Deli. Seperti dikutip di atas, Dja Endar Moeda
pernah menyatakan di Padang pada tahun 1897 bahwa pendidikan dan jurnalis sama
pentingnya: “sama-sama mencerdaskan bangsa”. Dja Endar Moeda, pensiunan guru
yang menjadi jurnalis adalah orang yang membawa Soetan Casajangan ke Belanda
untuk melanjutkan studi tahun 1903. Saleh Harahap gelar Dja Endar Moeda sendiri
adalah kakak kelas Soetan Casajangan di sekolah guru Padang Sidempoean. Kebetulan
Dja Endar Moeda, Soetan Casajangan, Soetan Goenoeng Moelia, Mangaradja Soangkoepon
dan Sorip Tagor sama-sama kelahiran Padang Sidempoean.
 

Soetan Casajangan sudah
berada di tanah air sebagai direktur sekolah guru. Namun buah pikirannya di
Belanda terus menggelinding. Buah pikiran yang disampaikannya dalam pidato di
hadapan forum Vereeniging Moederland en Kolonien pada tahun 1911 dengan makalah
18 halaman yang berjudul: ‘Verbeterd Inlandsch Onderwijs’ (Peningkatan
Pendidikan bagi Masyarakat Pribumni) dan bukunya yang diterbitkan di Belanda
pada tahun 1913 berjudul “Indische toestanden gezien door een Inlander” (Kondisi
di Hindia Dilihat dari Sudut Pandang Penduduk Pribumi).
 


Soetan Casajangan adalah orang Indonesia pertama yang
meraih gelar sarjana pendidikan (akta MO) pada tahun 1909. Untuk mendapatkan
akta MO harus terlebih dahulu mendapatkan akta LO. Lalu siapa berikutnya? Pada
bulan September 1915 Sam Ratulangi diberitakan telah lulus ujian dan mendapat
akta guru MO Matematika (lihat Het vaderland, 13-09-1915). Tan Malaka mendapat
akta guru MO tahun 1916. Bagaimana dengan yang lainnya? Sjamsi Widagda mendapat
akta guru LO di Belanda tahun 1913, tetapi kemudian melanjutkan studi di bidang
perdagangan (ekonomi); Toedoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia lulus
ujian akta guru LO pada tahun 1915 di Leiden. Pada bulan Juni 1915 Dahlan
Abdoellah diberitakan lulus ujian guru acta LO di Den Haag (lihat Het
vaderland, 03-06-1915). Pada bulan ini diberitakan RM Soewardi Soerjaningrat
lulus ujian saringan masuk untuk berpartisipasi untuk mendapatkan akte guru
hulp acte atau LO (lihat Haagsche courant, 18-06-1915). Guru-guru muda inilah
yang berpartisipasi aktif dalam Kongres Pendidikan di Belanda tahun 1916.
 

Pada tahun 1916 Kongres
Pendidikan Hindia diadakan di Belanda. Kongres pendidikan Hindia di Belanda ini
membahas soal pendidikan bagi golongan Eropa/Belanda. Timur asing/Cina dan
pribumi. Disebutkan dalam kongres ini Dahlan Abdoellah, guru bahasa Melayu
sebagai salah satu anggota dari salah satu komisi/bidang pada kongres tersebut.
 


Pada tahun 1916 Indische Vereeniging disebutkan
diketuai oleh Raden Loekman Djajadiningrat (lihat Dagblad van Zuid-Holland en
‘s-Gravenhage, 09-08-1916). Dalam kepengurusan ini Dahlan Abdoellah disebut
sebagai archivaris.
 


Tunggu deskripsi lengkapnya

Nama-Nama
Mahasiswa yang Hadir dalam Pengusulan Nama Indonesia: Sorip Tagor,
Notodiningrat, Dahlan Abdoellah, Goenawan Mangoenkoesoemo, dan Lainnya

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping
pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis,
Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di
waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan:
Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia:
Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di
Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. Forthcoming:
“Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”;
“Sejarah Diaspora Indonesia”. Korespondensi:
akhirmh@yahoo.com


, Terimakasih telah mengunjungi Dului.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

To Top