Pada
tahu-tahun terakhir ini terjadi pemberontakan penduduk Sasak terhadap kerajaan
Bali Selaparang di Lombok. Pelabuhan Pidjoe tentu saja menjadi penting bagi
penduduk Sasak karena menjadi pintu belakang setelah pelabuhan Ampenan yang
dikuasai oleh para pengeran Bali Selaparang telah tertutup bagi penduduk Sasak.
dagangan beras di pelabuhan Pidjoe menjadi drastis berkurang. Dalam hubungan
ini Pemerintah Hindia Belanda melakukan patroli di seputar pulau Lombok untuk
menangkal impor senjata apakah yang dibeli oleh kerajaan Bali Selaparang maupun
dibeli oleh pemimpin Sasak. Saat patroli kapal induk Hr Ms Java mampir di pelabuhan
Pidjoe (lihat Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor
Nederlandsch-Indie, 09-04-1892).
situasi perang ini, pelabuhan Pidjoe tetap berfungsi tetapi secara perdagangan
mengalami kontraksi. Perdagangan beras terbilang hilang, tetapi perdagangan
ternak masih berjalan dengan baik. Satu yang penting, situasi dan kondisi di
pedalaman Lombok terinformasikan ke Jawa (Batavia) melalui pelabuhan Pidjoe,
midalnya seperti yang diberitakan Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad
voor Nederlandsch-Indie, 22-06-1893: ‘Soerabaja, 22 Juni. Kapal uap GG Loudon,
yang tiba di sini dari Pidjoe di Lombok, melaporkan bahwa pasukan pangeran
Lombok (kerajaan Bali Selaparang) menyerang orang Sasak pada 16 Juni yang
menyerang mereka kembali dengan hilangnya 300 orang, sedangkan orang Bali
Selaparang yang dipersenjatai dengan
senjata hanya 5 tewas dan 20 terluka. Pada tanggal 23 Juni, orang Sasak akan
menyerang pasukan pangeran lagi. Karena kerusuhan ini disebut sapi dan kuda
bisa dibeli di Lombok seharga f10 dan f12’.
melakukan intervensi ke Lombok untuk menyelamatkan penduduk Sasak yang terus
tertekan oleh pasukan Bali Selaparang. Kerajaan Bali Selaparang dapat
ditaklukkan. Berakhir sudah kekejaman para pangeran Bali Selaparang di pulau
Lombok. Penduduk Sasak lega dan kembali bangkit untuk memakmurkan pulau dan
penduduk Sasak yang sudah sejak lama dilanda kemiskinan dan kelaparan. Lalu
Pemerintah Hindia Belanda membentuk cabang pemerintahan di Lombok yag dibagi ke
dalam tiga onderafdeeeling: West Lombok ibu kota di Mataram, Oost Lombok
ibukota di Sisik (kemudian dipindahkan ke Selong) dan Midden Lombok ibu kota di
Praja.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Kapal-kapal yang datang sudah disinggahi oleh kapal-kapal reguler sejak 1893
tetap berlangsung hingga dimulainya cabang Pemerintah Hindia Belanda di Lombok.
Kehadiran Pemerintah Hindia Belanda di Lombok yang terasa telah turut membuka
isolasi pelabuhan Pidjoe dari daratan dengan dibukanya jalur jalan darat dari
Sakra (selama ini hanya melalui jalur laut ke Laboehan Hadji). Dalam
perkembangannya juga dibuka jalur darat ke Praja. Kehadiran Pemerintah Hindia
Belanda juga telah memperkuat posisi pelabuhan Pidjoe sebagai salah satu dari
tiga pelabuhan penting di pulau Lombok, Indikasi ini dapat dilihat pada berita-berita
terkini,
![]() |
| Peta 1895 |
Dalam
suatu iklan pada surat kabar Soerabaijasch handelsblad. 27-08-1894 disebutkan kapal
dari Soerabaja melakukan pelayaran ke Boeleleng, Ampenan, Laboehan Hadji,
Pijoe, Makassar dan Amboina. Soerabaijasch handelsblad, 18-04-1895 kapal dari
Soerabaja melakukan pelayaran ke Soemenep. Panaroekan, Banjoewangi, Boeleleng,
Ampenan, Soembawa, Tambora, Bima, Pidjoe dan Laboehan Hadji.
juga terbentuk kantong-kantong produksi baru sehubungan dengan pembangunan
pertanian yang dilakukan oleh pemerintah. Hal ini karena pola pemerintah lokal
yang dibentuk mengikuti sebaran-konsentrasi populasi. Onderafdeeeling Oost
Lombok dibagi ke dalam empat ibu kota pemerintahan lokal yang masing-masing dipimpin
oleh seorang kepala distrik. Distrik-distrik yang dibentuk di Onderafdeeeling
Oost Lombok adalah Priggabaya, Sakra, Masbagik dan Rarang. Sehubungan dengan
itu pelabuhan kuno (Laboehan Lombok) mulai digiatkan (di distrik Priggabaja).
Pelabuhan Pidjoe termasuk wilayah district Sakra.
![]() |
| Het nieuws van den dag voor N-Indie, 09-01-1907 |
Untuk
meningkatkan kapasitas pelabuhan Pidjoe, Residen Bali en Lombok, Asisten
Residen Lombok dan Controleur Oost
Lombok pelabuhan Pidjoe yang berada di teluk dipindahkan ke bagian luar pada
garis pantai yang disebut Tandjoeng Loear. Pelabuhan baru ini dibangun dengan
membuat dermaga dari kayu untuk memudahkan kapal-kapal yang besar merapat. Het
nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 09-01-1907
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

, Terimakasih telah mengunjungi Dului.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.












