Sejarah

Sejarah Menjadi Indonesia (35): Pemusik Indonesia, Dari Follower Menjadi Leader; Alip Ba Ta Buka Jalan Musik Dunia Maya




false
IN




























































































































































false
IN




























































































































































false
IN



























































































































































Satu lagi grup musik yang perlu mendapat
perhatian adalah The Blue Diamonds. Grup musik ini kali pertama diberitakan di
Belanda pada tahun 1959 (lihat Nieuwsblad van het Noorden, 02-11-1959). Grup
musik ini disebutkan tampil cukup baik di acara televisi akhir pekan. Menurut De
waarheid, 02-11-1959 debut duo ini telah mengubah streotif bermain gitar yang
seimbang dengan vokal. Selama bulan November 1959 duo Indo ini banyak mendapat
liputan dan ulasan media-media di Belanda. Grup musik ini berawal dari dua Indo
bersaudara Ruud de Wolff (lahir1941) dan Riem de Wolff (lahir 1943) di
Batavia/Djakarta yang pindah ke Belanda tahun 1949 mengikuti orang tua mereka.
Setelah 10 tahun di Belanda dan tampil di televisi, grup dengan personel utama
dua Indo ini tidak terbendung dengan rekaman mereka dimana lagu Ramona menjadi hit
di Eropa dan Amerika. Ingat nama judul ini ingat juga nama penyanyi Indonesia
Ramona Purba yang membawakan lagu-lagu yang mirip lagu-lagu yang dibawakan oleh
The Blue Diamonds. Duo Indo van Driebergen, Utrecht yang mirip The Everly
Brothers ini pernah tampil di Indonesia. Het Parool, 20-11-1959.
De Telegraaf, 27-02-1960

Satu yang unik dari eksistensi duo Indo The Blue
Diamonds ini adalah secara tidak sengaja terdapat kemiripan dengan duo Amerika
yang terkenal The Everly Brothers (lihat De Telegraaf, 27-02-1960). Disebutkan
setelah terdengar kabar The Everly Brothers melejit di Amerika muncul gagasan dari
produser di Belanda untuk membuat duo Belanda yang mirip The Everly Brothers.
Tidak hanya itu producers Belanda juga ingin membuat seperti penyanyi solo
terkenal di Jerman, Conny Froboess. Namun proyek ini gagal di pasar dan tidak
bisa menarik para remaja Belanda. Saat kekosongan inilah muncul nama The Blue
Diamonds yang memang mirip dengan The Everly Brothers yang dengan cepat menarik
perhatian remaja Belanda. Seperti disebutkan, melejitnya The Everly Brothers
karena para remaja berbeda  dengan
penggemar Elvis Prcsley yang naik daun di Amerika, tempat dimana anak laki-laki
dengan rambut panjang dan cambang serta suara-suara berat. The Everly Brothers muncul
dengan suara lembut mereka di Amerika. Remaja mendapat idola baru yang juga
menjalar ke Belanda. Sekali, lagi para producers Belanda gagal mengadaptasi
keberhasil The Everly Brother Amerika di Belanda. Kini, remaja Belanda telah
menemukan idola baru di Belanda, duo Indo The Blue Diamonds. Seperti kata
pepatah: ‘memang suara dan jari-jari memainkan gitar ada genetiknya dan kuping
tidak bisa ditipu’. The Blue Diamonds bukan produk instan tetatp bakat alamiah
van Indonesia.

Tielman Brother kembali tampil di televisi
sebagaiman terlihat dalam program acara televisi di surat kabar (lihat De
Telegraaf, 13-08-1965). Lagu-lagu Tielman Brother masuk dalam Top 40.

Fase
Adopsi Musik Barat: Klasik dan Latin

Pasca pengakuan kedaulatan RI (Desember 1949)
dunia musik Indonesia berada dalam ketidakteraturan. Bajak membajak terjadi.
Hal ini karena lagu-lagu pop Indonesia mulai menjamur untuk memenuhi kebutuhan
publik/pasar yang semakin bergairan. Tentu saja kebutuhan radio-radio untuk
mengisi acara/programa musik. Pengaturan hak cipta untuk lagu-lagu baru belum
ada. Melihat banyak pelanggaran hak cipta, pada tahun 1950 seorang komponis
Batak bernama R. Tobing merasa kesal dan meminta perhatian agar para composer
mendapat perlindungan atas ciptaan mereka. Para musisi berkumpul di Bandoeng.
Algemeen Indisch dagblad: de Preangerbode,16-08-1950:
‘Untuk melindungi komposer Indonesia diperlukan pendirian lembaga tersendiri
agar karya musik terlindungi. Sejumlah composer berkumpul di Bandung. Seorang
pianis terkenal di Singapura dan komposer dari lagu Indonesia modern, telah
tiba di Jakarta dan telah menghubungi berbagai pihak berwenang untuk mendirikan
sebuah perusahaan penerbitan karya musik Indonesia di Bandung. Menurut Mr
Tobing penerbit ini akan muziek kontemporer Indonesia akan menjamin hak cipta
dari komposer. Menurut Tobing, bahwa komposisi yang dibuat sang pencipta karena
kebanyakan dari mereka tidak pernah menulis di atas kertas, sering dimainkan
secara sewenang-wenang tanpa persetujuan dari komposer yang bersangkutan.
Bahkan sering terjadi, kata Mr Tobing yang karya musik yang dimainkan (siaran
radio dan film) tanpa menyebutkan nama penulis. Terlepas dari isu karya-karya
ini akan mendirikan studio musik di Bandung, yang tugasnya adalah untuk
memberikan komposisi dari pengaturan yang diperlukan. Ini adalah niat untuk
melakukan musik modern berbasis teknologi Barat, sehingga dapat dimainkan oleh
orkestra di luar negeri, kata Mr Tobing. Pelaksanaan rencana ini akan segera
menjadi konferensi di Bandung oleh komposer Indonesia, yang membahas masalah di
atas. Komponis berbagai genre musik akan diundang ke konferensi ini’.
Siapa Mr. R Tobing belum diketahui secara
jelas. Apakah R Tobing adalah pimpinan grup musik tradisi Jong Batak atau R.
Tobing adalah seorang anak Medan yang selama pendudukan militer Jepang hingga
agresi militer Belanda merantau dan menetap di Singapora? Juga belum jelas.
Namun melihat posisinya dalam pertemuan musik di Bandung dan gagasannya soal
hak cipta bukanlah pemusik biasa. Lantas pertanyaannya, apakah R. Tobing ayah
dari Gordon Tobing, penyanyi yang mulai kesohor dari grup musik ‘Sinondang
Tapanoeli’?
Pada tanggal 31 Mei 1952 Radio Jakarta (RRI Jakarta)
pukul 22.10 mengumandangkan suara Gordon Tobing di bawah label Sinondang
Tapanoeli (lihat Algemeen Indisch dagblad: de Preangerbode, 31-05-1952).
Kemudian nama Gordon Tobing terdeteksi lagi di Radio Jakarta I dan Radio
Jakarta II tanggal 1 November 1952 siaran pukul 21.15. Gordon Tobing kembali
dengan grup Sinondang Tapanoeli (lihat Het nieuwsblad voor Sumatra,
01-11-1952). Lalu tanggal 3 November Gordon Tobing kembali muncul, di Radio
Jakarta III siaran pukul 22.15 (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en
advertentie-blad, 03-11-1952). Gordon Tobing lahir di Medan, 25 Agustus 1925 adalah
anggota grup musik Sinondang Tapanoeli, yang secara defacto adalah sanggar
musik dan vokal grup yang umumnya terdiri dari anak-anak Sipirok. Grup musik
Sipirok di Djakarta ini sudah eksis sejak era kolonial Belanda.
Pada awal pengakuan kedaulatan Indonesia ini,
hanya penyanyi Gordon Tobing yang segera muncul ke permukaan. Gordon Tobing
membawakan lagu-lagu Batak berirama rumba dan sebagainya. Lagu-lagu Batak tidak
hanya di radio tetapi juga hadir di dalam pertemuan-pertemuan tertentu.
Algemeen Indisch dagblad: de Preangerbode, 02-01-1953:
‘kemarin warga Batak berkumpul di Concordia untuk merayakan tahun baru. Lebih
dari dua ribu pengunjung yang hampir semuanya warga Batak di Bandung. Menurut
adat, na.poso-bulung (laki-laki dan perempuan muda yang belum menikah) bertugas
untuk menyiapkan kelancaran acara. Acara ini diselingi dengan nyanyian para
muda-mudi. Mr. P. Harahap, ketua Komite Persiapan, dalam sambutannya
mengatakan: Pertemuan ini adalah salah satu faktor dimana warga Batak untuk
terus mengikat ke unit kohesif. Kami memiliki tradisi kuno dan budaya kuno
Batak: termasuk aksara sendiri, bahasa sendiri, musik sendiri, tarian sendiri.
Kami sudah berbaur dengan pengaruh asing, tetapi kami juga masih perlu untuk
sekali-sekali untuk bisa kembali ke tanah air kami (kampong halaman)’. Catatan:
Ketua komite persiapan dalam kegiatan ini adalah Ponpon Harahap, mahasiswa
Institut Teknologi Bandung.
Tentu saja selain Gordon Tobing, juga muncul
penyanyi-penyanyi baru seperti Mien Sondakh, Ade Ticoalu, Rose Sumabrata dan
Dien Jacobus. Namun  penyanyi yang
mendapat liputan luas adalah Gordon Tobing. Bahkan Gordon Tobing dan orchest
kerap diundang ke istana.
De locomotief : Samarangsch handels- en advertentie-blad,
15-09-1954 (Presiden menerima bintang radio): ‘Senin pagi, Presiden dan Nyonya
Sukarno, menerima peserta dalam pemilihan bintang radio 1954 di istana. Pada
pertemuan ini atas permintaan Mrs. Soekarno untuk menyanyikan lagu berjudul
‘Alam Desa’ yang dinyanyikan oleh Gordon Tobing dan kemudian bersama-sama. Mien
Sondakh dan Ade Ticoalu menyanyikan lagu berjudul ‘Njiur Melambai’
Gordon Tobing tidak terbendung. Gordong
Tobing telah memiliki grup musik sendiri. Presiden kerap mengundang grup Gordon
Tobing (Impola) manggung di istana ketika ada acara penerimaan tamu asing. Grup
Impola Gordon Tobing juga beberapa kali termasuk dalam rombongan Presiden
ketika berkunjung ke luar negeri.
Pada bulan April 1954, grup Sinondang Nauli dengan suara
(vokal) Gordon Tobing secara mengejutkan disiarkan oleh Radio Nederland gel.
16.88, 19.45 en 19.71 pada pukul 20.30 (lihat De nieuwsgier, 29-04-1954). Pada
bulan Juli 1954 suara Gordon Tobing muncul kembali di Radio Jakarta III, namun
kali ini tidak disebutkan mewakili SinondangTapanoeli tapi dibawah judul: Zang
door Gordon Tobing (Nyanyian oleh Gordon Tobing). Berita ini terdapat dalam
jadwal programa radio De nieuwsgier edisi 24-07-1954. Ketika nama Gordon Tobing
tidak mewakili Sinondang Tapanoeli (menjadi solo karir), maka grup musik Batak
ini berubah nama menjadi Orkest Sinondang Sipirok. Grup musik Sinondang Sipirok
tampil di RRI Djakarta tanggal 21 Juli 1954 dengan penyanyi R. Batubara (lihat  De nieuwsgier, 21-07-1954). Tiga hari
kemudian nama Gordon Tobing secara solo (tanpa diiringi oleh Sinondang) juga
muncul di RRI.
Gordon Tobing semakin kerap tampil secara solo di radio.
Ini yang terjadi sebagaimana dilaporkan De nieuwsgier, 21-09-1954 bahwa Gordon
Tobing di  Radio Jakarta III mebawakan
lagu-lagu yang diiringi oleh piano Sudharnoto. Adakalanya Gordon Tobing berduet
dengan penyanyi lain. Java-bode: nieuws, handels-en advertentieblad voor
Nederlandsch-Indie, 25-11-1954 memberitakan Rose Sumabrata dan Gordon Tobing
berduet. Gordon Tobing kembali ke istana dalam suatu pesta yang dihadiri oleh
Presiden Soekarno. Artis utama tadi malam adalah Gordon Tobing dan Bing Slamet
(lihat De nieuwsgier, 08-12-1954).
Pada tahun 1955 muncul kali pertama majalah
olah raga dan musik (besar kemungkinan yang pertama ‘majalah musik ‘di
Indonesia). Majalah mingguan ini tidak terbit di Djakarta, tetapi majalah ini terbit
di Medan dibawah pimpinan Emir Sipirok dan diterbitkan oleh Syarikat Tapanuli.
Majalah ini berisi publikasi olahraga dan music serta film (Het nieuwsblad voor
Sumatra, 10-08-1955).
Emir Sipirok adalah ketua PWI Medan. Berprofesi sebagai
wartawan dan fotografer. Pada tahun 1956 Emir Sipirok diundang oleh Pemerintah
Amerika Serikat untuk berkunjung ke Amerika Serikat dalam kaitan orientasi
pengembangan pers, Emir berangkat dari Batavia via Australia. Kemudian
pulangnya melalui Belanda (juga diterima selama sepuluh hari oleh pers
Belanda)  Emir Sipirok, ketua klub Medan
Press (Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 18-02-1956).
Keberangkatan Emir ke Amerika Serikat adalah bagian dari program pemerintah
Amerika Serikat dalam pengembangan pers Indonesia. Sejumlah wartawan Indonesia yang
diundang selain Emir dan Mochtar Lubis (pemimpin surat kabar Indonesia Raja).
Gordon Tobing terus meroket dan tidak
tertandingi oleh grup vocal manapun di Indonesia. Gordon Tobing memang berada
di jalur pop, tetapi bukan berarti tidak pernah terlibat dalam musik tradisi
Batak. Sebagaimana Nahum Situmorang, di jalur pop tetapi juga masih menyukai
musik tradisi Batak. Musik tradisi Batak pada dasarnya adalah suatu band yang
berbasis ensambel gondang dan ensambel gong. Dua instrumen musik ini pada
awalnya di jaman kuno menjadi alat komunikasi dalam religi yang dalam
perkembangannya disandingkan dengan istrumen tradisi lainnya sehingga terbentuk
band (musik tradisi Batak). Di dalam tradisi band inilah Nahum Situmorang dan
Gordon Tobing mencuat ke permukaan sebagai musisi dan penyanyi pop.
Sementara Gordon Tobing terus berkibar pada tahun 1955
dan 1956, musik tradisi Batak kembali muncul di udara Jakarta dalam program
acara Radio Jakarta. Selama tahun 1955 diantaranya: Sinondang Sipirok (De
nieuwsgier 28-01-1955); Sinonadang Sipirok (De nieuwsgier 05-03-1955);
Sinonadang Sipirok (De nieuwsgier 05-05-1955); ‘Oening-oeningan Batak’ (De
nieuwsgier 09-04-1955); ‘Tumba Batak’ (De nieuwsgier, 08-08-1955) 19.20 Tumba
Batak; ‘Kesenian Batak: Nauli Bulung’ (De nieuwsgier, 18-08-1955); ‘Orkes
Jajasan Kebudajaan Batak’ (De nieuwsgier, 27-10-1955); ‘Tumba Batak’ (De
nieuwsgier, 15-02-1956); ‘Ketjapi Batak’ (De nieuwsgier, 25-04-1956); Sinondang
Sipirok (Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor
Nederlandsch-Indie, 28-07-1956). Namun di tahun 1957 musik tradisi Batak
kembali sunyi, tetapi Gordon Tobing masih terus eksis di radio
Salah satu hasil rekaman suara Gordon Tobing
dengan grup baru Impola (lagu-lagu rakyat) beredar secara luas pada tahun
1970an. Rekaman dan distribusinya dilakukan oleh Media Record. Lagu-lagu rakyat
dalam rekaman ini oleh Gordon Tobing dengan suara Impola terdiri dari: (1)
Soleram, (2) Mardalan ahu marsada-sada, (3) Mariam tomong, (4) Sajang dilale,
(5) Terkenang tanah airku, (6) Sigulempong, (7) Inang sarge, (8) Kaparinjo, (9)
Butet, dan (10) Tao na tio.   
Fase Perkembangan Musik Pop Indonesia: Blues dan Rock
Ada kesinambungan musik tradisi Batak ke
musik pop (Indonesia dan daerah) hingga pada waktu nanti munculnya musisi dan
penyanyi baru seperti lahirnya grup musik AKA dan Panber’s di Surabaja serta The
Mercy’s di Medan. Sementara Gordon Tobing masih berkibar bermunculan
musisi-musisi dan penyanyi-penyanyi lainnya.
Penyanyi generasi baru antara lain adalah Tetti Kadi
dengan hitnya Sepanjang Jalan Kenangan dan Teringat Selalu; Erni Djohan dengan
hitnya Teluk Bayur dan Kau Selalu Dihatiku; Rahmat Kartolo dengan hitnya Patah
Hati; Titiek Puspa; Lilies Suryani dengan hitnya Gang Kelintji; Anna Mathovani.
Para musisi seperti A Riyanto. Grup musik seperti Zaenal Combo, Koes Bersaudara,
Sabda Nada (Keenan, Odink dan Debby Nasution). Perusahaan rekaman seperti
Remaco.
AKA Group, Panber’s, The Mercy’s bersama
sejumlah grup musik baru membuat semarak musik Indonesia pada tahun 1970an,
seperti Koes Ploes, Dlloyd dan Bimbo.
AKA Group Soerabaja bertumpu pada Andalas Datu Oloan
Harahap alias Ucok AKA. Sedangkan Djakarta Lloyd (Dlloyd) dengan personel Sjamsuar
Hasjim, Bartje Van Houten, Andre Gultom, Chairoel Daud, Buddiman Pulungan dan Sangkan
Panggabean.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Fase Kreasi Musik Indonesia: Musik Dangdut dan
Modernisasi Musik Tradisi (New Rhapsody)
Sementara musik dan lagu pop Indonesia dan
musik dangdut terus berkembang, satu yang penting dari fase terakhir ini adalah
muncul gagasan musik kreatif dan modernisasi musik tradisi. Perkembangan musik
tradisi ini anehnya juga munculnya perhatian pemusik atau ahli musik asing. Ini
seakan era Paul Seelig seakan timbul kembali. Paul Seelig pada tahun 1909
menciptakan karya musik tradisi (gamelan) dan musik Barat yang disebutnya
Javaansche Rhapsody.  

Tunggu deskripsi lengkapnya

*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi:
akhirmh@yahoo.com


, Terimakasih telah mengunjungi Dului.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.

Most Popular

To Top