Sejarah

Sejarah Surakarta (54): Nama Jalan di Kota Soerakarta Doeloe, Belanda, Cina, Pribumi; Mengapa Ada Perbedaan Nama Sekarang?


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Surakarta/Solo dalam blog ini Klik Disini 

Sejarah jalan adalah satu hal, sejarah
penamaan jalan adalah hal lain lagi. Seperti di kota-kota lainnya, di kota
Surakarta juga memiliki dinamika penamaan jalan tersendiri. Jika nama jalan
pertama di Jogjakarta dalah jalan Malioboro, lantas nama jalan apa yang pertama
di Soerakarta? Mungkin pertanyaan ini tidak penting-penting amat, tetapi
sejarah tetaplah sejarah, sejarah tentang penamaan jalan di Kota Surakarta. 


Daftar
jalan di Kota Surakarta. Berikut ini adalah daftar jalan di Kota Surakarta
berdasarkan klasifikasi jalan di Indonesia: Jalan arteri (Ahmad Yani, Slamet
Riyadi, Solo-Yogya); Jalan lokal (Agus Salim, Bhayangkara, Gajah Mada, Honggowongso,
Cokroaminoto, Juanda, Katamso, MT Haryono, Monginsidi, Mulyadi, Muwardi, Panjaitan,
RM Said, Rajiman, Ronggowarsito, S. Parman, Sudiarto, Sugiono, Sumpah Pemuda, Sutami,
Sutan Syahrir, Sutarto, Sutoyo, Tentara Pelajar, Urip Sumoharjo, Veteran, Kyai
Mojo, Wahidin Sudirohusodo, Yos Sudarso; Jalan lingkungan (Abdul Muis, Abdul
Rahmat, Adisucipto, Adisumarmo, Ahmad Dahlan, Arifin, Cokroaminoto, Cut Nyak
Dien, Dewi Sartika, Diponegoro, Gatot Subroto , Gotong Royong, Gremet, Hasanuddin,
Imam Bonjol, Jayawijaya, KH Maskur, Karel S. Tubun, Kartini, Kebangkitan
Nasional, Ketandan, Ki Hajar Dewantara, Krakatau, Kusmanto, Kyai Gede, Lumban
Tobing, Moch. Yamin, Pattimura, Perintis Kemerdekaan, RE Martadinata, Raden
Saleh, Reksoninten, Sam Ratulangi, Samanhudi, Sampangan, Setia Budi, Sugiyopranoto,
Suharso, Sunaryo, Supomo, Supono, Suprapto, Suryo, Suryo Pranoto, Sutarjo, Tangkuban
Perahu, Teuku Umar, Thamrin, Untung Suropati, Wahid Hasyim, Wora Wari, Yohanes,
Yosodipuro. Jalan terkenal dan jalan penting (Sudirman, pusat pemerintahan; Yap
Tjwan Bing, nama jalan pertama di Indonesia yang dinamakan berdasarkan tokoh
Tionghoa)
(Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah nama jalan di Kota
Surakarta, nama Belanda, Cina dan pribumi? Seperti disebut di atas, Ketika jalan
belum berkembang seperti masa ini, di Surakarta tempo doeloe sudah diberi nama
jalan. Mengapa ada perbedaan dengan nama Sekarang? Lalu bagaimana sejarah nama jalan
di Kota Surakarta, nama Belanda, Cina dan pribumi? Seperti kata ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.

Nama Jalan di Kota Surakarta, Nama Belanda, Cina dan
Pribumi; Mengapa Ada Perbedaan Nama Sekarang?
 

Kota Soerakarta, sejatinya adalah kota tua, dalam perspektif tata kota.
Hanya saja kurang disadari. Ketika Jogjakarta masih kota kecil, Soerakarta
sudah menjadi kota besar.
  Kota
Soerakarta hanya kalah dari kota Batavia dan kota Semarang. Kota Soerabaja
sendiri masih tengah proses pembangunan menuju kota besar. Pada tahun 1873
Bandoeng masih kota kecil.


Pada era tahun 1880an, di
Sumatra hanya terdapat tiga kota besar yakni Padang, Palembang dan Padang Sidempoean.
Seperti halnya perbandingan antara kota besar Soerakarta dan kota kecil
Jogjakarta, di Sumatra ketika Padang Sidempoean sudah menjadi kota, Medan
sendiri masih suatu kampong. Namun masa kini, Medan adalah kota besar yang jauh
relative besar dari kota Padang Sidempuan, demikian juga pada masa kini Kota Jogjakarta
jauh lebih besar dari Kota Surakarta. Dalam hal ini kita hanya membicarakan
awal pertumbuhan dan perkembangan kota pada era Pemerintah Hindia Belanda. Peta
Soerakarta (1873)

Sebagaimana pada artikel terdahulu, kota Soerakarta bermula di seputar kraton
Soerakarta dan benteng Vastenburg. Jalan yang memisahkan kraton dan benteng
inilah yang menjadi cikal bakal jalan pertama di Soerakarta (kini menjadi jalan
Slamet Riyadi dan jalan Kapten Sunaryo). Meski Soerakarta sudah menjadi kota
besar, dengan ruas-ruas jalan yang banyak, namun dalam peta-peta sejaman belum
ada jalan yang diidentifikasi dengan nama jalan. Mengapa?


Sejarah nama jalan dimulai di
Batavia. Pemberian nama jalan muncul karea kota semakin meluas, dengan
banyaknya jalan menjadi semakin sulit bagi tukang pos untuk mengidentifikasi
alaman tujuan. Meski penamaan jalan di kota-kota baru masif dilakukan pada
permulaan pembentukan kota (gemeente) pada awal tahun 1900an. Namun sebelum itu
sudah ada beberapa kota yang mengidentifikasi jalan dengan nama jalan. Dalam
peta-peta awal, selain kota Batavia yang terbilang awal menentukan nama jalan
adalah kota Padang (sejak 1860an) dan kota Medan (sejak 1880an). Lantas kapan jalan
di Soerakarta diidentidikasi dengan nama jalan? Yang jelas di kota Jogjakarta
sudah dimulai pada tahun 1890an.

Namun demikian, meski tidak diidentifikasi dalam peta-peta, nama jalan
di Soerakarta kali pertama diketahui pada tahun 1827 (lihat Bataviasche courant,
30-08-1827). Disebutkan di sebelah timur benteng Soerakarta, berbatasan di
sebelah selatan dengan bagian depan Bloemstraat, Jalan Bloemstraat ini kini
diduga jalan Mayor Sunaryo. Bloemstraat adalah nama jalan yang sudah dikenal
sejak lama di Leiden. Pada tahun 1842 terindentifikasi jalan Krakeelstraat yang
merupakan jalan dimana terdapat pasar Kliwon. Pada tahun 1864 teridentifikasi
nama Hereenstraat, jalan tersebut adalah jalan utama di Soerakarta. Seperti
biasanya di kota lain seperti di Semarang dan Soerabaja, jalan Hereen tepat
berada dimana kantor pemerintah (dalam hal ini kantor Residen). Itu berarri
jalan yang memisahkan kraton dan kantor residen yakni jalan Slamet Riyadi yang
sekarang.


Lalu pada tahun 1885 terinformasikan
jalan Schoolstraat yang berada di belakang kantor residen (sejajar dengan jalan
Hereen Straat). Jalan Schoolstraat ini kini disebut jalan Ronggowarsito. Dalam
perkembangannya terinformasikan jalan jalan Voorstraat (1867) dan jalan Achterstraat
(1896). Jalan Voorstraat ini adalah jalan antara kantor residen dengan benteng;
sementara jalan Achterstraat menjadi terusannya di arah belakang. Selanjutnya
diidentifikasi jalan Straat Widoeran dan Straat Katandan. Jalan Wiedoeran dan
jalan Katandan ini di bagian belakang benteng., FotoL Pasar Kliwon (sebelum 1880)

Dalam hal ini meski jalan pertama yang dibangun di Sierakarta adalah
jalan yang memisahkan antara kraton dan benteng (menjadi jalan Hereenstraat),
tetapi penamaan jalan justru dimulai dari ujung jalan di sekitar benteng yakni
jalan Bloemstraat (jalam Kapten Sunaryo) dan jalan Krakeekstraat (jalan Kapten
Mulyadi; Pasar Kliwon). Jalaan Bloemstraat adalah pusat perdagangan Eropa dimana
sejak awal berada logi (era VOC). Meski keberadaan jalan yang sudah tua, nama jalan
Heerenstraat dan nama jalan Voorstraat baru muncul kemudian (1860an).

Tunggu deskripsi lengkapnya

Mengapa Ada Perbedaan Nama Sekarang? Nama Jalan Tempo
Doeloe ve Nama Jalan Masa Kini

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi:
akhirmh@yahoo.com


, Terimakasih telah mengunjungi Dului.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.

Most Popular

To Top