*Untuk
melihat semua artikel Sejarah Padang Sidempuan di blog ini Klik Disini
Hingga
tahun 2002 tidak ada wali kota di Kota Padang Sidempuan. Sebab baru pada tahun
2002 eks ibu kota Kabupaten Tapanuli Selatan itu ditngkatkan statusnya menjadi
Kota. Kota Jakarta sudah sejak 1902 menjadi Kota, Soerabaja tahun 1904, Bandung
tahun 1906, Padang tahun 1906 dan Medan tahun 1909. Namun orang Padang
Sidempuan tidak perlu berkecil hati, karena pada masa lampau orang Padang
Sidempuan pernah menjadi Wali Kota Jakarta. Menariknya, orang Padang Sidempuan
adalah wali kota pertama di Kota Surabaya, di Kota Padang dan di Kota Medan.
Uff, bagaimana bisa? Seperti
kata ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya
ada permulaan.

Padang Sidempuan adalah Irsan Efendi Nasution (sejak 28 September 2018). Di ibu
kota provinsi Sumatra Utara saat ini dijabat oleh menantu Presiden Jokowi,
Bobby Nasution. Ini untuk ketujuh kali orang Padang Sidempuan menjadi Wali Kota
Medan (sejak yang pertama tahun 1945 Mr. Luat Siregar). Pada era kolonial
Belanda, hanya dua kota yang Wakil Wali Kota dijabat oleh orang pribumi yakni
MH Thamrin di Kota Batavia (kini Jakarta) dan Dr. Abdul Hakim Nasution di Kota
Padang. MH Thamrin adalah besanan dengan Abdul
Hakum Nasution. Putra Abdul Hakim Nasution menikah dengan putri MH
Thamrin. Dr. Abdul Hakim Nasution kelak menjadi Wali Kota Padang pertama di era
Republik Indonesia. Oh, ya. Sebelum lupa: ‘Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1442 H.
Mohon maaf lahir dan bathin.
Lantas
bagaimana sejarah para Wali Kota asal Padang Sidempuan di berbagai kota di
Indonesia? Seperti disebut di atas, orang Padang Sidempuan
pernah menjadi wali kota di kota-kota besar. Namun di kota-kota kecil juga
pernah menjadi wali kota seperti di Kota Sibolga, Kota Pematang Siantar, Kota
Tanjung Balai, Kota Tebing Tinggi dan Kota Binjai. Di kota-kota mana lagi di
Indonesia orang Padang Sidempuan pernah
menjadi Wali Kota? Yang jelas banyak orang Padang Sidempuan yang
berasal dari Padang Sidempuan menjadi wali kota di Malaysia. Untuk menambah
pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber
tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Era Hindia Belanda dan
Pendudukan Jepang
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Era Republik Indonesia
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

, Terimakasih telah mengunjungi Dului.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.










