Sejarah Indonesia

Sejarah Menjadi Indonesia (86): Gunung dan Danau di Bukit Barisan Sumatra Zaman Kuno; Toba, Ophir, Kerinci, Dempo, Leuser




false
IN


























































































































































 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog Klik Disini 

Gunung
dan danau di Indonesia sedikit banyak ada kaitannya. Gunung terbentuk di zaman
purba tetapi danau bisa terbentuk atau menghilang akibat aktivitas vulkanik. Letusan
gunung menyisakan kawah yang dapat terbentuk danau dan gempa vulkanik dapat
membuat tanggul danau terbongkar lalu danau menyusut (menghilang) seperti danau Siabu (di Angkola Mandailing) dan danau Tangse (di Aceh). Pada zaman kuno, danau
dan gunung secara bersama-sama terhubung dengan aktivitas manusia. Gunung dan danau
diduga kuat menjadi dasar pemilihan dan penetapan tempat tinggal karena terkait
dengan sumber dan spirit kehidupan dalam hal kaitannya dengan lahan produktif
(lahan subur dan sumber tambang), religi dan sebagainya. Status gunung (aktif
maupun tidur) selalu menjadi perhatian.

Para ahli menyebut danau Toba terbentuk dari
aktivitas gunung api di zaman purba. Letusan yang hebat dan mungkin terjadi beberapa
kali membentuk kawah yang luas dan tergenang air yang menyebabkan terbentuk
danau. Bagaimna gunung api meletus dengan dhasyat dan terbentuk danau besar masih
terus menjadi perhatian para peneliti. Gunung (Toba) diperkirakan meletus
terakhir sekitar 74.000 tahun lalu. Seorang geolog Belanda van Bemmelen (1939) menyimpulkan
bahwa danau Toba, (panjang 100 Km; lebar 30 Km) terbentuk dari aktivitas gunung
api karena dikelilingi oleh batu apung sisa letusan. Peneliti berikutnya menemukan
debu riolit (rhyolite) seusia batuan Toba di Malaysia dan bahkan debu itu telah
mencapai 3.000 Km ke utara di India Tengah dan para ahli kelautan juga menemukan
jejak-jejak batuan Toba di samudra Hindia dan bahkan hingga teluk Benggala. Hingga
sejauh ini penelitian seputar Toba masih terus berlanjut. Sebab masih banyak
misteri di balik (gunung atau danau) raksasa yang sedang tidur itu. Seorang peneliti
Indonesia Fauzi (seismolog pada Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika sarjana
fisika dari Universitas Indonesia lulusan 1985 pernah melakukan studi (letusan)
danau Toba dan berhasil meraih gelar doktor dari Renssealer Polytechnic
Institute, New York, 1998 (Wikipedia).

Okelah
kalau begitu. Lantas bagaimana terbentuknya sejarah gunung dan danau di Sumatra?
Jelas bahwa gunung dan danau umumnya sudah terbentuk pada zaman purba. Itu satu
hal. Hal lainnya yang juga penting adalah danau dan gunung menjadi penting bagi
manusia. Sebab kehadiran penduduk di Sumatra untuk menjadikan kawasan gunung
dan danau sebagai hunian (migrasi) dan kedatangan orang asing (perdagangan dan
koloni) menjadi penting dalam sejarah Indonesia. Bagaimana semua itu
berlangsung? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan.
Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita
telusuri sumber-sumber tempo doeloe.
.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.

Gunung dan Danau di Sumatra Zaman
Kuno: Danau Toba dan Gunung Ophir

Sebelum
pulau Kalimantan dikenal kembali, pulau tersebut disebut sebagai pulau
Taprobana yang sudah diperbinjangkan di Eropa dan telah dipetakan oleh
Ptolomeus pada abad ke-2. Dimana letak pulau Taprobana, yang terdapat pada peta
Ptolomeus yang dipublikasikan pada tahun 150 M menjadi kontroversi lebih dari
1.000 tahun, pada artikel sebelum ini di dalam blog ini telah dibuktikan bahwa
pulau Taprobana secara tetap adalah pulau Kalimantan. Satu lagi yang pernah
diperdebatkan lebih dari 1.000 tahun adalah posisi GPS dimana gunung Ophir
berada. Dalam origin sejarah inilah artikel ini membicarakan gunung-gunung yang
terdapat di (pulau) Sumatra.

Nama Ophir sudah disebut dalam kitab suci
seperti Injil. Itu berarti gunung Ophir sudah dikenal jauh sebelum kita suci
ada. Ophir disebut sebagai gunung yang kaya dengan emas.
Raja
Solomon (Nabi Sulaiman) telah menerima menerima upeti berupa emas dari Raja
Tirus (Hiram) yang berasal dari Ophir.
Secara
khusus dalam Injil disebutkan bahwa Raja Solomon menerima emas, perak, kayu
cendana, mutiara dan gading dari suatu kota pelabuhan (negeri) bernama Ophir setiap
tiga tahun. Sementara itu dalam kita suci Al-Quran (Al-Anbiya 81) hanya disebut
kapal Nabi Sulaiman yang berlabuh di negeri yang diberkahi (Dan (Kami
tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus
dengan perintahnya ke negeri yang Kami beri berkah padanya. Dan Kami Maha
Mengetahui segala sesuatu).

Dimana
pulau Taprobana, nama Ophir kembali menjadi pembicaraan pada awal era navigasi
pelayaran Portugis (di Eropa) ke Hindia Timur. Seperti gunung Ophir, pulau
Taprobana juga disebut sebagai penghasil emas. Dalam hal inilah emas menjadi
ekspektasi dari navigasi pelayaran (pencarian) yang membutuhkan daya dan dana
yang besar. Dan, pada akhirnya pelaut-pelaut Portugis berhasil mencapai pulau
Ceylon yang mereka anggap sesuai nama pulau pada peta Taprobana. Pelaut-pelaut
Portugis kemudian mencapai Malaka pada tahun 1511. Dalam hal inilah
pelaut-pelaut Portugis menyebut nama salah satu gunung di pantai barat
Semenanjung Malaka sebagai gunung Ophir.

Posisi GPS gunung Ophir yang disangka pelaut-pelaut
Portugis berada di perbatasan Malaka dan Muar. Sebelum muncul nama gunung Ophir
pada peta-peta Portugis, di wilayah Semenanjung sudah dikenal dua nama gunung
yakni gunung Malaya dan gunung Raja. Pada era Hindoe Bodha juga telah disebut dua
nama gunung di wilayah Angkola Mandailing yakni gunung Malea di Mandailing dan
gunung Lubu Raja di Angkola. Malea atau Malaya merujuk pada nama gunung
Himalaya (di India) sedangkan Raja merujuk pada raja atau kaisar. Nama Malaya juga
menjadi nama kota yang disebut pedagang-pedagang Moor sebagai Malaka dan pelaut-pelaut
Portugis mengeja dan mengidentifikasi dalam peta sebagai Malacca. Jika nama
Taprobana menyangka pulau Ceylon, pelaut-pelaut Portugis menyangka gunung Muar
adalah gunung Ophir. Nama gunung Muar (juga nama kota dan nama sungai) diduga
kuat merujuk pada nama Moor (Moar atau Muar) karena kota Muar di sungai Muar
adalah tempat komunitas orang-orang Moor.

Sejak
kehadiran pelaut-pelaut Portugis di Malaka, para pedagang-pedagang Portugis
mulai bermunculan dan telah mengeksplorasi semua pelabuhan di seluruh Hindia
Timur seperti bagian timur Sumatra, pantai utara Jawa dan Nusa Tenggara hingga
Maluku. Pada awal-awal navigasi pelayaran Portugis ini bahkan sudah mencapai Tiongkok
(pulau Tunmen) pada tahun 1514. Tidak begitu jelas kapan pelaut-pelaut Portugis
mengeksplorasi kota-kota pelabuhan di pantai barat Sumatra. Namun yang jelas
pelaut-pelaut Portugis baru mencapai Brunai (di pulau Kalimantan) pada tahun 1521
setelah terusir dari wilayah Canton di pulau Tunmen.

Besar dugaan pelaut-pelaut Portugis sudah ke
wilayah pantai barat Sumatra sebelum dari Malaka, seorang utusan Portugis Mendes
Pinto mengunjungi Kerajaan Aru di ibu kotanya di Panaju pada tahun 1537.
Kerajaan Aru ini adalah kerajaan Batak di pantai timur Sumatra yang beribukota
Panaju yang terletak diantara dua pertemuan sungai Batang Pane dan sungai
Barumun. Dalam laporan Mendes Pinto ke Kaptein Portugis di Malaka ini
terindikasi bahwa pelaut-pelaut Portugis sudah mengenal pantai barat Sumatra
yang mana Mendes Pinto menyebut nama (pelabuhan) Barus sebagai wilayah
yurisdiksi Kerajaan Aru. Jika mengacu pada keterangan kitab suci bahwa Ophir
menghasil produk dari emas, kayu cendana dan gading. Kerajaan Aru tidak hanya
menghasilkan emas, kayu cendana dan gading, juga menghasilkan kamper dan
kemenyan. Barus diduga pada zaman kuno adalah pelabuh ekspor yang sangat besar.
Hal ini mengacu pada catatan geografis Ptolomeus pada abad ke-2 yang menyatakan
bahwa Sumatra bagian utara adalah sentra produksi kemper. Dalam literatur Eropa
pada abad ke-5 disebut bahwa kamper diekspor dari suatu pelabuhan yang disebut
Barus. Besar dugaan bahwa kunjungan Mendes Pinto ke Kerajaan Aru dalam rangka
kerjasama ekonomi perdagangan, yang boleh jadi menyimpulkan bahwa Semenanjung
Malaka dimana gunung Ophir mereka identifikasi tidak menghasilkan apa-apa
seperti yang disebut dalam kitab sudi maupun literatur Eropa. Dengan
mengidentifikasi Barus sebagai pelabuhan ekpor kamper di zaman kuno,
pedagang-pedagang Portugis mulai yakin bahwa wilayah Kerajaan Aru menyimpan
produk kekayaan yang melimpah seperti emas, gading, kamper dan kemenyan.  

Di
Semenanjung Malaka, diantara semua nama geografis yang penting (kota, gunung
dan sungai) hanya mengubah nama satu gunung yakni gunung Malaya dengan nama
Ophir karena Malaya sendiri sudah diidentifikasi sebagai nama sungai dan nama
kota. Pada zaman kuno bahkan hingga era Portugis, nama tempat, sungai dan
gunung yang berkaitan saling tertukar seperti Malaya (yang di zaman kuno
merujuk pada nama Himalaya). Hal serupa itu juga terjadi di pantai barat
Sumatra, semua nama geografis yang penting tetap dipertahankan kecuali nama
gunung Pasaman diubah dan diidentifikasi pada peta Portugis selanjutnya sebagai
gunung Ophir.

Penamaan gunung Pasaman menjadi gunung Ophir
diduga sekitar tahun 1537 saat Mendes Pinto berkunjung ke Kerajaan Aru. Sebab
wilayah Pasaman (yang sekarang) juga termasuk wilayah yurisdiksi Kerajaan Aru
dimana pelabuhannya berada di Oedjoeng Gading (dekat Air Bangis yang sekarang).
Nama Oedjoeng Gading dalam hal ini besar dugaan merujuk pada produk gading yang
dihasikan diekspor melalui pelabuhan Oedjoeng Gading. Nama Pasaman pada
peta-peta Portugis juga masih ada yang menyebut nama Pasaman sebagai nama
tempat di muara sungai, juga nama sungai. Sungai Pasaman ini berhulu di wilayah
Mandailing di seputar gunung Kulabu. Sedangkan gunung Malintang di Mandailing (sambungan
gunung Kulabu) yang sungainya bernama Batang Sikarbo bermuara di kota pelabuhan
Oedjoeng Gading.

Seberapa
tepat pelaut-pelaut Portugis menamai gunung Pasaman di pantai barat Sumatra dengan
nama gunung Ophir, tentu saja setelah penamaan yang kurang tepat pada gunung
Malaya di Semenanjung sebagai gunung Ophir. Boleh jadi Mendes Pinto telah
mendapat keterangan yang banyak di Kerajaan Aru bahwa gunung yang banyak
menghasilkan emas adalah gunung Pasaman. Sejak inilah diduga nama gunung Ophir
ditabalkan pelaut-pelaut Portugis pada gunung Pasaman. Pelaut-pelaut Portugis
tampaknya merasa telah menemukan nama tempat yang disebut Ophir pada kitab suci
Taurat dan Injil.

Nama Pasaman diduga kuat merujuk pada nama
Batak (Angkola Mandailing) yang biasa mengidentifikasi nama tempat dengan
awalan pa atau par seperti Pakantan (di lereng gunung Kulabu), Panobasan
(lereng gunung Lubuk Raya), Pargarutan, Parlampungan, Paroman, Pardomuan,
Panindoan, Panyabungan (ibu kota kabupaten Mandailing Natal) dan Panti
(kecamatan di kabupaten Pasaman Barat). Pada era Hindia Belanda wilayah Pasaman
ini dipisahkan karena barier gunung dan dimasukkan ke dalam wilayah
administrasi pembangunan Residentie Padangsch Benelanden. Peneliti Belanda
menemukan suatu prasasti di Panti yang berasal dari zaman kuno (era Kerajaan
Aru) yang beraksara Batak. Pada peta Portugis di atas (peta Sumatra yang
disebut nama lama sebagai Taprobane) kawasan ini ditandai sebagai Tanjung Batah
atau Cabo Batah (kini kecamatan Batahan, kabupaten Mandailing Natal), suatu
tanjung yang menjulur ke laut dari rantai gunung Kulabu dan gunung Malintang.
Pada masa ini di wilayah Kabupaten Pasaman Barat (dimana gunung Ophir berada) berdasarkan
Sensus Penduduk 2010 terdapat lebih dari 100.000 jiwa subetnik Mandailing
(belum termasuk subetnik Angkola).

Pelaut-pelaut
Portugis semakin yakin Ophir itu berada di pantai barat Sumatra, Hal itu dapat
dikaitkan dengan litertur Eropa abad ke-5 yang menyatakan bahwa kamper diekspor
dari pelabuhan yang disebut Baroes. Nama Baroes juga masih diidentifikasi
pelaut-pelaut Portugis seperti pada peta di atas. Gunung Ophir ini dapat
dilihat dari laut sebagai gunung tertinggi di kawasan.

Wilayah antara Barus dan Pasaman diduga kuat
sudah sejak zaman kuno menjadi tujuan navigasi pelayaran pedagangan orang-orang
India. Koloni India diduga terdapat di muara sungai Batang Natal di Linggabayu
(nama India) menuju hilir sungai Batang Gadis di pedalaman, sedangkan Batahan
di muara sungai Batahan rute menuju hulu sungai Batang Gadis di Pakantan. Pada
pertemuan sungai Batang Gadis (Mandailing) dan sungai Batang Angkola (Angkola)
di pedalaman di danau Siais terdapat pusat peradaban zaman kuno yang kini salah
satu situsnya adalah candi Simangambat (yang dibangun pada abad ke-8). Pusat
candi Simangambat yang berada di sisi barat gunung Malea inilah yang diduga ibu
kota awal Kerajaan Aru sebelum relokasi ke sisi timur gunung Malea di Binanga.
Nama Binanga sendiri sudah disebut pada prasasti Kedukan Bukit 682 M. Catatan:
Linggabayu, Batahan dan Odjoeng Gading serta Sangkunur di Angkola (dekat danau
Siasis) pada zaman kuno masih berada di pantai (namun kini berada di pedalaman
karena terjadinya pembentukan daratan dari proses sedimentasi di daerah muara
sungai).

Sejak
kapan pedagang-pedagang India mencapai pantai barat Sumatra seperti di Baroes
dan Linggabayu tidak diketahui secara pasti, namun diperkirakan jauh sebelum
terbentuknya peradaban Hindoe Boedha di pedalaman (Kerajaan Aru yang berpusat
di candi Simangambat). Jika mengacu pada catatan geografi Ptolomeus abad ke-2
yang menyebuat bagian utara Sumatra adalah sentra produksi kamper boleh jadi
produk emas bersamaan dengan eksploitasi emas. Sebagaimana diketahui di sekitar
muara sungai Batangtoru (Sangkunur, Angkola) serta daerah aliran sungai Batang
Gadis dan daerah aliran sungai Pasaman (Mandailing) adalah sentra pertambangan
emas (bahkan hingga ini hari).

Bagaimana kamper diproduksi dan emas ditambang
sebelum pedagang-pedagang India meneruskannya ke perdagangan Eropa pada zaman
Ptolomeus sudah barang tentu sudah sejak lama diusahakan penduduk Angkola
Mandailing. Sebab produksi dan konsumsi lebih dahulu baru terbentuk perdagangan
(exchange). Kebetulan kamper dan kemenyan di zaman kuno hanya ditemukan di
Tanah Batak. Dalam hal ini dapat dikatakan penduduk Angkola Mandailing di Tanah
Batak termasuk penduduk tua di Indonesia.

Pusat
peradaban baru di pantai barat Sumatra pada era Hindoe Baoedha diduga bermula
di seputar kawasan sentra produksi kamper dan sentra tambang emas di dekat
danau Siabu dan gunung Malea. Ke dalam danau inilah sungai Batang Angkola dan
sungai Batang Gadis bermuara. Juga sungai Muara Sada bermuara ke danau Siais
ini, dimana pada zaman kuno di muara sungai Muara Sada ini kini terdapat situs
candi Simangambat.

Pada zaman kuno, seperti halnya pulau Jawa,
pulau Sumatra tidak selebar sekarang. Pulau Sumatra pada zaman kuno masih
ramping. Garis pantai di pantai barat Sumatra sudah lebih ke laut sekarang. Hal
itulah mengapa Sangkunurm, Linggabatu dan Oedjoeng Gading pada zaman kuno
berada di pantai. Demikian juga halnya garis pantai di pantai timur Sumatra
pada zaman kuno lebih ke dalam jika dibandingkan sekarang. Pada zaman kuno
seperti kota Pekanbaru, kota Jambi dan kota Palembang berada di pantai. Oleh
karena itu pulau Sumatra pada zaman kuno hanya berada di sepanjang pegunungan
Bukit Barisan dimana terdapat gunung-gunung tinggi dan danau pedalaman mulai
dari danau Tangse dan danau Takengon dan gunung Leuser (di Aceh) hingga danau Ranau
dan gunung Dempo di Bengkulu. Diantaranya terdapat danau Toba, danau Siais,
danau Siabu, danau Maninjau, danau Singkarak dan danau Kerinci. Danau Tangse
dan danau Siabu diduga kuat telah menyusut karena tergerus akibat tanggul danau
terbongkar oleh gempa bumi.  

Pusat
peradaban baru yang sudah ada sejak zaman kuno, kemudian meluas ke
wilayah-wilayah yang padat penduduk di pedalaman. Kawasan penduduk padat ini di
pedalaman diduga kuat berada di sekitar danau seperti danau Tangse dan danau
Takengon di Aceh, danau Toba, danau Siais dan danau Siabu serta danau Laut (di
Sumatra Utara), danau Maninjau, danau Singkarak dan danau Diatas (Sumatera
Barat), danau Kerinci (Jambi) dan danau Ranau (Bengkulu). Diantara semua danau
pedalaman Sumatra ini yang terluas adalah danau Toba.

Danau Toba yang pada masa ini di tengah danau
terdapat pulau (Samosir) dapat dikatakan wilayah danau zaman kuno yang padat
penduduknya. Namun wilayah danau Toba ini sangat jarang sumber daya alam
seperti tambang emas, hutan penghasil kamper dan kemenyan serta hewan besar
seperti gajah (gading). Sebaliknya sumber primer yang tinggi nilainya itu di
zaman kuno justru terdapat di wilayah danau Siais dan danau Siabu (Angkola
Mandailing). Hal itulah mengapa kerajaan kuno pertama di Sumatra ditemukan di
dekat danau Siabu di pertemuan sungai Batang Gadis dan sungai Batang Angkola.
Du dua aliran sungai terdapat emas. Hutan-huta primer sekitar dua sungai ini
pada zaman kuno sangat melimpah pohon kamper dan pohon kemenyan. Di wilayah ini
juga sangat beragam fauna seperti hewan besar berupa banteng, badak, gajah,
harimau dan orang utan.

Salah
satu elemen peradaban baru itu si zaman kuno adalah penggunaan aksara Batak.
Penyebaran aksara ini menyebar dari tengah (Kerajaan Aru) ke utara hingga Aceh
dan menyebar ke selatan hingga Lampung. Hal itulah mengapa aksara Sumatra
(aksara Batak) berbeda dengan aksara Jawa. Adanya pembagian wilayah adat (tanah
ulayat) di Sumatra bagian selatan hingga Lampung) yang disebut marga diduga
kuat merupakan prinsip yang sama dengan marga di Tanah Batak (berdasarkan
genealogis).

Pada masa kini, di wilayah Minangkabau tidak
ditemukan lagi penggunaan aksara, sementara di wilayah Kerinci dan Lampung
masih eksis, suatu aksara yang mirip satu sama lain dengan di Tanah Batak dan
wilayah Gajo (Aceh). Sebab menghilangnya aksaran di wilayah Minangkabau diduga
karena terjadinya (proses) Melayunisasi pada zaman lampau. Proses Melayunisasi
ini diduga bermula ketika Kerajaan Malayu di hulu sungai Batanghari (Kerajaan
Mauli) pada era Radja Adityawarman merelokasi ibu kota tahun 1347 ke hulu
sungai Indragiri di Pagaroejoeng (ke wilayah pewdalaman di Minangkabau). Hal
itulah mengapa terjadi proses bahasa asli di wilayah Minangkabau bergeser
menjadi bahasa Melayu. Di wilayah Minangkabau tidak hanya aksara yang
menghilang tetapi juga bahasa asli juga telah menghilang (menjadi bahasa Melayu
dialek Minangkabau). Peta Portugis

Pada
era VOC (Belanda) Kerajaan Aru telah memudar (menghilang) setelah lebih dari
1.000 tahun. Kerajaan-kerajaan yang eksis adalah Kerajaan Pagaroejoeng (yang
terbentuk pada era Hindoe Boedha saat Radjanya adalah Adityawarman) dan
Kerajaan Atjeh yang terbentuk pada saat kehadiran Eropa (Portugis) dan Kerajaan
Palembang (suksesi Kerajaan Sriwijaya yang telah memudar dan menghilang).
Kerajaan Aru adalah kerajaan masa lalu, sedangkan tiga kerajaan suksesinya
(Kerajaan Pagaroejoeng, Kerajaan Sriwijaya-Palembang dan Kerajaan Aceh) hanya
Kerajaan Aceh yang masih bisa bertahan hingga tahun 1905. Sejak itu habis sudah
semua kerajaan di Sumatra yang bermula dari Kerajaan Aru di danau Siabu di
lereng gunung Malea.

Di pantai barat Sumatra, pada peta-peta VOC
masih diidentifikasi nama-nama kuno seperti Batang atau Batahan dan Tiku. Pada
Peta 1750 sungai Pasaman masih diidentifikasi di dekat Batahan. Penyebutan
Batang dan Batahan saling dipertukarkan pada zaman kuno. Orang-orang India
menyebut Bata sebagai Batah, sedangkan orang Arab menyebut Batah dengan Batang.

Sehubungan
dengan nama Kerajaan Aru, boleh jadi tidak disadari adalah Kerajaan Batak pada
zaman kuno. Dalam hal ini nama Bata merujuk pada nama India dan dalam literatur
kuno Arab Bata disebut Batang. Orang-orang Eropa yang datang kemudian mengeja
Bata sebagai Batech, Battah atau Batac (yang pada masa ini lebih dikenal
debagai Batak). Namun dalam perkembangannya terminologi Batang (yang merujuk
pada Arab) di Tanah Batak diartikan sebagai sungai. Terminologi batang ini juga
digunakan di Sumatra Barat (seperti Batang Arau) dan Jambi (seperti Batang
Hari). Tentu saja Batang (Arab) dalam hal ini adalah sungai yang dalam bahasa
India selatan sungai disebut aru. Hal itulah mengapa Kerajaan Aru juga disebut Kerajaan
Sungai atau Kerajaan Batang atau Kerajaan Batak.

Dalam sejarah Tiongkok, juga mengenal Kerajaan
Batak, terutama pada era Cheng Ho. Dalam laporan Ma Huan (penulis Cheng Ho)
mengidentifikasi Bata dengan Mada. Dalam bahasa Mandarin (kuno) Ma diartikan Ba
dan Da diartikan sebagai Ta. Jadi Mada sama dengan Bata. Dalam hal ini kita
teringat dengan patih terkenal di Kerajaan Majapahit yakni Gajah Mada. Yang
jelas di wilayah Jawa tidak ditemukan gajah. Gajah hanya ditemukan di Sumatra
dengan pelabuhannya yang terkenal Oedjoeng Gading. Dalam sejarah Batak patih
Kerajaan Majapahit yang disebut Gajah Mada, bukankah itu Gajah Bata (dalam
bahasa Mandarin)? Dalam hal ini boleh jadi Gajah Mada memang benar-benar
berasal dari Tanah Batak. Bagaimana hubungan politik pada zaman kuno antara
Kerajaan Aru dengan Kerajaan Singhasari dan Kerajaan Majapahit sudah dijelaskan
pada artikel-artikel sebelumnya.

Jadi
pada dasarnya Kerajaan Aru adalah Kerajaan Batak. Ini kira-kira mirip dengan
Orang Minangkabau yang juga disebut Orang Padang, suatu nama tempat di masa lampau
yang mana nama kota Padang berada di muara sungai Batang Arau. Hal itu juga
dengan nama Kerajaan Aru yang juga disebut Kerajaan Batang atau Kerajaan Bata.
Nama Bata atau Batahan atau Batang adalah nama tempat di zaman kuno di muara
sungai Batahan (yang berhulu di gunung Malintang).

Idem dito dengan ini adalah penyebutan nama
Orang Sunda yang merujuk pada nama tempat di muara sungai Tjiliwong (pelabuhan Zunda).
Pada muara ini pada era VOC membangun benteng yang disebut Batavia, nama yang
menjadi nama kota (Batavia) yang darimana nama Orang Betawi (Orang Batavia).
Tentu saja orang Palembang merujuk pada nama kota Palembang dan juga nama Orang
Lampung yang merujuk pada nama tempat zaman lampau Lampung atau Lampin. Daftar
ini dapat diperpanjang lagi dengan nama-nama Orang Aceh (dari nama kota Aceh),
Orang Deli (dari nama sungai Deli), Orang Riau dari nama kota Riau (di pulau
Bintan), Orang Jambi dari nama pelabuhan Jambi serta Orang Banten (nama tempat
di muara sungai Cibanten). Juga nama Orang Makassar dan nama tempat pelabuhan
Makassar, Orang Lombok, Orang Bima, Orang Kupang, Orang Ambon, Orang Ternate,
Orang Manado dan Orang Banjar yang semuanya bermula dari nama tempat di muara
sungai. Yang masih sulit ditemukan adalah nama Orang Jawa, Orang Bali dan Orang
Bugis apakah mengacu pada nama suatu tempat atau nama suatu pulau (Jawa dan
Bali). Untuk nama Orang Madura diduga kuat merujuk pada nama pulau, tetapi adakalanya
nama pulau juga merujuk pada nama tempat.

Namun
pada masa kini, hanya Orang Toba yang mengidentifikasi diri secara fanatik
sebagai Orang Batak. Padahal sejatinya nama Batak semula merujuk dari wilayah
selatan di Batahan atau Batang. Di wilayah (danau) Toba sendiri, sesungguhnya
tidak pernah ditemukan nama Kerajaan Toba, tetapi di wilayah danau Toba pada
era VOC hanya diidentfikasi tiga kerajaan yakni Kerrajaan Silindoeng. Kerajaan
Boetar dan Kerajaan Simamora. Sedangkan di wilayah Simalungin diidentifikasi
Kerajaan Raya dan di wilayah Karo diidentifikasi Kerajaan Lingga. Semua
kerajaan-kerajaan tersebut hingga ke Aceh adalah anggota federasi Kerajaan Aru
atau Kerajaan Batak yang menurut Mendes Pinto yang pernah berkunjung ke
Kerajaan Aru dengan ibukota di Panaju (Panai) pada tahun 1537 juga menyebuat
Kerajaan Aru sebagai Batak Kingdom. Tentu tidak salah, karena Kerajaan Aru
adalah Kerajaan Bata[k].

Tunggu deskripsi lengkapnya

Rantai Bukit Barisan Sumatra: Puncak
Tertinggi Gunung Kerinci

Nama
gunung Ophir adalah nama gunung yang diingat sepanjang masa di Eropa (boleh
jadi karena disebut di kitab suci Injil).
Pada permulaan era Hindia
Belanda,
seorang
penulis yang dimuat pada Letterkundig magazijn van wetenschap, kunst en smaak,
1818 No 14

menulis sebagai berikut
: ‘Di Sumatra, tepat di bawah garis khatulistiwa, gunung Ophir terkenal yang
tinggi sekitar 12,000 kaki, tinggi
nya hampir setinggi gunung-gunung Eropa yang tinggi’.
Penggambaran ini seakan begitu dekat di hati orang Eropa nama gunung Ophir di
Sumatra yang disandingkan dengan gunung-gunung tertinggi di Eropa.
Nama
gunung Ophir kadung sudah terkenal di Eropa dan bahkan ada anggapan bahwa
gunung Ophir adalah tertinggi di Hindia. Informasi ini tampaknya memancing
minat dua orang Jerman untuk mengukur
ketinggiannya (lihat
Leydse courant, 19-11-1838). Disebutkan Mr. Horner dan Krusenstern mengukur
ketinggian gunung Pasaman (Ophir) dan puncak tertinggi 2.927 M yang disebut
Talamau. Kisah Horner ini juga dapat dibaca pada Tijdschrift voor Neerland’s
Indie jrg 2, 1839:

De beklimming van den berg Ophir, door L. Horner,
medegedeeld uit eetien brief aan H. L. Ostiioff. Setelah tinggal di Parit Batoe
pada tanggal 9 Mei, saya yakin bahwa saya dapat mendaki Ophir yaitu, atau
puncaksebelah timur, yang disebut Gooenoeng Telamau disini. Puncak sebelah barat,
setidaknya setengah lebih rendah, disebut Goenoeng Passaman. Tidak ada seorang
pun, baik Melayu atau Eropa, yang memanjatnya. Dikatakan seorang Malim (guru
agama) yang mencoba mengirim doanya kepada Tuhan disana, tetapi harus menahan
diri darinya. bahwa ada di atas danau kecil {Telaga}, penuh ikan, bahwa ikan
ini sangat mudah ditangkap dan bahkan dapat direbus dan dimakan, tetapi begitu
seseorang ingin memakannya, mereka meloncat kembali ke danau. Kepala daerah
yang paling setuju bahwa gunung di sisi utara harus didaki, kebetulan di Parit Batoe
seorang pria yang memiliki ladang (sawah kering) di kaki gunung, dekat kampung
Sawa lima jam di timur laut, dari Parit Batoe. Jalur ini dulunya untuk menjerat
kambing liar (antelope suraatrensis) yang memanjat gunung dengan baik, dan
berpikir lebih baik naik lebih tinggi lagi. Letnan Donleben, komandan distrik
Ophir, yang ingin sekali mendaki gunung yang terkenal ini, segera memerintahkan
para kepala kampung di pagi hari di kampung Sawa berkumpul….dst.

Pada
intintinya Horner ditemani oleh dua orang Eropa dan enam laki-laki. Lalu bermalam
di suatu rumah penduduk. Esoknya pukul setengah delapan (tanggal 31 Mei) berangkat
lagi yang diikuti oleh hampir 100 pria yang ikut serta. Lalu bermalam di hutan.
Pada pagi hari mulai melakukan perjalan pada tanggal 32 Mei. Bermalam lagi di ketinggian
yang berlumut dan dingin. Hari berikutnya tanggal 33 Mei, Bermalam lagi.
Kemudian dilanjutkan pada pagi tanggal 34 Mei. Kami bisa melihat lembah Bondjol
dan Rao. Pukul 4 sore kami telah mencapai puncak tertinggi, Termometer
menunjukkan 708 R. Ketinggi 2.927 meter. Sejauh ini Ophir telah dianggap jauh
lebih tinggi dari yang sebenarnya. Esoknya kami tetap di atas sampai tengah
hari, berharap sinar matahari akan mengusir awan. Ada beberap kawaha yang yang
sudah berisi air. Bekas aliran lava dimana-mana, tidak ditemukan baru apung.
Saya menemukan kerangka Siamang, Tampaknya dia mendahului saya, tetapi tidak
jelas apa yang menjadi tujuannya naik hingga ke puncak gunung ini. Melihat
kerangkanya yang tidak rusak, kecil kemungkinan dibawah burung pemangsa.
Kemungkinan dia melakukan pengasingan kesini, karena Siamang hanya kami dengar
suaranya pada ketinggian 5000 kaki di bawah sana.

Setelah saya meninggalkan botol kosong dengan kertas
di dalamnya dengan tanggal dan semua nama pendaki Ophirs yang sampai di puncak
tertinggi, saya memerintahkan semua untuk turun kembali. Kami bermalam.
Keesekan harinya tanggal 35 Mei kami melajutkan penurunan dan pukul tiga sore
kami tiba di kampong Sawa lagi. Pada pagi hari tanggal 36 Mei pukul delapan
saya sudah menuju Parit Batoe dan tiba bukul 11 di Parit Batoe.

Dalam
hal ini pengukuran ketinggian di Indonesia (baca: Hindia Belanda) dimulai pada
gunung Ophir. Inilah arti penting secara psikologis maupun secara sosiologis
bagi orang Eropa tentang gunung Ophir. Gunung Ophir tidak hanya digambarkan
dengan sepenuh hati di Eropa, gunung Ophir juga menjadi tantamgan sendiri bagi
pendaki-pendaki Eropa. Hal itulah ketika tidak atau belum terpikirkan untuk
mendaki suatu gunung di Hindia Belanda, pendaki profesional Jerman mencoba
menaklukkannya dan berhasil pada tahun 1838.

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi:
akhirmh@yahoo.com


, Terimakasih telah mengunjungi Dului.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.

Most Popular

To Top