Sejarah Indonesia

Sejarah Dr Tjipto (4): Indische Bond dan Indische Partij di Indonesia; Bagaimana Dr Tjipto Menjadi Anggota Inti Indisch Partij?

image001 25


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Dr Tjipto di blog ini Klik Disini

Semua
gerakan di Indonesia (baca: Indonesia) dimulai
oleh orang-orang Belanda khususnya orang Indo, yang kemudian terbentuk Indisch
Bond tahun 1898. Gerakan tersebut lalu meluas ke berbagai sisi. Pada tahun 1900
di Padang Hadji Saleh Harahap gelar Dja Endar Moeda menginisiasi pendirian
organisasi kebangsaan Indonesia (pertama) diberi nama Medan Perdamaian (Dunia
Perdamaian). Pada tahun 1901 organ Medan Perdamaian berupa majalah diberi nama
Insulinde. Pada tahun 1903 Dja Endar Moeda mulai mengirim sejumlah guru untuk
studi ke Belanda. Dalam konteks inilah kemudian terbentuk Indisch Partij. Singkatnya
Republik ini tidak diciptakan oleh satu orang, tidak satu organisasi, juka tidak
satu bangsa, tetapi semuanya ada permulaan
 Sejarah Sepak Bola di Indonesia


image001 25

Sebagai seorang Indo, Douwes Dekker
merasa terjadinya diskriminasi yang membeda-bedakan status sosial antara
Belanda totok (asli), Indo (campuran), dan Bumiputera (pribumi) oleh pemerintah
Hindia Belanda. Kedudukan dan nasib para Indo tidak jauh berbeda dengan
Bumiputera. Di Bandung, sudah sejak lama terdapat organisasi Indo-Eropa seperti
organisasi Indische Bond yang berdiri tahun 1899 (1898) dan organisasi
Insulinde yang berdiri tahun 1907. Kedua organisasi tersebut bertujuan untuk
mengangkat derajat kaum Indo dalam bidang sosial-ekonomi dan menjalin
perserikatan dengan Belanda tanpa memisahkan diri dari negara induk. Pemikiran
ini tentu saja bertolak belakang dengan Dekker. Dalam pidatonya di hadapan
anggota Indische Bond tanggal 12 Desember 1911 Dekker membangkitkan semangat
kaum Indo untuk memberontak dan melepaskan diri dari pemerintah kolonial. Dan
karena jumlah kaum Indo yang sedikit, maka mereka harus bersama-sama dengan
kaum Bumiputera berjuang dengan kaum Indo menjadi pelopor. Lalu terbentuk Panitia
Tujuh..Pada tanggal 6 September 1912, Panitia Tujuh melakukan suatu rapat di
bawah pimpinan Dekker di Bandung dan hasilnya terbentuk perhimpunan baru
bernama Indische Partij
(Wikipedia) 

Lantas bagaimana sejarah Indisch
Bond dan Indisch Partij di Indonesia? Seperti disebut di atas, semuanya dimulai
dari Indische Bond yang kemudian terbentuk Indisch Vereening di Belanda (1908)
dan Indisch Partij di Indonesia yang kemudian Dr Tjipto ikut bergubung dengan Indisch
Partij. Lalu bagaimana sejarah Indisch Bond dan Indisch Partij di Indonesia?
Seperti kata ahli
sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe. Deepublish

image001 26

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya
yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah
pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk
lebih menekankan saja. Dalam hal ini saya bukanlah penulis sejarah,
melainkan
hanya sekadar untuk menyampaikan apa yang menjadi
fakta (kejadian yang benar pernah terjadi) dan data tertulis yang telah
tercatat dalam dokumen sejarah.
 

Indisch
Bond dan Indisch Partij di Indonesia; Bagaimana Dr Tjipto Menjadi Anggota
Indisch Partij?

Republik ini dibangun oleh banyak orang dari berbagai pihak. Namun
seperti disebut di atas semua perjuangan yang dilakukan dengan berbagai metode
masing-masing ada permulaannya. Organisasi-organisasi kebangsaan sudah
didirikan, jumlahnya semakin banyak. Orang-orang pribumi juga semakin banyak
yang terpelajar, tidak hanya yang studi di Hindia juga yang studi di
Eropa/Belanda. Pada tahun 1912 adalah pemulaan untuk meninjau semua yang telah dilakukan,
memetakan semua yang ada, untuk menarik garis jalan yang akan dituju.
 


Di
seluruh wilayah Hindia Belanda, administrasi pemerintahan semaki rapih semakin
kuat. Kerapihan dan kekuataan administrasi tersebut di sisi lain menyebabkan tekanan
kepada warga Hindia Belanda semakin kuat. Indisch Bond (di Batavia), Medan
Perdamaian (di Sumatra), Boedi Oetomo (di Jawa) dan lainnya di Hindia hanya
berjuang secara lembut dengan hanya bersifat incremental. Demikian juga dengan
Indische Vereeniging, Vereeniging Moederland en Kolonien dan Indisch Genootscap
di Belanda setali tiga uang. Pada tahun 1912 ini suatu komite yang terbentuk di
Bandoeng melakukan revolusi di tubah Indisch Bond dengan tujuan untuk
mempertegas metode perjuangan radical untuk mencapai hak yang sama dan
kemerdekaan.
 

Sebelum Komite Bandoeng
melakukan revolusi di tubuh Indisch Bond di Batavia, di Belanda diadakan
pertemuan umum Indisch Vereeniging pada tanggal 11 Desember 1911. Ini juga
sehubungan dengan terbitnya buku “Dor Duisternis tot Licht” yang disusun oleh
JH Abendanon yang diterbitkan oleh Indisch Vereeniging melalui penerbit GCT van
Dorp en Co di Den Haag. Iklan pertama dimuat di surat kabar Het vaderland, 27-06-1911.
 


Het vaderland, 27-06-1911: ‘Buku yang luar biasa.
Dikumpulkan dalam satu volume dan diterbitkan (dengan judul Door Duisternis tot licht,
gedachten van Raden Adjeng Kartini Melalui Kegelapan Menuju Cahaya, pemikiran
Raden Adjeng Kartini. Diterbitkan oleh GCT van Dorp en Co., Semarang, Surabaya,
Den Haag) sejumlah surat dari Raden Adjeng Kartini, wanita muda Jawa yang luar
biasa (ia meninggal pada usia 25 tahun), yang hidupnya yang singkat memberikan
kontribusi besar pada pemahaman yang lebih baik tentang kehidupan spiritual
beberapa wanita Jawa terkemuka, dan dengan demikian membuka bagi kita, orang
Eropa, perspektif baru tentang disposisi spiritual orang Jawa pada umumnya.
Kartini, seperti yang ia sukai dipanggil dalam surat-suratnya, adalah salah
satu putri dari almarhum Bupati Japara, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat.
Bapak Abendanon bertemu dengannya, sebagai kepala Departemen Pendidikan,
Ibadah, dan Industri, selama perjalanan resmi yang dilakukan dengan tujuan
berkonsultasi dengan Bupati dan istrinya serta ketiga putri mereka, yang telah
mereka berikan pendidikan liberal Eropa, tentang apa yang dapat dilakukan untuk
pengembangan intelektual gadis-gadis Jawa dari kelas atas dan bawah.
Surat-surat dan fragmen surat yang diterbitkan, yang ditujukan kepada Bapak
Abendanon dan keluarganya serta kepada berbagai tokoh pria dan wanita terkemuka
di negara kita dan di tempat lain (di antara yang terakhir juga Profesor Anton
te Jena, yang baru-baru ini tampil di Jerman sebagai pembela kebijakan kolonial
kita, dan istrinya), menjadi bukti kecerdasan dan kehidupan emosional yang
sangat berkembang, ditambah dengan keinginan yang mendalam untuk mengangkat
rasnya secara intelektual dan spiritual, dan khususnya perempuan dan anak
perempuan. Akibatnya, koleksi ini merupakan sumber yang hampir tak
habis-habisnya untuk mempelajari pola pikir dan kehidupan spiritual orang Jawa
dan perempuan Jawa. Siapa pun yang ingin melakukan sesuatu demi kepentingan
perkembangan ras Jawa tidak boleh melewatkan buku ini. “Namanya akan tetap
diberkati”, demikian Bapak Abendanon mengenang di akhir kata pengantarnya
wanita terkemuka ini di antara orang Jawa dan masyarakat lain di Kepulauan
Jawa, yang baginya ia seperti Aurora berjari mawar, menunjuk dari kegelapan
menuju cahaya pagi kemajuan, yang hanya dapat diperoleh melalui peningkatan
jiwa dan pikiran. Namanya pun akan diberkati di antara ras kulit putih, yang telah
ia dekatkan dengan rasnya sendiri melalui ide-idenya”. Tujuan penerbitan ini,
selain membangkitkan simpati, adalah untuk mengamankan kerja sama banyak pihak
untuk pendirian sekolah berasrama dan sekolah harian bagi putri-putri kepala
suku asli, seperti yang telah dibayangkan oleh penulis. Batu fondasi untuk
lembaga tersebut telah diletakkan secara finansial. Dengan mengingat hal ini,
kami juga ingin menarik perhatian khusus pada buku yang luar biasa ini’.
 

HJ Abendanon adalah mantan Menteri
Pendidikan, Agama, dan Industri Hindia Belanda (1900-1905). Setelah kembali ke
Belanda bergabung dengan Vereeniging Oost en West (orang-orang Belanda yang mendukung
pemikiran dalam hubungannya kerjasama orang Belanda dan orang pribumi) di Den
Haag. Organisasi inilah yang banyak berkontribusi dalam politik etik.
 


Pada tahun 1908 HJ Abendanon mendatangani Soetan
Casajangan di kediamannya di Leiden untuk mengkonfirmasi  Soetan Casajangan dalam pendirian organisasi
mahasiswa pribumi di Belanda. Soetan Casajangan menjawab masih menundanya
karena kesibukan studi. Beberapa bulan kemudian pada tanggal 25 Oktober 1908 di
kediamana Soetan Casajangan didirikan organisasi mahasiswa pribumi dengan nama
Indisch Vereeniging. Di alamat yang sama juga berada tempat kediaman Raden
Kartono. Pada tahun 1910 masa jabatan Soetan Casajangan sebagai ketua Indisch
Vereeniging berakhir dan kemudian diserahkan kepada ketua terpilih Dr Ph Laoh. Namun
jabatan itu hanya dijabat Ph Laoh karena akan segera kembali ke tanah air. Ph
Laoh menikah di Belanda tanggal 1 Desember (lihat De courant, 02-12-1910). Ph
Laoh dan istri pada tanggal 3 Desember 1910 dengan kapal ss Rindjani dari
Rotterdam berangkat ke Batavia (lihat De Maasbode, 04-12-1910). Dalam manifest kapal
dicatat Dr Ph Laoh dan istri naik di Marseille (Prancis). Boleh jadi pasangan muda
ini bermulan madu di kereta api dari Belanda ke Prancis (Marseile). Jabatan ketua
Indisch Vereeniging diserahkan kepada Hoesein Djajadiningrat yang belum lama
lulus ujian (lihat Het nieuws van den dag: kleine courant, 19-10-1910). Disebutkan
Raden Mas Hoesein Djajadiningrat telah lulus (cum laude) ujian sarjana (Drs) dalam
bidang bahasa dan sastra kepulauan Hindia Timur di Universitas Leiden. De Maasbode,
19-06-1911: ‘Leiden, 19 Juni. Lulus ujian kandidat dalam bidang hokum Raden
Mars Noto Soeroto. Algemeen Handelsblad, 11-08-1911: ‘Koresponden “Bat. Nbl”
di Batavia melaporkan bahwa Drs Raden Hoessein Djajadiningrat akan tiba di
Hindia menjelang akhir tahun ini. Setelah meraih gelar sarjana sastra, beliau
kemungkinan akan ditugaskan untuk mempelajari bahasa-bahasa daerah. Pada bulan
Oktober Soetan Casajangan diundang oleh Vereeniging Moederland en Kolonien untuk
berpidato dihadapan para anggotanya. Dalam forum yang diadakan pada bulan
Oktober 1911, Soetan Casajangan, berdiri dengan sangat percaya diri dengan
makalah 18 halaman yang berjudul: ‘Verbeterd Inlandsch Onderwijs’ (peningkatan
pendidikan pribumi): Berikut beberapa petikan penting isi pidatonya:

 

Geachte Dames en Heeren! (Dear Ladies and
Gentlemen).

 

..saya selalu berpikir tentang pendidikan bangsa
saya…cinta saya kepada ibu pertiwa tidak pernah luntur…dalam memenuhi
permintaan ini saya sangat senang untuk langsung mengemukakan yang
seharusnya..saya ingin bertanya kepada tuan-tuan (yang hadir dalam forum ini).
Mengapa produk pendidikan yang indah ini tidak juga berlaku untuk saya dan juga
untuk rekan-rekan saya yang berada di negeri kami yang indah. Bukan hanya
ribuan, tetapi jutaan dari mereka yang merindukan pendidikan yang lebih
tinggi…hak yang sama bagi semua…sesungguhnya dalam berpidato ini ada konflik
antara ‘coklat’ dan ‘putih’ dalam perasaan saya (melihat ketidakadilan dalam
pendidikan pribumi).
 

Dalam pertemuan Indisch
Vereeniging pada tanggal 24 Desember 1911 banyak hal yang dibicarakan yang
pertama adalah sehubungan dengan kepulangan Drs Hoesein Djajadinigrat ke tanah
air. Ketua Indische Vereeniging diserahterimakan dari Drs Hoesein Djajadinigrat
kepada Noto Soeroto.
 


Dalam
pertemuan ini juga turut dihadiri guru muda yang dikirim Boedi Oetomo belum
lama tiba di Belanda, Sjamsi Widagda yang dititipkan kepada Soetan Casajangan
(yang saat ini Soetan Casajangan sebagai guru bahasa Melayu di sekolah
perdagangan Handelschool di Haarlem dan Rotterdam). Sebagaimana diketahui Soetan
Casajangan adalah satu-satunya mahasiswa pribumi yang mengambil bidang
keguruan, lulus akta LO tahun 1907 dan lulus akta MO pada tahun 1909.
 


Dalam pertemuan ini juga Noto Soeroto berbicara tentang ‘Pemikiran Raden
Adjeng Kartini’ sebagaimana di dalam buku yang disusun oleh JH Abendanon. Buku
yang berisi surat-surat RA Kartini yang dikirim kepada nona E Zeehandelaar, nyonya
Haarthalt, Peof dr GK Anton dan nyonya, Nyonya HG de Booy-Boissevain, Mr JH
Abendano dan nyonya serta lainnya. Sebagaimana diketahui RM Kartono (abang RA
Kartini) berangkat studi ke Belanda tahun 1896 dan pada tahun 1909 yang lalu
telah lulus sarjana bahasa dan sastra di Leiden (di kampus yang sama Hoesein
Djajadiningrat lulus 1910). Di Leiden, Soetan Casajangan dan RM Kartono tinggal
di alamat yang sama.


Het
vaderland, 16-02-1912: ‘Pemikiran Raden Adjeng Kartini’. Dengan senang hati
saya membaca pidato Raden Mas Noto Soeroto tentang “Pemikiran Raden Adjeng Kartini” (disampaikan
pada pertemuan tanggal 21 Desember 2011 untuk Indische Vereeniging). Seperti
yang disebutkan dalam kata pengantar buku yang disusun oleh JH Abendanon, disebutkan
buku ini adalah publikasi pertama Indische Vereeniging, yang juga akan
diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa dan Melayu, agar semua warga negara di
seluruh Hindia dapat memperhatikan pemikiran wanita terhormat itu, yang
merasakan dengan sangat akurat dan mendalam apa yang kurang di Hindia, dan pada
saat yang sama dengan sangat baik membedakan poin-poin dalam karakter nasional
yang membutuhkan perbaikan atau modifikasi, atau yang perlu dikembangkan lebih
lanjut ke arah yang benar. Justru pemikiran-pemikiran tersebut, yang berasal
dari simpati dan empati salah satu warga negara yang paling terhormat, akan
menjadi dorongan khusus bagi Hindia. Namun, beberapa detail kecil menarik
perhatian saya. Judul, serta apa yang dinyatakan pada halaman 5 dan 6, mungkin
menimbulkan kecurigaan bahwa “pemikiran” ini pada saat itu telah
memberikan dorongan bagi pendirian Indische Vereeniging. Siapa pun yang sedikit
familiar dengan sejarah Indisch Vereeniging akan tahu bahwa organisasi ini
didirikan atas inisiatif Soetan Casajangan Soripada. Banyak juga yang membaca
pidato yang disampaikan akan bertanya pada diri sendiri: “Apa yang telah
dilakukan Indisch Vereeniging hingga saat ini dalam semangat Kartini?”
“Apakah dia (Kartini) hanya mendapatkan dukungan dari para pemuda
bangsanya sendiri setelah menyampaikan pidato ini?” Tidak, tentu tidak!
Pemikirannya sudah mulai berpengaruh. Pada pertemuan tahunan terakhirnya,
Boedi-Oetomo memutuskan untuk mengirim satu atau lebih guru ke Belanda,
sehingga setelah menyelesaikan studi mereka, mereka dapat “bekerja dengan
lebih produktif di negara mereka sendiri untuk mewujudkan cita-cita kita
(Kartini)” (hlm. 23), dengan mengingat: “Berikan pendidikan dan
pengasuhan kepada orang Jawa” (hlm. 23). Dan bukan hanya di Jawa, tetapi
di seluruh Hindia Belanda, kebangkitan ini terlihat jelas. Saat ini, beberapa
orang Batak dan Melayu sudah belajar di negara ini untuk membantu mewujudkan,
setelah menyelesaikan studi mereka, cita-cita yang sangat diinginkan Kartini di
tanah air mereka sendiri. “Berikan pendidikan dan pengasuhan kepada Hindia!”
Tidak seorang pun dapat mengklaim, setelah membaca pidato yang disampaikan
kepada “Vereeniging Moederland en Kolonien” oleh Soetan Casajangan Soripada,
bahwa Hindia pada umumnya tidak merasakan dengan sangat jelas bahwa mereka
kekurangan hal ini; dapat berpendapat bahwa pemikiran Kartini ini hanya dapat
berfungsi sebagai untaian lampu bagi Indisch Vereeniging, dan saat ini tidak
mewujudkan gagasan utama Pemuda Hindia; dapat berpendapat bahwa pemikiran ini
belum dikaji secara menyeluruh. Saya ingin melihat referensi sederhana terhadap
fakta-fakta ini, yang sudah dapat dipastikan, ditambahkan ke dalam pidato yang
sangat simpatik tersebut. Terima kasih atas publikasinya: JACS. V’.
 

Di tanah air (Hindia), pada awal tahun 1912 terbit surat kabar baru
berbahasa Belanda di Bandoeng, De expres. Surat kabar ini dipimpin dan pemimpin
redaksi EFE Douwes Dekker yang edisi pertama terbit hari Jumat, 01-03-1912.
Sudah barang tentu, EFE Douwes Dekker terus mengamati perkembangan dan
dinamikan orang-orang pribumi di Belanda yang tergabung dalam Indisch
Vereeniging. Lantas apakah surat kabar De expres akan menjadi organ (corong)
dari Indische Bond?
 


Sejak Indische Bond didirikan tahun 1898 di
Batavia tidak pernah terinformasikan memiliki organ baik sebagai majalah atau
surat kabar. Organisasi kebangsaan pribumi pertama yang didirikan di Padang
tahun 1900 telah memiliki organ sendiri berupa majalah bulanan yang diberi nama
Insulinde di bawah pemimpin redaksi Dja Endar Moeda. Sementara Boedi Oetomo di
Jawa maupun Indisch Vereeniging di Belanda belum memiliki organnya
masing-masing. Majalah “Het koloniaal weekblad; orgaan der Vereeniging Oost en
West” adalah organ dari Vereeniging Oost en West, organisasi yang lebih berfokus
pada pemikiran daripada aksi yang didirikan tahun 1899 dan mulai pada tahun
1901 menerbitkan majalah tersebut. Organisasi sejenis didirikan tahun 1901 dengan nama Vereeniging Moederland en
Kolonien. Organisasi tertua adalah Indisch Genootschap yang didirikan di Den
Haag pada tahun 1854. Sementara itu organisasi sejenah sudah lama ada di Hindia
yakni Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen didirikan di Batavia
tahun 1778.
 


Tunggu
deskripsi lengkapnya

Bagaimana
Dr Tjipto  Menjadi Anggota Indisch Partij?
Bagaimana Pula Soewardi Soerjaningrat Menjadi Anggota Indisch Partij?

Tunggu deskripsi
lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping
pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis,
Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di
waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan:
Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia:
Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di
Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. “Sejarah Catur di
Indonesia”; “Sejarah Klub Como 1907”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah
Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia di Jepang”. Korespondensi:
akhirmh@yahoo.com


, Terimakasih telah mengunjungi Dului.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

To Top