Sejarah

Sejarah Kalimantan (27): Balabalagan dan Sejarahnya di Selat Makassar; Kalimantan Timur, Mengapa Kini Masuk Sulawesi Barat




false
IN


























































































































































 

*Untuk
melihat semua artikel Sejarah Kalimantan Timur di blog ini Klik Disini

Balabalagan
adalah suatu kepulauan yang betrada di timur pantai Kalimantan (Selat
Sulawesi). Lantas apakah ada sejarahnya? Tentu saja ada, hanya saja kurang terinformasikan.
Hal ini boleh jadi karena kepulauan (karang) boleh jadi dianggap tidak penting.
Karena itu tidak ada yang tertarik menulisnya. Namun sejarah, tetaplah sejarah.
Seharusnya sejarah Balabalagan haruslah dianggap penting, karena kini Balabalagan
sudah berada di halaman ibu kota Republik Indonesia.

Adakalanya suatu hal dapat dianggap remeh. Hal
itulah yang terjadi dengan pulau Sipadan dan pulau Ligitan. Pada era Pemerintah
Hindia Belanda soal perbatasan di laut kurang tuntas dan hanya secara tegas
diselesaikan batas di pulau Sebatik. Lalu, soal kepulauan Balabalagan sudah
dianggap masuk wilayah pantai timur Borneo (Kalimantan). Itu berarti sudah
jelas tentang kepulauan Balabalagan. Namun menjadi tidak jelas ketika provinsi
Sulawesi Selatan dimekarkan dengan membentuk provinsi Sulawesi Barat, kepulauan
Balabalagan dimasukkan ke wilayah provinsi Sulawesi Barat. Lantas bagaimana
reaksi provinsi Kalimantan Timur? Tentu saja tidak sehangat pulau Sipadan dan
pulau Ligitan, karena Balabalagan masih berada di wilayah NKRI. Apa, iya?

Sejarah
Balabalagan sesunguhnya bukan baru. Sejarah Balabalagan bahkan sudah tercatat sejak
lampau? Sejarah Balabalagan dimulai dari pantai timur Borneo. Namun yang menjadi
pertanyaan mengapa kini kepulauan Balabalagan masuk wilayah Sulawesi Barat?
Okelah, itu satu hal. Hal yang lebih penting bagaimana sejarah Balabalagan? Seperti
kata
ahli
sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan.
Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.

Nama Balabalagan

Sejak
tahun 1840 angkatan laut Hindia Belanda mulai intens melakukan pengukuran
pulau-pulau termasuk mengidentifikasi pulau-pulau kecil (bahkan batas terluar
Hindia Belanda). Salah satu hasil pengukuran navigasi pelayaran adalah titik pulau
tertimur dari kepulauan Balabalagan yakni dengan koordinat 2 32 50 LS dan117 56
59 BT (lihat  Regerings-almanak voor
Nederlandsch-Indië, 1874). Sementara untuk titik terdekat dari kepulauan
adalah Hoek Aroe (Tanjung Aru) pada posisi 
2 10 8 LS dan 116 34 39 BT.

Pemetaan di daratan seperti lebar sungai, tinggi
gunung, danau dan lokus geografis yang lainnya dilakukan oleh para ahli yang
dikirim ekspedisi. Pengukuran juga dilakukan oleh satuan militer dan pejabat
yang ditempatkan di wilayah pedalaman. Namun untuk pengukuran kedalaman laut, arus
laut, identifikasi pulau dan pengukuran panjang dan lebar dilakukan oleh
angkatan laut yang dalam tugasnya melakukan patroli atau survei pada jalur
navigasi yang akan dikembangkan untuk pelayaran non militer karena adanya
pembentukan cabang peerintahan baru. Salah satu tokoh penting dalam urusan
pengukuran ini adalah perwira P Baron Melvill van Carnbee yang juga aktif
mengelola kelautan dan pelayaran Moniteur des Indes (1845-1849). P
Baron Melvill van Carnbee banyak menyumbang tulisan pada majalah ini. Pada
tahun 1850 Melvill dipromosikan sebagai ajudan ke Wakil Laksamana van den
Bosch.

Kepulauan
Balabalagan sebelunya disebut kepulauan Paternoster. Pulau ini sudah ada
penghuni seperti yang dinyatakan seseorang pada tahun 1872 (lihat Leeuwarder
courant : hoofdblad van Friesland, 02-08-1972) Disebutkan seseorang mengirim
surat kepada tantenya di Balabalangan di kepulauan Patermoster yang termasuk wilayah
Kalimantan Tenggara (Zuid Oost van Borneo).

Tunggu
deskripsi lengkapnya

 

*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi:
akhirmh@yahoo.com


, Terimakasih telah mengunjungi Dului.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.

Most Popular

To Top