*Untuk melihat semua artikel Sejarah Soetan Casajangan di blog ini Klik Disini
Studiefond
(dana studi/beasiswa) dan Soetan Casajangan Soripada adalah dua elemen penting
yang saling terkait erat dalam sejarah gerakan pendidikan dan nasionalisme awal
Indonesia di era kolonial Hindia Belanda. Meskipun Soetan Casajangan paling
dikenal sebagai pendiri dan ketua pertama Indische Vereeniging (Perhimpunan
Hindia) di Belanda pada tahun 1908, Soetan Casajangan memiliki peran besar
dalam gagasan pendanaan studi (studiefonds) bagi anak-anak pribumi. Metode Riset Bisnis

Sekolah guru Kweekschool Fort de
Kock adalah sekolah pendidikan guru pertama di Sumatra yang didirikan oleh
pemerintah Hindia Belanda pada 1 April 1856 di Fort de Kock (kini Bukittinggi).
Sekolah ini didirikan atas saran penasihat pendidikan kolonial, Pendeta SA
Buddingh, untuk menghasilkan guru dan pegawai kolonial. Sejak sekolah guru di Tanobato,
onderafdeeling Mandailing, afdeeling Angkola Mandailing, Residentie Tapanoeli 1865
dinegerikan pada tahun 1865, sekolah guru di Fort de Kock bahasa yang digunakan
di dua sekolah guru tersebut adalah bahasa Belanda dan bahasa Melayu. Sekolah
guru Fort de Kock ini juga pernah dijadikan sebagai Sekolah Radja (semacam
OSVIA/MOSVIA). Sekolah guru Fort de Kock juga melahirkan tokoh Indonesia seperti Tan
Malaka dan AH Nasution. Kompleks bangunan bersejarah Kweekschool Fort de Kock
ini sekarang masih aktif digunakan sebagai gedung SMA Negeri 2 Bukittinggi (AI Wikipedia)
Lantas bagaimana sejarah perjuangan
Soetan Casajangan dan studiefond untuk pendidikan pribumi? Seperti disebut di
atas, perjuangan Soetan Casajangan tidak hanya mempersatukan anak bangsa, juga memperjuangan
pendidikan pribumi di hadapan orang Belanda. Lalu bagaimana sejarah perjuangan Soetan
Casajangan dan studiefond untuk pendidikan pribumi? Lalu bagaimana sejarah bahasa
Esperanto, Bahasa Indonesia bahasa pemersatu dunia? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah
nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe. Sejarah Willem Iskander Pionir Pendidikan Indonesia

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya
yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah
pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk
lebih menekankan saja. Dalam hal ini saya bukanlah penulis sejarah,
melainkan hanya sekadar untuk menyampaikan apa yang menjadi
fakta (kejadian yang benar pernah terjadi) dan data tertulis yang telah
tercatat dalam dokumen sejarah.
Perjuangan
Soetan Casajangan dan Studiefond untuk Pendidikan Pribumi; Kembali ke Tanah Air
Menjadi Direktur Sekolah Guru di Fort de Kock
Segera setelah lulus ujian akta MO pada bulan
Agustus 1910, Soetan Casajangan, yang telah memegang jabatan sebagai ketua Indische
Vereeniging selama dua tahun, melepaskannya untuk diteruskan kepada pengurus
baru. Soetan Casajangan yang sudah menjadi guru bahasa Melayu di Sekolah Perdagangan
(Handelschool) di Haarlem mulai merintis pembentukan studiefond (dana
pendidikan bagi mahasiswa pribumi).
Het koloniaal
weekblad; orgaan der Vereeniging Oost en West, jrg 12, 1912, no. 19, 09-05-1912:
‘Tentang “Indische Vereeniging” di Den Haag. Para editor
Pertja-Timor, dalam surat kabar mereka tanggal 15 Februari 1912, no. 14,
mengeluarkan seruan kepada orang tua asli di Hindia Belanda yang bermaksud
menyekolahkan anak-anak mereka di Belanda, mendesak mereka untuk menjadi
anggota Indische Vereeniging di Den Haag, dan menyatakan, antara lain: Asosiasi
ini didirikan empat tahun yang lalu oleh beberapa pemuda asli dari berbagai
kelas sosial yang tinggal di Belanda, yang melanjutkan studi dan menyelesaikan pendidikan
mereka di sana. Profesi yang mereka kuasai adalah guru, dokter, doktor sastra,
pegawai negeri sipil di bidang peradilan, ahli pertanian, insinyur, dll. Tujuan
mereka adalah untuk mencoba mengamankan kehidupan sosial yang layak bagi diri
mereka sendiri setelah kembali ke Hindia Belanda dan juga untuk memanfaatkan
pengetahuan yang diperoleh untuk kepentingan penduduk asli. “Indische
Vereeniging” (Asosiasi Hindia Belanda) berupaya, antara lain, untuk
meningkatkan taraf hidup masyarakat di Hindia Belanda, memberikan informasi
kepada orang tua yang ingin mengirim anak atau anak asuh mereka ke Belanda,
memberikan akomodasi yang baik dan layak, menunjukkan kepada mereka cara
memperoleh pakaian dan makanan dengan cara yang paling ekonomis, dan selanjutnya
untuk membina dan memelihara persahabatan yang baik. Awalnya, Bapak Soetan
Casajangan Soripada, yang sebelumnya berasal dari Angkola Mandhéling
(pemerintahan Tapanoeli di Pantai Barat Sumatra), bertindak sebagai pendiri dan
ketua asosiasi; saat ini beliau bekerja sebagai guru bahasa Melayu di
sekolah-sekolah komersial di Rotterdam dan Haarlem1, dan tinggal di Den Haag.
Di bawah kepemimpinannya, asosiasi tersebut berkembang pesat, sementara,
sebagai hasil dari upaya bijaksananya, beberapa penduduk Kepulauan Belanda yang
tertarik dan berpengaruh juga menunjukkan minat pada kepentingan asosiasi
tersebut. Setelah menjabat sebagai ketua selama dua tahun, Dr. Ph Laoh menggantikannya.
Laoh, yang dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh Mohamad Saleh dari Soeliki
(Dataran Tinggi Padang) dan Raden Brenthel, keduanya pada saat itu sedang
belajar kedokteran di Universitas Amsterdam. Dr Laoh berangkat ke Hindia
Belanda pada tahun 1911, ditempatkan sebagai dokter di Perusahaan Batoe Panggal
(pertambangan batubara) di Samarinda (Koetei – Pantai Timur Kalimantan), dan
kemudian digantikan di Belanda sebagai ketua asosiasi oleh Raden Hoesein Djajadiningrat,
yang melanjutkan studi Sastra di Leiden dan sekarang telah memperoleh gelar
doktor. Raden Mas Gondowinoto bertindak sebagai sekretaris-bendahara, dan Raden
Mas Noto Soeroto, keduanya berasal dari Djocjacarta, dan juga belajar di
Leiden. Yang terakhir berulang kali menulis artikel di surat kabar Belanda
tentang subjek-subjek penting yang menjadi kepentingan kolonial. Karena para
mahasiswa Hindia tinggal ddi Belanda tersebar luas, termasuk di kota-kota
Amsterdam, Haarlem, Leiden, Den Haag, Delft, Deventer, dan Wageningen, demi
kepentingan anggota asosiasi, pertemuan biasanya diadakan di Den Haag, karena
letaknya kurang lebih di tengah-tengah tempat-tempat tersebut, dan
kadang-kadang di Amsterdam atau Leiden. Anggota asosiasi menerima pemberitahuan
7 hari sebelumnya, dengan undangan untuk tidak hadir hanya dalam keadaan darurat.
Dalam pertemuan tersebut, para anggota memberikan kuliah tentang subjek
kolonial, yang sering kali juga dihadiri oleh para donatur wanita dan pria,
sementara ketua, secara bersamaan menggunakan pertemuan-pertemuan ini untuk
menarik perhatian pada kepentingan para mahasiswanya. Bahwa “Indische
Vereeniging” menikmati minat dari asosiasi-asosiasi Belanda terbukti dari
fakta bahwa mereka berulang kali mengundang dewan pengurus untuk hadir dalam
acara kuliah mereka. Mengingat kepergian RM Hoesein Djajadiningrat ke Hindia
Belanda, kekosongan jabatan ketua harus diisi kembali, dan pilihan jatuh pada RM
Noto Soeroto, sementara RM Notodiningrat (sang adik), sekretaris-bendahara, dan
RM Soerjodinoto (juga adik) bertindak sebagai anggota dewan komisaris. Dewan
juga ditambah dengan lima anggota. Semua pemuda asli Hindia Belanda yang
belajar di Belanda, tanpa memandang kewarganegaraan mereka, diterima sebagai
anggota asosiasi. Jika semua bergabung dengan asosiasi, kekuatan tertentu pasti
akan muncul darinya. Mungkin orang tua asli di Hindia Belanda akan menemukan
alasan untuk bergabung sebagai anggota dan dengan demikian mendukung dewan
dalam tugasnya. Semoga dewan dapat berkembang dengan kekuatan penuh.
Demikianlah anjuran Pertja-Timor’. Catatan: Surat kabar Pertja Timor
diterbitkan sejak 1901. Pada tahun 1902 pemimpin redaksinya adalah Hasan
Nasoetion gelar Mangaradja Salamboewe, adik kelas Soetan Casajangan di sekolah
guru Padang Sidempoean. Mangaradja Salamboewe meninggal tahun 1908 dan digantikan
oleh anak didiknya Moesa (hingga 1912 ini).
Soetan Casajangan sudah selesai dengan dirinya,
tetapi Soetan Casajangan masih sangat tidak puas apa yang dihadapi dan diterima
oleh bangsanya (di Hindia). Soetan Casajangan di Belanda sudah berhasil
mempersatukan bangsanya dalam satu wadah tunggal Indische Vereeniging. Soetan
Casajangan meski bukan mahasiswa lagi, sebagai guru di Beloanda, Soetan
Casajangan terus memperjuangkan peningkatan pendidikan bagi bangsanya. Di
berbagai forum (seperti Moderland en Kolonien dan Oost en West) Soetan
Casajangan bebicara tentang pendidikan bangsanya, Soetan Casajangan menulis di
berbagai surat kabar dan majalah tetap dengan topik pendidikan pribumi. Itulah
Soetan Casajangan, guru tetaplah guru. Tindakan nyata dari pemikiran jangka
panjang adalah merealisasikan pembentukan studiefond (dana pendidikan) yang
tahap pertama dalam skala kecil untuk kepentingan mahasiswa pribumin di
Belanda.
Pada tahun 1911 ini
Soetan Casajangan mendirikan studiefond di Belanda. Studiefond ini sudah
menjadi umum di Hindia. Boedi Oetomo dengan studiefondnya telah mengirim guru
muda Sjamsi Widagda melanjutkan studi keguruan di Belanda (yang kebetulan di bawah
pengasuhan Soetan Casajangan di Belanda). Demikian juga studiefond yang
didirikan di Kota Gadang (Padangsche Bovenlanden) telah mengirim dua guru muda
studi keguruan ke Belanda (yang juga di bawah asuhan Soetan Casajangan). Namun
di Belanda sendiri, dengan semakin banyaknya mahasiswa Indonesia, untuk
mengatasi kesulitan keuangan mahasiswa belum ada studiefond yang menjaga
kesinambungan studi mahasiswa di Belanda. Sebab banyak mahasiswa Indonesia di Belanda
yang datang dengan biaya sendiri (keluarga) tanpa dukungan pendanaan dari siapapun
(termasuk Pemerintah Hindia Belanda). Pada tahun 1911 salah satu lulusan ELS di
Medan, Abdoel Firman Siregar gelar Mangaradja Soangkoepon tiba di Belanda yang
kemudian Soetan Casajangan mengajaknya untuk membantu dalam pendirian
studiefond.
Tujuan umum studiefond yang didirikan Soetan
Casajangan dan Mangaradja Soangkoepon tersebut adalah untuk menggalang dana
(fundraising) untuk membantu siswa yang kesulitan keuangan yang ingin
melanjutkan studi ke Belanda dan juga mahasiswa pribumi di Belanda yang
bermasalahan dalam soal keuangan. Sumber pembiayaan lebih ditujukan kepada para
donator di Belanda yang tidak mengingat, khususnya para donator yang sudah
pernah di Hindia seperti gurunya CA van Ophuijsen di sekolah guru Padang
Sidempoean yang kini menjadi guru besar di Universiteit te Leiden. Studiefond
ini terbilang berhasil karena banyak pihak yang memberi kontribusi. Soetan Casajangan
juga menyurati Ratu Juliana.
Kerajaan Belanda menganggap
Hindia adalah provinsinya. Sebaliknya, Hindia Belanda menganggap Kerajaan
Belanda di Eropa adalah pelindungnya. Namun diantara orang-orang di Hindia,
baik Eropa/Belanda, Asia/Cina dan asli/pribumi memiliki pandangan-pandangan
yang berbeda. Sebagian orang Eropa/Belanda telah lama menyuarakan pemisahan
antara Kerajaan Belanda dengan Hindia Belanda sebagai suatu negara yang
terpisah (tetapi terhubung dalam persemakmuran). Dorongan pemisahan ini
terutama datang dari orang-orang Indo (orang Belanda yang lahir di Hindia dan
orang Indo-Eropa yang karena perkawinan telah bercampur dengan penduduk Cina
dan pribumi. Dorongan itu sudah mulai terjadi pada tahun 1882. Lalu pada tahun
1898 di Hindia didirikan organisasi Indisch Bond. Namun Indische Bond ini
mendapat tekanan dari pemerintah yang kemudian muncul organisasi baru yang
disebut Insulinde (dimana orang pribumi mulai terlibat). Salah satu pendukung Insulinde ini adalah Dja Endar Moeda di
Padang. Namun dorongan itu terkesan lambat, mulai muncul gerakan yang lebih
radikal dengan terbentuknya Indisch Partij yang didirikan pada tanggal 25
Desember 1912 di Bandoeng dengan tujuan menuntut kemerdekaan dari penjajahan. Tiga
tokoh pelopornya dikenal sebagai Tiga Serangkai: Ernest Douwes Dekker, Tjipto
Mangoenkoesoemo, dan Soewardi Soerjaningrat.
Bersamaan dengan munculnya gerakan radikal di
Hindia, Soetan Casajangan kembali ke tanah air setelah 10 tahun
di Belanda. Sebelum keberangkatan Soetan Casajangan ke tanah air, dalam suatu
pertemuan Indische Vereeniging yang dipimpin oleh Noto Soeroto, Soetan
Casajangan menitipkan Studiefond yang telah dibentuknya untk diintegrasikan ke
Indische Vereeniging. Satu permintaan Soetan Casajangan, karena dia berhak
sebab dia yang mendirikan, agar alokasi dana dalam studiefond itu proporsinya
lebih banyak untuk siswa yang mengambil keguruan dibandingkan siswa lainnya.
Tentu saja itu sangat
mulia, tentu saja itu bukan karena Soetan Casajangan seorang guru yang telah
berhasil melanjutukan studi keguruan di Belanda, tetapi faktanya pendidikan
pribumi masih sangat rendah kualitasnya di tanah air. Namun tiba-tiba Noto Soeroto
mnyela dan tidak setuju. Lalu timbnl perdebatan diantara keduanya. RM Noto
Soeroto yang lebih menginginkan untuk bantuan siswa-siswa prubumi yang
melanjutkan studi ke universitas di Belanda. Namun tidak terinformasikan hasil
dari perdebatan itu. Yang jelas RM Noto Soeroto anak dari Pangeran Ario
Notodirodjo, ketua Boedi Oetomo yang menggantikan ketua Raden Adipati Ario
Tirtokoesoemo, orang yang sangat sadar mengirim calon guru Sjamsi Widagda untuk
melanjutkan studi keguruan di Belanda. Lalu apakah serba kebetulan relasi
antara Tirtokoesoemo dan Sjamsi Widagda di satu sisi dan antara Notodirojo dan
Noto Soeroto di sisi lain? Tampaknya apa yang dipikirkan oleh Soetan Casajangan
telah dikacaukan oleh adanya faksi yang berbeda di dalam Boedi Oetomo dan faksi
yang berbeda di Indische Vereeniging. Boleh jadi pendapat keduanya berbeda,
karena keduanya datang dari arah yang berbeda. Soetan Casajangan adalah seorang
guru lulusan sekolah guru pribumi yang berangkat studi keguruan ke Belanda,
sedangkan Noto Soeroto lulusan sekolah Eropa (HBS) yang melanjutkan studi ke
universitas (non keguruan). Soetan Casajangan ingin lebih banyak guru pribumi
yang berkualitas, sedangakan Noto Soeroto ingin lebih banyak insinyur, dokter,
advocaat dan sebagainya. Dalam hal ini keduanya benar. Namun yang mana yang
menjadi prioritas. Itulah yang menjadi persoalannya.
Akhirnya Soetan Casajangan kembali ke tanah air
dengan kapal ss Koningin der Nederlanden pada tanggal 1 Februari 1913 (lihat Algemeen
Handelsblad, 31-01-1913). Kapal yang berangkat dari pelabuhan Amsterdam telah
tiba di pelabuhan Tandjoeng Priok, Batavia sekitar tanggal 26 Februari (lihat Bataviaasch
nieuwsblad, 26-02-1913).
Sebelum kembali ke
tanah air, Soetan Casajangan menulis buku yang diberi judul “Indische
Toestanden Gezien Door Een Inlander’ (Hindia Belanda dilihat oleh penduduk
pribumi). Buku ini adalah sebuah monograf (kajian ilmiah) setebal 48 halaman
yang mendeskripsikan dan membahas tentang perihal ekonomi, sosial, sejarah
budaya Asia Tenggara (nusantara) dan pertanian di Indonesia. Buku ini berangkat
dari pemikiran bahwa sudah sejak lama penduduk pribumi merasakan adanya
dorongan untuk penyatuan yang lebih besar yang kemudian dengan munculnya
berbagai sarikat, antara lain Indisch Vereeniging (digagas oleh Soetan
Casajangan), Boedi Oetomo (digagas oleh Wahidin) dan Sarikat Dagang Islam. Buku
ini sangat mengejutkan berbagai pihak di kalangan orang Belanda baik di Negeri
Belanda maupun di Hindia Belanda. Dalam buku ini terang-terangan Soetan
Casajangan menyinggung Undang-Undang di Hindia Belanda yang membatasi konsesi untuk warga pribumi yang
mana menurut Soetan Casajangan hanya orang Eropa hak konsesi dapat diberikan
sementara penduduk pribumi asli haknya justru dirampas. Lebih lanjut, Soetan
Casajangan mengutarakan tuntutan yang sangat mendasar bahwa persamaan di
hadapan hukum bagi orang pribumi dan orang Belanda harus dengan segera
diwujudkan. Menurut Soetan Casajangan di Belanda sendiri tidak semua orang
sifat, tabiat dan kebajikannya sama tapi toh diperlakukan sama di hadapan
hukum. Di Hindia Belanda mengapa tidak? Untuk itu, menurut Soetan Casajangan
pemerintah Belanda juga harus menyelenggarakannya di bidang pendidikan termasuk
pengadaan beasiswa. Dalam buku ini, Soetan Casajangan juga menuntut kepada
pihak pemerintah Belanda hal yang sama di bidang penerangan pertanian dan
penggalakan perdagangan. Dengan kesamaan hukum tersebut pribumi akan mendapat
kemajuan yang sama dengan orang-orang Belanda baik di bidang pendidikan,
pertanian maupun perdagangan. Tulisan Soetan Casajangan ini juga mengkritik
disparitas harga kopi dimana harga jual kopi lokal hanya dihargai sebesar f40
per pikul sementara harga jual kopi di pasar Eropa berkisar f70-f90 (rata-rata
dua kali lipat per pikul). Buku ini di Barn oleh percetakan Hollandia-Drukkerij
(1913).
Sebelum tiba di tanah air, salah satu artikelnya yang dikirim dari
Belanda telah diterbitkan di surat kabar di Batavia pada edisi 11 Februari 1913.
Selama di Batavia, sambil menunggu penempatannya sebagai direktur sekolah guru
di Fort de Kock, Soetan Casajangan mengirim artikel ke surat kabar di Belanda Het
vaderland yang kemudian dimuat pada edisi 12 Maret 1913. Dalam artikel ini,
Soetan Casajangan terkesan sudah memberi “warning” kepada orang Belanda. Namun
karena Soetan Casajangan sebagai guru yang berjuang untuk pendidikan pribumi,
hanya fokus pada upayanya agar studiefond yang didirikannya dan telah diiintegrasikan
ke Indisch Vereniging lebih banyak dana pendidikan yang terkumpul. Demikianlah
seorang guru berjuang dengan caranya guru sendiri.
Het vaderland, 12-03-1913:
‘Dari Belanda! Untuk Rakyat Hindia! Di sana terdapat keinginan untuk
pembangunan yang lebih besar, untuk pendidikan yang lebih baik oleh ribuan
penduduk pribumi, di Insulinde kita, selama berabad-abad telah bekerja sama
untuk memberi manfaat bagi Belanda dan orang Belanda secara materi. Tidak ada
yang seperti ini yang dapat diamati di negara kolonial lain. Disini, yang
ditaklukkan menuntut pengetahuan tentang bahasa para penakluk; disini yang
dikalahkan menginginkan pembangunan dan pendidikan dari para pemenang, dan
sebagai pemenang mereka. Betapa indahnya perspektif yang terbuka bagi Belanda
kecil untuk mempertahankan Insulinde yang agung dan untuk melestarikan warisan
leluhur yang paling berharga dan tak ternilai harganya terhadap tetangga yang
iri. Dengan jutaan penduduk pribumi sebagai teman, kepemilikan Insulinde
dijamin untuk Belanda; Dengan jutaan penduduk pribumi sebagai lawan yang acuh
tak acuh atau, lebih buruk lagi, sebagai lawan yang tidak puas, pada akhirnya
akan terbukti mustahil bagi Belanda kecil untuk mempertahankan kepemilikannya
terhadap musuh asing atau domestik yang kuat. Memanfaatkan arus tersebut di
antara penduduk pribumi pada waktu yang tepat dan memberikan arahan, saat ini,
merupakan tugas besar dan benar-benar bersejarah yang diemban oleh Belanda. ATN
Engelenberg, yang sedang cuti, berbicara dengan tepat, dengan kata-kata
berikut: “Hendaknya Belanda memperhatikan, “bahwa pengorbanan demi Hindia ini
juga merupakan “investasi yang baik, karena “dengan itu tangan antara Belanda
“dan Hindia dapat diperkuat… “Semoga Kekaisaran menjadi satu rumah sejati
bagi “semua bangsa dan semua agama yang dicakupnya, sehingga pada saat cobaan
“semua berdiri bahu-membahu untuk “menangkal bahaya”. D Soesman menulis dalam surat kepada editor:
“Apa lagi pertahanan terbaik bagi wilayah kita yang indah?” “Pendidikan umum
dan pengasuhan yang baik dan bijaksana bagi warga Hindia. Biarlah warga Belanda
yang berpendidikan tinggi dan berpikiran baik menunjukkan bahwa mereka sangat
memahami apa yang menjadi kepentingan negara mereka dan apa yang perlu
dilakukan untuk kerajaan-kerajaan tersebut”. Dan sebagai orang Batak pribumi,
saya dengan senang hati akan mendukung kata-kata orang Eropa yang berwibawa
ini, para ahli tentang Hindia dan kondisi disana, dengan keyakinan dan
pengalaman saya yang diperoleh selama bertahun-tahun tinggal di antara penduduk
pribumi, bahwa penduduk pribumi saat ini mengharapkan peningkatan moral dari
Belanda, yang akan memungkinkan mereka untuk memperoleh pengetahuan dan ilmu
pengetahuan di mana pun, yang akan memberi mereka kemakmuran praktis yang lebih
besar dan, dalam arti ideal, membuat mereka “lebih manusiawi”. Minat
dan perhatian tanpa disengaja dari penduduk pribumi adalah faktor terbaik yang
dapat dibayangkan untuk mengamankan Hindia bagi kita. Lagipula, di sekolah kita
mengamati bahwa hasil pendidikan sangat bagus ketika minat dan perhatian tanpa
disengaja dari para siswa hadir. Dengan demikian, kita hanya perlu memastikan
bahwa metode dan bahan pengajaran itu baik. Oleh karena itu, kita hanya perlu
memastikan bahwa minat dan perhatian itu harus dimanfaatkan. Lebih lanjut: Jika
ia memiliki perkembangan itu, ia akan mempertimbangkan sendiri agama apa yang
akan dianutnya dan bangsanya. Betapa tugas yang “besar” bagi
“Bangsa yang kecil!”. “Biarlah Belanda sekarang menunjukkan
kebesarannya, “dalam segala hal yang dapat dilakukan oleh negara kecil!” Jumlah
penduduk pribumi yang, dengan mengatasi berbagai rintangan, datang untuk
menyelesaikan pendidikan mereka di Belanda di sekolah-sekolah Belanda semakin
meningkat; dan ini tentu akan menjadi jauh lebih besar jika pengorbanan
finansial yang besar tidak sering menjadi penghalang. Keinginan penduduk pribumi
untuk lebih banyak sekolah, untuk pendidikan yang lebih banyak dan lebih baik,
semakin tumbuh setiap hari. Jika sekolah dasar pertama-tama diorganisir dengan
benar dan didasarkan pada sekolah-sekolah Eropa, maka lembaga pendidikan
menengah dan tinggi akan muncul dengan sendirinya. Tidakkah rakyat Belanda
benar-benar ingin menjangkau penduduk pribumi? Biarlah tahun 1913, Tahun
Yubileum yang akan datang, juga menjadi Tahun Yubileum bagi warga Belanda
keturunan cokelat di Hindia Belanda, di mana warga tersebut dapat menjadi saksi
atas dukungan yang diberikan dari Belanda untuk mengangkat mereka melalui
pendidikan tinggi ke keadaan “kebebasan” spiritual. Pendirian dan
pembukaan berbagai lembaga pendidikan di Hindia Belanda hanya dapat dilakukan
selama bertahun-tahun; Namun, Belanda memiliki banyak sekolah yang bagus, di
mana terdapat banyak kesempatan bagi para pemimpin di bidang pendidikan,
pertanian, dan perdagangan untuk menerima pendidikan yang lengkap di bidang
tersebut. Baiklah, warga Belanda! Di antara penduduk pribumi terdapat kebutuhan
dan keinginan besar akan pendidikan yang lebih tinggi, terutama bahasa Belanda,
pengetahuan tentang pertanian dan peternakan, serta pengetahuan komersial.
Teguhlah, warga Belanda! Sekarang, melalui bantuan keuangan, penduduk pribumi
dapat memperoleh pengetahuan dan pengembangan tersebut di Belanda! Kita hanya
perlu berpikir bahwa, jika setiap orang bersedia membayar sebagian kecil dari
pajak yang harus dibayar di negara ini, dengan mempertimbangkannya sebagai
kontribusi sukarela untuk peningkatan kesejahteraan kita… Saudara-saudara di
Hindia, melalui pendidikan yang lebih banyak dan lebih baik, juga sebagai tanda
kemurahan hati Belanda yang terkenal luas, atau mungkin oleh sebagian orang sebagai
pengakuan atas kehormatan yang lebih terkenal, kita dapat memiliki fondasi yang
kuat untuk pendirian: “LEMBAGA ABADI UNTUK PERSATUAN DAN KEMAJUAN” (yang
akan diberikan sebagai uang muka tanpa bunga kepada para siswa dengan jaminan
asuransi jiwa), kemudian penduduk pribumi tersebut, setelah kembali ke Hindia,
akan menyebarkan pengetahuan yang diperoleh di antara penduduk, dan imbalannya
juga akan dipetik seratus kali lipat oleh kalian, para pemuda Belanda, melalui
penghargaan, rasa hormat, rasa syukur, dan pengabdian yang tulus dari penduduk pribumi
terhadap Kekaisaran Belanda, yang akan disebut “sesungguhnya”: “BELANDA
YANG LUAR BIASA” dan terdiri dari provinsi-provinsi di Eropa dan di
Hindia, hanya satu Kekaisaran yang ada. Di mana, baik di sini maupun di tempat
lain, perkembangan yang lebih besar dan kemakmuran yang lebih besar memerlukan
kebutuhan yang lebih besar dan daya beli yang lebih besar, bimbingan itu juga
secara tidak langsung akan menguntungkan Belanda dan perusahaan-perusahaan
Belanda. Investasi dalam pendidikan menghasilkan bunga yang tak ternilai. Di
surat kabar Hindia Belanda, saya telah menerbitkan artikel dengan maksud yang
sama pada tanggal 11 Februari yang meminta dukungan dari Hindia Belanda untuk
hal ini. Sekarang saya memohon kesediaan Anda, bangsa Belanda, untuk berkorban.
Anda, warga negara Belanda dan asosiasi yang memiliki badan hukum, tentu siap
untuk mengumpulkan dana untuk tujuan: “Memungkinkan penduduk pribumi di
Belanda untuk memperoleh perkembangan dalam hal-hal yang paling penting:
pendidikan, perdagangan, dan pembangunan”, dalam dana yang disebutkan di
atas, yang darinya biaya dapat ditutupi untuk memberikan pendidikan tingkat
yang lebih tinggi kepada beberapa penduduk pribumi di Belanda setiap tahun, dan
yang juga berfungsi untuk peningkatan dan perluasan sekolah di Hindia Belanda.
Dengan dukungan dari para pembawa seperti: C Th van Deventer, JH Abendanon, Dr
HPN Muller, Prof Dr C Snouck Hurgronje, Prof Ch A van Ophuijsen, KHH van
Bennekom, HE Prins, E van Assen, JH Dijkman, D Vooren, Dr CW Janssen, Prof Ley,
J Schaap, Dr Schemer, Dr Visser Smidt, JA Gratama, H van Kol, PJ Koorenian, JE de
Meijier, JW Tamson, Ny JA Hilgers dan banyak wanita dan pria lainnya, yang
telah saya kenal sebagai teman-teman pengembangan pribumi, saya berani
mengandalkan mereka terlebih dahulu, terutama mengenai masalah teknis
pengelolaan dana tersebut. Kita, rakyat Belanda, merayakan seratus tahun
kemerdekaan Belanda tahun ini; semoga tahun 1913 yang sama menjadi awal
kebebasan spiritual dan kebangkitan spiritual bakat-bakat yang tertidur dari
ribuan warga Belanda di Hindia Belanda. Siapa pun di antara pembaca artikel
ini, yang diterbitkan di surat kabar Belanda yang paling banyak dibaca, yang
merasa simpati terhadap upaya ini, hendaknya mereka mempertimbangkan:
“Setiap orang Belanda memiliki kepentingan di Belanda dan bahwa hegemoni
Belanda terletak di Hindia, hendaknya mereka menunjukkan hal ini dengan
mengirimkan kartu nama mereka kepada R Soetan Casajangan Sp, Copemicusstraat
131, Den Haag, sehingga pertemuan pertama untuk pembentukan komite dan dewan dapat
diadakan sesegera mungkin”. Catatan: Artikel tersebut juga dilansir
(secara ringkas) di majalah Vox studiosorum; studenten weekblad, jrg 49, 1913, No.
11, 17-04-1913 dan secara lengkap dilansir majalah L’union fraternelle;
weekblad voor vrijmetselaars, jrg 23, 1913, No. 19, 10-05-1913. Sementara
Soetan Casajangan sudah di Hindia, siapa yang tinggal di Jalan Copemicusstraat
131, Den Haag yang menjadi alamat tujuan surat yang ditujukan kepada R Soetan
Casajangan Sp. Apakah alamat Indische Vereeniging atau alamat Mangaradja
Soangkoepon?
Soetan Casajangan berjuang untuk bangsanya tetap
konsisten dari waktu ke waktu. Bahkan saat Soetan Casajangan berangkat studi ke
Belanda pada tahun 1903 pembangunan pendidikan pribumi menjadi topic yang selalu
digaungkannya. Pembangunan pendidikan bangsa tidak dapat dilakukan
sendiri-sendiri. Hal itulah yang menjadi alas an kuat Soetan Casajangan
menginisiasi adanya persatuan diantara anak bangsa melalui pendirian Indisch
Vereeniging. Lalu kini studiefond. Perhatikan isi pidato Soetan Casajangan ketika
diundang untuk berbicara di forum Vereeniging Moederland en Kolonien (wadah bagi
orang-orang Belanda pencinta Hindia di Belanda). Dalam kesempatan yang diadakan
pada tanggal 28 Maret 1911, Soetan Casajangan membawakan makalah berjudul ‘Verbeterd
Inlandsch Onderwijs’ (peningkatan pendidikan pribumi): Berikut beberapa petikan
penting isi pidatonya:
Geachte Dames en
Heeren! (Dear Ladies and Gentlemen).
‘…saya selalu
berpikir tentang pendidikan bangsa saya…cinta saya kepada ibu pertiwa tidak
pernah luntur…dalam memenuhi permintaan ini saya sangat senang untuk langsung
mengemukakan yang seharusnya…saya ingin bertanya kepada tuan-tuan (yang hadir
dalam forum ini). Mengapa produk pendidikan yang indah ini tidak juga berlaku
untuk saya dan juga untuk rekan-rekan saya yang berada di negeri kami yang
indah. Bukan hanya ribuan, tetapi jutaan dari mereka yang merindukan pendidikan
yang lebih tinggi…hak yang sama bagi semua…sesungguhnya dalam berpidato ini
ada konflik antara ‘coklat’ dan ‘putih’ dalam perasaan saya (melihat
ketidakadilan dalam pendidikan pribumi)’. Catatan: Saat ini Soetan Casajangan
tidak lagi ketua Indisch Vereeniging, sudah lulus dan sebagai guru bahasa
Melayu di sekolah perdagangan (Handelschool) di Haarlem dan Rotterdam dan
tengah merintis studiefond (dana pendidikan pribumi).
Tunggu deskripsi lengkapnya
Kembali
ke Tanah Air Menjadi Direktur Sekolah Guru di Fort de Kock; Perjuangan Soetan
Casajangan Semakin Terbuka
Tunggu deskripsi
lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping
pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis,
Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di
waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan:
Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia:
Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di
Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. “Sejarah Catur di
Indonesia”; “Sejarah Klub Como 1907”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah
Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia di Jepang”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

, Terimakasih telah mengunjungi Dului.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.










