Sejarah Indonesia

Sejarah Casajangan (9): Guru Sekolah Guru di Djatinegara; Dari Indische Vereeniging ke Kongres Hindia hingga Kongres Pemuda

image001 8


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Soetan Casajangan di blog ini Klik Disini

Soetan Casajangan
adalah seorang guru. Guru tetaplah guru. Namun di luar kewajibannya untuk
mengabdi sebagai guru, Soetan Casajangan terus meningkatkan studinya, membangun
persatuan bangsa, banyak menulis termasuk di surat kabar dan majalah. Soetan Casajangan
menjembatani antara orang Belanda dengan orang pribumi, mengadvokasi pentingnya
percepatan peningkatan pendidikan pribumi. Jumlah mahasiswa menjadi semakin
banyak yang kemudian di atas landasan persatuan mulai berpolitik dan berjuang
untuk demi kemerdekaan Indonesia. Soetan Casajangan adalah inisiator pendirian
Indische Vereeniging di Belanda tahun 1908.
 Deepublish


image001 8

Pada periode pasca Perang Dunia I,
Indische Vereeniging (IV) mulai mengalami proses politisasi secara bertahap.
Salah satu tokoh penting dalam fase awal ini adalah Ahmad Subardjo, yang menjabat
sebagai ketua organisasi pada periode 1919-1921. Dalam masa Kepemimpinannya,
orientasi organisasi mulai bergeser dari perkumpulan mahasiswa yang bersifat
sosial menjadi forum diskusi kebangsaan dan politik, dengan penekanan pada
kesadaran nasional dan posisi Indonesia dalam konteks internasional. Pada
September 1922, saat pergantian ketua antara Dr Soetomo dan Herman
Kartowisastro organisasi ini berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging.
Saat itu istilah “Indonesier” dan kata sifat “Indonesich”
sudah tenar digunakan oleh para pemrakarsa Politik Etis. Para anggota PI juga
memutuskan untuk menerbitkan kembali majalah Hindia Poetra. Saat Iwa
Koesoemasoemantri menjadi ketua pada 1923, PI mulai menyebarkan ide
non-kooperasi yang mempunyai arti berjuang demi kemerdekaan tanpa bekerjasama
dengan Belanda. Tahun 1924, saat M. Nazir Datuk Pamoentjak menjadi ketua, nama
majalah Hindia Poetra berubah menjadi Indonesia Merdeka. Tahun 1925 saat
Soekiman Wirjosandjojo nama organisasi ini resmi berubah menjadi Perhimpunan
Indonesia (PI). Meohamad Hatta menjadi ketua PI sejak awal tahun 1926
(AI Wikipedia) 

Lantas bagaimana sejarah Soetan
Casajangan guru di sekolah guru (Normaalschool) di Djatinegara? Seperti disebut
di atas, Soetan Casajangan
adalah seorang guru. Guru
tetaplah guru, namun kiprahnya di luar itu tidak terhingga banyaknya.
Lalu bagaimana sejarah Soetan Casajangan guru
di sekolah guru (Normaalschool) di Djatinegara?
Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah
nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe. Sejarah Mahasiswa di Indonesia

image001 9

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya
yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah
pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk
lebih menekankan saja. Dalam hal ini saya bukanlah penulis sejarah,
melainkan
hanya sekadar untuk menyampaikan apa yang menjadi
fakta (kejadian yang benar pernah terjadi) dan data tertulis yang telah
tercatat dalam dokumen sejarah.
 

Guru
di Sekolah Guru (Normaalschool) di Djatinegara; Indisch Vereeniging 1908,
Kongres Hindia 1917, Kongres Pemuda 1926

Isu diskriminasi mulai digugat secara terbuka. Itu dimulai dengan didirikannya
Indische Partij di Bandoeng Desember 1912 (diinisiasi oleh Ernest Douwes
Dekker). Pada awal tahun 1913 Soetan Casajangan juga menggugat diskiminasi
seiring dengan inisiatifnya mendirikan Studiefond di Belanda. Sejak ini,
alih-alih untuk menghilangkan sepenuhnya isi diskriminasi, Pemerintah Hindia
Belanda hanya membuka sedikit ruang kerjasama (asosiasi). Politik etik memang
sudah using, tetapi kebijakan kerjasama (asosiasi/co-operative) tetap ada
menyisakan isu diskrimiatif.
 


Pada
bulan Juli 1913 Soetan Casajangan kembali ke tanah air Juli. Dengan sertifikat
guru kepala (akta guru MO), Soetan Casajangan seharusnya kepala sekolah guru
pribumi (kweekschool), tetapi oleh Pemerintah Hindia Belanda, Soetan Casajangan
hanya ditempatkan sebagai guru kedua. Oleh karena Soetan Casajangan bukan orang
Belanda, maka tidak mungkin pula untuk menempati posisi direktur kweekschool.
Semua posisi direktur kweekschool di Hindia dipegang oleh orang Belanda.
 

Soetan Casajangan sejak 1913 hingga 1920 ini tetap sebagai guru kedua. Meski
sudah tujuh tahun menjadi guru kweekschool jabatan posisi direktur tetap tidak diberikan
kepada Soetan Casajangan. Namun begitu guru Soetan Casajangan tetap setia pada
profesinya. Soetan Casajangan hanya fokus pada pendidikan pribumi. Guru
tetaplah guru.
 


Dalam
implementasi kerjasama (asosiasi/co-operative), ada dua hal yang dibuka Pemerintah
Hindia Belanda. Pertama, parlemen pertama (Volksraad) dimulai pada tanggal 18
Mei 1918 di Batavia. Kedua, pendirikan perguruan tinggi (hoogeschool) yakni 
Technische
Hoogeschool (THS) di Bandoeng yang akan dibuka pada tanggal 3 Juli 1920.
 

Seperti biasanya, setiap pagawai pemerintah pada tahun kedelapan diberi
cuti ke Eropa (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie,
20-12-1919). Disebutkan Soetan Casajangan sejak bulan Februari 1920 diberi cuti
selama delapan bulan ke Eropa. Tentu saja karena umumnya pegawai pemerintah
adalah orang Eropa/Belanda. Soetan Casajangan yang mendapat cuti ke Eropa yang
mulai berlaku tanggal 7 Februari 1920 memanfaatkannya untuk berangkat ke Eropa.  Pada tanggal 14 Februari 1920 Soetan
Casajangan berangkat dengan kapal ss Patria 14 Februari dari Tandjoeng Priok dengan
tujuan akhir Rotterdam (lihat Sumatra-bode, 12-02-1920). Sudah barang tentu
Soetan Casajangan selama di Belanda akan memiliki kesempatan bertemu dengan
pengurus dan anggota Indische Vereeniging.
 


Soetan
Casajangan adalah inisiator pendirian Indisch Vereeniging tahun 1908 dan
sekaligus menjadi ketuanya yang pertama (1908-1910). Soetan Casajangan digantikan
oleh Dr Ph Laoh (1910/1911) dan kemudian digantikan oleh Mr Hoesein
Djajadiningra (1911/1912). Pada saat Soetan Casajangan pulang ke tanah air
tahun 1913 ketua Indisch Vereeniging adalah Noto Soeroto. Selama di Belanda, Soetan
Casajangan juga menjadi penghubung antara orang pribumi dengan orang-orang Belanda
yang mendukung perjuangan orang pribumi yang tergabung dalam Vereeniging Oost
en West dan Vereeniging Moederland en Kolonien.
 


Soetan Casajangan sudah
berada di Belanda. Sudah barang tentu para juniornya sebagai mahasiswa
Indonesia di Belanda yang tergabung dalam Indische Vereeniging yang akan
dikunjunginya. Mereka akan banyak bertanya tentang di Indonesia, Soetan
Casajangan adalah orang yang tepat untuk menjawabnya.


De
locomotief, 21-04-1920: ‘Dari Belanda. Mahasiswa Indonesia. Den Haag, 19 April
(Spec. Lec.). Indische Vereeniging (Perhimpoenan Hindia) membahas surat terbuka
Inspektur Kementerian Pendidikan Menengah, Bapak Stokvis, tahun lalu, yang
ditujukan kepada mahasiswa Indonesia di Belanda untuk mendorong mereka mengejar
studi yang lebih ketat. Selama debat, berbagai pembicara mengkritik subordinasi
lulusan pribumi dibandingkan dengan para orang Barat yang berkualifikasi
setara. Soetan Casajangan memberikan banyak contoh mengenai hal tersebut’.
 

Berita telegram yang dimuat surat kabar di Semarang (De Locomotief) tentang
pertemuan Soetan Casajangan dengan mahasiswa Indonesia di Belanda menjadi viral
di Indonesia. Sejumlah surat kabar di Hindia melansir berita dari Semarang tersebut
termasuk surat kabar yang terbit di Bandoeng, De Preanger-bode, 23-04-1920. Pertemuan
Soetan Casajangan dengan mahasiswa Indonesia di Belanda lebih lengkapnya dimuat
majalah di Belanda.
 


Het
koloniaal weekblad; orgaan der Vereeniging Oost en West, jrg 20, 1920, no. 17,
22-04-1920: ‘Mahasiswa Pribumi. Mengenai hal ini, Bapak Stokvis, Inspektur
Pendidikan Menengah di Hindia Belanda, memberikan ceramah untuk Indisch
Vereeniging pada hari Sabtu, 17 April lalu pukul 19.30 di ruang 2 kafe
“Hollandais”, Groenmarkt, Den Haag. Ketua, Mas Soebardjo, membuka
pertemuan dan menyatakan bahwa tujuan Indisch Vereeniging adalah untuk mencari
dan menjalin kontak. Beliau mencatat bahwa ini sangat sulit dan oleh karena itu
menyambut baik telah menemukannya pada seseorang yang berada di pusat gerakan
Hindia. Bapak Stokvis menyatakan simpatinya kepada Indisch Vereeniging.
Bagaimanapun, asosiasi ini terdiri dari para pemuda yang lingkup aktivitasnya
nantinya akan berada di Hindia. Lalu, kondisi apa yang harus dipenuhi oleh
mahasiswa pribumi yang belajar di negara ini? Apa yang harus dia lakukan, dan
apa yang harus dia hindari? Ia meminta agar pidatonya dianggap sebagai nasihat
kebapakan dan merujuk pada “Surat Terbuka kepada Para Mahasiswa Hindia di
Belanda”, Semarang 9-4-1919, yang termasuk, antara lain, dalam NRCt 17-5-1919.
Pembicara mengharapkan balasan atas surat itu akan diberikan, tetapi hampir
tidak ada balasan sama sekali. Pembicara tidak termasuk dalam kelompok orang
Belanda kolonial yang bertujuan untuk meningkatkan status mereka. Ia dapat
memahami bahwa ada mereka yang belajar di sini yang merasa enggan untuk kembali
ke negara mereka, di mana mereka merasa didominasi. Sentimen ini dapat sangat
bervariasi dan bermanifestasi dalam berbagai cara. Misalnya, anggaplah semua
orang Belanda tiba-tiba meninggalkan Hindia. Apa konsekuensinya? Kekacauan!
Hindia tidak siap untuk ini. Lebih lanjut, pembicara menyentuh masalah bahasa
pengantar dalam pengajaran penduduk pribumi. Seorang Belanda mendukung bahasa
Melayu, bahasa asli Belanda. Di Hindia, tidak cukup guru yang tersedia untuk
memberikan pendidikan menengah dalam bahasa Jawa atau Melayu. Ini sudah menjadi
masalah yang sulit di sekolah menengah umum di Yogyakarta. Sentimen juga dapat
bermanifestasi dalam cara lain, sebagai sumber wawasan yang masuk akal, bukan sebagai
nyala api yang berkobar, tetapi sebagai aliran sungai yang tenang. Untuk
mencapai tujuan, keberanian, ketekunan, dan pengorbanan diri dituntut dari
siswa. Apakah kualitas-kualitas ini terpenuhi oleh mereka yang belajar di
negara ini? Banyak yang datang ke Belanda untuk belajar setelah lulus ujian
akhir sekolah menengah, namun tanpa panggilan. Seringkali, jurusan yang diambil
adalah yang tampaknya terbaik. Ini menyebabkan kekecewaan. Indisch Vereeniging adalah
garda depan pasukan masa depan; ia tidak boleh kalah, ia harus berprestasi.
Para anggota harus saling berkonsultasi dan membagi peran di antara mereka
sesuai dengan bakat masing-masing. Mereka harus menganggap diri mereka sebagai pionir, dengan tujuan
utama untuk memungkinkan tanah air mereka mencapai peringkat di antara
bangsa-bangsa Asia Timur yang memang pantas mereka dapatkan. Pembicara
membatasi diri pada pengantar ini dan mengharapkan debat. Bapak Soetan Casajangan
berpendapat bahwa Belanda harus tetap berada di Hindia selama mereka dibutuhkan
di sana. Namun, bahasa Belanda harus digantikan oleh bahasa Melayu sebagai
bahasa pengantar. Namun, mengenai para pionir pertama, mereka yang berhasil
akhirnya berhenti. Pembicara sendiri juga demikian. Di Hindia, orang harus
menerima pokok bahasan sebagaimana adanya sekarang, seperti halnya di Belanda,
misalnya, 300 tahun yang lalu. Bapak Stokvis menyatakan bahwa ia tidak
menganggap Belanda tidak diperlukan di Hindia. Namun, ia menganggap pengajaran
bahasa Melayu atau Jawa oleh Belanda tidak mungkin. Hal ini seharusnya
dicegah. Kebijakan pendidikan pemerintah datang terlambat. Bapak Casajangan menjawab
dan mengatakan bahwa penduduk pribumi sendirilah yang harus menjadi penjelasan
awal dalam hal ini. Penduduk pribumi menginginkan kerja sama. Bapak Noto
Soeroto menganggap bahasa-bahasa Hindia tidak cocok, bahkan bagi penduduk
pribumi, untuk mewakili gagasan Barat. Ia menunjukkan bahwa nasib pionir adalah
akhirnya akan jatuh. Bapak Stokvis menjawab. Kapten Bannink meminta kesempatan
berbicara atas dasar sejarah. Sepuluh tahun yang lalu, ia berhubungan dengan
Bapak Noto Soeroto melalui tulisan Bapak Soeroto di NRCt. Dalam arti tertentu,
ia kemudian mengambil langkah pertama menuju Hindia Belanda. Masih menjadi
pertanyaan terbuka apakah para mahasiswa Hindia yang belajar di sini tidak
menjadi terasing dari Hindia Belanda. Jika seseorang merasa betah di Hindia
Belanda, biarlah ia kembali ke sana. Tuan Abdoellah berbicara tentang Surat
Terbuka dari Tuan Stokvis. Ia mengakui bahwa terlalu sedikit pekerjaan yang telah
dilakukan, meskipun perbaikan akan segera terjadi. Namun, apakah Hindia Belanda
dipercayakan dengan cukup banyak hal? Pendidikan di Hindia Belanda diarahkan ke
sisi Belanda. Tuan Stokvis menjawab dan berpendapat bahwa penduduk pribumi Hindia
Belanda harus memajukan negaranya dengan berprestasi. Pendidikan berjalan ke
arah Belanda hanya jika bahasa pengantar adalah bahasa Belanda; jika tidak,
pendidikan berjalan ke arah Hindia Belanda. Kapten Vermeer kembali ke Surat
Terbuka, yang telah ia tanggapi. Pembicara berbeda pendapat dengan Tuan Stokvis
dan terus membela posisinya. Bagaimanapun, kegagalan selalu mungkin terjadi,
dan fakta bahwa hal itu tidak terlalu buruk dalam kasus ini terbukti dari fakta
bahwa nama-nama yang sama terus-menerus disebutkan. Dan justru di antara
mereka, terdapat mereka yang unggul di bidang lain. Tuan Vermeer mengajukan
banding kepada laporan Komite Studi “Timur dan Barat”. Keluhan
Belanda terhadap Hindia Belanda adalah keterlibatannya dalam politik. Apakah
ini kemudian dilarang bagi mahasiswa? Apa yang dilakukan dan telah dilakukan
oleh mahasiswa Rusia dan Polandia saat belajar di luar negeri? Dan itu dipuji.
Dan mengapa tidak di sini? Apakah karena takut akan nasionalisme? Saat ini,
tidak ada perbedaan antara calon mahasiswa Belanda dan Hindia Belanda. Bapak Stokvis
tidak ingin menyebutkan fakta atau nama. Konsep arahan etis sering digunakan
dalam arti meremehkan. Tetapi sejauh menyangkut mahasiswa, belajar berlaku
untuknya terlebih dahulu dan terutama; setelah itu, ia bebas, juga dalam bidang
politik. Pembicara terus menetapkan standar yang ketat dan tinggi untuk dan
terhadap mahasiswa. Bapak Pandoe Soeradhiningrat mengeluh tentang kemunduran.
Mahasiswa Hindia Belanda telah dirugikan oleh Belanda sejak awal. Ia meminta
perlakuan yang sama antara sekolah-sekolah Belanda-Hindia dengan
sekolah-sekolah Belanda. Bapak Stokvis menolak permintaan ini. Bapak Noto
Soeroto menyatakan bahwa terlalu banyak yang diharapkan dari orang Hindia.
Orang-orang memandangnya sebagai Übermensch (manusia super), padahal ia
hanyalah manusia biasa. Kebetulan, seringkali hanya kemampuan orang tuanya,
yang membawanya untuk belajar. Bapak Stokvis mengatakan bahwa, justru karena
kesulitan besar yang harus diatasi oleh orang Hindia dalam melakukannya, ia
selalu menghormati penduduk pribumi yang lulus ujian akhir HBS. Dan karena
penduduk pribumi ini telah membuktikan bahwa materi yang tepat ada dalam diri
mereka, justru karena alasan inilah ia menetapkan dan mempertahankan
persyaratannya. Lebih lanjut, ia membahas perdebatan tentang isu-isu pendidikan yang terperinci dan
lingkaran setan yang mengelilinginya. Terakhir, Bapak Stokvis mengklarifikasi
masalah bahasa pengajaran dan berpendapat bahwa bahasa Indonesia dapat
digunakan untuk tujuan ini, karena bahasa tersebut beradaptasi sesuai kebutuhan’.
 

Dalam pertamuan Indische
Vereeniging di Den Haag ini Soetan Casajangan di depan Inspektur Pendidikan
Menengah di Hindia Belanda (Stokvis) berpendapat bahwa Belanda harus tetap
berada di Hindia selama mereka dibutuhkan disana. Namun, bahasa Belanda harus
digantikan oleh bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar.
 


Tunggu
deskripsi lengkapnya

Indisch
Vereeniging 1908, Kongres Hindia 1917, Kongres Pemuda 1926: Pidato Soetan Casajangan
di Hadapan Forum Belanda 1911 dan 1920

Tunggu deskripsi
lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping
pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis,
Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di
waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan:
Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia:
Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di
Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. “Sejarah Catur di
Indonesia”; “Sejarah Klub Como 1907”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah
Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia di Jepang”. Korespondensi:
akhirmh@yahoo.com


, Terimakasih telah mengunjungi Dului.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

To Top