Sejarah Indonesia

Sejarah Casajangan (3): Soetan Casajangan Berangkat ke Belanda 1903 Studi Keguruan; Mendirikan Indisch Vereeniging Tahun 1908

image001 14


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Soetan Casajangan di blog ini Klik Disini

Organisasi
kebangsaan Indonesia pertama telah didirikan di Padang pada tahun 1900 yang
dipimpin Dja Endar Moeda. Di Medan pada tahun 1905 di Medan didirikan Sjarikat
Tapanoeli sebagai tempat berhimpun dan wadah pergerakan bagi tokoh-tokoh bumiputera.
Para pemuda Sjarikat Tapanoeli mendirikan klub sepak bola (Tapanoeli Voetbalclub).
Organisasi kebangsaan di Medan ini kemudian mendirikan NV Sjarikat Tapanoeli
yang menjadi badan usaha dalam penerbitan surat kabar Pewarta Deli (1909).
 Sejarah Mahasiswa di Indonesia


image001 14

Perhimpunan Hindia (Indische
Vereeniging), dikenal juga sebagai Perhimpunan Indonesia atau PI (Indonesische
Vereeniging), adalah organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia Belanda yang
berdiri pada tahun 1908. Indische Vereeniging berdiri atas prakarsa Soetan
Kasajangan Soripada Harahap dan R.M. Noto Soeroto. Sejak Cipto Mangoenkoesoemo
dan Soewardi Soerjaningrat masuk, pada 1913, mulailah mereka memikirkan
mengenai masa depan Indonesia. Mereka mulai menyadari betapa pentingnya
organisasi tersebut bagi bangsa Indonesia. Semenjak itulah Indische Vereeniging
memasuki kancah politik. Waktu itu pula Indische Vereeniging menerbitkan sebuah
buletin yang diberi nama Hindia Poetera, tetapi isinya sama sekali tidak memuat
tulisan-tulisan bernada politik
(Wikipedia). 

Lantas bagaimana sejarah Soetan
Casajangan berangkat ke Belanda 1903 studi keguruan? Seperti disebut di atas, o
rganisasi
kebangsaan Indonesia pertama telah didirikan di Padang pada tahun 1900. Dalam
konteks inilah
Soetan
Casajangan berangkat studi ke Belanda 1903 dan kemudian mendirikan Perhimpunan
Hindia (Indisch Vereeniging) tahun 1908. Lalu bagaimana sejarah Soetan
Casajangan berangkat ke Belanda 1903 studi keguruan?
Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah
nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe. Deepublish

image001 15

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan
gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya
sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi,
sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti
surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya
digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga
merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan
artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja. Dalam
hal ini saya bukanlah penulis sejarah, melainkan
hanya
sekadar untuk menyampaikan apa yang menjadi fakta (kejadian yang benar pernah
terjadi) dan data tertulis yang telah tercatat dalam dokumen sejarah.

Soetan
Casajangan Berangkat ke Belanda 1903 Studi Keguruan; Mendirikan Indisch
Vereeniging, 1908

Clockener Brousson dengan kapal Koning Willem II tiba di Padang (artikelnya
yang ditulis di Padang tanggal 2 April 1903). Clockener Brousson telah bertemu
banyak dengan raja surat kabar Sumatra di Padang, Dja Endar Moeda (yang sangat
fasih berbahasa Belanda). Clockener Brousson dengan kapal Koning Willem I
berangkat dari Padang ke Batavia tanggal 15 April (artikelnya yang ditulis di
Batavia tanggal 18 April 1903).
 


Clockener
Brousson dan Dja Endar Moeda tampaknya sepakat dalam beberapa hal. Kedua belah
pihak sama-sama saling mendukung bisnis satu sama lain. Dja Endar Moeda di
Padang akan mempromosikan dan menjadi agen surat kabar Bintang Hindia yang
dipimpin Clockener Brousson di Amsterdam. Dja Endar Moeda juga sebelum kedatangan
Clockener Brousson sudah menjadi kontributor untuk Bintang Hindia. Salah satu
tulisan Dja Endar Moeda yang diterbitkan di Bintang Hindia adalah tentang
pedoman perjalanan haji ke Mekkah.
Pedoman haji ini sudah pernah diterbitkan tahun 1900 (lihat Bataviaasch
nieuwsblad, 14-11-1900).
 Dalam kerangka kedatangan Clockener Brousson,
Dja Endar Moeda kemudian juga akan membantu Bintang Hindia di Amsterdam dengan meminta
dua temannya guru yang akan melanjutkan studi ke Belanda dan Dja Endar Moeda
sendiri kemudian akan menyusul (berkunjung) ke Amsterdam (lihat artikel Dr AA
Fokker di Algemeen Handelsblad, 16-07-1903).
 

Kesepakatan Dja Endar Moeda dan Clockener Brousson tampaknya telah mempercepat
keberangkatan dua guru untuk berangkat ke Belanda sekaligus dapat membantu
surat kabar Bintang Hindia yang dipimpin Clockener Brousson di Amsterdam. Saat
ini, Bintang Hindia di Amsterdam hanya digawangi oleh Dr Abdoel Rivai (yang
dibantu para kontributor di berbagai tempat). Dua guru yang akan berangkat ke
Belanda tersebut adalah Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan, guru di
Padang Sidempoean dan guru Baginda Djamaloedin di Padang.
 


Radjioen
Harahap gelar Soetan Casajangan, lulus dari sekolah guru (kweekschool) Padang
Sidempoean sekitar tahun 1890 dan menjadi guru sekolah di Padang Sidempoean.
Soetan Casajangan adalah salah satu murid terbaik Charles Adrian van Ophuijsen.
Dua tokoh wilayah Angkola, kakeknya Patoean Soripada meninggal di Mekkah pada
tahun 1879, sementara ayahnya Maharadja Soetan meninggal dunia di Padang
Sidempoean tahun 1888. Soetan Casajangan telah mempersiapkan diri belajar bahasa
Belanda di Padang Sidempoean dari guru
SA Bartatra (lihat Sumatra-bode, 29-03-1902). Sebagaimana diketahui sejak
1885 bahasa Belanda tidak lagi diajarkan di sekolah guru di Hindia.
Baginda Djamaloedin lulus dari sekolah guru (kweekschool) Fort de Kock
tahun 1897 dan menjadi guru sekolah di Padang. Baginda Djamaloedin di Padang
juga menjadi asisten Dja Endar Moeda dalam mengelola majalah Insulinde yang
diterbitkan di Padang. 
Majalah Insulinde terbit pertama di Padang 1 April 1901 (lihat De
locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 25-03-1901). 
Catatan: Abdul Rivai lulusan Docter Djawa School di
Batavia tahun 1895; Dja Endar Moeda lulus dari sekolah guru (kweekschool)
Padang Sidempoean tahun 1885. Setelah mengabdi jadi guru selama delapan tahun
(antara lain di Batahan dan Singkil), tahun 1893 Dja Endar Moeda berangkat haji
ke Mekkah. Sekembalinya dari Mekkah Dja Endar Moeda memilih tinggal di Padang
dan membuka sekolah swasta dan sejak 1895 menjadi editor surat kabar Pertja
Barat (surat kabar ini telah diakuisisinya). Dja Endar Moeda adalah salah satu
murid terbaik Charles Adrian van Ophuijsen.
 

Pada bulan Agustus 1903, Soetan Casajangan dan Baginda Djamaloedin berangkat
dari Padang dengan kapal uap menuju Amsterdam (lihat Sumatra-bode, 17-08-1903). Sebelum
berangkat, sudah barang tentu, Soetan Casajangan (dan Dja Endar Moeda) di
Padang mengunjungi mantan guru mereka Charles Adrian van Ophuijsen yang
menjabat sebagai Inspektur Pendidikan Pribumi di Pantai Barat Sumatra yang
berkantor di Padang (jabatan yang terus dipegangnya sejak dipromosikannnya Charles
Adrian van Ophuijsen sebagai direktur sekolah guru Padang Sidempoean menjadi Inspektur
Pendidikan Pribumi. Sebagaimana diketahui Charles Adrian van Ophuijsen pada
tahun 1901 menerbitkan buku tata bahasa Melayu dan pada tahun 1902 telah
diadopsi pemerintah untuk digunakan di seluruh sekolah di Hindia. Setiba di
Belanda, Soetan Casajangan dan Baginda Djamaloedin dijemput oleh Dr Abdoel
Rivai di pelabuhan Amsterdam.
 


Di
Belanda, selain Dr Abdoel Rivai sudah ada sejumlah orang Indonesia yang lebih
awal tiba di Belanda. Raden Kartono (abang RA Kartini) setelah lulus sekolah
menengah (HBS) di Semarang tahun 1896, langsung melanjutkan studi ke Belanda di
Politeknik Delft. Namun dalam perkembangannya Raden Kartono pindah ke Leiden
yang lebih memilih bidang studi bahasa dan sastra. Yang benar-benar sudah
mengikuti studi (kuliah) di Belanda adalah Raden Kartono.
 

Sementara Soetan Casajangan dan Baginda Djamaloedin membantu Bintang
Hindia di Amsterdam, keduanya terus menjajaki sekolah apa yang akan dipilih. Tidak
lama, dan tampaknya keduanya telah menemukan sekolah yang diinginkan
masing-masing, lalu mengajukan untuk memperoleh surat pembebasan tugas untuk melanjutkan
studi (di Belanda) dengan biaya sendiri (lihat Utrechtsch provinciaal en
stedelijk dagblad, 22-07-1904). Saat ini keduanya sudah tinggal di Den Haag
(lihat Sumatra-bode, 13-09-1904).
 


Di
Padang, senior mereka Dja Endar Moeda telah menambah surat kabarnya, tidak
berbahasa Melayu, tetapi berbahasa Belanda dengan nama “Sumatraasch Nieuws
(lihat Soerabaijasch handelsblad, 13-06-1905). Dengan demikian sudah ada empat surat kabar
di bawah pimpinan Dja Endar Moeda, yang mana sebelumnya surat kabar Pertja
Barat, surat kabar Tapian Na Oeli dan majalah Insulinde.
 

Dua guru asal Sumatra, Soetan Casajangan dan Baginda Djamaloedin di Belanda
memilih bidang yang berbeda. Soetan Casajangan melanjutkan studi keguruan di
Haarlem dan Baginda Djamaloedin memilih sekolah pertanian di Wageningen (lihat Sumatra-bode,
04-10-1905).
 


De
Sumatra post, 08-11-1905: ‘Kami mendapat informasi bahwa seorang guru asli
Tapanoeli, bernama Soetan Kasajangan Soripada, yang telah lama tinggal di
Belanda, telah berkomitmen untuk mengikuti kelas di Sekolah Tinggi Keguruan di Haarlem
guna memperoleh sertifikat mengajar, sehingga ia dapat kembali ke Hindia dan
mencari posisi mengajar di sini lagi’. De Sumatra post, 28-02-1906: ‘Surat
kabar Pertja Timor melaporkan bahwa Soetan Kasajangan Soripada, mantan guru di
sekolah pribumi di Tapanoeli, dan saat ini anggota dewan redaksi Bintang Perniagaan
di Amsterdam, telah memutuskan untuk mengikuti Sekolah Tinggi Keguruan di
Haarlem. Ia berharap dapat menyelesaikan studinya dalam satu hingga dua tahun’.
 

Soetan Casajangan di Haarlem menyelesaikan studinya tahun 1907 (lihat
Algemeen Handelsblad, 23-05-1907). Disebutkan Soetan Cajasangan lulus ujian pada
tanggal 22 Mei di Haarlem dan mendapat akte LO (Lager Onderwijs). Akta guru
untuk mengajar sekolah dasar Eropa ini (seperti sekolah ELS), sudah ada yang
pernah memperolehnya di masa lalu, yang pertama Willem Iskander (1876) dan JH
Wattimena (1884). Lantas apakah Soetan Casajangan sudah cukup puas dengan akta
LO dan kembali ke tanah air?


De nieuwe vorstenlanden, 24-06-1907: ‘Di antara
mereka yang mengikuti ujian pendidikan dasar dengan sopan santun di Haarlem,
nama asli Hindia, Soetan Casajangan Saripada, juga muncul. Bapak Saripada juga
merupakan penduduk asli Hindia; berasal dari Tanah Batak, di Batoe Na Doea, di Residentie
Tapanoeli di Samatra. Bertubuh kecil dan ramping, dengan temperamen Hindia yang
baik yang membuat pinggangnya agak kaku, dengan sopan santun yang ramah, Bapak
Saripada memberikan kesan yang menyenangkan. Bagaimana ia bisa mengikuti ujian
pendidikan dasar di Belanda? Saripada adalah kepala sekolah di Hindia, tetapi
memiliki kesempatan untuk menguasai bahasa Belanda dengan baik. Sejak tahun 1884,
bahasa Belanda tidak lagi diajarkan di sekolah guru (kweekschool) di Hindia.
Karena itu, ia memutuskan untuk pergi ke Belanda, menentang keberatan
keluarganya, yang percaya bahwa sebagai penduduk asli, seseorang tidak dapat
memperoleh posisi yang biasanya dipegang untuk orang Eropa. Tetapi Soripada
tetap gigih, berharap bahwa, setelah mendapatkan akta ini, ia akan diangkat
sebagai guru senior di sekolah guru pribumi (kweekschool). Ia menghabiskan tiga
tahun di Belanda, satu setengah tahun di antaranya di Haarlem, dan ia berbicara
dengan penuh rasa syukur tentang para direktur dan guru di sekolah guru (kweekschool)
negeri, yang telah melatihnya untuk perjalanan tersebut. Ia menantikan
kunjungan dari Menteri Koloni, yang dapat memberikan persetujuannya dan
menyetujuinya, lalu berangkat, kemungkinan dalam waktu dua tahun, kembali ke
Hindia, tempat ia harus meninggalkan istri dan dua anaknya, meskipun ia sangat
merindukan untuk bertemu mereka lagi. Bapak Soripada, yang berusia 31 tahun, berasal
dari kalangan bangsawan asli dan namanya adalah Soetan. Ia berbicara dengan
memuji pendidikan dalam negeri, tetapi sangat disayangkan bahwa masih terlalu
sedikit pendidikan di daerah tersebut. Oleh karena itu, ia didesak untuk
meninggalkan negara tempat ia dilahirkan, bertentangan dengan nasihat
keluarganya dan meninggalkan keluarga, untuk membuka jalan menuju karier yang
lebih baik di negeri asing. Dapat dikatakan bahwa pemerintah tidak akan
menyia-nyiakan energi ini. Lebih jauh lagi, perubahan hidup tersebut tidak
merugikannya. Sambil tertawa, ia bercerita, di Belanda, tempat ia bekerja
dengan sangat hati-hati dan penuh pertimbangan, bahwa ia jatuh sakit parah di Belanda,
bahkan sampai benar-benar jatuh sakit karena demam, yang sebelumnya sangat
dideritanya di Batoe Na Doea’.
 

Baginda Djamaloedin (bersama
RM Soemardji Widjojosiwajo, asal Trenggalek, Kediri) menyelesaikan studinya (dua
tahun) di Wageningen (Rijks-Landbouwschool) pada bulan Juli 1907. Lalu apakah Baginda
Djamaloedin sudah cukup puas dengan akta sekolah pertanian dua tahun dan kembali
ke tanah air? Yang jelas, Soetan Casajangan melanjutkan studi keguruan ke
tingkat yang lebih tinggi untuk mendapatkan akta guru MO (akta guru kepala) di
kampus yang sama di Haarlem (Rijkskweekschool).

Tunggu
deskripsi lengkapnya

Mendirikan Indisch Vereeniging, 1908; Soetan Casajangan
Mendirikan Bangsa di Luar Negeri

Dja Endar Moeda pernah
menyatakan bahwa pendidikan dan jurnalistik sama pentingnya, sama-sama
mencerdaskan bangsa. Tidak lama setelah mengakuisisi surat kabar Pertja Barat,
Dja Endar Moeda pada tahun 1900 menerbitkan satu surat kabar baru yang diberi
nama Tapian Na Oeli. Motto baru surat kabar Pertja Barat adalah “Oentoek Sagala
Bangsa”. Dalam konteks inilah kemudian, Dja Endar Moeda di Padang pada tahun
1900 Dja Endar Moeda mendirikan organisasi kebangsaan (bersifat nasional) yang
diberi nama Medan Perdamaian. Seperti disebut di atas, pada tahun 1901 Dja
Endar Moeda menerbitkan majalah pembangunan pertanian
  dan industri yang diberi nama Insulinde. Majalah
Insulinde dalam hal ini menjadi organ/corong Medan Perdamaian.
 


De Sumatra post, 27-01-1903: ‘Pendapat Dja Endar
Moeda bahwa pendidikan dasar anak pribumi harus diperluas, kurikulumnya
disesuaikan dengan sekolah-sekolah Belanda/Eropa. Anak-anak pribumi juga
memerlukan kemahiran berbahasa Inggris, Aritmetika. Usul Dja Endar Moeda ini
sudah pernah diutarakan kepada C.A. van Ophuysen, Inspektur Pendidikan Pribumi
Pantai Barat yang diteruskan ke Directeur voornoemd aangeboden lalu ke Gubernur
Jenderal di Padang dan ke Menteri Koloni di Batavia. Namun menurut Direktur,
‘proposal’ Dja Endar Moeda itu diabaikan pusat dan kemungkinan hanya dapat direalisasikan
di empat tempat di Jawa saja. Menurut Direktur, Jawa masih pusat perhatian pada
bagian dari Pemerintah, dan wilayah kita (pantai barat) hanya dianggap sebagai
bagian luar saja. Bahkan menurut Direktur, pusat masih keberatan meski
pelaksanaannya dilakukan satu di luar Jawa’.
 

Setelah keberangkatan dua
guru Soetan Casajangan dan Baginda Djamaloedin melanjutkan studi ke Belanda
pada akhir tahun 1903, Dja Endar Moeda di Padang kemudian terkena delik pers
tahun 1905. Tentu saja berita itu dapat dibaca para juniornya di Belanda. Dja
Endar Moeda dihukum cambuk dan diusir dari kota Padang.
 


Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië,
30-11-1905: ‘Delik pers di Pengadilan Padang dimana dua orang redaktur
dijatuhkan hukuman pada 24 Juli tahun ini. Si Saleh galar Dja Endar Moeda,
alias Hadji Mohamad Saleh, (menyebut nama Dja Endar Moeda sebagai demikian)
editor koran berbahasa Melayu ‘Pertja Barat’ dan mendapat hukuman cambuk dan
mengakibatkan cedera. Sementara, K Baumer, editor dan penerbit ‘Sumatraasch
Nieuwsblad’ (berbangsa Belanda) hanya didenda f15’.
 

Lantas apakah Dja Endar Moeda
menyerah begitu saja, lalu pulang kampong ke Padang Sidempoean? Dja Endar Moeda
hijrah ke kota Medan. Bisnis Dja Endar Moeda di pantai barat Sumatra (Padang
dan Sibolga) ditangani oleh adiknya Dja Endar Bongsoe yang juga pensiunan guru.
Guru-guru memiliki caranya sendiri-sendiri dalam berjuang untuk bangsa. Guru
Soetan Casajangan dan guru Baginda Djamaloedin terus berjuang di Belanda untuk
sukses dalam pendidikan masing-masing. Guru tetaplah guru. Dja Endar Moeda
meski sudah pension, namun di dunia nyata Dja Endar Moeda tetap sebagai guru,
bukan guru di ruang kelas, tetapi guru untuk bangsanya sendiri di seluruh
Hindia.
 


Surat kabar Pertja Barat dipimpin oleh editor Dja
Endar Bongsoe. Sedangkan surat kabar berbahasa Belanda Sumatraasch Nieuwsblad
dengan mengangkat editor baru bernama CA van Deutekom (lihat Het nieuws van den
dag voor Nederlandsch-Indië, 03-07-1906). Dja Endar Moeda bersiap-siap untuk
mengasingkan diri dari Padang. Bisnis Dja Endar Moeda juga ada di Sibolga dan
Medan dalam bidang percetakan.
Percetakan
Dja Endar Moeda di Medan bahkan telah mendirikan klub sepak bola bernama
Letterzetter Voetbal Club (1903).
 

Kasus delik pers kembali
menimpa Dja Endar Moeda. Namun yang memiliki kasus bukan dirinya, tetapi
editornya CA van Deutekom. Kasus ini terjadi bulan September 1906. Setelah
kasus delik pers yang kedua ini, Dja Endar Moeda menutup Sumatraasch Nieuwsblad
di Padang (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 25-03-1907)
dan Dja Endar Moeda mulai mengembangkan bisnisnya ke Kotaradja dan menerbitkan
surat kabar Pembrita Atjeh.
 


Orang Mandailing dan Ankola  sudah semakin banyak di Medan. Pada tahun 1907
untuk mengimbangi pedagang Cina, para pengusaha Mandailing dan Ankola membentuk
Sjarikat Tapanoeli yang dipimpin oleh Hadji Dja Endar Moeda dan wakilnya Hadji
Ibrahim. Sarikat ini pada tahun itu membentuk klub sepakbola yang diberi nama
Tapanoeli Voetbal Club dan mempelopori diadakannya kompetisi Deli Voetbal Bond.
Catatan: Mohamad Yacoub pada tahun 1880an pindah ke Medan dan bekerja di toko
Huttenbach & Co, salah satu toko pertama Eropa di Medan. Mohamad Yacoub
kemudian membuka usaha dan melakukan haji ke Mekah. Sejak kepulangan Mohamad
Yacoub dari tanah suci namanya lebih dikenal sebagai Hadji Ibrahim. Sebelum ada
djaksa pribumi di Medan, sudah terlebih dahulu ada djaksa di Leboehan Deli.
Djaksa tersebut dipindahkan dari Tapanoeli bernama Si Ripin gelar Soetan Mantri
(1887). Pada tahun 1893 seorang djaksa ditempatkan di Medan (djaksa pribumi
pertama). Djaksa tersebut bernama Sjarif Anwar gelar Soetan Goenoeng Toea yang
memulai karir sebagai djaksa di Sipirok, afdeeling Angkola Mandailing 1875 (mantan
murid Nommensen ini sebelumnya menjadi penulis di kantor Asisten Residen di
Padang Sidempoean).
 

Dja Endar Moeda tidak pernah
patah arang dalam berjuang. Dja Endar Moeda bolak balik antara kota Medan
(Sumatra Timur) dengan Kotaradja (Atjeh) dalam urusan bisnis dan perjuangan
bangsa. Nun, jauh di Belanda, junior Dja Endar Moeda yang tengah berjuang untuk
pendidikan yang lebih tinggi, Soetan Casajangan mulai menyingsingkan lengan
baju untuk membentuk persatuan dengan menyatukan semua anak bangsa (Indonesia) di
Belanda.

 

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping
pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis,
Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di
waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan:
Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia:
Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di
Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. “Sejarah Catur di
Indonesia”; “Sejarah Klub Como 1907”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah
Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia di Jepang”. Korespondensi:
akhirmh@yahoo.com


, Terimakasih telah mengunjungi Dului.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

To Top