Sejarah

Sejarah Kalimantan (33): Sejarah Orang Punan, Penduduk Asli Borneo Cerdas; Nomaden di Jantung Pedalaman Kalimantan




false
IN


























































































































































 

*Untuk
melihat semua artikel Sejarah Kalimantan Barat di blog ini Klik Disini

Orang
Punan adalah salah satu etnik penduduk asli pulau Borneo. Orang Punan mendiami
wilayah terdalam di jantung pulau Kalimantan sejak dari doeloe hingga kini.
Ketika banyak penduduk asli yang sudah menetap, Orang Punan masih mempraktekkan
tradisi lama: berpindah-pindah (nomaden) karena wilayah mereka yang luas dan
kaya. Mereka tidak kekurangan sumberdaya protein (hasil berburu dan penangkapan
ikan). Hal itulah yang menyebabkan Orang Punan di jamannya tidak kekurangan dan
menjadi sangat tangguh dan berbudi baik.

Suku Dayak di pulau Kalimantan terbagi ke
dalam banyak sub etnik. Salah satu sub etnik adalah Orang Punan. Pada masa ini
Orang Punan mendiami pedalaman Borneo di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan
Timur dan Kalimantan Utara. Perseberan Orang Punan juga hingga di Sabah dan
Serawak. Orang Punan juga terdiri dari sub etnik antara lain Punan Hovogan dan
Punan Uheng Kahero di Kapuas Hulu (Kalimantan Barat), Punan Murung di Murung Raya
(Kalimantan Tengah), Punan Ahoeng (Penihing) di Mahaka Ulu (Kalimantan Timur) Punan
Adiu di Malinau (Kalimantan Utara) yang telah mendapat peraturan hutan adat
(Perda Kabupaten Malinau No. 10 Tahun 2012). Orang Punan, karena perkembangan
jaman dan strategi pembangunan yang dimulai dari pantai menyebabkan seakan
terisolir.

Bagaimana
sejarah Orang Punan
?
Seperti umumnya penduduk asli di berbagai pulau besar di Indonesia, Orang
Batak, Orang Kerinci dan Orang Kemering di Sumatra, Orang Punan termasuk yang
terakhir berinteraksi dengan orang asing (Eropa). Penduduk pendatang di pantai
cenderung menarik garis dengan penduduk asli pedalaman. Namun semua menjadi
jelas ketika orang Eropa berhasil memasuki wilayah pedalaman di kawasan Orang
Punan. Lalu bagaimana sejarah Orang Punan
? 
Seperti kata ah
li sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.

Nama Punan: Jantung Pedalaman
Borneo

Nama
Punan, paling tidak sudah didentifikasi pada permulaan pembentukan cabang
pemerintah Hindia Belanda di daerah aliran sungai Kapoeas (Westkust van Borneo).
Nama Punan dijadikan sebagai suatu wilayah setingkat district (lihat Javasche
courant, 07-03-1846). Distrik Poenan adalah distrik terjauh di hulu sungai Kapoeas.

Wilayah-wilayah di Westkust van Borneo dikelopokkan
pada tiga wilayah besar: (1) wilayah-wilayah sepanjang pantai barat Borneo dari
Matan hingga perbatasan dengan kerajaan Broenai; (b) wilayah-wilayah di arah
tenggara hingga perbatasan West dan Zuid; (3) wilayah-wilayah sepanjang daerah
aliran sungai Kapoeas. Distrik-distrik yang berada di wilayah hulu sungai
Kapoeas adalah Tajan, Meliuw, Sangouw, Sekadouw, Sekadouw,  Sintang, Melawie, Sepapoe, Blitang, Silat,
Selibauw, Piassa, Jongkong, Boenoet, Malor, Taman, Ketan, Poenan dan sejumlah
suku pengembara Dayak yang tinggal di dalam wilayah sekitar. Dalam hal ini wilayah
Poenan adalah penduduk Dayak yang kerap berpindah-pindah.

Penduduk
Dajak Taman pada masa ini di sekitar wilayah Putussibau. Sementara penduduk
Poenan berada di wilayah aliran sungai Kapoeas ke arah hulu. Wilayah Taman dan
Poenan ini kemudian dikenal Boven Kapoeas (kini kabupaten Kapuas Hulu). Orang
Poenan pertama bertemu dengan orang asing (Eropa) pada tahun 1855 ketika
dilakukan ekspedisi ketiga ke hulu sungai Kapoeas pada tahun 1855 (lihat
Nederlandsche staatscourant, 03-07-1855).

Meski sungai Kapuas sudah dikenal sejak jaman
kuno, yang disebut sungau Laue atau Lauwe (hingga era VOC). Namun baru pada era
Pemerintah Hindia Belanda sungai terpanjang ini dapat disusuri hingga jauh ke
pedalaman (dengan enggunakan kapal perang penjelajah). Ekspedisi pertama dilaporkan
DWC Baron van Lynden pada tahun 1847 setelah pembangian wilayah-distrik
ditetapkan pemerintah pada tahun 1846 (lihat Javasche courant, 07-03-1846). Ekspedisi
kedua dilakukan komandan kapal Letnan J Groll pada bulan Junij dan Julij 1851. Ekspedisi
kedua ini baru sampai Boenoet.

Dalam
ekspedisi ketiga yang dipimpin oleh Algemeene Secretaris,
Gouvernements-Commissaris voor de Wester-afdeeling van Borneo, A. Prins bertemu
delegasi Orang Poenan di muara Samoes di sungai Mendalam. Disebutkan A Prins
telah bertemu dengan para pemimpin penduduk (dajak) Taman dan Kajan. Juga
disebutkan A Prins telah menerima kedatanan delegasi Orang Poenan dalam dua
perahu.

A Prins dalam laporannya (lihat Nederlandsche
staatscourant, 03-07-1855) menyatakan sebagai berikut: ‘suku-suku disini
termasuk Taman tidak satupun dari mereka terbukti berhutang budi kepada seorang
pangeran Melayu sebagai bagian dari pemerintahan. Seperti Batang Loepar gelar hanya
dikaitkan dengan pimpinan mereka. Di sungai Mendalam kami menerima kunjungan
lagi dari dajak Poenan dalam dua perahu. Suku dajak ini mendiami daerah dimana
mata air Kapuas bermula. Mereka tidak tinggal di rumah dan tidak membudidayakan
ladang, tetapi hidup mengembara, dan tidak memakan apa yang dihasilkan hutan
untuk tanaman dan herba mereka yang terkenal bergizi dan perburuan dan
penangkapan ikan bagi mereka (subsisten). Saat ini saya belum dapat memberikan informasi
yang tepat tentang populasi berbagai suku dajak (Poenan) ini’.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Orang Punan di Era Modern

Tunggu
deskripsi lengkapnya

 

*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi:
akhirmh@yahoo.com


, Terimakasih telah mengunjungi Dului.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.

Most Popular

To Top