Sejarah

Sejarah Malang (54): Perang Kemerdekaan di Malang; Walikota Soerabaja Radjamin Nasoetion, Pegawai Mengungsi ke Malang


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Malang dalam blog ini Klik Disini

Perang kemerdekaan adalah perang yang
dilancarkan untuk menghalangi dan mengusir pihak asing untuk mempertahankan
kemerdekaan bangsa Indonesia. Namun dalam perkembangannya hanya sebagai rakyat
Indonesia yang benar-benar tetap ingin mempertahankan kemerdekaan. Sebagian
masyarakat Indonesia sebaliknya justru menerima/mendukung kehadiran asing,
termasuk orang Belanda untuk kembali. Hal itu juga termasuk di wilayah Malang.
Para republiken di Soerabaja harus menmgungsi ke pedalaman termasuk ke wilayah
Malang.


Revolusi
fisik di kota Malang tahun 1945-1949. Skripsi Helmi Wicaksono. Abstract. Kota
Malang tempat penting yang baik bagi orang Eropa Timur Asing dan Orang
Indonesia sendiri. Kota Malang pernah menjadi ibukota Propinsi Jawa Timur pada
bulan Februari 1947 sampai bulan Juli 1947. Perpindahan Ibukota Propinsi Jawa
Timur ke Kota Malang menjadikan Kota Malang sebagai tempat penampungan bagi
warga korban perang dari daerah Surabaya dan daerah lain yang dikuasai Belanda.
Agresi Militer Belanda pertama pada tanggal 31 Juli 1947 membuat Kota Malang
sudah tidak aman lagi sebagai Ibukota Propinsi Jawa Timur. Langkah yang
dilakukan oleh penduduk Kota Malang dalam mengantisipasi kedatangan Belanda ke
Kota Malang adalah dengan bumi hangus bangunan yang dianggap penting. Keadaan
Kota Malang setelah Agresi Militer Belanda I sampai tahun 1949 belum banyak
yang menulisnya. Hasil dari penelitian ini antara lain Belanda menyerang Kota
Malang dari arah Lawang Singasari hingga masuk daerah Blimbing. Kota Malang
diduduki Belanda pada tanggal 31 Juli 1947. Penduduk Kota Malang ikut
mengadakan perlawanan selama bulan Januari 1949 sampai bulan Maret 1949
(http://repository.um.ac.id/91437/)

Lantas bagaimana sejarah perang kemerdekaan di
wilayah Malang? Seperti disebut di atas diantara penduduk Indonesia ada yang
tetap ingin mempertahankan kemerdekaan tetapi juga ada yang menerima dan
bekerjasama dengan asing terutama orang-orang Belanda yang jelas mengabaikan
kemerdekaan Indonesia. Situasi dan kondisi ini juga terjadi di wilayah Malang. Walikota
Soerabaja Radjamin Nasoetion dan para pegawainya yang republiken harus mengungsi
ke pedalaman termasuk di wilayah Malang. Lalu bagaimana sejarah perang kemerdekaan
di wilayah Malang? Seperti kata ahli
sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah
nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.

Perang Kemerdekaan di Wilayah Malang; Walikota Soerabaja
Radjamin Nasoetion dan Pegawai Mengungsi ke Pedalaman

Pasukan
Sekutu/Inggris merapat pertama kali di pelabuhan Tandjong Priok tanggal 29
September 1945. Pada tanggal 15 Oktober 1945 pasukan Sekutu/Inggris menduduki
Buitenzorg. Pada tanggal 16 Oktober 1945 pasukan Belanda/NICA mengambil kendali
di lapangan terbang Tjililitan yang lalu diikuti pertempuran antara pasukan
Belanda/NICA dengan kelompok nasionalis di sekitar lapangan terbang Tjililitan
tanggal 17 Oktober 1945. Pada tanggal 18 Oktober 1945 pasukan Sekutu/Inggris
memasuki Bandoeng.


Atas nama Presiden, Mr Amir Sjarifoeddin Harahap dalam posisi kosongnya portofolio
Menteri Pertahanan, berangkat ke Jogjakarta untuk menemui eks KNIL Oerip
Soemohardjo dalam pembentukan akademi militer Indonesia. Tanggal inilah yang
kemudian dijadikan sebagai hari lahir TNI 5 Oktober 1945. Ada sebanyak 17
pemuda terpelajar Indonesia yang direkrut untuk menjadi tulang punggung tentara
Indonesia di dalam berbagai bidang keahlian. Mereka itu antara lain Dr Arie
Soedewo, Mr Kasman, Ir Mangaradja Onggang Parlindoengan Siregar, Mr Arifin Harahap,
Dr Ibnoe Soetowo, Dr W Hoetagaloeng dan Dr Irsan Radjamin Nasoetion. Setelah
lulus kadet ini diangkat dengan pangkat Overste (Letnan Kolonel).

Dalam perkembangannya, pasukan Sekutu/Inggris
mendarat pertama kali di Semarang pada
tanggal 20 Oktober 1945. Lalu tidak lama kemudian pasukan Sekutu.Inggris mendarat
pertama kali di tanggal 25 Oktober 1945 di Soerabaja.
Sementara itu lascar-laskar telah membentuk
kesatuan-kesatuan di berbagai tempat seperti di Batavia (Zainoel Arifin Pohan/Hisbullah
dan Moein/eks PETA), Bandoeng (Abdoel Haris Nasoetion), dan Poerwokerto
(Soedirman).


Apa yang terjadi di wilayah Malang sejak proklamasi kemerdekaan Indonesia
tanggal 17 Agustus 1945 hingga tanggal 25 Oktober 1945 tidak terinformasikan.
Wilayah Malang seakan terisolasi sendiri. Tentu saja ada hal tertentu yang
menjadi kota Malang menjadi penting pada fase ini. Presiden Soekarno yang sudah
memplot Mr Amir Sjarifoeddin Harahap sebagai Menteri Penerangan tidak kunjungan
diumumkan. Mengapa? Mr Amir Sjarifoeddin Harahap masih berada di bawah kendali
militer Jepang, meringkuk di penjara militer Jepang di Malang. Setelah adanya
negosiasi antara Presiden Soekarno dengan petinggi militer Jepang di Batavia, Mr
Amir Sjarifoeddin Harahap berhasil dibebaskan (lihat Het parool, 04-10-1945).
Disebutkan segera setelah dibebaskan dari penjara Jepang di Malang, melalui
Soerabaja pada malam hari Mr Amir Sjarifoeddin Harahap menuju Djokja (menemui eks
KNIL Majoor Oerip Soemohardjo lalu kemudian tiba di Bandoeng (disambut eks KNIL
Letnan Abdoel Haris Nasoetion). Dari Bandoeng Mr Amir Sjarifoeddin Harahap
dengan mudah mencapai Djakarta dan bertemu dengan Presiden Soekarno daan
kemudian diumumkan cabinet Presiden Soekarno dimana Mr Amir Sarifoeddin Harahap
sebagai Menteri Penerangan (lihat Keesings historisch archief: 14-10-1945).
Catatan: Mr Amir Sjarifoeddin Harahap dan Ir Soekarno tidak pernah bertemu
sejak 1934 dimana pada tanggal 14 Januari 1934 Ir Soekarno diasingkan ke Flores
lalu dipindahkan tahun 1938 ke Bengkoeloe. Pada saat pengasingan Ir Soekarno
tahun 1934, Amir Sjarifoeddin Harahap yang masih mahasiswa di Rechthoogeschool
adalah wakil ketua Partai Indonesia (Partindo) yang juga merangkap ketua
Partindo afdeeling Batavia. Ir. Soekarno adalah anggota Partindo afdeeling
Batavia. Ketua Partindo sendiri adalah Mr Sartono. 

Keterangan Foto dari Keesings historisch archief: 14-10-1945: Sesaat
setelah pengumuman cabinet Presiden Soekarno dilakukan foto Bersama. Tampak depan
nomor dua dari kiri Mr Amir Sjarifoeddin Harahap satu-satunya diantara anggota cabinet
yang berseragan tantara (celana pendek dengan kaos kaki panjang/stocking. Ini
mengindikasikan Mr Amir Sjarifoeddin Harahap selain menjabat Menteri Penerangan
juga merangkap Menteri Keamanan Rakyat.

Kehadiran Sekutu/Inggris di Soerabaja langsung
mendapat reaksi setelah mengetahu proklamasi perang (kemerdekaan) dari Bandoeng.
Arek-arek Malang sudah mengalir ke Soerabaja (sebagaimana sebelumnya para
pemuda dari Depok dan Bogor merangsek ke Batavia/Djakarta untuk memperkuat para
pejuang-pejuang yang sudah ada). Lalu pada tanggal 28 Oktober hingga 31 Oktober
1945 terjadi pertempuran yang hebat di Surabaya. Dalam situasi tersebut komandan
tertinggi Sekutu/Inggris di Batavia/Djakarta mengundang para pemimpin Indonesia
Ir Soekarno, Drs Mohammed Hatta, Mr Soebardjo, Mr Amir Sjarifoeddin dan Agous
Salim mendiskusikannya di rumah Generaal Christison (lihat De West: nieuwsblad
uit en voor Suriname, 02-11-1945). Namun beberapa hari kemudian, ketika
terdesak, tentara Sekutu/Inggris mengusulkan perdamaian. Pemimpin Sekutu/Inggris
di Soerabaja meminta pemimpin Indonesia untuk mengadakan gencatan senjata di
Surabaya. Lalu Soekarno dan Amir Sjarifoeddin Harahap bergegas ke Soerabaja.


Di wilayah Malang, orang Eropa/Belanda semuanya berada di dalam kamp
interniran yang berada di bawah kendali militer Jepang. Orang Eropa/Belanda
yang berada di luar sangat sedikit dan hanya bergerak di bidang misi, antara
lain O. Luinenburg sebagai administrator di rumah sakit misi di Modjowarno dan
Dr BM Schuurman, docent teologi di sekolah guru misionaris di Malang (lihat Nieuwe
Haagsche courant, 10-10-1945).

Tunggu deskripsi lengkapnya

Walikota Soerabaja Radjamin Nasoetion dan Pegawai
Mengungsi ke Pedalaman: Situasi dan Kondisi Wilayah Malang Masa Perang
Kemerdekaan

Para pemuda pendahulu tantara Indonesia (cikal bakal
TNI) setelah menyelesaikan Pendidikan di Akademi Militer Indonesia di
Jogjakarta yang dipimpin oleh Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo, ditempatkan di
berbagai tempat. Dr Ibnoe Soetowo ditempatkan di kilang minyak Indonesia di
Tjepoe (cikal bakal Pertamina); Mr Kasman diperbantukan kepada kepala staf di
Jogjakarta (cikal bakal organisasi TNI); Ir Mangaradja Onggang Parlindoengan
Siregar ditempatkan di pabrik senjata dan mesioe di Bandoeng (cikal bakal
PINDAD), Mr Arifin Harahap ditempatkan di Kementerian Penerangan dan Dr Irsan
Radjamin Nasoetion ditempatkan
di Soerabaja; Dr Ari Soedewo di
Bandoeng dan Willer Hoetagaloeng di Jogjakarta. Dalam hal ini Overste Dr Irsan
Radjamin Nasoetion adalah anak dari Wali Kota Soerabaja Radjamin Nasoetion.


Radjamin Nasoetion pernah satu kelas dengan Raden Soetomo di sekolah
kedokteran STOVIA di Batavia. Setelah di sejumlah tempat di Hindia Belanda, pada
tahun 1929 Radjamin Nasoetion ditempatkan di Soerabaja sebagai kepala bea dan
cukai bidang kesehatan di pelabuhan Tandjoeng Perak. Pada tahun 1930 Radjamin
Nasoetion turut berpartisipasi dengan Dr Soetomo dalam terbentuknya oragnisasi
kebangsaan Persatoean Bangsa Indonesia (PBI) di Soerabaja. Pada tahun 1931
Radjamin Nasoetion dari PBI terpilih sebagai anggota dewan kota (gemeenteraad).
Pada tahun 1938 Radjamin Nasoetion dari dapil Oost Java terpilih sebagai
anggota Volksraad (lihat De Indische Courant 30-09-1938). Radjamin Nasoetion terus
berkiprah di dewan hingga berakhirnya Pemerintah Hindia Belanda (sebelum
pendudukan Jepang). Radjamin sebagaimana diberitakan di koran Surabaya De
Indische Courant, 23-02-1941, menghadiri pemakaman sahabatnya Dr. Soetomo yang mana
disebutkan Radjiman Nasoetion berpidato dengan lembut dan hangat dalam upacara
pemberangkatan ke pemakaman. Detik-detik invasi Jepang ke Indonesia, Radjamin
Nasoetion di dewan kota diangkat sebagai wakil ketua (lihat De Indische Courant,
26-02-1942). Yang menjadi ketua dewan kota adalah Burgemeester. Ini dengan
sendiri di kota Surabaya sudah ada dua matahari: Burgemeester/Walikota Fuchter (Belanda)
dan Wethouder/Radjamin Nasoetion (Indonesia). Pada tanggal 8 Maret 1942
pemerintahan Belanda di Indonesia benar-benar takluk tanpa syarat kepada
pasukan Jepang. Pada hari itu juga kekuasaan Gemeente (Pemerintahan Kota)
Surabaya berpindah tangan kepada militer (pasukan tentara) Jepang. Lantas Dewan
Kota dibubarkan. Namun demikian, pada fase konsolidasi ini, pihak Jepang masih
memberi toleransi dua kepemimpinan di dalam kota. Walikota Fuchter masih
dianggap berfungsi untuk kepentingan komunitas orang-orang Eropa saja.
Sementara walikota di kubu Indonesia dibawah perlindungan militer Jepang
ditunjuk dan diangkat Radjamin Nasoetion. Jepang memilih Radjamin dibandingkan
yang lain karena Radjamin satu-satunya tokoh pribumi di Surabaya yang memiliki
portfolio paling tinggi. Pada tahap permulaan kehadiran Jepang di Soerabaja,
sebagai anggota dewan kota paling senior (wethouder) Radjamin Nasoetion diangkat
sebagai Wali Kota Soerabaja. Dalam koran Soerabaijasch handelsblad, 28-04-1942
terdapat sebuah maklumat dari Walikota Radjamin, bahwa akan diadakan sensus
untuk orang-orang Eropa antara tanggal 1 Mei hingga 10 Mei 1942. Wali Kota
Radjamin sebagaimana dilaporkan Soerabaijasch handelsblad 21-05-1942 bahwa
orang asing yang sudah terdata hingga 1 Mei baru sebanyak 9.875 orang, yang
terdiri dari Eropa. 2.401 laki-laki dan 4.426 perempuan, Cina, 1.566 laki-laki
dan 932 perempuan, dan asing lainnya. 383 laki-laki dan 160 perempuan.
Pendaftaran ini dimaksudkan untuk menghitung seberapa banyak orang asing yang
masih dianggap loyal. Singkat kata: pasca kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945
Pemerintah Republik Indonesia mengangkat Radjamin Nasoetion sebagai Wali Kota
Soerabaja. Dalam hal ini Dr Irsan Radjamin Nasoetion adalah arek Soerabaja.

Sejak pasukan Sekutu.Inggris mendarat pertama kali di Soerabaja tanggal 25 Oktober 1945 Wali Kota Radjamin dan sang
putra Dr Irsan Radjamin Nasoetion yang kembali dari Jogjakarta menjadi sangat
sibuk dan kemudian bahu membahu dalam mengantisipasi kemungkinan terjadi
perang. Wali Kota Radjamin mengkonsolidasikan pejabat dan para pegawai di
lingkungan Wali Kota Soerabaja dalam situasi dan kondisi perang dan Overste
(Letnan Kolonel) Dr Irsan Radjamin Nasoetion mengkonsolidasikan logistik dan mengkoordinasikan
fungsi kesehatan di belakang front untuk menangani warga dan para pejuang Indonesia
yang mengalami luka berat.


Rekannya Overste (Letnan Kolonel) Dr Irsan Radjamin Nasoetion yang
awalnya ditempatkan di pabrik senjata dan mesiu di Bandoeng, Overste Ir MO
Parlindoengan Siregar sudah berada di Soerabaja. Keahliannya sangat dibutuhkan
untuk menilai dan mengoperasikan bom-bom yang diperoleh dari gudang-gudang
senjata dan mesiu militer Jepang. Ir MO Parlindoengan Siregar adalah lulusan
insinyur Teknik kimia dari Jerman yang belum lama pulang ke tanah air.

Pertempuran di Soerabaja mencapai puncaknya pada tanggal 10 November. Tampaknya pasukan Sekutu/Inggris keliru memperkirakan semangat pribumi.
Selama ini petinggi militer Sekutu/Inggris hanya mendapat informasi dari
orang-orang Belanda, yang disebut lemah lembut, kurang terpelajar dan mudah
tunduk apalagi yang berkaitan dengan klenik agama dan kepercayaan. Orang
pribumi semua lapisan faktanya angkat senjata.


De Tijd: godsdienstig-staatkundig dagblad, 10-11-1945: ‘Ultimatum ditolak
Surabaya berada di bawah api berat Sekutu peran Inggris dalam ‘perang. Kota
Soerabaja telah tegang sejak pukul 6 pagi tadi. Menurut Kenter, hal itu
disampaikan melalui telepon kepada “Kementerian Luar Negeri”
pemerintahan Sukarno. Di markas Sekutu, belum ada detail atau konfirmasi atas
pesan ini. Seperti diketahui, ultimatum berakhir pada pukul enam ini pagi. Jika
ini tidak ditindaklanjuti, tembakan peluru yang hebat akan dimulai. Menurut
orang Indonesia, kekuatan pengeboman terus meningkat. Inggris mungkin
menggunakan artileri angkatan darat dan laut. Menurut koresponden khusus Times
di Batavia di Jawa tidak ada lagi pertanyaan apakah ada banyak perang, tetapi
sejauh mana Inggris terlibat di dalamnya, sulit untuk mengatakan, tulisnya. Dia
percaya bahwa pendaratan sejumlah besar pasukan Belanda di Jawa akan memicu
pemberontakan dan perintah itu akan membutuhkan kekuatan militer yang besar.
operasi, yang Belanda pasti tidak akan dapat melakukan sendiri untuk waktu yang
lama. Apakah masih banyak yang bisa dilakukan untuk mencapai kesepakatan dengan
para pemimpin Indonesia. Penundaan penerbitan kebijakan Belanda pada saat
keadaan sudah menemui jalan buntu – menurut koresponden – hanya menegaskan
kecurigaan dunia bahwa Belanda hanya berpikir dalam hal kekerasan untuk membawa
penyelesaian konflik ini dengan Indonesia Dewan kota Malang telah mengumumkan
bahwa mereka akan melawan jika Inggris ingin memasuki kota itu’.

Presiden Soekarno sendiri mulai
mengalami kesulitan, lalu membubarkan kabinetnya dan kemudian dibentuk kabinet
parlementer yang terdiri dari partai-partai yang mana kursi didominasi oleh PSI
dan Masjumi. Untuk posisi Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan dari PSI
masing-masing Soetan Sjahrir dan Mr Amir Sjarifoeddin Harahap. Sejak inilah
secara definitive Menteri Pertahanan terisi. Jabatan ini selama ini sejatinya
defacto telah diperankan oleh Mr Amir Sjarifoeddin Harahap.


Pasca Perang Soerabaja (11 November 1945). Susunan cabinet baru Mr Amir
Sjarifoeddin Harahap masih menjadi Menteri Penerangan dan merangkap sebagai Menteri
Pertahanan. Dalam susunan kabinet baru ini yang menjadi Menteri Keamanan Rakyat
adalah Mr. Amir Sjarifoeddin. Dalam kabinet ini Mr. Amir Sjarifoeddin juga
merangkap sebagai Panglima dan Menteri Penerangan. Posisi Mr. Amir Sjarifoeddin
menjadi ‘double gardan’. Ke dalam (domestik), sebagai Menteri Keamanan Rakyat
untuk fungsi perencanaan dan koordinasi keamanan strategi pertahanan sehubungan
dengan masuknya asing (sekutu/Inggris dan Belanda/NICA), ke luar sebagai
Menteri Penerangan untuk fungsi sosialisasi kemerdekaan dan fungsi pencitraan
di mata asing/PBB sehubungan dengan evakuasi meiliter Jepang dari Indonesia.

Sebagai Menteri Keamanan Rakyat
yang merangkap Panglima, Mr. Amir Sjarifoeddin mulai melakukan pengaturan
terhadap organisasi keamanan dan pertahanan yang selama ini belum maksimal
dilakukan oleh Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo.


Mr. Amir Sjarifoeddin, sebelum cabinet baru
diumumkan pada tanggal 14 November 1945,
meminta Kepala Staf Umum Letnan Jenderal Oerip
Soemohardjo untuk mengadakan konferensi diantara para pimpin
an tantara untuk menentukan pimpinannya sebagai Panglima
untuk menggantikannya. Mr. Amir Sjarifoeddin akan fokus pada fungsi manajemen
keamanan dan pertahanan, dan Panglima yang memimpin pertempuran di lapangan
harus orang lapangan/tentara. Konferensi yang diadakan pada
tanggal 12 November 1945 di Djogjakarta menghasilkan sejumlah keputusan yang
antara lain pembagian wilayah pertahanan Indonesia (terutama di Jawa) dan
penetapan pimpinan militer tertinggi sebagai panglima. Yang terpilih adalah
Soedirman salah satu pimpinan TKR/TRI dengan pangkat Jenderal.

Sementara Menteri Amir Sjarifoeddin dan Panglima Soedirman mulai bekerja
dalam kabinet baru, benturan antara pasukan
Sekutu/Inggris dengan kelompok-kelompok perlawanan (TKR/Lanskar) semakin
memuncak. Juga tekanan pimpinan militer
Sekutu/Inggris yang membonceng NICA/Belanda semakin terus menekan di bidang politik. Tekanan Sekutu/Inggris yang dibelakangnya berada pasukan-pasukan
Belanda/NICA yang terus mengalir ke Batavia/Djakarta membuat suasana
pemerintahan di Djakarta tidak kondusif lagi.


Pasca Perang Soerabaja, dimana
Sekutu/Inggris dapat dikatakan telah memenangkan pertempuran. Wali Kota
Soerabaja telah memindahkan pusat pemerintahannya ke Modjokerto. Antara
Soerabaja dan Moedjokerto menjadi area pertempuran baru yang di sisi republic dilakukan
dengan cara gerilya. Sementara wilayah Malang yang sangat seksi bagi
orang-orang Belanda mulai berpartisipasi di belakang pasukan Sekutu/Inggris.
Disebutkan pihak NICA telah menawarkan hadiah bagi siapapun yang berhasil
membunuh pemimpin pribumi diberi hadiah f100.000 (lihat Het dagblad: uitgave
van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 22-11-1945).

Lalu
muncul kebijakan baru untuk memindahkan ibukota dari Djakarta ke Djogjakarta.
Sikap pasukan sekutu/Inggris sebagai korps Eropa yang membonceng Belanda/NICA
berubah dari pembebasan interniran dan pelucutan militer Jepang menjadi wujud
aneksasi. Sejak inilah pasukan Sekutu/Inggris plus pasukan Belanda/NICA
berperang dengan kelompok-kelompok perlawanan Indonesia.


Akhirnya pasukan
Sekutu/Inggri dapat menembus wilayah Malang dan melakukan pendudukan pada tepat
waktu (lihat Amigoe di Curacao, 24-11-1945). Disebutkan aktivitas udara Sekutu/Inggris
di atas Soerabaia mendapat perlawanan ringan dari senjata anti-pesawat berawak
Indonesia. Pasukan Sekutu/Inggris kini menguasai kawasan bisnis dan pemukiman
utama Soerabaja, termasuk gedung-gedung terbesar dan terpenting. Satu detasemen
2.000 Gurkha yang melakukan pawai paksa dari Malang mencapai kamp tepat pada
waktunya setelah terlibat dalam pertempuran sengit dengan pasukan Indonesia
yang mencoba menghalangi jalan mereka. Sebanyak 1000 orang Indonesia dikatakan
telah tewas. Dalam berita ini juga disebutkan terjadi pertempuran di Ambarawa,
Bandoeng, Medan dan Padang. Juga disebutkan Sekutu/Inggris telah mencapai
Jogjakarta. Juga disebutkan ada gerilya di Tjikampek, Buitenzorg dan Pondok
Gede. Dalam berita ini juga ditambahkan pasukan Sekutu/Inggris telah membebaskan/memulangkan
orang-orang setia kepada Belanda (Ambon, Jawa, Soenda dan Manado) yang juga
diinnternir sebanyak 1.400 orang, tetapi orang-orang Belanda sendiri keberatan
dengan itu, karena mereka beranggapan mereka yang dilepaskan itu dapat membantu.
Mereka sangat berharga untuk perlindungan orang Eropa dan karena mereka telah
dengan jelas menunjukkan kesetiaan mereka kepada tujuan Belanda.  

Sementara secara berangsur-angsur pejabat dan politisi Indonesia
meninggalkan Djakarta/Batavia menuju Djogjakarta. Pada saat perpindahan ini
Menteri Keamanan Rakyat dan Panglima terus melakukan penataan dan pembentukan
struktur organisasi tentara Indonesia agar menjadi lebih kuat melawan para
imperialis (Inggris/Belanda).


Pada tanggal 13 Desember 1945 dibentuk Komando Tentara dan Teritorium di
Jawa (Kolonel Abdul Haris Nasution sebagai Panglima).
Pemerintah Republik Indonesia
melalui Menteri Keamanan Rakyat Mr. Amir Sjarifoeddin mengangkat Kolonel
Soedirman menjadi Panglima pada tanggal 18 Desember 1945. Dengan demikian
fungsi perencanan dan pengaturan (anggaran dan personel) ditangani oleh Menteri
Mr. Amir Sjarifoeddin dan pelaksana tugas di medan perang dikomandokan oleh
Panglima
(Kolonel) Soedirman. Sebagai panglima
yang baru, Mr. Amir Sjarifoeddin memberi layanan tersendiri bagi
Kolonel Soedirman dengan menunjuk
dokter berbakat
Overste/Letnan
Kolonel
Dr.
Willer Hutagalung sebagai dokter pribadi Jenderal Soedirman.
Sejak ibukota RI dipindahkan dari Djakarta ke Djogjakarta tanggal 4
Januari 1946, TKR diubah menjadi TRI (Tentara Republik Indonesia) pada tanggal
25 Januari 1946. Penyesuaian ini dimaksudkan untuk menjadikan TRI sebagai
satu-satunya organisasi militer yang mempunyai tugas khusus dalam bidang
pertahanan darat, laut, dan udara. TRI ini kemudian dibiayai oleh negara atas
pertimbangan banyaknya perkumpulan atau organisasi laskar pada masa itu yang
mengakibatkan perlawanan tidak dapat dilakukan dengan efektif dan efisien.
Wilayah pertahanan dibagi ke dalam beberapa Divisi dengan mengangkat
panglimanya. Dengan struktur baru ini, Kolonel Abdul Haris Nasution menjadi
Panglima Divisi-3/Siliwangi.  

Sementara itu, Sekutu/Inggris sudah nekad. Di Bandoeng, pimpinan pasukan Sekutu/Inggris memberi ultimatum
agar TRI (Tentara Rakyat Indonesia) mengosongkan kota sejauh 11 Km dari pusat
kota paling lambat pukul 24.00 tanggal 24 Maret 1946. Maklumat ini diumumkan
sehari sebelumnya.
Untuk
menghindari peristiwa yang pernah terjadi di Soerabaja tanggal 11 November,
Menteri Pertahanan (sebelumnya
bernama Menteri Keamanan Rakyat), Amir Sjarif
oeddin Harahap lantas bergegas ke Bandung dan
mendiskusikannya dengan Panglima Divisi III/Siliwangi, Kolonel Abdul Haris
Nasution.
Kolonel Abdul Haris Nasution, Panglima
Divisi-3/Siliwangi, untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, lantas
menyampaikan pengumuman agar TRI dan penduduk untuk meninggalkan kota. Saat
pejuang dan penduduk Kota Bandung mengungsi disana sini terjadi pembakaran
(lihat Limburgsch dagblad, 26-03-1946). Terjadinya kobaran api yang besar ini
dikenal sebagai ‘Bandung Lautan Api’


Untuk menyempurnakan struktur organisasi tentara Republik Indonesia
dengan semakin menguatnya pasukan Belanda
/NICA yang telah mengambil alih fungsi dan peran
tentara
Sekutu/Inggris, pemerintah RI
membentuk panita organisasi tentara yang dipimpin oleh Letnan Jenderal Oerip
Soemohardjo. Hasil kerja panitia diumumkan pada tanggal 17 Mei 1946 yang
terdiri dari struktur pertahanan (yang dipimpin oleh Menteri Pertahanan) dan
struktur kemiliteran (yang dipimpin Panglima). Dalam pengumuman ini juga
Soedirman dipromosikan menjadi panglima tertinggi dengan pangkat Jenderal,
sementara personil militer disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang dihadapi
. Nama-nama para pimpinan BKR/TKR
ditetapkan untuk mengisi jabatan-jabatan strategis.
Nieuwe courant, 29-05-1946: ‘Perubahan dan
penunjukan pada posisi baru TRI telah diterbitkan. Dalam penunjukkan ini
terlihat keterlibatan orang-orang muda dan perwakilan dari tentara rakyat di
Jawa. Soedirman dipromosikan menjadi panglima tertinggi dengan pangkat
Jenderal. Ketua Pengadilan Tinggi Militer ditunjuk Mr. Kasman Singodimedjo.
Kepala staf diangkat Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo. Kolonel Soetjipto
diangkat menjadi Kepala Dinas Rahasia; Kolonel TB Simatoepang sebagai Kepala
Organisasi; Kolonel Hadji Iskandar sebagai Kepala Departemen Politik; Kolonel
Soetirto sebagai Kepala Urusan Sipil; Kolonel Soemardjono sebagai Kepala
Hubungan dan Kolonel Soeyo sebagai Kepala Sekretariat. Sudibyo diangkat menjadi
Direktur Jenderal Departemen Perang yang mana Didi Kartasasmita adalah Kepala
Infantri. Di dalam Departemen Perang juga diangkat: Kepala Departemen Artileri
Letnan Kolonel Soerjo Soermano; Kepala Departemen Topografi Soetomo (bukan
penyiar radio); Kepala Geni kolonel Soedirio; Kepala Persenjataan Mayor
Jenderal Soetomo (juga bukan penyiar radio) dan Kepala Polisi Militer Mayor
Jenderal Santoso (bukan penasihat Dr. Van Mook). ‘Mayor Jenderal Abdoel Haris
Nasution ditunjuk sebagai Panglima Divisi-1 dengan Letnan Kolonel Sakari
sebagai Kepala Staf. Panglima Divisi-2 Mayor Jenderal Abdulkadir (bukan
penasihat Dr. Van Mook) dengan Letnan Kolonel Bamboengkoedo sebagai Kepala
Staf; Panglima Divisi-3 Mayor Jenderal Soedarsono (bukan menteri) dan Letnan
Kolonel Pari sebagai Kepala Staf; Panglima Divisi-4 Mayor Jenderal Sudiro dengan
Letnan Kolonel Fadjar sebagai Kepala Staf; Panglima Divisi-5 Mayor Jenderal
Koesoemo dengan Letnan Kolonel Bagiono sebagai Kepala Staf; Panglima Divisi-6
Mayor Jenderal Songkono dengan Letnan Kolonel Marhadi sebagai Kepala Staf, dan
Panglima Divisi-7 Mayor Jenderal Ramansoedjadi dengan Letnan Kolonel Iskandar
Soeleiman sebagai Kepala Staf
. Catatan: Dalam struktur organisasi
tentara yang baru ini kali pertama diperkenalkan pangkat tertinggi yang disebut
jenderal (Soedirman, sebagai Panglima). Pangkat di bawahnya Letnan Jenderal
(Oerip Soemohardjo, sebagai Kepala Staf). Lalu kemudian pangkat Mayor Jenderal
disematkan kepada tujuh Panglima Divisi plus Kepala Persenjataan dan Kepala PM.
Pangkat di bawahnya sejumlah Kolonel dan sejumlah Letnan Kolonel. Dalam fase
reorganisasi ketentar
aan ini,
pemerintah melakukan proses politik yang berujung pada stuatu perundingan dan
perjanjian.

Pemerintah RI di
Djakarta/Batavia pada akhirnya evakuasi semuanya ke Djogjakarta. Rombongan
terakhir dalam perpindahan pemerintahan Republik ini berkumpul di bekas rumah
Soetan Sjahrir yang terdiri dari bagian Kementerian Dalam Negeri, Kementerian
Penerangan dan Kementerian Perhubungan. Rombongan ini dipimpin oleh
Overste/Letnan Kolonel Mr. Arifin Harahap (adik Mr.
Amir Sjarifoeddin). Rombongan terakhir ini berangkat dari Stasion Manggarai
menuju Djogjakarta yang dikawal oleh polisi Belanda (Nieuwe courant,
17-10-1946).


Sementara pasukan sekutu/Inggris masih bekerja yang dibantu dari belakang
oleh pasukan Belanda/NICA, pemerintahan darurat Belanda/NICA secara perlahan
dibentuk yang dimulai di Batavia/Djakarta. Kedatangan Belanda/NICA bagi
Republiken sejati adalah perang, tetapi tidak sedikit orang Indonesia yang
justru senang dengan kehadiran Belanda. Mereka yang senang inilah faktor
penting mengapa Belanda/NICA cepat membentuk pemerintahan, sementara pemerintah
RI yang terus di desak sekutu/Inggris masih belum terkonsolidasi dengan baik.
Penduduk I
ndonesia menjadi terbelah: Republiken (pejuang
sejati) dan para kolaborator (penghianat bangsa).

Pertempuran yang tidak
berkesudahan lalu kemudian terjadi proses diplomatik yang ditindaklanjuti
dengan suatu perundingan antara pemerintah Indonesia (PM Soetan Sjahrir) dengan
pajabat NICA di Linggarjati, Jawa Barat yang menghasilkan persetujuan mengenai
status kemerdekaan Indonesia. Hasil perundingan ini ditandatangani di Istana
Batavia.Jakarta pada 15 November 1946 dan ditandatangani secara resmi oleh
kedua belah pihak pada 25 Maret 1947. Hasil perjanjian Linggarjati ini mendapat
rekasi pro dan kontra di kalangan Indonesia,


Keamanan dan pertahanan bukannya
semakin membaik. Implementasi perjanjian dari hasil perundingan tidak berjalan
dengan baik. Serangan dilawan dengan serangan. Penafsiran terhadap butur-butir
perjanjian berbeda antara Belanda dan Indonesia. Belanda/NICA yang semakin
menguat mulai bertingkah dan arogan. Gubernur Jendral HJ van Mook pada tanggal
20 Juli 1947 menyatakan sepihak bahwa Belanda tidak terikat lagi dengan
perjanjian Liggarjati sehari kemudian pada tanggal 21 Juli 1947 mulai
melancarkan aneksasi yang disebut dengan Agresi Militer Belanda I.

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi:
akhirmh@yahoo.com


, Terimakasih telah mengunjungi Dului.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.

Most Popular

To Top