Sejarah

Sejarah Riau (16): Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Riau; Invasi Militer Jepang Penderitaan Orang Belanda




false
IN


























































































































































 

*Untuk
melihat semua artikel Sejarah Riau di blog ini Klik Disini
 

Orang
Belanda seakan tidak percaya bahwa Indonesia telah lepas, setelah Indonesia
(baca: Hindia) berada di bawah kekuasaan orang Belanda selama tiga ratus lima
puluh tahun. Orang Belanda sangat shock karena wilayah Kerajaan Belanda
diduduki militer Jerman (NAZI) dan juga wilayah Pemerintah Hindia Belanda
diduduki militer Jepang (Dai Nippon). Mimpi buruk bagi semua orang Belanda
tanpa terkecuali.

Ketika Jerman memasuki wilayah Kerajaan
Belanda pada bulan Mei 1940, keluarga kerajaan Belanda melarikan diri ke
Inggris. Orang Belanda yang anti fasis semua ditangkap dan dimasukkan ke dalam
kamp konsentrasi NAZI, termasuk satu orang Indonesia di Belanda Dr Paelindungan
Loebis. Pelarian keluarga kerajaan Belanda ini ke Inggris untuk kali kedua
setelah yang pertama pada tahun 1894 Prancis (Napoleon) menduduki Belanda dan
setahun kemudian menduduki Batavia dan Jawa. Tidak lama kemudian, ketika Jepang
memasuki wilayah Indonesia (baca: Hindia Belanda) pejabat-pejabat Belanda
melarikan diri ke Australia termasuk Dr HJ van Mook. Orang-orang Eropa (kecuali
Jerman) di Indonesia, laki-laki, perempuan dan anak-anak semua ditangkap dan
kemudian diinternir di berbagai penjara dan pusat interniran di seluruh
Indonesia. Malang nian nasib orang Belanda.

Bagaiana
dengan orang Belanda di Riau
? Tidak banyak yang terinforasikan. Sunyi senyap
setelah militer Jepang memborbardir Singapoera dan Tarempa (Natoena),
orang-orang Belanda melarikan diri ke Sumatra untuk evakuasi ke Australia
melalui pelabuhan Padang. Satu keluarga yang evakuasi dari Riau adalah Dr Achmad
Hoesin Siagian dan istrinya yang juga dokter (anak Dr Radjamin Nasution, Wali
Kota Soerabaja) serta anak mereka evakuasi tidak ke Soerabaja tetapi langsung pulang
ke kampong ompungnya di Tapanuli (Selatan). Lantas bagaimana situasi dan
kondisi setelah Jepang takluk kepada Sekutu dan Kemerdekaan Indonesia diproklairkan
di Djakarta pada tanggal 17 Agustus 1945
? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semua
ada permulaan
dan
akan tiba waktunya berakhir
. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan
wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya
sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi,
sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti
surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya
digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga
merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan
artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel
saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah
pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk
lebih menekankan saja*.

Riau: Pendudukan Militer
Jepang

Pada
bulan Mei 1945 wilayah Belanda diserahkan kembali Jerman kepada kerajaan
Belanda. Keluarga kerajaan yang berada di pengasingan selama (lima tahun)
kembali ke tanah air. Kehidupan politik Belanda bangkit kembali. Sementara
militer Jepang masih menduduki Indonesia, pihak kerajaan dan para politisi di
Belanda mulau ikut mendukung warga Indonesia di Belanda yang melancarkan anti
fasis (anti Jepang) dan keerdekaan Indonesia. Ir Soekarno dkk yang bekerjasama
dengan militer Jepang turut menjadi sasaran tembak para politis Belanda (musuh
Belanda selama era kolonial Belanda).

Sebagian besar penduduk dan warga Belanda
netral dalam perang Eropa, karena itu pendudukan Belanda tidak mengambil
langkah frontal melawan pendudukan militer Jepang (idem dito penduduk Indonesia
terhadap pendudukan militer Jepang). Musuh militer Jerman adalah keluarga
kerajaan Belanda dan politisi anti fasis (idem dito di Indonesia, para aktivis
anti Jepang ditangkap dan diinternir seperti Mr Amir Sjarifoeddin Harahap,
Ktoet Tantri dan lain sebagainya). Oleh karena itu di Belanda, meski situasi
politik tidak normal, tetapi beberapa aspek kehidupan berjalan normal seperti
penyelenggaraan pendidikan. Mahasiswa-mahasiswa Indonesoa masih meneruskan
perkuliahan mereka, meski keuangan agak sulit karena terputusnya hubungan
antara Belanda dan Indonesia. Beberapa mahasiswa Indonesia yang lulus selama
fase pendudukan militer Jerman di Belanda antara lain Drs. Tan Goan Po, meraih
doktor (Ph.D) pada bidang erkonomi di Universiteit Rotterdam tahun 1942 (lihat
Het Vaderland: staat- en letterkundig nieuwsblad, 25-11-1942); Drs. Soemitro
Djojohadikoesoemo di universitas yang sama di Rotterdam tahun 1943 dengan gelar
doktor di bidang ekonoi (lihat Algemeen Handelsblad, 13-03-1943); dan Masdoelhak
Nasution berhasil meraih gelar doktor di bidang hukum dengan predikat suma cum
laude di Universiteit Leiden pada tahun 1943 dengan desertasi berjudul ‘De
plaats van de vrouw in de Bataksche Maatschappij’ (Friesche courant,
27-03-1943).

Mahasiswa-mahasiswa
Indonesia di Belanda terus mengkonsolidasikan diri untuk menentang Jepang dan
upaya untuk kemerdekaan Indonesia. Semangat itu semakin menguat setelah Jerman
membebaskan Belanda dan adanya dukungan moril dari para politisi Belanda. Boleh
jadi para politisi Belanda ini mendukung karena dua hal yakni sama-sama senasib
diduduki fasis Jerman di Belanda dan fasis Jepang di Indonesia serta ada maksud
terselubung ingin kembali ke Indonesia di belakang warga Indonesia,

Warga Indonesia di Belanda dipimpin oleh FKN
Harahap, seorang mahasiswa di Vrij Universiteit yang juga menjadi ketua
Perhimpoenan Indonesia setelah beberapa waktu organisasi mahasiswa
Perhimpoernan Indonesia vakum karena pendudukan Jerman. Hal ini karena ketua
Perhimpoenan Indonesia yang terakhir Dr Parlindungan Loebis diinternir Jerman
ke kamp NAZI. FKN Harahap dkk dan Perhimponan Indonesia menerbitkan majalah
dwimingguan yang menjadi medium interaksi sesama warga Indonesia di Belanda dan
juga sebagai corong perjuangan Perhipoenan Indonesia dan warga Indonesia di
Belanda untuk kemerdekaan Indonesia. Beberapa kali selama bulan Mei hingga Juli
di lapangan kota Amsterdam diadakan rapat akbar warga Indonesia yang juga di
atas podium adakalanya para politisi Belanda tampil yang menyuarakan
kemerdekaan Indonesia (atas pendudukan militer Jepang). Catatan: FKN Harahap
kelahiran Depok, berangkat studi ke Belanda tahun 1937 yang pernah mengalahkan
juara catur Belanda Dr Euwe sebelum pendudukan militer Jerman di Belanda.

Pada
saat itu di Belanda nama Riau sangat terkenal sebagai nama jalan. Di jalan ini
terdapat kantor bergengsi Biro Industri Pengolahan Logam (Bureau voor de
Metaalverwerkende Industrie). Besar dugaan nama jalan ini disebut Riau karena
keberadaan Bureau voor de Metaalverwerkende Industrie yang mana salah satu
sumber bahan logam didatangkan dari Riau (timah). Sebelum pendudukan militer
Jepang, salah satu sumber ekonomi yang terpenting dari Riau adalah timah.

Seperti halnya sumber-sumber tambang minyak di
Tarakan dan Palembang (yang dikuasai oleh Belanda), sumber bahan tambang timah
di Riau (da wilayah tetangganya Banca dan Biliton) juga menjadi target militer
Jepang. Oleh karena itu pantai timur Borneo, Riau, Bangca-Biliton dan Palembang
menjadi target pertama militer Jepang sebelum melakukan invasi lebih jauh (yang
terakhir) ke Jawa.

Uniknya,
meski Indonesia masih diduduki oleh militer Jepang, saham-saham perusahaan
Belanda di Eropa masih ada harganya, termasuk saham pertambangan di Riau (lihat
Het financieele dagblad : waarin opgenomen het Amsterdamsch effectenblad en de
Dagelijksche beurscourant, 28-03-1944). Tampaknya dunia bisnis (industri) di
Eropa melihat dunia fasis (Jerman, Italia dan Jepang) tidak akan lama.
Negara-negara netral atau non fasis di Eropa merasa akan tiba waktunya industrinya
rebound dan karena itu perusahaannnya tidak menutup saham perusahaan yang
beroperasi di Indonesia (termasuk di Riau). Toh juga orang Belanda masih banyak
yang berada di Indonesia (meski di dalam tahanan).

Orang-orang Belanda yang diinternir militer
Jepang di Indonesia dipusatkan di berbagai tempat seperti di Djakarta, Bogor,
Medan, Soerabaja dan Singapoera. Orang-orang yang diinternir di Riau dan pantai
barat Borneo ditempatkan di Singapoera. Sebagaimana diketahui jarak dari
Singapoera dengan ibu kota Riau di Tandjoengpinang hanya beberapa mil.
Faktor-faktor tersebutlah di Eropa mengapa saham tambang di Raiu masih
diperjualbelikan di bursa efek. Foto: Orang Belanda harus menunduk di era pendudukan Jepang di Singapoera
(Het vrije volk: democratisch-socialistisch dagblad, 19-12-1985).

Tunggu
deskripsi lengkapnya

Detik-Detik Proklamasi
Kemerdekaan Indonesia di Riau

Tunggu
deskripsi lengkapnya

 

*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi:
akhirmh@yahoo.com


, Terimakasih telah mengunjungi Dului.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.

Most Popular

To Top