Sejarah Indonesia

Sejarah Menjadi Indonesia (55): Sejarah Non-Blok Indonesia Konteks Pertahanan; Sekutu Membagi Indonesia Barat dan Timur




false
IN


























































































































































 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog Klik Disini 

Baru-bari ini seorang analisis (pertahanan) militer Connie
Rahakundini Bakrie berpendapat bahwa dalam mengantisipasi kemungkinan bentrok
antara China dan Amerika Serikat di Lautan ‘Laut China’ Pasifik ada baiknya
Indonesia mengaplikasikasikan strategi Non-Blok dalam bidang pertahanan dengan mengerjaksamakan
Indonesia Bagian Barat dengan China dan Indonesia Bagian Timur dengan Amerika
Serikat. Apa bisa, iya? Nah, itu di pertanyaannya.

China jelas memiliki kubu (blok) pertahanan sendiri,
Amerika Serikat juga pun demikian. Indonesia dengan banyak negara lain berada
pada kelompok Non-Blok. Diantara negara-negara Non-Blok juga ada yang membuat
kerjasama pertahanan dengan negara lain. Dalam konteks inilah Connie
Rahakundini Bakrie mewacanakan. Sementara Indonesia selama ini kebijakan luar
negerinya selalu mengacu pada strategi Non-Blok tersebut. Gerakan Non-Blok
sendiri lahir dari adanya persaingan antara Blok Timur dan Blok Barat. Tujuan
Gerakan Non Blok ke dalam adalah mengusahakan kemajuan dan pengembangan
ekonomi, sosial serta politik yang jauh tertinggal dari negara maju. Sedangkan,
tujuan Gerakan Non Blok ke luar adalah berusaha meredakan ketegangan antara
Blok Timur dan Blok Barat. Tujuannya untuk menuju perdamaian dan keamanan
dunia.

Lantas mengapa Connie Rahakundini Bakrie mengaplikasikasikan
strategi Non-Blok dalam bidang pertahanan dengan mengerjaksamakan Indonesia
Bagian Barat dengan China dan Indonesia Bagian Timur dengan Amerika Serikat? Sekali
lagi itulah pertanyaannya. Lalu seperti apakah sejarah awal pertahanan dunia
sehingga melahirkan gagasan Gerakan Non-Blok?
Seperti kata ahli sejarah
tempo doeloe,
semuanya
ada permulaan.
Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah
nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber
sejak
tempo
doeloe
.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’
seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya
digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga
merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan
artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel
saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah
pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk
lebih menekankan saja*

Perang Dunia: Sejak Hindia Belanda hingga
Republik Indonesia

Amerika Serikat
memiliki sejarah yang panjang di Indonesi, bahkan sejak era VOC, kapal-kapal
Amerika Serikat (via Afrika Selatan) hilir mudik antara kota-kota pelabuhan
pantai timur Amerika Serikat dengan Batavia (kini Jakarta). Amerika Serikat
lebih dulu mengenal Indonesia daripada Filipina. Keberadaan Amerika Serikat di
Pasifik, termasuk Asia Tenggara (Indonesia dan Filipina) bermula ketika Amerika
Serikat dengan sangat tergesa-gesa melakukan invasi di pulau-pulau kecil di
Pasifik dan (kepulauan) Filipina pada bulan Juni 1898.

Invasi
Amerika Serikat di Filipina membuat negara-negara molohok. Tidak ada angin
tidak ada hujan. Bahkan Gubernur Spanyol di Filipina tidak tahu apa yang
menjadi pangkal masalah hingga angkatan laut Amerika Serikat membombardi Manila
dan menduduku Capite di teluk Manila. Surat kabar Opregte Haarlemsche Courant,
14-06-1898 memberitakan bahwa ‘angkatan laut Amerika Serikat berangkat dari
Havana dengan 11 kapal. Selain Guam juga angkatan laut Amerika Serikat
akan  melakukan serangan di Cavite (baca:
Teluk Manila). Alasan Amerika disebutkan serangan ke Pasifik ini sebagai
penebusan karena penderitaan rakyat Cuba yang miskin tertindas (di bawah
kekuasaan Spanyol). Amerika Serikat akan tumbuh dengan baik jika digabungkan
kepulauan di Pasifik barat yang membentuk link dalam rantai deposit batubara
dan stasiun maritim yang juga dapat menghubungkan tanah air Monroe dengan Timur
Jauh. Disebutkan bahwa publik masih belum memahami mengapa Paman Jonathan bisa
memulai perang dengan begitu tergesa-gesa, begitu sedikit kesiapannya’.

Pendudukan Guam
(Kepulauan Mariana) pada tanggal 20 Juni 
1898 dan serangan segera ke Manila (kepulauan Filipina) bermula ketika
dua bulan sebelumnya Amerika Serikat terlibat perang di Cuba, yang mana para
pemimpin Cuba melakukan perlawanan kepada Spanyol. Sementara perang masih
berlangsung di Cuba, sebanyak 11 kapal Amerika Serikat menuju Pasifik untuk
menduduki (invasi) pada wilayah-wilayah koloni Spanyol. Beberapa hari setelah
pendudukan Filipina, Presiden Amerika Serikat mengatakan:

Presiden
McKinley berpidato pada Hari Kemerdekaan Amerika Serikat (7 Juli 1898)
mengatakan bahwa rakyat Amerika harus berterima kasih kepada Tuhan atas
kemenangan yang diperoleh melalui darat dan laut dan memohon kepada-Nya atas
bencana besar yang dibawa perang, segera untuk berakhir. Semoga Dia segera
mengembalikan ke tanah air tercinta kita berkat kedamaian, kepada semua
penghuni negeri yang sekarang dinaturalisasi sebagai akibat dari perang,
memulihkan hak istimewa yang tak ternilai untuk keselamatan dan istirahat serta
kemakmuran. Presiden juga menyatakan siap berunding dengan Spanyol (lihat Algemeen
Handelsblad, 10-07-1898).

Apa yang
dilakukan (pemerintah) Amerika Serikat terhadap Filipina di Pasifik (tetangga
Hindia Belanda-Indonesia) di luar nalar, hanya karena semata-mata karena urusan
internal (permasalahan) antara (kerajaan) Spanyol dengan para pemimpin lokal di
wilayah koloninya. Amerika Serikat hanya berdalih sebagai penebusan karena
penderitaan rakyat Cuba yang miskin tertindas (di bawah kekuasaan Spanyol).
Jelas dalam hal ini Amerika Serikat telah bersikap arogan. Namun tujuan utamnya
seperti disebut Presiden Amerika Serikat untuk memulihkan hak istimewa yang tak
ternilai untuk keselamatan dan istirahat serta kemakmuran yang mana Amerika
Serikat akan tumbuh dengan baik jika digabungkan kepulauan di Pasifik barat
yang membentuk link dalam rantai deposit batubara dan stasiun maritim yang juga
dapat menghubungkan tanah air Monroe dengan Timur Jauh.

Pada
saat itu Spanyol mulai melemah dan posisi lemah, sementara Amerika Serikat. yang
pernah terjajah dan melakukan perang kemerdekaan melawan Inggris dan merdeka 4
Juli 1776, sedang on fire baik kemajuan dalam negeri maupun (sistem) pertahanan
(militer) menjadi penjajah baru (mengikuti negara-negara besar Eropa, seperti
Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris dan Prancis). Kehadiran Amerika Serikat di
dalam daftar penjajah (baru) ibarat gajah (Spanyol) lawan gajah (Amerika
Serikat), pelanduk yang terinjak (Cuba dan Filipina). Dua gajah ini tentu saja
hanya memiliki satu motif: keserakahan. Hanya saja Amerika Serikat datang
dengan dalih untuk mengentaskan penduduk wilayah (negara) miskin dari
penindasan Spanyol. Negara-negara besar seperti Inggris (koloni di Semenanjung),
Belanda (Indonesia) dan Prancis (Indochina) tidak bisa berbuat banyak, melawan
Amerika Serikat yang lagi on fire hanya menimbulkan masalah sendiri.

Invasi Amerika
Serikat ke Pasifik barat di Filipina (termasuk Guam) menjadi pangkal perkara
pengaruh Amerika Serikat di Jepang, Korea dan China. Bukan pengaruh perang
(militer) tetapi pengaruh sosial (pendidikan, kesehatan dan agama). Sistem
pendidikan Amerika Serikat diadopsi di negara-negara Asia Timur tersebut. Namun
diantara tiga negara Asia Timur ini Jepang belajar cepat (mengikuti sejarah
awal kemajuan Amerika Serikat) dan mulai memahami geopolitik Amerika Serikat di
kawasan Pasifik barat. Minat Jepang untuk melakukan invasi mulai timbul dengan
dua tujuan: menyingkirkan Amerika Serikat dan mengeksploitasi kekayaaan
negara-negara Asia Timur dan Asia Tenggara.

Dampak
kehadiran Amerika Serikat di Pasifik barat (terutama) di seputra Laut Cina dan
motif Jepang untuk ekspansif mulai dirasakan di Filipina. Manuel L. Quezon,
Presiden Senat (Filipina) di bawah pemerintahan Amerika Serikat (Gubernur
Jenderal) dalam kongres rakyat di London yang dihadiri pakar dan pemerhati
internasional pada tahun 1911, menyuarakan pendapat bahwa Amerika Serikat harus
segera keluar dari Amerika Serikat dan memberikan kemerdekaan kepada Filipina (lihat
De Nederlander, 18-05-1911). jika tidak maka Jepang akan melakukan invasi di
Asia (termasuk Filipina) yang bentrok adalah Amerika Serikat dan Jepang dan
yang menderita adalah rakyat Filipina. Pakar lain ada juga yang mengatakan
kemungkinan munculnya motivasi Jepang untuk invasi karena dilandasi kemajuan
dan ingin lebih maju yang dengan sendirinya membutuhkan resource di atas
wilayah Jepang yang padat populasi. China sendiri baru terbentuk sebagai negara
Republik pada tahun 1912 (oleh revolusioner China Sun Yat Sen).

Motivasi Jepang
untuk invasi di Asia, yang disampaikan Quezon dari Filipina terlamat direspon
Amerika Serikat yang baru tahun 1935 Amerika Serikat memberikan kemerdekaan
Filipina. Sudah sangat terlambat, respon Amerika Serikat itu, karena Jepang
sudah menggurita dan sudah mulai memprovikasi perang Pasifik. Amerika Serikat
telah mendapat saingan baru (sejak arogansi Amerika Serikat invasi ke Pasifik
barat pada tahun 1898). Para pemerhati internasional melihat gelagat Jepang ini
sangat nyata karena saingannya Amerika Serikat dalam posisi lemah karena jarak
geografis Amerika Serikat yang jauh ke Pasifik barat (relatif wilayah geografis
Jepang di Asia). Aliansi stratgis Jepang dengan Jerman dan Italia menjadi momok
bagi Amerika Serikat yang merasa dirinya sebagai pemimpin Sekutu (pasca Perang
Dunia I).

Jepang
dan Amerika Serikat adalah dua gajah baru dalam peta dunia sejak era kolonisasi
Portugis dan era VOC. Tidak hanya pelanduk Filipina (persemakmuran Amerika
Serikat) yang akan terinjak dalam perseteruan baru dua gajah ini. Juga yang
akan ikut terinjak adalah Inggris di Semenanjung dan Borneo Utara, Prancis di
Indochina dan Belanda di Indonesia serta Portugis di Makao dan Timor bagian
timur (kini Timor Leste). Jepang sangat berambisi membentuk Asia Raya (Asia
Timur dan Asia Tenggara). Langkah pertama Jepang adalah gerakan militer Jepang
di Korea dan invasi ke Mansuria (Tiongkok) tahun 1937. Kini giliran Amerika
Serikat yang molohok.

Jepang semakin
berambisi di Asia, di Eropa kekuatan Jerman dan Italia menjadi ancaman besar pada
negara-negara tetangga. Amerika Serikat yang menjadi pemimpin Sekutu dalam
skala dunia mulai ciut nyali. Perhatian Amerika Serikat terbagi (antara Asia
dan Eropa). Rasa galau Amerika Serikat ini dapat dipahami oleh Jepang. Di atas
jago masih ada jago.

Tunggu deskripsi
lengkanya

Gerakan Non-Blok: Apakah Dunia Telah Berubah?

Tunggu deskripsi
lengkanya

 

*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi:
akhirmh@yahoo.com


, Terimakasih telah mengunjungi Dului.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.

Most Popular

To Top