Sejarah

Sejarah Kota Medan (64): Sutan Puasa dari Mandailing Pendiri Kota Kuala Lumpur dan Guru Patimpus adalah Pendiri Kota Medan




false
IN




























































































































































false
IN




























































































































































false
IN




























































































































































false
IN




























































































































































false
IN




























































































































































false
IN




























































































































































false
IN



























































































































































Relokasi Ibukota:
Orang Mandailing dan Angkola Sudah Sejak Lama Menyebar

Kuala Lumpur yang telah
didirikan oleh Sutan Puasa dalam perkembangannya telah menjadi ibukota
Residentie (Kesultanan) Selangor (1875) dan telah ditingkatkan statusnya
menjadi ibukota konfederasi (negara) Semenanjung (1896) hingga sekarang. Ibukota
konfederasi sebelumnya adalah di Taipimg (Perak). Ibukota Residentie
(Kesultanan) Perak sebelumnya berada di Koeala Kangsar (lihat Bataviaasch
nieuwsblad, 14-02-1896). Kelak diketahui ibukota Perak berpindah lagi ke Ipoh
(hingga sekarang).
Perpindahan ibukota di era kolonial adalah lazim. Sebab penjajah memiliki
kepentingan dengan kedudukan suatu ibukota (sebagai pusat administrasi
pemerintahan juga pusat perdagangan). Ini tidak hanya di Semenanjung tetapi
juga di wilayah terdekatnya di Sumatra. Pada tahun 1870 ibukota Afdeeling
Mandailing dan Angkola, Residentie Tapanoeli dipindahkan dari Panjaboengan ke
Padang Sidempoean. Panjaboengan ditetapkan sebagai ibukota Afdeeling Mandailing
dan Angkola sejak 1840. Selama perang padri (1830-1840) ibukota Mandailing masih
berada di Kotanopan. Pada tahun 1875 Padang Sidempoean ditingkatkan statusnya
sebagai ibukota Residentie Tapanoeli. Sementara itu di Residentie Sumatra’s
Oostkust, pada tahun 1875 dibentuk pemerintahan setingkat onderafdeeling
(kecamatan) di afdeeling Deli dengan menempatkan seorang Controleur di Medan.
Sejak itu Kampong Medan cepat berkembang menjadi kota (town). Pada tahun 1879
status Medan ditingkatkan menjadi ibukota afdeeling Deli, yang mana asisten
residen Deli dipindahkan dari Lebohan ke Medan. Sementara Sultan Deli tetap
berada di Laboehan. Pada tahun 1887 Medan dijadikan ibukota Residentie Oostkust
Sumatra yang sebelumnya berada di Bengkalis. Setelah penetapan ibukota Oostkust
Sumatra inilah Sultan Deli dipindahkan dari Laboehan ke Medan. Selanjutnya
tahun 1915 Residentie Oostkust Sumatra dijadikan province yang mana Gubernur
berkedudukan di Medan (hingga sekarang).
Kuala Lumpur yang didirikan
oleh Sutan Puasa, ketika tahun 1875 dijadikan sebagai ibukota Residentie
(Kesultanan) Selangor, Padang Sidempoean, selain ibukota Afdeeling Mandailing
dan Angkola juga menjadi ibukota Residentie Tapanoeli. Ini berarti sama posisi
Padang Sidempoean dan Kuala Lumpur sebagai pusat pemerintahan dan pusat
perdagangan. Hubungan antara dua kota pada saat itu tentu saja sudah terhubung
sebab di Kuala Lumpur sudah sejak lama menjadi tujuan utama migrasi orang-orang
Mandailing dan Angkola.
Pada tahun 1850 pendidikan (aksara Latin) diintroduksi di Afdeeling
Mandailing dan Angkola dengan membangun dua sekolah rakyat di Panjaboengan dan
Padang Sidempoean. Pada tahun 1862 di Afdeeling Mandailing dan Angkola dibuka
sekolah guru (kweekschool) di Tanobato. Pada tahun 1879 sekolah guru yang lebih
besar dibuka di Padang Sidempoean (menggantikan sekolah guru di Tanobato yang
ditutup tahun 1874). Pada tahun 1879 di Residentie Tapanoeli terdapat sebanyak
15 sekolah rakyat yang mana diantaranya 12 buah berada di Afdeeling Mandailing
dan Angkola (empat diantanta berada di Padang Sidempoean). Sementara itu tahun
1875, di Deli baik di Laboehan maupun di Medan belum satupun terdapat sekolah
rakyat. Pada tahun ini juga di Residentie Selangor juga belum ditemukan satupun
sekolah rakyat. Ini mengindikasikan bahwa pendidikan di Mandailing dan Angkola
jauh lebih awal dibandingkan di Deli dan Selangor. Oleh karena migrasi
orang-orang Mandailing dan Angkola terus mengalir ke Deli dan Selangor, maka
orang-orang Mandailing dan Angkola di Deli dan Selangor sudah memiliki
pendidikan. Bahkan seorang pemuda belia bernama Mohammad Jacoup tahun 1875
sudah menjadi krani (juru tulis) di Kesultanan Serdang yang berada kota pantai di
Rantau Panjang, Serdang (kelak Mohammad Jacoup yang dikenal Sjech Ibrahim tahun
1900 menjadi Kamponghoofd/lurah pertama di Kesawan Kota Medan). Lantas siapakah
yang menjadi pegawai-pegawai Inggris di Kuala Lumpur dan Selangor ketika
memulai pemerintahan tahun 1875? Boleh jadi kebutuhan pegawai tersebut diisi
oleh orang-orang Mandailing dan Angkola. Demikian juga guru-guru di Kuala
Lumpur didatangkan dari Padang Sidempoean. Catatan: Alumni (lulusan) Kweekschool
Tanobato sudah mampu memenuhi guru di seluruh Afdeeling Mandailing dan Angkola.
Alumni Kweekschool Padang Sidempoean banyak yang dikirim ke Riaouw, Djambie,
Oostkust Sumatra dan Atjeh. Sangat masuk akal banyak guru dari Padang
Sidempoean telah berhijrah ke Semenanjung, khususnya di Selangor.
Lantas apa yang membezakan
sistem pemerintahan awal di Kuala Lumpur, Selangor dengan di Medan, Deli jika
dibandingkan dengan Padang Sidempoean, Mandailing dan Angkola?  Secara prinsip ada persamaan dan juga ada
perbedaan. Persamaan adalah sama-sama dipimpin oleh penjajah (asing) setingkat
Residen. Dalam memimpin ini Residen di Kuala Lumpur dan Medan bersama-sama
dengan Sultan. Sedangkan di Mandailing dan Angkola, Residen memimpin dengan dibantu
para Koeria (koordinator para kepala kampoeng). Ciri monarkis tampak menonjol
di Deli dan Selangor, sementara di Mandailing dan Angkola lebih demokratis
(berdasarkan keputusan dewan koeria) yang mana setiap kepala kampoeng
dipersepsikan sebagai ‘raja’. Di Medan dan di Kuala Lumpur peran orang Tionghoa
dikedepankan oleh pemerintah di bidang ekonomi. Oleh karena komunitas Tionghoa
sangat banyak di Medan dan di Kuala Lumpur maka diangkat kapitein (kepala
komunitas Tionghoa). Para kapiten (serta letnannya) cenderung memiliki banyak
kesempatan yang kemudian mereka itu menjadi pengusaha-pengusaha berpengaruh.
Tidak hanya berpengaruh kepada Sultan juga pengaruhnya mereka dapat mengubah
program pemerintah kolonial. ‘Kolaborasi’ tiga serangkai (Sultan, Residen dan
Kapitein Cina) yang notabene juga pendatang, cenderung menekan penduduk asli atau
orang pendatang yang lebih awal (Mandailing dan Angkola). Sultan Deli (Riaouw)
datang dari (pelabuhan) Laboehan ke Medan, Sultan Selangor (Makassar, sering
dipertukarkan sebagai Bugis) datang dari (pelabuhan) Klang ke Kuala Lumpur.
Saat John Anderson melakukan ekspedisi di selat Malaka (pantai timur
Sumatra dan pantai barat Semenanjung) orang-orang Mandailing dan Angkola
sudahlah berada di sekitar pertemuan sungai Gombak dan sungai Klang (area ini
kemudian menjadi Kwala Loempoer), sementara orang-orang Karo sudah sejak lampau
mendiami daerah pengaliran sungai Deli. Salah satu kampoeng di pertemuan sungai
Deli di hulu dengan sungai Babura disebut kampoeng Medan Poetri. Antara
kampoeng Medan Poetri dan Laboehan (muara sungai Deli) terdapat Kampoeng Poelo
Braijan (sekarang Pulau Brayan). Menurut John Anderson (1823), terjadi perang
antara Radja Poelo Braijan (Batak) dengan Soeltan di Laboehan (Melayoe). John
Anderson mencoba menengahi tetapi tidak berhasil. John Anderson menyebut
otoritas Soeltan hanya terbatas di Laboehan dan Pertjoet, sedangkan wilayah
dari pantai ke pedalaman dihuni penduduk Batak. Populasi di Laboehan hanya
terdiri dari 200 rumah sedangkan penduduk Batak hingga ke pegunungan (Karaw) banyaknya
40.000. Dalam laporan-laporan Belanda kemudian, Soeltan meminta bantuan
Ingggris di Penang dan menempatkan seorang Kapten di Laboehan. Sejak itu,
posisi Soeltan di Laboehan semakin kuat
Soeltan Deli dan Soeltan
Selangor mengawali invasi ke pedalaman sedikit berbeda. Soeltan Deli melakukan
invasi ke pedalaman hingga hulu sungai Deli (pertemuan dengan sungai Babura)
bermula ketika Belanda menaneksasi Deli tahun 1863. Sejak itu di Laboehan
ditempatkan seorang Controleur Belanda. Pada tahun 1865 muncul pengusaha
tembakau, Nienhuys yang dalam perkembangannya membutuhkan lahan kebun yang
lebih luas hingga ke hulu sungai Deli di Medan, Soeltan Deli menjual lahan-lahan
orang Batak (Karo) dalam bentuk konsesi kepada Nienhuys (dan planter-planter
yang menyusul).
Sejak itu pundi-pundi Soeltan semakin kuat. Atas penyerobotan lahan-lahan
ini, orang-orang Batak yang dipimpin oleh Datoe Soenggal menentang kuat
perilaku Soeltan dan para planter. Muncullah perang yang mana Soeltan dan para
planter dibantu oleh militer Belanda yang didatangkan dari Bengkalis. Kebutuhan
tenaga kerja semakin banyak lalu didatangkan kuli dari Tiongkok. Muncul pengusaha
Cina Tjong Jong Hian yang diangkat sebagai Kapietein. Persoalan semakin rumit
hingga puncak Perang Soenggal terjadi pada tahun 1878. Sejak itu kekuatan
orang-orang Batak di hulu sungai Deli semakin melemah (sebaliknya Soeltan yang
sebelumnya yang hanya memiliki otoritas di sekitar muara sungai di pantai mulai
secara perlahan merangsek ke pedalaman). Sejak itu orang-orang Batak semakin
melayu. Sedangkan orang-orang Tionghoa semakin berjaya lebih-lebih setelah adik
Tjong Jong Hian bernama Tjong A Fie diangkat sebagai Kaptein Cina (Tjing Jong
Hian menjadi Majoor). Sejak itulah Medan dibenamkan sebagai wilayah yang bukan
wilayah orang Batak (dan dipersepsikan sebagai wilayah orang Melayu).
Sultan Selangor, Radja Laoet
(1880
)

Sementara itu di Selangor muncul apa yang disebut kemudian perang
saudara. Ini dimulai adanya persaingan diantara pangeran-pangeran di Selangor. Raja
Mahdi dari Kwala Loempoer (hulu sungai Klang) menyerang Raja Abdullah di Klang
(muara sungai Klang). Persoalan semakin meruncing karena Raja Mahdi sebagai
pemungut pajak/cukai dari orang-orang Mandailing dan Angkola serta orang-orang
Tionghoa di Kwala Loempoer tidak disetor kepada Sultan Selangor di Kuala
Selangor (muara sungai Selangor). Lalu Sultan Selangor menugaskan menantunya
Tuanku Kudin (dari Kedah) untuk menumpas Radja Mahdi. Tuanku Kudin menyewa
tentara bayaran Inggris dan Belanda di Singapoera.

Sumatra-courant, 30-10-1875

Sebagaimana halnya dengan
Perak, juga terjadi di Selangor. Terjadi perang saudara di Laroet, Perak. Ini
bermula ditemukannya tambang timah terbaik. Lalu kemudian kuli Cina
didatangkan. Para pangeran bertikai sehingga timbul perang. Pada akhir 1873
hanya tersisa 4.000 jiwa di district Laroet. Lalu Inggris datang dan melakukan
perjanjian dengan Soeltan Perak pada tanggal 20 Januari 1874. Tidak lama
kemudian pekerja mengalir lagi ke Laroet. Pada akhir 1874 terdapat sebanyak
33.000 pendatang baru yang mana sebanyak 26.000 Cina. Pada awal tahun 1874
hanya terdapat 30 tambang tetapi pada akhir tahun 1874 sudah sebanyak 120 buah
tambang yang menghasilkan 1.584.000 d.olar. Sebanyak 31 persen hasil bagian
dari Soeltan dan hanya menjadi 20 persen pada tahun 1876 dan kemudian akan
diturunkan menjadi 15 persen (lihat Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad,
30-10-1875). Nama Laroet kemudian berubah menjadi Taiping (ibukota konfederasi
Semenanjung). Tidak lama kemudian hal serupa terjadi di Selangor. Ini bermula
bahwa ibukota Selangor beribukota Langat (Raja Mahdi?) dalam beberapa tahun
terakhir telah berkembang pesat. Inggris memburu Raja Mahdi, seteru Raja
Abdullah. Kemudian pada bulan Agustus 1874 Kapitein Swettenham menduduki
Langat, wilayah yang sangat kaya hasil tambang timah. Inggris melakukan
perjanjian dengan Sultan yang mana Soeltan hanya mendapat bagian sebesar 15
persen. Wilayah ini dilaporkan juga kaya akan kayu berharga, di mana gula, kopi
dan tembakau juga ditanam (lihat Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 30-10-1875).

Soeltan, Residen dan Kapitein,
1884

Dalam perkembangannya, antar pengusaha di Kwala Loempoer pecah.
Orang-orang Mandailing yang dipimpin Sutan Puasa memihak Raja Mahdi sementara
orang-orang Tionghoa yang dipimpin oleh Yap Ah Loy memihak Tuanku Kudin. Lalu
muncul perang di Kwala Loempoer. Puncaknya Raja Mahdi yang didukung orang-orang
Mandailing dan Angkola kalah dan kemudian menyingkir. Sementara, orang-orang
Tionghoa mengambil alih seluruh Kwala Loempoer. Sejak itu Yap Ah Loy dan Sultan
Selangor semakin kaya dan semakin kuat. Sejak itu Kwala Loempoer dipersepsikan
didirikan oleh Yap Ah Loy. Namun kini, Kuala Lumpur semakin diakui sebagai kota
yang dibangun oleh Sutan Puasa (bukan Yap Ah Loy). Ke depan apakah pelurusan
sejarah Kota Kuala Lumpur akan berlaku di Kota Medan? Studi mutakhir dan
interpretasi baru diperlukan. Kita tunggu saja.

*Dikompilasi oleh Akhir
Matua Harahap
berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang
digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan
peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena
saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber
primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi
karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang
disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan
kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.


, Terimakasih telah mengunjungi Dului.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.

Most Popular

To Top