Sejarah

Sejarah Kota Padang (11): Sejarah Pemimpin Padang 1621-1814; Catatan Kuno Berjudul ‘Permoelajan Berdiri Poehoen’




false
EN-US




























































































































































false
EN-US



























































































































































Panglima dan Regent van Padang

Catatan kuno pemerintahan di Padang yangt
berjudul ‘Permoelajan Berdiri Poehoen’ diduga dibuat pada era Panglima Soetan
Mansoer (Panglima ke-21) setelah beberapa waktu kehadiran kembali Belanda tahun
1814 (Pemerintah Hindia Belanda). Antara 1666-1814 tentu sangat lama. Oleh
karenanya daftar tahun pemimpin Padang hanya terlihat valid sejak 1783
(Panglima ke-16 Radja Djohan II). Ini mengindikasikan bahwa  ketika catatan ini dibuat sekitar tahun 1814,
para orang tua masih ingat perubahan-perubahan yang terjadi 30 tahun ke
belakang. Redaktur yang menyusun daftar (1884) berdasarkan catatan kuno (1814)
tidak menemukan tahun antara 1666-1783. Karenanya dari daftar pemimpin Padang
tersebut tidak menyebut periodenya.
Artikel ini coba menelusuri dari surat kabar sejaman
(1666-1783). Namun itu tentu tidak mudah, karena porsi pemberitaan pemerintah lokal
di surat kabar berbahasa Belanda cenderung porsinya (sangat) kecil. Akan
disusun kemudian daftar baru berikut periodenya (jika memungkinkan).
Suksesi para panglima ini terus berlangsung
hingga tahun 1910. Sebagaimana sudah dideskripsikan pada artikel sebelumnya,
sejak era Panglima Soetan Iskandar II (panglima ke-23), jabatan pemerintah lokal
diintegrasikan dengan struktur Pemerintahan Hindia Belanda dengan titel Regent
van Padang. Dengan kata lain: Soetan Iskandar adalah panglima dan juga Regent
van Padang. Jabatan regent van Padang ini dimulai tahun 1834 ketika Residentie
Sumatra’s Westkust ditingkatkan statusnya menjadi Province Sumatra’s Westkust
yang dikepalai oleh seorang Gubernur. AV Michiels adalah gubernur pertama Province
Sumatra’s Westkust.
Soetan Iskandar menjadi Regent van Padang sejak 1834.
Pada tahun 1867 Soetan Iskandar meninggal dunia dan digantikan dengan Panglima/Regent
van Padang yang baru. Ini berarti Soetan Iskandar dengan posisi Panglima/Regent
van Padang selama 33 tahun. Suatu periode yang paling lama diantara para
panglima di Padang.
Penelusuran Surat Kabar
Belanda (VOC) secara teknis memulai aktivitas
di Batavia pada tahun 1621 (tahun yang sama Atjeh di Padang). Ekspedisi pertama
Belanda sendiri datang ke Nusantara pada tahun 1595 di bawah komandan Cornelis
de Houtman. Laporan ekspedisi ini telah dimuat dalam jurnal yang terbit tahun
1598. Dalam laporan ini belum terdeteksi Padang, bahkan di dalam peta baru yang
dibuat yang menjadi bagian dari jurnal 1598 tersebut.
Nama-nama tempat yang disebutkan dalam peta baru ini (Belanda)
sebagaimana juga disebut dalam peta Portugis 1619 di Pantai Barat Sumatra hanya
menyebut Baros dan Bathan (Batahan).
Laporan jurnalistik pertama dari Nusantara
baru ditemukan pada tahun 1827. Ini terkait dengan informasi pertama tentang
nama Batavia ditemukan dalam surat kabar Courante uyt Italien, Duytslandt,
&c edisi 31 Juli 1627. Nama Batavia dalam surat kabar tersebut mengacu pada
kutipan berita berikut: ‘Kapal kargo dari Batavia pada bulan Desember 1626
telah tiba di Texel pada tanggal 24 Juli 1627’.
Sejak berita kapal kargo yang pertama dari Batavia,
semakin kerap kapal kargo dari Oost Indisch yang dilaporkan yakni dari Batavia
dan Suratta (Sumatra?). Kapal kargo yang dilaporkan surat kabar Courante uyt
Italien, Duytslandt, &c. edisi 16-07-1633 memberitakan sangat rinci.
Kapal-kapal yang tiba tersebut terdiri dari kapal Prins Willem, Hollandia,
Zutphen, Amelia, Rotterdam, Hoorn dan Amboina. Kapal-kapal ini di bawah
komandan Jenderal Specx. Muatan kapal-kapal tersebut berisi 36 jenis komoditas
yang dirinci menurut volume (seperti pon, pikul). Komoditi tersebut antara lain
lada, rotan, puli, getah dammar, gambir, indigo, kelapa, pala, berlian dan
permata. Secara keseluruhan komoditi tersebut komoditas tahan lama. Selain itu
juga terdapat kain (sutra dan katun) yang kemungkinan diangkut dari
pelabuhan-pelabuhan di India.
Dari tahun ke tahun frekuensi kapal kargo
dari Batavia semakin tinggi. Jumlah kapal juga semakin banyak, jenis komoditas
semakin banyak dan volume masing-masing komoditas semakin besar. Seperti
dilaporkan surat kabar Ordinaris dingsdaeghse courante, 11-08-1648 kapal-kapal
tersebut dicarter oleh Nederlantfe Geoctroyeerde Ooft-Indifche Compagnie
(VOC?).
Berita ini mengindikasikan bahwa perjalanan kapal kargo
ini sejak dikirim dari Batavia hingga tiba di Texel membutuhkan waktu tujuh
bulan. Suatu waktu yang sangat lama, tapi begitulah pelayaran saat itu. Sejak
itu, berita-berita dari Batavia terus bergulir tetapi hampir semuanya tentang
berita kapal.
Ketika VOC (Belanda) memperluas perdagangan
ke Pantai Barat Sumatra tahun 1664, posisi Atjeh sudah lama eksis, yang di
Padang sendiri dimulai pada tahun 1621. Antara Belanda dan Atjeh inilah yang
menjadi pangkal perkara catatan kuno berjudul ‘Permoelajan Berdiri Poehoen’.
Nama Padang sebagai nama suatu tempat di
pantai barat Sumatra paling tidak baru tahun 1744 mulai dikenal (lihat Amsterdamse
courant, 11-02-1744). Nama Padang sebagai suatu tempat yang penting dipertegas
dengan adanya laporan bahwa kapal Winter berangkat dari (pelabuhan) Padang
(Leydse courant, 22-09-1745). Dari nama kapal ini, Winter diduga adalah kapal
Inggris. Selanjutnya Inggris tahun 1752 mendirikan maskapai di Natal dan Tapanoeli
yang berada di bagian utara Pantai Barat (lihat Groninger courant, 14-12-1824).
Sebagaimana dilaporkan Amsterdamse courant, 07-07-1757,
bahwa kapal de Princes van Oranje tiba di Porto Chinco; tanggal 30 Juli kapal
Ouwerkerk tiba di Padang dan kapal de Chaloup de Overmaas tiba Porto Chinco.
Juga ditemukan kapal de Spaarsaamheid tanggal 7 Maret tiba di Padang (Leydse
courant, 06-07-1759). Kapal Pasgeld tanggal 23 Februari (1760) akan berangkat
ke Padang dan China (Leydse courant, 12-12-1759).
Pada tahun 1761 terjadi pertempuran antara
dua negara yang berseteru di Eropa di laut Pantai Barat Sumatra. Dalam hal ini
Perancis mampu mengalahkan Inggris. Lalu Perancis mengambil alih pantai barat
Sumatra dari Inggris. Laporan mengenai perseteruan Perancis dan Inggris ini
dapat dibaca pada surat kabar Leeuwarder courant edisi no 219 tanggal 15-07-1761.
Dalam perkembangan berikutnya, Inggris kembali mendapatkan kekuasaannya di
pantai barat Sumatra.
Leydse courant, 26-06-1761: ‘..4 Februari 1760, kapal
Perancis berlabuh di fort Ayer Bongi (Air Bangis), 7 Februari 1860 Inggris
mengambil pelabuhan Natal dari Perancis. Pelabuhan Natal ini diduduki oleh 40
Eropa dan 60 orang pribumi.
Pada dekade-dekade tersebut, kekuatan laut
Inggris yang berbasis di India sangat kuat namun kecolongan di Pantai Barat
Sumatra. Tempat-tempat yang menjadi perebutan tiga negara (Inggris, Perancis
dan ditambah Belanda) di Pantai Barat Sumatra tampak silih berganti seperti di
Bengkulu (dan Moco-moco), Padang (dan Pariaman), Air Bangie dan Nata; Tapanoeli
(dan Baros). Struktur pemerintahan Belanda (VOC) pada tahun 1764 di Pantai
Barat Sumatra adalah sebagai berikut: 
yang diangkat sebagai Letnan Gubernur yang berkedudukan di Padang adalah
Henry van Haveren dengan perangkat-perangkatnya termasuk di Pulau Chinco, Air
Bangies dan Baros.
Leydse courant, 04-05-1764: ‘Sumatra Westkust. Untuk
Komandan Letnan Gubernur ditunjuk Merchant Henry van Haveren; Untuk
Adminiflrateur pertama Gubernur adalah pedagang (Koopman) Mr. John Anthony
Thierens, Sedangkan untuk Fifcaal dan Caffier disini digantikan oleh Merchant
Jan Kalkoen van Limburg; Untuk pengawas adalah Pedagang Roeland Palm yang
merangkap sebagai Rcsident dari (pulau) Chinco, dan Jan Boudewyns di
Ayerbangis; serta Anthony Hend.Siebens untuk Baros. Sementara itu Adminiftreiur
kedua di Padang ditunjuk untuk mempekerjakan orang lokal dibawah Koopman Frans
Douglass dan yang terakhir untuk Sekretaris yang merangkap kepala Policie
adalah di bawah Koopman Jan Fredrik William Nicolay’.
Berdasarkan informasi-informasi tersebut  sulit untuk mengkonfirmasi catatan kuno yang
berjudul ‘Permoelajan Berdiri Poehoen’ tentang periode kepemimpinan panglima sebelum
tahun 1783. Namun yang jelas, pemerintahan VOC sudah terindikasi di Padang
sejak tahun 1764 (berdasarkan berita surat kabar Leydse courant, 04-05-1764). Pada
tahun ini juga terindikasi VOC mulai melibatkan (pemimpin) orang local.

*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber
utama yang digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman,
foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding),
karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari
sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber
disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja.

, Terimakasih telah mengunjungi Dului.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.

Most Popular

To Top