Sejarah Indonesia

Sejarah Dr Tjipto (5): Statuta Indische Partij Ditolak Pemerintah; Raden Mas Soewardi Soerjanigrat “Als ik een Nederlander was”

image001 27


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Dr Tjipto di blog ini Klik Disini

Setiap
organisasi yang didirikan di Hindia Belanda harus memiliki izin (beslit) dari
pemerintah. Namun syarat utamanya adalah isi statuta (AD) sudah lolos
pemeriksaan. Statu Indisch Partij ditolak pemerintah. Akibatnya Indisch Partij
dianggap terlarang. Lalu bagaimana kehadiran Soewardi Soerjanigrat di Indisch
Partij? “Als ik een Nederlander was.
 Model Bisnis Era Teknologi Informasi


image001 27

Soewardi berasal dari keluarga
Pakualaman. Setelah lulus ELS ia melanjukan ke sekolah kedokteran di STOVIA,
tetapi tidak diselesaikan. Sejak berdirinya Boedi Oetomo (BO) tahun 1908, ia
aktif di seksi propaganda. Soewardi juga menjadi anggota organisasi Insulinde,
organisasi multietnik yang didominasi kaum Indo yang memperjuangkan pemerintahan
sendiri di Hindia Belanda. Ketika Douwes Dekker mendirikan Indische Partij,
Soewardi juga ikut diajak. Partai yang berdiri pada 6 September 1912 itu bagi
Soewardi sangat berguna karena tidak membedakan golongan, agama, ras, dan suku.
Ketika pemerintah Hindia Belanda berniat mengumpulkan sumbangan dari warga,
termasuk pribumi, untuk perayaan kemerdekaan Belanda dari Prancis pada 1913,
timbul reaksi kritis dari kalangan nasionalis, termasuk Soewardi. Ia kemudian
menulis “Een voor Allen maar Ook Allen voor Een” atau “Satu
untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga”. Namun kolom KHD yang paling
terkenal adalah “Seandainya Aku Seorang Belanda” (judul asli:
“Als
ik een Nederlander was”), dimuat dalam surat kabar De Expres
pimpinan DD, 13 Juli 1913
(Wikipedia)
 

Lantas bagaimana sejarah statuta
Indische Partij ditolak Pemerintah? Seperti disebut di atas, setelah statuta
Indische Partij ditolak Pemerintah muncul nama Raden Mas Soewardi Soerjanigrat.
Bagaimana dengan brosurnya berjudul “Als ik een Nederlander was”? Lalu
bagaimana sejarah statuta Indische Partij ditolak Pemerintah?
Seperti kata ahli
sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe. Pengantar Studi Kelayakan Bisnis

image001 28

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya
yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah
pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk
lebih menekankan saja. Dalam hal ini saya bukanlah penulis sejarah,
melainkan
hanya sekadar untuk menyampaikan apa yang menjadi
fakta (kejadian yang benar pernah terjadi) dan data tertulis yang telah
tercatat dalam dokumen sejarah.
 

Statuta
Indische Partij Ditolak Pemerintah; Raden Mas Soewardi Soerjanigrat “Als ik een
Nederlander was”

Seperti disebut sebelumnya, Ernest Douwes Dekker mimiliki kisah hidup
sendiri, Dr Tjipto Mangoenkoesoemo juga memiliki kisah hidupnya sendiri. Lantas
bagaimana Ernest Douwes Dekker dan Dr Tjipto Mangoenkoesoemo berada di “perahu”
yang sama. Lalu bagaimana kemudian Raden Mas Soewardi Soerjanigrat berada di
belakang keduanya?
 


image001 29

Pada
tahun 1903, sepulang dari Afrika Selatan, Ernest Douwes Dekker yang menjadi tentara
sukarelawan untuk Transvaal (orang-orang Boer keturunan Belanda), terinformasikan sebagai koresponden di
Batavia untuk surat kabar yang terbit di Semarang De Locomotief (lihat Het
nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 16-06-1903). Di sekolah kedokteran
Batavia, Docter Djawa School, Tjipto Mangoenskoesoem, Abdoel Hakim Nasoetion,
Abdoel Karim Harahap dan lainnya lulus ujian transisi naik dari kelas tiga ke
kelas empat tingkat medic. Sementara salah satu siswa yang diterima di tingkat
persiapan adalah RM Soewardi (lihat De locomotief, 07-11-1903). RM
Soewardi pada tahun 1904 lulus ujian transisi naik dari kelas satu ke kelas dua
di tingkat persiapan (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 07-11-1904). Pada rahun
1905 Tjipto Mangoenskoesoem dkk
lulus ujian akhir menjadi dokter. Tjipto Mangoenskoesoem dan Abdoel Hakim
Nasoetion ditempatkan di rumah sakit kota Batavia (kini RSCM). Dr Tjipto Mangoenkoesoemo harus berpisah dengan kawan
lamanya Dr Abdoel Hakim Nasoetion. Pada tahun 1906 Tjipto Mangoenkoesoemo oleh
Geneeskundigen Dienst (Jawatan Layanan Medis) dipindahkan dari
Batavia ke Amoentai (lihat Soerabaijasch handelsblad, 25-09-1906). Dr Abdoel Hakim
Nasoetion dipindahkan ke kampong halamannya di Padang Sidempoean. Namun dalam
perkembangannya, pada tahun 1907 Dr Tjipto Mangoenkoesoemo mengundurkan diri
sebagai dokter pemerintah (dan kemudian membuka praktek dokter sendiri). Pada tahun 1907 ini di Stovia, RM
Soewardi naik dari kelas tiga tingkat persiapan ke kelas satu tingkat medik
(lihat De locomotief, 10-10-1907). Yang juga satu kelas dengan RM Soewardi
adalah Abdoel Rasjid Siregar, Mohamad Joesoef, Mohamad Sjaaf dan Raden Soesilo.
Pada tahun 1907 ini juga Sardjito naik kelas dari kelas satu ke kelas dua
tingkat persiapan (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 07-10-1907).
Pada tahun 1909 RM Soewardi dan Abdoel Rasjid Siregar naik dari kelas satu ke
kelas dua tingkat medik (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 15-09-1909).
Sejak ini nama RM Soewardi tidak pernah terinformasikan lagi. Sementara Abdoel
Rasjid Siregar masih terinformasikan pada tahun 1911 naik dari kelas tiga ke
kelas empat tingkat medik (lihat Het nieuws van den dag voor
Nederlandsch-Indie, 19-08-1911). Sebelumnya pada tingkat akhir yang lulus ujian
menjadi dokter adalah Soetomo, Goenawan, JE Latumeten, Slamet, Mohamad Saleh,
AB Andu, Goembrek dan Ramelan. (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie,
15-04-1911). Soetomo, Goenawan, Mohamad Saleh, Goembrek termasuk pendiri Boedi
Oetomo di Batavia pada tanggal 20 Mei 1908. Goenawan sendiri adalah adik Dr Tjipto
Mangoenkoesoemo. Pada Kongres Boedi Oetomo pertama yang diadakan pada akhir
bulan September 1908 di Jogjakarta, bergabung organisasi Algemenen Javanen yan dipimpin
oleh Dr Wahidin Soediro Hoesoedo dkk yang menjadi tuan rumah kongres. Dalam
kongres terjadi “kudeta” dimana golongan senior menjadi pengurus utama dari
pengurus pusat yang baru dibentuk (dengan kedudukan di Jogjakarta): Bupati
Karanganjar sebagai ketua, Dr Wahidin sebagai wakil ketua dan para anggota
pengurus antara lain Dr Tjipto Mangoenkoesoemo. Boedi Oetomo di Batavia hanya
ditempatkan sebaga salah satu cabang dari Boedi Oetomo Pusat. Setelah itu, pada
akhir tahun 1908 Boedi Oetomo cabang Batavia melakukan pertemuan umum
(pertemuan propaganda). Dalam pertemuan umum ini juga turut dihadiri Ernest
Douwes Dekker, seorang jurnalis di Batavia. Sementara itu, Dr Tjipto
Mangoenkoesoemo dari Demak mengirim ucapan selamat melalui telegram yang
dibacakan wakil ketua Soewarno. Pada Kongres Boedi Oetomo kedua tahun 1909 di
Jogjakarta, Dr Tjipto Mangoenkoesoemo yang turut hadir menyatakan mengundurkan
diri sebagai pengurus Boedi Oetomo karena pemikirannya berbeda dengan elit
Boedi Oetomo. Pada tahun 1912 Raden Soetomo yang sebelumnya ditempatkan di
Semarang kemudian dipindahkan ke Loeboek Pakam, Oostkust Sumatra (lihat Het
nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 07-03-1912). 

Nun jauh disana di Belanda,
para anggota organisasi mahasiswa pribumi Indisch Vereeniging telah sangat
intens memperjuangkan bangsanya sendiri. Pada tanggal 28 Maret 1911 Soetan
Casajangan, pendiri (sekaligus ketua pertama) Indisch Vereeniging diundang oleh
Vereeniging Moederland en Kolonien (para ahli dan praktisi Belanda yang
mendukung politik etik di Hindia) untuk berpidato dihadapan para anggotanya. Saat
ini yang menjadi ketua Indisch Vereeniging adalah Hoesein Djajadiningrat. Dalam
forum yang diadakan itu, Soetan Casajangan, berdiri dengan sangat percaya diri
dengan makalah 18 halaman yang berjudul: ‘Verbeterd Inlandsch Onderwijs’
(peningkatan pendidikan pribumi): Berikut beberapa petikan penting isi
pidatonya:

 

Geachte Dames en Heeren! (Dear Ladies and
Gentlemen).

 

‘…saya selalu berpikir tentang pendidikan
bangsa saya…cinta saya kepada ibu pertiwa tidak pernah luntur…dalam
memenuhi permintaan ini saya sangat senang untuk langsung mengemukakan yang
seharusnya…saya ingin bertanya kepada tuan-tuan (yang hadir dalam forum ini):
”Mengapa produk pendidikan yang indah ini tidak juga berlaku untuk saya dan
juga untuk rekan-rekan saya yang berada di negeri kami yang indah. Bukan hanya
ribuan, tetapi jutaan dari mereka yang merindukan pendidikan yang lebih
tinggi…hak yang sama bagi semua…sesungguhnya dalam berpidato ini ada
konflik antara ‘coklat’ dan ‘putih’ dalam perasaan saya (melihat ketidakadilan
dalam pendidikan pribumi)’.
 

Soetan Casajangan kembali
menyuarakan perjuangan peningkatan pendidikan pribumi dalam satu artikel yang
dimuat dalam majalah/jurnal Het koloniaal weekblad; orgaan der Vereeniging Oost
en West, jrg 11, 1911, No. 42, 19-10-1911. Judul artikelnya adalah “Opleiding
van Inlandsche onderwijzers in Nederland” (Pelatihan Guru Pribumi di Belanda).
Dalam artikel ini Soetan Casajangan juga mengutip isi makalahnya yang
disampaikan pada forum Vereeniging Moederland en Kolonien pada tanggal 23 Maret
1911. Artikel ini ditulis tidak lama setelah kehadiran guru muda Sjamsi Widagda
yang dikirim oleh (beasiswa) Boedi Oetomo di Jogjakarta yang dititipkan kepada
Soetan Casajangan.
 


Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan lulus
sekolah guru (kweekschool) Padang Sidempoean tahun 1889. Setelah mengajar
selama 13 pensiun dini. Mengapa? Ingin melanjutkan studi keguruan ke Belanda.
Setelah mempersiapkan diri dengan les privat bahasa Belanda dengan guru sekolah
ELS di Padang Sidempoean, pada tahun 1904 Soetan Casajangan berangkat ke
Belanda. Pada tahun 1907 Soetan Casajangan lulus ujian dengan ijazah akta guru
LO di Haarlem. Pada tahun 1908 Soetan Casajangan menginisiasi pembentukan
organisasi mahasiswa pribumi dan kemudian di kediamanannya yang dihadiri `15
mahasiswa dibentuk Indisch Vereeniging yang secara aklamasi diangkat Soetan
Casajangan sebagai ketua dan sekretaris/bendahara RM Soemitro. Pada tahun 1909
Soetan Casajangan lulus ujian pendidikan guru tertetinggi dengan ijazah akta
guru MO (sarjana pendidikan). Setelah lulus Soetan Casajangan diangkat sebagai
guru bahasa Melayu di sekolah perdagangan Handelschool di Haarlem. Soetan
Casajangan mengakhiri jabatannya di Indische Vereeniging pada tahun 1910 yang
diserahterimakan kepada Dr Ph Laoh. Oleh karena tidak adanya bantu pemerintah
dan juga orang-orang Belanda terhadap peningkatan kualitas guru-guru pribumi
untuk studi ke Belanda, pada tahun 1911 Soetan Casajangan yang dibantu Abdoel
Firman Siregar gelar Mangaradja Soangkoepon menginisiasi pendirikan Studiefonds
(Dana Pendidikan bagi pelajar/mahasiswa pribumi).
 

Pada tanggal 24 Desember
1911 Indisch Vereeniging megadakan pertemuan umum di Den Haag. Hal ini karena sehubungan
dengan kepulangan Drs Hoesein Djajadinigrat ke tanah air. Dalam pertemuan yang
turut dihadiri Soetan Casajangan, pengurus Indische Vereeniging yang diketuai Drs
Hoesein Djajadinigrat diserahterimakan kepada pengurus baru yang dipimpin oleh Noto
Soeroto. Dalam pertemuan ini juga Noto Soeroto berbicara tentang ‘Pemikiran
Raden Adjeng Kartini’ sebagaimana di dalam buku yang disusun oleh JH Abendanon
yang belum lama diterbitkan.

 

Het vaderland, 16-02-1912: ‘Pemikiran Raden
Adjeng Kartini’. Dengan senang hati saya membaca pidato Raden Mas Noto Soeroto
tentang “Pemikiran Raden Adjeng Kartini” (disampaikan pada pertemuan
tanggal 21 Desember 2011 untuk Indische Vereeniging). Seperti yang disebutkan
dalam kata pengantar buku yang disusun oleh JH Abendanon, disebutkan buku ini
adalah publikasi pertama Indische Vereeniging, yang juga akan diterjemahkan ke
dalam bahasa Jawa dan Melayu, agar semua warga negara di seluruh Hindia dapat
memperhatikan pemikiran wanita terhormat itu, yang merasakan dengan sangat
akurat dan mendalam apa yang kurang di Hindia, dan pada saat yang sama dengan
sangat baik membedakan poin-poin dalam karakter nasional yang membutuhkan
perbaikan atau modifikasi, atau yang perlu dikembangkan lebih lanjut ke arah
yang benar. Justru pemikiran-pemikiran tersebut, yang berasal dari simpati dan
empati salah satu warga negara yang paling terhormat, akan menjadi dorongan
khusus bagi Hindia. Namun, beberapa detail kecil menarik perhatian saya. Judul,
serta apa yang dinyatakan pada halaman 5 dan 6, mungkin menimbulkan kecurigaan
bahwa “pemikiran” ini pada saat itu telah memberikan dorongan bagi
pendirian Indische Vereeniging. Siapa pun yang sedikit familiar dengan sejarah
Indisch Vereeniging akan tahu bahwa organisasi ini didirikan atas inisiatif
Soetan Casajangan Soripada. Banyak juga yang membaca pidato yang disampaikan
akan bertanya pada diri sendiri: “Apa yang telah dilakukan Indisch
Vereeniging hingga saat ini dalam semangat Kartini?” “Apakah dia
(Kartini) hanya mendapatkan dukungan dari para pemuda bangsanya sendiri setelah
menyampaikan pidato ini?” Tidak, tentu tidak! Pemikirannya sudah mulai
berpengaruh. Pada pertemuan tahunan terakhirnya, Boedi-Oetomo memutuskan untuk
mengirim satu atau lebih guru ke Belanda, sehingga setelah menyelesaikan studi
mereka, mereka dapat “bekerja dengan lebih produktif di negara mereka
sendiri untuk mewujudkan cita-cita kita (Kartini)” (hlm. 23), dengan
mengingat: “Berikan pendidikan dan pengasuhan kepada orang Jawa”
(hlm. 23). Dan bukan hanya di Jawa, tetapi di seluruh Hindia Belanda,
kebangkitan ini terlihat jelas. Saat ini, beberapa orang Batak dan Melayu sudah
belajar di negara ini untuk membantu mewujudkan, setelah menyelesaikan studi
mereka, cita-cita yang sangat diinginkan Kartini di tanah air mereka sendiri.
“Berikan pendidikan dan pengasuhan kepada Hindia!” Tidak seorang pun dapat
mengklaim, setelah membaca pidato yang disampaikan kepada “Vereeniging
Moederland en Kolonien” oleh Soetan Casajangan Soripada, bahwa Hindia pada
umumnya tidak merasakan dengan sangat jelas bahwa mereka kekurangan hal ini;
dapat berpendapat bahwa pemikiran Kartini ini hanya dapat berfungsi sebagai
untaian lampu bagi Indisch Vereeniging, dan saat ini tidak mewujudkan gagasan
utama Pemuda Hindia; dapat berpendapat bahwa pemikiran ini belum dikaji secara
menyeluruh. Saya ingin melihat referensi sederhana terhadap fakta-fakta ini,
yang sudah dapat dipastikan, ditambahkan ke dalam pidato yang sangat simpatik
tersebut. Terima kasih atas publikasinya: JACS. V’.
 

Di Indonesia (baca: Hindia),
pada awal tahun 1912 terbit surat kabar baru berbahasa Belanda di Bandoeng, De
expres. Surat kabar ini dipimpin sekaligus pemimpin redaksi
EFE Douwes Dekker yang edisi pertama terbit hari Jumat, 01-03-1912.
Sebelumnya tahun 1911, EFE
Douwes Dekker sudah menerbitkan majalah Het Tijdschrift yang pada edisisi
pertamanya juga dimuat artikel yang ditulis oleh Dr Tjipto Mangoenkoesoemo.
Kemudian artikel Dr Tjipto Mangoenkoesoemo dimuat di surat kabar De
expres edisi tanggal 5 Juni 1912.
 


De expres, 05-06-1912: ‘Catatan tentang “Jiwa
Boedi Oetomo” karya Soemarsono. Nasionalisme Kita dan Kurangnya Kepercayaan
Diri Kita. Tjipto Mangoenkoesoemo, Kepandjen, 2 Juni. Jika bukan tugas yang
tidak menyenangkan, maka tentu bukan tugas yang tidak menyenangkan, saya
melakukan ulasan singkat tentang ceramah oleh R Soemarsono, yang direproduksi
secara lengkap dalam jurnal dari organ “BoediOetomo”. Topik yang
dibahas pembicara sangat penting, bahkan menyentuh inti gerakan Pemuda Jawa,
dan oleh karena itu layak mendapat perhatian lebih dari biasanya dari pihak
lokal. Terlebih lagi, bulan lalu, Mei, tepat empat tahun yang lalu, seruan
pertama BOist terdengar *) semakin menjadi alasan untuk mengadakan retrospeksi
singkat. Untuk tetap pada ceramah tersebut: karakter yang selalu dan masih
diusung Boedi-Oetomo, menurut pendapat saya, belum digambarkan cukup tajam oleh
R Soemarsono. Organisasi ini selalu memiliki kecenderungan nasionalis, dan hal
ini, terlebih lagi, diungkapkan dalam statuta-nya. Namun, lebih dari sekadar
nasionalisme murni, BO berutang kelahirannya pada “teori kemerosotan”
yang saat itu sedang populer, yaitu motif ekonomi. Perlukah saya mengingatkan
Anda bahwa pendirian serikat ini kurang lebih bertepatan dengan pembentukan
Komisi Kesejahteraan Kecil, yang telah aktif selama beberapa waktu? Perlukah
saya mengingat kembali bagaimana arahan dokter Radjiman, yang menunjukkan
kepada serikat tersebut pentingnya pelestarian warisan nasional sebagai tugas
yang tidak dapat diabaikan, tidak disukai oleh mereka yang berkumpul pada saat
itu? “Argumen perut” saja dapat menunjukkan, jika dilihat kembali,
keterbatasan yang bodoh dalam bidang kerja. Oleh karena itu, di atas segalanya,
gerakan BO adalah gerakan yang bersifat ekonomi. Serikat ini selalu
mempertahankan karakter ini. Dengan demikian, prinsip nasionalis kurang lebih
tetap berada di latar belakang atau telah jatuh ke latar belakang;
benih-benihnya belum berbuah: mungkinkah sebaliknya dengan bangsa seperti kita?
Kelemahan terbesar kita, kehati-hatian yang berlebihan, telah menyebabkan hal
ini. Lagipula, apa itu nasionalisme, dan tuntutan apa yang dapat diajukan
kepada para pemimpin gerakan nasionalis? Setiap definisi itu sulit, dan saya
tidak akan mencoba melakukannya. Namun—biarlah ini dikatakan dengan niat
terbaik—seperti yang telah dijelaskan Soemarsono tentang konsep tersebut,
menurut saya terlalu kabur, terlalu kurang tajam. Lagipula, tidak cukup hanya
merasa menjadi bagian dari suatu bangsa. Nasionalisme yang sehat juga menuntut
agar individu siap memberikan upaya terbaik mereka untuk membela warisan
nasional—konsep ini diambil secara sangat luas!—atau untuk mengembangkannya.
Dan dalam hal ini, BO telah gagal. Serikat pekerja telah mengabaikan aset
nasional yang benar-benar nyata, ekspresi jiwa nasional, sastra, seni, dan
kekhasan serta cita-citanya; jika dipertimbangkan dengan benar, hal itu tidak
dilakukan kecuali untuk merugikan diri sendiri. Dengan melakukan hal itu, BO
telah membiarkan satu cara yang sangat berharga tidak digunakan, yang dengannya
mereka dapat membangkitkan kesadaran di antara kita untuk membentuk persatuan.
Jika tidak, pekerjaan mereka bisa jauh lebih bermanfaat. Di sisi lain, BO
telah—secara tidak perlu—membatasi diri sendiri, khususnya dengan membiarkan
diri mereka terlalu diintimidasi oleh Pasal III RR yang sudah usang. Mereka
tidak akan mampu menghindari “manuver politik” dalam jangka panjang,
dan oleh karena itu akan jauh lebih baik bagi mereka jika mereka telah
melakukannya sejak awal dan menyatakannya secara terbuka. Dengan asumsi bahwa
ada interaksi antara “diri batin manusia” dan “keadaan eksternal,”
bahwa bukan hanya yang pertama memengaruhi yang terakhir, tetapi bahwa kondisi
kehidupan kita juga membantu menentukan kehidupan spiritual kita, BO seharusnya
juga sangat berhati-hati untuk meningkatkan “kedudukan hukum” kita.
Setidaknya saya, tidak dapat menunjukkan jalan lain yang dapat mengarah pada
tujuan tersebut dengan lebih cepat, yaitu emansipasi orang Jawa. Namun, hal itu
berarti kita harus terjun ke bidang “politik”, yang menurut
Soemarsono, belum menjadi bidang yang kita kuasai, bahkan sekarang pun belum.
Dalam hal ini, saya sangat berbeda pendapat dengan Soemarsono. Terus terang
saja: dalam hal ini, bukan banyak orang yang menjadi fokus, tetapi keseluruhan.
Menunjukkan kurangnya kepercayaan diri jika percaya bahwa bahkan sekarang,
setelah empat tahun persiapan, para pemimpin masih belum mampu menjaga gerakan
politik tetap berada di jalur yang benar. Saya akan berterus terang: menurut
saya—hmm!—sangat bodoh bahwa tidak ada satu kata pun yang terdengar dari pihak
BO mengenai usulan reorganisasi administrasi, upaya untuk mendapatkan pinjaman,
dan lain-lain. (Asosiasi untuk sekolah-sekolah Belanda-Jawa adalah bentuk
protes, tetapi, mengingat metodenya, sekali lagi tidak akan membuahkan hasil
yang cukup). Mari kita bandingkan ini dengan tindakan luar biasa dari sesama
warga negara kita di Minahassa ketika sekolah-sekolah misionaris
mereka—catatan: orang Kristen!—akan didirikan, maka perbandingan tersebut tidak
menguntungkan para pemimpin kita. Saya sepenuhnya menyalahkan para pemimpin,
karena memang masalah ini sedang dibahas secara luas di kalangan masyarakat pribumi:
namun, administrasi BO telah gagal untuk mengungkap hal-hal yang berlipat ganda
ini. Ketika R Soemarsono mengumumkan bahwa ceramahnya ditujukan khusus untuk
“mereka yang paling terpelajar dan peka terhadap garis keturunan”,
tentu saja karena percaya bahwa kelompok ini sudah sangat kecil, ia keliru:
setidaknya di Malang kelompok tersebut terdiri dari jumlah orang yang jauh
lebih besar daripada yang saya kira sebelumnya, dan tidak ada alasan mengapa
hal itu tidak terjadi di tempat lain. Diskusi tentang ceramah tersebut di
cabang BO Malang dari asosiasi tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar dari
mereka yang hadir dapat mengikuti poin demi poin Soemarsono. Carilah segala
sesuatu dalam segala hal. Prinsip yang sama yang menyebabkan Soemarsono
memandang rendah “banyak orang” telah diterapkan oleh BO. Mengingat
karakter eksklusif saat ini, maksud saya kurangnya kepercayaan pada sesama
manusia dan sesama anggota, Soemarsono menyebutkan “kemunafikan” dan
“ketakutan” sebagai penyebab eksklusivisme. Kata
“kemunafikan” itu kasar dan buruk, dan yang lebih penting, tidak
pantas. Hanya satu pertanyaan: apakah Soemarsono bertindak munafik ketika,
sebagai sekretaris seksi Buitenzorg, ia mengirimkan saya “non
possumus” yang tidak sopan sebagai tanggapan atas usulan saya untuk
meninggalkan eksklusivisme? Tidak, tentu tidak. Soemarsono telah berubah
pikiran dalam tiga tahun itu—karena sudah lebih dari tiga tahun yang lalu,
ketika saya menyebarkan prinsip yang sama, perlu diingat dengan sangat rendah
hati—orang lain, para pendukungnya kemarin, mungkin tidak menyaksikan proses
perubahan pikiran mereka, tetapi itu bukanlah kemunafikan. Dalam hal ini, R Soemarsono
tidak adil dan tidak masuk akal. Eksklusivisme hanya berlandaskan pada
ketakutan tertentu bahwa seseorang tidak akan memiliki suara dalam asosiasinya
sendiri jika ia menerima orang Eropa; Oleh karena itu, kurangnya kepercayaan
diri. Mohon maafkan saya atas pernyataan yang mementingkan diri sendiri ini:
sebagai anggota BO, saya telah merenungkannya terlalu lama, dan kemudian,
sebagai orang luar, telah berbicara dengan terlalu banyak rekan senegara
tentang hal itu, untuk menolak hak saya sendiri untuk ikut berpendapat dalam
masalah ini. Poin-poin penting juga diangkat dalam debat tersebut. Namun,
pembahasan tentang hal ini membutuhkan artikel terpisah. *) Pada tanggal 20 Mei
1908, asosiasi sementara didirikan di Batavia oleh mahasiswa sekolah
kedokteran. Red. Tjipto Mangoenkoesoemo’.
 

Artikel berjudul “Catatan
tentang Jiwa Boedi Oetomo” merupakan tulisan Tjipto Mangoenkoesoemo yang
pertama di surat kabar. Artinya tulisan itu akan dibaca public luas. Ada dua
hal yang dapat dikelompokkan dari kandungan artikel tersebut yakni di satu sisi
Tjipto Mangoenkoesoemo mencoba memberikan kritik kepada Boedi Oetomo, dan di
sisi lain dari artikel tersebut terinfromasikan sebagai refleksi diri dari Tjipto
Mangoenkoesoemo sendiri sebagai satu-satunya orang Jawa yang keluar dari
pemikiran arus besar. Namun ada satu hal yang terkesan janggal yang mengundang
pertanyaan: Tjipto Mangoenkoesoemo telah menerima orang Eropa, sesuatu yang
dikritiknya terhadap ketakutan Boedi Oetomo.
 


Organisasi
kebangsaan pertama yang didirikan di Padang pada tahun 1900, Medan Perdamaian
yang dipimpin Hadji Saleh Harahap gelar Dja Endar Moeda bersifat multietnik,
tetapi hanya sebatas orang pribumi saja. Namun Medan Perdamaian mengusung
kerjasama (kemitraan) dengan orang-orang Eropa/Belanda. Demikian juga, dengan
organisasi mahasiswa pribumi Indisch Vereeniging di Belanda yang digagas oleh
Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan pada tahun 1908 bersifat nasional
dengan anggota multietnik dengan menjalin hubungan baik (kemitraan) dengan
orang Eropa/Belanda. Pada tahun 1912 ini yang menjadi ketua Indisch Vereeniging
adalah RM Noto Soeroto (bukan anggota Boedi Oetomo; Noto Soeroto sendiri sudah
di Belanda tahun 1907, sebelum Boedi Oetomo didirikan di Batavia tahun 1908).
 

Lantas mengapa pemikiran Dr Tjipto
Mangoenkoesoemo bersifat anomali diantara orang-orang pribumi terpelajar? Tidak
diketahui secara pasti. Dalam Kongres Boedi Oetomo pada tahun 1909 di
Jogjakarta gagasan ini sudah diungkapkan Tjipto Mangoenkoesoemo. Tidak lama
setelah kritik Tjipto Mangoenkoesoemo ditujukan kepada Boedi Oetomo,
terinformasikan Tjipto Mangoenkoesoemo mendapat bintang (lihat Dagblad
van Zuid-Holland en ‘s-Gravenhage, 13-07-1912). Disebutkan diberikan bintang Ridder
in de Orde van Oranje Nassau kepada dokter pribumi di Malang; Mas. Tjipto.
 


Seperti
disebut sebelumnya pada tanggal 25 Agustus 1912 Komite Indische Partij dari
Bandoeng telah melakukan “kudeta” di Indische Bond di Batavia (lihat Het nieuws
van den dag voor Nederlandsch-Indie, 28-10-1912). Sejak inilah Indisch Partij
mulai terbentuk. Komite Indische Partij dari Bandoeng ini dipimpin oleeh Ernest
Douwes Dekker yang juga sebagai pemimpin redaksi majalah Het Tijdschrift dan surat kabar De
expres (keduanya terbut di Bandoeng).
 

Tidak terinformasikan mengapa Komite Indische Partij dari Bandoeng sangat
berambisi untuk mendirikan partai di Hindia Belanda dengan cara melakukan
kudeta di tubuh Indische Bond? Sementara itu terinformasikan dari Malang telah
terbentuk Asosiasi Kartini dimana Dr Tjipto Mangoenkoesoemo tururt
berpartisipasi. Sebagaimana diketahui buku RA Kartini yang disusun oleh JH
Abendanon adalah buku pertama yang diterbitkan oleh Indisch Vereeniging di
Belanda. Abang alm RA Kartini sendiri, yakni RM Kartono yang belum lama meraih
gelar sarjana sastra di Leiden ((satu alamat dengan .Soetan Casajangan) saat
ini masih di Leiden sebagai anggota Indisch Vereeniging.
 


Bataviaasch nieuwsblad, 04-09-1912: ‘Dari Dunia
Jawa. Malang, 4 September. Hari ini, pertemuan Asosiasi Kartini berlangsung di
sini. Agenda utama adalah pembahasan fase baru dalam gerakan Jawa, yang
diperkenalkan oleh dokter pribumi Tjipto Mangoenkoesoemo. Pembicara
menggambarkan Boedi Oetomo sebagai asosiasi prijaji, namun semangat asosiasi
tersebut secara bertahap mulai terlihat di kalangan non-prijaji. Semangat ini
diungkapkan dalam asosiasi Sarikat Islam. Dorongan langsung untuk pendirian
organisasi ini adalah kerusuhan Tionghoa dan kebijakan Kristenisasi pemerintah.
Namun, pertumbuhan yang terlalu cepat menyebabkan pembubarannya oleh
administrasi internal, karena takut akan gangguan. Pembicara menyesalkan
langkah ini; hal itu dapat dengan mudah menyebabkan tindakan terselubung di
kalangan orang Jawa, yang akan jauh lebih buruk. Ia menganggap asosiasi Boedi
Oetomo secara moral berkewajiban untuk membantu kaum Sarikat-Islam dengan
membimbing mereka, dan dengan demikian menyediakan saluran yang baik untuk
energi mereka. Adapun kekhawatiran terkait isu Islam: hal itu tidak mungkin
terjadi jika pemerintah meninggalkan kebijakan Kristenisasi dan menghentikan
pemberian hak istimewa kepada satu kelompok penduduk atas kelompok lainnya’.
 

Lantas mengapa tiba-tiba Dr
Tjipto Mengoenkoesoemo terobsesi dengan pemikiran RA Kartioni setelah membaca
buku RA Kartini yang disusun HJ Abendano yang diterbitkan Indisch Vereeniging?
Yang jelas, atas dasar isi buku itu kemudian terbentuk Asosiasi Kartini di Malang
dimana Dr Tjipto Mangoenkoesoemo berbicara gerakan Jawa (di luar yurisdiksi
Boedi Oetomo). Tidak lama setelah itu terinformasikan Dr Tjipto Mangoenkoesoemo
diangkat menjadi salah satu redaktur surat kabar De expres.
 


De expres, 24-10-1912: ‘Perluasan Tim Redaksi. Dengan
senang hati kami menginformasikan kepada para pembaca bahwa kami akan segera
menambahkan rekan kami, Dr Tjipto Mangoenkoesema, ke dewan redaksi kami. Para
pembaca kami cukup mengenal pembawa obor Pemuda Jawa ini; mereka tahu bahwa
beliau menguasai bahasa Belanda seperti sedikit orang Belanda lainnya mereka
mengenalnya dari artikel-artikel di Expres dan Tijdschrift, yang menunjukkan
perkembangan intelektual yang luar biasa; mereka telah belajar menghargai
idealis ini — apa lagi yang akan kami sampaikan kepada publik tentang beliau?
Melalui Dr Tjipto kami, Indiers (Orang Hindia), berharap dapat memperkuat
hubungan kami lebih jauh lagi’.
 

Klaim De expres bahwa Dr Tjipto
Mangoenkoesoemo akan menjadi raduktur telah membuat kehebohan di kalangan
pribumi. Mengapa? Klaim itu seakan-akan Dr Tjipto Mangoenkoesoemo telah
menyeberang kepada orang-orang Indo. Bagaimana duduk soalnya, banyak orang bertanya-tanya
lebih-lebih dari kalangan Boedi Oetomo (yang menutup diri dari kalangan pribumi
lainnya apalagi orang Eropa/Belanda). Lalu redaksi surat kabar De expres
menjawab.
 


De expres, 01-11-1912: ‘Beberapa Pertanyaan.
Dalam surat kabar harian Tjahaja Timoer, yang diterbitkan di Malang, kita
membaca hal berikut: “Laporan di Expres bahwa Dr Tjiplo Mangoenkoesoemo
akan diterima di dewan redaksi, surat kabar tersebut tidak sepenuhnya benar.
Lagipula, sama sekali tidak pasti bahwa Dr Tjipto akan terjun ke dunia
jurnalistik. Namun, ini adalah keinginan kuat Douwes Dekker. Seperti diketahui,
Dr Tjipto adalah pembela kepentingan penduduk pribumi. Permintaan Bapak Douwes
Dekker kepada Dr Tjipto adalah masalah yang sangat penting, masalah yang, oleh
karena itu, memperjelas masa depan penduduk pribumi. Jika kebijakan Dr Tjipto
salah, maka penduduk pribumi akan binasa; jika benar, penduduk pribumi akan selamat.
Tetapi apa pun keadaannya: keberuntungan baik atau buruk, semuanya bergantung
pada Karma manusia. Untuk saat ini, kami mengajukan pertanyaan-pertanyaan
berikut kepada Expres: 1. Apa tujuan Iindische Partij, sehingga bertujuan untuk
mendapatkan suara mayoritas dengan menerima penduduk pribumi ke dalam asosiasi
tersebut? 2. Apa manfaatnya bagi penduduk pribumi ketika Indische Partij
berupaya mendirikan sebuah Universitas dan menyamakan kedudukan sebagian besar
penduduk pribumi dengan orang Eropa? Sejauh ini, saya akan membiarkan Dokter
Tjipto menjawab pertanyaan kedua sendiri. Adapun pertanyaan pertama: merupakan
koreksi yang luar biasa untuk mengatakan kepada saya bahwa saya tidak tahu
apakah saya telah menghubungkan siapa pun dengan Express atau tidak. Tampaknya
bagi saya Dokter Tjipto dan saya yang paling tahu’.
 

Namun kapan Dr Tjipto
Mangoenkoesoemo memulai kegiatannya sebagai redaktur di bertugas di De expres (di
Bandoeng) tidak terinformasikan. Fakta bahwa Dr Tjipto Mangoenkoesoemo saat ini
masih berada di Kepandjen, Malang. Artikel yang dibuat sendiri oleh Dr Tjipto
Mangoenkoesoemo yang dibuat di Kepandjen pada tanggal 30 Oktober 1912 kemudian
dimuat di surat kabar De expres, 27-11-1912.
 


De expres, 27-11-1912: ‘Sepatah Kata Jujur dari
Seorang Teman yang Jujur. Surat Terbuka kepada Warga Negara dari brosur kecil
karya Tjipto. Saya tidak memberikan komentar selain pernyataan pendahuluan ini:
bahwa dia yang ditempatkan di bawah saya, terikat pada jabatan editor saya,
akan menjadi orang bebas (Red.). Pembaca yang terhormat! Posisi luar biasa yang
akan saya alami sehubungan dengan Indische Partij (Partai Hindia) karena
keadaan memaksa saya untuk beralih kepada Anda. Karena menurut pendapat saya,
Anda berhak untuk mengetahui bagaimana saya berpikir dan merasa tentang
masalah-masalah saat ini. Berhati-hatilah sebelumnya bahwa saya sama sekali
tidak membayangkan bahwa pendapat pribadi saya mengenai organisasi besar itu
akan berpengaruh, dan bukan pula niat saya untuk memengaruhi perasaan Anda
mengenai partai tersebut. Tidak sama sekali! Sebaliknya, perlu dinyatakan
secara tegas di sini bahwa semua yang saya katakan bersifat pribadi, bahwa saya
tidak berbicara atas nama banyak orang atau atasan. Tetapi langsung ke intinya.
Pada hari Senin, 28 Oktober 1912, saya berkesempatan melakukan perjalanan
bersama pemimpin Indische Partij Douwes Dekker, ke Koetoardjo. Seperti yang
dapat dipahami, percakapan dengan cepat beralih ke Indische Partij, dan
terutama ke dasar-dasar yang menjadi landasan organisasi tersebut. Saat itu
menjadi jelas bagi kami—seperti yang telah menjadi jelas bagi kami
sebelumnya—bahwa, setidaknya secara prinsip, kami sepenuhnya sepakat satu sama
lain. Indische Partij, yang melalui pemimpinnya akan berjuang untuk
“kesetaraan hukum penuh” bagi semua penduduk Hindia, dan yang akan
memasukkan “penyatuan pendidikan” sebagai salah satu agenda utamanya,
dapat—setidaknya menurut pendapat saya yang rendah hati—menjadi badan yang
tepat yang dapat diharapkan oleh rakyat kita dalam waktu dekat. Menanggapi pertanyaan
dari Douwes Dekker yang, perlu disebutkan dalam kurung, telah saya hargai
selama bertahun-tahun sebagai pembela hak-hak penduduk asli yang gigih—apakah
saya mungkin ingin duduk di dewan utama asosiasi, saya menjawab negatif, dengan
menyatakan bahwa pendapatnya yang memuji saya, bahwa saya akan menjadi salah
satu pemimpin terkemuka di antara Pemuda Jawa, sangat jauh dari kebenaran. Saya
hanya melihat kekecewaan di kedua belah pihak. Percakapan kemudian beralih ke
subjek “pers”. Pendapat saya adalah (dan tetap) bahwa dalam
kebangkitan yang akan datang di antara penduduk asli, perhatian terbesar harus
diberikan kepada persnya. Pendapat pribadi saya ini ditegaskan, sementara saya
secara bersamaan ditanya apakah saya akan memiliki keberanian untuk mengabdikan
diri pada perawatan bagian dari sarana perjuangan kita ini. Saya menjawabnya
dengan
yang, terlebih lagi, tidak
dapat diharapkan sebaliknya dari saya, karena jurnalisme selalu memiliki daya
tarik khusus bagi saya sejak dulu. Dalam kapasitasnya sebagai pemimpin redaksi
Expres, Bapak Douwes Dekker menawarkan saya tempat di kantornya, di mana saya
kemudian akan memiliki kesempatan, di bawah bimbingannya, untuk melatih diri
dalam profesi tersebut. Jawaban saya atas tawaran ini kurang lebih mengelak,
atau lebih tepatnya ragu-ragu. Singkatnya, saya menyimpan kekhawatiran bahwa
perbedaan asal usul mungkin akan menyebabkan gesekan di kemudian hari.
Bagaimanapun, saya merasa perlu untuk memperingatkan Dekker dari Poerworedjo
untuk menunggu dengan pesannya sampai saya bergabung dengan surat kabarnya.
Surat yang saya kirim setelah itu dapat saya lampirkan di sini (dengan
pemberitahuan bahwa di sana-sini kata dan ungkapan mungkin telah diubah atau
dikoreksi selama transkripsi; oleh karena itu, ini bukan reproduksi verbatim)
Loanoe, Poerworedjo: 22-10-1912. Dear Ernest! Setelah percakapan kita kemarin
di kereta, menurut saya sangat perlu untuk membahas beberapa hal lebih lanjut.
Sambil merenungkan keadaan negara kita saat ini terkait dengan keadaan ideal
yang sedang kita upayakan, saya menuliskan hal berikut kepada Anda, dan ini
untuk mencegah kekecewaan di kedua belah pihak. Meskipun saya menghargai upaya
Anda pada prinsipnya, dan di balik penampilan publik Anda yang tiba-tiba, saya
dapat melihat cita-cita Anda tentang perdamaian umum berdasarkan pengejaran
akal sehat dan keadilan sosial, namun saya harus mempertimbangkan bahwa kita
harus memiliki pendapat yang berbeda mengenai pilihan cara yang akan digunakan.
Sampai batas tertentu, ini kurang penting, tetapi tetap harus ada sesuatu yang
dipertimbangkan, dan seperti yang saya katakan kepada Anda, ini untuk mencegah
kekecewaan bersama. Pada prinsipnya kita sepenuhnya sepakat. Poin pertama dari
program ini haruslah “kesetaraan sosial dan politik yang lengkap”
bagi semua penduduk Hindia, tanpa memandang ras, jenis kelamin, agama, dll.
Satu-satunya pertanyaan adalah: apa yang menghalangi kita untuk mencapai
kesetaraan ini? jawaban atas pertanyaan ini. Kita akan sangat berbeda pendapat.
Bagaimanapun, ada dua musuh, yang dalam pertempurannya seluruh kekuatan kita
akan diperlukan. Kita telah mencari kesalahan baik “dalam diri kita
sendiri” maupun di luar. Dalam salah satu artikel Anda di Het Tijdschrift,
saya ingat Anda berbicara tentang almarhum Jenderal Booth, pemimpin terkemuka
Bala Keselamatan. Anda membela proposisi bahwa hidup diberikan kepada mereka
yang memiliki keberanian untuk mengambilnya. Ini agak mengejutkan saya.
Sejujurnya, saya menginginkan bagi bangsa saya kesediaan untuk berkorban yang
dimiliki para pejuang Bala Keselamatan hingga tingkat yang sangat tinggi. Saya
sepenuhnya mendukung posisi hampir semua guru agama bahwa lebih diberkati untuk
“memberi” daripada “mengambil”. “Mengambil untuk diri
sendiri” yang “secara rasional” ditoleransi, di mata saya, jelas
jauh lebih rendah daripada “menolak” yang “tidak bijaksana”.
Memberi, berkorban itu tidak bijaksana, namun keberadaan dunia sangat
bergantung padanya. Alam semesta dipertahankan oleh “pengorbanan”, dan
di mana individu bersedia berkorban, keberadaan terjamin. Menerapkan ini dalam
kehidupan nyata. Jika rencana ini berjalan lancar, dan saya termasuk dalam staf
redaksi surat kabar Anda, maka saya tidak dapat gagal untuk menanamkan prinsip
ini pada masyarakat Jawa. Siapa sebenarnya yang akan kita jangkau dengan surat
kabar ini? Pertama-tama, tentu saja, mereka yang merupakan “pemimpin
kecil” di lingkungan mereka sendiri. Kita akan menunjukkan kepada mereka
kata-kata Nnerada, yang setiap dalang akan bersedia ceritakan kepada Anda, yang
diucapkan kepada Pandawa tertua. “Kaki Praboe! Apakah kau ingin menjadi
seorang ‘pangeran’? Nah, kau akan menanggung bagian ‘penderitaan’ yang paling
besar. Maka bagianmu dari ‘cinta’ dunia bukanlah yang terkecil.” Pangeran
yang tidak menyadari, meskipun ia menjadi yang terakhir dalam kesenangan dan
yang pertama dalam kesedihan, berbuat baik kepada orang seperti itu dengan
mengenakan pakaian pengemis. Saya merasakannya, dengan usulan-usulan ini saya
tidak akan berhasil, tidak mungkin mencapai kesuksesan. Anda mengimbau egoisme
manusia, dan orang-orang enggan menerimanya. Namun, itu harus dilakukan. Kita
masing-masing harus siap mengorbankan nasib kita: istirahat, kenyamanan,
kesenangan, diri kita sendiri demi kesejahteraan sesama, terutama yang lebih
lemah. Itulah prinsip filantropi yang indah, yang dipraktikkan oleh berbagai
organisasi di dunia dan Bala Keselamatan. Dalam menjawab pertanyaan kedua saya,
siapa musuh kita, kita kembali saling mendekati. Saya menganggap mereka semua
yang tidak mau berkorban demi kesejahteraan orang-orang yang waspada. Anda
menemukan mereka di semua lapisan masyarakat, di semua negara, bahkan di kelas
bawah dan atas. Kita harus menyatakan perang terhadap mereka. Penulis
menganggap para pejabat pagan, para pejabat pemerintah desa, para pengawas
India dan Eropa di panti asuhan kuliner, Arab, atau Tiongkok, semuanya, ketika
mereka menyia-nyiakan kesetiaan mereka dengan mengorbankan orang-orang yang
berada di bawah mereka, adalah musuh bebuyutan kita. Dengan demikian, kita
tidak akan memprovokasi keserakahan siapa pun; sebaliknya, perjuangan dilakukan
melawan keserakahan orang yang lebih tinggi demi kepentingan orang yang lebih
rendah. Lihatlah, apa yang menurut saya perlu saya sampaikan kepada Anda. Jika
Anda berkenan, saya akan siap membantu Anda pada pertengahan Desember. (Kesimpulan
dan tanda tangan). Pada surat ini, setelah saya kembali dari cuti pada tanggal
26 Oktober, saya menerima balasan telegram berikut: Tjipto, Dokter Kepandjen.
Prinsip juga menjadi prinsip saya. Datanglah sesegera mungkin pada pertengahan
Desember, terlalu terlambat, satu hari penuh untuk mengambil tindakan. Douwes
Dekker. Laporan tentang pengangkatan saya yang mendesak sebagai editor Expres
agak mengejutkan saya, karena saya membacanya sebagai bacaan yang diterima
bersama telegram tersebut. Namun, saya sudah menduganya (lihat tulisan saya).
(Namun, karena saya, meskipun sangat setuju dengan apa yang saya sebut dan
inginkan sebagai prinsip-prinsip saya, terkadang masih mendapati diri saya
dalam situasi yang sangat sulit, atau lebih tepatnya: karena saya khawatir
bahwa publikasi saya di kemudian hari, dll., akan bertentangan dengan publikasi
pemimpin redaksi, saya merasa perlu untuk membuat pengakuan saya kepada Anda.
Namun, jangan salah paham! Saya sangat yakin bahwa Douwes Dekker secara pribadi
sepenuhnya setuju dengan apa yang telah saya tulis kepadanya. Kesediaannya
untuk berkorban, terlepas dari apakah pengorbanan itu perlu atau tidak, tidak
diragukan lagi. Tatapan curiga, beberapa di antaranya agak meragukan, tidak
dapat menyesatkan perasaan saya terhadapnya, yang tanpa pamrihnya tidak perlu
diperbaiki. Bagi saya, bagaimanapun, pertanyaannya adalah apakah Partai Hindia
mengikutinya dalam hal ini; saya sudah memiliki kesempatan untuk menyampaikan
pendapat saya tentang apa yang telah ditulis tentang Bala Keselamatan. Kemudian
saya juga ingin menunjukkan artikel dari “Twee Wolven”, yang pernah
menjadi salah satu edisi Het Tijdschrift. Hal ini membuat saya bertanya pada
diri sendiri apakah, di era Hindia, mesin “cinta massa” mungkin
digunakan sebagai sumber tenaga. Akan ada yang keberatan dengan saya bahwa
Partai Hindia adalah partai yang ingin menjaga kepentingan sekelompok penduduk.
Tetapi mengenai hal ini juga menurut saya, ada banyak hal yang perlu dibahas.
Jika saya boleh menilai berdasarkan undang-undang terbaru, yang saat ini tidak
saya miliki, maka saya mendapat kesan bahwa Partai Hindia menginginkan
persatuan universal di mana ada ruang bagi setiap orang yang merasa mencintai
negara tempat tinggalnya. Tetapi kemudian tidak ada antitesis yang valid, atau
kita sampai pada antitesis yang bukan antitesis, seperti India —
didominasi — yang berulang kali dinyatakan bahwa
tidak semua orang Belanda, tidak semua elemen penduduk dijadikan bukan orang
India. Kita lihat, tidak mudah menemukan kriteria untuk lawan. Bagi saya, saya
telah memikirkan beberapa “umpan penindas.” Namun kita menemukan ini
dengan mudah pada aristokrat Jawa seperti pada orang Cina, dan sama mudahnya
pada mandor seperti pada karyawan timbangan. Haruskah kita menganggap semua
orang sebagai bukan orang India? Lalu, apa nama kolektif untuk orang-orang
seperti itu? Memilih “orang Belanda” untuk ini menurut saya aneh dan
tidak pantas. Anda lihat, semua ini membuat saya memandang organisasi ini bukan
sebagai formasi partai, dalam arti pengelompokan rasial. Lalu muncul
pertanyaan: lalu apa sebenarnya? Apakah Indische Partij dimaksudkan sebagai
persatuan universal, seperti yang diyakini oleh sebagian orang, dan kemungkinan
besar memang akan demikian? Kepentingan sekelompok kecil orang, yang ditentang
oleh banyak kelompok lain dengan kebutuhan dan persyaratan yang berbeda, harus
dipertahankan dengan gigih, di mana egoisme dapat ditantang jika perlu. Kelompok-kelompok
lain akan melakukan koreksi dengan sendirinya. Namun, menurut pendapat saya,
jalan pendekatan umum harus mengambil arah yang berbeda. Fakta bahwa begitu
banyak orang dengan pandangan hidup yang berbeda, tingkat perkembangan yang
berbeda, dan sebagainya, harus sampai pada—sampai batas tertentu—cara berpikir
yang sama, dan fakta bahwa tujuannya adalah untuk membuat orang-orang ini
menghargai spiral ini, harus menuntut kehati-hatian. Diketahui bahwa massa
dipengaruhi oleh suasana hati, bahwa mereka kurang skeptis dan lebih suka tidak
melakukan penyelidikan lebih lanjut, menolak semua yang ingin disampaikan oleh
“orang yang sedang berkuasa”; Sama halnya dengan mereka akan
melempari batu siapa pun yang kecurigaannya—baik beralasan maupun tidak—telah
dibangkitkan dalam diri mereka, bahkan jika kecurigaan itu membawa “kabar
baik” bagi mereka. Di sinilah sudah terdapat sedikit indikasi betapa
hati-hatinya orang yang memegang kendali bertindak. Tanpa bermaksud mengabaikan
segala sesuatu yang menyerupai rangsangan terhadap takdir hati, saya tetap
merasa perlu untuk memperingatkan terhadap pembangkitan terus-menerus dari
hasrat-hasrat tersebut, karena betapapun mereka tertidur di bawah banjir
budaya, dll., dll., tidak banyak yang dibutuhkan untuk membangunkan mereka
kembali. Oleh karena itu, perlu untuk menggunakan sesedikit mungkin
“kata-kata kasar”, bahkan hanya karena cara massa bereaksi terhadap
hal ini, yang tidak pernah dapat diprediksi dengan kepastian mutlak. Selain
itu, tidak boleh diabaikan bahwa “kata-kata kasar” memenuhi peran
yang sama bagi pikiran kita seperti halnya obat-obatan rekreasi bagi fisik
kita; mereka memiliki efek jika digunakan secara moderat, tetapi menunjukkan
efek samping beracun jika terjadi penyakit. Lebih jauh lagi, zat-zat ini juga
tentu saja menyebabkan efek tumpul yang lambat. Dalam jangka panjang, dosis
harian yang berulang menjadi tidak efektif, dan seseorang terpaksa
meningkatkannya jika ingin melihat efek dari pemberian obat; seseorang dapat
secara tidak sengaja mengonsumsinya hingga dosis yang sangat tinggi sehingga
batasnya terlampaui tanpa disengaja. Saya keberatan dengan metode yang diikuti
oleh Dekker dalam hal ini. Dan jika tidak bisa sebaliknya, saya pasti akan
menahan diri untuk tidak menulis semua ini. Namun, menurut pendapat saya,
pendekatan yang berbeda harus diikuti dengan keberatan yang serius. Saya,
misalnya, sangat setuju dengan cara orang-orang seperti dari Asosiasi Teologi,
Bala Keselamatan, bekerja untuk memperbaiki kondisi sosial, karena pada
akhirnya inilah inti dari semua pekerjaan kita. Para pengikut mereka jelas
telah memilih fakta bahwa mereka memulai dari diri mereka sendiri ketika
menangani semua masalah. Mereka menelusuri semua kondisi yang menyedihkan
kembali ke penyebabnya: kesalahan dalam diri manusia itu sendiri. Dengan
sungguh-sungguh, mereka menerapkan gagasan bahwa “manusia secara batiniah
menciptakan keadaannya” atau “mendominas”. Oleh karena itu,
“batin” ini membentuk titik tumpu bagi mereka dalam pekerjaan sosial
mereka. Sebaliknya, kita dapat dengan mudah mempertahankan proposisi bahwa
“keadaan membentuk manusia.” Proposisi pertama membawa kita pada
kepasifan yang besar terhadap kehidupan, yang diimbangi oleh fakta bahwa hasil
yang dicapai seringkali bersifat abadi. Proposisi kedua memaksa kita untuk
mencari “lawan,” karena meskipun kita sendiri tidak bersalah atas
keadaan kita yang kurang baik, “orang lain” pastilah bersalah. Oleh
karena itu, “perjuangan” merupakan komponen yang sangat diperlukan
dalam pekerjaan para pembela proposisi kedua ini. Di manakah kebenaran harus
dicari? Saya percaya bahwa di sini pun, jalan tengah adalah yang tepat.
Berjuanglah di mana perjuangan diperlukan, tetapi jangan ragu, dari waktu ke
waktu, untuk mengorbankan diri sendiri. dan untuk bertanya pada diri sendiri
sejauh mana kita gagal menciptakan posisi terbaik bagi diri kita sendiri. Kita
akan memperoleh banyak keuntungan jika kita dapat mengikuti sistem ini;
bagaimanapun, kita akan mencapai ketidakberpihakan dan keterbukaan pikiran yang
sangat diperlukan di negara tempat begitu banyak ras berkumpul. Perjuangan
kemudian secara alami akan dilakukan melawan individu, paling banyak melawan
sebagian dari suatu sistem, tetapi tidak akan pernah ras melawan ras. Saya tahu
bahwa saya akan dituduh setengah hati, berpikir tidak konsisten. Saya akan
diminta untuk menyatakan diri mendukung satu proposisi (yang diuraikan di
atas). Saya tidak dapat mengatakan sebaliknya selain bahwa ini tidak mungkin
bagi saya, karena “tidak ada yang sepenuhnya benar, bahkan proposisi kesehatan
sekalipun.” Para pembaca yang terhormat! Di atas, saya telah mencoba untuk
berbagi dengan Anda perasaan saya mengenai Partai Hindia. Dalam melakukannya,
saya telah melakukan yang terbaik untuk mempertahankan sudut pandang yang
sepenuhnya objektif, menjaga agar tidak terjerumus ke dalam detail. Motif saya
untuk secara terbuka menguraikan posisi saya mungkin tidak akan asing bagi
Anda. Sebagian orang, khususnya, memandang saya sebagai salah satu pemimpin
gerakan Pemuda Jawa, yang, yang mengejutkan saya, salah satu surat kabar Melayu
juga mencoba menyarankan hal itu kepada para pembacanya. Namun, saya tidak
boleh melewatkan kesempatan ini untuk membahas beberapa isu yang memang sedang
menjadi perhatian masyarakat adat. Saya teringat mosi yang diajukan oleh Bapak
de Jongh pada acara pesta dansa Semarang, yang mana mereka tidak ingin mencapai
konsensus. Saya akan membiarkan bagian pertama mosi tersebut tidak dibahas,
karena itu termasuk isu yang belum pernah dibahas secara serius tentang orang
Jawa. Namun, saya menganggapnya sangat penting jika kita ingin mendengar
pendapat majelis Semarang mengenai “kepemilikan tanah” dan
“pendidikan”. Saya tidak akan mengadopsi mosi tersebut, tetapi akan
mencoba menjawab pertanyaan tentang bagaimana “kepemilikan tanah”
dapat bermanfaat bagi orang India keturunan Eropa, bagi kita orang Jawa. Kita
orang Jawa membayangkan bahwa begitu orang India memperoleh tanah, mereka juga
harus menanggung kewajiban yang sama seperti keluarga pribumi. Memperoleh sewa
tanah yang sama dianggap sebagai hal yang paling ringan. Ditambah lagi dengan
layanan desa dan budaya; Ketergantungan mutlak pada para industrialis dan
pemilik perkebunan (contoh: budidaya tembakau di Oosthoek), tunduk pada,
terkadang bentuk kepura-puraan yang paling buruk, seperti berbondong-bondong
ikut serta dalam pembakaran alang-alang, melakukan pertahanan polisi di kandang
ternak, dan memasuki kebun alang-alang, bahkan ketika seseorang percaya bahwa
upah terlalu rendah. Tanpa motif tersembunyi, perlu dikatakan bahwa saya memiliki
harapan tinggi untuk pemerataan semacam itu. Hal itu pasti akan menegaskan
pengaruhnya di desa dan merupakan koreksi yang baik terhadap semua kemungkinan
tindakan melanggar hukum yang secara sederhana dihadapi oleh tani. Kepastian
hukum dan keamanan hidup dan harta benda akan segera diberikan kepada
tani-sadja juga. Masalah pendidikan adalah masalah yang sangat rumit. Seperti
yang dicatat dengan tepat di Semarang, tuntutan akan pendidikan tinggi tidak
demokratis. Orang Jawa mengambil pandangan yang agak pragmatis tentang hal itu.
Keberatan yang saya dengar di sana-sini adalah: bahwa penduduk asli, secara
umum, akan mendapat sedikit manfaat dari lembaga pendidikan tinggi serupa
selama pintu sekolah dasar Eropa tetap tertutup bagi anak-anak mereka. Sekolah-sekolah
pribumi kelas satu?! Sekolah-sekolah itu dihargai sebagai pengganti, namun
orang-orang terus melirik secara diam-diam ke sekolah untuk orang Eropa, yang,
bagaimanapun, terhubung ke sekolah menengah, dan mungkin kemudian ke sekolah
tinggi juga. Itulah pendapat yang dipegang di kalangan pribumi. Bagi saya
sendiri, saya menganggap sekolah untuk pendidikan tinggi tentu merupakan berkah
bagi negara, karena negara dapat memperoleh tenaga kerja dengan lebih murah.
Namun, sebagai pendukung partai, saya harus membiarkan pendapat saya sendiri
tetap teguh. Saya tahu bahwa Bapak Douwes Dekker memiliki “penyatuan
pendidikan” dalam programnya. Dengan itu, orang dapat menganggap keberatan
yang diajukan oleh begitu banyak orang Jawa dan yang saya sampaikan sebagai hal
yang sudah terbantahkan. Namun justru karena alasan itulah, hubungan dapat
menjadi jauh lebih murni jika pertanyaan ini diajukan dalam salah satu
pertemuan. Kita kemudian dapat mendengar pendapat Partai Hindia, alih-alih
hanya menerima janji dari pemimpinnya. Sebagai antitesis dari pendidikan
tinggi, berdirilah pendidikan rakyat. Terkadang dikatakan bahwa bangsa Jerman
berutang budi kepada guru sekolah. Saya tidak dapat menilai ini, tetapi saya
percaya bahwa ada kebenaran di dalamnya. Saat ini, masalahnya ada di hadapan
kita sebagai berikut: dari semua jenis pendidikan, pendidikan untuk kaum ani
adalah yang paling sedikit diberikan. Prijaji secara bertahap mulai sadar: ada
baiknya bagi orang Jawa untuk memperhatikan bagaimana dalam keadaan seperti itu
semuaDari semua sisi, tujuan didekati, bagaimana asosiasi membentuk diri mereka
sendiri, semuanya untuk pendidikan yang lebih dan lebih menyeluruh. Oleh karena
itu, ada alasan yang lebih kuat untuk bertanya kepada Indische Partij tentang
sikapnya atau akan bersikap terhadap isu lain; maksud saya, apa yang dapat
diharapkan Tani darinya dalam waktu dekat. Saya pasti akan mengajukan
pertanyaan ini kepada Indische Partij jika saya memang juga bertanggung jawab
atas kepemimpinan gerakan Jawa. Akhirnya, atas nama rakyat saya, saya akan dengan
tegas mendefinisikan posisi yang ingin diadopsi oleh orang Jawa. Jika saya
memahami rekan-rekan sebangsa saya dengan benar, mereka menginginkan Jawa yang
kohesif, yang penduduknya, sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan—terlepas
dari semua perbedaan ras, agama, atau lainnya—aktif untuk kesejahteraan negara.
Dalam garis pemikiran ini, setiap antitesis harus dihilangkan. Perjuangan
selalu dilakukan terhadap individu, sebisa mungkin bukan terhadap kelompok
orang. Satu contoh saja sebagai ilustrasi. Mengikuti alur pemikiran yang sudah
mapan, kami akan meminta pertanggungjawaban kelima anggota dewan asosiasi
tersebut atas “protes Asosiasi Dokter” yang terkenal itu, bahkan
bukan asosiasi itu sendiri, karena tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa
asosiasi tersebut sepenuhnya mendukung isi dan bentuk protes tersebut; apalagi
kami akan berani mendekati Gubernur Jenderal untuk masalah ini. Pada paragraf
terakhir ini, saya telah melakukan pengulangan, tetapi saya harus melakukannya
agar tidak terjadi kesalahpahaman. Di atas, untuk sementara saya telah
mengambil alih kepemimpinan gerakan Jawa. Agar tidak kehilangan pandangan
terhadap semua hubungan, saya harus segera kembali ke kapasitas saya sebagai
individu Jawa dan menyatakan bahwa baik Tloedi-Oetomo maupun Sarikat-Islam —
yang mana saya bukan anggota dari kedua asosiasi tersebut — tidak dapat
dimintai pertanggungjawaban atas pernyataan saya. Namun, saya belum sampai pada
akhir. Mengenai pengakuan saya, saya masih berhutang penjelasan kepada Anda
tentang beberapa hal yang telah terjadi. Express telah terlalu banyak
memberitakan nama saya sehubungan dengan kunjungan saya ke wilayah yang terkena
wabah. Bukanlah kekhawatiran yang keliru dari pihak saya ketika saya menyatakan
bahwa, di mata saya, tindakan itu sendiri tidak memiliki nilai sedikit pun.
Lebih jauh lagi, masalah gelar kebangsawanan pasti menyakitkan bagi Anda.
Bagaimana saya berpikir tentang penghargaan secara umum, dan tentang
penghargaan saya sendiri secara khusus, mungkin tidak menjadi urusan Anda. Namun,
anggapan bahwa pemerintah ingin menyuap saya dapat merugikan gerakan Anda,
setidaknya jika seseorang berpegang pada fiksi bahwa Anda melihat saya sebagai
salah satu pemimpin Anda. Saya tidak dapat memikul tanggung jawab ini. Saya
ingin menunjukkan kepada Anda fakta bahwa saya bahkan tidak terdaftar sebagai
anggota di asosiasi utama Anda, yang tentu saja berbicara banyak. Tetapi
kemudian motif untuk menyuap saya juga hilang, dengan asumsi bahwa pemerintah
tidak menghargai cara tersebut. Sekali lagi: saya memiliki pengaruh yang tidak
saya miliki, dan saya tidak membayangkan akan pernah memiliki pengaruh itu. Dan
sekarang! Saya merasa terdorong untuk memberikan kritik jika diperlukan. Saya
telah melakukannya dengan penuh ketenangan dan kesabaran, dengan mengingat
bahwa hanya dengan secara tegas menunjukkan—setidaknya menurut pendapat
saya—kelemahan-kelemahan Indische Partij, saya mungkin dapat berkontribusi
untuk memungkinkan rekan-rekan sebangsa saya membentuk penilaian yang tidak
bias terhadap organisasi tersebut. Saya dapat dengan mudah tetap diam mengenai
kualitas baik Indische Partij, karena Douwes Dekker juga bukan orang asing bagi
Anda. Saya menaruh kepercayaan penuh padanya secara pribadi, tetapi percaya
bahwa “moderasi dalam tindakannya” mungkin bermanfaat bagi gerakan
yang telah dimulai. Pada tanggal 16 Desember mendatang, saya akan bersedia
bertemu dengan para editor Expres. Masalah ini mungkin hanya bermanfaat bagi
saya sendiri. Mengenai Anda, saya menahan diri untuk tidak memberikan nasihat
apa pun. Saya tidak menyangkal bahwa surat ini mungkin memiliki pengaruh
sugestif pada sebagian dari Anda. Ingatlah, bahwa saya tidak bermaksud
demikian, namun saya tidak dapat mencegahnya. Bagi saya pribadi, tujuannya
adalah untuk tetap jujur dalam posisi baru saya, untuk dapat mempertahankan
metode kerja saya—di mana metode tersebut berbeda dari metode majikan
saya—selama mungkin, dan pada saat yang sama untuk melepaskan diri dari beban
berat tanggung jawab atas tindakan Anda, terlepas dari apakah Anda mendukung
atau menentang Partai Hindia. Ya, memang! Saya akan mengakhiri surat ini dengan
satu nasihat: bersikaplah tidak memihak, dan ingatlah bahwa “setiap orang
baik, dalam dorongan hatinya yang disalahpahami, pada akhirnya akan menemukan jalan
yang benar”. Tjipto Mangoenkoesoemo. Kepandjen, 30 Oktober 1912’.
 

Indische Partij ini kemudian
diketahui ketua pusatnya adalah Ernest Douwes Dekker (lihat De expres,
18-12-1912). Dalam pengumuman tersebut sekretariat pusat di Bandoeng dipimpin
oleh GP Carli di Naripanweg. Daftar pemimpin cabang yang sudah ada di Bandoeng,
Batavia, Cheribon, Tegal, Pekalongan, Kendal, Semarang, Soerabaja, Djokja, Djombang,
Modjokerto, Blora, Indramajoe, Serang dan Padang. Suatu komite dibentuk di
Bandoeng untuk menyusun statute (Anggaran Dasar).
 


Juga
disebut para musuh Indische Partij: (1) 
Het Nieuws v. d. Dag, v. Ned.-lndië te Batavia. (2) M. v. Geuns en het
Soerabajasch Handelsblad. (3) De journalist Mr JF Dijkstra te Bandoeng. (4) De
firma G. Kolff & Co. te Bandoeng en de Preanger-bode. (5) W. Kerremans en
het Soerabajasch Nieuwsblad. (6) Het dagblaadje Mataram te Djokja.
 

Sehari kemudian di
Belanda,
Vereeniging Oost en West
cabang Amsterdam mengundang Soetan Casajangan untuk berbicara di forum mereka
(lihat Het koloniaal weekblad; orgaan der Vereeniging Oost en West, jrg 12,
1912, No. 50, 12-12-1912). Disebutkan cabang Amsterdam mengundang Soetan
Casajangan untuk memberi kuliah dengan topik: “Een en ander ter bevordering van
den vooruitgang van Nederlandsch-lndie (Hal-hal lain untuk mempromosikan kemajuan
Hindia Belanda), pada hari Kamis, 19 Desember 1912, di salah satu aula Hotel
Amerika (pintu masuk Marnixstraat), dimulai pukul 20.00. Pembicara adalah
seorang Batak dan guru bahasa Melayu di sekolah perdagangan Handelschool di Rotterdam
dan Haarlem; beliau telah memperoleh ijazah akta guru kepala.
 


Ini untuk kali kedua,
Soetan Casajangan berbicara di forum dua organisasi yang berbeda di Belanda:  (1) Pada
tanggal 23 Maret 1911 pada forum Vereeniging
Moederland en Kolonien dengan makalah berjudul ‘Verbeterd Inlandsch Onderwijs’
(Peningkatan pendidikan pribumi): (2) Pada tanggal
19
Desember 1912
pada
forum Vereeniging Oost en West dengan makalah berjudul
“Een
en ander ter bevordering van den vooruitgang van Nederlandsch-lndie (Hal-hal
lain untuk mempromosikan kemajuan Hindia Belanda). Catatan: Satu lagi
organisasi di Belanda yang memiliki kaitan dengan Hindia adalah Indisch
Genootschaap yang dipimpin oleh Prof Mr Cornelis van Vollenhoven (ahli hokum adat
pribumi). 
 

Lalu pada tanggal 25 Desember 1912 Indisch Partij secara resmi didirikan (lihat De expres,
27-12-1912). Dalam pembentukan itu turut hadir perwakilan resmi dari asosiasi
Sarikat Islam, yang sekarang berjumlah lebih dari 90.000 anggota. Perwakilan SI
tersebut adalah R Tjokro Aminolo dan Hassan Alijralie.
 


Disebutkan
lebih lanjut, bahwa dalam statute Indisch Partij: Pasal-2, ayat-1: “Tujuan
Indisch Partij adalah untuk membangkitkan patriotisme seluruh rakyat Hindia
terhadap tanah yang memelihara mereka, untuk memaksa mereka bekerja sama atas
dasar kesetaraan politik, untuk membawa tanah air Hindia ini menuju kemakmuran
dan mempersiapkannya untuk keberadaan nasional yang merdeka. Pasal-2, ayat-4:
mengenai “membuat Hindia tangguh melawan penjajah asing”. Dalam Pasal-2, bahwa
konsep orang Belanda tidak ada bagi Indische Partij. Indische Partij hanya
merujuk pada Indier (orang Hindia) yang dalam hal ini dimana orang tersebut
dilahirkan menjadi tidak relevan lagi.
 

Dr Tjipto Mangoenkoesoemo tidak hanya sebagai redaktur surat kabar De
Express, Dr Tjipto Mangoenkoesoemo juga telah menjadi salah satu pengurus pusat
Indische Partij. Berita ini juga menjadi heboh pula di Belanda. Lantas apa
reaksi para anggota Indisch Vereeniging di Belanda?
 


Het koloniaal
weekblad; orgaan der Vereeniging Oost en West, jrg 13, 1913, No. 5, 30-01-1913:
‘Indische Partij. Pada Hari Natal, rapat konstituen Indische Partij diadakan di
Bandoeng. Rapat tersebut dihadiri oleh 5.000 anggota; 19 cabang terwakili.
Diumumkan bahwa HA Dezcntjé dari Solo telah menyediakan dana sebesar seratus
ribu gulden untuk partai tersebut. De Express tanggal 28 Desember lalu
memberitakan tentang pemilihan anggota dewan utama Indische Partij pada rapat
konstituen di Bandoeng. Sebelum pemungutan suara, Douwes Dekker memprotes
pencalonannya sebagai ketua. Ia mengemukakan alasan-alasan berikut, yang
menurutnya membuatnya menjadi kandidat yang tidak diinginkan: 1. Anggota dewan
utama harus mengambil posisi independen dan selalu dapat mengatur waktu mereka;
2. Gagasan Indische Partij telah dikaitkan oleh para anggota dengan sosok Douwes
Dekker; hubungan ini harus diputus dengan segala cara; 3. Ketua Dewan Pusat seorang
ayah yang juga bidan haruslah seorang organisator yang baik, dan Douwes Dekker
tidak menganggap dirinya layak menjadi salah satu ayah yang juga bidan. Atas
dasar ini, Douwes Dekker menganggap dirinya kurang cocok untuk jabatan ketua. Ia
mengusulkan Dr Tjipto Mangoenkoesoemo dan JG van Ham sebagai kandidat.
Pertemuan tersebut tampaknya tidak sependapat dengan keberatan Douwes Dekker; pertemuan
tersebut memilihnya sebagai ketua dengan suara bulat dan kemudian menunjuk,
dengan suara bulat dikurangi satu — dari seksi Cheribon, yang memberikan suara
kosong karena mereka menginginkan jumlah anggota dewan eksekutif yang ganjil —
kandidat yang diusulkan oleh Dewan Eksekutif sementara. Oleh karena itu, Dewan
Eksekutif terdiri sebagai berikut: EFE Douwes Dekker, ketua; Dr Tjipto Mangoenkoesoemo,
wakil ketua; JG v Ham, sekretaris; GP Carli, bendahara; JD Brunsveld van Hulten
dan JR Agerbeek, anggota’.
 


Tunggu
deskripsi lengkapnya

Raden
Mas Soewardi Soerjanigrat “Als ik een Nederlander was”: Ernest Douwes Dekker,
Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat Diasingkan ke Belanda

Tunggu deskripsi
lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping
pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis,
Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di
waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan:
Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia:
Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di
Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. “Sejarah Catur di
Indonesia”; “Sejarah Klub Como 1907”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah
Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia di Jepang”. Korespondensi:
akhirmh@yahoo.com


, Terimakasih telah mengunjungi Dului.com, semoga bermanfaat dan lihat juga di situs berkualitas dan paling populer Aopok.com, peluang bisnis online Topbisnisonline.com, pasang iklan gratis Iklans.com dan join di komunitas Topoin.com.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

To Top