*Untuk melihat semua artikel Sejarah Dr Tjipto di blog ini Klik Disini
Dalam narasi
sejarah Indonesia, Kongres Pemuda jauh lebih dikenal dan lebih penting daripada
Kongres PPPKI. Panitia Kongres Pemuda 1926 Tabrani (ketua); Soemarto
(sekretaris), Solehuwy (bendahara); Kongres Pemuda 1928 Soegondo (ketua),
Mohamad Jamin (sekretaris), Amir Sjarifoedon Harahap (bendahara). Kedua kongres
tersebut diadakan di Batavai. Panitia Kongres PPPKI 1928 diadakan di Soerabaja
dipimpin Dr Soetomo (ketua) dan Ir Anwari (sekretaris/bendahara). Ibarat
Kongres Pemuda membangun landasan untuk masa depan, Kongres PPPKI membuka jalur
“take off”. Oleh karena itu Kongres Pemuda dan Kongres PPPKI sama pentingnya:
sama-sama membangun Indonesia Raya. Model Bisnis Era Teknologi Informasi

Pemufakatan Perhimpunan-Perhimpunan
Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) adalah organisasi pergerakan kemerdekaan
yang pernah ada di Indonesia. PPPKI merupakan organisasi kumpulan dari beberapa
organisasi-organisasi seperti Partai Sosialis Indonesia, Budi Utomo, Partai
Nasional Indonesia, Paguyuban Pasundan, Jong Sumatranen Bond, Pemuda Kaum
Betawi, dan Kelompok Studi Indonesia. Pemufakatan Perhimpunan-Perhimpunan
Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) didirikan dalam sebuah rapat di Bandung
pada tanggal 17–18 Desember 1927. Latar belakang didirikannya PPPKI adalah
karena tokoh-tokoh pergerakan nasional beranggapan bahwa berjuang melalui
masing-masing organisasi tidak akan membawa hasil. Soekarno kemudian mempunyai
ide untuk menggabungkan organisasi-organisasi tersebut supaya Indonesia dapat
mencapai kemerdekaannya (Wikipedia)
Lantas bagaimana sejarah Kongres
PPPKI Pertama di Soerabaja 1928 dan Kongres Pemuda kedua di Batavia 1928? Seperti
disebut di atas, Kongres Pemuda dan Kongres PPPKI sama pentingnya: sama-sama
membangun Indonesia Raya. Dr Tijpto Mengoen Koesoemo diasingkan ke Banda tahun 1927. Lalu bagaimana sejarah Kongres
PPPKI Pertama di Soerabaja 1928 dan Kongres Pemuda kedua di Batavia 1928? Seperti kata ahli
sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe. Sejarah Catur di Indonesia

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya
yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah
pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk
lebih menekankan saja. Dalam hal ini saya bukanlah penulis sejarah,
melainkan hanya sekadar untuk menyampaikan apa yang menjadi
fakta (kejadian yang benar pernah terjadi) dan data tertulis yang telah
tercatat dalam dokumen sejarah.
Kongres
PPPKI Pertama di Soerabaja dan Kongres Pemuda kedua di Batavia 1928; Pengurus PI Ditangkap di Belanda 1927
Kongres Pemuda pada
tanggal 30 (hari Jumat) April 1926 dibuka yang
diadakan di gedung Lux Orientes (Bintang Timur) yang turut
dihadiri berbagai organisasi pemuda (lihat De locomotief, 01-05-1926). Gedung Lux
Orientes tidak jauh
dari kantor surat kabar Bintang Hindia dan kantor berita Alpena).

Dalam
pembukaan ini pernyataan kepatuhan dari asosiasi yang diwakili dan lainnya
dibacakan; Jong Java, Jong Sumatera, Asosiasi Pemuda Teosofis, Ambonsche
Studeerenden, Jong Minabassa, Jong Islamietenbocd, Jong Batak, Sarikat
Minahasa, Boedi Oetomo Afdeeling Batavia, Pelajar Indonesia (Sekar Roekoen),
Bapak Darmo, Ali Tirtosoewirjo, Prawira dan Ny Koesoema Sumantri; sementara itu divisi Batavia Mohammadijah dan
Jong-Jara serta Pasoendan tidak terwakili. Topik-topik
yang dipresentasikan dalam kongres ini antara lain persatuan Indonesia, masa
depan perempuan, bahasa dan sastra serta agama dalam gerakan. Beberapa kesimpulan persatuan Indonesia, usulan bahasa
Melayu (lingua franca) sebagai bahasa persatuan Indonesia, kemajuan perempuan
tanpa meninggalkan budaya Indonesia dan masalah agama harus berada di luar
pembicaraam kongres (lihat De locomotief, 06-05-1926). Letak Gedung Lux
Orientes
kini di hook Jalan Budi Utomo dan Jalan Lapangan Banteng Timur).
Pasca
Kongres Pemuda pertama, Tabrani kemudian dipanggil (lihat De Indische courant,
28-05-1926). Disebutkan bahwa Tabrani, ketua Kongres Pemuda pertama, dipanggil
ke Penasihat Urusan Pribumi sebagai tanggapan atas pernyataan yang agak bising
selama kongres itu. Tampaknya ini adalah cara baru untuk menangani pelanggaran
bicara. Akan lebih baik jika pelanggaran berbicara selalu ditangani oleh
seorang ahli di bidang urusan Pribumi. Ini sering mencegah banyak
kesalahpahaman. Sementara itu, prosedur dewan pertanahan (Landraad) yang
panjang dan seringkali tidak membuahkan hasil dapat diselamatkan. Namun
bagaimana hasilnya tidak diketahui. Sementara itu Tabrani masih memiliki
permasalahan sendiri di internal surat kabar Hindia Baroe.
Tabrani
yang dulu anggota Jong Java sebenarnya hanya sebagian kecil anggota Jong Java
yang menyetujui sepak terjang Tabrani. Sebagian besar lebih suka dengan cara
yang biasa-biasa saja. Hal itulah mengapa Tabrani (yang berasal dari Madura)
sangat jarang namanya dihubungkan dengan Jong Java maupun Boedi Oetomo. Hal itu
juga nantinya yang dialami oleh Dr Soetomo dan Ir Soekarno. Di dalam internal
Jong Java dan Boedi Oetomo ada sebutan Trawant Tabrani, tidak hanya Tabrani
yang tidak diikuti tetapi juga orang-orang yang diindikasikan antek Tabrani.
Sementara itu, surat kabar Hindia Baroe yang dipimpin Soetadi dengan pimpinan
redaksinya Tabrani sedang memiliki masalah keuangan. Satu permasalahan besar
Hindia Baroe adalah tidak memiliki percetakan sendiri yang sangat tergantung
dari luar yang menyebabkan biaya cetak yang terus naik. Ini berbeda dengan NV
Bintang Hindia pimpinan Parada Harahap yang telah memiliki percetakan sendiri.
Soetadi mulai angkat tangan tidak bisa mengatakan apa, apakah Hindia Baroe
ditutup atau tidak. Yang jelas kini Hindia Baroe tidak beralamat di alamat
lamanya lagi, tetapi sudah berada di alamat sementara di alamat rumah Tabrani
di Djohar (lihat Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indie, 10-05-1926).
Tampaknya setelah ini tidak pernah diketahui lagi kabar surat kabara Hindia
Baroe.
Pada
akhirnya Tabrani tidak berada di surat kabar Hindia Baroe lagi. Setelah begitu
lama baru diketahui keberadaan Tabrani (lihat De locomotief, 25-01-1927).
Disebutkan Panitia Kongres Jong Indonesia di Weltevreden, yang diketuai oleh
Tabrani, mantan pemimpin redaksi harian berbahasa Melayu Hindia Baroe, sibuk
membahas Kongres Pemuda kedua, yang rencananya akan diadakan pada awal tahun
ajaran baru. Belum ada yang diketahui tentang sifat pokok bahasan yang akan
dibahas dalam kongres itu. Tabrani diketahui akan berangkat ke Eropa.
De
locomotief, 10-03-1927: ‘Kongres Pemuda Indonesia. Jumat sore lalu, tanggal 4
ini, Komite Kongres Jong Indonesia bertemu di Weltevreden. Hidangan utama
diskusi adalah persiapan Kongres Pemuda kedua dan pemilihan panitia. Diputuskan
untuk mengadakan Kongres Pemuda kedua pada bulan Agustus. Dari pokok-pokok yang
akan dibahas, kita perhatikan: 1. Gagasan Indonesia Raya dan penjabarannya. 2.
Arti penting pers dalam pembangunan nasional Indonesia 3. Emansipasi wanita
Indonesia. 4. Masalah emigrasi. 5. Kesehatan. 6. Signifikansi internasional
Indonesia. 7. Wajib belajar. 8 Arti penting olahraga bagi ketahanan fisik
bangsa Indonesia. Berbeda dengan kongres pertama, kali ini akan diselenggarakan
berbagai kegiatan seni dan kompetisi
olahraga juga tidak akan dilupakan. Pemilihan panitia sementara sehubungan
dengan keberangkatan awal Tabrani ke Eropa menghasilkan komite sebagai berikut:
Ketua Bahder Djohan (Semi-dokter), wakil ketua Ms. Soetji Soemarni (guru),
sekretaris 1 Wahab (Stovia), sekretaris 2 Tirtawinata (RHS), bendahara 1 Nelwan
(Stovia), bendahara 2 Louhanapessij (Normaal Cursus). Anggota: Ny. S. Adam
(Normaal Cursus); M Soepit (RHS); P. Pinontoan (Stovia); J. Toule Soulehuwij
(RHS); Darwin (Stovia); Diapari Siregar (Stovia); GM L Tobing (Stovia); Gindo
Siregar (Stovia); TH Pangemanan; Abdullah Sjukoer (RHS) dan Tabrani (Jurnalis).
Tabrani mengatakan dalam pidato perpisahan singkatnya antara lain bahwa Kongres
Jong Indonesia harus menjadi sumber energi yang darinya organisasi-organisasi
pemuda yang ada dan yang akan didirikan dapat menarik kekuatan mereka dalam
mewujudkan gagasan Indonesia tentang persatuan. Pukul 7 malam ketua baru
menutup rapat, setelah mengucapkan terima kasih kepada Tabrani atas nama
panitia yang baru dibentuk atas segala upaya yang telah dilakukan oleh promotor
Kongres Pemuda Indonesia pertama ini dengan penuh semangat menyebarkan gagasan
Indonesia tentang kesatuan’.
Panitia Kongres Pemuda tahun 1927 sudah terbentuk, panitia inti ketua
Bahder Djohan (Semi-dokter), sekretaris pertama Wahab (Stovia) dan bendahara pertama
Nelwan (Stovia). Kongres akan diadakan pada bulan Agustus 1927. Tabrani sendiri
yang akan berangkat ke Belanda, hingga bulan Juni diketahui (sudah) berada di
Batavia (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 07-06-1927). Sementara itu di Belanda, pada bulan Juli 1927 Amir Sjarifoeddin Harahap lulus sekolah menengah di Haarlem
(Gymnasium Haarlem) (lihat Algemeen Handelsblad, 10-07-1927).

Amir Sjarifoeddin Harahap lulus sekolah dasar Eropa (ELS) di Sibolga. Amir Sjarifoeddin Harahap mengikuti ujian masuk ke sekolah PHS di Batavia (lihat Bataviaasch nieuwsblad,
24-05-1921) Disebutkan ujian masuk kelas 1 HBS di Batavia, yang dinilai oleh Prins Hendrik School (PHS), telah lulus di Sibolga Amir Sjarifoedin. Namun Amir Sjarifoeddin Harahap tidak ke Batavia, tetapi melanjutkan studi ke Belanda (lihat Bataviaasch nieuwsblad,
12-07-1921). Disebutkan kapal ss Pieter Zooncoon berangkat ke Belanda dimana dalam manifest tercatat nama Amir
Sjarifoedin.. Sementara itu, Mohamad Hatta lulus ujian akhir
di PHS Batavia. Pada bulan September
Mohamad Hatta berangkat ke Belanda dengan kapal ss Kawi. Lama studi di Gymnasium Haarlem enam tahun. Amir Sjarifoeddin Harahap harus segera kembali ke tanah air karena ada masalah keluarga di Sibolga
(lihat Bataviaasch nieuwsblad, 09-04-1927). Amir Sjarifoeddin Harahap tidak kembali ke Belanda, lalu mendaftar di sekolah tinggi hokum (Rechthoogeschool)
di Batavia. Sementara itu, Ali Sastroamidjojo dan Ida Loemongga Nasoetion lulus HBS di KW III School Batavia (lihat Het nieuws van den dag voor
Nederlandsch-Indie, 31-05-1923). Ida Loemongga Nasoetion (studi kedokteran) berangkat ke Belanda pada bulan Agustus
dengan kapal Tambora dan Ali Sastroamidjojo (studi hukum) berangkat ke Belanda bulan Oktober dengan kapal ss Prinses
Jualiana.
Tabrani baru berangkat ke Belanda pada bulan Juli (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 12-07-1927). Disebutkan kapal ss Jan Pieterszoon Coen dari Batavia dengan tujuan
akhir Amsterdam tanggal 13 Juli dimana di dalam manifest tercatat nama M
Tabrani Soerjowitjitro. Kapal ss Jan Pieterszoon Coen adalah kapal mewah. Kapal
ss Jan Pieterszoon Coen tiba di Amsterdam pada tanggal 8 Agustus (lihat Nieuwe Rotterdamsche Courant, 10-08-1927).
Di Belanda sudah barang tentu Mohamad Tabrani akan bertemu dengan para
mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam Perhimpoenan Indonesia. Saat ini yang
menjadi ketua Perimpoenan Indonesia adalah Mohamad Hatta dengan sekretaris
Abdoel Madjid dan bendahara Aboetari.
Pada bulan September 1927 terinformasikan para pengurus Perhimpoenan
Indonesia ditangkap. Para pengurus tersebut adalah Mohamad Hatta, Ali Sastroamidjojo,
Abdoel Madjid dan Nazir Pamoentjak. Tentu saja itu tidak mengagetkan Tabrani di
Belanda. Tabrani juga mengetahui sangat sering terjadi di Indonesia. Lagi pula
pemberitaan penggerebekan rumah-rumah mahasiswa di Belanda sudah
terinformasikan sejak Tabrani masih di tanah air (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 13-06-1927).
De locomotief, 24-09-1927: ‘Moskow-Hindia melalui Belanda, rencana revolusi mahasiswa
pribumi. Di antara para mahasiswa pribumi yang ditangkap, terdapat rencana yang
matang untuk melakukan pemberontakan di Hindia Belanda, termasuk mengorganisir
kerusuhan untuk mengungkap Batavia dan mendapatkan kebebasan memerintah disana:
menembak petugas, membujuk tentara pribumi, dan apa pun yang menjadi milik
revolusi berdarah. Hatta, Sastro dkk ditangkap. Penggerebekan malam di Den
Haag, Leiden dan Amsterdam. Dalam penangkapan kedua yang ditangkap di Leiden,
[Abdoel Madjid] Djojoadiningrat, diangkut ke Den Haag dan ditahan di Pusat
Penahanan disana. Polisi juga menangkap mahasiswa pribumi, Nazir Pamontjak’. Catatan: Yang dijadikan bukti untuk penangkapan adalah materi yang
terdapat dalam Indonesia Merdeka, organ Perhimpoenan Indonesia pada edisi keempat (Maret) dan edisi kelima (April) berisi
materi bersifat khusus dan tertutup. Surat kabar Het Volk menjadikan materi itu
satu artikel dengan judul “Het nieuwe jaar in” yang lalu dikutip Het Vaderland:
staat- en letterkundig nieuwsblad,
12-06-1927.
Mohamad Hatta studi bidang ekonomi di Rotterdam (ketua Perhimpoenan
Indonesia), Ali Sastroamidjojo, Abdoel Madjid (sekretaris Perhimpoenan
Indonesia) dan Nazir Pamoentjak ketiganya studi bidang hukum di Leiden. Abdoel
Madjid dalam hal ini adalah saudara seayah RM Kartono dan RA Kartini. Lantas bagaimana dengan studi mereka setelah ditangkap? Apakah akan berakhir begitu
saja? Oh, ternyata tidak. Di penjara di Den Haag, Ali Sastroamidjojo tetap
mempersiapkan ujian sarjana untuk kelulusan bidang hukum di Leiden. Oh, lalu
apakah bisa berhasil? Oh, ternyara Ali Sastroamidjojo dari penjara datang ke
Leiden untuk mengikuti ujian. Hasilnya, berhasil mendapat gelar sarjana hokum.
Het volk: dagblad voor de
arbeiderspartij, 30-09-1927: ‘Dr. Sastro Amidjojo. Geslaagd. Pagi ini adalah
mahasiswa Indonesia yang ditangkap, Ali Sastro Amidjoio. Ditemani sejumlah
detektif dari Den Haag, ia berangkat ke Universitas Leiden untuk mengambil gelar
doktor hukum disana dan berhasil lulus’.
Sementara itu, Tabrani di Belanda pada bulan Oktober hadir dalam Konferensi
Studi Hindia. Dalam konferensi ini Tabrani memaparkan situasi dan kondisi di
tanah air mulai dari perihal pers (kebebasan pers), penganiayaan terhadap
pribumi (khusunya kaum komunis) dan gerakan persatuan (khususnya pemuda; sebagai
ketua Kongres Pemuda Indonesia pada bulan April 1926). Mewakili orang Cina
dalam konferensi ini adalah Ir Thung Tjeng Hiang (kandidat doctor; yang juga mantan ketua Chung Hwa Hui di Belanda).
De avondpost, 11-10-1927: ‘Konferensi Studi Hindia: Kampanye Perdamaian Pemuda. Sabtu dan Minggu lalu, Konferensi Studi Hindia berlangsung
di Gedung “D Vonk” di Noordwijk aan Zee, yang dihadiri oleh sekitar
40 perwakilan kelompok lokal dan regional. Tabrani, seorang jurnalis pribumi,
memulai Sabtu malam dengan memberikan gambaran tentang keadaan pers pribumi.
Kebebasan pers, seperti yang kita kenal di Tanah Air, tidak dikenal di Hindia.
Terlebih lagi, seluruh gerakan pribumi saat ini menderita penganiayaan komunis
yang telah berlangsung sejak tahun 1924. Mereka yang hanya terbiasa dengan
komunisme ditahan di penjara preventif selama bertahun-tahun; dikatakan bahwa
hal ini sangat kuat terjadi di bawah rezim Fock dan juga merupakan faktor yang
berkontribusi pada fakta bahwa berbagai kelompok pribumi secara berturut-turut
berhenti muncul. Selain itu, dalam perburuan komunis ini, spionase digunakan
secara luas, di mana segala macam nada yang tidak diinginkan menjadi populer.
Lebih lanjut, sama sekali tidak benar untuk mengklaim bahwa gerakan nasionalis
dan komunisme sebenarnya sama. Sebaliknya, pembicara, kami kaum nasionalis berharap, sesegera mungkin, untuk bekerja
sama dengan pemerintah dalam program yang terbuka dan realistis. Adapun pemuda
Hindia Belanda, saat ini hampir seluruhnya telah diyakinkan untuk mendukung apa
yang disebut “Gerakan Persatuan”. Yang juga penting adalah gerakan intelektual Hindia
Belanda, yang termanifestasi dalam Persatuan Intelektual Dr Soetomo. Adapun Sarikat Islam, mereka belum menyatakan dukungan maupun penolakan
terhadap kerja sama. Akhirnya, beliau menyimpulkan pidatonya dengan menyatakan
bahwa akan menjadi suatu kehormatan bagi pemuda Indonesia untuk diizinkan
bekerja sama dengan pemuda Belanda dan pada prinsipnya berjanji akan memberikan
dukungan penuh dari mereka untuk Kongres Pemuda Dunia yang akan diadakan di
Hindia Belanda pada tahun 1928. Setelah itu, pidato singkat disampaikan oleh Ir Thung dari Wageningen, yang secara lebih spesifik mengkaji
situasi orang Belanda di Hindia Belanda. Menurutnya, kelompok ini juga merasa
terpinggirkan oleh pemerintah, terutama karena kebijakan pendidikan. Kongres
Intelektual Cina di Semarang menyatakan dukungannya untuk kerja sama dengan
pemerintah. Hal ini semakin mencolok mengingat ini adalah pertama kalinya
berbagai kelompok intelektual Cina di Hindia Belanda bergabung dalam kerangka organisasi. Setelah beberapa
gerbong terisi, pertemuan Sabtu malam ditutup. Keesokan paginya, AM Joekes
menguraikan secara rinci prinsip-prinsip kebijakan etika di Hindia Belanda.
Gerakan persatuan di Indonesia (Tabrani dkk) dan gerakan
politik di Belanda (Mohamad Hatta dkk) adalah dua gerakan yang bersifat
komplemen. Tabrani dkk di Indonesia menginisiasi persatuan pemuda Indonesia
ibarat membangun landasan untuk masa depan Indonesia, Mohamad Hatta dkk di Belanda
untuk terus meratakan jalur untuk “take off”.
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Tjipto
Diasingkan ke Banda 1927; Pemimpin Perhimpunan Indonesia di Belanda Ditangkap
1927, Diadili 1928
Tunggu deskripsi
lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping
pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis,
Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di
waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan:
Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia:
Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di
Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. “Sejarah Catur di
Indonesia”; “Sejarah Klub Como 1907”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah
Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia di Jepang”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

, Terimakasih telah mengunjungi Dului.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.










