Sejarah

Sejarah Menjadi Indonesia (44): Sejarah Rachmi Hatta yang Sebenarnya; Istri Wakil Presiden dan Sang Mertua (Abdoel Rachim)




false
IN



























































































































































false
IN


























































































































































Lantas
bagaimana sejarah yang sebenarnya hubungan Mohamad Hatta dan Siti Rachmiati dan sejarah keluarga Siti Rachmiati selengkap-lengkapnya
? Yang
jelas tidak semuanya disebutkan di dalam buku otobiografi Mohamad Hatta,
lebih-lebih tentang sejarah awal keluarga
Siti Rachmiati. Okelah, seperti
kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan.
Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe
.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.

Mohamad Noerdin: Seorang Guru

Perang
Atjeh berakhir pada tahun 1903 (Panglima Polim menyerah kepada Pemerintah
Hindia Belanda). Hanya tinggal Sisingamangaradja XII di Tapanoeli. Pemerintah
Hindia Belanda yakin bisa menaklukan Sisingamangaradja XII, karena itu pemerintah,
mulai membentuk cabang pemerintahan Hindia Belanda di wilayah Atjeh pada tahun
1904. Ruang pertempuran Sisingamangaradja XII hanya tersisa di wilayah
perbatasan antara wilayah Tapanoeli dan wilayah Atjeh (wilayah Dairi),
Pemerintah Hindia Belanda semakin pede lalu mereorganisasi cabang pemerintahan
di wilayah Pantai Barat Sumatra (Province Sumatra’s Westkust) pada tahun 1905
dengan memisahkan wilayah (Residentie) Tapanoeli dengan membentuk wilayah
otonom Residentie Tapanoeli). Sisingamangaradja XII tewas tertembak tanggal 17
Juni 1907. Habis sudah wilayah independen di Hindia Belanda. Dua yang tersisa
adalah wilayah Atjeh dan wilayah Tapanoeli. Pemerintah Hindia Belanda mulai
mendatangkan dokter dan guru-guru khususnya dari Tapanoeli ke Atjeh.

Pada bulan November 1902 sekolah guru
(Kweekschool) di Fort de Kock meluluskan sejumlah siswa menjadi guru (lihat
Sumatra-bode, 02-01-1903). Salah satu yang lulus adalah Mohamad Noerdin.
Disebutkan Mohamad Noerdin berasal dari Soeliki, Residentie Padangsche
Bovenlandan, Province Sumatra’s Westkust. Pada tahun 1903 seorang ahli bahasa
Melayu dari Amsterdam, Dr AA Fokker datang ke Padang meminta bantuan Dja Endar
Moeda (pemimpin surat kabar Pertja Barat) untuk membantunya mengelola majalah
bulan Bintang Hindia yang diterbitkan di Amsterdam dengan sirkulasi di Hindia
Belanda. Dja Endar Moeda kemudian membawa dua guru yang jago menulis ke
Amsterdam yakni Soetan Casajangan dan Djamaloeddin. Radjioen Harahap gelar
Soetan Casajangan guru di Padang Sidempoean adalah adik kelas Saleh Harahap
gelar Dja Endar Moeda di Kweekschool Padang Sidempoean. Djamaloeddin adalah
alumni Kweekschool Fort de Kock yang bekerja untuk Dja Endar Moeda sebagai
editor majalah bulanan Insulinde. Soetan Casajangan kemudian melanjutkan
pendidikannya di Belanda untuk mendapatkan akta guru (mahasiswa pribumi baru
satu orang yakni Raden Kartono, abang dari RA Kartini). Pada tahun 1908 ketika
jumlah mahasiswa pribumi di Belanda sekitar 20 orang, Soetan Casajangan
menggagas didirikannya organisasi mahasiswa yang disebut Indische Vereeniging.
Kelak tahun 1924 Indische Vereeniging oleh Mohamad Hatta dkk diubah namanya
menjadi Perhimpoenan Indonesia.

Salah
satu guru yang berasal dari Afdeeling Mandailing en Angkola (Residentie Tapanoeli)
yang dikirim ke (residentie) Atjeh adalah Mohamad Taib. Kelak Mohamad Taib
dikenal sebagai ayah dari SM Amin Nasoetion kelahiran ATjeh (gubernur pertama
Sumatra Utara). Salah satu guru yang menyusul ke Atjeh adalah Mohamad Noerdin
yang ditempatkan di Kotaradja.

Pada tahun 1906 Dja Endar Moeda memperluas
cabang medianya di Kota Radja dengan menerbitkan surat kabar Pembrita Atjeh.
Sebelumnya Dja Endar Moeda di Padang selain memiliki sekolah swasta dan
percetakan juga memiliki tiga media: surat kabar berbahasa Melayu Pertja Barat,
surat kabar berbahasa Melayu Tapian Na Oeli dan majalah bulanan Insulinde. Dja
Endar Moeda lulus sekolag guru Kweekschool Padang Sidempoean (onderafdeeling
Angkola) pada tahun 1884. Setelah menjadi guru di berbagai tempat, pada tahun
1894 Dja Endar Moeda meminta pensiun di Singkil (masih bagian dari Residentie
Tapanoeli) yang kemudian berangkat haji ke Mekkah. Pada tahun 1895 Dja Endar
Moeda memilih tinggal di Padang (ibu kota Province Sumatra’s Westkust) dan
mendirikan sekolah swasta. Pada tahun 1900 Dja Endar Moeda mengakuisisi
percetakan dan surat kabar Pertja Barat dari keluarga Jerman. Pada tahun 1900
di Padang mendirikan organisasi kebangsaan yang diberi nama Medan Perdamaian
(organisasi kebangsaan yang pertama, jauh sebelum Boedi Oetomo dibentuk tahun
1908).

Guru
muda Mohamad Noerdin menikah dengan gadis jelita di Kota Radja (Residentie Atjeh).
Gadis jelita itu keturunan bangsawan karena itu Mohamad Noerdin mendapat gelar
Teoengkoe). Di sekolah ini sebelumnya adalah guru Mohamad Taib yang kemudian
dipindahkan ke sekolah yang baru didirikan di Lhoknga. Setelah itu semakin
banyak guru-guru yang dikirim ke Atjeh dari Residentie Tapanoeli. Salah satu
diantaranya adalah guru Aden Lubis (ayah dari Kolonel Zulkifli Lubis, Kepala
Intelijen RI yang pertama).

Guru-guru di Atjeh berpindah-pindah termasuk
Mohamad Taib, MMOhamad Noerdin dan Aden Lubis. Seperti disebut di atas guru Soetan
Casajangan termasuk guru senior yang yang melanjutkan studi ke Belanda, lulus
tahun 1911 dan kembali ke tanah air pada tahun 1913 menjadi direktur
Kweekschool Fort de Kock. Pada tahun ini juga Soetan Casajangan meminta dua
guru muda lulusan terbaik Kweekschool Fort de Kock untuk melanjutkan studi ke
Belanda. Dua guru muda tersebut Ibrahim gelar Datoek Tan Malaka dan guru muda
Dahlan Abdoellah (dua guru muda ini kelak menjadi tokoh-tokoh penting). Seperti
pernah dikatakan Soetan Casajangan, Presiden Indische Vereeniging di Belanda
bahwa tidak ada umur menjadi tua bagi seorang guru. Boleh jadi inilah yang
menginspirasi guru Mohamad Noerdin ingin melanjjutkan pendidikan. Soetan
Casajangan lulus guru sekolah dasar di Belanda (LO) tahun 1909 dan lulus
sekolah guru menengah (MO) pada tahun 1911. Sejak 1922 Soetan Casajangan menjadi
direktur sekolah guru Normaal School di Meester Cornelis (kini Jatinegara). Setahun
sebelumnya (1921) Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia diangkat menjadi
direktur HIS yang baru dibukan di Kotanopan. Soetan Goenoeng Moelia lulusan MO
di Belanda pada tahun 1919.

Dalam
perkembangannya, guru Mohamad Noerdin akhirnya melanjutkan studi untuk
mendapatkan akta LO. Sejak 1920 Kweekschool Bandoeng telah ditingkatkan menjadi
Hoogere Kweekschool. Untuk mendapatkan akta LO tidak perlu lagi ke Belanda
tetapi sudah bisa dilakukan di Hindia Belanda (Bandoeng). Mohamad Noerdin dan
keluarga berangkat ke Bandoeng untuk melanjutkan studi di HKS Bandoeng. Pada
bulan Juli 1927 salah satu yang lulus di HKS Bandoeng adalah Mohamad Noerdin
(lihat De koerier, 10-06-1927). Pada tahun ini Soetan Casajangan masih menjabat
sebagai direktur Normaal School te Meester Cornelis.

Guru-guru yang lulus HIK Bandoeng bersamaan
dengan Mohamad Noerdin yang berasal dari Tapanoeli dan Padangsche antara lain
Haroen Loebis gelar Soetan Indra Goeroe; Mochtar gelar Soetan Nagari, Mardan
Tandjoeng, Kalang Siregar, D Sitoemorang, Ibnoe Abbas gelar Soetan Bandaharo,
Aboe Bakar, Mohamad Basir Nasoetion, Nama Mohamad Noerdin dicatat sebagai
Mohamad Noerdin gelar Datoek Djoendjoengan. Catatan: Mochtar gelar Soetan
Nagari asal Mandailing adalah ayah dari Dr Achmad Mochtar, Ph.D;

Setelah
lulus HIK Bandoeng, Mohamad Noerdin ditempatkan di sekolah Openbare Hollandsch
Inlandsche School di TebingTinggi (lihat De Sumatra post, 11-07-1927). Di
Tebing Tinggi, Province Oost Sumatra kenal dekat dengan anggota dewan kota
(gemeenteraad) Tebing Tinggi, Soetan Batang Taris.

Selama pendidikan di Bandoeng, Mohamad Noerdin
telah menikahkan putri sulungnya bernama Anni dengan seorang pegawai kereta api
bernama Abdoel Rachim. Putri sulung mereka diberi nama Siti Rachmiati yang
lahir di Bandung pada tanggal 16 Februari 1926. Dalam perkembangannya Anni
Rachim diterima sebagai pegawai tingkat satu (adj, commies) di perusahaan
kereta api SS en Tr Bandoeng (tempat suaminya juga bekerja). Anni Rachim
kemudian mendapat kenaikan pangkat menjadi Commies pada bulan September 1929
(lihat Bataviaasch nieuwsblad, 27-08-1928). Pada tahun berikutnya Anni Rachim
mengambil cuti dua bulan terhitung sejak tanggal 1 Juni 1929 (lihat Het
Vaderland : staat- en letterkundig nieuwsblad, 23-07-1929).
Anni Rachim diberhentikan dengan hormat sebagai pegawai SS en Tr (lihat
De locomotief, 25-02-1932). Foto Mohamad Noerdin (1932).

Setelah
bertugas di Tebing Tinggi, Mohamad Noerdin dipindahkan ke Hollandsch Inlandsche
School Tandjoeng Balai (lihat De Sumatra post, 24-08-1928). Mohamad Noerdin
dipindahkan ke Batavia bekerja sebagai corrector di Kantoor voor de
Volkslectuur. Sebagai kesetiannya dan dedikasinya (di bidang pendidikan),
Mohamad Noerdin oleh Pemerintah Hindia Belanda diberikan medali pada tahun 1932
(lihat Sumatra-bode, 26-01-1932). Disebutkan sebagai penghargaan Teogkoe
Mohamad Noerdin diberikan de medaille van Broeder in de Orde van den
Nederlandschen Leeuw toegekend.

Kantoor voor de Volkslectuur adalah suatu
lembaga penerbit buku-buku berbahasa Melayu dan bahasa daerah lainnya yang
lebih dikenal sebagai Balai Poestaka. Kantor ini juga menerbitkan majalah yang
disebut Pandji Poestaka. Mohamad Noerdin turut menghadiri perayaan Hari Jadi
Tiga Belas Tahun Parada Harahap sebagai jurnalis (lihat Het nieuws van den dag
voor Nederlandsch-Indie, 15-02-1932).

 

Parada Harahap memulai karir sebagai jurnalis
pada tahun 1918 di Medan dengan membongkar kasus penindasan kuli asal Jawa di
perkebunan di Deli. Oleh karena surat kabarnya dibreidel, pada bulan September 1919
Parada Harahap pulang kampong ke Padang Sidepoean yang langsung mendirikan
surat kabar berbahasa Melayu di Padang Sidempoean yang diberi nama Sinar
Merdeka. Pada tahun ini di Padang diselenggarakan kongres pertama Sumatranen
Bond. Turut hadir Parada Harahap mewakili Residentie Tapanoeli dan Mohamad
Hatta dari kota Padang. Pembina kongres ini adalah Dr Abdoel Hakim Nasoetion
(anggota dewan kota Padang). Mohamad Hatta pada saat ini masih sekolah tingkat
satu HBS-A di Prins Hendrik School di Batavia. Pada tahun 1921 diadakan lagi
kongres Sumatranen Bond di Padang yang juga turut dihadiri Mohamad Hatta dan
Parada Harahap.

 

Setelah kongres, Mohamad Hatta segera berangkat
studi ke Belanda. Pada tahun 1922 surat kabar mingguan Sinar Merdeka dibreidel
dan kemudian Parada Harahap hijrah ke Batavia dan mendirikan surat kabar mingguan
Bintang Hindia pada tahun 1923.  Parada
tahun 1924 Mohamad Hatta menjadi ketua Indische Vereeniging yang kemudian
diganti dengan nama Perhimpoenan Indonesia. Pada tahun 1925 Parada Harahap
mendirikan kantor berita pribumi pertama yang diberi nama Alpena dengan
merekrut WR Soepratman sebagai editor. Pada tahun 1926 dengan payung NV Bintang
Hindia, Parada Harahap mendirikan surat kabar harian yang diberi nama Bintang
Timoer. Pada tahun inilah Soekarno lulus dari sekolah teknik THS di Bandoeng
(kini ITB). Soekarno yang telah mendirikan klub studi di Bandoeng diundang
Parada Harahap untuk menulis di surat kabar Bintang Timoer. Parada Harahap
adalah orang yang menyambungkan komunikasi antara Ir Soekarno di Bandoeng dan
Mohamad Hatta di Belanda.

 

Pada tahun 1927 Parada Harahap sebagai
sekretaris Sumatranen Bond mengundang seluruh organisasi kebangsaan di rumah
Prof. Hoesein Djajadiningrat. Dalam pertemuan ini dibentuk supra organisasi
kebangsaan yang diberi nama Permoefakatan Perhimpoenan-Perhimpoenan Kebangsaan
Indonesia yang disingkat PPPKI. Ketua terpilih MH Thamrin (dari Kaoem Betawi)
dan sebagai sekretaris adalah Parada Harahap (dari Sumatranen Bond). Hoesein
Djajadiningrat adalah sekretaris dalam pembentukan Indische Vereeniging di
Belanda tahun 1908. Dalam rapat pembentukan PPPKI ini antara lain turut hadir perwakilan
dari Pasoendan, Islamieten Bond, Bataksche Bond dan Perhimpoenan Nasional
Indonesia di Bandoeng diwakili oleh ketuanya Ir. Soekarno. Dalam perteuan ini
juga turut anggota Volksraad antara lain Alidoedin Siregar gelar Mangaradja
Soeangkoepon (anggota Indische Vereeniging di Belanda). Agenda pertaa
PPPKI  adalah membangun kantor-gedung di
gang Kenari dan menyelenggarakan kongres PPPKI pada bulan September 1928 yang
diintegrasikan dengan Kongres Pemoeda pada bulan Oktober 1928. Di dalam kantor
PPPKI, Parada Harahap sebagai kepala kantor hanya memajang tiga foto yakni
Soeltan Agoeng, Ir Soekarno dan Mohamad Hatta.

 

Dalam persiapan penyelenggaraan Kongres PPPKI
(senior), Parada Harahap menunjuk Dr Soetomo (yang pernah berutang budi kepada
Parada Harahap dalam pembongkaran kasus poenalie sanctie kuli asal Jawa di
Deli. Untuk panitia Kongres Pemoeda (junior) Dr Soetomo merekomendasikan
Sogondo dari PPPI, Parada Harahap menyodorkan dua nama Mohamad Jamin (dari
Sumatranen Bond) sebagai sekretaris dan Amir Sjarifoeddin Harahap (dari
Bataksche Bond) sebagai bendahara. Tiga panitia inti inilah adalah mahasiswa
sekolah hukum (Rechthoogeschool) yang mana dekannya adalah Prof. Hoesein
Djajadiningrat. Abang Mohamad Jamin bernama Djamaloeddin (kelak dikenal sebagai
Adinegoro) adalah editor Bintang Timoer. Dua kongres ini disponsori organisasi
pengusaha pribumi Batavia (semacam KADIN pada masa ini) yang diketuai oleh
Parada Harahap. Untuk menyukseskan dua kongres ini Parada Harahap menerbitkan Bintang
Timoer edisi Semarang (Midden Java) dan edisi Soerabaja (Oost Java).

 

Hasil Kongres PPPKI 1928 adalah organisasi
PPPKI diubah menjadi organisasi politik dengan nama baru Permoefakatan
Parat-Partai Kebangsaan Indonesia dengan tetap menggunakan singkatan yang lama.
Ketua terpilih adalah Dr Soetomo. Kongres berikutnya akan diadakan bulan
September 1929 di Solo. Sementara itu hasil Kongres Pemoeda adalah ikrar yang
berbunyi Satoe Noesa, Satoe Bangsa dan Satoe Bahasa, Indonesia. Dalam Kongres
Pemoeda ini lagu kebangsaan Indonesia Raja ciptaaan WR Soepratman
diperdengarkan. Setelah semuanya berlangsung dengan baik, Parada Harahap
kembali fokus pada berbagai medianya dan tetap hadir dalam rapat-rapat di gang
Kenari.

 

Dalam Kongres PPPKI di Solo diintegrasikan
dengan Kongres Boedi Oetomo yang berselisih beberapa hari. Pada sekitar Kongres
PPPKI ini di Solo diadakan pertemuan para pemimpin surat kabar yang membentuk
organisasi yang diberi nama Sarikat Persoeratkabaran termasuk Parada Harahap.
Hasil Kongres PPPKI yang terpenting adalah upaya untuk memperkuat persatuan dan
kesatuan bangsa dan mmendorong munculnya partai-partai politik lebih banyak.
Namun tidak lama setelah Kongres PPPKI ini Ir Soekarno dkk dari Partai Nasional
Indonesia ditingkap karena selebaran politik yang kemudian ditahan di penjara
Soekamiskin Bandoeng. Tidak lama setelah penangkapan IrSoekarno ini Dr Soetomo
dan Dr Radjamin Nasoetion mendirikan partai baru di Soerabaja yang diberi nama
Partai Bangsa Indonesia (PBI). Surat kabar Bintang Timoer edisi Soerabaja
ditingkatkan menjadi surat kabar mandiri yang diberi nama Soera Oemoem yang
menjadi organ PBI. Ir Soekarno dkk baru dibebaskan pada tahun 1931.

 

Selama Ir Soekarno di penjara, partai PNI
dilarang yang kemudian Mr Sartono membentuk partai baru yang diberi nama Partai
Indonesia (Partindo). Sementara eks PNI yang lain membentuk partai alternatif
yang diberi nama partai Pendidikan Nasional Indonesia (yang juga disingkat PNI)
yang kemudian diperkaya oleh Soetan Sjahrir yang tidak kembali lagi ke Belanda
(studi) dan juga didukung oleh Mohamad Hatta di Belanda. Partindo cabang
Batavia diketuai oleh Amir Sjarifoeddin Harahap dan Partindo cabang Soerabaja
diketuai oleh Mohamad Jamin. Setelah dibebaskan dari penjara, Ir Soekarno lebih
memilih menjadi bagian dari Partindo. Untuk memperkuat dukungan di Sumatra,
Soetan Sjahrir (PNI) ke Padang (Residentie West Sumatra) sementara Ir Soekarno
dan Amir Sjarifoeddin Harahap pada tahun 1932 ke Sibolga (Residentie
Tapanoeli).

Sementara
itu nun di sana di Belanda, Mohamad Hatta dinyatakan lulus dan mendapat gelar
doktorandus (Drs) di sekolah ekonomi Rotterdam pada tanggal 5 Juli 1932 (lihat De
Telegraaf, 05-07-1932). Disebutkan yang lulus bersamaan dengan Mohamad Hatta
adalah Go Hwan Tjiang.

Seperti
yang dipersoalkan di atas, ada yang menulis ibu Siti Rachmiati (Anni) adalah
mantan (pacar) Mohamad Hatta. Apa, iya?
Siti Rachmiati lahir di
Bandung pada tanggal 16 Februari 1926. Pada bulan Mei di Bandoeng Soekarno
lulus dari THS. Jika Siti Rachmiati lahir tahun 1926 itu berarti Anni Noerdin
dan Abdoel Rachim menikah sekitar tahun 1925. Pada saat ini Mohamad Hatta
sedang studi di Belanda sejak 1921 (belum pernah pulang dan baru pulang tahun
1932). Memang Mohamad Hatta sekolah HBS di Batavia hingga tahun 1921, tapi
orang tua Anni masih di Oost Sumatra sebagai guru. Lantas bagaimana ceritanya
Mohamad Hatta pernah melamar (katakalah misalnya pacaran) dengan Anni,
kenyataannya tidak ada koneksi (relevansi waktu). Jadi, besar kemungkinan
tulisan yang menyatakan bahwa ibu dari Siti Rachmiati (istri Mohamad Hatta)
adalah mantan sesunggunya adalah hoax (aya-aya wae). Bahwa ayah dari Siti
Rachmiati (Abdoel Rachim) boleh jadi saling mengenal dengan Soekarno karena
sama-sama tinggal di Bandoeng (apalagi sama-sama berasal dari Jawa).

Berita
kelulusan Mohamad Hatta menjadi viral karena Mohamad Hatta sudah cukup
terkenal, lebih-lebih sebagai mantan ketua Perhimpoenan Indonesia di Belanda. Selesai
sudah tujuan utama Mohamad Hatta ke Belanda. Mohamad Hatta yang tidak pernah
pulang ke tenah air sejak kedatangannya di Belanda pada tahun 1921 tentu saja
ingin segera pulang.

Surat kabar berbahasa Belanda yang terbit di
Belanda dan di Hindia Belanda bertanya-tanya apakah Mohamad Hatta akan kembali
ke Hindia Belanda. Inforasi tentang kepulangan Mohaad Hatta hanya mereka
peroleh dari satu-satunya surat kabar pribumi di Batavia, Bintang Timoer (pimpinan
Parada Harahap). Bintang Timoer memberitakan bahwa Mohamad Hatta akan segera
berangkat ke tanah air. Berita dari Bintang Timoer inilah yang dikutip kantor
berita Aneta yang kemudian dilansir surat kabar di Belanda. Mengapa Bintang
Timoer
? Parada Harahap dan
Mohamad Hatta sudah sejak lama saling kenal, sejak kongres Sumatranen Bond di
Padang pada tahun 1919 dan 1921. Komunikasi via surat atau telegram tampaknya
terus terjaga.

Kepulangan
Mohamad Hatta sangat sunyi senyap. Pers berbahasa Belanda tidak berhasil
mendeteksinya. Apa sebab
?
Mohamad Hatta pulang ke tanah air tidak menggunakan kapal penumpang (komersil) Belanda,
tetapi kapal (dagang) Jerman ss Saatbrucken (yang berbasis di Hamburg). Mohamad
Hatta tidak langsung ke Batavia tetapi ke Medan, Mengapa
?

Keberadaan Mohamad Hatta
akhirnya terendus oleh surat kabar Deli Courant yang terbit di Medan (tentu
saja karena di surat kabar ini juga terdapat wartawan pribumi). Berita itu dikutip
kantor berita Aneta yang dilansir surat kabar Het nieuws van den dag voor
Nederlandsch-Indie, 20-08-1932. Disebutkan Mohamad Hatta, kemarin lusa [18
Agustus 1932] luput dari perhatian tiba di Medan dengan kapal ss. Saarbrucken yang
tampaknya menyamar sebagai pelaut.

 

Sudah barang tentu
sudah ada komunikasi antara Mohamad Hatta dan Parada Harahap. Mohamad Hatta
ingin ke kampong di Fort de Kock, sudah barang tentu lebih lancar dengan kapal
dari Batavia ke Padang (lalu ke Fort de Kock) dari pada jalan darat dari Medan
ke Fort de Kock via Tapanoeli (yang jalannya masih sulit dan jarang). Tapi
Mohamad Hatta diarahkan oleh Parada Harahap agar ke Medan sebab sudah ada yang
menyambutnya, yakni Abdoellah Loebis dan Djamaloedin alias Adinegoro. Tentu
saja mereka berdua dapat memberikan gambaran kampong halaman dan situasi dan
kondisi politik nasional di Hindia Belanda.

 

Bagaimana hubungan
Parada Harahap, Abdoellah Loebis dan Adinegoro
? Parada Harahap memulai karir jurnalistik sebagai
editor pada surat kabar Pewarta Deli di Medan tahun 1918 (yang dipimpin oleh
Abdoellah Loebis). Setelah surat kabarnya Sinar Merdeka di Padang Sidempoean
dibreidel tahun 1922, Parada Harahap hijrah ke Batavia yang lalu mendirikan
surat kabar mingguan Bintang Hindia pada tahun 1923 (masih editor sendiri),
kantor berita Alpena pada tahun 1925 (editor WR Soepratan) dan surat kabar
harian Bintang Timoer pada tahun 1926 (editor Johan Manoppo). Pada tahun 1928
Johan Manoppo bertugas di surat kabar berbahasa Belanda. Untuk mengisi
kekosongan ini Parada Harahap meminta kesediaan Djamaloedin yang baru pulang
studi jurnalistik di Eropa (adiknya Mohamad Jamin sudah dikenal Parada Harahap
di Suatranen Bond). Pada tahun 1929 Abdoellah Loebis datang ke Batavia menemui
Parada Harahap mencari editor karena dua editornya di Pewarta Deli keluar
(membentuk surat kabar baru). Parada Harahap menawarkan Djamaloedin, lalu
gayung bersambut. Djamaloedin alias Adinegoro antusias ke Medan. Selesai
persoalan Abdoellah Lubis (karena sulit encari editor andal di Medan, sementara
di Batavia tidak begitu sulit). Abdoellah Lubis dan Adinegoro yang
memfasilitasi Mohamad Hatta selama di Medan (hingga bisa pulang kampong ke Fort
de Kock).

Mohamad
Hatta tidak ke kampong di Fort de Kock karena sulit transportasi darat dari
Medan, Mohamad Hatta setelah di Medan ke Batavia via Singapoera (lihat Algemeen
Handelsblad, 21-08-1932). Disebutkan Mohamad Hatta yang ditunggu di Tandjoeng
Priok pada hari Minggu [21 Agustus 1932]tidak muncul diduga tetap berada di
Singapoera. Mohaad Hatta akhirnya tiba di Tandjong Priok pada tangga 24 Agustus
(lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 24-08-1932). Mohamad
Hatta dari Singapoera dengan kapal Generaal van der Heyden tiba hari Rabu pagi
di Tandjoeng Priok (lihat Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indie, 26-08-1932).

Mohamad Hatta akhirnya sudah berada di Batavia
(pusat perjuangan). Hari-hari pertama kehadirannya di Batavia situasi dan
kondisi politik terus meningkat. Kehadiran Mohamad Hatta telah menambah
ramainya peran para revolusioner. Disebutkan bahwa Mohamad Hatta akan bergabung
dengan partai PNI (lihat De Indische courant, 24-08-1932). Sebelumnya Ir
Soekarno lebih memilih Partindo. Dua matahari muncul di Batavia. Sebagaimana
diketahui PNI (lama) sebelunya berpusat di Bandoeng, setelah dilarang lalu
terbentuk dua partai baru partai Pendidikan Nasional Indonesia (PNI) dan Partai
Indonesia (Partindo) yang keduanya memilih berpusat di Batavia. Ketua Partindo
cabang Batavia adalah Amir Sjarifoeddin Harahap.

Pada
tahun 1933 adalah tahun yang paling krisis. Ir Soekarno ditangkap lagi karena
agitasi menentang otoritas Pemerintah Hindia Belanda. Selain itu, pers pribumi
yang radikal dibreidel termasuk Fikiran Rakjat (Soekarno dkk) di Bandoeng,
Pewarta Deli di Medan (pimpinan Abdoellah Lubis), Daoelat Rak’jat (organ partai
PNI), Soeloeh Indonesia (organ Partindo) dan Bintang Timoer (pimpinan Parada
Harahap).

Mohamad Hatta sudah aktif di organisasi partai
PNI dimotori Soetan Sjahrir dan Abdoel Moerad. Meski Mohamad Hatta sudah merasakan
pahit manisnya berpolitik di Belanda, tetapi tahun 1933 inilah untuk kali
pertama Mohamad Hatta merasakan situasi dan kondisi berpolitik yang mencekam.
Para revoluioner ditangkap, media-media revolusioner telah dibreidel..

Parada
Harahap sangat marah terhadap otoritas Peerintah Hindia Belanda. Parada Harahap
tidak ada takutnya, Ratusan kali dimejahijaukan selama karir jurnalistiknya
sejak dari Padang Sidempoean hingga Batavia. Penjara sudah kenyang bagi Parada
Harahap. Tanpa diduga Parada Harahap memimpin  tujuh revolusiner Indonesia ke Jepang. Pers
berbahasa Belanda melongo. Tujuh revolusioner ini berangkat pada tanggal 3
November 1933 dengan menumpang kapal Panama Maroe dari Batavia menuju Kobe.

Tujuh revolusioner ini, selain Parada Harahap
sendiri, juga termasuk Abdoellah Loebis (pemimpin surat kabar Pewarta Deli di
Medan; seorang guru di Bandoeng Dr Samsi Widagda, Ph.D. Selain itu ada
pengusaha batik di Pekalongan. Dalam rombongan ini juga terdapat Mohamad Hatta.
Tujuh revolusioner cukup lama di Jepang, total waktu termasuk perjalanan pp
selama dua bulan. Mereka di Jepang disambut dengan semangat. Parada Harahap di
Jepang mendapat gelar dari pers Jepang sebagai The King of Java Press. Pers
berbahasa Belanda di Batavia menyindir Parada Harahap lagaknya Menteri Ekuin
Indonesia di Jepang, yang punyak negaa adalah Pemerintah Hindia Belanda.

Rombongan
revolusioner kebali ke tanah air dan merapat di pelabuhan Tandjoeng Perak
Soerabaja pada tanggal 14 Januari 1933. Pada hari yang sama Ir Soekarno diberangkan
dari pelabuhan Tandjong Priok Batavia untuk diasingkan ke Flores. Di Soerabaja
tujuh revolusioner ini disambut para revolusioner antara lain dua tokoh Partai
Bangsa Indonesia (PBI) Dr Soetomo dan Dr Radjamin Nasoetion. Rombongan ini juga
turut disambut oleh Mohamad Jamin (ketua Partindo cabang Soerabaja).

Mengapa harus turun di Soerabaja? Untuk antisipasi,
wait en see. Jika langsung ke Batavia akan langsung ditangkap. Intel Belanda
terkecoh. Selain itu di Soerabaja lebih aman dan ada yang melindungi. Dr
Radjamin Nasoetion adalah salah satu pengurus organisasi pekerja pelabuhan di
Tandjong Perak. Dr Radjamin sejak 1926 adalah pejabat bea dan cukai (bidang
kesehatan) di Soerabaja dan Dr Soetomo sebagai pejabat rumah sakit kota. Di
pelabuhan Tandjong Perak adalah pelabuhan utama kapal-kapal Jepang.

Setelah
seminggu di Soerabaja, Parada Harahap dan Mohamad Hatta berangkat ke Batavia
(yang lain ke kota masing-masing). Tidak lama kemudian di Batavia Parada
Harahap dan Mohamad Hatta ditangkap dan ditahan. Mereka berdua tertolong di
pengadilan karena kesaksian konsulat Jepang di Batavia, lalu dibebaskan dari
tuduhan. Namun dalam perkembanganya, Mohamad Hatta dkk dari partai PNI
ditangkap dan ditahan dengan tuduhan telah melakukan agitasi di surat kabar
mingguan Daoelat Rak’jat edisi enam bulan sebelumnya. Pentolan partai PNI yang
ditangkap juga termasuk Soetan Sjahrir dan Abdoel Moerad.

Tunggu
deskripsi lengkapnya

Abdoel Rachim: Seorang Pegawai
Kereta Api

Pada
tahun 1923 Kantor Pusat Kereta Api Negara (Staatsspoor en Tramwegen) wilayah
Java dipindahkan dari Batavia (Weltevreden) ke Bandoeng (lihat De Preanger-bode,
13-09-1923). Semua pejabat dan pegawai juga pindah ke Bandoeng. Dalam daftar posisi
pegawai (bureauklerke) juga termasuk Abdoel Rachim, FH Laurens, GA Tamboenan
dan ERF van Motman.

Mohammad Noerdin guru yang sudah lama di Atjeh.
Mohammad Noerdin pernah bekerja untuk Prof Christiaan Snouck Hurgronje. Mohammad
Noerdin kemudian melanjutkan studi ke sekolah guru atas (HKS dengan bahasa
pengantar bahasa Belanda) di Bandoeng. Lama studi di HKS Bandoeng tiga tahun.
Lulusan HKS Bandoeng dapat mengajar di sekolah HIS (sekolah pribumi bahasa
pengantar bahasa Belanda). Mohammad Noerdin memulai studi di Bandoeng diduga
pada tahun 1924 (dan lulus tahun 1927). Keluarga Mohammad Noerdin berada di
Bandoeng akhir 1923 atau awal 1924.

Abdoel
Rachim menikah dengan Anni Noerdin (putri dari guru Mohamad Noerdin).
Pernikahan ini diduga kuat pada akhir tahun 1924. Hal ini berdasarkan cuti yang
diambil oleh Abdoel Rachim (lihat Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indie,
22-09-1924). Disebutkan karena alasan yang sangat penting terhitung mulai
tanggal 7 Oktober 1924  diberikan cuti di
Batavia dan Bandoeng, bureauklerk lste kl. A. Rachim. Dalam perkembangannya
Anni Noerdin yang sudah bekerja di Batavia pindah kerja ke Bandoeng.

Anni Noerdin di Batavia bekerja sebagai
pegawai di kantor de Volkslectuur dan kemudian ditransfer ke Bandoeng untuk bekerja
sebagai pegawai di Kantor SS en Tr Bandoeng (mengikuti suami). Hal ini dapat
diluhat pada Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indie, 14-05-1925 yang
memberitakan bahwa ditempatkan di kantor pusat perusahaan kereta Jawa
[Departemen Personalia] diangkat sebagai 1e ckerke ny. A. Rachim b. Noerdin,
sebelumnya bekerja di kantor de Volkslectuur.

Anni
Noerdin di Bandoeng mengambil cuti kerja selama tiga bulan (lihat De
locomotief, 26-12-1925). Disebutkan terhitung mulai tanggal 1 Jan. 1926 karena alasan
yang penting diberi cuti untuk jangka waktu tiga bulan kepada pegawai 1ste
kleerk di SS, ny. A. Rachim b. Noerdin. Hal ini diduga karena terkait dengan
kehamilan dan menunggu proses persalinan. Sebagaimana dicatat pada tanggal 16
Februari 1926 anak pertama Abdoel Rachim dan Anni Noerdin lahir yang diberi
nama Siti Rachmiati.

Abdoel Rachim di Bandoeng termasuk yang giat
berorganisasi. Hal ini dapat dilihat ketika terjadi kebakaran di Babakan di
Bandoeng tahun 1927 panitia pengumpulan dana bantuan diketuai oleh Abdoel
Rachim (lihat De koerier, 15-10-1927). Dalam kepanitian ini termasuk Dr Sjamsi
Widagda, Ph.D sebagai bendahara. Untuk sekadar diketahui Dr Sjamsi adalah teman
satu kelas Dahlan Abdoellah di Leiden (1917). Pada tahun ini di Bandoeng oleh
Ir Soekarno dibentuk organisasi kebangsaan yang diberi nama Perhimpoenan
Nasional Indonesia (PNI) yang mana Ir Soekarno mewakili dalam pembentukan supra
organisasi di Batavia yang dimotori oleh Parada Harahap (PPPKI). Abdoel Rachim
dan Dr Sjamsi diduga kuat adalah anggota PNI Bandoeng.

Abdoel
Rachim dan Anni Noerdin mendapat kenaikan pangkat menjadi Commies (lihat Algemeen
handelsblad voor Nederlandsch-Indie, 21-08-1928). Disebutkan sejumlah pegawai
SS diproosikan menjadi Commies diantaranya Abdoel Rachim, Anni Noerdin dan
Tamboenan. Anni Noerdin mengambil cuti kembali selama dua bulan terhitung sejak
tanggal 1 Juni 1929 (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 21-06-1929). Pengambilan
cuti ini diduga karena kehamilan dan proses persalinan.

Setelah kongres PPPKI di Solo tahun 1929, pada
bulan Desember Ir Soekarno dan kawan-kawan dari Partai Nasional Indonesia (PNI)
ditangkap karena tuduhan agitasi. Bentuk organisasi kebangsaan Perhimpoenan
Nasional Indonesia sendiri diubah menjadi partai poilitik menjelang Kongres
PPPKI 1928. Sebagai ketua partai PNI adalah Ir. Anwari. Abdoel Rachim diduga
kuat juga anggota partai PNI. Penangkapan pentolan PNI ini diduga terkait dalam
materi majalah berbahasa Soenda Banteng Priangan edisi-edisi bulan Juli,
September dan Oktober 1929 yang mana Ir Soekarno diduga yang menulis artikel.
Dalam edisi tersebut yang juga menjadi bagian dari tuduhan terdapat artikel
tentang Poenalie Samctie (kasus yang pernah diungkap Parada Harahap di Deli
pada tahun 1918).

Pada
awal tahun 1930 di rumah Abdoel Rachim di Tegallega Utara diadakan rapat PNI divisi
Bandoeng (lihat De koerier, 24-01-1930). Rapat ini diduga terkait dengan
penangkapan para pentolan PNI seperti Ir. Soekarno. Rapat ini merupakan rapat
pendiri pengurus baru PNI divisi Bandoeng. Anggota divisi Bandoeng termasuk ny.
Iskaq (istri dari Iskaq Tjokroadisoerjo yang ditahan). Selain di parti politik,
Abdoel Rachim juga aktif di organisasi kepanduan (pramuka). Dalam kongres
Kepandoean Indoesia yang kedua yang diselenggarakan di Bandoeng, dalam kepanitiaan
Abdoel Rachim duduk sebagai sekretaris (lihat De Indische courant, 30-05-1930).
Dalam kepanitiaan ini juga turut Dr Soekiman sebagai bidang kesehatan. Catatan:
Dr Soekiman adalah mantan ketua Perhipoenan Indonesia di Belanda (sebelum
Mohamad Hatta).

 

Dalam sidang perkara Ir Soekarno di pengadilan
Bandoeng pada bulan November 1930 nama Abdoel Rachim dikaitkan (lihat De
koerier,04-11-1930). Disebutkan terdapat komunikasi (surat) yang dikirimkan Ir
Soekarno kepada Abdoel Rachim sebagai pegawai kereta api. Dalam persidangan ini
ada materi tentang pemogokan. Dalam sudang yang diketuai oleh van Heukelom.
Salah satu pembela adalah Mr. Sartono.

Pada
awal tahun 1931 Abdoel Rachim masih tetap sebagai pegawai SS en TR dengan
pangkat Commies yang untuk sementara menjabat sebagai Iste Commies di kantor
tersebut (lihat De Indische courant, 27-01-1931).

Anni Rachim termasuk salah satu diantara yang diberhentikan
(karena efisiensi) pada tahun 1932 (lihat De Indische courant, 24-02-1932), Sementara
itu Abdoel Rachim dinaikkan pangkatnya menjadi Iste Commies (lihat De Indische
courant, 11-10-1932). Abdoel Rachim dan Anni dengan keluarga di Bandoeng diketahui
tinggal di Burg Coopsweg No. 31. Dalam perkembangannya Anni Rachim kembali dipekerjakan
di Kantor SS en Tr Bandoeng. Pada tahun 1936 Anni Rachim diberhentikan dengan
hormat dengan hak pensiun terhitung sejak tanggal 13 Desember 1936 (lihat Het
nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 19-01-1937).

Abdoel
Rachim dan Anni Noerdin tetap aktif dalam kegiatan organisasi. Pada tahun 1938
Kongres Perempuan ketiga diadakan di Bandoeng dari tanggal 23 hingga 28 Juli.
Ny A Rachim (Anni Noerdin) mempresentasikan makalah dalam kongres tersebut
dengan judul  Posisi Perempuan Pekerja
(lihat Bataviaasch nieuwsblad, 16-07-1938).

Dalam pemilihan anggota dewan kota
(gemeenteraad) Bandoeng, Abdoel Rachim termasuk salah satu kandidat dari golongan
pribumi (lihat De koerier, 01-08-1938). Dalam daftar golongan pribumi ini juga
termasuk Brata Koesoemah, Mohamad Enoch dan Emma Poerwadiredja. Abdoel Rachim
juga aktif dalam organisasi pekerja kereta api Spoorbond di Bandoeng.

Pada
tahun 1938 Kongres Partai Indonesia Raja (Parindra) yang kedua diadakan di
Bandoeng. Dalam kongres ini Abdoel Rachim adalah sebagai Ketua Panitia Kongres (lihat
Bataviaasch nieuwsblad, 24-12-1938). Dalam kongres ini ketua panitia membacakan
surat ucapan selamat dari Soesoehoenan Solo dan WR Soepratmen. Dalam kongres
ini dilakukan hening cipta karena Dr Soetomo pada bulan Mei meninggal di
Soerabaja dan WR Soepratman meinggal di Soerabaja pada bulan Agustus 1938. Dalam
kongres ini dinyanyikan lagu Indonesia Raja (karya WR Soepratman).

Partai Indonesia Raja (Parindara) dibentuk
pada tahun 1935 yang merupakan gabungan (fusi) dari Partai Bangsa Indonesia
(PBI) yang dipimpin oleh Dr Soetomo di Soerabaja dan organisasi kebangasaan
Boedi Oetomo. Organisasi partai PBI didirikan di Soerabaja pada tahun 1930 oleh
Dr Soetomo dan Dr Radjamin Nasoetion. Organisasi kebangsaan Boedi Oetomo
sendiri didirikan tahun 1908 oleh Soetomo dkk di Batavia. Tokoh-tokoh Parindra
antara lain Dr Soetomo, MH Thamrin, Parada Harahap dan Dr Radjamin Nasoetion.
Anggota Volksraad pada tahun 1938 dari Parindra antara lain MH Thamrin (dari
dapil West Java) dan Dr Radjamin Nasoetion (dari dapil Oost Java).

Pada
tahun 1941 MH Thamrin meninggal dunia. Tokoh awal PBI (cikal bakal Parindra) yang
masih ada antara lain Dr Radjamin Nasoetion dan Parada Harahap. Pada tahun 1942
terjadi pendudukan militer Jepang dan berakhir sudah era kolonial Belanda. Ir
Soekarno yang dievakuasi Belanda dari Bengkoeloe ke Padang pada bulan Juni 1942
didatangkan ke Batavia (demikian juga sebelumnya Mohamad Hatta yang dievaluasi
Belanda dari Banda ke Soekaboemi di datang ke Batavia pada bulan April 1942. Namun
pendudukan militer Jepang ini tidak lama karena kerajaan Jepang menyerah kepada
Sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945.

Pada masa pendudukan Jepang, umumnya para
revolusioner Indonesia di era kolonial Belanda bekerjasama dengan pemerintah
militer Jepang. Perwakilan pribumi (Indonesia) diketuai oleh Ir Soekarno dan
wakilnya Mohamad Hatta. Parada Harahap menjadi koordinator media. Untuk wali
kota Batavia diangkat Dahlan Abdoellah dan untuk wali kota Soerabaja diangkat
Dr Radjamin Nasoetion. Tentu saja ada juga revolsioner Indonesia yang menentang
kehadiran Jepang, antara lain Mr Amir Sjarifoeddin Harahap (yang harus mendekam
di penjara Malang). Untuk urusan kebudayaan (sebelumnya dikenal Volklectuur
atau Balai Poestaka) diketuai oleh Armijn Pane. Yang membantu Parada Harahap
dalam urusan media antara lain Adam Malik, Mochtar Lubis, Sakti Alamsjah
Siregar dan Boerhanoeddin Mohamad Diah.

Pada
tanggal 17 Agustus 1945 diadakan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Hal ini
dilakukan setelah para pemuda revolusioner seperti Adam Malik dan Chairoel
Saleh memaksa Soekarno dan Mohamad Hatta untuk memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.
Saat pasukan Sekutu-Inggris melucuti militer Jepang dan membebaskan interniran
Eropa-Belanda, pasukan NICA Belanda menyusul. Pada bulan Oktober sudah terjadi
pertempuran antara pejuang Indonesia dengan pasukan NICA-Belanda di Batavia.

Dalam situasi sulit dan belum menentu ini,
Wakil Presiden Mohamad Hatta menikah dengan Siti Rachmiati di Megamendoeng,
Poentjak pada tanggal 18 November 1945. Sudah barang tentu pernikahan ini
dilakukan secara diam-diam yang hanya dihadiri sejumlah keluarga dan kenalan
dekat (termasuk Ir Soekarno). Mohamad Hatta yang sudah berumur 43 tahun dan
Siti Rachmiati yang masih berusia 19 tahun harus berbulan madu pada bulan-bulan
terjadi perang antara Republiken dengan pasukan Sekutu-Inggris dan pasukan
NICA-Belanda.

Tunggu
deskripsi lengkapnya

Mohamad Hatta dan Keluarga: Nama Meutia Pemberian Nenek Diberikan Siti
Rachmiati Kepada Putri Sulung (Meutia Hatta)

Mohamad
Hatta menikah dengan Siti Rachmiati pada bulan November 1945 dalam situasi dan
kondisi sulit (terjadi perang antara Republiken dengan pasukan Sekutu-Inggrsi).
Pernikahan mereka ini dapat dikatakan sebagai De November Overeenkomst. Anak
mereka yang pertama lahir di Djogjakarta pada tanggal 21 Maret 1947, juga dalam
situasi sulit (menjelang penandatanganan Perjanjian Linggarjati). Nama apa yang
diberikan kepada sang buah hati
? Meutia Farida.

Mohamad Hatta nama lengkapnya adalah Mohamad Hatta
sementara Siti Rachmiati nama lengkapnya adalah Siti Rachmiati Meutia. Nama
Siti adalah pemberian sang ayah (Rachim, Jawa), Rachmiati nama pemberian sang
ibu (Anni, Atjeh). Sedangkan nama Meutia diberikan oleh sang nenek (Atjeh) merujuk
pada nama pahlawan Atjeh, Cut Nyak Meutia. Nama Meutia inilah yang direduksi
dari nama Siti Rachmiati yang kemudian Siti Rachmiati memberikan kepada sang
bayi. Nama Farida diberikan sang ayah (Mohamad Hatta). Nama lengkap sang putri
menjadi Meutia Farida.

Mohamad
Hatta (sebagai Wakil Presiden) terus di bawah tekanan dari perundingan ke
perundingan, Setelah Perjanjian Linggarjati, lalu Perjanjian Renville (1948)
dan akhirnya perundingan terakhir Perjanjian KMB (1949). Pada saat proses perundingan
KMB inilah sebagai sang istri, Siti Rachmiati dianggap dapat menikmati bulan
madu. Perundingan KMB yang diadakan di Den Haag, yang dipimpin oleh (perdana
menteri) Mohamad Hatta sendiri, sang istri Siti Rachiati turut diajak serta. Dan,
akhirnya pengakuan kedaulatan Indonesia (Perjanjian KMB) diserahterimakan di
Amsterdam pada tanggal 27 Desember 1949. Pada tanggal 29 Desember 1949 delegasi
Indonesia kembali ke tanah air. Di bandara Kemajoran, Presiden Soekarno dalam
pikiran boleh jadi lupa tengah menyambut delegasi tetapi merasa sedang menyambut
pasangan yang baru pulang dari bulan madu di Eropa (Mohamad Hatta en Siti
Rachmiati). Dengan pengakuan kedaulatan Indonesia, sesungguhnya juga mencerminkan
kedaulatan rumahtangga Mohamad Hatta dan Siti Rachmiati. Selama ini waktu
rumahtangga mereka banyak terpakai untuk berjuang demi kedaulatan Indonesia..

Tidak lama setelah Mohamad Hatta dan Siti
Rachmiati tiba di tanah air dari bulan madu di Belanda, di Djogjakarta
dilakukan perjanjian baru, bukan perjanjian antara bangsa (Belanda vs
Indonesia) tetapi perjanjian sesama anak bangsa Indonesia. Adik dari Siti
Rachmiati bernama Raharti mengikat janji dalam pertunangan dengan salah satu pejuang
kedaulatan Indonesia, Kolonel Subyakto. Baru sekadar pertunngan, pernikahan harus
ditunda hingga Raharti menyelesaikan studinya.
Kolonel
Subyakto.adalah Kepala Staf Angkatan Laut (RIS).

 

Siti Rachmiati sendiri pada era kolonial
Belanda mengikuti pendidikan sekolah berasrama di Bandoeng. Siti Rachmiati
lulus dari sekolah Eropa (ELS) Bandoeng dan kemudian melanjutkan ke sekolah
berasrama (masih) di Bandoeng, Het Christelijk Lyceum di Dagoweg. Namun baru
dua tahun sekolah ditutup karena terjadinya pendudukan militer Jepang.
Tampaknya Siti Rachmiati tidak berhasil menyelesaikan studi dan hanya sampai
dua tahun pertama di Lyceum.

Setelah
dibubarkannya RIS (17 Agustus 1950) dan kembali menjadi Negara Kesatuan
Republik Indonesia NK(RI), jiwa Mohamad Hatta dan Siti Rachmiati semakin
menyatu dalam batin berkeluarga. Mohamad Hatta semakin sering berada di rumah. Tidak
ada lagi gangguan politik yang serius seperti masa-masa perang kemerdekaan saat
Siti Rachmiati menikah dengan Mohamad Hatta dan selama mengandung Meutia
Farida. Siti Rachmiati mulai mengandung lagi. Putri kedua mereka lahir di
Djakarta pada tanggal 2 Maret 1952. Namanya diberi Gemala Rabiah.

Putri sulung, Meutia Farida sudah mulai
bersekolah di tahun 1954. Siti Rachmiati menyekolahkan Meutia Farida di sekolah
dasar Perwari di Pegangsaan. Sementara sang adik Gemala Rabiah masih kecil.
Sang kakek (Abdoel Rachim) dan nenek (Anni Noerdin) juga sering mengunjungi dua
cucu. Abdoel Rachim sebagai direktur NV Handel Mij. Martaco’ sejak awal
pengakuan kedaulatan Indonesia juga telah mengakuisisi percetakan Drukkerij
John Kappee di jalan Gunung Sahari No.46.

Setelah
naik kelas ke kelad dua Meutia Farida, Siti Rachmiati mengandung lagi. Putri
ketiga mereka lahir pada tanggl 25 Januari 1956. Namanya diberi Halida Nuriah. Siti
Rachmiati semakin sibuk dengan tiga putri yang cantik-cantik.Siti Rachmiati
sangat menyukai peran sebagai ibu muda ini. Seperti pernah dikatakan Siti
Rachmiati ‘Saya tidak pernah merasakan pahitnya perjuangan kemerdekaan Indonesia,
Saya juga tidak memiliki pengalaman dalam gerakan perempuan. Saya tidak
terbiasa berpidato’.

Siti Rachmiati untuk urusan di luar rumah
tangga, tampaknya tidak bisa mengimbangi sang suami, Mohamad Hatta. Berbeda
dengan orangtua Siti Rachmiati yang sama-sama aktivis pergerakan. Sang ayah,
Abdoel Rachim semasa kolonial Belanda adalah anggota aktif partai PNI dan partai
Parindra di Bandoeng. Sementara sang, ibu Anni Noerdin aktif dalam organisasi
perempuan, Dalam Kongres Perempuan yang kedua di Bandoeng, Anni Noerdin
mempresentasikan makalah berjudul Posisi Perempuan Pekerja. Anni Noerdin saat
itu adalah pensiunan pegawai SS en Tr di Bandoeng.

Tunggu
deskripsi lengkapnya

 

*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi:
akhirmh@yahoo.com


, Terimakasih telah mengunjungi Dului.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.

Most Popular

To Top