Sejarah

Sejarah Kota Padang (6): Surat Kabar Sumatra Courant di Padang; Orang Mandailing dan Angkola Ikut Berlangganan




false
EN-US




























































































































































false
EN-US



























































































































































Para pedagang
Tapanuli di Padang Sidempoean memasang iklan (awal 1870an) di surat kabar
berbahasa Belanda Sumatra Courant yang terbit di Padang. Uniknya iklan-iklan
yang dipasang para pedagang asal Tapanoeli di Mandailing dan Angkola ini
dibuat dalam bahasa Melayu. Tentu saja iklan itu ditujukan untuk para pedagang
pribumi atau para pedagang Tionghoa. Pemasang iklan yang dimaksud tersebut
berdomisili di Padang Sidempuan. Paket-paket yang diperdagangkan sangat
beragam, seperti hasil peternakan (sapi, kerbau, kuda, dan kambing), hasil
hutan (kulit manis, rotan), hasil budidaya pertanian seperti beras, kopi, gula
aren serta hasil industri kerajinan. Salah satu iklan tesebut seperti tampak dalam Sumatra-courant edfisi 08-04-1874.
Penulis iklan ini adalah Maharadja Soetan, kepala koeria Batoenadoea di Padang
Sidempoean, seorang yang dikenal sebagai murid pertama Willem Iskander di
Kweekschool Tanobato yang berdiri pada tahun 1862.

Surat
kabar Sumatra Courant terus dalam performanya, sangat kondusif untuk media untuk
mencerdaskan dan media untuk mendorong perekonomian lebih tumbuh dan berkembang di Sumatra’s
Westkust. Surat kabar Sumatra Courant terus dalam posisi stabil, berita yang semakin
beragam, iklan yang semakin banyak dan keuangan yang tetap mumpuni. Surat kabar
Sumatra Courant menjadi kuat karena ditopang oleh perkonomian wilayah, terutama di Padangsch Bovenlanden dan Tapanoeli. Ekonomi dengan leading sector saat itu adalah koffiecultuur. Penduduk di pelosok-pelosok makin meluas yang
dengan sendiri penduduk terpencilpun memiliki daya beli yang baik. Akan tetapi tingkat daya beli penduduk di perkotaan sebaliknya, terus merosot, seiring
dengan mekarnya kota akibat urbanisasi yang terus berlangsung
.
Secara teknis tahun 1880 hanya ada tiga kota utama di
Province Sumatra’s Westkust yang memiliki karakteristik urban (penduduk yang
padat dan memiliki fasilitas yang memadai). Kota-kota tersebut kebetulan
mewakili masing-masing residentie, yakni: Kota Padang (Residentie Padangsche
Benelanden), Kota Fort de Kock (Residentie Padangsche Bovenlanden) dan Kota
Padang Sidempuan (Residentie Tapanoeli). Keutamaan Fort de Kock dan Padang
Sidempuan karena masing-masing memiliki sekolah guru (kweekschool). Kedua kota
ini juga sama-sama menjadi simpul perdagangan utama (ekonomi kopi).  
Penduduk
perkotaan, seperti di Padang, Fort de Kock dan Padang Sidempuan semakin banyak
yang terjebak dalam kehidupan perkotaan. Penduduk yang miskin di kota makin
banyak dari hari ke hari. Hal ini boleh jadi semakin sulit mendapat lahan
pertanian karena lahan-lahan potensial sudah banyak yang diperjualbelikan
dan beralih ke tangan swasta atau digunakan untuk peruntukkan kebutuhan bangunan-bangunan pemerintah.
Kweekschool Padang Sidempuan (pengganti Kweekschool Tanobato) yang
pembangunannya dimulai tahun 1874 dan telah memulai aktivitas perkuliahan 1879 dibangun
di atas lahan persawahan yang subur. Bangunan-bangunan pemerintah yang semakin
banyak juga mempersempit ruang penghidupan yang keahliannya hanya bertani.
Kemiskinan kota ini tercermin dari upaya yang dilakukan oleh dua mahasiswa di
Padang Sidempuan yang dilaporkan oleh Sumatra Courant.
Sumatra-courant:
nieuws- en advertentieblad, 01-05-1884: ‘dua anak murid Kweekschool Padang
Sidempuoen yang bernama Si Saleh dan Si Doepang melakukan kebajikan
mengumpulkan untuk membantu orang yang membutuhkan’
Sumatra Courant
Akhirnya Tumbang
Pertumbuhan
ekonomi kopi di Sumatra’s Westkust mulai melambat. Harga kopi mulai mendapat tekanan
karena sentra produksi kopi semakin meluas di Hindia Belanda, seperti di
Semarang dan sekitarnya dan Malang dan sekitarnya. Tekanan ini juga diperparah
dengan negara-negara lain yang maju pesat dalam budidaya kopi, seperti Brazil dan
koloni-koloni Eropa di Afrika. Sementara itu ekonomi tembakau di Sumatra’s
Oostkust lagi naik daun. Para investor yang terbilang baru mulai investasi
di Padangsch dan Tapenoeli (yang sedikit menggeser ekonomi rakyat) dalam membuka plantation (onderneming)
di Sumatra’s Westkust terutama di Padangsch Benelanden (dan sebagian sudah
memasuki Padangsch Bovenlanden) mulai gamang. Hal ini karena daya tarik
investasi di Sumatra’s Oostkust lebih menjanjikan jika dibandingkan di Sumatra’s
Westkust.
Daya tarik di
Sumatra’s Ooskust karena berbagai fasilitas ditemukan. Lahan yang lebih luas,
sarana jalan dan angkutan yang lebih baik (topografi yang baik) dan kekuatan
Sultan dan Pemerintah yang mampu menekan penduduk dalam soal konsesi lahan (hak
ulayat masih menjadi kendala di Pantai Barat Sumatra terutama di Padangsch). Juga
insentif lainnya di Pantai Timur Sumatra adalah arus perdagangan yang ramai di selat Malaka, kompetisi
yang sehat antara investor Belanda di Pantai Timur Sumatra dan Inggris di Semenanjung
(terjadi sinergi). Disamping itu, moda pelayaran yang semakin fokus di selat Malaka, apalagi setelah
dibukanya terusan Suez (ongkos pelayaran makin murah) yang memungkinkan investor
Eropa semakin banyak menuju Pantai Timur Sumatra yang berbasis di Medan.   
Investor
Eropa yang terus berdatangan di sekitar jalur selat Malaka (Pantai Timur
Sumatra dan Semenanjung) juga menggoda investor yang selama ini berada di Jawa.
Eksodus investor lama ini dari Jawa dan dari Pantai Barat Sumatra lambat laun
ekonomi Pantai Barat Sumatra semakin loyo. Hanya beberapa (sedikit) investor yang bertahan di
Padangsche dan Tapanoeli.
Konsekuensinya,
surat kabar Sumatra Courant yang hidup dari iklan, jumlah pemasang iklan
semakin kendor. Jumlah orang-orang Eropa/Belanda di Pantai Barat Sumatra tidak
mengalami peningkatan malah yang terjadi relatif mengalami penurunan. Pendapatan dari
harga jual koran juga tergerus apalagi semakin kuatnya surat kabar berbahasa
Melayu yang terbit di Kota Padang, Pertja Barat. Para pejabat-pejabat lokal sudah
mulai lebih memilih Pertja Barat daripada Sumatra Courant. Hukum alam berlaku, surat kabar, Sumatra
Courant yang terbit sejak 1859 dari semua persoalan menimpa dirinya seakan mulai mati langkah.
Persoalan yang
dihadapi oleh Sumatra Courant semakin berat. Competitor baru, Sumatra Post yang
terbit di Medan sejak 1898 semakin mekar. Raja koran Sumatra segera pindah
tangan dari Sumatra Courant di Kota Padang ke tangan Sumatra Post di Kota Medan.
Di Batavia, Sumatra Post lebih banyak dibaca daripada Sumatra Courant (dilihat dari sisi promosi kedua koran ini). Surat kabar
Sumatra Courant tirasnya makin melemah di Medan, sebaliknya oplah Sumatra Post
sudah melakukan penertrasi di Kota Padang. Orang-orang di Kota Padang (Eropa, pribumi dan Tionghoa) sudah memegang dua koran, diangan kanan Sumatra Courant dan di tangan kiri Sumatra Post. Tinggal menunggu waktu untuk hanya berlagganan satu kora yakni Sumatra Post.  
Pertja Barat, milik Dja Endar Moeda

Singkat
kata: Akhirnya surat kabar Sumatra Courant tumbang dan tutup selamanya pada
tahun 1900. Tidak hanya itu, Pertja Barat yang tirasnya sampai di Medan, juga
mendapat saingan baru, surat kabar berbahasa Melayu, Pertja Timor yang terbit
tahun 1902. Pertja Barat juga goyah. Pemilik surat kabar Pertja Barat sudah
beralih tangan kepada Dja Endar Moeda sejak tahun 1900 (persis tahun yang sama
dengan tumbangnya Sumatra Courant). Dja
Endar Moeda adalah seorang mantan guru, alumni Kweekschool Padang Sidempuan
tahun 1884. Sebagaimana Sumatra Courant pernah melaporkan Si Saleh dengan
temannya melakukan kebajikan di Padang Sidempuan (Sumatra-courant: nieuws- en
advertentieblad, 01-05-1884). Si Saleh ini tidak lain adalah Dja Endar Moeda.
Nama lengkapnya: Saleh Harahap gelar Dja Endar Moeda. Sedangkan editor pertama surat kabar berbahasa Melayu di Medan, Pertja Timor yang merupakan koran komplemen Sumatra Post adalah Mangaradja Salamboewe. Untuk sekadar diketahui: Hasan Nasoetion gelar Mangaradja Salamboewe adalah alumni Kweekschool Padang Sidempoean tahun 1893 (adik kelas Dja Endar Moeda). 

Afdeeling Padang Sidempuan, Residentie Tapanoeli, 1905

Pada tahun 1905
Residentie Tapanoeli dipisahkan dari Province Sumatra’s Westkust dan berdiri
sebagai Residentie otonom (bertanggungjawab langsung ke Batavia). Seiring dengan pemisahan ini, Provice Sumatra’s
Westkust yang hanya tinggal dua residentie (yakni Padangsch Bovenlanden dan
Padangsche Benelanden) akhirnya statusnya diturunkan dari provinsi menjadi hanya
setingkat residentie saja. Konsekuensinya, para investor pribumi yang berasal dari
Tapanoeli mulai mengalihkan investasinya dari Kota Padang ke Kota Medan, termasuk
investasi Dja Endar Moeda baik di bidang percetakan, toko buku dan surat kabar
ke Medan dan Kota Radja (kini Banda Atjeh). Lalu kemudian, Dja Endar Moeda dengan kawan-kawan
tahun 1905 mendirikan Sarikat (dagang) Tapanoeli untuk menghadapi kekuatan
ekonomi Tionghoa yang selama ini mendominasi di Kota Medan. Pertja Barat akhirnya
tutup tahun 1907 tetapi surat kabar berbahasa Melayu, Tapian Na Oeli di Sibolga (yang didirikan Dja Endar Moeda tahun 1901) tetap dipertahankan. Pada tahun 1909 Dja Endar Moeda menerbitkan Pembrita Atjeh di
Kota Radja. Kemudian Dja Endar Moeda yang merupakan pimpinan Sarikat
Tapanoeli di Medan menerbitkan surat kabar Pewarta Deli di Medan pada tahun 1910 (dan
eksis hingga tahun 1938). Untuk sekadar diketahui wakil Sarikat Tapanoeli adalah Sjech Ibrahim dari Mandailing. Sjech Ibrahim adalah orang Tapanoeli pertama di Kota Medan (datang pada tahun 1870). Saat Sarikat Tapanoeli didirikan di Kota Medan, Sjech Ibrahim adalah lurah Kesawan, lurah pertama di Kota Medan. Dengan demikian, Sarikat Tapanoeli di Kota Medan dipimpin dua orang haji terkenal: Dja Endar Moeda dan Sjech Ibrahim.

Last
but not least: Investor pribumi di Kota Padang yang umumnya berasal dari
Padangsche Bovenlanden juga mulai secara perlahan-lahan mengalihkan
investasinya ke Medan sebagaimana sudah dilakukan lebih dahulu oleh para
investor pribumi dari Tapanoeli. Dengan dibukanya jalur transportasi dari
Sibolga ke Medan pada tahun 1912, penduduk Minangkabau di Padangsch Bovenlanden
telah terbagi dua untuk tujuan migrasi: ke Kota Medan dan juga tetap banyak
yang ke Kota Padang. Tentu saja ada juga yang ke Sibolga dan Padang Sidempoean.
*Dikompilasi
oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan
sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber
primer’ seperti surat kabar sejaman, foto-fot dan peta-peta. Sumber buku hanya
digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga
merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan
artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya
yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah
pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk
lebih menekankan saja. 

Bagi pembaca yang ingin menelusuri lebih lanjut, kontekstual serial Sejarah Kota Padang, disarankan untuk membaca artikel saya yang lain dalam serial Sejarah Padang Sidempuan, Sejarah Angkola, Sejarah Mandailing, Sejarah Natal, Sejarah Tapanoeli, Sejarah Kota Medan, Sejarah Jakarta, Sejarah Bogor dan Sejarah Bandoeng. Untuk serial Sejarah Semarang masih dalam proses eksplorasi data. Untuk serial Sejarah Soerabaya sudah dimulai dengan mengetengahkan serial Radjamin Nasoetion, walikota pribumi pertama Kota Surabaya. Beberapa sumber yang tidak disebut lagi dalam serial Sejarah Kota Padang ini sudah disebut di artikel dalam serial-serial tersebut..


, Terimakasih telah mengunjungi Dului.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.

Most Popular

To Top