*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jepang dalam blog ini Klik Disini
Entah mengapa saya teringat
bagaimana terjadi tragedi Nagasaki dan Hirosima tahun 1945. Namun ini hanya
soal bagaimana sejarah itu terjadi. Saya tidak berpikir tentang apa yang
terjadi dengan perang antara Israel dan Amerika Serikat melawan Iran di Selat
Hormuz. Pada tahun 1945 Amerika Serikat didukung oleh Sekutunya. Sementara pada
tahun ini, Israel didukung oleh Sekutunya yakni Amerika Serikat. Kalau dulu
Amerika Serikat maju dengan slogan “Ini Perang Kami”. Sementara di Selat
Hormuz: “Ini Perang Mereka”, Kami hanya mendukung Israel. Apakah itu benar?
Saya teringat Nagasaki dan Hirosima. Buku-buku yang Sudah Diterbitkan

Tragedi Hiroshima dan Nagasaki adalah peristiwa
pengeboman atom oleh Amerika Serikat terhadap dua kota di Jepang pada akhir
Perang Dunia II, tepatnya pada 6 dan 9 Agustus 1945. Peristiwa ini merupakan
satu-satunya penggunaan senjata nuklir dalam konflik bersenjata sepanjang
sejarah manusia dan menyebabkan kehancuran total serta korban jiwa yang sangat
besar. Pada tanggal 6 Agustus 1945 di Hiroshima pesawat B-29 bernama Enola Gay
menjatuhkan bom atom jenis uranium bernama “Little Boy”. Ledakan ini
menewaskan sekitar 140.000 orang hingga akhir tahun 1945. Pada tanggal 9
Agustus 1945 di Nagasaki, tiga hari kemudian, bom plutonium bernama “Fat
Man” dijatuhkan di Nagasaki, yang mengakibatkan kematian lebih dari 70.000
orang. Total korban tewas diperkirakan mencapai antara 150.000 hingga 246.000
orang, sebagian besar merupakan warga sipil. Banyak korban yang selamat
(Hibakusha) menderita luka bakar parah dan penyakit akibat radiasi jangka
panjang. Pengeboman ini memaksa Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu pada
15 Agustus 1945, yang secara resmi mengakhiri Perang Dunia II. Hingga saat ini,
lokasi pengeboman seperti Hiroshima Peace Memorial (Genbaku Dome) menjadi
pengingat sejarah bagi dunia tentang bahaya senjata nuklir dan pentingnya
perdamaian (AI Wikipedia).
Lantas bagaimana sejarah tragedi
Nagasaki dan Hirosima Tahun 1945? Seperti disebut di atas, gagasan penulisan
artikel karena teringat saja. Fakta bahwa pada hari ini terjadi perang Israel
dan Amerika Serikan versus Iran (yang berpusat di selat Hormuz). Apakah ada
kesamaan antara Perang Dunia dan Sekutu Dipimpin Amerika Serikat tempo doeloe
di Jepang dengan di selat Hormuz sekarang. Lalu bagaimana sejarah tragedi
Nagasaki dan Hirosima Tahun 1945? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe,
semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan
sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe. Pengantar Metode Riset Bisnis

Sejarah
seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan
tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan
imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang
digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.
Dalam hal ini saya bukanlah ahli
sejarah, melainkan hanya sekadar untuk menyampaikan apa yang menjadi fakta
(kejadian yang benar pernah terjadi) dan data tertulis yang telah tercatat
dalam dokumen sejarah.
Tragedi di Nagasaki dan Hiroshima Tahun 1945; Kini, Apakah Sekutu Masih Tetap Dipimpin oleh Amerika Serikat?
Babak baru dalam permulaan
puncak Perang Asia Pasifik dimulai. Ini setelah Amerika dengan angkatan lautntyaa
telah menyapu kekuatan angkatan laut Jepang di Pasifik bagian barat hingga
Papua, Morotai dan pulau-pulau di Filipina. Sementara itu sekutu Amerika di
Eropa telah mampu menekan Jerman di wilayah-wilayah pendudukannya seperti
Belanda dan Belgia. Amerika Serika di Pasifik barat bagaiman Lone Ranger
mendekati pusat kekuatan militer Jepang di pulau-pulau besar Jepang. Angkatan
laut Amerika Serikat memulainya di (kepulauan) Okinawa (antara pulau Formosa di
selatan dan pulau Honshu di utara.

Provinciale Zeeuwsche courant, 04-04-1945: Pendaratan baru di Timur Jauh.
Operasi di Okinawa terus berjalan sesuai rencana. Pulau itu kini terbagi
menjadi dua bagian. Pasukan Amerika mendekati ibu kota, Naki. Sejauh ini,
sedikit perlawanan yang dihadapi. Aktivitas juga tidak berhenti di bagian lain
Pasifik. Satu pendaratan diikuti pendaratan lainnya. Misalnya, pasukan mendarat
di Koenki, 80 km sebelah timur Okinawa, dan melanjutkan ke Pulau Tani Tani, 50
km sebelah selatan Borneo. Pendaratan baru juga dilakukan di ujung tenggara
Luzon. Jepang kini terkepung di sana. Kota Legaspi dan San Pablo telah direbut.
Pendaratan di Okinawa melibatkan 1.400 kapal, 1.500 pesawat, dan 100.000 orang.
Pulau ini memiliki panjang lebih dari 100 km dan sempit. Letaknya 700 km barat
daya dari Nagasaki dan 800 km dari Shanghai. Ibu kotanya memiliki 60.000
penduduk. Di tengah-tengah antara Okinawa dan Shanghai terdapat jalur pelayaran
ke Formosa. Serangan udara terhadap Jepang akan meningkat setelah pulau itu
berada di tangan Amerika. Oleh karena itu, Okinawa akan terbukti menjadi
sasaran yang sulit ditaklukkan, tetapi ada sasaran lain (termasuk Leyte). Jika
Okinawa direbut, itu akan menjadi benteng pertama Jepang yang ditaklukkan.
Pesawat tempur Flying Fortress Amerika menyerang tiga kota di Jepang (BBC). Foto: Target
Tokio. Asap mengepul dari Tokyo setelah salah satu serangan oleh pesawat tempur
Superfortress Amerika (lihat Amigoe di Curacao, 10-01-1945)
Kehadiran angkatan laut
Amerika Serikat di (kepulauan) Okinawa seakan ingin memecah garis hubungan militer
Jepang, yang berada di tanah air (Jepang) maupun yang berada di manca negara seperti
di Filipina dan Indonesia. Kekuatan militer Jepang, terutama di Indonesia
bagian barat (Sumatra, Jawa dan Kalimantan serta Sulawesi) bukan tandingan bagi
sekutu Amerika (Inggris/Australia). Namun dengan dukungan angkatan laut
Amerika, Australia/Inggris sudah mulai mampu merebut pos militer Jepang di
pulau-pulau Pasifik baru termasuk bagian timur pulau Papua.

Lantas mengapa Amerika Serikat sangat bernafsu untuk menyerang militer Jepang
di wilayah Jepang sendiri? Tentu saja Amerika Serikat memiliki utang terhadap Jepang
yang harus segera dibayar. Sebagaimana diketahui, Jepang menyerang pangkalan
laut Amerika Serikat di Pearl Harbor, Hawaii, pada Minggu pagi, 7 Desember
1941. Serangan mendadak yang dimulai sekitar pukul 07:55 waktu setempat ini
melibatkan pesawat tempur Jepang dan mengakibatkan kerusakan besar pada Armada
Pasifik AS serta menandai masuknya Amerika Serikat secara resmi ke dalam Perang
Dunia II. Perlu dicatat bahwa pada bulan Desember 1941 angkatan udara Jepang
sudah mulai memborbardir wilayah Asia Tenggga termasuk di Tarempa (Natura) tanggal
20 Desember 1941. Setelah itu pada tanggal 8 Maret 1942 Pemerintah Hindia
Belanda menyatakan takluk kepada pimpinan militer Jepang. Foto: Sebuah kawasan kota modern di
Tokio, ibu kota Kekaisaran Jepang, yang menjadi pusat perhatian seluruh dunia
akibat pengumuman radio yang sensasional (lihat Nieuwe Haarlemsche courant,
10-08-1945)
Di Eropa pasukan Sekutu
semakin menunjukka hasil. Wilayah Belanda pada 5 Mei 1945 terbebas dari
pendudukan Jerman Nazi. Pada tanggal ini, seluruh pasukan Jerman di Belanda
menyerah kepada pasukan sekutu (Kanada) di Wageningen. Negara-negara Eropa
lainnya yang juga terbebas dari kekuasaan Nazi Jerman pada periode Maret-Mei
1945 meliputi Denmark, Norwegia, serta sebagian besar wilayah timur Jerman yang
kemudian diduduki oleh Uni Soviet dan dibagi menjadi wilayah Polandia/Rusia.

Groninger dagblad, 01-06-1945: ‘Sekutu menghancurkan industri perang
Jepang; Ranjau memutus jalur pasokan. Daily Mail edisi Senin menulis bahwa
pemboman Jerman baru mencapai potensi penuhnya setelah bertahun-tahun,
sedangkan penghancuran sistematis potensi perang Jepang akan memakan waktu
beberapa bulan. Meskipun demikian, perlawanan Jepang sangat sengit; dua kali
lipat artileri anti-pesawat yang digunakan untuk mempertahankan Berlin
dikerahkan di sekitar Tokyo. Ranjau udara fosfor, roket, dan berbagai senjata
baru, yang detailnya belum dirilis, sedang melawan benteng-benteng super. Dari
senjata-senjata baru ini, yang paling menonjol adalah “bola api”
yang, menurut awak pesawat, merupakan reproduksi V1, diluncurkan dari pesawat
induk dan dipiloti oleh pilot bunuh diri. Mereka mencoba menabrak pesawat
Sekutu. Hampir pasti bahwa pertahanan Tokyo diorganisir sesuai dengan rencana,
jika bukan di bawah komando sebenarnya, para jenderal “Luftwaffe”
Jerman. Di atas Jepang, badai begitu hebat sehingga pesawat di atas Tokyo
terkadang mengukur kecepatan angin 250 mil per jam. Ini berarti bahwa, terbang
melawan angin, mereka tetap berada tepat di atas senjata anti-pesawat. Jika
mereka terbang searah angin, mustahil untuk membidik bom dengan akurat. Pada
ketinggian yang lebih rendah, angin kurang kencang, dan karena pengalaman
menunjukkan bahwa Jepang sangat buruk dalam membidik dengan senjata
anti-pesawat, mereka tidak lagi terbang terlalu tinggi. Terlebih lagi, ini membawa
keuntungan bahwa setiap pesawat sekarang dapat membawa 10 ton bom, yaitu empat
kali lebih banyak daripada yang dibawa oleh Flying Fortress lama ke Berlin.
Tidak akan ada serangan seribu pesawat di daerah ini; kerusakan yang disebabkan
oleh 500-600 Flying Fortress sudah cukup. Industri perang Jerman tersebar di
sekitar 50 kota. Kawasan industri Jepang tidak memiliki kredibilitas; ada tujuh
pusat yang dapat dieliminasi dalam beberapa bulan, yaitu: Tokyo Raya, dengan
Yokohama dan Akawasaki; Kobe dan Osaka; Nagoya, Yawate dan Shimonoseki;
Nagasaki dan Sasebo dan Omura; Daerah Kura dan Hiroshima; dan Kyoto. Industri
berat Jepang di Tiongkok dan Korea terputus dari tanah air Jepang karena
pemasangan ranjau secara sistematis. Selama serangan terbaru di Tokyo Selasa
lalu, menurut Radio Tokyo, 60.000 rumah hancur dan ratusan ribu penduduk
kehilangan tempat tinggal. Laporan Amerika menyatakan bahwa 2.500 pesawat
Jepang hancur hanya pada bulan April, yaitu 1/8 dari jumlah total. Pagi ini
Osoka diserang hebat oleh 450 Flying Fortress, dikawal oleh 150 Mustang, yang
menjatuhkan 3.200 ton bom pembakar. Dalam tiga bulan, 58.000 ton bom dijatuhkan
di Jepang, melumpuhkan 43 pabrik senjata utama, termasuk 16 di Tokyo, 17 di
Nagoya, dan 7 di Osaka. Pendaratan di Tiongkok diperkirakan akan terjadi.
Sekarang setelah Tiongkok merebut Fuchau beberapa waktu lalu, pendaratan cepat
di pantai Tiongkok sangat mungkin terjadi. Dalam konteks ini, pembombardiran
intensif terhadap Formosa, yang terletak di seberang pelabuhan ini, kepulauan
Sakashimara di sebelah timurnya, dan Kyushu menjadi sangat penting. Dari Fuchau
hingga Hong Kong, garis pantai sangat cocok untuk operasi amfibi. Kontribusi
Belanda. Bapak Van Mook telah mengumumkan di San Francisco bahwa Belanda akan
mengirim 200.000 orang ke Timur Jauh dengan peralatan transportasinya sendiri.
Sekutu akan menyediakan peralatannya’. Foto: Dua anggota kru terluka
ketika pesawat B-29 terbakar setelah melakukan pendaratan darurat di Iwo Jima,
dalam perjalanan pulang dari serangan ke Tokyo. Orang-orang di latar depan
berjongkok di samping jip untuk menghindari terkena ledakan amunisi (lihat Amigoe
di Curacao, 04-06-1945)
Kekuatan militer Jepang tampaknya
telah diisolasi. Tidak hanya karena kehadiran pangkalan Amerika Serikat di
Okinawa yang memisahkan negara induk dengan wilayah-wilayah pendudukan di selatan
(termasuk Indonesia), juga dengan kantong-kantong kekuatan militer di pantai
timur Tiongkok seperti Korea, pulau Fuchau dan Hong Kong. Dengan situasi dan
kondisi tersebut, para analisis perang sudah mulai bertanya-tanya seberapa lama
lagi Jepang akan mampu bertahan? Tentu saja orang-orang Belanda di berbagai tempat
akan senang mendengar kemajuan tersebut.

Trouw, 09-06-1945: ‘Tinjauan Mingguan Luar Negeri. Berapa lama Jepang
akan bertahan? Perang telah berjalan jauh dari menguntungkan bagi Jepang selama
setahun terakhir, dan muncul pertanyaan: “Berapa lama Jepang akan
bertahan?” Tidak diragukan lagi bahwa jika Jepang dapat menarik diri dari
perang dengan cara yang bermartabat, mereka akan melakukannya. Mereka tahu
bahwa hari-hari mereka sudah dihitung. Jika mereka dapat berdamai dengan
Amerika dan Inggris dengan melepaskan wilayah taklukannya, perang akan berakhir
dengan cepat. Tetapi mereka juga tahu bahwa Sekutu telah mengajukan tuntutan
yang sama untuk negara ini seperti untuk Jerman, yaitu penyerahan tanpa syarat,
dan itu adalah sesuatu yang tidak dapat disetujui oleh pemerintah Jepang mana
pun. Bagaimanapun, ini berarti pendudukan tanah air dan pengembalian semua
wilayah taklukannya di daratan Asia (Mantsjokewo, antara lain). Oleh karena
itu, cukup pasti bahwa mereka akan berjuang sampai nafas terakhir mereka.
Serangan udara sedang berlangsung. Pesawat-pesawat tempur super-benteng, yang
berbasis di Marinir, menjatuhkan bom mereka di Jepang hampir setiap hari.
Pesawat-pesawat pengebom ini memiliki tugas yang lebih mudah di Jepang daripada
di Jerman. Perlawanan dari pesawat tempur Jepang tergolong ringan, dan hambatan
terbesar adalah tembakan anti-pesawat. Tembakan ini sangat hebat. Tokyo sendiri
dipertahankan oleh artileri anti-pesawat dua kali lebih banyak daripada
sebelumnya. Berlin tetap berdiri, dan 200 lampu sorot ditempatkan di sekitar
kota. Artileri tersebut sebagian besar buatan Jerman. Artileri itu dibawa ke
Jepang oleh kapal selam Jerman atau diproduksi di sana sesuai rencana Jerman.
Namun, dan ini merupakan faktor yang sangat penting, teknologi Jepang untuk
mendeteksi pesawat di langit berawan tertinggal bertahun-tahun dari Jerman.
Akibatnya, Tokyo dibom dari ketinggian kurang dari 2.000 m saat awan sangat
tipis, sesuatu yang tidak akan pernah dilakukan oleh pesawat pengebom berat di
Berlin. Tidak heran Perdana Menteri Jepang harus mengakui bahwa Tokyo mengalami
kerusakan yang tidak dapat diperbaiki. Ada faktor lain yang berperan. Di
Jerman, target industri tersebar di lebih dari 50 area, yang masing-masing
harus dibom secara individual. Di Jepang, seluruh industri perang praktis
terkonsentrasi di sekitar tujuh kota. Patut disebutkan kota-kota ini. Kemudian
akan terlihat bahwa kota-kota tersebut dihancurkan satu per satu oleh angkatan
udara Amerika. Mereka adalah Tokyo dengan Yokohama, Kobe dan Osaka, Nagoya,
Yawata dan Shimonoseki, Nagasaki dan sekitarnya, dan sekitar Hiroshima dan
Kyoto. Para ahli memperkirakan bahwa Amerika akan berhasil melumpuhkan industri
perang Jepang dalam beberapa bulan. Bagi armada Jepang, ini adalah sebuah
keajaiban. Satu-satunya tujuan para laksamana Jepang adalah untuk menjaga
armada mereka agar tidak terlibat dalam pertempuran sebisa mungkin. Mereka
tidak dapat mengambil risiko kehilangan kapal-kapal mereka, dan dengan demikian
negara mereka, dalam pertempuran beberapa jam. Tentara Jepang masih kuat.
Jumlahnya lebih dari empat juta tentara yang dilengkapi dengan baik dan
bertekad. Namun, yang membuat kampanye Jepang begitu rumit adalah kenyataan
bahwa industri berat Jepang terutama berbasis di daratan Asia. Ada industri
besi dan baja, cadangan batubara, dan pabrik-pabrik untuk minyak sintetis dan
bensin. Selama Jepang dapat dipasok dengan perbekalan dari Manchuria dan Cina
melalui Selat Korea yang sempit, tidak ada akhir yang cepat yang dapat
diharapkan dari perang ini. Semangat di antara pasukan Jepang sangat baik.
Pendaratan di Okinawa membuktikan hal ini. Amerika tiba di sana pada tanggal 1
April, dan pulau itu masih belum direbut. Singkatnya, kita dapat dengan aman
mengatakan bahwa pemboman udara terhadap Jepang akan segera meningkat, tetapi
penyerahan total negara terakhir Poros mungkin masih membutuhkan waktu lama’. Foto: Menurut Radio Tokyo, 150 pesawat Amerika, termasuk Superfort,
melancarkan serangan siang hari terhadap lapangan terbang dan target militer di
distrik Tokyo, Yokohama, dan Osaka. Pesawat B-29 beraksi (lihat De typhoon,
09-07-1945)
Kota-kota industri perang Jepang
yang terkonsentrasi di sekitar tujuh kota sudah masuk dalam daftar target yang
harus dihancurkan. Akan tetapi kekuatan militer Jepang bukanlah kecil tetapi
termasuk yang memiliki bilangan besar yang terdapat di Negara induk maupun
wilayah-wilayah pendudukannya. Kota-kota industri perang Jepang tersebut antara
lain Tokyo dengan Yokohama, Kobe dan Osaka, Nagoya, Yawata dan Shimonoseki,
Nagasaki dan sekitarnya, dan sekitar Hiroshima dan Kyoto.

Trouw, 25-07-1945: ‘Kronik hari ini. Hondo, jantung Jepang di bawah
serangan. Serangan yang menentukan. Hondo (baca: Honshu) adalah nama pulau
tengah kepulauan Jepang. Apa yang Jawa bagi Hindia Belanda, Hondo adalah bagi
wilayah Tenno: sebuah telur, tanah tempat jantung kehidupan Jepang berdetak. Di
sinilah terletak kota-kota besar: Tokyo, Yokohama, Nagoya, dan Osaka, nama-nama
yang telah terdengar suram dalam beberapa minggu terakhir karena pemboman
terus-menerus oleh benteng terbang super Amerika, yang menjatuhkan ribuan bom
di atasnya. Hondo menyediakan Jepang, yang miskin akan sumber daya ini, dengan
apa yang disebut bahan baku penting seperti minyak, batu bara, besi, dan
tembaga. Tetapi itu sama sekali tidak berperan di Jepang terkait dengan jumlah
besar yang dilahap oleh perang. Untuk ini, Jepang bergantung pada wilayah yang
ditaklukkan di Selatan dan Korea, tetapi di antara daerah-daerah ini, di mana
pasukannya terisolasi, dan tanah air, kapal-kapal Sekutu, lapangan terbang, dan
tentara telah bersarang. Tak perlu diragukan lagi bahwa Jepang telah
mempertaruhkan segalanya untuk mempertahankan Hondo, dan justru karena alasan
itulah sangat mengejutkan bahwa armada Amerika dapat melancarkan serangan
terbesarnya, tanpa hukuman dan hambatan, tepat terhadap jantung Jepang ini.
Terutama kota-kota pelabuhan yang menanggung dampak terberatnya, serta ladang
ranjau Hiroshima. Pengeboman angkatan laut selalu lebih tepat sasaran daripada
serangan udara, dan karena itu tidak mengherankan bahwa dampak tembakan pada
instalasi pelabuhan, pabrik, dan lapangan terbang pantai sangat menghancurkan.
Di mana armada Jepang? Amerika menjawab pertanyaan itu dengan cara mereka
sendiri. Laksamana Halsey, yang memimpin unit-unit Amerika yang bertugas
melakukan pengeboman, kemarin memberi sinyal bahwa ia telah merusak parah dua
kapal perang Jepang, satu kapal induk, dan tiga kapal penjelajah. Itu berarti
Jepang kehilangan tiga kapal perang minggu ini, sebuah kemewahan yang tidak
mampu lagi mereka tanggung setelah pertumpahan darah beberapa bulan terakhir.
Selain itu, empat puluh empat pesawat Jepang hilang. Keributan di laut
pedalaman. Secara historis, laut pedalaman antara Shikoku dan tanjung barat
daya Hondo telah menjadi tempat perlindungan bagi armada Jepang. Bahwa tempat
itu sudah lama tidak aman lagi terbukti dari serangan yang dilakukan oleh
pesawat pengebom dari kapal induk terhadap kapal-kapal Jepang yang berada di
sana. Sekali lagi, seluruh kawanan pesawat telah lepas landas dan membombardir
kapal-kapal Jepang, baik besar maupun kecil. Fakta ketiga yang seharusnya
membuat setiap orang Jepang berpikir adalah munculnya kapal selam Amerika di
lepas pantai Korea. Semenanjung itu adalah jembatan penghubung Jepang di daratan
Asia. Sekarang sudah tidak mungkin lagi bagi kapal-kapal besar Jepang yang
membawa pasukan, material, dan kargo untuk kembali ke tanah air untuk berlayar
bolak-balik. Mungkin kapal-kapal kecil akan berhasil menembus blokade, tetapi
itu pun dianggap tidak mungkin. Dengan demikian, lonceng kematian sedang
berbunyi di atas kekaisaran Jepang. Truman telah memperingatkan Jepang.
Sekarang menyerah atau mati. Mereka akan memilih yang terakhir. Begitulah sifat
orang Jepang’. Foto: Kaisar Hirohito (lihat Keesings
historisch archief No. 739 (12-18 Agustus 1945)
Kekuatan militer Jepang di Negara
induk khususnya di pulau Hondo (Honshu) sudah berada dalam tekanan berat.
Seluruh pulau besar di Jepang ini sudah di-scanning Amerika dan Inggris. Lantas
apakah Jepang akan menyerah? Tentu saja tidak. Semua unit-unit perang Jepang
terus dalam siaga tinggi bahkan juga yang berada di Indonesia. Perang di darat
bukan pula tandingan bagi pasukan Amerika maupun pasukan anggota Sekutunya
seperti Inggris/Australia.

Keesings historisch archief: geïllustreerd dagboek van het hedendaagsch
wereldgebeuren met voortdurend bijgewerkten alphabetischen index, 29 Juli 1945-5
Aguistus 1945: ‘Perang di Timur Jauh. 29 Juli–Perdana Menteri Jepang Suzouki
menolak ultimatum Sekutu. Jenderal Jiro Minami, presiden persatuan politik
Jepang (totaliter), menyatakan: “Rakyat Jepang hanya bersedia berbicara
tentang perdamaian ketika seluruh Asia dibebaskan dari eksploitasi
Anglo-Amerika”. 28 Juli—sebanyak 11 kota diperingatkan melalui serangan
pamflet bahwa mereka akan dibom dalam waktu 72 jam. Sebanyak 890.000 penduduk
Jepang disarankan untuk mencari keselamatan. Serangan pamflet ini berlanjut. 30
Juli–Oshima, mantan utusan Jepang untuk Berlin, yang telah diakomodasi oleh
Amerika di sebuah hotel di Pennsylvania bersama dengan 192 diplomat Jepang yang
ditangkap di Eropa, telah terbang ke Tokyo untuk melaporkan tentang
pemerintahannya yang tanpa harapan. 1 Agustus–Sebanyak 64 kapal Jepang
ditenggelamkan di Laut Pedalaman Jepang oleh pesawat angkatan laut Inggris dan
Amerika; lebih dari 80 rusak. Tidak ada lagi kapal perang berat Jepang yang
dapat ditemukan. Sebanyak 138 pesawat Jepang dihancurkan. Armada ke-3 menembus
Teluk Suruga, hampir sejauh Tokyo, dan membombardir pangkalan kapal selam
Junizoe. 2 Agustus–Sebanyak 800 pesawat tempur super-fortress menjatuhkan
6.000 bom di Hatsjisji, Toyama, Nagaoka-Mito, dan Tawaski. 3 Agustus– Pada
bulan Juli, 1.546 kapal Jepang dan lebih dari 330 pesawat dihancurkan. 5
Agustus– Rantai Kepulauan Rioe-Kyu, yang juga termasuk Okinawa, telah ditempatkan
di bawah komando MacArthur “sebagai basis untuk pembentukan pasukan invasi
yang perkasa”. Peta: Kota-kota yang menjadi target serangan (lihat Keesings historisch archief: geïllustreerd
dagboek van het hedendaagsch wereldgebeuren met voortdurend bijgewerkten
alphabetischen index, 29 Juli 1945-5 Aguistus 1945)
Pada tanggal 6 Agustus
sebuah bom baru digunakan: Bom atom yang efeknya lebih besar daripada 20.000
ton bahan peledak. Kota Hiroshima, kota dengan lebih dari 318.000 penduduk,
hancur total oleh bom ini. Menurut Menteri Perang Amerika, tidak ada satu pun
makhluk hidup yang selamat. Menjatuhkan bom seukuran bola sepak setara dengan
serangan terkonsentrasi oleh 2.000 benteng super.

Keesings historisch archief: geïllustreerd dagboek van het hedendaagsch
wereldgebeuren met voortdurend bijgewerkten alphabetischen index, 07-08-1945-10-08-1945: Pada 7 Agustus–Presiden Truman mengungkapkan, tentang situasi Jepang untuk
‘meyakinkan’ mereka. Ia ditukar dengan Jenderal Wainwright, pahlawan
Corregidor. Pengeboman angkatan laut dan udara yang tak henti-hentinya
melemahkan Jepang. Perlawanan Jepang praktis telah hancur. Dalam tiga minggu
serangan terus-menerus, 915 kapal Jepang dan 1.076 pesawat dihancurkan. 6
pengeboman pantai dilakukan. Jenderal Spaatz telah mengambil alih komando
angkatan udara di wilayah Samudra Pasifik, bahwa pada tanggal 6 Agustus sebuah
bom baru digunakan: Bom atom yang efeknya lebih besar daripada 20.000 ton bahan
peledak. Kota Hiroshima, kota dengan lebih dari 318.000 penduduk, hancur total
oleh bom ini; menurut Menteri Perang Amerika, tidak ada satu pun makhluk hidup
yang selamat. Menjatuhkan bom seukuran bola sepak setara dengan serangan
terkonsentrasi oleh 2.000 benteng super. Agustus. 9–Menyusul deklarasi perang
Rusia, serangan Rusia pun terjadi terhadap Tentara Kwantung Jepang (1 juta
orang) di Manchuria. Republik Mongol, yang berada di bawah perlindungan Rusia,
juga menyatakan perang terhadap Jepang. Tentara Rusia memulai serangan skala
besar dari Honshun, Vladivostok, dan Manchulia. Kota Rashin dan Geusau dibom.
Rusia maju di garis depan yang luas. Amerika telah sepenuhnya diinformasikan
tentang rencana pertempuran’. Foto: Dampak Bom Atom. Atas: pada 6
Agustus 1945, bom atom pertama dijatuhkan. Hiroshima, pusat industri Jepang,
hancur total karenanya (lihat Keesings historisch archief: geïllustreerd
dagboek van het hedendaagsch wereldgebeuren met voortdurend bijgewerkten
alphabetischen index, 23-09-1945).
Hancurnya kota Hiroshima telah
memukul pemerintah (kerajaan) Jepang. Amerika Serikat telah membakar hangus
semua penduduk kota Hiroshima. Pasukan Rusia di daratan, mulai dari Vladivostok,
Korea dan Tiongkok telah menjadi titik lemah kekuatan Jepang yang selama ini
menjadi sumber amunisi perang. Lalu dengan demikian apakah Jepang akan
menyerah?
Leeuwarder koerier, 07-08-1945:
‘Bom Atom. Sensasi saat ini adalah Jepang dibombardir dengan bom fisi atom.
Sensasi ini akan sama hebatnya jika, di masa damai, berita telah sampai bahwa
mereka berhasil menggunakan energi yang dilepaskan selama pemecahan atom untuk
menggerakkan mesin dan sejenisnya. Ini, pada kenyataannya, akan berarti
revolusi total di bidang teknis, ekonomi, dan sosial. Tetapi sekarang ada
perang, dan rahasia yang telah direbut dari alam tidak digunakan untuk
pembangunan, tetapi untuk penghancuran. Pada intinya, fisi atom juga merupakan
penghancuran; namanya menunjukkan hal ini. Menurut keadaan ilmu pengetahuan
saat ini, atom adalah partikel terkecil dari setiap unsur yang berpindah dari
satu senyawa kimia ke senyawa kimia lainnya. Tetapi atom seperti itu membentuk
sistem planet kecil tersendiri, di mana partikel bermuatan negatif, elektron,
mengorbit inti bermuatan positif. Keseluruhan ini mewakili massa energi yang
dilepaskan selama fisi. Energi ini sangat besar sehingga, jika menyebabkan fisi
skala besar, hal-hal mengerikan akan terjadi. Bahkan kehancuran total bumi
secara teoritis pun dapat dibayangkan. Kami tidak ingin membahas lebih lanjut
teori-teori mengenai fisi atom; terlebih lagi, laporan dari Inggris dan Amerika
dengan hati-hati menghindari memberikan berita rinci mengenai masalah ini.
Mereka cukup menyatakan bahwa kota pelabuhan Hiroshima di Jepang dibom untuk
pertama kalinya dua hari yang lalu dengan bom fisi nuklir dan bahwa kota
tersebut — atau reruntuhannya — masih tersembunyi di balik awan debu dan
puing-puing. Kemudian mereka menguraikan semua persiapan yang diperlukan agar
bom atom dapat digunakan secara praktis, dan ketakutan yang dimiliki Sekutu
bahwa Jerman akan mendahului mereka dengan penemuan yang “sedang
dinantikan.” Hal itu tidak terjadi; Eropa telah terhindar dari eksperimen
dengan cara penghancuran terbaru dan paling menakutkan — setidaknya untuk saat
ini — dan Jepang sekarang menderita akibatnya. Efek bom baru ini tampaknya jauh
lebih buruk daripada apa pun yang dihasilkan sejauh ini oleh teknologi bom yang
sudah sangat canggih. Tampaknya melampaui semua imajinasi. Kini diharapkan
perdamaian dapat “dipercepat” melalui hal itu; Jepang tidak akan
mampu menahan pembombardiran terus-menerus dengan proyektil ini dalam waktu
lama, dan produksi alat penghancur ini dikatakan terjamin. Karena kita
berurusan di sini dengan sesuatu yang berbeda dari “V” yang ingin
digunakan Jerman untuk mempercepat berakhirnya perang, prediksi ini mungkin
akan menjadi kenyataan. Tapi lalu bagaimana? Dunia memiliki alat penghancur baru,
yang lebih dahsyat daripada yang pernah dikenal. Manusia sekali lagi telah
menaklukkan kekuatan alam, yang jauh lebih kuat daripada uap dan listrik. Dan
penjinakan kekuatan alam ini telah menyebabkan revolusi yang sangat signifikan
dalam seluruh kehidupan sosial. Penggunaan energi atom dapat—seperti yang telah
kita katakan—menandakan perubahan yang lebih besar lagi, baik untuk kebaikan
maupun keburukan. Untuk kebaikan, jika umat manusia menggunakan energi atom
untuk meningkatkan kondisi kehidupan di bumi ini; untuk keburukan, jika
menggunakannya untuk menghancurkan diri sendiri. Untuk saat ini, energi ini
hanya digunakan untuk penghancuran; Lagipula, perang sedang berlangsung, dan
hanya satu dari dua pihak yang menyadari penggunaan “senjata rahasia”
terbaru ini. Tetapi itu tidak akan tetap demikian; pada akhirnya, energi atom
akan menjadi milik bersama, dan jika perang lain pecah saat itu, hal itu akan
menyebabkan kehancuran umat manusia. Oleh karena itu, senjata baru ini
menempatkan tanggung jawab yang sangat besar pada manusia. Akankah mereka
menerimanya dan dengan demikian menghindari perang di masa depan? Tampaknya itu
adalah harapan yang terlalu mulia. Namun demikian, kewajiban sekarang terletak
pada semua orang, terutama pada semua pemerintah, lebih dari sebelumnya, untuk
menghindari perang di masa depan, dan dengan demikian membuat pengaturan yang
memadamkan benih konflik sejak dini. Jika ini tidak terjadi, maka generasi
mendatang hanya akan dapat hidup di gua-gua; maka 6 Agustus 1945 akan menjadi jalan
buntu bagi umat manusia’. Foto: Pada 9 Agustus 1945, pelabuhan Nagasaki di Jepang menjadi korban (lihat
Keesings historisch archief: geïllustreerd dagboek van het hedendaagsch
wereldgebeuren met voortdurend bijgewerkten alphabetischen index, 23-09-1945).
Pemerintah Jepang dan semua penduduk Jepang belum hilang rasa duka yang
mendalam akibat terbunuhnya ribuan rakyat sipil di Hiroshima pada tanggal 6
Agustus. Lagi-lagi, tiga hari kemudian pada tanggal 9 Agustus angkatan udara
Amerika Serikat kembali melakukan serangan bom atom kedua ditujukan ke
Nagasaki.

Het parool, 09-08-1945: ‘Bom
atom kedua dijatuhkan, Nagasaki kini menjadi target. Sekretaris Perang Amerika
telah menyatakan bahwa tidak ada seorang pun atau apa pun di Hiroshima yang
selamat dari kehancuran selama ledakan bom atom. Semua makhluk hidup hancur
oleh ledakan tersebut. Sementara itu, bom atom kedua telah dijatuhkan di kota pelabuhan
Nagasaki. Sementara itu, peringatan telah dikeluarkan kepada 12 kota Jepang
lainnya bahwa mereka telah dimasukkan dalam “daftar kematian” Sekutu,
yang disusun di markas besar Angkatan Udara Sekutu di Gum. Ribuan pamflet telah
dijatuhkan di kota-kota ini; Hiroshima sekarang hanyalah reruntuhan. Semua
makhluk hidup, manusia maupun hewan, telah hangus terbakar hingga mati. Mereka
yang berada di dalam rumah terbakar hidup-hidup, dan mereka yang berada di luar
tewas akibat tekanan dan panas yang tak terlukiskan. Kesempurnaan bom atom dan
janji penggunaannya yang meluas tidak mengubah rencana Sekutu untuk invasi ke
Jepang. Persiapan mereka untuk pendaratan amfibi di Pasifik terus berlanjut.
Selama serangan kemarin, Jepang, pusat baja utama Jepang, target yang paling
heavily defended di Kekaisaran Jepang, lumpuh akibat dampak 1.500 ton bahan
peledak yang dijatuhkan oleh 225 Super-fortress’. Foto: Tak lama sebelum Jepang menyerah, Nagasaki yang dihantam bom atom. Tampak
jalanan yang terbakar dan reruntuhan menjadi akibatnya. Sebuah regu penyelamat
mencari korban luka (lihat Nieuwe Haarlemsche courant, 26-09-1945).
hancurnya kota Nagasaki, penyiar radio Jepang masih sempat mengumumkan tindakan
pembalasan. Jepang juga dikatakan memiliki senjata rahasia. Namun situasi cepat
berubah, Pemerintah Jepang telah mengirimkan telegram berikut melalui
pemerintah Swiss dan Swedia kepada Amerika Serikat, Inggris Raya, dan Uni
Soviet yang intinya Pemerintah Jepang siap menerima syarat-syarat yang
tercantum dalam deklarasi bersama yang dikeluarkan pada tanggal 26 Juli 1945
oleh kepala pemerintahan Amerika Serikat, Inggris Raya, dan Tiongkok, yang
kemudian ditandatangani bersama oleh Uni Soviet dengan pemahaman bahwa
deklarasi ini tidak berisi tuntutan yang dapat merugikan hak istimewa Yang
Mulia Raja sebagai penguasa berdaulat.
Keesings historisch archief: geïllustreerd dagboek van het hedendaagsch
wereldgebeuren met voortdurend bijgewerkten alphabetischen index, 09-08-1945-11-08-1945:
‘9 Agustus–Serangan bom atom kedua ditujukan ke Nagasaki. 10 Agustus–Rusia
merebut berbagai kota, termasuk Khailor, Progranitsnaya, Sakhalian, Rigun,
Argun, dan Fuyan. Selain serangan bom atom di Nagasaki, serangan juga terjadi
dengan pesawat-kapal dan benteng terbang raksasa di tanah air Jepang. Tokyo
dibom, antara lain. Penyiar radio Jepang kini telah mengumumkan tindakan
pembalasan. Jepang juga dikatakan memiliki senjata rahasia. Sementara itu, Amerika
terus melanjutkan aksinya. Target industri dan militer di Makaishi di pantai
timur laut Hondos telah dibombardir oleh armada. Menyusul deklarasi perang
Rusia terhadap Jepang, Menteri Luar Negeri Jepang, Togo, telah mengundang duta
besar Rusia di Tokyo, Malik, untuk berkunjung. Karena deklarasi perang telah
diserahkan, isyarat ini telah menimbulkan berbagai macam kecurigaan. Domei
menyatakan bahwa pemerintah Jepang akan mengizinkan duta besar Rusia untuk
mengadakan “konsultasi dengan pemerintahnya”. 10 Agustus–Pemerintah
Jepang telah mengirimkan telegram berikut melalui pemerintah Swiss dan Swedia
kepada Amerika Serikat, Inggris Raya, dan Uni Soviet. “Sebagai ketaatan
terhadap perintah luhur Yang Mulia Kaisar, yang selalu menginginkan masalah ini
untuk melayani perdamaian dunia, dan sangat menginginkan berakhirnya permusuhan
secepatnya, untuk menyelamatkan umat manusia dari malapetaka yang akan
ditimbulkan oleh kelanjutan perang, pemerintah Jepang meminta pemerintah
beberapa minggu yang lalu, yang saat itu netral Semua hubungan dipertahankan
untuk memberikan kerja sama dalam pemulihan perdamaian dengan kekuatan-kekuatan
yang bermusuhan. Sayangnya, upaya-upaya demi kepentingan perdamaian ini telah
gagal, sehingga pemerintah Jepang, sesuai dengan keinginan Yang Mulia Raja
untuk memulihkan perdamaian umum dan keinginan untuk mengakhiri sesegera
mungkin penderitaan yang tak terhitung jumlahnya yang disebabkan oleh perang,
telah memutuskan hal berikut: Pemerintah Jepang siap menerima syarat-syarat
yang tercantum dalam deklarasi bersama yang dikeluarkan pada tanggal 26 Juli
1945 oleh kepala pemerintahan Amerika Serikat, Inggris Raya, dan Tiongkok, yang
kemudian ditandatangani bersama oleh Uni Soviet dengan pemahaman bahwa
deklarasi ini tidak berisi tuntutan yang dapat merugikan hak istimewa Yang
Mulia Raja sebagai penguasa berdaulat”. Presiden Truman menyatakan bahwa
tanggapan bersama akan diberikan oleh keempat kekuatan besar tersebut. (Reuter
– AP – AFP). Foto: Pusat kota Nagasaki hancur
lebur sebulan setelah bom nuklir dijatuhkan. Sebuah jalan setapak sempit
menembus reruntuhan, yang tersisa dari bangunan-bangunan yang pernah berdiri di
sana. Gudang-gudang di latar depan dibangun setelah serangan itu (lihat Amigoe
di Curacao, 27-09-1945).
Agustus tampaknya langsung ditanggapi Presiden Amerika Serikat Truman dengan
menyatakan bahwa tanggapan bersama akan diberikan oleh keempat kekuatan besar (Amerika
Serikat, Inggris Raya, dan Tiongkok, serta Uni Soviet).

Keesings historisch archief
No. 739 (12-18 Agustus 1945) mencatat pada tanggal 14 Agustus, pada pukul pukul
14.00 bahwa tanggal 10 Agustus, penyiar radio Jepang mengumumkan bahwa Jepang
bersedia tunduk pada persyaratan Potsdam, asalkan posisi Kaisar tidak
terpengaruh. Pada pukul 18:45, nota Jepang diterima di Washington. Pada hari
Sabtu 11 Agustus pada 10:30 nota balasan Amerika dikirim ke kedutaan Swiss
untuk dikirim ke Jepang. Dalam nota itu Amerika Serikat. menerima proposal
Jepang, tetapi Mikado akan berada di bawah komando tinggi Sekutu. Pada hari
Senin, 13 Agustus, Jepang menulis untuk menjawab untuk menerima tagihan
Amerika. Pada hari Selasa, 14 Agustus pukul 1:00 siang, Radio Jepang
mengumumkan bahwa Jepang menerima persyaratan Amerika. Jawaban Jepang, 15
Agustus. Tepat setelah tengah malam Attlee, Truman, dan Stalin memberi tahu
negara-negara mereka bahwa Jepang telah menyerah. Tanggapan Jepang terhadap
syarat-syarat Sekutu berbunyi sebagai berikut: ‘Mengacu pada pemberitahuan
tanggal 10 Agustus, mengenai penerimaan syarat-syarat Deklarasi Potsdam, dan
tanggapan Pemerintah, Jawaban Jepang – Rede Hirohito, Attlee dan Truman –
Kabinet Jepang Baru – Negosiasi di Manila – dari Amerika Serikat, Inggris Raya,
Uni Soviet dan Cina, yang dikirim oleh Menteri Luar Negeri Byrnes pada tanggal
11 Agustus, Pemerintah Jepang mendapat kehormatan untuk menyampaikan hal-hal
berikut kepada Pemerintah Empat Kekuatan: 1. HM Kaisar telah mengeluarkan
Rescript Imperial mengenai penerimaan ketentuan-ketentuan Deklarasi Potsdam
oleh Jepang: 2. Kaisar siap untuk mengizinkan tindakan-tindakan yang diperlukan
untuk pelaksanaan ketentuan-ketentuan Deklarasi Potsdam dan penandatanganannya
oleh pemerintahnya dan markas besar Kekaisaran untuk memastikan. 3. HM juga
bersedia memerintahkan kepada seluruh penguasa angkatan darat, laut dan udara
untuk menghentikan perlawanan aktif dan menyerahkan senjata, serta mematuhi
perintah Panglima Tertinggi Sekutu sesuai dengan syarat sub 1 dan 2 tersebut.
Otoritas ini akan meneruskan perintah ini kepada semua angkatan bersenjata di
bawah komando mereka, dimana pun mereka berada. HM Hirohito kepada
Rakyatnya—Kaisar Jepang juga berbicara langsung kepada rakyatnya melalui
radio—untuk pertama kalinya dalam sejarah. Hirohito mengambil kewajiban serius
‘diturunkan oleh nenek moyang kekaisaran kita’ untuk berjuang demi kemakmuran
dan kebahagiaan bersama semua bangsa, serta untuk keselamatan dan kesejahteraan
rakyat kita. Dia mengatakan itu ‘jauh dari pikiran kita’ untuk mengganggu,
berkomitmen pada kedaulatan negara lain atau terlibat dalam perluasan wilayah.
Terlepas dari perjuangan yang berani dan upaya rakyat, jalannya peristiwa telah
merugikan Jepang. Selain itu, musuh telah memanfaatkan bom baru dan paling
ganas yang kemampuannya menimbulkan kerusakan tak terhitung dan memakan banyak
korban jiwa tak berdosa. Melanjutkan pertempuran tidak hanya berarti
penghancuran bangsa Jepang, tetapi juga kehancuran total peradaban manusia.
Kaisar menyatakan penyesalannya kepada sekutu Jepang di ‘Asia Timur’ memikirkan orang mati dan terluka dan
membangunkan orang-orang untuk menjaga persatuan dan mencurahkan seluruh energi
mereka untuk membangun ‘masa depan’.Foto: Kepulan asap tebal membubung
hingga ketinggian 18.000 meter setelah bom atom dijatuhkan di kepulauan Jepang
di atas Nagasaki pada tanggal 9 Agustus 1945 (lihat Keesings historisch
archief: geïllustreerd dagboek van het hedendaagsch wereldgebeuren met
voortdurend bijgewerkten alphabetischen index, 29-09-1945)
melaporkan bahwa kerumunan Kekaisaran Istana menangis setelah mendengar pesan
itu dan berseru: ‘Maafkan kami, O Kaisar, usaha kami tidak cukup’. Anami
menteri perang, telah melakukan harakiri. Perdana Menteri Suzoeki telah
mengundurkan diri. Di lain pihak Pidato Attlee dan Truman memberikan
penghormatan kepada orang-orang itu; Attlee dari Inggris menyampaikan terima
kasih kepada Sekutu terutama kepada Amerika Serikat, tanpa bantuan ajaib mereka
upaya perang di timur ini akan berlangsung bertahun-tahun lagi. Pidatonya
disimpulkan sebagai berikut: ‘Perdamaian dipulihkan ke bumi. Mari kita
bersyukur kepada Tuhan untuk pembebasan besar ini: dan untuk belas kasihan-Nya;
Panjang umur Raja. Truman dari Amerika menyatakan bahwa dia percaya bahwa
jawaban Jepang ‘adalah penerimaan penuh atas deklarasi Potsdam, yang menentukan
penyerahan penuh’. Dalam pidatonya kepada orang banyak di depan Gedung Putih,
mengatakan: ‘Ini adalah hari yang akan menandai akhir dari fasisme dan sistem
kepolisian di dunia, adalah ‘Hari Demokrasi’. Sekarang kita harus menghadapi
tugas untuk membalikkan keadaan dan membangun pemerintahan yang bebas di dunia.
Saya tahu kita siap untuk tugas ini’.

Salah satu surat kabar yang terbit di Belanda. Nieuwe Haagsche courant yang terus memantau siaran radio
dari Batavia (Indonesia), pada edisi Senin, 13-08-1945 menyatakan bahwa siaran
Jepang yang berbasis di Batavia telah diam (berhenti siaran, pen) sejak Jumat
malam (tanggal 10 Agustus, pen). Sudah barang tentu bahwa siaran radio Jepang
di Batavia akan terus diam hingga tanggal 14 Agustus saat Kaisar Hirohito
berpidato dalam menyatakan menyerah dan menyetujui persyaratan dalam proposal
Amerika Serikat. Foto: Pemandangan udara kota Hiroshima
di Jepang, sebuah pusat industri dan pangkalan militer penting, yang merupakan
target pertama yang dihantam oleh bom atom baru, yang diumumkan oleh Presiden
Truman. Setelah itu, Jepang mengklaim kerusakan besar akibat bom-bom baru tersebut.
Hanya satu bom yang dijatuhkan dan enam puluh persen kota diperkirakan hancur
(lihat Onze toekomst, 15-08-1945)
Sebagaimana diketahui pada masa ini, pada tanggal 14 Agustus 1945
menjelang beberapa menit sebelum Kaisar Hirohito berpidato seluruh jaringan
listrik seluruh Jawa padam, termasuk di Batavia. Hal ini menyebabkan radio yang
masih bersumber dari listrik tidak bisa menyala (boleh jadi baterai radio belum
ditemukan). Tentu saja militer Jepang di Batavia kecele, sebab pada saat itu
kapal-kapal yang bersandar di pelabuhan Tanjung Priok dapat memantau siaran
radio Kaisar Hirohito yang dengan segera informasi itu beredar di darat, yang
juga segera ditanggapi oleh para pamuda revolusioner seperti Adam Malik dan
Chairoel Saleh.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Kini, Apakah Sekutu Masih Tetap Dipimpin oleh Amerika Serikat? Apakah
Kini Amerika Masih Segila Dulu di Nagasaki dan Hiroshima?
Dulu, Trum-an, kini Trum-p. Apa bedanya? Amerika Serikat tampaknya
tetaplah Amerika Serikat. Hancurnya kota dan seisi warganya di Hiroshima dan di
Nagasaki, bagi Amerika adalah kemenangan yang dirayakan; bagi Jepang adalah
kekalahan yang sangat menyedihkan. Bagi negara lain yang melihat kehancuran
kota Hiroshima dan kota Nagasaki dengan masing-masing penduduk yang ratusan
ribu yang hangus terbakar adalah tragedi kemanusiaan. Apakah itu dengan
demikian menjadi patut dirayakan oleh Amerika Serikat? Bagaimana dengan
sekarang di Selat Hormuz?
Pada tahun 1945 Sekutu
adalah satu hal dan Blok Poros adalah hal lain lagi. Blok Poros adalah Jerman
Nazi, Italia Fasis dan Jepang (Berlin-Roma-Tokio). Bagaimana dengan Sekutu? Di
Timur Jauh dalam mengahadapi Jepang, Sekutu terdiri dari Amerika Serikat,
Inggris, Tiongkok dan Uni Soviet. Di Asia Pasifik (termasuk di Indonesia) melawan
Jepang terdiri Amerika Serikat, Inggris, Tiongkok, Australia, Belanda, dan
Selandia Baru. Di Eropa, Sekutu terdiri Inggris, Uni Soviet, Amerika Serikat,
dan Prancis. Blok ini berperang melawan Poros (Jerman, Italia, Jepang). Jadi
dalam hal ini, Amerika Serikat (dan juga Inggris) terdapat di semua wilayah
perang. Kekuataan terbesar saat ini adalah Amerika Serikat.
Seperti disebut di atas, perang di Selat Hormuz pada dasarnya dipicu
antara krisis hubungan antara Iran dan Israel. Oleh karena kantong-kantong militer
Amerika Serika terdapat di berbagai Negara seperti di Arab Saudi, UEA dan
lainnya, Amerika Serikat dengan sendirinya terbentuk Sekutu yakni Amerika
Serikat dengan Israel melawan Iran. Lalu apakah Amerika Serikat dan Israel dalam
hal ini akan mampu mengatasi Iran?
Pada tahun 1945 Jepang tidak
sendiri sebenarnya, karena adanya poros (Berlin, Roma dan Tokio), namun bukan
berarti Jepang memiliki sekutu. Demikian juga dengan yang sekarang di Selat
Hormuz. Amerika Serikat dan Israel dalam posisi bersekutu melawan Iran. Bagaimana
dengan Iran? Iran juga tidak sendiri, ada poros Iran, Rusia dan Tiongkok. Lantas
bagaimana dengan poros Amerika Serikat dengan negara-negara Eropa yang
tergabung dalam NATO? Catatan: NATO (North Atlantic Treaty Organization) adalah
aliansi pertahanan kolektif yang saat ini beranggotakan 32 negara dari Eropa
dan Amerika Utara. Didirikan pada tahun 1949 oleh 12 negara pendiri, NATO kini
mencakup sebagian besar Eropa, dengan Finlandia (2023) dan Swedia (2024)
sebagai anggota terbaru. Anggota NATO awal (perjanjian di Washington 1949):
Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Prancis, Belgia, Belanda, Luksemburg, Italia,
Portugal, Norwegia, Denmark, dan Islandia.
Saat Amerika (dan Israel) kewalahan menghadapi Iran, Presiden Amerika
Serika Trump meminta bantuan Negara-negara NATO. Namun kurang mendapat respon. Negara-negara
seperti Jerman, Prancis, Italia, Spanyol, dan Inggris dilaporkan menolak permintaan
tersebut dengan alasan berbeda dari masing-masing Negara tersebut. Terinforemasikan Trump merasa kecewa dan frustrasi
karena merasa “ditinggalkan” oleh sekutu-sekutunya di NATO dalam
krisis ini. Lalu bagaimana?
Ini adalah soal geopolitik
antara politik Timur (Asia) dan politik Barat (Amerika Serikat dan Eropa). Pada
tahun 1945 Jepang dalam posisi yang dihadapi Iran sekarang. Amerika Serikat
dengan sekutunya melawan Jepang mendapat perlawanan yang heroik. Sudah banyak
kota-kota Jepang yang hancur, namun Jepang tidak mau menyerah dengan ultimatum
Amerika Serikat. Lalu bom atom yang dijatuhkan Amerika Serikat di kota
Hiroshima dan kota Nagasaki dengan ratusan ribu warga hangus menyebabkan Jepang
menyatakan menyerah. Intinya, kematian ratusan ribu penduduknya, Kaisar Jepang
Hirohito dengan kesedihan mendalam akhirnya menyerah. Lantas bagaimana dengan
perlawanan heroik Iran pada masa ini? Satu yang jelas, pada tahun 1945 hanya Amerika Serikat yang memiliki bom
atom, tetapi pada masa ini banyak negara yang telah memiliki bom nuklir.
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping
pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis,
Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di
waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan:
Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia:
Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di
Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. Forthcoming:
“Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”;
“Sejarah Diaspora Indonesia”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

, Terimakasih telah mengunjungi Dului.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.












