Sejarah Indonesia

Sejarah Jepang (10): Aksara Bahasa Jepang Hiragana, Katakana dan Kanji; Mengapa Gagal Introduksi Aksara Latin di Jepang?


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jepang dalam blog ini Klik Disini 

Bahasa
Jepang ditulis menggunakan campuran tiga jenis aksara utama: Kanji (karakter
Tiongkok untuk makna), serta dua aksara fonetik/suku kata yaitu Hiragana (untuk
kata asli/gramatikal) dan Katakana (untuk kata serapan asing). Ketiga sistem
ini digunakan bersamaan dalam kalimat untuk merepresentasikan bunyi dan konsep
secara spesifik.
 


Aksara Latin,
yang dikenal di Jepang sebagai Romaji, pertama kali diperkenalkan pada
pertengahan abad ke-16 oleh para misionaris Yesuit dari Portugal (sekitar 1548).
Sistem romanisasi pertama dikembangkan oleh seorang Katolik Jepang bernama
Anjirō (atau Yajirō) bersama para misionaris untuk membantu penyebaran agama
Kristen tanpa harus menguasai sistem penulisan Jepang yang rumit. Salah satu
penggunaan awal yang paling terkenal adalah dalam kamus Nippo Jisho (1603),
sebuah kamus bahasa Jepang-Portugis yang mencatat pelafalan bahasa Jepang zaman
itu menggunakan ejaan Portugis. Penggunaan aksara Latin masa Isolasi (Edo) sempat
menghilang hampir sepenuhnya setelah Jepang melarang kekristenan dan menutup
diri dari dunia luar pada awal abad ke-17. Aksara Latin kembali populer pada
akhir abad ke-19 (Era Meiji) dimana misionaris Amerika James Curtis Hepburn
mengembangkan sistem yang sekarang menjadi standar dunia, yaitu Sistem Hepburn
(1867), untuk kamus bahasa Jepang-Inggris miliknya. Beberapa cendekiawan pada
era Meiji, seperti Mori Arinori, bahkan sempat mengusulkan agar aksara Latin
menggantikan Kanji dan Kana sepenuhnya demi memodernisasi Jepang, meskipun ide
ini tidak pernah diterapkan secara resmi. Saat ini, Romaji diajarkan di sekolah
dasar Jepang dan digunakan secara luas untuk pengetikan pada keyboard komputer
serta papan tanda internasional
(AI Wikipedia).. 

Lantas
bagaimana sejarah bahasa Jepang dan aksara Hiragana, Katakana dan Kanji?
Seperti disebut di atas, aksara Hiragana, Katakana dan Kanji digunakan di Jepang
bahkan hingga ini hari. Introduksi aksara Latin di Jepang sejak era Portugis
tampanya tidak sepenuhnya berhasil. Lalu bagaimana sejarah bahasa Jepang dan aksara
Hiragana, Katakana dan Kanji? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah
nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah
seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan
tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan
imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang
digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*. 

Bahasa Jepang
dan Aksara Hiragana, Katakana dan Kanji; Mengapa Gagal Introduksi Aksara Latin
di Jepang?

Bahasa
lisan ke percetakan melalui aksara bahasa (bahasa tertulis). Itu adalah tahap
pertama dalam peradaban manusia. Tahap kedua adalah penggunaan aksara dalam system
computer untuk membentuk bahasa tulisan (yang dapat dicetak) dan bahasa lisan
(yang dapat didengar). Perjalanan aksara berangkat dari tahap pertama ke tahap
kedua. Dalam hal ini, saat orang Eropa menemukan bahasa Jepang sudah memiliki
aksaranya sendiri.
 


Seperti halnya aksara-aksara
di Indonesia, aksara Jepang juga memiliki sejarah panjang. Aksara Jepang berakar
dari pengaruh Tiongkok di barat sebelum akhirnya berkembang menjadi sistem yang
unik. Awalnya, Jepang tidak memiliki sistem tulisan sendiri hingga aksara dari
Tiongkok diperkenalkan sekitar abad ke-4 atau ke-5 M. Aksara-aksara di
Indonesia seperti aksara Batak dan aksara Jawa berakar dari aksara-aksara di arah
barat (India, Arab dan Fenesia). Prasasti-prasasti di Hindia Timur (Indonesia)
pada abad ke-5 umumnya adalah aksara Brahami/Pallawa. Di Jepan pada masa ini,
terdapat tiga aksara utama. Aksara Kanji berasal dari karakter logografis
Tiongkok kuno (Dinasti Han). Karakter ini digunakan untuk melambangkan makna
atau ideogram, seperti kata benda, akar kata kerja, dan kata sifat. Aksara Hiragana
berkembang pada zaman Heian (abad ke-9) dari bentuk tulisan kursif (tulisan
tangan cepat) aksara Tiongkok. Aksara Katakana terbentuk pada periode yang sama
dengan menyederhanakan bagian-bagian tertentu dari karakter Kanji. Sistem ini
awalnya dikembangkan oleh para biksu Buddha sebagai metode cepat (semacam
stenografi) untuk membubuhi keterangan atau membaca kitab suci. Di Indonesia,
swebelum terbentuk aksara Latin pada masa ini, sudah eksis paling tidak dua jenis
aksara: aksara Batak adalah aksara suku kata (abjad) dan aksara Jawa (abugida).
Aksara Jawa ada kemiripan dengan aksara-aksara di India, tetapi aksara Batak
berbeda. Aksara Batak lebih mirip aksara Fenisia (Syria). Aksara Eropa/Latin
bersifat alphabet (fonetik) yang diturunkan dari aksara Fenesia yang dapat
dianggap sebagai aksara yang lebih sederhana dan menjadi aksara standar dunia masa
kini. Lantas, bagaimana dengan aksara di Jepang. 

Keberadaan
aksara di Jepang dan juga di Indonesia (aksara Jawa dan aksara Batak) yang
sudah cukup lama diketahui oleh orang Eropa, tetapi masih sangat minim tentang
apa yang harus dipahami. Penyelidikan aksara-aksara di Indonesia dimulai di
Jawa. Cetakannya dilakukan di Belanda.
 


Bataviasche
courant, 19-10-1825: ‘Beberapa waktu yang lalu di Belanda, tepatnya di Haarlem
seorang peminat bahasa Jawa (Javaansche taal) P van Vlissingen, menginisiasi
pembuatan aksara Jawa (Javaansche alphabet) atas permintaan pemerintah ke dalam
percetakan pada tahun 1824 dengan nama Javaansche Drukkerij’. Hasil pertama
percetakan itu adalah menerbitkan suatu puisi dengan menggunakan bahasa dan
aksara (karakters) Jawa (lihat). Sejak inilah awal era baru dunia cetak
mencetak bahasa Jawa dan aksara Jawa. Dalam hubungan ini van Vlissingen,
ditempatkan di Soerakarta pada tahun 1820, untuk berkonsentrasi disana pada
bahasa Jawa yang ditugaskan oleh Sekretaris Jenderal Pemerintah, Baud, untuk
menyiapkan rancangan produksi dan pembentukan sebuah perusahaan percetakan
Jawa.
 

Segera
setelah usai Perang Jawa (1825-1830), sejumlah pemuda Eropa/Belanda dijadikan
oleh Pemerintahan Hindia Belanda di Jogjakarta dan Soerakarta direkrut untuk
menjadi eleves (siswa) dalam mempelajari bahasa Jawa (kursus) dan juga
berfungsi sebagai penerjemah (Belanda-Jawa atau sebaliknya). Salah satu
lulusannya adalah CL van den Berg (lihat Javasche courant, 10-11-1832). Disebutkan
diangkat sebagai Asisten Residen Karang-anjar, Residentie Bagelen, eleves untuk
bahasa Jawa dan penjabat penerjemah di Djocjocarta, CL van den Berg untuk
menggantikan Asisten Residen HJ Levijssohn yang diberhentikan dengan hormat.
 


Kursus bahasa
Jawa di Jogjakarta pada tahun 1832 ditingkatkan menjadi suatu lembaga yang
disebut Instituut voor de Javaansche taal yang berlokasi di Soerakarta. Yang
menjadi direktur lembaga adalah JFC Gericke. Siswa-siswa pertama dalam
pembentukan lembaga ini adalah K Vikcert, J Schbitz, H Homs Loonoic, S
Senstius, G Bader, C Chauvigny de Blot, N Esche, L Külbhkamp Lemmers, J Lichte
dan J Tab yang kemudian turut dua elèves dari pegawai resident di Soerakarta J
Wilkens dan A Vincent. JFC Gericke sendiri sebenarnya adalah seorang misionaris
yang ditempatkan Nederlandsch Bijbelgenootschap di Soerakarta. Di lembaga ini
JFC Gericke dibantu oleh seorang mantan perawat.
 

Pendirian
institut di Soerakarta ini penting dalam bahasa Jawa. JFC Gericke juga mendapat
bantuan dari CF Winter (penerjemah bahaasa Jawa-Belanda) untuk mengajar dua jam
setiap minggu. JFC Gericke menyebut orang Jawa, sekalipun terpelajar tidak
mengetahui struktur gramatikal bahasanya sendiri dan karenanya tidak memiliki
kemampuan untuk mengajar orang lain. Hal itulah JFC Gericke sendiri yang
menyusun materi untuk para partisipannya yang orang Belanda di dalam institut.
Tentu saja pada saat ini sudah ada orang Belanda lainnya yang bisa berbahasa
Jawa seperti CF Winter. Lantas bagaimana dengan aksara Jepang?
 


Algemeen
Handelsblad, 29-06-1846: Bahasa dan Sastra Jepang. Di antara bangsa-bangsa Asia
yang dianggap beradab, tidak ada yang bahasa dan sastranya masih begitu sedikit
dikenal di Eropa selain bahasa dan sastra Jepang. Memang benar bahwa Eropa
telah memiliki hubungan perdagangan dengan Jepang selama lebih dari 300 tahun,
tetapi hingga beberapa tahun yang lalu, sangat sedikit upaya yang dilakukan
untuk mengenalkan diri kita pada peradaban sastra bangsa yang luar biasa ini. Jepang
baru ditemukan oleh Portugis pada tahun 1542 ketika Ordo Yesuit yang
bersemangat segera mengirim misionarisnya ke sana untuk memulai pekerjaan
konversi. Kebutuhan untuk memperkenalkan bahasa masyarakat tersebut memunculkan
penerbitan beberapa karya linguistik; bahkan seluruh Perjanjian Baru dalam
bahasa Jepang dikatakan telah dicetak sejak awal (Myaco 1613, fO.). Tetapi
semua karya ini sangat kurang, seperti halnya semua tulisan linguistik para
misionaris Katolik sebelumnya, dan sekarang sangat langka sehingga hampir tidak
lebih dari dua atau tiga salinan yang dapat ditemukan di perpustakaan Eropa.
Setelah bangsa kita menetap di pulau Decima sekitar pertengahan abad ke-17,
kita hanya terus berhubungan dengan kekaisaran Jepang. Untuk waktu yang lama, Belanda
tidak mempedulikan hal lain selain perdagangan, bahasa, dan sastra, terutama
karena orang Jepang sangat mudah mempelajari bahasa Belanda dan, menurut hukum
setempat, hanya orang Jepang yang dapat digunakan sebagai penerjemah resmi.
Memang benar bahwa karya-karya para penjelajah seperti Kampler Thunberg,
Titsingh, van Ovenneer Fisscher, dll., telah banyak memberikan pencerahan
tentang sejarah, geografi, dan ciri alam Jepang, tetapi tidak tentang bahasa
dan sastranya. Baru-baru ini beberapa sarjana memberikan perhatian khusus pada
subjek ini, terutama di negara kita, Tuan v. Siebold, yang telah menjadikan
tujuannya untuk membuat negara ini dan rakyatnya dikenal seluas mungkin, dan
telah membagikan hasil terbaik dari upayanya dalam karyanya yang terkenal, Nippon.
Sumber pengetahuan yang kaya tentang bahasa Jepang adalah karya yang luar biasa
namun juga sangat berharga berjudul Bibliotheca Japonica (Leiden 1833-41, 4°),
yang diterbitkan oleh Bapak v. Siebold, bekerja sama dengan Bapak J. Hoffmann,
dengan bantuan seorang kaligrafer Tiongkok yang terampil, Ko Tsching Dschang,
bersama dengan buku panduan karya sarjana yang sama (Epitome linguae
Japoniccé). Mengenai kekayaan besar sastra Jepang di semua bidang ilmu
pengetahuan dan seni, kita dapat memperoleh gambaran dari deskripsi yang
diberikan oleh Bapak von Siebold dan Hoffmann tentang karya-karya Jepang yang
dicetak dan berupa manuskrip yang ditemukan di Museum Kerajaan di Den Haag
(Catalogus Librorum Jap., dll., L. B, 1845). Sebelumnya, buku-buku Jepang termasuk
di antara barang-barang langka, hanya ditemukan di sana-sini di perpustakaan
sebagai barang koleksi. Bapak Titsingh, yang tinggal di Nangasacki selama empat
belas tahun, awalnya membawa sejumlah besar buku Jepang ke Eropa; Namun, ia
membawa harta karun ini ke Paris, di mana, setelah kematiannya, sebagian dicuri
dan sebagian lagi tersebar. Kemudian, Tuan J. Cock Blomhof dan van Ovenneer
Fisscher membawa koleksi yang kaya ke Belanda dan menyumbangkannya ke Museum
Den Haag. Tetapi dalam hal kekayaan dan seleksi yang bijaksana, koleksi-koleksi
tersebut jauh terlampaui oleh perpustakaan buku-buku Jepang yang berhasil
dikumpulkan oleh Tuan v. Siebold selama tujuh tahun tinggalnya (1823-1830) di
Jepang, dengan biaya yang sangat besar dan seringkali tidak tanpa risiko bagi
nyawanya. Kami tidak ingin membebani pembaca kami dengan daftar judul
karya-karya utama dari perpustakaan Jepang ini. Cukuplah dikatakan bahwa
perpustakaan ini kaya akan berbagai bidang dan membuka bidang yang luas, namun
masih jarang dieksplorasi, bagi mereka yang ingin mengabdikan diri pada studi
bahasa dan sastra Jepang. Kami berharap bahwa tambang ini, yang masih hampir
sepenuhnya belum dieksplorasi di negara kita, tidak akan tetap tidak digunakan
oleh para sarjana kita. Bangsa ini, yang selama lebih dari dua abad telah
mengutamakan kita di atas bangsa lain dalam perdagangan, sangat layak untuk
kita kenal juga dari segi budaya intelektual mereka. Kami akan menambahkan
beberapa detail lebih lanjut di sini mengenai bahasa, aksara, dan buku-buku
Jepang. Bahasa Jepang sangat berbeda dari bahasa Cina; kaya akan variasi dan
infleksi kata, sementara bahasa Cina tidak memiliki struktur seperti itu;
hubungan sintaksis kata-katanya juga sangat berbeda dari bahasa Cina. Namun,
masih sulit untuk menentukan dialek mana yang harus diklasifikasikan untuk
bahasa Jepang; tampaknya bahasa ini unik di antara bahasa-bahasa Asia seperti
halnya bahasa Basque di antara bahasa-bahasa Eropa. Pada tahun 660
SM, Zin-mu, pendiri negara Jepang, menetap di pulau Nippon di provinsi Lamato,
tempat bahasa Jepang terbaik dan paling murni dituturkan, baik secara
tradisional maupun saat ini. Di utara dan selatan kekaisaran, bahasa tersebut
telah sangat terkontaminasi oleh imigran dan interaksi dengan orang asing.
Dialek lama masih tetap murni dalam puisi-puisi, dan bahkan di istana
kekaisaran, upaya dilakukan untuk tetap setia padanya. Pada abad ke-3 M,
karya-karya Coafucius telah diperkenalkan ke Jepang, tetapi baru pada abad
ke-6, melalui pengenalan Buddhisme dari Chira, studi bahasa dan tulisan Cina
menjadi tersebar luas, dan bahkan sampai pada tingkat yang sangat kuat sehingga
setiap orang Jepang dari kelas beradab harus mempelajari kedua bahasa tersebut
sejak kecil, agar sepenuhnya mahir dalam bahasa Cina dan juga bahasa ibunya.
Namun, pengucapan bahasa Cina di mulut orang Jepang sangat berbeda dari apa
yang disebut bahasa Mandarin dan lebih mendekati dialek Fo-kieir; Bahasa
Tionghoa hampir dapat dianggap sebagai dialek Tionghoa yang terpisah, yang
tidak diragukan lagi hampir sepenuhnya tak tertandingi oleh orang Tionghoa
daratan. Tetapi bahkan di Jepang sendiri, terdapat dua pengucapan bahasa
Tionghoa: yang umum digunakan, disebut Kanwon, dan yang lainnya, Gowon, yang
hanya digunakan oleh pendeta dan dokter. Namun, bahasa Tionghoa tidak
memberikan pengaruh apa pun pada bahasa Jepang sehari-hari; kata-kata dan
ungkapan yang telah masuk ke dalamnya dengan mudah menunjukkan asal asingnya
dan harus tunduk pada kombinasi kata yang menjadi ciri khas bahasa Jepang.
Tetapi aksara Tionghoa tetap tidak berubah dan tidak berbeda sedikit pun dari
aksara Kerajaan Surgawi. Adapun keakraban dengan bahasa Tionghoa (285 M), orang
Jepang tampaknya tidak perlu memiliki bentuk tulisan, dan bahkan jauh
setelahnya, bahasa Jepang tidak tertulis. Namun, ketika kebutuhan muncul, dan
disadari bahwa tidak mungkin menerapkan tulisan Cina untuk mengekspresikan
bunyi bahasa asli yang sama sekali berbeda, dan terutama untuk menunjukkan
hubungan linguistik ucapan, sebuah sistem suku kata Jepang (silabari) dibentuk,
sudah pada paruh pertama abad ke-19, yang mana karakter tulisan Cina berfungsi
sebagai dasar, tetapi hanya sebagai simbol untuk bunyi. Untuk tujuan ini, Kibi
(meninggal 775), yang dididik di Cina, memilih 47 karakter tulisan Cina, yang,
untuk kemudahan, akan berfungsi dalam bentuk singkat sebagai simbol bunyi untuk
sejumlah suku kata Jepang. Dengan demikian muncullah silabari yang elegan dan
mudah (disebut I-rofa, sesuai dengan bunyi tiga karakter pertama), yang dikenal
sebagai Katakanna Irofa. Alfabet Jepang adalah sebagai berikut: i, ro, fa, ni,
fo, fe, i, tsi, ri, mv, ru, wo, wa, ka, io. Ta, re, so, tsu, ne, na, ra, nu, u,
ni, no, o, ku, ja, ma, ke, fu. ko, je, ie, sa, kt, ju, me, mi, si, e, fi, mo,
se, su, n. Orang Jepang menggunakan alfabet ini, selain alfabet Cina, untuk
menunjukkan pengucapan mereka menurut bahasa sehari-hari Jepang, untuk
menunjukkan makna mereka dalam bahasa sehari-hari, dan untuk mengekspresikan
konteks linguistik dari bagian-bagian ucapan. Bentuk lengkap dari alfabet ini
digunakan seperti inisial kita. Sebuah aksara suku kata kedua yang strukturnya
serupa, Firakanna Irofa, berasal dari abad ke-9, tetapi telah banyak diubah
seiring waktu, sehingga karakter Cina asli tidak dapat lagi dikenali di
dalamnya. Jenis ketiga, Munyo Karma (dinamakan demikian berdasarkan terjemahan
puisi yang ditulis dengannya, Mun-yo-Sio, yaitu, sepuluh ribu lembar!), setia
pada aksara Tiongkok, dan sebagai tulisan kursif, telah menjadi gaya Vamaio
Kannu Irafu, yang menjadi dasar bahasa Jepang, dengan penambahan beberapa
aksara dari bahasa lain secara sembarangan, dan dengan banyak kebebasan dalam
penulisan dan perpaduan. Buku-buku orang Jepang ditulis dalam bahasa Tiongkok
atau bahasa Jepang. Bahasa Tiongkok murni, tanpa campuran dari bahasa sehari-hari,
biasanya merupakan karya ilmiah yang ketat; terkadang berisi… Ditulis dalam
bahasa Tiongkok, terjemahan Jepang yang disisipkan, di mana semua kata, atau
hanya kata-kata yang paling sulit dan penting, ditulis dalam bahasa Jepang
dengan aksara Katakana, di samping aksara Tiongkok. Buku-buku Jepang yang
sebenarnya, yaitu buku-buku yang ditulis dalam bahasa Jepang, jarang sekali
murni berbahasa Jepang, melainkan campuran antara bahasa Cina dan Jepang,
sedemikian rupa sehingga aturan infleksi dan kombinasi kata dalam bahasa Jepang
menjadi dasarnya, dan banyak karakter Cina yang disisipkan harus dibaca seperti
kata-kata Jepang tanpa
untuk
memperhatikan bunyi khas yang mereka miliki. Untuk memahami buku-buku berbahasa
Mandarin, bahkan pengetahuan bahasa Mandarin yang paling mendalam pun tidak
cukup, karena seseorang hanya mengetahui beberapa karakter Mandarin, tetapi
tidak seluruh koherensi kalimat. Namun, seluruh kalimat juga terjalin dalam
bahasa Mandarin, dan interferensi ini, yang terkadang terdiri dari tanda-tanda
untuk konsep dan terkadang hanya berupa representasi bunyi, membuat membaca
buku-buku berbahasa Mandarin sangat sulit’.
 

Aksara
Jawa sudah dipelajari dan dipahami, namun aksara Jepang meski sudah mulai ada
yang mencoba memahaminya, namun tidak sepenuhnya mampu menjelaskan. Mengapa?
Yang jelas, pada tahun 1850 misionaris di Belanda mengirim ahli bahasa-bahasa
Timur ke Tanah Batak, Dr HN van der Tuuk. Pada tahun 1855 artikel pertama van
der Tuuk tentang aksara Batak sudah diterbitkan di jurnal. Dalam konteks inilah
kemudian, setelah begitu banyaknya dokumen aksara bahasa Jepang di museum Amsterdam,
Belanda, mulai ada usul di Belanda untuk mempelajari aksara Jepang.
 


Algemeen
Handelsblad, 19-06-1855: ‘C Leemans kemudian menyampaikan laporan tentang
proposal Hoffman untuk mempromosikan pengetahuan tentang bahasa Cina dan
Jepang. Laporan tersebut membahas pentingnya seperangkat huruf cetak Tiongkok
dan memberikan rincian mengenai hal ini, serta menyimpulkan bahwa pemerintah
harus didekati dengan permintaan untuk melakukan penyelidikan di Jepang
terhadap individu yang memiliki kecenderungan dan kualifikasi untuk membuat
huruf cetak, biaya yang terkait, dan waktu yang dibutuhkan, dan selanjutnya
mengalokasikan dana untuk hal ini serta untuk pembuatan huruf cetak’.

 

Tunggu deskripsi
lengkapnya

Mengapa Gagal
Introduksi Aksara Latin di Jepang?
Aksara
Latin di Jepang Hanya sebagai Pelengkap Aksara Tradisional (Kanji, Hiragana,
Katakana) dan Kebutuhan Komputer

Tunggu
deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang
warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di
Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis
artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli
sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi
dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan
pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah
dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers
di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah
Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. Forthcoming:
“Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”;
“Sejarah Diaspora Indonesia”. Korespondensi:
akhirmh@yahoo.com


, Terimakasih telah mengunjungi Dului.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

To Top