*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bisnis di Indonesia di blog ini Klik Disini
Banyak ekonom Indonesia pada masa ini, bahkan
ayah dari Presiden RI Prabowo adalah ekonom lulusan Nederland Handelshoogeschool
di Rotterdam tahun 1943. Namun semua itu bermula pada saat Soetan Casajangan,
mantan pendiri Indische Vereeniging pada tahun 1909 diangkat menjadi guru
bahasa Melayu di sekolah perdagangan (Handelschool) di Haarlem dan Rotterdam.
Pada tahun 1910 Mangaradja Soangkoepon dengan ijazah sekolah dasar (ELS) diterima
di Handelschool di Amsterdam. Perguruan tinggi perdagangan sendiri di Belanda baru
didirikan tahun 1913 di Rotterdam. Sjamsi Widagda dengan ijazah akta guru MO
diterima tahun 1918 di Nederland Handelshoogeschool. Pada tahun 1921 Mohamad
Hatta dengan ijazah HBS (SMA) diterima. Sjamsi Widagda meraih gelar sarjana
(Drs) tahun 1923 dan kemudian meraih gelar doktor (Dr) tahun 1925. Sejarah Mahasiswa di Indonesia

Dr Samsi Sastrawidagda (lahir di Solo, 13
Maret 1894 adalah Menteri Keuangan Pertama Indonesia. Ia menempuh pendidikan
ekonomi dan hukum negara di Sekolah Tinggi Dagang (Handels-hogeschool) di
Rotterdam. Gelar akademik terakhir yang didapat tahun 1925 adalah gelar Doktor
dengan disertasi De Ontwikkeling v.d handels politik van Japan. Perjalanan
karier di Kementerian Keuangan dirintis sejak Sidang Panitia Persiapan
Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang kedua (19 Agustus 1945). Pada saat itu,
dibentuk 12 Kementerian dan 4 Menteri Negara. PPKI menunjuk Samsi
Sastrawidagda, Kepala Kantor Tata Usaha dan Pajak di Surabaya pada masa
pendudukan Jepang, sebagai Menteri Keuangan. Sebagai Menteri Keuangan, Samsi
tidak pernah memimpin Kementerian Keuangan secara langsung. Bahkan belum sempat
menyusun perencanaan. Kondisi fisiknya yang sering sakit-sakitan menjadikan ia
lebih memilih tinggal di Surabaya. Pada tanggal 26 September 1945 ia
mengundurkan diri menjadi Menteri Keuangan (Wikipedia)
Lantas
bagaimana sejarah sekolah dan perguruan tinggi perdagangan di Belanda? Seperti
disebut di atas, sementara sekolah perdagangan (Handelschool) sudah ada sejak
1823, sedangkan perguruan tinggi perdagangan di Belanda belum lama adanya (baru
dibuka tahun 1913). Lalu bagaimana sejarah sekolah dan perguruan tinggi perdagangan
di Belanda? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan.
Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita
telusuri sumber-sumber tempo doeloe. Pengantar Bisnis di Perguruan Tinggi

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya
yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah
pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk
lebih menekankan saja. Dalam hal ini saya bukanlah penulis sejarah,
melainkan hanya sekadar untuk menyampaikan apa yang menjadi
fakta (kejadian yang benar pernah terjadi) dan data tertulis yang telah
tercatat dalam dokumen sejarah.
Sekolah Sekolah dan Perguruan Tinggi
Perdagangan di Belanda; Bagaimana Para Ekonom Indonesia Bermula?
Belanda sudah lama berdagang di Indonesia (baca:
Hindia Timur), bahkan sejak ekspedisi Belanda pertama dipimpin Cornelis de
Houtman (1595-1597). Saat itu begara maju merujuk pada Spanyol dan Portugal.
Oleh karena wilayah koloni Spanyol dan Portugis tersebar luas, termasuk koloni
Spanyol di Italia, Belanda berhasil mengusir Portugis dan Spanyol di Hindia
Timur (baca: Indonesia). Inggris kemudian menyusul Belanda.
Setelah kemajuan Italia (Roma) berakhir, muncul Jerman dan Prancis dalam dunia
pendidikan dan teknologi (manufaktur) yang kemudian disusul Inggris. Dalam hal
ini, Inggris tidak hanya berjaya di luar (perdagangan di lautan) juga dengan cepat
maju di dalam negeri (teknologi dan manufaktur). Bidang perdagangan dan
teknologi menjadi bersinergi. Peningkatan pendidikan terkait erat dengan
perkembangan teknologi (manufaktur). Perdagangan luar negeri Belanda (sumber
ekonomi terbesar dari Indonesia) masih sangat kuat di Eropa, tetapi lambat laut
perdagangan manufaktur di Belanda dibanjiri produk-produk dari Jerman, Prancis,
dan Inggris.
Napoleon dari Prancis telah mengubah situasi dan
kondisi di Eropa dengan invasinya tahun 1795, termasuk di wilayah-wilayah
jajahannya. Keluarga kerajaan Belanda melarikan diri ke Inggris. Kerajaan
Belanda di bawah Napoleon menyebabkan perusahaan dagang Hindia Timur (VOC)
melemah hingga akhirnya dibubarkan pada tahun 1799 (segera dibentuk Pemerintah
Hindia Belanda 1800). Semasa Gubernur Jenderal Daendels, Jawa diinvasi Inggris tahun
1811. Perang Napoleon berakhir di Waterloo tahun 1815. Kerajaan Belanda
dipulihkan, Pemerintah Hindia Belanda oleh Inggris dikembalikan ke Belanda
tahun 1816.
Pasca Perang Napoleon, peta gepolitik di Eropa telah berubah drastis. Meski
Belanda masih keuat secara ekonomi (perdagangan utama di Indonesia), tetapi
dalam segala bidang (terutama pendidikan dan industri) Belanda sangat
tertinggal dibandingkan negara-negara tetangga (Jerman, Belgia, Prancis dan
Inggris). Saat inilah di Belanda mulai dirasakan pentingnya peningkatan
pendidikan (sekolah dan perguruan tinggi) untuk mendukung perdagangan.
Belanda di Eropa menjadi negara tertinggal diantara
negara-negara bertetangga (Jerman, Belgia, Prancis dan Inggris). Kota Amsterdam
dan Rottteram yang menjadi pusat perdagangan Belanda dari masa ke masa, bahkan
hingga tahun 1865 belum satu pun sekolah menengah (HBS) didirikan di Amsterdam
(lihat Algemeen Handelsblad, 06-07-1865).
Sekolah perdagangan (Handelschool) terinformasikan pertama di Belanda
tahun 1823 (lihat Groninger courant, 14-01-1823). Disebutkan sesuai dengan pengumuman
di koran tanggal 10 Desember, yang bertanda tangan di bawah ini akan, pada
tanggal 1 Februari, membuka sekolah perdagangan (Handelschool) di tempat yang
sesuai. Opregte Haarlemsche Courant, 23-06-1831: ‘Yang bertanda tangan di bawah
ini bermaksud mendirikan Handelschool di sini, di mana pengajaran akan
diberikan dalam semua kegiatan perkantoran, dalam pembukuan, dan dalam ilmu
pengetahuan yang dibutuhkan oleh kaum muda yang ingin memperoleh pendidikan
yang beradab. Informasi atas namanya dapat diperoleh dari rumah-rumah paling
terkemuka di Amsterdam, Rotterdam, dll’. De avondbode: algemeen nieuwsblad voor
staatkunde, handel, nijverheid, landbouw, kunsten, wetenschappen, enz. / door
Ch.G. Withuys, 01-09-1838: ‘Kami yakin kami memiliki alasan untuk
mempertimbangkan bahwa Sekolah Perdagangan atau Akademi Perdagangan dan
Industri pemerintah’. Kemudian pemerintah mulai terlibat dalam pendidikan
perdagangan (lihat Vlissingsche courant, 20-04-1842). Disebutkan di antara
perkembangan di bidang sains adalah pengumuman pendirian Akademi Industri dan
Perdagangan Kerajaan di Delft. Algemeen Handelsblad, 21-04-1846: ‘Sekolah
Perdagangan dan Industri di Amsterdam. Dalam beberapa hari saja, pinjaman tanpa
bunga sebesar 30.000 guilder untuk pendirian Sekolah Perdagangan dan Industri
di kota ini telah lebih dari sepenuhnya terpenuhi. Hal ini didukung oleh
kesediaan sesama warga negara kita!’. Provinciale Overijsselsche en Zwolsche
courant : staats-, handels-, nieuws- en advertentieblad, 09-04-1847: ‘Institut
Pendidikan Perdagangan dan Industri di Amsterdam’. De Nederlander: nieuwe
Utrechtsche courant: (staatkundig- nieuws-, handels- en advertentie-blad) /
onder red. van J. van Hall, 19-02-1850: ‘Sekolah Teknik didirikan di Utrecht. Rencana
pendirian sekolah teknik di Utrecht, yang baru-baru ini diedarkan dan
ditandatangani oleh Bapak HA Bake, WH de Heus, GJ Mulder, dan B van Bees, berisi
upaya untuk meningkatkan pengetahuan di antara sesama warga negara dan sebangsa
kita yang sangat kita butuhkan saat ini, dan yang kesempatan untuk
memperolehnya sangat terbatas’.
Sebagaimana di negara-negara tetangga (Jerman,
Belgia, Prancis dan Inggris) lulusan HBS 5 tahun adalah syarat masuk perguruan
tinggi (universitas). HBS sendiri sudah ada yang didirikan di sejumlah kota di
Belanda, tetapi mengingat kota Amsterdam adalah kota terbesar di Belanda, maka
ini jelas mengindikasikan pendidikan sekolah menengah (syarat untuk ke
perguruan tinggi/universitas) di Belanda sangat tertinggal dari negara-negara
tetangga. Di Hindia Belanda (baca: Indonesia) sendiri yang ada hanya sekolah
dasar (ELS). HBS pertama kali dibuka tahun 1865 di Batavia.
Pada tahun 1857 Si Sati Nasoetion alias Willem Iskander dari Mandailing,
Residentie Tapanoeli berangkat studi keguruan ke Belanda, orang pribumi pertama
studi ke Belanda. Willem Iskander lulus sekolah guru dengan akta guru di
Haarlem tahun 1860. Sekembali ke tanah air, Willem Iskander tahun 1862
mendirikan sekolah guru di Tanobato, di Mandailing. Pada tahun 1862 ini di
Haarlem dibuka Rijkskweekschool (perguruan tinggi keguruan) pertama di Belanda.
Sekolah guru (kweekschool) di Haarlem didirikan tahun 1792.
Pada tahun 1864 Ismangoen Danoe Winoto berangkat ke
Belanda (terbilang sebagai cucu dari Soeltan Djocjocarta). Setelah sekian lama,
nama Ismangoen Danoe Winoto kembali terdeteksi di Delft (lihat Delftsche
courant, 12-07-1871). Disebutkan dalam ujian
ambtenaren Oost Indie (pegawai pemerintah Hindia Belanda) untuk bagian A
dari 54 orang yang mendaftar dan hanya 48 yang mengikuti ujian dimana 29
diantaranya dinyatakan lulus termasuk Ismangoen Danoe Winoto. Besar dugaan Ismangoen
Danoe Winoto sudah lulus HBS yang menjadi syarat untuk mengikuti ujian
ambtenaar (pegawai pemerintah). Ismangoen Danoe Winoto tidak segera pulang ke
tanah air tetapi ingin melanjutkan studinya.
Di Hindia Belanda, nama Willem Iskander begitu sangat terkenal. Sekolah
guru yang didirikannya di Tanobato (Tapanoeli) banyak mendapat pujian, karena
dianggap sekolah guru yang terbaik (jika dibandingkan dengan di Soerakarta dan
Fort de Kock). Adanya desakan dari berbagai pihak untuk meningkatkan kualitas
pendidikan pribumi, akhirnya Pemerintah memutuskan mengirim tiga guru muda
untuk studi ke Belanda sebagaimana pernah dilakukan oleh Willem Iskander
(1857-1861). Lalu dipilih tiga guru muda berbakat yakni Banas Lubis dari
Tapanoeli, Raden Soerono dari Soeracarta dan Raden Adi Sasmita dari Preanger. Untuk
membimbing tiga guru muda ini Pemerintah menunjuk Willem Iskander dengan
memberikan beasiswa untuk melanjutkan studi di Belanda untuk mendapatkan akta
kepala sekolah. Selama Willem Iskander ke Belanda sekolah guru di Tanobato
ditutup dan sebagai penggantinya akan dibuka sekolah guru (kweekschool) yang
lebih besar di Padang Sidempoean pada tahun 1879. Saat keberangkatan yang kedua
ini ke Belanda, Willem Iskander sudah berumur 33 tahun (saat berangkat yang
pertama tahun 1857 masih berumur 17 tahun). Diharapkan, setelah selesai studi
di Belanda, Willem Iskander diproyeksikan sebagai direktur Kweekschool Padang
Sidempuan (ibukota Afdeeling Mandailing dan Angkola). Lalu pada bulan April
1874 Willem Iskander bersama tiga guru muda tersebut berangkat dari Batavia
menuju Belanda. Sudah barang tentu ketiga guru pribumi ini akan bertemu
Ismangoen Danoe Winoto di Belanda’.
Pada tahun 1875 Ismangoen Danoe Winoto lulus studi di
Delft (lihat De standaard, 15-07-1875). Lulusan akademi di Delft (semacam APDN
masa kini) ini berhak diangkat sebagai pejabat pemerintah (Ambtenar) di Hindia
Belanda. Ismangoen Danoe Winoto dan kawan-kawan diangkat Menteri Koloni sebagai
pegawai pemerintah di Hindia Belanda berdasarkan tanggal 28 Agustus (lihat
Algemeen Handelsblad, 02-09-1875). Ismangoen Danoe Winoto setelah 10 tahun
meninggalkan kampung halaman kembali ke kampung halaman di Hindia Belanda.
Ismangoen Danoe Winoto berlayar dengan kapal Amalia (lihat Het nieuws van den
dag : kleine courant, 20-03-1876).
Sementara itu Banas Lubis tidak lama setelah di Belanda dikabarkan
meninggal karena sakit. Lalu kemudian menyusul Raden Soerono sakit, namun untuk
pengobatannya harus dikirik ke wilayah tropis. Raden Soerono meninggal di
perjalanan di Port Said (Terusan Suez). Willem Iskander menyelesaikan studinya
tetapi Raden Sasmita belum. Willem Iskander terinformasukan menikah di Belanda dengan
gadis Belanda (lihat Algemeen Handelsblad, 29-01-1876). Lalu Ismangoen Danoe
Winoto juga terinformasikan menikah dengan gadis Eropa di Belanda (lihat
Opregte Haarlemsche Courant, 29-01-1876). Hanya berjarak satu hari. Willem
Iskander menikah di Amsterdam pada tanggal 27 Januari 1876; RM Ismangoen Danoe
Winoto menikah di Borculo, 28 Januari 1876. Ismangoen Danoe Winoto yang masih
dalam pelayaran pulang ke tanah air, di Belanda, Willem Iskander dikabarkan
meninggal dunia di Amsterdam tanggal 8 Mei 1876. Lalu bagaimana dengan Raden
Sasmita, yang kini sorangan diri di Belanda? Kemudian guru-guru muda dikirim
lagi oleh pemerintah (Raden Sasmita tidak sendiri lagi).
Dalam hal ini Willem Iskander studi di Belanda
melalui jalur sekolah kejuruan (kweekschool) dan mendapat akta guru kepala LO
(setingkat lulusan sekolah menengah atas). Sementara Ismangoen Danoe Winoto
melalui sekolah umum (HBS) yang melanjutkan ke perguruan tinggi (akademi dua
tahun). Selain Willem Iskander, dari sejumlah guru muda yang dikirim pemerintah
hanya JH Wattimena yang bisa lulus sekolah guru di Amsterdam dan mendapat akta
guru Lager Onderwijs (LO) (lihat Algemeen Handelsblad, 07-04-1884).
Pada tahun 1880 termasuk Oei Jan Lee dan Tan Tjoen Liang lulus ujian transisi
naik dari kelas tiga ke kelas empat di sekolah KW III School Batavia (lihat De
locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 11-08-1880). Dalam daftar
kelulusan ujian transisi 1881 HBS di K Willem III hanya terdapat nama Tan Tjoen
Liang, naik dari kelas empat ke kelas lima (lihat Java-bode: nieuws, handels-
en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 07-11-1881). Oei Jan Lee sendiri
melanjutkan studi HBSnya ke Belanda (lihat Algemeen Handelsblad, 13-12-1881).
Tan Tjioen Liang sudah berada di Belanda (lihat Delftsche courant, 11-12-1883).
Disebutkan di Politeknik di Delft terdaftar Tjoen Liang Tan, seorang Cina,
putra kapten Cina di Buitenzorg. Tan Tjoen Liang menyelesaikan HBS lima tahun
di Batavia pada tahun ini. Oei Jan Lee lulus ujian akhir HBS di Leiden (lihat
Het nieuws van den dag: kleine courant, 09-07-1884). Juga disebutkan di Leiden
ujian (ujian masuk perguruan tinggi) di Gymnasium diantaranya Oei Jan Lee
afdeeling a (bidang hukum). Pada tahun 1885 Oei Jan Lee lulus ujian kandidat di
bidang hukum di Rjiksuniversiteit te Leiden (lihat Het vaderland, 19-10-1885). Tan
Tjoen Liang harus pulang karena ayahnya di Buitenzorg meninggal. Tan Tjoen
Liang terinformasikan di Delft tahun 1887. Oei Jan Lee akhirnya lulus ujian dan
mendapat gelar sarjana hokum tahun 1888 (lihat Dagblad van Zuidholland en ‘s
Gravenhage, 15-10-1888). Oei Jan Lee tampaknya belum puas, lalu melanjutkan
studi ke tingkat doktoral. Pada bulan Januari 1889 Mr Oei Jan Lee meraih gelar
doktor bidang hukum di Leiden (lihat Nieuwe Vlaardingsche courant, 16-01-1889).
Dr Mr Oei Jan Lee yang sudah menjadi pengacara di Batavia, pada tahun 1892 Tan Tjioen Liang kembali ke Belanda untuk meneruskan studinya di Politeknik
Delft. Pada tahun 1896, Raden Kartono lulusan HBS di Semarang langsung
berangkat ke Belanda dan diterima di Politeknik Delft. Tan Tjioen Liang akhirnya
berhasil meraih gelar insinyur teknik mesin. Sementara itu Raden Kartono
meninggalkan Delft dan pada tahun 1903 diketahui menjadi mahasiswa bahasa dan
sastra di Leiden.
Soetan Casajangan berangkat tahun 1904 ke Belanda
untuk melanjutkan studi keguruan. Soetan Casajangan sudah menjadi guru selama 13
tahun setelah lulus sekolah guru (kweekschool) Padang Sidempoean. Setelah melakukan
masa transisi (matrikulasi) di sekolah guru di Belanda, Soetan Casajangan diterima
pada tahun 1906 di akademi Rijkskweekschool di Haarlem.
Pada tahun 1906 sudah ada sejumlah mahasiswa pribumi di Belanda dan juga
pelajar yang tengah mempersiapkan ujian masuk perguruan tinggi. Mereka berasal
dari beragam sekolah. Raden Kartono (lulusan HBS) masih kuliah di Leiden dalam
bidang bahasa dan sastra. Ada beberapa lulusan dokter pribumi Docter Jawa School
(di Batavia) yang diterima di kedoteran di Amsterdam seperti Asmaoen, Abdoel
Rivai, Ph Laoh. Benjamin. Baginda Djamaloedin dan Soemardji pada tahun 1905
diterima di sekolah pertanian (Landbouwschool) di Wageningen. Baginda Dajamaloedin
lulusan sekolah guru. Sekolah Landbouwschool di Wageningen kemudian ditingkat
menjadi (akademi) Rijks Landbouwschool.
Pada tahun 1907 Soetan Casajangan mendapat akta guru
LO. Pada bulan Desember 1907 Asmaoen lulus ujian akhir dokter di Amsterdam.
Pada tahun 1908 Soemardji lulus di Wageningen; Abdoel Rivai lulus dokter di
kedokteran Amsterdam; RM Soemitro lulusan HBS diterima di Nederlandsc Indie
Administrative Dienst (akademi seperti Ismangoen Danoe Winito dulu) serta Notodiningrat
(lulusan HBS di Batavia) studi di TH di Delft dan Hoesein Djajadiningrat
diterima/masuk di Universiteit te Leiden (bahasa dan sastra). Pada tahun 1908 sudah
banyak mahasiswa pribumi di Belanda baik yang sudah lulus, sedang kuliah maupun
yang tengah persiapan ujian masuk perguruan tinggi/universitas yang kemudian
Soetan Casajangan menginisiasi pendirian organisasi mahasiswa Indische
Vereeniging. Pada tahun 1909 Soetan Casajangan lulus ujian akta guru MO (pendidikan
tertinggi di bidang keguruan) di Eijkskweekschool di Haarlem dan Raden Kartono
di bidang bahasa dan sastra di Universiteit Leiden. Pada tahun 1909 Soetan
Casajangan diangkat sebagai guru bahasa Melayu di sekolah perdagangan
(Handelschool) di Haarlem.
Pada tahun 1910 ini Soetan Casajangan mengakhiri masa jabatannya di
Indische Vereeniging yang kemudian diestafetkan kepada ketua terpilih Dr Ph
Laoh. Pada tahun 1910 ini Abdoel Firman Siregar gelar Mangaradja Soeangkoepon diterima
di sekolah perdagangan (Handelschool) di Amsterdam.
Mahasiswa Indonesia di Belanda, selain semakin
banyak, juga bidang studinya semakin beragam. Pada tahun 1910 ini sudah ada
yang kuliah di sekolah perdagangan (Handelschool). Sebelumnya hanya terbatas
pada kedokteran, keguruan, pertanian, teknik dan pemerintahan serta bahasa dan
sastra. Mangaradja Soangkoepon adalah mahasiswa Indonesia pertama di sekolah
perdagangan.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Bagaimana Para Ekonom
Indonesia Bermula? Dari Sjamsi Widagda hingga Soemitro Djojohadikoesoemo
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping
pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis,
Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di
waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan:
Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia:
Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di
Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. “Sejarah Catur di
Indonesia”; “Sejarah Klub Como 1907”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah
Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia di Jepang”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

, Terimakasih telah mengunjungi Dului.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.










