Sejarah

Sejarah Semarang (6): Banjir Kanal Barat Semarang 1879; Banjir Kota yang Tidak Berkesudahan Picu Bangun Kanal Timur




false
IN




























































































































































false
IN




























































































































































false
IN




























































































































































false
IN



























































































































































Akhirnya
pada awal tahun 1897 isu pembangunan kanal baru di Kota Semarang menjadi
kenyataan. Pembebasan lahan pun mulai dilakukan Nama kanal baru ini disebut
Bandjir Kanal Timur (Ooster-Bandjirkanaal). Nama ini sudah tentu merujuk dengan
kanal sudah ada di barat kota. Dengan munculnya nama Bandjir Kanal Timur, maka
kanal lama dengan sendirinya disebut Bandjir Kanal Barat. Pembangunan kanal
baru yang mencakup lahan yang luas. Pemilik lahan luas sedikit mendapat
perhatian yang mana  pembebasan lahan
dilakukan oleh pemerintah dengan ganti rugi meski dengan bervariasi tetapi
tetap dengan harga yang memadai (De locomotief: Samarangsch handels- en
advertentie-blad, 30-07-1898). Pengeluaran pemerintah sebesar f 38,079 di Boegaigan,
f39,000 di Klajaran dan f49,100 di Torbaja (tiga puluh sen per meter persegi).

Bandjir Kanal Barat dan Timur (Peta Semarang, 1909)

Namun
sebelumnya, bagi penduduk biasa harus menanggung dua hal. Pertama mendapat
ganti rugi yang tergolong harga relatif rendah. Kedua, di bawah komando Loerah,
setiap desa harus mengirim warganya sejumlah warganya untuk berpartisipasi dengan
bayaran rendah atau tanpa dibayar (Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad
voor Nederlandsch-Indie, 17-04-1897). Siapa yang dikirim akhirnya (sudah pasti)
yang terkena adalah penduduk dari golongan yang tidak mampu. Dalam hal ini
sesungguhnya Loerah menerima anggaran dari pemerintah tetapi tidak sampai
kepada para penduduk yang ditunjuk. Loerah dalam hal ini menarik keuntungan
dengan adanya proyek ini tetapi para koeli. Tidak sedikit warga kampung telah
jatuh ke dalam kemiskinan karena masa-masa ini yang di satu sisi untuk
menghormati perintah Loerah tetapi di sisi lain dengan pendapatan yang sangat
rendah. Ini seakan kerja wajib tanpa upah atau biaya pada pembangunan Bandjir Kanal
Timur.   

  

Pengerjaan pembangunan kanal baru yang disebut
Bandjir Kanal Timur sudah dimulai. Pekerjaan ini di bawah pengawasa FH Wener dan
TE Mobius (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad,   21-09-1897). Dampaknya adalah munculnya
pembangunan jembatan kereta api dan jembatan di ruas jalan Semarang Demak. Jembatan
kereta api akan dibuat seperti jembatan kereta api yang berada di belakang stadhuis
atau Balai Kota. Juga akan dibuat jembatan yang lebih kecil agar penduduk tidak
memutar  (De locomotief: Samarangsch
handels- en advertentie-blad, 17-10-1898).

Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan
sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber
primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya
digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga
merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap
penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di
artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja.

, Terimakasih telah mengunjungi Dului.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.

Most Popular

To Top