.
Brotodihardjo pernah menjabat Gubernur Sumatera Barat yang berkedudukan di Kota
Padang selama tiga tahun dari 1965 hingga 1967. Soepoetro Brotodihardjo menggantikan
Gubernur Sumatera Barat pertama Kaharudin Datuk Rangkayo Basa (1958-1965),
berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 191 Tahun 1965 yang ditetapkan di
Djakarta 23 Djuni 1965 oleh Soekarno. Dalam keputusan ini, Soepoetro
Brotodihardjo mendjabat djuga sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakjat Daerah
Gotong Rojong tingkat I Sumatera Barat.
![]() |
| Gubernur Sumatera Barat dalam Wikipedia |
Pasca
kemerdekaaan RI Sumatra terdiri dari tiga provinsi: Sumatera Utara, Sumatera
Tengah dan Sumatera Selatan. Pada tahun 1956 Provinsi Sumatera Utara dimekarkan
dengan membentuk Provinsi Aceh. Pasca PRRI, Provinsi Sumatera Tengah dibubarkan
dan kemudian dibentuk tiga provinsi, yang terdiri dari Provinsi Sumatera Barat,
Provinsi Riau dan Provinsi Djambi. Gubernur pertama Provinsi Sumatera Barat
diangkat Kaharudin Datuk Rangkayo Basa. Sementara gubernur di Provinsi Riau
diangkat SM Amin Nasoetion (1958-1960) dan dilanjutkan Kaharoeddin Nasoetion
(1960-1966).
Brotodihardjo dan Kota Tegal
Brotodihardjo adalah Pegawai Tinggi Ketatapradjaan tingkat I diperbantukan pada
Gubernur Kepala Daerah Djawa Tengah di Pekalongan. Soepoetro Brotodihardjo
adalah seorang pejabat berprestasi yang kali pertama menjabat sebagai Wali Kota
Tegal tahun 1948.
kedaulatan RI oleh Belanda Soepoetro Brotodihardjo diangkat sebagai Wali Kota
Tegal (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 12-12-1950).
Pada tahun 1954 berdasarkan beslit Presiden RI status Kota Tegal ditingkatkan
dari Kota Kecil menjadi Kota Besar. Untuk wali kota tetap dijabat oleh Soepoetro
Brotodihardjo (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 25-11-1954).
Tegal adalah yang secara administratif adalah kota yang sudah terbilang tua.
Kota Tegal sebagai gemeente (kota praja) seumur dengan pembentukan Kota
Semarang dan Kota Bandoeng. Kota Tegal dijadikan sebagai gemeente pada tanggal
1 April 1906 (sebagaimana juga Kota Padang). Oleh karenanya Kota Padang seusia
dengan Kota Tegal. Kota Medan baru dibentuk sebagai gemeente tahun 1909.
den dag voor Nederlandsch-Indie, 03-03-1906: ‘Akta pemerintahan (Gouvernements
besluiten) telah dikeluarkan yang akan berlaku pada tanggal 1 April untuk
kota-kota Samarang, Bandoeng, Cheribon, Tegal, Pekalongan, Magelang, dan Palembang.
Terhadap pembentukan kota ini dialokasikan anggaran yang ditujukan dalam
perbaikan dan renovasi bangunan kota dan bangunan yang baru’.
Sumatera Barat
tahun 1965 Soepoetro Brotodihardjo adalah pejabat pemerintah yang dianggap
paling kapabel dan sesuai untuk jabatan Gubernur Sumatera Barat. Soepoetro
Brotodihardjo telah berpengalaman sebagai wali kota (1948-1962) dan sebagai
pemimpin wilayah, setingkat residen di Jawa Tengah yang berkedudukan di
Pekalongan.
Brotodihardjo menyelesaikan pendidikan MULO (Soerabaijasch handelsblad, 21-05-1929).
Lalu kemudian melanjutkan ke sekolah pertanian, Middelbare Landbouwschool di
Buitenzorg (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 26-05-1930). Selanjutnya
sekolah pejabat, MOSVIA di Magelang (Bataviaasch nieuwsblad, 24-05-1933).
Soepoetro Brotodihardjo untuk diangkat sebagai Gubernur Sumatera Barat tidak
hanya karena kapabilitas dan kesesuaiannya tetapi juga karena Soepoetro
Brotodihardjo adalah tokoh utama PNI di Tegal (Algemeen Indisch dagblad : de
Preangerbode, 17-07-1956). Sejauh PNI masih Presiden RI, sejauh itu pula
kekuasaan PNI cukup kuat. Yang mengangkat Soepoetro Brotodihardjo menjadi
Gubernur Sumatera Barat adalah Presiden Soekarno (pendiri PNI). Namun siapapun mereka yang pernah
menjadi gubernur tetaplah kita apresiasi. Namun sayang sekali kita tidak bisa
menemukan fotonya.
![]() |
| M. Nasroen (1951) |
Tidak hanya foto Gubernur Soepoetro Brotodihardjom foto-foto pemimpin Sumatra Barat yang
lainnya juga sukar ditemukan seperti Residen Roesad Datuk Perpatih Baringek dan
Residen Mohammad Nasroen. Namun setelah ditelusuri lebih cermat foto Residen Mohammad
Nasroen masih dapat ditemukan pada surat kabar yang terbit pada tahun 1951. Mohammad
Nasroen adalah tokoh besar di tingkat nasional yang pernah menjadi pemimpin di
Sumatra Barat. Mohamad Nasroen pernah menjadi Menteri Kehakiman untuk
menggantikan Mohamad Yamin pada Kabinet Sukiman-Suwirjo (1951-1952). Mohammad
Nasroen lahir di Lubuk Sikaping 1907 adalah sarjana hukum lulusan Universiteit
Leiden. Mohamad Nasroen adalah
salah satu dari tiga tokoh utama dalam perang kemerdekaan di Sumatra Tengah. Dua
yang lain adalah Eny Karim dan Basyrah Lubis yang menerima serah terima kedaulatan Indonesia dari Belanda di Bukittinggi.
Ada yang memiliki fotonya? Kita juga perlu melihat
wajahnya.
*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan
sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber
primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya
digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga
merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap
penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di
artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja.

, Terimakasih telah mengunjungi Dului.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.












