Sejarah

Sejarah Pendidikan (11): Sekolah Pamong OSVIA di Bandoeng Magelang Probolinggo Serang Madiun Blitar Fort de Kock; Mosvia


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Pendidikan dalam blog ini Klik Disini

Dalam artikel sebelumnya sudah dideskripsikan
sekolah kedokteran (Docter Djawa Svhool menjadi SYOVIA) dan sekolah guru (kweekschool
menjadi normaalschool). Sekolah pamong Hoofden School kemudian menjadi OSVIA.
Dalam hal ini setiap era memiliki kebutuhannya sendiri-sendiri. Sekolah pamong
dibutuhkan untuk kebutuhan pemerintahan di tingkat local (penduduk pribumi).


Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren
(OSVIA) sekolah pendidikan bagi calon pegawai-pegawai bumiputra pada zaman
Hindia Belanda. Setelah lulus mereka dipekerjakan dalam pemerintahan kolonial
sebagai pamong praja atau ambtenaar. Sekolah ini dimasukkan ke dalam sekolah
ketrampilan tingkat menengah dan mempelajari soal-soal administrasi
pemerintahan. Masa belajarnya lima tahun, tetapi tahun 1908 masa belajar
ditambah menjadi tujuh tahun. Pada umumnya murid yang diterima di sekolah ini
berusia 12-16 tahun. Sebelumnya sekolah OSVIA bernama Hoofden School (sekolah
para pemimpin). Sekarang OSVIA bertransformasi menjadi Institut Pemerintahan
Dalam Negeri (IPDN). Hoofden School tersebar di Jawa, masing-masing di Bandung,
Magelang, dan Probolinggo. Pada tahun 1900 sekolah-sekolah ini mengalami
reorganisasi dan diberi nama baru, yakni OSVIA. Di Bandung, sebagian muridnya
berasal dari Jawa Barat. OSVIA Magelang, menarik siswa-siswa dari Jawa Tengah,
sedangkan OSVIA Probolinggo bagi siswa dari Jawa Timur. Pada tahun 1900, OSVIA
membuka cabang lagi di tiga tempat, yakni Serang, Madiun, dan Blitar. Pembukaan
cabang itu dilakukan karena jumlah murid OSVIA meningkat dua kali lipat. Pada
tahun 1918, OSVIA membuka cabang di Bukittinggi, Sumatra Barat. Pada tahun 1927
seluruh cabang OSVIA digabungkan menjadi MOSVIA (Middelbare Opleiding School
voor Inlandsche Ambtenaren) berpusat di Magelang.
(Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah sekolah pamong OSVIA
di Bandoeng, Magelang, Probolinggo, Serang, Madioen, Blitar dan Fort de Kock?
Seperti disebut di atas sekolajh pamong ini disebut Hoofden School yang
kemudian menjadi sekolah OSVIA. Untuk meningkatkan kualitas sekolah pamong
kemudian dibentuk sekolah MOSVIA. Lalu bagaimana sejarah sekolah pamong OSVIA
di Bandoeng, Magelang, Probolinggo, Serang, Madioen, Blitar dan Fort de Kock? Seperti
kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah
pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber
tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.

Sekolah Pamong OSVIA di Bandoeng, Magelang,
Probolinggo, Serang, Madioen, Blitar, Fort de Kock; MOSVIA

Ada kaitan antara sekolah guru (kweekschool) dengan
sekolah pamong (hoofdenschool). Sekolah yang sudah ada baru sekolah guru. Hingga
tahun 1865 sudah ada tiga sekolah guru di Hindia Belanda di bawah pemerintah,
yakni di Soerakarta (dibuka 1852), di Fort de Kock (1856) dan di Tanobato (1862).
Selain itu, ada sekolah guru di Amboina, yang didirikan misionaris tahun 1834
(namun kualitasnya berada di bawah sekolah guru pemerintah). Pada tahun 1865
dibangun sekolah Hoofden School di Tondano.


De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 27-02-1865: ‘Di
Minahasa, sebuah sekolah telah didirikan di Tondano untuk anak-anak Hoofden.
Gedung sudah siap, guru-guru sudah diangkat, dan tak lama kemudian sekolah akan
beroperasi. Anak laki-laki berusia 13-17 tahun belajar. Sejauh menyangkut
pendidikan, segala macam mata pelajaran yang berguna akan diajarkan disana,
untuk membentuk manusia yang praktis seperti geometri tanah, pengetahuan
konstruksi tanah, fisika, dll, dll’.

Lulusan sekolah diangkat menjadi guru. Lulusan
sekolah pamong diangkat menjadi demang (camat pada masa ini). Guru akan
memimpin sekolah untuk mengajar murid. Demang akan memimpin suatu
district/onderdistrict untuk membantu kepala district/bupati. Dalam hal ini
bupati berkoordinasi dengan Controleur/asisten residen. Sementara sekolah
pamong pertama (di bawah pemerintah) di Tondano, pada tahun 1866 sekolah guru
di Bandoeng dibuka. Ini menambah jumlah sekolah guru pemerintah.


Sekolah pamong di Tondano dibuka pada bulan Febrerui 1865 (lihat De
locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 24-07-1865). Disebutkan
sejauh ini berjalan dengan baik yang diasuh oleh guru van der Hoek. Jumlah siswa
sebanyak 40 eleves. Bahasa pengantar adalah bahasa Melayu. Lama studi diperkirakan
tiga tahun. Sejumlah pelajaran diajarkan termasuk aritmatika dan bahasa Belanda.
Para siswa yang juga datang dari berbagai tempat di Minahasa sebagian besar kos
di luar sekolah.

Inspektur Pendidikan JA van der Chijs mengunjungi
sekolah pamon di Tondano (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en
advertentie-blad, 21-02-1868). Disebutkan van der Chijs akan melakukan penilaian
terhadap sekolah baru ini. Dalam kunjungan ini diperoleh keterangan bahwa sekolah-sekolah
komunitas yang berada di bawah pengawasan misionaris meminta untuk diambil alih
oleh pemerintah. Sekolah pamong di Tondano van der Hoek dibantu oleh guru kedua
L Mangindaan.


Sekolah guru, sekolah kedokteran dan dalam hal ini sekolah pamong adalah
sekolah menengah dimana siswa yang diterima adalah lulusan sekolah dasar
pribumi. Dalam system pendidikan, pendidikan di Belanda terhubung dengan pendidikan
di Hindia Belanda (orang Eropa/Belanda) dan pendidikan pribumi. Sekolah menengah
adalah lembaga pendidikan yang secara langsung terhubung dengan peradaban Belanda.
Bahasa Belanda baru diajarkan dengan intens bahasa Belanda. Dalam hal ini di sekolah
pamong mulai ditanamkan ilmu-ilmu barat, pelajaran mata pelajaran Barat ke
dalam (calon) pemimpin pribumi (Indisch Hoofden).

Tunggu deskripsi lengkapnya

MOSVIA: Dari Hoofden School hingga IPDN

Sekolah pamong di Tondano sejati inisiatif di daerah
oleh Resident. Berbeda dengan di wilayah lain, residen/asisten residen lebih
membutuhkan sekolah guru seperti di Padangsche, Angkola Mandailing (Tapanoeli)
dan Bandoeng (Preanger). Sekolah guru di Soerakarta adalah inisiatif
pemerintah. Boleh jadi karena di Minahasa (residentie Manado) sudah banyak
sekolah-sekolah komunitas di bawah pengawasan misionaris, sekolah pamong dianggap
lebih diperlukan.


Namun dalam perkembangannya, persoalan muncul, kecilnya subsidi
pemerintah, diantara resident dan penduduk muncul polemic karena kenaikan uang
sekolah dan soal tempat tinggal (di asrama atau di luar). Sementara itu,
permintaan agar sekolah komunitas diambil pemerintah terus menguat. Sebab,
pemerintah pusat dari waktu ke waktu mendirikan sekolah dasar pemerintah di
Jawa dan Sumatra. Kualitas lulusan sekolah dasar di Minahasa menjadi jauh
tertinggal. Juga sekolah guru di Amboina (yang didirikan misionaris, yang juga
memasok guru-guru di residentie Manado) dianggap tidak memenuhi syarat sebagai
sekolah guru.

Pada tahun 1868 pemerintah untuk pertama kali Menyusun
statistic/laporan pendidikan yang kompregensif. Statistik ini termasuk jumlah
sekolah, jumlah guru, jumlah siswa, tingkat kehadiran siswa dan sebagainya. Para
pengamat/pegiat pendidikan terus mereview situasi dan kondisi pendidikan dan
bagaimana mencari solusi permasalahan yang ada. Hal in dipicu oleh hasil
kunjungan Inspektur Pendidikan ke berbagai tempat termasuk ke Angkola Mandailing
dan Minahasa. Kualitas kendidikan di Angkola Mandailing sangat maju. Isu pendidikan
menjadi diskusi dan perdebatan.


Nieuwe Rotterdamsche courant: staats-, handels, nieuws- en
advertentieblad, 20-03-1865: ‘Izinkan saya mewakili orang yang pernah ke daerah
ini. Di bawah kepemimpinan Godon daerah ini telah banyak berubah, perbaikan
perumahan, pembuatan jalan-jalan. Satu hal yang penting tentang Godon telah
membawa Willem Iskander studi ke Belanda dan telah kembali kampungnya. Ketika
saya tiba, disambut oleh Willem Iskander, kepala sekolah dari Tanabatoe diikuti
dengan enam belas murid-muridnya, Willem Iskander duduk di atas kuda dengan
pakaian Eropa murid-muridnya dengan kostum daerah….Saya tahun lalu ke tempat
dimana sekolah Willem Iskander didirikan di Tanobato…siswa datang dari seluruh
Bataklanden…mereka telah diajarkan aritmatika, ilmu alam, prinsip-prinsip
fisika, sejarah, geografi, matematika…bahasa Melayu, bahasa Batak dan bahasa
Belanda….saya sangat puas dengan kinerja sekolah ini’. Java-bode: nieuws,
handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 14-11-1868/ Soerabayasch
Handelsblad, 05-11-1868: ‘Mari kita mengajarkan orang Jawa, bahwa hidup adalah
perjuangan. Mengentaskan kehidupan yang kotor dari selokan (candu opium). Mari
kita memperluas pendidikan sehingga penduduk asli dari kebodohan’. Orang Jawa,
harus belajar untuk berdiri di atas kaki sendiri. Awalnya Chijs mendapat kesan
(sebelum ke Tanobato) di Pantai Barat Sumatra mungkin diperlukan seribu tahun
sebelum realisasi gagasan pendidikan (sebaliknya apa yang dilihatnya sudah
terealisasi dengan baik). Kenyataan yang terjadi di Mandailing dan Angkola
bukan dongeng, ini benar-benar terjadi, tandas Chijs’

Satu hal yang bersifat dilematis, terutama di Jawa, siswa
yang hadir di sekolah dasar pemerintah justru cenderung oleh penduduk biasa,
sebaliknya penduduk dari kelas atas atau prijaji ((lihat
De locomotief: Samarangsch
handels- en advertentie-blad, 16-09-1871). Akibat dari itu, para calon/pemimpin
local justru dari keluarga prijaji, dalam urusan pengetahuan dan pendidikan
kalah dibandingkan dengan lulusan sekolah guru (Soerakarta dan Bandoeng).  


Sekolah pamong yang didirikan di Tondano, akhirnya pemerintah mengarahkannya
untuk membentuk guru-guru yang diperlukan. Idem dito, kemudian sekolah guru di
Amboina yang awalnya di bawah pengawasan misionaris akhirnya diambil alih oleh
pemerintah. Sebelumnya, telah terbit beslit keputusan Gubernur Jenderak pada tanggal
19 Agustus. 1868, No.12, otorisasi telah diberikan untuk memproduksi berbagai
buku dengan jenis huruf Melayu (aksara Jawi), Jawa, Soenda, Batak dan Makasar
(Bugis).

Dalam perkembangannya, pemerintah tampaknya telah
menemukan solusi antara dikotonomi sekolah pamong dengan sekolah guru. Sekolah
guru adalah suatu hal, sekolah pamong adalah hal lainnya. Namun dalam hal ini
pemerintah mendirikan sekolah guru baru, tetapi juga ada yang mengubah sekolah
guru menjadi sekolah pamong. Sekolah pamong yang direncanakan adalah sekolah
pamong yang juga lulusannya bisa menjadi guru.


De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 29-06-1872: ‘Kami
sekarang juga mendapatkan sekolah dari ‘t Gouvernement untuk guru-guru pribumi,
di mana sekolah untuk kepala suku dan anak laki-laki di Tondano mungkin akan
dibubarkan. Itu akan menjadi hiasan yang indah; yang biayanya ± 40.000 gulden
setahun. Saat ini sekolah pamong di Tondano selain guru gambar dan guru senam, diinformasikan
bahwa dengan demikian ada empat guru yang ditugaskan di lembaga (sekolah
pamong) itu untuk mendidik lima puluh orang eleves’.

Sekolah pamong di Tondano adalah sekolah pionir.
Namun nasibnya, karena berbagai alasan, dan juga adanya pertimbangan
pemerintah, akhirnya harus dibubarkan. Namun sebagai gantinya di wilayah
Minahasa (residentie Manado) akan didirikan sekolah guru (kweekschool). Bagaimana
dengan sekolah guru yang lainnya? Tampaknya sekolah di Fort de Kock selama ini
ternyata tidak terselenggarakan lagi. Mengapa? Idem dito dengan di Jawa,
sekolah guru di Soerakarta dan Bandoeng yang tidak hanya jumlah siswa yang
tidak berkembang, juga lulusannya hanya beberapa orang setiap tahun. Last but not
least: bagaimana dengan sekolah guru terbaik di Tanobato, Angkola Mandailing?

 

De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 01-10-1872: ‘Kweekscholen.
Langkah-langkah telah diambil oleh pemerintah dengan keputusan tanggal 24 bulan
lalu untuk dapat melanjutkan secepat mungkin pembukaan sekolah pelatihan untuk guru
di Fort de Kock (pantai barat Sumatera) dan di Tondano (residentie Menado).
Untuk mengantisipasi pendirian bangunan permanen untuk bekas sekolah, sebesar f9000
telah disediakan untuk pembangunan ruang kelas sementara. Sekolah guru pelatihan
di Tondano akan menggunakan gedung pedesaan yang selama ini digunakan untuk
sekolah pamong yang dibubarkan’.

Pada tahun 1874 sekolah guru (kweekschool) di
Soerakarta direlokasi ke Magelang. Mengapa? Ada keinginan pemerintah, bahwa
sekolah guru sulit dijadikan sebagai pintu peradaban Eropa/Belanda., lalu
sekolah guru di Megelang salah satu materi penting, pengajaran bahasa Belanda
ditekankan. Inilah yang membedakan dengan sebelumnya di Soerakarta. Sementara
pemerintah akan membangun beberapa sekolah pamong, juga pemerintah telah
merencanakan untuk peningkatan mutu sekolah guru dan peningkatan mutu guru.


Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie,
25-03-1874: ‘Dengan keputusan tanggal 6 bulan ini, Radja mengambil keputusan
yang diperlukan di bawah otorisasi untuk mengirim kepala sekolah di kweekschool
untuk guru Inlandsche di Tanah-Bato (
residentie Tapanoeli, province Sumatra’s Westkust), Willem Iskander, dan tiga
pribumi lainnya, ke Belanda, agar untuk dilatih studi dua tahun lebih lanjut
untuk pendidikan inlandsch. yang
akan ditemani Iskandcr, yaitu pemuda Batak Si Banas, Soendanees Raden Ardi Sasmita, sekarang menjadi guru di sekolah pribumi di Madjalengka (residentue Tjirebon) dan Raden Soerono, guru di Soerakarta.
Sehubungan dengan keberangkatan Iskander sementara menutup
sekolah guru  di Tanah-Batoe’.

Sekolah guru terbaik di Tanobato, akhirnya harus
ditutup. Tampaknya tidak ada orang yang bisa menggantikan peran Willem Iskander
yang akan berangkat ke Belanda untuk membimbing tiga guru muda dari Angkola Mandailing,
Bandoeng dan Soerakarta. Guru-guru muda ini setelah lulus di Belanda
diproyeksikan akan menjadi guru di sekolah guru Magelang, sekolah guru Bandoeng
dan sekolah guru yang akan dibangun di Padang Sidempoean (dimana Willem
Iskander akan menjadi direktur sekolah). Eks sekolah guru di Soerakarta, diduga
kuat dijadikan sebagai sekolah dasar negeri. Hal ini sesuai yang terinformasikan
bahwa tanggal 12 April yang lalu di ibu kota Soerakarta sebuah sekolah Gouvernements
Inlandsche school dibuka dengan 84 leerlingen (lihat Nederlandsche
staatscourant, 11-06-1875).


Dalam laporan pendidikan tahun 1876 banyak hanya yang dibahas (lihat De
locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 06-11-1876). Statistik pendidikan
yang terbaru dideskripsikan. Dalam laporan ini juga dua sekolah guru di
Magelang dan Bandoeng juga dibicarakan. Dua sekolah ini juga mendapat perhatian
untuk diarahkan dengan kurikulum berbasis sekolah pamong. Pembahasan peningkatan
kualitas sekolah dan guru versus perluasan pendidikan juga dibahas (catatan:
masih banyak wilayah yang belum ada sekolah, dan wilayah yang ada jumlahnya
masih sedikit dari yang dibutuhkan). Pengajaran bahasa Belanda untuk sekolah
menengah (sekolah guru dan sekolah pamong) dibicarakan. Sekolah-sekolah
misionaris juga dibicarakan, jika tujuannya hanya exclusive agama atau sekolah
yang dapat diakses oleh umum (catatan: pemerintah tidak membedakan agama).

Pada tahun 1878 diumumkan pembukaan sekolah pamong
di Bandoeng, Magelang, Probolinggo dan Tondano (lihat De locomotief:
Samarangsch handels- en advertentie-blad, 03-04-1878). Pemberitahuan ini telah
memastikan rumor yang sebelumnya menjadi perbincangan telah menjadi kenyataan
terbentuknya empat buah sekolah pamong. Bagaimana sekolah pamong ini terbentuk,
dalam sidang Tweede Kamer di Belanda yang diselenggarakan bulan September 1877 telah
diratifikasi (lihat Opregte Haarlemsche Courant, 21-09-1877). Tiga sekolah guru
telah berubah fungsi, sementara sekolah guru di Tondano sejatinya masih sekolah
pamong meski sebelumnya sudah diubah menjadi sekolah guru seperti di Fort de
Kock.


Bagaimana dengan sekolah guru di Fort de Kock, ketiga dua sekolah guru terawal
telah dijadikan sebagai sekolah pamong? Sekolah pamong di Probolinggo sendiri
adalah sekolah baru dibentuk untuk sekolah pamong. Seperti disebut di atas,
sekolah guru di Tanobato telah ditutup tahun 1873. Lantas bagaimana dengan
rencana pembangunan sekolah guru di Padang Sidempoean?

Sekolah menengah bagi pribumi telah bertambah, dari
semula hanya sekolah kedokteran dan sekolah guru, kini sudah ada sekolah pamong.
Jika inisiatif sekolah guru bermula di Soerakarta, sekolah pamong bermula di
Tondano. Sekolah kedokteran di Batavia (Docter Djawa School) tetap terselenggara
dengan baik dan kurikulumnya terus ditingkatkan.


Hingga tahun 1879 selain sekolah pamong di Magelang, Bandoeng, Probolinggo,
dan Tondano, sekolah guru yang ada terdapat di Fort de Kock, Amboina, Banjarmasin
(sejak 1875), Makassar (sejak 1876), dan Padang Sidempuan yang dibuka pada
tahun 1879. Di sekolah guru Padang Sidempoean, yang menjadi direktur adalah Mr
Harmsen, sebab Willem Iskander yang diproyeksikan, telah meninggal dunia di
Amsterdam pada tahun 1876.

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur.
Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi:
akhirmh@yahoo.com


, Terimakasih telah mengunjungi Dului.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.

Most Popular

To Top