melihat semua artikel Sejarah Tangerang dalam blog ini Klik Disini
Pulau Untung Jawa berada di Teluk Jakarta,
Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta. Pulau Untung Jawa (Oentoeng Djawa)
bukanlah sekadar pulau. Pulau Oentoeng Djawa (Ontong Java) memiliki sejarah yang penting. Gubernur
Jenderal Jan Pieterszoon Coen pada bulan Oktober 1618 mengubah kantor
perusahaan VOC menjadi benteng, tidak hanya untuk mempertahankan diri dari dari
kolaborasi Banten dan Inggris, tetapi juga menjadi basis untuk menduduki
Jacatra (Batavia). Benteng Ontong Java ini tepat berada berhadapan dengan de
Qual, muara sungai Tangerang (kampong Moeara).
![]() |
| Pulau Untung Jawa dan Kampong Muara di Teluknaga, Tangeramg |
Setelah
membangun benteng Batavia (yang dimulai tahun 1619), dalam perkembangannya,
untuk memperkuat pertahanan Batavia, sejumlah benteng dibangun yakni: Fort
Nordwijk, Riswijk, Angke, Jacatra dan Onrust. Dari benteng (pulau) Onrust ini
kemudian VOC membuka ruang untuk pembangunan wilayah di daerah aliran sungai
Tangerang. Pintu masuk ke wilayah Tangerang melalui de Qual (Moera). Setelah
benteng Tangerang kemudian dibangun benteng di hilir di Moeara (Fort de Qual) dan
juga membangun benteng di hulu (Fort Sampoera) di Serpong. Fort Tangerang adalah
cikal bakal Kota Tangerang yang sekarang. Pada era Gubernur Jenderal Antonio
van Diemen (1636-1645) memerintahkan Abel Jansen Tasman untuk memetakan benua
Australia dan pulau-pulau di lautan Pasifik (1642-1643). Satu penemuan Abel Jansen
Tasman yang penting adalah pulau anak benua Australia yang kemudian diberi nama
Pulau Tasman. Penemuan penting lainnya adalah pulau atol di Kepulauan Solomon.
Untuk mengingat pentingnya pulau Oentoeng Djawa bagi Jan Pieterszoon Coen, nama
pulau atol di Pasifik penemuan Abel Jansen Tasman diberi nama pulau Ontong
Java. Sejak itu, nama pulau Oentoeng Djawa di dekat muara sungai Tangerang
diganti menjadi pulau Amsterdam (sejak pengakuan kedaualatan Indonesia, pulau
penting itu namanya dipulihkan kembali menjadi pulau Untung Jawa).
Oentoeng Djawa (Ontong Java) dengan muara sungai Tangerang, Moeara (de Qual)?
Yang jelas pada masa ini tidak mungkin lagi terjadi pelayaran dari pulau Ontong
Java (Ontoeng Djawa) ke kampong Moeara (de Qual). Mengapa? Mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.
utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat
kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

, Terimakasih telah mengunjungi Dului.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.











