Pembentukan pemerintahan di Surabaya secara
efektif pada dasarnya baru dimulai setelah era pendudukan Inggris (1811-1816).
Ini sehubungan dengan berjalannya proses perapihan (wilayah) administrasi
pemerintahan di Jawa. Seiring dengan proses mengadministrasikan kembali
wilayah-wilayah di Jawa dilakukan pengangkatan Residen, Asisten Residen dan
Controleur serta Gouverneur. Reorganisasi pemerintahan Pemerintahn Hindia
Belanda tampaknya merujuk pada pembagian wilayah yang telah dilakukan oleh
Letnan Gubernur Raffles.
![]() |
| Kantor Residen Surabaya (foto 1865) |
Dalam Almanak 1816 wilayah Jawa dibagi ke dalam 17 residentie
yang dipimpin oleh Resident: Buitenzorg; Preanger Regencies; Bantam; Chirebon;
Tagal; Paccalongan and Cadoe; Samarang; Soeracarta; Djocjacarta; Japara and
Joana; Rembang; Soerabaja and Bangcallan; Probolinggi, Besoki and Panaroekan;
Grissee; Passoeroeang; Baniowangie; dan Sumanap. Sementara luar Jawa baru
terdiri dari: Palembang and Banca; Macassar; Banjermassing. Residen Soerabaja
and Bangcallan adalah William Ainslie (yang dibantu oleh dua asisten residen).
pertama dan yang bertanggungjawab untuk merencanakan pembangunan wilayah serta
memimpin pertumbuhan dan perkembangan kota. Bagaimana kisah para pemimpin di
Surabaya ini di dalam mengiringi perencanaan dan pengembangan Kota Surabaya
penting untuk diketahui. Sebab, merekalah yang memiliki ide awal dan
bertanggungjawab setiap tahapan pembangunan (periode kepemimpinan). Mari kita
telusuri berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe.
Poel dan kemudian digantikan oleh Mr. BHA Besier (lihat ‘s Gravenhaagsche
courant, 16-07-1824). Selama berlangsungnya perang Jawa, Residen van Soerabaja
adalah van Haak. Javasche courant, 20-06-1829 melaporkan Resdien van Haak
mengundang tender (outsource) untuk kegiatan (proyek): (1) perbaikan bangunan
sipil, (b) perbaikan beberapa ‘jembatan, (c) perbaikan selokan dan drainase,
(d) perbaikan sungai Kali Maas, (e) perbaikan berat jembatan di Kampong Baroe. Bagi
peminat mulai sekarang hadir di kantor insinyur sipil di sini. Surabaya.
Residen Surabaga, van Haak.
Residen
Militer hingga Residen Sipil
titulair Carel Jan Riesz [seorang Jerman] menjadi Resident van Soerabaja. Untuk
urusan keamanan CJ Riesz dibantu oleh Luitenant-Kolonel AV Michiels (Algemeen
Handelsblad, 30-06-1834). Dalam jajaran pemerintahan militer ini terdapat JDG
Schaap sebagai komandan untuk urusan pribumi yang merangkap sekretaris. JDG
Schaap sebelumnya adalah Direktur Instruktur Pelatih Lokal untuk Bahasa Melayu
di Batavia. Tampaknya militer dan ahli bahasa begitu penting dalam proses awal
pembentukan pemerintahan di Residentie Soerabaya ini.Yang menjabat sebagai regent (Bupati) saat
itu adalah Raden Pandji Tjokro Negoro.
![]() |
| Daftar Residen Soerabaja 1834-1942 |
Dalam proses awal pembentukan pemerintahan di Soerabaya,
situasi dan kondisi adalah pasca Perang Jawa (1825-1830). AV Michiels adalah
anak buah terbaik Carel Jan Riesz, salah satu komandan dalam Perang Jawa yang
dipimpin Pangeran Diponegoro. Oleh karena situasi dan kondisi keamanan di Jawa
semakin kondusif, sementara situasi keamanan di Sumatra’s Westkust (Pantai
Barat Sumatra) makin memanas, AV Michiels dipromosikan memimpin perang dalam
Padri Oorlog di Sumatra’s Westkust. Perang Padri berakhir setelah perlawanan
pasukan Tuanku Imam (di) Bonjol berakhir (1837) dan perlawanan pasukan Tuanku
Tambusai di Mandailing dan Angkola berhasil dilumpuhkan (1838). Pada tahun 1838
ini Luitenant-Kolonel AV Michiels dinaikkan pangkanya menjadi Kolonel dan sekaligus
menjadi Gubernur Sumatra’s Westkust.
Gubernur Sumatra’s Westkust pada tahun 1838. Sementara Carel Jan Riesz
mengakhiri tugasnya sebagai Residen Soerabaya pada tahun 1839 dan pensiun. Carel
Jan Riesz sumringah diakhir masa jabatannya sebagai Residen Soerabaya karena
anak buah terbaiknya AV Michiels telah menjadi Gubernur.
merencanakan pembangunan di Sumatra’s Westkust, Alexander van der Hart
dipromosikannya sebagai Residen Tapanoeli pada tahun 1845. Alexander van der
Hart adalah anak buah terbaik Michiels yang berhasil masuk ke benteng Bonjol. Alexander
van der Hart sangat disukai Michiels karena Hart tipe pemberani tetapi
berperilaku baik, tidak peminum, tidak penjudi dan sangat hormat kepada wanita.
Alexander van der Hart baru menikah setelah menjadi Residen Tapanoeli. Namun
sangat tragis, dua prajurit pemberani ini justru tewas di tangan orang biasa. Alexander
van der Hart yang menjabat sebagai Gubernur Sulawesi tewas di tempat tidur
tertikam oleh seorang penyusup yang diduga motif pencuri (lihat Dagblad van Zuidholland
en ‘s Gravenhage, edisi 26, 27 dan 28 Agustus 1856). Prajurit profesional jago
tembak memang tidak pernah mati tertembak tetapi dapat terbunuh karena seorang
amatir. Sedangkan AV Michiels sebelumnya terbunuh mati konyol oleh orang amatir
di Bali (Michiels tahun 1849 kembali ke habitat lama sebagai pemimpin ekspedisi
militer ketiga di Bali).
seorang sarjana, Mr. DFW Pietermaat, sebagai Resident Soerabaya. Pietermaat dibantu sejumlah Asisten Residen yang ditempatkan
di Afdeeling Greesee, Afdeeling Modjokerto, Afdeeling Madoera, Afdeeling
Sumanap dan Pamakassan dan Afdeeling Bawaean.
Djoio Dironno, sebagai Regent (Bupati). Dalam jajaran pemimpin lokal adalah Maas
Beij Prawiro Dirdjo, hoofd Djaksa dan Ngabei Merto Dipoero sebagai hoofd panghoeloe.
Untuk komandan para pendatang: terdiri dari beberapa Luitenant der chinezen: Han
Tiaukie, Han Tiauhien, The Boenhie, The Keh, Han Kokping, The Boenkie.
Sedangkan Kapitein der Malaijers adalah Achmat Bin Abdul Menem; Hoofd der Arabieren,
Abdul Kadir Bin Alie Bin Adjiem dan Sabjan sebagai hoofd der Bengalezen
(India).
digantikan oleh PJB de Ferez. Sebagai regent (bupati) adalah Radhen Adhipati Kromo
Djojo Adhi Negoro (lihat Almanak 1846). Sebagai Djaksa adalah Ngabehi Prawiro
Dhirdjo. Para kepada Tionghoa sudah ada yang berpangkat Kapitein yakni The Goansiang.
Komposisi para letnan tidak berubah. Demikian juga pada pimpinan dari Melayu,
Arab dan Bengalen tidak berubah.
![]() |
| Beberapa Residen dari Risidentie Soerabaja |
Residen PJB de Ferez digantikan oleh P Vreede
Bik yang posisi bupati masih dijabat Adhi Negoro, Kepala Djaksa masih dijabat Prawiro
Dirdjo tetapi ada penambahan dua wakil djaksa (adjuct): Maas Beij Prawiro
Winoto (pertama) dan Raden Tjokro Prawiro (kedua), Untuk penghoelo ada
penambahan wakil. Kapitein China dibantu oleh kapitei titulair. Ada perubahan
komposisi pada level letnan dan juga ditambah dua fungsi letnan titulair.
Sebagai kapitein Melayu bernama Oemar Malaka. Sebagai pimpinan Bengalen (kini
Bangladesh) tampaknya digantikan oleh anaknya Hassan bin Serang Sabjan (lihat
Almanak 1853).
Rees. Komposisi pemimpin lokal tidak berubah kecuali wakil djaksa digantikan
oleh Prawiro Admodjo dan Tjokro Adhinoto. The Boenhie naik pangkat menjadi
Kapitein dengan dibantu dua kapitein titulair, Sebagai pemimpin Melayu yang
baru adalah Oesien bin Abdul Manan. Nama pemimpin Bangalen tetap tetapi nama
pemimpin Arab berubah (lihat Almanak 1864).
khusus wilayah unrban dibagi kedalam 22 kelurahan (wijck) yan dipimpin oleh
seorang Wijkmeester. Pada tahun 1866 Regentschap Sidaijoe, dan regentschap
Lamongan ditingkatkan statusnya dari Controleur menjadi Asisten Residen (lihat
De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 29-01-1866).
perubahan. Pada tahun 1869 Residentie terdiri dari tujuh afdeeling. Afdeeling
Greesee dan Afdeeling Modjokerto tetap seperti semula. Sementara Afdeeling
Madoera, Afdeeling Sumanap dan Pamakassan dipisahkan. Sementara dibentuk
Afdeeling Soerabaja, Afdeeling Sidho Ardjo dan Afdeeling Sidaijoe serta
Afdeeling Lamongan. Afdeeling Bawaean berstus Gewestellijk (daerah) yang
dimasukkan ke dalam pemerintahan Afdeeling Soerabaja. Pemimpin tertinggi di
Bawean hanya setingkat Penghoeloe (saja).
![]() |
| Handboek voor den Oost-Ind. Ambtenaar, 1876 |
Di
dalam Staatsblad 1874 No.73 tentang Regentschappen en Afdeelingen op Java en
Madura disebutkan Afdeeling Soerabaja terdiri dari tiga distrikten, yakni:
Kotta, Djabakotta dan Goenoeng Kending (Handboek voor den Oost-Ind. Ambtenaar,
1876) Distrik Kotta terdiri dari 353 desa; Djabakotta 235 desa dan Goenoeng
Kending 361 desa (lihat Almanak 1869).
pemerintahan yang abru ini adalah Residen S van Deventer (menggantikan Residen O
van Rees). Namun yang menjadi regent (bupati) adalah adalah Raden Pandji Tjokro
Negoro. Bupati yang pernah menjabat di era Residen Carel Jan Riesz (1834-1839).
Pengangkatan kembali Tjokro Negoro pada tanggal 20 September 1863 (saat Residen
O van Rees). Bupati tetap dibantu oleh seorang patih, yakni Mas Ngabehi Ongo Adhi
Poetro yang menjabat sejak 1855 pada era Bupati Adhi Negoro.
![]() |
| Rumah Residen Soerabaja (1906) |
Kepala Djaksa dan wakilnya tidak berubah. Ini
mengindikasikan bahwa Djaksa Prawiro Dhi Wiro sudah lama menjabat (sejak 9
Oktober 1852). Kepala Penghoeloe Ngabei Merto Dipoero juga terbilang
sudah lama bahkan sejak 17 Oktober 1844. Kapiteit China tetap dijabat oleh The Boenhie.
Para letnan dan juga para titulair tidak berubah. Pemimpin Arab adalah Said Ibrahim
bin Pangeran Said Alolei Al Habassij. Untuk pemimpin Bengalen
yang baru adalah Hasan bin Oemar Malaka. Para lurah dari 22 kelurahan adalah
orang-orang (bernama) Belanda.
terdapat di Soerabaja, Modjokerto, Gresik, Sidho Ardjo, Sidaijoe, Lamongan juga
terdapat di Kedoeng, Pramban, Modjosari, Djambang dan Lekir.
antara lain adalah Harderman (Residen Soerabaya 1925-1928) diangkat menjadi
Gubernur Oost Java yang pertama tahun 1929. Selaian itu adalah MF Winkler,
Resident Soerabaja periode 1935-1939 kemudian diangkat menjadi Gubernur Midden
Java (Het Vaderland : staat- en letterkundig nieuwsblad, 18-12-1939).
Gemeente dan Burgemeester
distrikten, yakni: Kotta, Djabakotta dan Goenoeng Kending. Afdeeling Soerabaja
dipimpin oleh seorang Asisten Residen yang berkedudukan di Kotta Soerabaja.
Distrik Kotta Soerabaja terdiri dari 22 kelurahan (wijck) dan 353 desa. Dalam
perkembangannya Distrik Kotta Soerabaja dibentuk menjadi Kota Pradja (Kota)
yang bersifat otonom. Hal ini karena kota mampu membiayai sendiri
pembangunannya.
tahun 1905 bersamaan dengan Kota Buitenzorg Chirebon. Kota (Gemeente) yang
pertama dibentuk adalah Kota Batavia
pada tahun 1903. Kota Bandoeng pada tahun 1906 dibentuk bersaman dengan Samarang,
Cheribon, Tegal, Pekalongan, Magelang, dan Palembang (lihat Het nieuws van den
dag voor Nederlandsch-Indie, 03-03-1906). Kota Medan dibentuk pada tahun 1909,
wali kota (burgemeester) diangkat sebagai pemimpin kota. Justru yang lebih dulu
diangkat anggota dewan kota (gemeeteraad). Dalam hubungan ini sejumlah individu
diangkat sebagai anggota dewan kota (gemeenteraad) baik dengan cara penunjukan
maupun ‘pemilihan’. Anggota dewan (pada nantinya) akan mengawasi kerja walikota
dan berlangsungnya pemerintahan. Dewan kota juga akan menetapkan peraturan dan
perundang-undangan yang berlaku bagi kota.
di Soerabaja, peran wali kota dilakukan oleh Asisten Residen. Hal serupa ini
juga yang terjadi di kota-kota lain. Kota Bandung menjadi gemeente tahun 1906
sementara wali kota definitif baru diangkat pada tahun 1817. Demikian juga di
Kota Medan yang menjadi gemeente tahun 1909 baru memiliki wali kota definitif
pada tahun 1918.
pada akhir tahun 1915. Tiga kota bakal diangkat Burgemeester yakni Batavia,
Semarang dan Soerabaja. Dalam hubungan ini muncul kandidat J. de Groot, pejabat
senior untuk reorganisasi sektor administrasi, A. Mejjroos, wakil penasihat
desentralisasi dan LJ Schippers, Asisten Residen polisi di Surabaya (lihat De
Preanger-bode, 18-01-1916). Wakil penasihat desentralisasi, A. Meyroos muncul
sebagai kandidat Wali Kota Batavia (Algemeen Handelsblad, 07-02-1916). Kandidat
yang muncul diantara anggota dewan kota Surabaya adalah Mr. Schriecke (lihat Het
nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 12-02-1916). Juga muncul nama WA
van Zijst-6, Wethouder Utrecht (Algemeen Handelsblad, 08-03-1916).
dua tahunan sebesar f 100 sehingga akan menerima gaji maksimum f1400 perbulan.
Juga disediakan sebesar sewa rumah paling tinggi f250 per bulan dan uang saku
yang sama. Disamping itu juga ada kompensasi lainnya (Algemeen Handelsblad, 08-03-1916).
![]() |
| Daftar Burgemeester (Wali Kota) Kota Soerabaja 1916-1950 |
Proses pembentukan burgeemeester yang pertama
di Hindia Belanda ini ternyata butuh waktu. Namun demikian muncul dari pusat
bahwa ada tiga kandidat wali kota untuk tiga kota: Batavia, Semarang dan
Soerabaja. Mereka itu adalah burgemeester di Dirksland, Melissant dan Herkingen
di Belanda (De Tijd: godsdienstig-staatkundig dagblad, 06-05-1916). Proses
penentuan dan pengangkatan Burgemeester di kota tersebut akhirnya berujung.
Tiga wali kota pertama Indonesia (baca: Nederlandsch Indie) diputuskan yakni sebagai
walikota Batavia Mr. Bisschop, untuk Semarang D. de Jong dan untuk Soerabaja Mr.A.
Medjroos (De Sumatra post, 20-07-1916).
pada bulan Juni 1874, mahasiswa Utrecht dipromosikan pada tahun 1897. Setelah
itu menjadi editor Rotterdamsch Courant, Het Vaderland dan the Neuwe Rotterdamsche
Courant. Lalu merantau ke Indonesia pada tahun 1911 dan menjadi ketua komisi di
Algemenee Secretaris dan menjadi deputi penasehat desentralisasi pada tahun
1912, yang fungsinya telah dilakukan oleh Tuan Meyroos sampai sekarang. Seorang
wali kota pertama Soerabaja adalah seorang jurnalis. M. Bisschop belajar di Leiden dan memperoleh gelar Ph.D
pada tahun 1895. Setelah berkaris sebagai sekretaris kota Schiedam dan
Vlissingen pada bulan Agustus 1906 diangkat sebagai sekretaris jenderal. Lalu
kemudian merantau ke Indonesia dan pernah menjadi anggota dewan kota Buitenzorg
dan menjadi ketua dewan. Pada tanggal 13 November 1909 diangkat sebagai
sekretaris Financien. De Jong lahir pada bulan Juni 1882. Diploma Delflsche diperoleh
pada tahun 1904 dan menetap di Semarang pada tahun 1906 (De Sumatra post, 08-08-1916).
Meijroos tahun 1916 nama-nama wali kota berikutnya adalah GJ Dijkerman, HI
Bussemaker, GH ter Poorten, WH van Helsdingen dan yang terakhir WAH. Fuchter yang
dipilih dan diangkat tahun1942 menjelang berakhirnmya era kolonial Belanda dan
terjadinya pendudukan (militer) Jepang.
Guberneur
memeiliki Burgemeester definitif (1916) lalu dibentuk Province Oost Java tahun
1926. Siapa yang akan menjadi Gubernur sudah muncul rumor yang mengarah kepada
Resident Soerabaja, Hardeman (lihat De Telegraaf, 05-03-1926). Kabar Hardeman, Residen
van Soerabaja menjadi Gubernur Oost Java dan van Gulik, Residen Semarang
menjadi Gubernur Midden Java semakin menguat (Het nieuws van den dag voor
Nederlandsch-Indie, 24-12-1927). Provinsi Oost Java sendiri baru resmi diberlakukan
pada tanggal 1 Januari 1929 (De Indische courant, 17-03-1928). Akhirnya pada bulan
Mei 1928 W. Ch. Hardeman diangkat menjadi gubernur terhitung sejak 1 Juli
(lihat Provinciale Noordbrabantsche en ‘s Hertogenbossche courant, 12-05-1928).
![]() |
| Soerabaijasch handelsblad, 03-01-1929 |
Pengangkatan W. Ch. Hardeman sebagai Gubernur Oost Java bersamaan dengan
pengangkatan gubernur di semua provinsi di Jawa yang terhitung sejak 1 Juli
telah diangkat menjadi gubernur Jawa Timur Mr. W. Ch. Hardeman, saat ini
Residen van Surabaya, sebagai gubernur Jawa Tengah, Mr. PJ v. Gulik, saat ini
Residen van Semarang, sebagai gubernur Surakarta, Mr. MB. v. D. Jagt, saat ini
Residen van Soerakarta dan Gubernur Djokjokarta
adalah Mr. JE Jasper, Residen Djokjokarta (lihat Provinciale
Noordbrabantsche en ‘s Hertogenbossche courant, 12-05-1928). Beslit Gubernur
Hardeman (berserta gubernur lainnya) diumumkan (Haagsche courant, 18-06-1928).
Dengan demikian segala persiapan dalam pembentukan Provinsi Oost Java sudah
mulai mengurucut dengan pengangkatan W. Ch. Hardeman sebagai Gubernur Oost Java. Tentu saja
seterhitung sejak 1 Juli 1928 gubernur baru ini sudah mulai bekerja hingga pada
akhirnya provinsi Oost Java secara resmi dimulai tanggal 1 Januari 1929.
Resepsi dilakukan di Soerabaya pada tanggal 6 Juli (De Indische courant,
07-07-1928). Tugas pertama gubernur adalah melakukan kunjungan pekernalan ke
berbagai daerah sebelum tanggal 1 Januari 1929. Pengumuman berdirinya Provimsi
Jawa Timur diiklankan (lihat Soerabaijasch handelsblad, 03-01-1929). Dalam
iklan disebutkan kantor sekretariat provinsi berada di sebelah Kantor Residen
Kantor Gubernur.
![]() |
| W. Ch. Hardeman (1931) |
Willem Charles Hardeman adalah Gubernur
pertama Provinsi Oost Java. W Ch Hardeman adalah contoh orang Indo (lahir di
Soerabaja) yang memiliki karir di bidang pemerintahan yang sukses yang dimulai
dari level yang paling rendah, Controleur. Hardeman mengawali karir sebagai
controleur di Soerabaja dan Resident van Soerabaja (yang berkedudukan di
Soerabaja).
controleur di onderafdeeling Angkola, Residen Tapanoeli berkedudukan di Padang
Sidempoean. Kemudian Asisten Residen Afdeeling Mabndailing dan Angkola. Lalu
kemudian dipromosikan menjadi Sekretaris Gubernur Province Sumatra’s Westkust. Provinsi
Sumatra’s Westkust sendiri telah memiliki gubernur tahun 1837 yakni AV
Mischiels. Pada tahun 1905 Residentie Tapanoeli dipisahkan dari Province
Sumatra’s Westkust. Tahun 1907 Province Sumatra Westkust dilikuidasi dan
diturunkan menjadi Residenti. Pada tahun 1915 Resdientie Oost Sumatra
beribukota di Medan dibentuk sebagai provinsi, Province Oost Sumatra.
![]() |
| Daftar Gubernur Jawa Timur, 1928-1942 |
Willem Charles Hardeman digantikan oleh CH de
Man pada tahun 1931 (Limburgsch dagblad, 17-04-1931). CH de Man kemudian
digantikan oleh Ch. O van der Plas (De Sumatra post, 01-07-1936). Ch. O van der
Plas digantikan oleh HC Hartevelt (Soerabaijasch handelsblad, 10-07-1941).
diangkat menjadi Gubernur Midden Java (Het Vaderland : staat- en letterkundig
nieuwsblad, 18-12-1939).
adalah HC Hartevelt, Resident Residentie Soerabaja terakhir adalah C Ch J
Maassen dan Burgemeester Gemeente Soerabaja yang terakhir adalah WAH. Fuchter. Mereka
ini semua harus berakhir pada awal tahun 1942 karena adanya invasi Jepang ke
Indonesia.
kepemimpinan di Kota Surabaya, pemerintah militer Jepang mencari pemimpin
lokal. Pemimpin lokal yang memiliki portofolio tertinggi adalah Dr. Radjamin
Nasution.
Fuchter sebelumnya. Dr. Radjamin adalah anggota dewan senior (wethouder) Kota
Surabaya sedangkan WAH. Fuchter adalah Wali Kota Surabaya yang baru diangkat. .
![]() |
| Dr. Radjamin Nasution (ft 1941) |
Dr.
Radjamin Nasution memulai karir di Surabaya pada tahun 1931 sebagai kepala
pabean/bea cukai. Dr. Radjamin adalah teman sekelas Dr. Soetomo sewaktu studi
di STOVIA di Batavia. Gebrakan pertama Radjamin ketika hari pertama duduk di
dewan adalah mengajukan proposal yang pro rakyat. Ini sangat jarang terjadi,
ketika di era itu, seseorang yang sudah berkedudukan tinggi dan berkecukupan
justru bergelora mengangkat harkat rakyat. Pada masa itu, kekuasaan Belanda
penuh ketidakadilan dimana-mana, termasuk di Surabaya. Di Surabaya, Radjamin
Nasoetion termasuk diantara pribumi yang berpendidikan. Naluri dan jalan
pikirannya bangkit. Apalagi ia menyadari kini, tinggal dan berkeluarga di
tempat kelahiran sobatnya, Dr. Soetomo. Radjamin mulai menyingsingkan lengan
baju, memulai babak baru bertarung dengan kaum Belanda di parlemen Kota
Surabaya. Karir Radjamin di parlemen makin menguat hingga terpilih menjadi
wakil Jawa Timur mewakili Kota Surabaya ke parlemen pusat (Volksraad) dari
Partai Parindra tahun 1938. Posisi Radjamin menjadi ‘double gardan’, di satu
tangan anggota senior (wethouder) dewan kota Surabaya, dan di tangan lain
sebagai anggota Volksraad. Pada masa itulah Radjamin memperkenalkan gaya
blusukan. Dari kampong ke kampong melihat rakyatnya dan menampung aspirasi
rakyatnya. Dalam hal tertentu, Radjamin tidak segan-segan menegor dan
menggertak walikota Fuchter yang bangsa Belanda, jika pembangunan yang
dijalankan jauh menyimpang dari kebutuhan rakyat. Figur Radjamin galak terhadap
Belanda, sebaliknya santun terhadap rakyatnya. Karakter yang lengkap ini juga
disukai pasukan Jepang, ketika datang pertamakali ke Surabaya. Militer Jepang
lalu mengangkatnya sebagai walikota, menggantikan kedudukan Fuchter yang saat
ini sibuk mengurusi soal deportasi bangsa Eropa dari Surabaya.
![]() |
| Burgemeester Soerabaja |
Pada awal pendudukan Jepang, pemerintah militer Jepang
mengangkat Dr. Radjamin Nasution sebagai Wali Kota Surabaya. Sementara WAH.
Fuchter masih tetap aktif untuk mengurusi orang-orang Eropa/Belanda yang berada
di Surabaya. Ini seakan ada dua fungsi wali kota di Surabaya namun berbeda
nasib. Dr. Radjamin Nasution menjadi wali kota baru, sedangkan WAH. Fuchter
menjadi wali kota yang telah dilengserkan tetapi masih bertanggungjawab untuk
urusan Eropa dan Belanda.
Radjamin Nasution
meski menjadi wakil wali kota tetapi gerak-geriknya dibatasi. Namun demikian,
Radjamin tidak kurang akal untuk tetap dekat dengan warga di Soerabaja.
Radjamin melakukan dengan dalih olah raga. Sebab Radjamin adalah gibol, mantan
kapten tim Docter Djawa Club di Batavia dulu.
pribumi. Radjamin menganggap Belanda dan Jepang sama saja—sama-sama bangsa
asing yang ingin mengendalikan rakyat pribumi. Radjamin tidak bisa dikendalikan
bangsa asing. Jepang yang lebih agresif dari Belanda, justru membuat rakyat
lebih sengsara. Jepang lebih menginginkan komunikasi satu arah dengan rakyat
dan tidak suka gaya blusukan ala Radjamin terjadi. Tapi Radjamin mengikuti
nalurinya sendiri, di luar area balai kota, Radjamin tetap blusukan mengunjungi
rakyatnya. Radjamin konsisten dalam urusan rakyat.
![]() |
| Daftar Burgemeester (Wali Kota) Kota Soerabaja 1916-1950 |
Ketika Jepang takluk atas sekutu, pimpinan
republik di Jakarta mengangkatnya menjadi walikota. Konon, pengangkatan
Radjamin yang menjadi walikota incumbent itu atas penilaian Ir. Soekorno
sendiri. Soekarno adalah putra daerah Surabaya (lahir dan dibesarkan di
Surabaya). Ini berarti, Radjamin tidak memerlukan rekomendasi Amir Sjarifoeddin
Harahap dan M. Hatta untuk menunjuk Radjamin, karena Soekarno sendiri telah
merekomendasikan.
negara Republik Indonesia. Amir Sjarifoeddin (Harahap) adalah adik sekampung
halaman Radjamin Nasoetion di Afdeeling Mandheling en Ankola (kini Tapanuli
Selatan).
republic di Surabaya, Radjamin sudah menghadapi perang kembali. Radjamin benci
Jepang, juga Radjamin benci Belanda yang membonceng ikut ke Surabaya. Saat
pertempuran pasukan/laskar republik dengan pihak sekutu/Belanda, Radjamin dan
semua pejabat-pejabatnya mengungsi ke luar kota.
anak-anak republik. Radjamin yang setia terhadap pejabat dan karyawannya dan
tentu rakyatnya bekerja keras di pengungsian. Radjamin yang seorang dokter
mengambil posisi Kepala Dinas Kesehatan Surabaya dan mengkoordinasikan save and
rescue terhadap pejuang-pejuang yang terluka dari medan perang. Radjamin juga
berinisiatif mengumpulkan pakaian bekas untuk bahan pakaian para pejuang di
Surabaya. Radjamin mondar-mandir antara markas pemerintahan Kota Surabaya di
pengungsian (Mojokerto dan Tulungagung) dan front pertempuran di Kota Surabaya.
Radjamin yang bertindak sebagai walikota di pengungsian dan belum pernah
dipecat, tak dinyana haknya diambilalih alias dirampas. Soal ini sempat
berlarut-larut dan tidak jelas ujung pangkalnya.
itu. Radjamin lebih memilih berjuang kembali lewat parlemen untuk bisa tetap
dekat dengan rakyatnya. Dul Arnowo yang ditunjuk menjadi walikota, Radjamin
sendiri menolak diajukan menjadi ketua dewan (DPRD). Radjamin memilih lebih
fokus pada proposalnya yang pro rakyat. Kepemimpinan Dul Arnowo sangat lemah,
di dewan mendapat kritikan bertubi-tubi sampai menjadi mosi tidak percaya. Dul
Arnowo akhirnya lengser sebagai walikota, sedangkan karir Radjamin Nasution
semakin melejit hingga menjadi anggota dewan di Perlemen Pusat di Jakarta. Ini
untuk kedua kali Radjamin Nasution wakil rakyat di pusat, sebelumnya di era
Belanda tahun 1938) .
Belanda
terdapat 53 dewan, termasuk
gemeenteraad Soerabaja. Uniknya, hanya satu dewan yang berada di level onder-afdeeling
(kecamatan), yakni Angkola en Sipirok (kini Padang Sidempuan). Sementara di
level afdeeling juga hanya terdapat satu yakni di Minahasa (lihat Tabel-1).
Selebihnya terbagi ke dalam sejumlah kota (gemeente) dan sejumlah kabupaten
(afdeeling atau regentschap).
Jumlah anggota dewan pribumi/timur asing (non-Eropa) di Hindia Belanda | |||
No |
Nama Daerah |
Bentuk administrasi |
Jumlah anggota dewan pribumi
(non-Eropa) |
Angkola en Sipirok
( afd. Padang Sidempoean) |
Onder-afdeeling |
23 | |
Bandjermasin |
Gemeente |
12 | |
Bandoeng |
Gemeente |
13 | |
Bantam (Banten) |
Gewest |
12 | |
Banjoemas |
Gewest |
13 | |
Basoeki |
Gewest |
15 | |
Batavia |
Gemeente |
17 | |
Batavia |
Gewest |
22 | |
Bindjei |
Gemeente |
6 | |
Blitar |
Gemeente |
9 | |
Buitenzorg (Bogor) |
Gemeente |
14 | |
Cheribon (Cirebon) |
Gemeente |
7 | |
Cheribon (Cirebon) |
Gewest |
16 | |
Fort de Kock (Bukittinggi) |
Gemeente |
7 | |
Kediri |
Gemeente |
9 | |
Kediri |
Gewest |
19 | |
Kedoe |
Gewest |
26 | |
Komering Ilir |
Gewest |
17 | |
Lematang Ilir |
Gewest |
17 | |
Madioen |
Gemeente |
11 | |
Madioen |
Gewest |
13 | |
Madura |
Gewest |
12 | |
Magelang |
Gemeente |
11 | |
Makasser |
Gemeente |
12 | |
Malang |
Gemeente |
12 | |
Medan |
Gemeente |
10 | |
Menado |
Gemeente |
9 | |
Minahasa |
Afdeeling |
37 | |
Mr. Cornelis (Jatinegara) |
Gemeente |
12 | |
Modjokerto |
Gemeente |
8 | |
Ogan Ilir |
Gewest |
23 | |
Oostkust Sumatra
(Sumtra Timur) |
Gewest |
21 | |
Padang |
Gemeente |
15 | |
Padang Pandjang |
Gewest |
20 | |
Palembang |
Gemeente |
12 | |
Pasoeroean |
Gemeente |
9 | |
Pasoeroean |
Gewest |
25 | |
Pekalongan |
Gemeente |
12 | |
Pekalongan |
Gewest |
11 | |
Pematang Siantar |
Gemeente |
8 | |
Preanger Regentschappen |
Gewest |
28 | |
Probolinggo |
Gemeente |
12 | |
Rembang |
Gewest |
16 | |
Salatiga |
Gemeente |
8 | |
Sawah Loento |
Gemeente |
5 | |
Semarang |
Gemeente |
16 | |
Semarang |
Gewest |
27 | |
Soekaboemi |
Gemeente |
10 | |
Soerabaja |
Gemeente |
19 | |
Soerabaja |
Gewest |
24 | |
Tandjong Balei |
Gemeente |
6 | |
Tebing Tinggi |
Gemeente |
9 | |
Tegal |
Gemeente |
10 | |
Total |
767 | ||
Catatan:
-Koefisien Pemilu adalah 50
-Gemeente=kota
-Gewest=Terdiri dari beberapa afdeeling
-Afdeeling=Terdiri dari beberapa onder-afdeeling
Sumber: De Preanger-bode, 01-02-1921 | |||
terdapat di onder-afdeeling Angkola en Sipirok. Jumlah kursi di dewan di
onder-afdeeling Angkola en Sipirok sebanyak 23 kursi. Sementara di Province
Sumatra’s Oostkust (Sumatra Timur) terdapat dewan di lima kota (gemeente): Kota
Medan (10 kursi), Kota Tandjong Balai (6 kursi), Kota Pematang Siantar (8
kursi), Kota Bindjei (6 kursi), Kota Tebingtinggi (9 kursi). Selain itu masih
terdapat satu kabupaten (geweest) yang memiliki dewan dengan jumlah kursi untuk
pribumi/timur asing sebanyak 21 orang (lebih sedikit dibandingkan dengan
onder-afdeeling Angkola en Sipirok).
Onder-afdeeling Angkola en Sipirok antara lain dapat dilihat pada Bataviaasch
nieuwsblad, 20-08-1926. Mereka ini adalah anggota dewan pengganti:
‘Gewestelijke en Plaatselijke Baden. Pada tanggal 17 Agustus 1926 diangkat
menjadi anggota plaatselijken raad di ondcrafdeeling Angkola en Sipirok:
golongan Belanda, G.H. van Nie1, adm. der onderneming Simarpinggan dan S.
Radersma, adm. der onderneming Sigalagala; golongan penduduk lokal, Ma’moer Al
Rasjid (Nasoetion), dokter di Padang Sidempoean, Peter Tamboenan,
zendelingleeraar di Sipirok, Mangaradja Goenoeng, pedagang di Padang
Sidimpoean, MJ Soetan Naga, pedagang di Batang Toroe; Dja Saridin, pedagang di
Batang Toroe, Soetan Josia Diapari,
pedagang di Padang Sidempoean, Mangaradja Dori, pedagang di Padang Sidimpoean,
Dja Oloan, pedagang di Padang Sidempoean dan Hadji Mohamad Thaib, pedagang di
Padang Sidcmpoean; golongan timur asing, Kim Hong Boh, pedagang di Padang
Sidempoean’.:
anda bertanya-tanya, mengapa di onder-afdeeling Angkola en Sipirok, sebuah
kecamatan pula justru terdapat dewan. Jawabnya adalah bahwa di onder-afdeeling
Angkola en Sipirok terdapat ibukota afdeeling Padang Sidempuan yakni Padang
Sidempuan. Selain itu, di onder-afdeeling (kecamatan) Angkola en Sipirok
terdapat belasan perusahaan perkebunan (maschappij) seperti halnya di Sumatra
Timur. Pertimbangan lainnya, Padang Sidempoean adalah kota tua (didirikan tahun
1844) dan sejak 1870 menjadi ibukota afdeeling Mandailing en Angkola (menjadi
afdeeling Padang Sidempuan sejak 1905). Kota Padang Sidempuan sendiri sejak
tahun 1870 sudah memiliki fasilitas lengkap: sekolah Eropa (ELS), sekolah guru
pribumi (kweekschool) dan tiga sekolah dasar negeri (pribumi),
pada tahun 1870 masih terbilang sebuah kampong. Sedangkan Padang Sidempuan
sudah menjadi kota besar. Onder-afdeeling Medan baru dibentuk tahun 1875 dengan
menempatkan seorang controleur di Medan. Sedangkan di Padang Sidempuan sejak
1870 sudah menjadi ibukota afdeeling Mandailing en Angkola tempat dimana
asisten residen berkedudukan. Sejak dibukanya sekolah guru (kweekschool) Padang
Sidempuan tahun 1879, perkembangan kota berlangsung cepat. Alumni Kweekschool
menyebar dan menjadi guru di Tapanoeli en Nias, Sumatra Timur, Riau dan Atjeh.
Ketika Kweekschool Padang Sidempuan melakukan wisuda guru pertama tahun 1883,
belum ada sekolah dasar di Medan.
sekolah dasar Padang Sidempuan banyak yang berkiprah sebagai angggota dewan di
berbagai tempat di Hindia Belanda, tidak hanya di Dewan Angkola en Sipirok di
Padang Sidempoean, tetapi juga di Kota Medan, Kota Tandjong Balai, Kota
Pematang Siantar, Kota Bindjei, Kota Tebingtinggi. Juga di Kota Padang dan Kota
Soerabaja. Kota Padang Sidempuan tidak pernah naik statusnya menjadi gemeente
di era Hindia Belanda tetapi tiga alumninya menjadi walikota pribumi pertama di
tiga kota berbeda: Kota Medan (Mr. Loeat Siregar), Kota Padang (Dr. Abdoel
Hakim Nasoetion) dan Kota Surabaya (Dr. Radjamin Nasoetion).
utama yang digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman,
foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding),
karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari
sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber
disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja.

, Terimakasih telah mengunjungi Dului.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.





















